Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. Mei 2025. PP. 056 - 064 P-ISSN : 2252-7672 | E-ISSN : 2798-4303 REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ERA DIGITAL: TELAAH TEORITIS DAN STUDI LITERATUR Muhammad Nasir1. Sunardi2 STIT Al-Aziziyah Kapek Gunung Sari Lombok Barat. Indonesia STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang NTB. Indonesia Email: penasastra375@gmail. com1, nadihimmahnw@gmail. Received 9 Maret 2025 Keywords: Islamic education Paradigm reconstruction Integration of knowledge Digital era Kata Kunci: Pendidikan Islam. Rekonstruksi Paradigma Integrasi Ilmu Era Digital Article Info Accepted 31 Mei 2025 Published 31 Mei 2025 ABSTRACT This article aims to theoretically examine the development and challenges of Islamic education in the digital era and to propose a reconstruction of its paradigm toward a more integrative, transformative, and contextual model. Employing a literature review method, this study analyzes both classical and contemporary works by prominent Islamic education scholars such as al-Attas and alFaruqi, as well as empirical sources concerning the current state of Islamic education in Indonesia. The findings reveal that Islamic education today faces a crisis of purpose, disciplinary fragmentation, and a weak integration of values within the learning system. Furthermore, epistemic challenges arising from digital disruption and low value literacy among students exacerbate these issues. Therefore, a new paradigm is needed one grounded in the integration of knowledge and faith, the role of teachers as agents of renewal, and the creation of an educational ecosystem that is adaptive to contemporary changes. This article underscores the importance of Islamic education not merely as an instrument for knowledge transmission, but also as a vehicle for civilizational transformation. ABSTRAK Artikel ini bertujuan mengkaji secara teoritis perkembangan dan tantangan pendidikan Islam dalam konteks era digital serta menawarkan rekonstruksi paradigma pendidikan Islam yang lebih integratif, transformatif, dan kontekstual. Melalui metode studi pustaka, artikel ini menganalisis literatur klasik dan kontemporer dari para pemikir pendidikan Islam seperti al-Attas, al-Faruqi, serta sumber-sumber empiris terkait kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam saat ini menghadapi krisis tujuan, fragmentasi keilmuan, serta lemahnya integrasi nilai dalam sistem pembelajaran. Selain itu, tantangan epistemik akibat disrupsi digital dan lemahnya literasi nilai di kalangan peserta didik memperparah problem ini. Oleh karena itu, diperlukan paradigma baru yang berbasis pada integrasi ilmu dan iman, peran guru sebagai agen pembaru, serta penciptaan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Artikel ini menegaskan pentingnya pendidikan Islam tidak hanya sebagai instrumen transmisi pengetahuan, tetapi juga sebagai transformasi Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/al-rabwah/ Copyright and License: Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. PENDAHULUAN Pendidikan Islam merupakan elemen fundamental dalam pembentukan karakter individu dan peradaban masyarakat Muslim. Secara historis, pendidikan Islam tidak sekadar berfungsi sebagai sarana transmisi pengetahuan . aAl. , tetapi juga sebagai proses pembentukan kepribadian . dan internalisasi etika secara menyeluruh . aAd. (Al-Attas, 1. Dalam kerangka ini, pendidikan dipandang sebagai instrumen utama untuk melahirkan insan kamil manusia paripurna yang mampu menjalani kehidupan duniawi secara bertanggung jawab, serta berorientasi pada kebahagiaan ukhrawi. Namun, dinamika zaman yang ditandai oleh revolusi digital, disrupsi teknologi, dan globalisasi nilai telah memunculkan tantangan baru bagi pendidikan Islam. Fenomena ini tercermin dalam melemahnya internalisasi nilai-nilai keislaman, munculnya disorientasi moral di kalangan peserta didik, serta ketimpangan antara penguasaan kompetensi spiritual dan keterampilan digital (Siswanto 2. Banyak lembaga pendidikan Islam dinilai kurang adaptif dalam mengintegrasikan inovasi