SESAWI JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 6. NO 2 JUNI 2025 Availble at: http://sttsabdaagung. Article Histori: Submited Reviewed Acepted Published : 10/05/2025 : 13/05/2025 : 20/06/2025 : 27/06/2025 FILSAFAT PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI RUANG PERJUMPAAN: MENJAWAB TANTANGAN MULTIKULTURALISME DAN PLURALISME RELIGIUS Gustaf Rudolf Aleksander Kasse Sekolah Tinggi Teologi Apollos Jakarta kasse@gmail. Abstract This article aims to review the philosophical foundations of Christian Religious Education in responding to the challenges of multiculturalism and religious pluralism in the global era. In the context of an increasingly pluralistic society. Christian Religious Education is often trapped in two extremes: closed exclusivism or compromising Therefore, this article offers an approach to the philosophy of Christian education as a meeting space, that is, a place where the identity of faith is affirmed and dialogue is maintained openly and respectfully. This research uses a qualitative approach with library research methods and reflective-critical analysis of theological, philosophical, and pedagogical literature. The data were analyzed through a philosophical hermeneutic approach to find a synthesis between the Christian faith and dialogical values in education. The findings show that Christian religious education based on the theology of incarnation, relationality, and love can form students who have a strong faith identity but are also inclusive in their attitudes. Christian education is not only a tool for doctrinal inheritance, but a means of building character who is able to live in peace in the midst of diversity. The recommendation of this study is the need for a paradigm shift in the philosophy of Christian Religious Education from education centered on doctrinal transfer to education as a praxis of transformative dialogue and Keywords: Christian Religious Education. Philosophy of Education. Multiculturalism. Religious Pluralism. Meeting Rooms. Interfaith Dialogue Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengkaji landasan filosofis Pendidikan Agama Kristen dalam menjawab tantangan multikulturalisme dan pluralisme agama di era global. Dalam konteks masyarakat yang semakin pluralistik. Pendidikan Agama Kristen sering terjebak dalam dua ekstrem: eksklusivisme tertutup atau relativisme kompromi. Oleh karena itu, artikel ini menawarkan pendekatan terhadap filsafat pendidikan Kristen sebagai ruang pertemuan, yaitu tempat di mana identitas iman ditegaskan dan dialog dipertahankan secara terbuka dan hormat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian perpustakaan dan analisis reflektif-kritis terhadap literatur teologis, filosofis, dan pedagogis. Data dianalisis melalui pendekatan hermeneutik filosofis untuk menemukan sintesis antara iman Kristen dan nilai-nilai dialogis dalam pendidikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen berdasarkan teologi inkarnasi, relasionalitas, dan cinta dapat membentuk siswa yang memiliki identitas iman yang kuat tetapi juga inklusif dalam sikapnya. Pendidikan CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Kristen bukan hanya alat untuk warisan doktrin, tetapi sarana membangun karakter yang mampu hidup damai di tengah keberagaman. Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya perubahan paradigma dalam filosofi Pendidikan Agama Kristen dari pendidikan yang berpusat pada transfer doktrin menjadi pendidikan sebagai praksis dialog dan perjumpaan Kata kunci: Pendidikan Agama Kristen. Filsafat Pendidikan. Multikulturalisme. Pluralisme Agama. Ruang Pertemuan. Dialog Antaragama PENDAHULUAN Di era globalisasi dan mobilitas tinggi, masyarakat semakin ditandai oleh keberagaman: etnis, budaya, serta keyakinan agama. Situasi ini menuntut Pendidikan Agama Kristen untuk bergerak dari posisi yang monologis dan doktrinal ke arah yang dialogis dan inklusif. Jika tidak. Pendidikan Agama Kristen dapat jatuh ke dalam dua ekstrem: eksklusivisme, di mana agama lain dipandang secara negatif atau relativisme, di mana identitas iman dikompromikan demi AotoleransiAo. Dalam konteks tersebut, filsafat pendidikan agama perlu diformulasikan ulang menjadi ruang perjumpaan di mana identitas Kristen diteguhkan sekaligus membuka relasi hormat dengan perbedaan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kajian telah menyoroti peran Pendidikan Agama Kristen dalam konteks masyarakat multikultural dan pluralisme di Indonesia. Fokus penelitian tersebut umumnya berada pada implementasi praktis misalnya peningkatan toleransi dan harmonisasi interagama dengan pendekatan deskriptif dan berbasis studi pustaka. Penelitian oleh Firmanto dan Astuti mengungkap bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen berwawasan multikultural di SMA Kristen 1 Salatiga memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap sikap toleransi antar siswa berbagai agama, dengan korelasi yang mencapai 70,1 %. 