SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Kelompok Bidang: Ekowisata dan Jasa Lingkungan, Sosek Kehutanan, Pemanfaatan SIG & Remote Sensing, Hasil Hutan Bukan Kayu dan Teknologi Kehutanan Analisis Pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng di Desa Boontolojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng (Income Analysis Of Rombeng Pinus Eco-Tourism In Boontolojong Village Uluere District Bantaeng Regency) Oleh Muthmainnah1, Muhammad Tahnur2, Irma Sribianti3, Hasanuddin4, Rivatul Adaniah5 Universitas Muhammadiyah Makassar Jln Sultan Hasanuddin No 259 Makassar muthmainnah.zainuddin@unismuh.ac.id ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng di Desa Bontolojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan MaretMei 2021 di Desa Bontolojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Populasi dalam penelitian ini seluruh masyarakat terdapat di Desa Bontolojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Jadi besarnya sampel pada penelitian ini 30 orang yang diambil secara sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng di Desa Bontolojong Kecamatan Uluere Kabupaten. Bantaeng adalah Pengelola Ekowisata sebesar Rp.11.357.75/pertahun, Pedagang sebesar Rp.83.562.500 /pertahun, dan Parkir sebesar Rp.33.000.000/pertahun. Total pendapatan masyarakat sebesar Rp. 127.920.250/tahun dengan rata-rata Rp. 42.640.83/tahun Kata Kunci : Pendapatan, Ekowisata, Hutan Pinus ABSTRACT The purpose of this study was to find out how much income the Rombeng Pine Forest Ecotourism earned in Bontolojong Village, Uluere District, Bantaeng Regency. This research was conducted in March-May 2021 in Bontolojong Village, Uluere District, Bantaeng Regency. The population in this study is the entire community in Bontolojong Village, Uluere District, Bantaeng Regency. So the sample size in this study was 30 people who were taken by census. The results showed that the income of the Pine Rombeng Ecotourism Forest in Bontolojong Village, Uluere District, Regency. Bantaeng is an Ecotourism Manager at Rp. 11,357.75/year, Traders at Rp. 83,562,500/year, and Parking at Rp. 33,000,000/year. The total income of the community is Rp. 127,920,250/year with an average of Rp. 42,640.83/year Keywords: Income, Ecotourism, Pine Forest PENDAHULUAN 160 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Pariwisata di Indonesia merupakan sektor yang cepat berkembang dan dianggap sebagai salah satu sektor ekonomi yang paling penting. Berjalannya industri pariwisata sangat bergantung pada sumber daya yang tersedia.Sumber daya merupakan atribut alam yang bersifat netral sampai ada campur tangan manusia dari luar untuk mengubahnya agar dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan manusia itu. Dalam konteks pariwisata, sumber daya diartikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk dikembangkan guna mendukung pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung (Fatmawati 2019). Sektor pariwisata menjadi salah satu sumber devisa negara yang dapat meningkatkan perekonomian dinegara yang sedang berkembang khususnya Indonesia. Indonesia memiliki potensi wisata dengan daya tarik yang cukup besar seperti keindahan alam, berbagai warisan budaya serta kehidupan masyarakat (Yadi et al. 2019). Potensi alam dapat berupa sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, keanekaragaman flora, fauna dan gejala alam dengan keindahan pemandangan yang masih alami. Untuk kebudayaan, Indonesia memiliki sistem religi, kesenian, bahasa daerah, ritus kebudayaan, pengetahuan, dan organisasi sosial (Hijriati and Mardiana 2014). Salah satu bagian industri pariwisata yang sangat banyak dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan asing maupun dalam negeri adalah ekowisata. Ekowisata memiliki daya Tarik tersendiri