pedagogis dan teknologi digital, sehingga tertinggal dalam merespons kebutuhan aktual generasi masa kini. Ketidaksiapan ini bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual, karena kurikulum dan pendekatan pembelajaran masih cenderung berakar pada pola skolastik-tradisional yang belum terkonsep secara kontekstual sesuai tantangan abad ke-2 (Novita Dwi Astuti 2. Sejumlah penelitian telah berupaya menjawab tantangan ini. Misalnya penelitian oleh Sunardi . menyoroti pentingnya penanaman etika dalam Pendidikan di Tengah terjangan teknologi dalam pendidikan pesantren (Sunardi 2. Sementara itu. Richa Sucianingtyas menekankan perlunya pendekatan pedagogis yang adaptif terhadap karakteristik generasi digital melalui pembelajaran berbasis proyek dan media digital (Richa Sucianingtyas 2. Wawan Kurniawan dkk juga meneliti tentang Analisis Kompetensi Guru Pendidikan Islam Dalam Pengembangan Kurikulum Merdeka Menuju Local Genius 6. 0 Ideas Internet Of Things (IoT) (Kurniawan 2. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih bersifat deskriptif dan belum menyentuh secara mendalam aspek epistemologis serta desain model pembelajaran yang terintegrasi secara sistematis antara nilai-nilai keislaman dan teknologi digital. Di sisi lain, lahirnya generasi digital . igital native. yang tumbuh dalam ekosistem teknologi informasi menuntut perubahan mendasar dalam pendekatan pendidikan Islam. Generasi ini tidak dapat lagi dijangkau melalui metode pembelajaran konvensional yang bersifat monologis dan berbasis hafalan semata. Sebaliknya, mereka membutuhkan model pembelajaran yang bersifat interaktif, kolaboratif, dan relevan dengan realitas kehidupan mereka (Munir 2. Oleh karena itu, pendidikan Islam dituntut untuk bertransformasi dari pendekatan normatif ke arah yang lebih reflektif, kritis, dan kontekstual, tanpa mengorbankan esensi nilai-nilai Islam yang universal. Meskipun demikian, peluang untuk berinovasi dalam pendidikan Islam di era digital sangat Teknologi informasi dapat dijadikan medium strategis untuk memperkuat literasi keislaman, menyebarkan nilai-nilai akhlak, dan memperkaya metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik generasi digital. Namun, agar transformasi ini tidak bersifat pragmatis dan fragmentaris, perlu dikembangkan model pembelajaran berbasis epistemologi Islam yang kokoh, inovatif, dan kontekstual. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk menjawab gap tersebut dengan menawarkan sebuah model pembelajaran Pendidikan Islam yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai Islam dan relevan dengan kebutuhan generasi digital. Model ini diharapkan mampu menjadi kontribusi teoretis dan praktis dalam mendesain pendidikan Islam yang lebih adaptif, reflektif, dan transformatif di era digital. Reorientasi Pendidikan Islam dalam Era Digital: Telaah Teoritis dan Studi Literatur (Muhammad Nasir & Sunard. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. yang berlandaskan pada kajian teoritis. Pendekatan ini dipilih karena sifat topik yang dikaji bersifat konseptual, sehingga menuntut penelaahan mendalam terhadap pemikiran para tokoh dan literatur yang relevan (Etta Mamang Sangadji 2. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis pemikiran tokoh-tokoh pendidikan Islam, teori-teori pendidikan, serta menilai relevansi dan tantangan implementasinya dalam konteks perkembangan era digital. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas literatur primer dan sekunder. Literatur primer mencakup karya-karya autentik dari para ulama dan pemikir pendidikan Islam klasik seperti AlGhazali. Ibn Sina, dan Al-Zarnuji, serta pemikir kontemporer seperti Syed M. Naquib Al-Attas. Fazlur Rahman, dan Abuddin Nata. Sementara itu, literatur sekunder mencakup artikel ilmiah dari jurnal nasional dan internasional, prosiding akademik, buku-buku rujukan, serta dokumen kebijakan pendidikan dari lembaga resmi yang relevan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis isi . ontent analysi. , yang bertujuan untuk mengkaji isi literatur secara sistematis berdasarkan tema-tema utama yang telah