1 Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan yang inklusif dan menghargai keberagaman berpotensi menjadi strategi efektif dalam mereduksi konflik bernuansa SARA. Immanuel Lando Manalu dan rekan menyodorkan kerangka model Pendidikan Agama Kristen yang menekankan inklusivitas, dialog antaragama, nilai-nilai etis, dan pelibatan aktif dalam pelayanan 2 Model ini menegaskan Pendidikan Agama Kristen bukan sekadar pewarisan doktrin, tetapi sebagai instrumen sosial yang membentuk masyarakat yang saling memahami dan memperkokoh kerukunan. Terok dan Suseno menggambarkan bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat membantu menanamkan nilai-nilai kerukunan dalam masyarakat majemuk melalui pendekatan dialogis. Mereka menekankan bahwa pemahaman teologis tentang hikmat dan kerukunan perlu diperkuat agar peserta didik menjadi agen perdamaian di tengah pluralitas. 3 Penjabaran lain oleh Damanik et. menyoroti bagaimana Pendidikan Agama Kristen yang disampaikan dengan perspektif multikultural di sekolah memperkuat nilai toleransi dan harmoni antar agama. Artikel ini Firmanto Rendy Deo and Astuti Sianny. Pengaruh Pelaksanaan Pendidikan Agama KristenBerwawasan Multikultural Di SMA Kristen 1 Salatiga terhadapSikap Toleransi Antar Peserta Didik Yang Berbeda Agama Dan Keyakinan. Vol. No. , pp. 207Ae21, doi:10. 37368/ja. Immanuel Lando Manalu et. AoModel Pendidikan Agama Kristen Dalam Mengembangkan Masyarakat Majemuk Di IndonesiaAo. Indonesia Journal of Religious. Vol. No. , pp. 45Ae57, doi:10. 46362/ijr. Djonny. Terok and Aji Suseno. AoMerajut Kerukunan Di Era Digital: Peran Gembala Dalam Mengelola Pluralisme Agama Di Society 4. 0Ao. Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual Dan Pelayanan Kristiani, 4. , pp. 144Ae58, doi:10. 38189/jtk. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. juga membahas tantangan penerapan dan menawarkan solusi praktis bagi pendidikan di lingkungan sekolah yang heterogen. 4 Dalam ranah pendekatan teologis-konseptual. Deppalanna membahas membangun karakter moderasi beragama melalui pendidikan agama kristen dalam kurikulum merdeka. Ini membuka sudut pandang baru bahwa Pendidikan Agama Kristen juga dapat menjadi instrumen pembinaan masyarakat religius yang moderat dan harmonis. Meskipun banyak penelitian telah menyoroti aspek praktik, kurikulum, dan sikap toleransi, masih jarang ditemukan kajian yang menggali dasar filsafat-teologis Pendidikan Agama Kristen sebagai ruang dialog transformative yakni yang tidak hanya menghindari ekstrem eksklusivisme maupun relativisme, tetapi mempertemukan keyakinan dalam suasana hormat dan afirmatif. Temuan-temuan sebelumnya sangat berharga sebagai indikator bahwa Pendidikan Agama Kristen bisa efektif dalam membangun sikap sosial yang inklusif dan damai. Namun, masih dibutuhkan pendekatan teoritis yang lebih mendalam, yang memberi pijakan filosofis dan teologis terhadap identitas iman sekaligus keterbukaan terhadap pluralitas. Penelitian ini menawarkan pendekatan baru terhadap Pendidikan Agama Kristen dengan mengajukannya sebagai Auruang perjumpaanAy suatu konsep yang belum banyak dieksplorasi secara mendalam dalam kajian-kajian sebelumnya. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah penelitian terdahulu, fokus utama dalam studi Pendidikan Agama Kristen yang berkaitan dengan keberagaman umumnya terletak pada aspek implementatif: bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat menanamkan nilai toleransi, mendorong sikap saling menghargai, serta membina kerukunan antarumat beragama di sekolah atau masyarakat. Namun demikian, pendekatan-pendekatan tersebut masih cenderung pragmatis dan kurang menggali landasan filosofis dan teologis yang menyeluruh tentang mengapa dan bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat menjadi ruang dialog yang otentik dalam masyarakat pluralistik. Dalam konteks inilah, artikel ini menghadirkan kebaruan. Penelitian ini tidak hanya membahas pentingnya sikap toleransi, tetapi mengusulkan kerangka filsafat pendidikan Kristen yang berpijak pada teologi inkarnasi, relasionalitas, dan kasih sebagai dasar untuk membentuk peserta didik yang memiliki identitas iman yang teguh, namun juga mampu berdialog dan hidup harmonis dalam keberagaman. Artinya. Pendidikan Agama Kristen tidak lagi dipahami sekadar sebagai sarana pengajaran doktrin atau nilai-nilai moral, tetapi sebagai ruang interaksi yang dinamis, di mana iman Kristen bersentuhan langsung dengan realitas sosial yang plural, tanpa kehilangan kedalaman spiritualitasnya. Dengan menggabungkan pemikiran dari tokoh-tokoh seperti Diana Eck tentang pluralisme aktif dan Gavin DAoCosta tentang inklusivisme teologis, artikel ini menghadirkan perspektif interdisipliner yang menyatukan teologi, filsafat pendidikan, dan realitas sosial. Inilah yang membedakan artikel ini dari penelitian sebelumnya yakni, pembacaan ulang terhadap makna Pendidikan Agama Kristen dalam konteks multikultural bukan hanya dari sisi strategi pengajaran, tetapi dari akar filosofis dan Dapot Damanik et. AoPandangan Alkitab Tentang ToleransiAo. DIDASKO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen. Vol. No. , pp. 57Ae71, doi:10. 