misalnya kondisi alam yang digunakan sebagai operasi tour yang secara geografis membawa wisatawan ke objek wisata tujuan dengan menyediakan berbagai fasilitas yang merupakan bagian dari wisata yang ditawarkan (Yilma et al. 2016). Ekowisata memberikan kesempatan bagi para wisatawan untuk menikmati keindahan alam dan budaya untuk mempelajari lebih jauh tentang pantingnya berbagai ragam mahluk hidup yang ada di dalamnya dan budaya lokal yang berkembang di kawasan tersebut (Manahampi et al. 2015). Ekowisata memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat yang berada didaerah tersebut. Salah satu manfaatnya adalah dapat memberikan keuntungan secara ekonomi sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat. Kabupaten Bantaeng merupakan salah satu provisinsi yang terletak di Sulawesi Selatan yang memiliki potensi ekowisata yang besar. Salah satu potensi ekowisata tersebut adalah Kawasan Hutan Pinus Rombeng. Kawasan Hutan Pinus Rombeng terkenal di mata wisatawan karena memiliki keindahan alam dan udara yang segar karena terletak di daerah pegunungan. Selain keindahan alam, Kawasan Hutan Pinus Rombeng juga memiliki banyak spot foto yang menjadi daya Tarik kaum milenial untuk berkunjung khususnya saat liburan. Wisata Hutan Pinuss Rombeng yang teretak di Desa Bontolojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng memiliki luas sekitar 3 ha yang didominasi oleh pohon pinus. Lokasi ini biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat wisata dan sebagai mata pencaharian. Dengan adanya Kawasan Hutan Pinus rombeng tersebut memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat setempat. Berdasarkan uraian tersebut merlu dilakukan penelitian tentang pendapatan ekowisata Hutan Pinus Rombeng di Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa besar pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng terhadap masyarakat sekitar di Desa Bontolojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng terhadap masyarakat sekitar di Desa Bontolojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. 161 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Bontolojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan selama tiga bulan mulai Maret sampai Mei 2021 Alat dan Objek Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian adalah kuisioner, alat tulis dan kamera. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah responden atau masyarakat Desa Bontolojong Kecamatan Uluere yang memperoleh pendapatan dari Ekowisata Hutan Pinus Rombeng Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode sensus yaitu cara pengumpulan data apabila seluruh elemen populasi diselidiki satu per satu dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Teknik Analisis Data Penerimaan Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produk dengan harga jual produk. Penerimaan pada dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut (Soekartawi,2002): TR = P x Q Dimana : TR : Total Revenue (penerimaan total), (Rp/tahun) P : Price (harga), (Rp) Q : Quantity (jumlah barang) (Kg) Biaya Biaya merupakan hasil kali antara jenis input dengan harga TC = xi . P X i Dimana : TC = Total Biaya (Rp/tahun) xi = Jenis input data Pxi = Harga input biaya (Rp) Pendapatan Pendapatan bersih atau keuntungan usaha diperoleh dari selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total. Pendapatan secara matematis dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi,2002). Pendapatan dihitung dengan rumus : I = TR - TC 162 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Dimana : I = Pendapatan (Rp/tahun) TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total biaya (Rp) HASIL DAN PEMBAHASAN Umur Responden Umur mempengaruhu kemampuan seseorang untuk bekerja. Umur produktif lebih mampu memperoleh pendapatan dibandingkan dengan umur non produktif. Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dipengaruhi oleh struktur umur (Putri and Setiawina 2013). Umur yang produktif adalah umur penduduk antara 15–59 tahun dan umur tidak produktif antara 0-14 tahun serta lebih atau sama dengan dari 60 tahun (Andika 2021). Umur responden dapat dilihat pada Gambar 1. Umur Responden 21-30 10; 33% 15; 50% 5; 17% 31-40 41-50 Gambar 1. Umur Responden Gambar 1 menunjukkan bahwa sebaran umur responden Ekowisata Pinus Rombeng dari 30 orang responden yang berumur 20-30 tahun sebanyak 15 orang atau 50%, umur 31-40 sebanyak 5 orang atau 16,66%, umur 41-50 tahun sebanyak 10 orang atau 33,33 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden berada pada umur produktif lebih banyak dibandingkan dengan umur yang non produktif, sehingga kemampuan untuk memperoleh pendapatan lebih besar dibandingkan usia non produktif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyono et al (2006) bahwa semakin tua umur seseorang akan menurunkan pendapatan yang diterima karena kemampuan fisik semakin menurun dan curahan tenaga kerja yang semakin menurun begitu pula sebaliknya. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan dan pengetahuan seseorang akan membantu dalam penyerapan informasi dan pengambilan keputusan. Pendidikan yang rendah, dapat berpengaruh dalam peningkatan pendapatan petani,. Tingkat pendidikan responden yang dimaksud dalam penelitian ini diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti. Kategori tingkat pendidikan dibagi atas tiga yaitu, rendah (SD ke bawah), sedang (SLTP), dan tinggi (SLTA dan Perguruan )(Purwanti 2007). 163 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Tingkat Pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 2. Tingkat Pendidikan 2; 7% 3; 10% SD SMP 25; 83% SMA Gambar 2. Tingkat Pendidikan Responden Gambar 2 menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan responden hanya smpai pada tingkat SD yaitu sebesar 83% dari total keseluruhan responden. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masih dalam kategori rendah. Cahyono (2011) mengatakan bahwa tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir dan prilaku petani terhadap hutan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka pekerjaan dan pendapatannya akan semakin layak dan meningkat. Jumlah Tanggungan Keluarga Tanggungan keluarga merupakan semua yang menjadi tanggungan kepala keluarga baik yang berada dalam satu rumah maupun diluar rumah seperti istri, anak dan anggota keluarga yang lain yang berada dalam rumah tersebut. Semakin banyak anggota keluarga yang tinggal dalam rumah, semakin banyak pula biaya hidup yang harus dikeluarkan..Pengklasifikasian jumlah tanggungan keluarga responden dikelompokkan atas 3 kategori, yaitu kecil apabila jumlah tanggungan lebih kecil atau sama dengan 3, sedang jika berjumlah 4 – 6 orang dan besar bila jumlahnya sama dengan 7. Jumlah tanggungan keluarga responden dapat dilihat pada Gambar 3. Jumlah Tanggungan Keluarga 10; 33% 11; 37% 9; 30% 1-3 4-6 7-9 Gambar 3. Jumlah Tanggungan Keluarga Responden Gambar 3 menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki jumlah tanggungan 1-3 orang dengan jumlah sebanyak 11 orang dari total keseluruhan responden. Hal ini menunjukkan bahwa kategori jumlah tanggungan keluarga responden masuk kategori kecil Pendapatan 164 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Pendapatan merupakan hasil yang diperoleh dari suatu pekerjaan atau usaha. Besarnya pendapatan seseorang tergantung pada kualitas dan kuantitas pekerjaan yang dilakukan (Tallo et al. 2019). Pendapatan dari kegiatan usaha di Kawasan Hutan Pinus Rombeng diperoleh penerimaan dikurangi dengan biaya. Pendapatan responden terdiri dari beberapa kegiatan usaha yaitu, pengelola ekowisata, pedagang