ditentukan. Tema-tema tersebut antara lain mencakup konsep pendidikan Islam, tantangan pendidikan di era digital, integrasi antara nilai-nilai Islam dan teknologi, serta strategi pembaruan paradigma pendidikan. Proses analisis ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama: identifikasi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi makna (Majid 2. Dengan metode ini, peneliti berupaya menyusun sintesis konseptual yang tidak hanya memperkaya wacana teoritis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan model pendidikan Islam yang kontekstual, relevan dengan tantangan sosial dan teknologi masa kini, serta tetap berpijak pada prinsip-prinsip epistemologis keislaman HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Pendidikan Islam: Integrasi Epistemologis dan Ontologis Pendidikan Islam dewasa ini semakin relevan untuk dikaji sebagai sistem nilai dan praksis yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian manusia secara utuh . Dalam kerangka ini, pendidikan Islam diposisikan sebagai proses pembudayaan nilai-nilai ilahiyah yang menjiwai seluruh dimensi kehidupan manusia spiritual, intelektual, sosial, dan ekologis. Karakter khas pendidikan Islam terletak pada pendekatannya yang integratif, transendental, dan berorientasi nilai . alue-lade. , menjadikannya alternatif paradigmatik terhadap model pendidikan sekular modern (Akrom 2. Syed M. Naquib al-Attas . menekankan bahwa tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah penciptaan manusia yang memiliki adab, yaitu kesadaran hierarkis terhadap kebenaran, kedudukan dirinya di hadapan Tuhan, serta tanggung jawab sosial dan ekologisnya. Konsep taAodb ini tidak hanya bersifat etik tetapi juga epistemologis, karena mengandaikan adanya kesatuan antara pengetahuan, akhlak, dan spiritualitas (Hanifiyah 2. Berbeda dengan paradigma pendidikan Barat yang dalam banyak hal dibangun di atas fondasi dualistik dan sekular yang memisahkan antara ilmu pengetahuan dan nilai agama pendidikan Islam berakar pada epistemologi tauhid. Epistemologi ini menyatukan peran akal (Aaq. , wahyu . , dan hati . dalam membangun proses pencarian dan internalisasi ilmu (Irma Suryani Siregar 2. Dalam pandangan ini, ilmu bukan sekadar hasil observasi empiris, tetapi juga merupakan jalan menuju pengenalan terhadap makna terdalam eksistensi manusia . aAonA al-wuj. Penelitian-penelitian kontemporer dalam bidang pendidikan Islam, seperti yang dilakukan oleh Wan Mohd Nor Wan Daud . dan Abuddin Nata . , menguatkan urgensi pendekatan integratif ini, terutama di tengah tantangan fragmentasi ilmu dan krisis makna dalam sistem pendidikan global saat ini (Idrus 2. Pendidikan Islam, dalam konteks ini, bukan hanya membentuk "manusia berpikir" yang cerdas secara intelektual, tetapi juga "manusia bermakna" yang memiliki orientasi hidup transendental dan etis. Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. Mei 2025 Dengan demikian, integrasi epistemologis dan ontologis dalam pendidikan Islam merupakan kunci untuk merancang sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar spiritual dan nilai dasarnya. Model ini tidak hanya relevan dalam konteks masyarakat Muslim, tetapi juga menawarkan sumbangan penting dalam wacana pendidikan global yang tengah mencari arah baru yang lebih manusiawi dan berkelanjutan Pendidikan Islam dan Tantangan Epistemik Era Digital Transformasi digital telah merevolusi cara manusia mengakses, mengelola, dan mendistribusikan pengetahuan. Informasi kini tersedia dalam jumlah melimpah, dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui perangkat digital. Namun, keberlimpahan informasi ini tidak selalu diiringi dengan peningkatan kualitas pemahaman. Sebaliknya, muncul fenomena information overload yang mengakibatkan penurunan kemampuan berpikir mendalam, reflektif, dan kritis. Dalam lanskap ini, pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan epistemik yang kompleks: bagaimana menjaga kedalaman makna, integritas nilai, dan spiritualitas di tengah gelombang informasi yang cepat namun sering kali dangkal dan terfragmentasi (Sunardi 2. Ini bukan sekadar tantangan