52879/didasko. Imanuel Deppalanna et. Membangun Karakter Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Kristen Dalam Kurikulum Merdeka. Vol. No. ), pp. 503Ae12. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Dengan demikian, penelitian ini menghadirkan kontribusi baru dalam pengembangan Filsafat Pendidikan Agama Kristen kontemporer, khususnya dalam menjawab tantangan zaman yang semakin plural dan kompleks. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. sebagai strategi utama dalam pengumpulan dan analisis data. Pendekatan ini dipilih karena objek kajian penelitian bersifat konseptual, yaitu tentang Filsafat Pendidikan Agama Kristen dalam konteks pluralisme dan multikulturalisme, yang menuntut pemahaman mendalam terhadap teks, gagasan, dan pemikiran dari sumber-sumber yang bersifat filosofis dan teologis. Dalam prosesnya, peneliti mengkaji berbagai literatur utama dan sekunder yang relevan, seperti buku-buku teologi pendidikan, filsafat pendidikan Kristen, kajian pluralisme religius, serta jurnal ilmiah nasional dan internasional yang membahas dinamika pendidikan agama dalam masyarakat majemuk. Peneliti juga mengacu pada pemikiran tokoh-tokoh penting seperti Diana L. Eck . luralisme akti. Gavin DAoCosta . nklusivisme teologi. , serta teolog dan pendidik Kristen kontemporer yang relevan dengan topik ini. Untuk menganalisis data, digunakan pendekatan hermeneutika reflektif, yaitu upaya menafsirkan teks-teks yang dikaji secara kritis dan kontekstual, dengan mempertimbangkan latar sosial, budaya, dan teologis dari persoalan yang sedang Hermeneutika dalam konteks ini digunakan bukan hanya untuk memahami isi teks secara literal, tetapi juga untuk menggali makna yang lebih dalam dan kontekstual bagi pengembangan pendidikan agama Kristen masa kini. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menyusun kerangka filsafat pendidikan yang bukan hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual dalam menjawab realitas pluralisme dan kebutuhan akan pendidikan yang dialogis serta transformatif. Dengan demikian, metode yang digunakan dalam penelitian ini bukan hanya bertujuan untuk mengumpulkan informasi, melainkan juga untuk mengonstruksi sebuah pendekatan baru terhadap Pendidikan Agama Kristen yakni sebagai ruang perjumpaan yang membentuk identitas, membuka dialog, dan menanamkan nilai kasih dalam masyarakat multikultural. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengungkap bahwa Pendidikan Agama Kristen sebagai ruang perjumpaan dalam konteks multikulturalisme dan pluralisme religius harus dibangun di atas fondasi filsafat pendidikan dan teologi yang kuat. Dengan mengintegrasikan pemikiran Diana Eck tentang pluralisme aktif dan Gavin DAoCosta mengenai inklusivisme teologis, artikel ini menyajikan perspektif interdisipliner yang menyatukan dimensi teologis, filosofis, dan sosial dalam membangun sebuah model pendidikan yang tidak hanya sekedar pengajaran doktrin, tetapi juga sebagai sarana dialog yang transformatif. Pluralisme aktif dalam Pendidikan Agama Kristen Diana Eck menekankan pentingnya pluralisme sebagai energi dan keterlibatan aktif dengan keberagaman, bukan sekadar sikap pasif atau toleransi dangkal. Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen, ini berarti pendidikan tidak hanya mengajarkan doktrin Kristen secara eksklusif, melainkan membuka ruang dialog yang jujur dan hormat dengan Anggito Albi and Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: CV. Jejak, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. keyakinan lain. 7 Pendidikan Agama Kristen sebagai ruang perjumpaan memungkinkan peserta didik mengalami realitas keberagaman secara langsung dan belajar bagaimana membangun relasi yang saling menghargai tanpa mengorbankan identitas iman mereka. Konsep pluralisme aktif ini membantu menggeser paradigma Pendidikan Agama Kristen dari sekadar Autransfer ilmu agamaAy ke model pembelajaran yang interaktif dan kontekstual, di mana nilai-nilai kasih dan hormat menjadi dasar interaksi sosial antar siswa dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Dalam dunia yang semakin beragam dan saling terhubung, kehadiran berbagai agama dan keyakinan menjadi kenyataan yang tak