CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Keterlibatan Warga Negara (Civic Engagemen. dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila Ika Murtiningsih1. Anastasya Putri Wijaya2 PPKn. Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Corresponding Author: *ika. murtyy@gmail. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi peran keterlibatan warga negara . ivic engagemen. dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana partisipasi aktif warga negara dapat mendukung pembentukan karakter pelajar yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian literatur dengan mengkaji berbagai sumber tertulis yang relevan, termasuk jurnal, buku, dan dokumen kebijakan yang berkaitan dengan civic engagement dan pendidikan karakter di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan warga negara yang tinggi, baik dalam konteks sosial, politik, maupun ekonomi, dapat memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari Profil Pelajar Pancasila dalam hal ini berkaitan dengan enam indikator sesuai dengan Kurikulum Merdeka yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. berkebhinekaan global. bergotong royong. dan kreatif. Penelitian ini menyarankan perlunya integrasi yang lebih baik antara pendidikan formal dan kegiatan civic engagement untuk menciptakan pelajar yang tidak hanya berpengetahuan tetapi juga berkarakter Pancasila. Kata Kunci: Keterlibatan Warga Negara. Penguatan. Profil Pelajar Pancasila Abstract This study explores the role of civic engagement in strengthening the Pancasila Student Profile in Indonesia. The purpose of this study is to identify and analyze how the active participation of citizens can support the formation of student character based on Pancasila values. The research method used is literature research by examining various relevant written sources, including journals, books, and policy documents related to civic engagement and character education in Indonesia. The study results show that high citizen involvement, both in social, political, and economic contexts, can strengthen the implementation of Pancasila values in students' daily lives. The Profile of Pancasila Students in this case is related to six elements in accordance with the Independent Curriculum, namely faith, fear of God Almighty, and noble character. global diversity. self-sufficient. critical reasoning. and creative. This research suggests the need for better integration between formal education and civic engagement activities to create students who are not only knowledgeable but also have Pancasila character. Keywords: Civic Engagement. Strengthening. Pancasila Student Profil JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Pendahuluan Keterlibatan warga negara atau civic engagement merupakan salah satu komponen penting dalam membangun masyarakat yang demokratis dan Konsep ini merupakan hasil inisiatif pemerintah dalam merumuskan Kurikulum Merdeka yang disesuaikan dengan upaya untuk menguatkan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk menciptakan generasi yang berkarakter, kritis, kreatif, mandiri, bergotong royong, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Civic engagement menjadi hal yang krusial dalam mewujudkan tujuan ini, sebab pelajar menjadi peran utama untuk berpartisipasi dan terlibat aktif dalam dinamika sosial, politik dan ekonomi di masyarakat. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, bahwa AuPelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. berkebhinekaan global. bergotong royong. bernalar kritis. dan kreatifAy. Keberadaan Profil Pelajar Pancasila ini harus bersama-sama diwujudkan oleh semua pihak agar terealisasi dengan baik, sehingga menghasilkan pelajar-pelajar Indonesia yang berakhlak mulia, memiliki kualitas yang dapat bersaing secara nasional maupun global. Namun, permasalahan terkini terlihat yaitu rendahnya tingkat keterlibataan warga negara dalam kegiatan sosial dan politik. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa banyak pelajar merasa tidak memiliki ruang atau kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi lingkungan mereka (Putri, 2. Selain itu, pelajar sering kali lebih fokus pada pencapaian akademik, mengabaikan pentingnya keterlibatan sosial yang justru dapat membentuk karakter mereka secara holistik. Selain itu. Murtiningsih, et al . menyebutkan bahwa keterlibatan warga negara di lingkungan masyarakat juga rendah, misalnya kurangnya kesadaran secara pribadi untuk bertanggung jawab sesuai tugasnya, kurangnya kesadaran dalam perannya sebagai pemudapemudi dalam karang taruna, kurang inovatif dalam kegiatan pelayanan masyarakat, kurangnya sikap gotong-royong dan tanggungjawab di lingkungan masyarakat. Tantangan dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah kurangnya kesadaran warga negara akan pentingnya peran mereka untuk memajukan Sistem pendidikan saat ini cenderung menitikberatkan pada aspek kognitif tanpa memberikan cukup ruang untuk pengembangan keterampilan sosial dan emosional (Rahayu & Suryadi, 2. Hal ini mengakibatkan tidak seimbangnya antara pengetahuan dan keterampilan pelajar yang diperlukan untuk keterlibatan aktif secara efektif. Disisi lain, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat juga menjadi masalah serius dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila. JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyadi . yang menyatakan bahwaa keterlibatan masyarakat dalam proses pendidikan tidak hanya terbatas pada peran orang tua, tetapi juga melibatkan berbagai lapisan masyarakat yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan karakter pelajar. Penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Kurniawan et al. telah membahas berbagai strategi dan metode keterlibatan warga negara dalam penguatan karakter. Namun, penelitian tersebut sering kali terfokus pada aspek teoritis dan belum sepenuhnya menjelaskan tantangan praktis yang dihadapi oleh pelaksana di lapangan. Sedangkan penelitian Anwar dan Safitri . mengungkapkan bahwa meskipun terdapat berbagai program keterlibatan warga negara, dampaknya terhadap Profil Pelajar Pancasila sangat minim, terutama dalam konteks penerapan implementasi nilai- nilai Pancasila yang konsisten. Kontribusi penelitian ini terletak pada peningkatan pemahaman tentang bagaimana keterlibatan warga negara dapat dioptimalkan untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dengan mengkaji literatur keterlibatan warga negara, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi konkret bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan masyarakat dalam upaya bersama untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, hasil penelitian ini akan memperkaya literatur akademik terkait keterlibatan warga negara dalam pemenuhan enam indikator nilai Pancaasila yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. dan memberikan dasar yang lebih kuat untuk pengembangan program-program pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pemahaman akademik mengenai keterlibatan warga negara dalam berbagai aspek, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi penguatan nilai-nilai Pancasila di sekolah maupun di masyarakat. Diharapkan bahwa hasil dari penelitian ini akan mendorong adanya keterlibatan warga negara secara aktif dan kesadaran penuh untuk mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila yang lebih baik. Keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia dengan identitas dasar negaranya Pancasila, maka seorang warga negara harus terlibat aktif dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang harus diterapkan di sekolah maupun di Dengan permasalahan ini, maka perlu dikaji mengenai AuKeterlibatan Warga Negara (Civic Engagemen. dalam Penguatan Profil Pelajar PancasilaAy. Hal ini menjadi dasar bahwa setiap warga negara wajib mengimplementasikan nilainilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Menurut Fink. dalam buku Conducting Research Literature Reviews: From the Internet to Paper menjelaskan bahwa studi literatur saat ini lebih berfokus pada penggunaan teknologi digital dan basis data online JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 untuk mengakses dan menganalisis literatur. Fink menekankan bahwa pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melakukan pencarian yang lebih komprehensif dan sistematis serta memanfaatkan alat-alat digital untuk manajemen referensi dan sintesis data yang lebih efisien. Penelitian studi literatur merupakan suatu penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada seperti buku, berita, jurnal, dan sebagainya. Sifat studi yang dilakukan adalah deskriptif analisis yaitu dengan memberi pemahaman pada Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif dengan berlandaskan kepada sumber-sumber yang bisa dijadikan bahan rujukan dalam menggali informasi terkait teori-teori kewarganegaraan. Teknik analisis data adalah memperkirakan atau dengan menentukan besarnya pengaruh secara kualitatif dari suatu . kejadian terhadap beberapa kejadian lainnya. Hasil dan Pembahasan Keterlibatan Warga Negara dan Profil Pelajar Pancasila Keterlibatan warga negara atau civic engagement merujuk pada partisipasi aktif individu dalam kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat dan negara. Ini melibatkan berbagai bentuk kegiatan seperti pemilihan umum, kegiatan komunitas, sukarela, serta partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan. Keterlibatan ini penting untuk memperkuat demokrasi dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif. Menurut Dewey dalam bukunya "Democracy and Education" menyatakan bahwa keterlibatan dalam kegiatan demokratis dan pendidikan adalah kunci untuk pengembangan karakter kewarganegaraan. Dewey menekankan pentingnya pendidikan yang melibatkan pelajar secara aktif dalam proses belajar yang relevan dengan masyarakat. Keterlibatan warga negara merupakan aspek penting dalam membangun dan memperkuat masyarakat demokratis serta meningkatkan kualitas hidup bersama. Keterlibatan warga negara mencakup tindakan dimana individu berpartisipasi dalam kegiatan kepedulian pribadi dan publik yang secara individual saling memperkaya dan bermanfaat secara sosial bagi masyarakat (Gusmadi, 2. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Morse dan Hibbing . 