teknis, tetapi menyentuh akar dari epistemologi Islam yang menekankan keterpaduan antara ilmu, amal, dan iman. Generasi muda Muslim saat ini menghadapi krisis nilai yang ditandai oleh kecenderungan budaya instan, minimnya ketahanan spiritual, dan paparan terhadap konten digital yang sering kali nihil dari nilai-nilai etika dan transendensi. Meskipun banyak peserta didik memiliki keterampilan teknologis yang tinggi, kemampuan mereka dalam melakukan penyaringan informasi secara kritis dan etis masih rendah (Kurniawan 2. Wahyuddin . mencatat adanya kesenjangan signifikan antara literasi digital dan literasi nilai, yang mengindikasikan lemahnya internalisasi etika Islam dalam menyikapi arus informasi digital. Di sisi lain, struktur pedagogis di banyak lembaga pendidikan Islam masih bersifat konvensional verbalistik, tekstual, dan instruksional satu arah. Pola ini kurang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir reflektif, analitis, dan adaptif. Akibatnya, lulusan pendidikan Islam berisiko tidak memiliki ketahanan moral dan intelektual yang cukup dalam menghadapi tantangan budaya global yang semakin liberal, konsumtif, dan relativistik (Salamah 2. Merespons situasi ini, diperlukan pembaruan paradigma pendidikan Islam yang mampu mengintegrasikan literasi digital dengan literasi nilai. Pendidikan Islam harus melampaui pengajaran normatif dan mulai mengembangkan pendekatan pedagogis berbasis hikmah yakni kemampuan untuk menyikapi realitas digital secara bijaksana, kritis, dan etis. Pendekatan ini melibatkan pembelajaran kontekstual, partisipatif, dan transformatif yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pencarian makna dan kebenaran. Dengan demikian, tantangan era digital bukanlah alasan untuk mereduksi nilai pendidikan Islam, melainkan peluang untuk memperkuat kembali fondasi epistemologis dan metodologisnya agar lebih kontekstual, adaptif, dan relevan dalam membentuk generasi Muslim yang cakap secara digital sekaligus kokoh secara spiritual dan moral Rekonstruksi Paradigma: Menuju Pendidikan Islam yang Transformatif Pembaruan pendidikan Islam tidak dapat dilakukan secara parsial atau teknis semata, tetapi harus dimulai dari level paradigmatik yakni melalui rekonstruksi cara pandang mendasar tentang hakikat, tujuan, dan proses pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam tidak cukup hanya diarahkan untuk membentuk individu yang saleh secara ritualistik, tetapi harus mampu melahirkan manusia yang visioner, reflektif, dan berperan aktif sebagai agen perubahan sosial yang membawa rahmat bagi semesta . ahmatan lil Aoalami. (Haris 2. Rekonstruksi ini menuntut penggeseran paradigma dari pendekatan instruksional-konservatif menuju pendekatan transformatif yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Pendidikan transformatif dalam konteks Islam mengacu pada upaya untuk menanamkan kesadaran kritis . ritical consciousnes. yang berbasis nilai-nilai QurAani, dengan menekankan pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan aplikatif (Sunardi 2. Model pembelajaran seperti problem-based learning, experiential learning, dan integrasi antara Reorientasi Pendidikan Islam dalam Era Digital: Telaah Teoritis dan Studi Literatur (Muhammad Nasir & Sunard. rasionalitas ilmiah dengan nilai-nilai spiritual QurAani perlu dioptimalkan sebagai strategi utama (Nasution, 2. Penting untuk dicatat bahwa transformasi ini tidak berarti meninggalkan nilai-nilai inti pendidikan Islam, seperti adab dan akhlak, melainkan menegaskan kembali posisinya sebagai fondasi dalam merespons tantangan zaman. Dengan kata lain, inovasi dalam pendidikan Islam harus berakar kuat pada nilai, bukan sekadar mengikuti tren global tanpa penyaringan kritis. Sejalan dengan maqAid al-syarAah, arah pendidikan Islam perlu difokuskan pada pengembangan manusia paripurna yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual, sosial, dan moral. Digitalisasi pendidikan Islam, dalam konteks ini, tidak boleh direduksi hanya menjadi perubahan format dari tatap muka ke daring. Transformasi digital harus dimaknai sebagai kesempatan untuk membangun ekosistem