terelakkan dalam kehidupan masyarakat global, termasuk di ruang-ruang pendidikan. Keberagaman ini bukan hanya realitas sosiologis, tetapi juga tantangan dan peluang pedagogis bagi Pendidikan Agama Kristen. Di sinilah pemikiran Diana L. Eck menjadi sangat relevan, khususnya konsep yang ia rumuskan sebagai pluralisme aktif . ctive pluralis. Menurut Eck, pluralisme bukan sekadar pluralitas. Pluralitas hanyalah fakta adanya keberagaman seperti adanya berbagai agama di satu kota, sekolah, atau bahkan di satu ruang kelas. Namun, pluralisme adalah cara kita menanggapi keberagaman tersebut. Ia bukan sikap pasif atau toleransi yang hanya membiarkan perbedaan ada di sekitar kita. Pluralisme menuntut keterlibatan aktif, dialog yang terus-menerus, dan upaya membangun pengertian bersama. Ia adalah sebuah proses bukan kondisi statis yang melibatkan niat untuk benar-benar memahami orang lain sambil tetap berakar pada keyakinan sendiri. Dari kerangka ini, pluralisme aktif menawarkan pendekatan baru bagi Pendidikan Agama Kristen. Dalam banyak konteks, pendidikan agama masih sering diposisikan secara eksklusif berfokus pada penguatan identitas keagamaan semata dan menempatkan keyakinan lain secara marginal atau bahkan bermusuhan. 8 Padahal, di tengah masyarakat yang plural, pendekatan semacam ini berisiko menumbuhkan sikap sempit, eksklusif, dan bahkan intoleran. Malau menekankan bahwa Pendidikan Agama Kristen yang mengadopsi pluralisme aktif mengubah pendekatan ini secara radikal. Pertama, pendidikan agama tidak lagi dilihat sebagai sekadar pewarisan doktrin, tetapi sebagai ruang perjumpaan antar iman sebuah forum di mana peserta didik dapat belajar mengartikulasikan iman mereka secara terbuka, sambil juga belajar memahami kepercayaan orang lain dengan sikap hormat dan terbuka. 9 Dalam model ini, dialog menjadi kata kunci. Dialog antaragama dalam Pendidikan Agama Kristen bukan bertujuan menyamakan semua agama, tetapi membuka ruang untuk pengakuan akan keberadaan dan nilai dari keyakinan yang berbeda. Siswa diajak untuk mengenal iman mereka sendiri dengan lebih dalam, namun juga dengan rendah hati memahami bahwa Melkisedek Melkisedek et. AoPeran Pendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Toleransi Di Masyarakat MajemukAo. Sinar Kasih: Jurnal Pendidikan Agama Dan Filsafat. Vol. No. , pp. 296Ae311, doi:10. 55606/sinarkasih. Nelci Mbelanggedo and Semy Djulandy Balukh. AoPendidikan Agama Kristen Inklusif Di Era Post-Truth: Pendekatan Dialog InterspiritualAo. Imitatio Christo : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. , pp. 46Ae59, doi:10. 63536/imitatiochristo. Titin Wulandari Malau. AoDialog Antaragama Dan Kontribusi Tokoh Agama Dalam Penyelesaian Konflik Dan Implementasinya Untuk Memperkuat ToleransiAo. Jurnal Magistra. Vol. No. , pp. 01Ae18, doi:10. 62200/magistra. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. kebenaran Allah dapat tercermin secara parsial dalam tradisi-tradisi lain. 10 Hal ini mendorong pertumbuhan spiritual yang lebih matang di mana iman tidak dibangun dari ketakutan terhadap yang berbeda, tetapi dari kasih dan keterbukaan terhadap sesama. Kedua, pluralisme aktif mendorong pengakuan atas perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman. Dalam ruang kelas Pendidikan Agama Kristen, keberagaman peserta didik baik dari segi latar belakang agama, budaya, maupun cara pandang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bersama. Ketika peserta didik diajak untuk berbicara tentang nilai-nilai iman mereka dan mendengarkan keyakinan orang lain, mereka belajar bahwa kasih, pengampunan, keadilan, dan belas kasihan adalah nilai-nilai yang bisa menjembatani perbedaan. Ketiga, pluralisme aktif menekankan keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial. Sarang menjelaskan. Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berorientasi pada refleksi internal, tetapi juga membekali siswa untuk terlibat dalam tindakan nyata misalnya melalui proyek lintas iman, pelayanan sosial bersama, atau keterlibatan dalam isu-isu kemanusiaan yang melintasi batas keagamaan. 