5: . bahwa keterlibatan warga negara merupakan upaya yang dilakukan warga negara untuk bergabung dalam organisasi masyarakat, dimana terdapat keinginan secara sukarela dari mereka untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Keterlibatan warga negara dapat diartikan sebagai cara dimana individu, melalui tindakan kolektif, mempengaruhi masyarakat sipil yang lebih besar. Konsep keterlibatan warga negara yang digunakan hingga saat ini terutama dalam konteks anak muda bahwa kaum muda akan berpartisipasi dalam kesukarelawanan atau pengabdian masyarakat sebagai bagian dari pertumbuhan mereka (Adler dan Goggin, 2005: . Artinya warga JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 negara mempunyai peran penting dalam kemajuan suatu bangsa. Hal ini membutuhkan keterlibatan warga negara dalam penguatan profil pelajar Pancasila. Pembentukan Profil pelajar Pancasila tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Berdasarkan Undang-Undang tersebut dalam pembentukan Profil Pelajar Pancasila perlu diterapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Profil Pelajar Pancasila terdiri dari enam kompetensi yang ditetapkan sebagai dimensi utama (Irawati. Untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang utuh, keenam dimensi tersebut harus berkembang secara bersamaan dan saling berkaitan. Keenam dimensi tersebut antara lain: . Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, . Mandiri, . Bernalar Kritis, . Kreatif, . Bergotong-royong, dan . Berkebhinekaan global. Keenam dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini seperti konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang diaplikasikan melalui rumusan Pancasila, bahwa jika seorang warga negara mengamalkan Pancasila dengan baik, maka seseorang tersebut akan menjadi warga negara yang berbudaya sesuai dengan bangsa Indonesia sebagai negara multikultur (Rahayuningsih, 2021: . Latar belakang dibentuknya profil pelajar Pancasila berkenaan dengan mulai terkikisnya pendidikan karakter para pelajar. Seiring perkembangan dan kemajuan zaman para pelajar Indonesia mengalami disorientasi jati diri. Berangkat dari permasalahan tersebut pemerintah memiliki inisiatif untuk membranding pelajar Indonesia yang didalamnya terdapat pendidikan karakter. Wujudnya berupa pelajar Pancasila yang menjadi profil pelajar bangsa Indonesia. Menurut (Istiningsih & Dharma, 2. Profil pelajar Pancasila menggaris bawahi pentingnya penguatan pendidikan karakter dengan menjadikannya sebagai arah karakter yang dituju dalam pendidikan Indonesia. Profil Pelajar Pancasila ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat melalui Pendidikan (Susilawati & Sarifuddin, 2. Menurut Yunita . Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan besar, tentang pelajar dengan kompetensi seperti apa yang ingin Tentunya berkaitan dengan visi pendidikan di Indonesia yakni mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Indonesia. Penerapan profil pelajar pancasila di sekolah ini dilakukan melalui kegiatan pembiasaan, pembelajaran intrakurikuler, kokulikuler dan ekstrakurikuler yang mana didalamnya fokus dalam membangun karakter pelajar dalam kesehariannya dan kehidupan dalam diri setiap pelajar. Profil Pelajar Pancasila ini dapat diterapkan pada jenjang pendidikan pendidikan usia dini sampai dengan jenjang perguruan tinggi. Namun, jika terlepas pada ranah pendidikan persekolahan Profil Pelajar Pancasila juga dapat dijadikan sebagai pendidikan sepanjang hayat yang artinya pendidikan yang dilakukan sampai akhir usianya. Kemudian penguatan profil pelajar Pancasila juga dapat memberikan kesempatan JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 bagi pelajar untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan berlajar yang lebih interaktif dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi (Sulastri dkk, 2. Implementasi Keterlibatan Warga Negara (Civic Engagemen. dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila Keterlibatan warga negara . ivic engagemen. memainkan peran penting dalam penguatan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di Indonesia. Profil Pelajar Pancasila mencakup dimensi-dimensi seperti beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. berkebhinekaan global. bergotong royong. bernalar kritis. dan kreatif. Penelitian ini mengkaji bagaimana keterlibatan warga negara dapat diimplementasikan dalam konteks pendidikan untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Gambar 1 Enam Indikator Profil Pelajar Pancasila Versi Sekolah Penggerak Sumber: Kemendikbud, 2020 Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan YME , dan Berakhlak Mulia Profil Pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Ada lima indikator kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia: akhlak beragama. akhlak pribadi. akhlak kepada manusia. akhlak kepada alam. akhlak bernegara. Profil Pelajar Pancasila mengenal sifat-sifat Tuhan dan menghayati bahwa inti dari sifat-sifat-Nya adalah kasih dan sayang. Ia juga sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang mendapatkan amanah dari Tuhan sebagai JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 pemimpin di muka bumi yang mempunyai tanggung jawab untuk mengasihi dan menyayangi dirinya, sesama manusia dan alam, serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Berkebhinekaan Global Profil Pelajar Pancasila mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci dari berkebinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman Profil Pelajar Pancasila dituntut untuk dapat mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitas, namun tetap berpikiran terbuka ketika berinteraksi dengan budaya lain. Menyadari bahwa adanya kesenjangan antar kelompok sosial, pelajar di Indonesia yang berkebinekaan global juga terdorong untuk mengambil peran dalam mewujudkan dan membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan sosial, termasuk dalam penjagaan hak, persamaan derajat dan kedudukan dengan orang lain, serta asas yang proposional antara kepentingan dirinya, sosial, dan negara. Gotong Royong Profil Pelajar Pancasila memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemenelemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan elemen gotong-royong warga negara di sekolah, maka pendidik dapat menerapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas, misalnya melalui metode belajar diskusi (Rahayuningsih, 2021: . Ciri khas dari kegiatan gotong royong adalah pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama. Ada sikap sukarela yang ditonjolkan agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan hingga selesai. Dimensi gotong royong dalam pembentukan Profil Pelajar Pancasila dapat diimplementasikan dalam pembelajaran dan di lingkungan masyarakat. Gotong royong merupakan mekanisme sosial yang efektif dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan di pedesaan karena mengintegrasikan kekuatan kolektif masyarakat (Suyanto & Hidayat, 2018, hlm. Praktik gotong royong berperan penting dalam pengembangan komunitas pedesaan di Indonesia, memungkinkan masyarakat untuk menghadapi tantangan bersama dan memperkuat struktur sosial mereka. JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Mandiri Profil Pelajar Pancasila merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri. Profil Pelajar Pancasila yang mandiri senantiasa melakukan refleksi terhadap kondisi dirinya dan situasi yang dihadapi mencakup refleksi terhadap kondisi diri, baik kelebihan maupun keterbatasan dirinya, serta situasi dan tuntutan perkembangan yang dihadapi. Profil Pelajar Pancasila yang mandiri mampu mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku dirinya untuk mencapai tujuan belajar dan pengembangan dirinya baik di bidang akademik maupun non akademik. mampu menetapkan tujuan pengembangan dirinya serta merencanakan strategi untuk mencapainya dengan didasari penilaian atas kemampuan dirinya dan tuntutan situasi yang dihadapinya. Pelajar yang memiliki ranah sikap kemandirian artinya ia dapat mengembangkan dirinya dan harus mempertanggungjawabkan atas proses dan hasilnya (Rahayuningsih, 2021: Bernalar Kritis Profil Pelajar Pancasila yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir dalam mengambilan Bernalar kritis adalah keterampilan berpikir yang sangat penting dalam dunia informasi yang kompleks. Konsep ini berakar pada tradisi filsafat Yunani kuno, terutama melalui metode Socrates yang menekankan pertanyaan dan analisis mendalam untuk mengeksplorasi kebenaran. Dalam konteks modern, bernalar kritis didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengevaluasi dan menganalisis informasi secara objektif, mengidentifikasi bias, dan membuat keputusan berdasarkan logika dan bukti, bukan hanya opini pribadi atau kepercayaan yang tidak berdasar. Keterampilan ini telah menjadi pusat perhatian dalam pendidikan karena relevansinya dalam membantu individu mengatasi kompleksitas informasi dan membuat keputusan yang lebih baik di berbagai aspek kehidupan. Dengan meningkatnya arus informasi dan disinformasi di era digital, kemampuan bernalar kritis sangat penting untuk menilai kebenaran dan relevansi informasi yang diterima (Bowell & Kemp. Kahneman, 2011. Sagan, 1. Kreatif Profil Pelajar Pancasila yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta JURNAL PRODI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal serta memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan. Profil Pelajar Pancasila yang kreatif memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan yang ia hadapi. Ia mampu menentukan pilihan ketika dihadapkan pada beberapa alternatif kemungkinan untuk memecahkan permasalahan. juga mampu mengidentifikasi, membandingkan gagasan-gagasan kreatifnya, serta mencari solusi alternatif saat pendekatan yang diambilnya tidak berhasil. Kreativitas, sebagai salah satu dimensi terpenting dari kecerdasan manusia, telah lama menjadi objek studi berbagai disiplin ilmu. Menurut psikolog terkenal Gardner . , kreativitas bukan hanya sekadar kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga melibatkan penerapan pengetahuan dalam cara yang unik dan inovatif. Secara keseluruhan, kreativitas adalah hasil interaksi kompleks antara individu, lingkungan, dan konteks budaya, dan pemahaman yang mendalam tentang elemen-elemen ini dapat membuka jalan menuju inovasi yang lebih besar. Simpulan Keterlibatan warga negara . ivic engagemen. memainkan peran krusial dalam penguatan profil pelajar Pancasila. Partisipasi aktif warga negara dalam berbagai aspek kehidupan sosial, politik, dan ekonomi berkontribusi signifikan terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan, di kalangan pelajar. Melalui aktivitas masyarakat, seperti organisasi pemuda dan forum diskusi, pelajar dapat mengalami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara pendidikan formal dan civic engagement perlu diperkuat untuk membentuk pelajar yang tidak hanya berpengetahuan tetapi juga berkarakter Pancasila. Dengan demikian, meningkatkan keterlibatan warga negara di berbagai level dapat mempercepat pembentukan profil pelajar yang mencerminkan nilainilai luhur Pancasila, sehingga mendukung penguatan Profil Pelajar pancasila yang lebih baik. Referensi