belajar yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan berorientasi pada pembentukan karakter serta makna hidup (MELIANA 2. Teknologi harus menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap ilmu yang benar . lm al-nafiA. dan mendukung penguatan literasi nilai, etika, dan tanggung jawab sosial. Pendidikan Islam yang transformatif tidak hanya menjawab tantangan globalisasi, disrupsi teknologi, dan krisis moral, tetapi juga memberi kontribusi substantif dalam membangun peradaban yang berkeadilan, berkelanjutan, dan bermakna. Oleh karena itu, pembaruan paradigma pendidikan Islam adalah keniscayaan, bukan pilihan, jika ingin melahirkan generasi Muslim yang mampu hidup secara bermakna dalam dunia modern tanpa kehilangan arah spiritualnya. Dialektika Tradisi dan Inovasi dalam Pendidikan Islam Salah satu tantangan konseptual dalam pembaruan pendidikan Islam adalah ketegangan yang sering muncul antara tradisi dan inovasi (Ridwan 2. Tradisi sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang konservatif, statis, dan lambat dalam merespons perubahan zaman. Sebaliknya, inovasi dianggap progresif namun berisiko melemahkan otentisitas dan integritas nilai-nilai Islam. Dikotomi ini bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi menghambat upaya rekonstruksi pendidikan Islam yang adaptif dan visioner. Dalam kerangka epistemologi Islam, pembaruan atau tajdd bukanlah sesuatu yang asing atau baru, melainkan bagian dari dinamika internal peradaban Islam itu sendiri. Sejak masa klasik, para ulama dan pemikir Muslim telah melakukan ijtihad dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, sebagai respons atas tantangan zaman. Dalam perspektif maqAid al-syarAah, tajdd tidak sekadar upaya memperbarui metode atau struktur, melainkan menegaskan kembali tujuan esensial syariat: menjaga agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta dalam konteks perubahan sosial dan teknologi (Mukhtarom 2. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan Islam harus dilakukan melalui pendekatan dialektik yaitu dengan mempertemukan secara kreatif antara warisan keilmuan Islam . urAt. dan tuntutan zaman modern. Pendekatan ini menolak pandangan dikotomis yang memposisikan tradisi dan inovasi sebagai dua kutub yang saling menegasikan. Sebaliknya, keduanya dapat saling menguatkan jika diletakkan dalam kerangka kontekstualisasi nilai dan reinterpretasi metodologis. Para pendidik dan institusi pendidikan Islam dituntut untuk memiliki keberanian intelektual dan kedalaman spiritual dalam menjalankan peran ini. Artinya, mereka harus bersikap kritis terhadap model pendidikan Barat yang sering bersifat sekular, pragmatis, dan instrumentalistik, namun tetap terbuka terhadap pendekatan pedagogis yang terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran . Yang dibutuhkan adalah kemampuan tamyz . dan hikmah . dalam memilih, menyaring, dan mengadaptasi pendekatan pendidikan agar tetap sesuai dengan nilai-nilai dasar Islam. Dengan demikian, inovasi dalam pendidikan Islam bukanlah bentuk disorientasi terhadap tradisi, melainkan proses kreatif untuk menghidupkan kembali ruh Islam dalam konteks zaman yang berubah. Tajdd dalam pendidikan harus dipahami sebagai proses dinamis yang menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, demi membentuk generasi Muslim yang mampu memadukan kearifan tradisi dengan kecanggihan modernitas secara seimbang dan Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. Mei 2025 Krisis Tujuan Pendidikan dalam Sistem Pendidikan Islam Modern Salah satu problem mendasar yang dihadapi oleh pendidikan Islam kontemporer adalah krisis tujuan yang bersifat sistemik. Di banyak institusi pendidikan Islam, arah dan esensi pendidikan sering kali kabur, tereduksi menjadi sekadar pencapaian administratif dan angka-angka Fokus utama diarahkan pada output yang terukur secara kuantitatif nilai ujian, akreditasi, dan kelulusan formal namun abai terhadap ruh pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya (Sunardi 2. Akibatnya, pendidikan Islam cenderung menjadi formalistik, terpaku pada kurikulum nasional, dan