11 Hal ini memperlihatkan bahwa iman Kristen yang sejati haruslah terwujud dalam kasih yang konkret, terutama kepada mereka yang berbeda. Dengan kata lain. Pendidikan Agama Kristen yang berlandaskan pluralisme aktif memosisikan peserta didik sebagai pelaku kasih dan rekonsiliasi di tengah dunia yang plural. Mereka tidak diminta untuk meninggalkan iman mereka, tetapi justru untuk mendalaminya agar dapat berdialog, bersahabat, dan bekerjasama dengan orang lain secara utuh sebagai murid Kristus. Dalam perspektif ini, pluralisme bukan ancaman terhadap iman, melainkan kesempatan untuk menyatakan kasih Kristus yang melampaui batas-batas manusia. Pranata dan Nome mengungkapkan dalam konteks Indonesia yang sangat majemuk. Pendidikan Agama Kristen berbasis pluralisme aktif sangat relevan sebagai bentuk partisipasi aktif dalam membangun masyarakat yang adil, damai, dan saling Dalam dunia yang semakin beraneka ragam. Pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan besar: bagaimana mengajarkan iman tanpa meminggirkan Di sinilah konsep pluralisme aktif karya Diana L. Eck menjadi relevan dan mendalam secara teoritis. Eck menekankan bahwa pluralisme bukan sekadar menerima keberagaman, melainkan Auenergetic engagement with diversityAy keterlibatan aktif menjalin dialog dan pemahaman di tengah perbedaan keyakinan, bukan toleransi dangkal atau relativisme yang melemahkan identitas sendiri. Ketika dikontekstualisasikan dalam Pendidikan Agama Kristen, pluralisme aktif menjadi paradigma yang memperkaya. Ini bukan hanya soal kurikulum yang mencantumkan sikap toleransi, tetapi pendidikan iman diubah menjadi ruang perjumpaan iman, di mana siswa belajar menghadapi bukan Ronald Sianipar et. AoKerukunan Bersama Pemerintah Desa Sri Tanjung. FKUB. Dan Tokoh Masyarakat KerukunaAo. REAL COSTER: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. 55Ae63, doi:10. 53547/rcj. Rikardus Kristian Sarang. AoMembangun Dialog Sebagai Model Terciptanya Perdamaian Antarumat Beragama Di Kota MeraukeAo. Jurnal Masalah Pastoral. Vol. No. , pp. 1Ae26, doi:10. 60011/jumpa. Kristianus Bayu Pranata and Nehemia Nome. AoPendidikan Agama Kristen Sebagai Agen Restorasi Pendidikan Dalam Mewujudkan Kehidupan Beragama Yang Harmonis Di SekolahAeSekolahAo. Jurnal Filsafat Dan Teologi Katolik. Vol. No. , pp. 37Ae63, doi:10. 58919/juftek. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. menghindari perbedaan. Dalam dialog ini, identitas Kristen tetap kuat, sekaligus berkembang melalui sensitivitas terhadap yang lain. Di tengah ketegangan agama yang semakin tajam, penelitian oleh Gulo et. menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen humanis menjadi strategi penting untuk mencegah fanatisme. 13 Pendidikan Agama Kristen berwawasan humanis memfokuskan pendidikan iman pada nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan, sehingga membentuk warga bernalar inklusif dan penuh kasih Ondja et. al melakukan kajian tentang Pendidikan Agama Kristen berbasis multikultural yang menekankan sikap menghormati dan membantu orang lain tanpa membedakan agama, etnis, maupun ras. Pendekatan ini mencerminkan pluralisme aktif, karena melampaui sekadar pengakuan keberagaman menjadi aksi nyata yang bersifat inklusif dan relasional. Sitompul dkk. mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Kristen kontekstual menanamkan toleransi, dialog, dan kerjasama lintas agama melalui pendekatan pedagogis yang disesuaikan dengan situasi sosial. Pendekatan ini membutuhkan dialog nyata dan refleksi terhadap konteks pluralitas mereka berada. Ketiga penelitian ini mempertegas bahwa pluralisme aktif bukan konsep teoretis belaka, tetapi berdampak praktik. Pendidikan Agama Kristen sebagai ruang dialog bukan hanya sekadar platform perbedaan, melainkan tempat di mana peserta didik membentuk identitas keimanan yang kaya secara spiritual dan relasional. Inklusivisme Teologis dan Identitas Kristen Gavin DAoCosta seorang teolog Katolik kontemporer, memberikan kontribusi teologis yang menyeimbangkan antara teguh dalam iman Kristiani dan terbuka terhadap kebenaran dan kasih dalam agama lain. Ia menolak sikap eksklusif yang menutup diri terhadap keberagaman, sekaligus menegaskan bahwa keselamatan dalam Kristus tetap menjadi pusat iman Kristen. 15 Gavin DAoCosta menempatkan inklusivisme dalam posisi yang tegas namun reflektif dalam debat teologi agama. Ia menolak paradigma tipikal yang membagi respons Kristen terhadap agama lain menjadi tiga kategori eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralism seraya memberikan argumen teologis yang menantang keduanya, pluralisme modern maupun eksklusivisme tradisional. Menurut DAoCosta, pluralisme sejatinya adalah bentuk eksklusivisme tersembunyi, karena ia tetap membatasi kebenaran pada kerangka tertentu dan mendikotomisasi cara pandang agama lain bahkan di bawah klaim kesetaraan atau toleransi universal. Sebagai alternatif. DAoCosta mengembangkan inklusivisme trinitarian yang berakar dalam doktrin Tritunggal. Dalam pemahamannya. Yesus Kristus adalah norma normans non normata yakni standar tunggal untuk mengukur apakah karya Allah terlihat dalam agama lain, tanpa membatasi karya-Nya hanya pada bentuk yang telah diukur oleh iman Kristen. Dengan demikian, agama-agama lain bukan sekadar dianggap salah atau tidak relevan, melainkan bisa menjadi tempat di mana kasih dan karya Allah terfragmentasi tanpa disadari sepenuhnya. Rezeki Putra Gulo. Erwin Zai, and Agusmawarni Harefa. AoPendidikan Agama Kristen Dalam Masyarakat Majemuk: Mencerminkan Hidup Humanis Di Tengah-Tengah PluralismeAo. ELEOS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. , pp. 81Ae90, doi:10. 