dan parkir. Pendapatan dari pengelola ekowisata berasal dari tiket, penyewaan tenda,penyewaan matras, dan penyewaan hammock. Pendapatan dari pedagang terdiri dari pedagang gorengan ,indomie siram, nasi kuning, cemilan, rokok, kopi susu, ketupat, minuman dingin,air mineral, dan pisang nugget. Pendapatan parkir tberasal dari pendapatan parkir motor dan mobil. Pendapatan ekowisata Hutan Pinus Rombeng dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng No Kegiatan Usaha 1 2 3 Pengelola Ekowisata Pedagang Parkir Total Rata-Rata Penerimaan (Rp)/pertahun 27.170.000 170.445.000 52.470.000 250.085.000 83.361.66 Pengeluaran (Rp)/pertahun 15.812.250 86.882.500 19.470.000 122.164.750 40.721.583 Pendapatan (Rp)/pertahun 11.357.750 83.562.500 33.000.000 127.920.250 4.264.008 Tabel 1 menunjukkan bahwa pendapatan paling tinggi diperoleh dari kegiatan pedagang sebesar Rp.83.562.500/tahun. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penduduk sekitar kawasan ekowisata berprofesi sebagai pedagang. Total pendapatan responden sebesar Rp.127.920.250/tahun dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp.4.264.008/responden/tahun atau sebesar Rp. 355.334/responden/bulan. Menurut Badan Pusat Statistik 2019 maka penduduk di Ekowisata Hutan Pinus Rombeng termasuk kategori miskin karena pendapatannya di bawah Rp 425.250 per kapita per bulan. KESIMPULAN Pendapatan Ekowisata Hutan Pinus Rombeng terhadap masyarakat di Desa Bontolojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng adalah untuk Pengelola Ekowisata sebesar Rp.11.357.750/tahun, Pedagang sebesar Rp.83.562.500 /tahun, dan Parkir sebesar Rp.33.000.000/tahun. DAFTAR PUSTAKA Andika, S. 2021. Analisis Pendapatan Petani Hasil Hutan Bukan Kayu (Hhbk) Mitra Kphp Limau Unit Vii Hulu Kabupaten Sarolangun. Universitas Jambi. Cahyono, S. A. 2011. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Petani Menyadap Pinus Di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (Khdtk) Gombong. Tekno Hutan Tanaman 4(2): 49–56. Cahyono, S. A., Jariyah, N. A., And Indrajaya, Y. 2006. Karakteristik Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga Penyadap Getah Pinus Di Desa Somagede, Kebumen, Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan 3(2): 147–159. Fatmawati, D. 2019. Panorama Keindahan Puncak Becici Sebagai Ekowisata Unggulan Di Yogyakarta. Osf Preprints. 165 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Hijriati, E., And Mardiana, R. 2014. Pengaruh Ekowisata Berbasis Masyarakat Terhadap Perubahan Kondisi Ekologi, Sosial Dan Ekonomi Di Kampung Batusuhunan, Sukabumi. Jurnal Sosiologi Pedesaan 2(3): 146–159. Manahampi, R. M., Rengkung, L. R., Rori, Y. P. I., And Timban, J. F. J. 2015. Peranan Ekowisata Bagi Kesejahteraan Masyarakat Bahoi Kecamatan Likupang Barat. Agri-Sosioekonomi 11(3a): 1–18. Purwanti, R. 2007. Pendapatan Petani Dataran Tinggi Sub Das Malino. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan 4(3): 257–269. Putri, A. D., And Setiawina, D. 2013. Pengaruh Umur, Pendidikan, Pekerjaan Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Miskin Di Desa Bebandem. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana Udayana University 2(4): 44604. Tallo, G. R. P., Tallo, A. J., Mau, A. E., And Kemis, E. C. 2019. Analisis Pendapatan Ekowisata Pinus Sari Di Rph Mangunan Bdh Kulonprogo Kph Yogyakarta. Urban Planning And Property Development Review 2(1): 15–32. Yadi, M. H., Triwanto, J., And Muttaqin, T. 2019. Kajian Wtp (Willingness To Pay) Ekowisata Hutan Pinus Terhadap Pendapatan Bkph Bondowoso Kph Bondowoso. Journal Of Forest Science Avicennia 2(2): 54–63. Yilma, Z. A., Reta, M. M., And Tefera, B. T. 2016. The Current Status Of Ecotourism Potentials And Challenges In Sheko District, South-Western Ethiopia. Journal Of Hotel & Business Management 5(2): 1–5. 166