kehilangan dimensi transendensial serta kepekaan terhadap aspek antropologis peserta didik. Dalam perspektif teoretis, hal ini bertentangan dengan prinsip dasar pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi . yang menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah to produce a good man, bukan sekadar a smart man (Irma Suryani Siregar 2. Artinya, pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada pencapaian intelektual semata, tetapi harus diarahkan pada pembentukan karakter yang holistik yang mencakup rasionalitas, spiritualitas, emosi, dan tanggung jawab sosial. Pendidikan yang hanya mencetak lulusan terampil secara kognitif namun kosong secara etis dan spiritual, pada dasarnya telah kehilangan misi Ketiadaan tujuan filosofis yang jelas dalam pendidikan juga berimplikasi pada lemahnya orientasi kurikulum dan praksis pengajaran. Tanpa fondasi filosofis yang kuat, institusi pendidikan Islam mudah terjebak dalam rutinitas teknis dan birokratis yang menjauh dari cita-cita peradaban Islam (Baedowi 2. Hal ini sejalan dengan kritik para pemikir pendidikan kontemporer seperti Syed M. Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud, yang menekankan pentingnya tasawwur . Islam sebagai basis dalam merumuskan arah pendidikan. Oleh karena itu, dibutuhkan reorientasi filosofis dalam pendidikan Islam yang mengacu pada nilai-nilai tauhid, maqAid al-syarAah, dan visi antropologi Islam. Pendidikan harus dipahami sebagai proses memanusiakan manusia . nsAnyah al-insA. , bukan sekadar pelatihan keterampilan atau transmisi informasi. Visi ini harus menjadi pijakan dalam penyusunan kurikulum, pengembangan metode pembelajaran, serta evaluasi keberhasilan pendidikan. Dengan membangun kembali kesadaran filosofis ini, pendidikan Islam tidak hanya akan menjadi lebih bermakna dan berkarakter, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan zaman secara substantif yakni membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana secara spiritual dan bertanggung jawab secara sosial. Fragmentasi Keilmuan dan Tantangan Integrasi Ilmu Pendidikan Islam kontemporer menghadapi persoalan serius berupa fragmentasi keilmuan. Ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, fikih, dan hadis diajarkan terpisah dari ilmu-ilmu umum seperti sains dan teknologi, yang seringkali disampaikan secara netral tanpa dimensi spiritual. Akibatnya, peserta didik kesulitan memahami keterkaitan antara ilmu dan iman, sehingga mengalami disonansi kognitif dalam memaknai pengetahuan sebagai bagian dari tanggung jawab ilahiyah. Gagasan integrasi ilmu yang digagas oleh Syed M. Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi menawarkan solusi paradigmatik terhadap krisis ini. Mereka menekankan pentingnya membangun struktur keilmuan yang berakar pada tauhid sebagai prinsip pemersatu seluruh cabang pengetahuan, sehingga tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia (Hanifiyah 2. Namun, integrasi ilmu tidak cukup diwujudkan dengan memasukkan ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam materi sains secara simbolik. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam cara berpikir dan penyusunan kurikulum, dengan menjadikan worldview Islam sebagai fondasi epistemologis yang membentuk kerangka nalar kritis, etis, dan transendental (Hanifah 2. Proses ini menuntut transformasi menyeluruh dalam desain pedagogi dan orientasi kelembagaan pendidikan Islam. Diperlukan sinergi antara keahlian keilmuan modern dan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai Islam, agar pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga terpadu secara spiritual dan moral dalam membangun peradaban. Reorientasi Pendidikan Islam dalam Era Digital: Telaah Teoritis dan Studi Literatur (Muhammad Nasir & Sunard. Peran Guru sebagai Mujaddid dalam Pendidikan Islam Peran guru dalam pendidikan Islam menempati posisi sentral, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai murabbi . embina karakte. , muaddib . endidik ada. , dan bahkan mujaddid . embaru pemikira. Dalam konteks perubahan zaman yang dinamis, guru dituntut menjadi lebih