53814/eleos. Helbert Igilemba Ondja et. AoImplementasi Pembelajaran Pak Berbasis Multikultural Dalam Membina Sikap Toleransi Siswa Di SekolahAo. SESAWI: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen. Vol. No. , pp. 1Ae15, doi:10. 53687/sjtpk. Gavin DAoCosta. Christian Theology of Religions (St Andrews Encyclopaedia of Theology, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Alkitab menegaskan bahwa pengertian manusia tentang Kristus terus diperluas oleh Roh Kudus, menciptakan ruang teologis untuk dialog yang transformative sementara tetap menjunjung keunikan Kristus sebagai pusat penyataan Allah. 16 Pendekatan ini menghindari kecenderungan untuk merendahkan iman Kristen atau memaksakan Ia mengakui kedaulatan iman Kristen sekaligus membuka kemungkinan bahwa kebenaran Allah bisa ditemukan dalam sejarah agama lain, meskipun dalam cara yang sebagian dan terbatas. Kajian lain memperkuat posisi ini, seperti dalam tesis LoeAcJoo Tan yang menelaah pemikiran DAoCosta melalui lensa teologi Kapadokia klasik (Basil dari Kaisare. , khususnya mengenai Authe illuminating work of the SpiritAy dan hubungan antara ekonomi Tritunggal serta etika relasionalnya. Tesis ini menegaskan bahwa meskipun DAoCosta menghindari label inklusivisme klasik, secara substansial ia tetap berada dalam tradisi inklusif tetapi dengan pendekatan Tritunggal yang lebih sistematis dan kontekstual. Lebih jauh. DAoCosta juga mengkritik pluralisme teologi modern. 17 Ia menunjukkan bahwa para pluralis seperti John Hick, meski mengusung gagasan agama-agama dapat menuju satu realitas ilahi, sebenarnya menuntut agama lain menyesuaikan narasi mereka sehingga secara implisit menegaskan kerangka tertentu sebagai otoritas suprasistemtik Dengan demikian, inklusivisme teologis Gavin DAoCosta membangun jembatan antara identitas iman Kristiani yang kuat dengan penghargaan terhadap kebenaran parsial di luar lingkup Gereja. Ia menekankan bahwa keterbukaan terhadap karya Allah melalui Roh Kudus tidak melemahkan doktrin Kristus, malah memperkaya perspektif iman agar lebih inklusif secara teologis dan autentik secara spiritual. 18 Pendekatan inklusivisme ini sangat relevan untuk Pendidikan Agama Kristen dalam masyarakat majemuk, karena menegaskan bahwa pendidikan iman harus memperkuat kesadaran akan kasih Allah yang universal, tanpa mengaburkan keyakinan fundamental akan Kristus sebagai jalan Dalam praktiknya. Pendidikan Agama Kristen yang berlandaskan inklusivisme teologis membentuk peserta didik yang tidak hanya mengenal doktrin Kristen secara mendalam, tetapi juga mengembangkan empati dan rasa hormat terhadap perbedaan, sebagai refleksi dari kasih Kristus yang inklusif. Filsafat Pendidikan Kristen sebagai Ruang Dialog Menggabungkan perspektif teologis tersebut dengan filsafat pendidikan Kristen menegaskan bahwa pendidikan agama bukan sekadar pengajaran materi, melainkan proses pembentukan manusia secara holistik yang menumbuhkan sikap kritis, empati, dan kemampuan berdialog. 19 Filsafat pendidikan Kristen yang menempatkan teologi inkarnasi sebagai dasar menegaskan pentingnya relasi dan kehadiran nyata dalam kehidupan sosial. Kristus sebagai inkarnasi Allah menjadi teladan bagaimana iman harus Prisna Pritalora. Elsa Oktavia, and Sarmauli Sarmauli. Keragaman Penghayatan Kristologis Dalam Alkitab. Vol. No. , pp. 168Ae78. Gavin DAoCosta. AuThe Impossibility of a Pluralist View of Religions. Ay Religious Studies (Cambridge University Press, 2. Gavin DAoCosta. Christianity and World Religions: Disputed Questions in the Theology of Religions (Cambridge University Press & Assessment, 2. Sandra Rosiana Tapilaha. AoPendidikan Agama Kristen Transformatif: Kunci Pembentukan Karakter Dan Pertumbuhan Rohani SiswaAo. KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta. Vol. No. , pp. 383Ae400, doi:https://doi. org/10. 47167/bwdqxx70. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. terwujud dalam relasi antar sesama yang beraneka ragam. 