dari sekadar penyampai informasi mereka harus berfungsi sebagai inspirator, penjaga nilai, dan pembimbing spiritual yang mampu membentuk kepribadian peserta didik secara utuh. Namun, realitas di banyak lembaga pendidikan Islam menunjukkan bahwa guru sering kali belum mendapatkan pelatihan pedagogis yang memadai untuk menghadapi kompleksitas abad ke21. Pendekatan yang digunakan masih dominan bersifat tradisional: ceramah satu arah, hafalan, dan penekanan pada kepatuhan simbolik (Aisyah Ali 2. Akibatnya, daya kritis dan kemandirian berpikir peserta didik tidak berkembang optimal, dan proses pembelajaran kehilangan makna transformasional. Untuk itu, pengembangan profesionalisme guru harus menjadi prioritas strategis dalam reformasi pendidikan Islam. Program pelatihan tidak cukup hanya teknis, tetapi harus menyentuh tiga dimensi utama: penguatan spiritualitas dan adab sebagai dasar moral, penguasaan pedagogi modern berbasis pembelajaran aktif dan reflektif, serta literasi digital untuk menjawab tantangan teknologi pendidikan masa kini. Dengan kompetensi yang seimbang antara nilai dan keterampilan, guru akan mampu memainkan peran kunci dalam membentuk generasi Muslim yang berpengetahuan, berakhlak, dan adaptif terhadap dinamika zaman. Reformasi pendidikan Islam pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas gurunya karena guru adalah jantung dari perubahan itu sendiri. Menuju Ekosistem Pendidikan Islam yang Adaptif dan Kolaboratif Pendidikan Islam masa depan tidak cukup ditopang oleh kurikulum yang baik atau guru yang kompeten semata, tetapi memerlukan terbentuknya ekosistem pendidikan yang utuh dan saling Ekosistem ini mencakup sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media digital sebagai ruang-ruang belajar yang terintegrasi (Z. Sunardi 2. Pendidikan Islam harus dipahami sebagai proses tarbiyah, taAodb, dan taAolim yang berlangsung secara berkelanjutan dan lintas ruang, tidak terbatas pada institusi formal. Dalam kerangka ini, keluarga berperan sebagai fondasi nilai, masyarakat sebagai arena pembentukan karakter sosial, dan media digital sebagai alat strategis untuk memperluas akses serta memperdalam pengalaman belajar (Anandari 2. Pendekatan pendidikan harus inklusif dan responsif terhadap realitas sosial serta perkembangan teknologi yang terus berubah, sambil tetap menjaga akar spiritual dan kulturalnya. Untuk mendukung transformasi ini, inovasi pendidikan Islam perlu dibangun melalui kolaborasi kelembagaan yang luas. Kerja sama antar-pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam di tingkat nasional maupun global harus diperkuat. Jaringan ini dapat menjadi ruang strategis untuk berbagi praktik baik, menyusun kurikulum kontekstual, dan mengembangkan riset pendidikan yang menjawab kebutuhan umat (S. Sunardi 2. Dengan ekosistem yang kuat dan kolaboratif, pendidikan Islam tidak hanya akan menjadi sarana pelestarian nilai, tetapi juga motor penggerak peradaban. Masa depan pendidikan Islam terletak pada kemampuannya untuk hidup dalam dunia modern, tanpa kehilangan orientasi KESIMPULAN Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang bersifat integral, mencakup dimensi intelektual, spiritual, dan moral, dengan tujuan akhir membentuk insan kamil. Dalam perkembangannya, pendidikan Islam mengalami tantangan signifikan di era digital, seperti disrupsi nilai, ketimpangan literasi teknologi, serta lemahnya relevansi kurikulum dan metode pengajaran terhadap konteks zaman. Kajian ini menunjukkan bahwa tantangan tersebut tidak dapat dijawab dengan pendekatan konvensional semata. Diperlukan reaktualisasi paradigma pendidikan Islam yang bersifat integratif dan kontekstual. Hal ini meliputi integrasi nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern, inovasi pedagogis berbasis teknologi, serta penguatan peran guru sebagai transformator nilai. Di tengah arus modernisasi, pendidikan Islam perlu menegaskan kembali Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. Mei 2025 identitas epistemologisnya, sembari terbuka terhadap metodologi baru yang mendukung proses pendidikan secara lebih efektif. REFERENCES