20 Oleh karena itu. Pendidikan Agama Kristen sebagai ruang perjumpaan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik untuk hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang plural dan multikultural. Dalam era global yang diwarnai keragaman budaya dan keyakinan. Pendidikan Agama Kristen dihadapkan pada kebutuhan mendesak: membentuk ruang dialog yang otentik tanpa mengurangi kedalaman iman. Filsafat pendidikan Kristen menantang paradigma lama yang monologis dan mengusung model baru: pendidikan iman bukan hanya untuk mentransfer doktrin, tetapi menjadi ruang dialog hidup yang membangun kerukunan tanpa menghilangkan identitas iman. Penelitian pendidikan lintas agama dan deradikalisasi menunjukkan bahwa dialog terbuka khususnya dalam kurikulum dan praktik mendorong pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif. Misalnya, studi pengembangan kurikulum Muslim Sensitivity di New York menggunakan pendekatan "dialog dan proses" yang berpusat pada refleksi kritis dan kolaboratif, bukan hanya transfer pengetahuan ini membantu mengubah sikap dan perilaku siswa secara signifikan. Pendekatan dialogis juga muncul dalam filsafat dialog pendidikan secara umum, misalnya dalam program "Philosophy with Children," yang memfasilitasi dialog reflektif antara trainee guru dan siswa untuk menumbuhkan pemikiran kritis, kolaborasi, dan literasi emosional di lingkungan sekolah. Konsep ini sangat relevan untuk Pendidikan Agama Kristen: pendidikan agama yang berbasis dialog reflektif menciptakan komunitas belajar yang dinamis, mendalam, dan relevan dalam konteks keberagaman. Dalam ranah teologi. Luke Bretherton menunjukkan bahwa kebenaran dan iman ditemukan melalui perjumpaan relasional bukan hanya argumen abstrak melainkan melalui dialog konkret, dengan individu Kristen dan non-Kristen, dalam demokrasi partisipatif yang berbasis kasih dan keadilan sosial. Kerangka ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya mengajar agama, tetapi juga hidup bersama dalam pencarian kebenaran bersama, tanpa kehilangan akar iman Kristiani. Sebagai tambahan, filsafat dialog Ferdinand Ebner menawarkan landasan eksistensial: hubungan AuAkuAeEngkauAy membentuk etika dan wacana pendidikan sejati. Bagi Ebner, kata dan dialog personal mencerminkan panggilan spiritual yang menghubungkan pengalaman iman dengan realitas manusia secara langsung. Ini menjadi kerangka konseptual untuk memperkuat dimensi relasional dan personal dalam Pendidikan Agama Kristen bukan sekadar teori, tetapi pengalaman hidup iman bersama. Implikasi Sosial dan Pendidikan Model Pendidikan Agama Kristen yang dikembangkan dalam penelitian ini memiliki implikasi praktis yang signifikan. Pertama, guru dan pendidik Kristen perlu dilatih tidak hanya dalam penguasaan materi doktrin, tetapi juga dalam keterampilan dialog dan sensitivitas terhadap keberagaman budaya dan agama. Kedua, kurikulum Pendidikan Agama Kristen perlu direvisi agar mengintegrasikan nilai-nilai pluralisme aktif dan inklusivisme, serta metode pembelajaran yang mempromosikan interaksi dan Serva Tuju et. AoHospitalitas Pendidikan Kristiani Dalam Masyarakat MajemukAo. Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol. No. , pp. 328Ae39, doi:10. 38189/jtbh. Arip S Sitompul et. AoDiaolog Sebagai Kunci Untuk Toleransi Di Sekolah UPT SMP Negeri 004 SilagalagaAo. PIJAR: Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran. Vol. No. , pp. 34Ae43, doi:10. 58540/pijar. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. refleksi kritis. 22 Lebih jauh, penerapan model ini mendorong sekolah dan institusi pendidikan Kristen menjadi tempat di mana keberagaman bukan dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih dan pengertian bersama. Ketika Pendidikan Agama Kristen diposisikan sebagai ruang perjumpaan iman tempat di mana dialog otentik, identitas Kristen, dan keterbukaan terhadap perbedaan bergandeng tangan timbul berbagai implikasi mendasar. Implikasi ini menyentuh ranah struktural, kurikulum, peran guru, hingga relasi sosial di komunitas yang majemuk. Mbelanggedo dan Balukh menjelaskan bahwa guru perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan doktrin, tetapi juga dengan kecakapan mendengar, mengarahkan dialog antaragama, dan menyikapi perbedaan dengan hormat. 23 Ini menuntut pelatihan khusus baik dalam pedagogi dialog maupun pendidikan antariman agar seorang guru tidak hanya berbicara, melainkan juga mendengarkan dan memahami. Guru yang religius juga perlu memahami keyakinan lain secara kritis dan hormat, sehingga mereka mampu menavigasi konteks pluralisme tanpa mengorbankan identitas iman. Integrasi narasi lintas agama dan refleksi nilai: Kurikulum Pendidikan Agama Kristen mesti memasukkan tema-tema seperti keadilan, kasih, tanggung jawab sosial diambil dari sumber-sumber teologis kristiani dan dikaji dalam dialog dengan agama lain. Model pengajaran dialogisdiskusi kelompok, studi kasus antaragama, proyek kolaboratif mendorong siswa tidak hanya memahami doktrin mereka sendiri, tetapi juga merasakan kompleksitas dan kerinduan spiritual orang lain. Ketika peserta didik dilatih untuk berdialog secara terbuka, lambat laun mereka tumbuh sebagai individu dengan iman yang mendalam dan tanggung jawab sosial yang tinggi ia tidak hanya mengamini kebenaran dalam sakunya, tapi juga menghargai yang bukan dalam kelompoknya. Sekolah dan institusi pendidikan yang menerapkan Pendidikan Agama Kristen dialogis menjadi laboratorium sosial, di mana siswa dari berbagai latar belakang belajar hidup bersama secara konstruktif menumbuhkan rasa saling menghormati dan solidaritas di masyarakat yang majemuk. Pendidikan yang membubuhkan dialog dalam iman menciptakan benteng resistensi terhadap sikap fanatik dan eksklusif. Siswa belajar menolak stereotip, melatih empati lintas agama dan budaya, dan mengembangkan kritisisme terhadap narasi penghakiman. Dalam situasi konkret, kolaborasi antaragama dalam proyek sosial mulai dari pelayanan kemanusiaan hingga advokasi keadilan menegaskan bahwa iman Kristen aktif bukan dalam menentang, tetapi dalam membangun bersama. Ketika filsafat Pendidikan Agama Kristen digeser dari pendekatan eksklusifdoktrinal menuju paradigma dialogis sebagai ruang perjumpaan iman maka implikasi paling nyata dan mendasar terlihat dalam ranah kurikulum. Kurikulum tidak lagi hanya dipandang sebagai perangkat isi ajar . , melainkan sebagai alat transformasi Louis Budi Prasetyo et. AoTeologi Kontemporer Dan Tantangan Pluralisme: Studi Kritis Atas Integrasi Nilai-Nilai Agama Kristen Dalam Masyarakat MultikulturalAo. DIDASKO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen. Vol. No. , pp. 122Ae32, doi:10. 52879/didasko. Nelci Mbelanggedo and Semy Djulandy Balukh. AoPendidikan Agama Kristen Inklusif Di Era PostTruth: Pendekatan Dialog InterspiritualAo. Imitatio Christo : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. , pp. 46Ae59, doi:10. 63536/imitatiochristo. Yanuar Ada Zega and Dyulius Thomas Bilo. AoModerasi Dan Literasi: Militansi Pendidikan Kristen Dalam Menghadapi Tantangan Ujaran Kebencian Di Era DigitalAo. Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH). Vol. No. , pp. 32Ae42, doi:10. 37364/jireh. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. relasional dan spiritual yang membentuk peserta didik untuk hidup beriman secara kontekstual dalam dunia yang plural. Implikasi pertama terlihat pada tujuan pendidikan agama itu sendiri. Dalam paradigma dialogis, tujuan Pendidikan Agama Kristen tidak lagi terbatas pada pewarisan doktrin atau pembentukan identitas keagamaan secara tertutup. Sebaliknya. Pola et. al menegaskan tujuan Pendidikan Agama Kristen diperluas untuk mencakup Pembentukan identitas iman yang reflektif dan terbuka. Pengembangan kapasitas dialog antaragama. Penumbuhan kepekaan terhadap keadilan sosial dan kehidupan bersama yang damai. 25 Hal ini selaras dengan pendekatan inklusivisme teologis seperti yang dikembangkan Gavin DAoCosta, yang mengajak umat Kristen untuk menghidupi iman dengan kesadaran bahwa karya Allah juga dapat hadir dalam kehidupan orang lain yang berbeda keyakinan. Implikasi berikutnya menyentuh substansi Dalam pendekatan ini, materi Pendidikan Agama Kristen perlu disusun bukan hanya untuk menjelaskan ajaran iman Kristen secara dogmatis, tetapi juga untuk mengembangkan wawasan lintas iman yang kontekstual. Beberapa poin implementatifnya, menambahkan tema-tema lintas agama seperti: keadilan, perdamaian, pengampunan, kerjasama lintas iman, dan keberpihakan kepada yang tertindas. Menyajikan narasi perjumpaan Yesus dengan orang-orang di luar komunitas Yahudi, seperti perwira Romawi, perempuan Samaria, atau orang asing yang disembuhkan-Nya, sebagai dasar teologis bagi sikap dialogis. memperkenalkan tokoh-tokoh lintas agama dan pemimpin spiritual yang berkontribusi terhadap perdamaian dan keadilan sosial, baik dalam konteks nasional . eperti Gus Dur. Frans Magnis-Suseno. Romo Mangu. maupun Materi semacam ini menolong siswa untuk memahami bahwa iman Kristen yang sejati adalah iman yang inklusif dalam kasih, bukan tertutup dalam ketakutan terhadap yang lain. Implikasi berikutnya tampak dalam pendekatan pedagogis yang digunakan. Kurikulum dialogis mendorong metode pembelajaran partisipatif, yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pencarian makna iman. Ini meliputi diskusi reflektif dan dialog antar siswa, terutama yang berasal dari latar belakang keyakinan berbeda. kasus dan simulasi konflik sosial yang mengundang siswa berpikir teologis sekaligus etis tentang perbedaan. proyek kolaboratif lintas agama, seperti kegiatan bakti sosial bersama, kamp toleransi, atau pertukaran pengalaman keagamaan. Dalam hal ini, guru bukan hanya pengajar materi, melainkan fasilitator dialog dan pembimbing refleksi iman. Kurikulum yang hidup dan relevan adalah kurikulum yang berpijak pada konteks. Oleh sebab itu. Pendidikan Agama Kristen harus dirancang dengan memperhatikan realitas plural di lingkungan lokal: apakah itu keberagaman etnis, agama, atau pandangan Siswa perlu diajak untuk mengenali keberagaman di sekitarnya. memahami nilainilai iman Kristen yang dapat menjadi jembatan bagi dialog, bukan dinding pemisah. menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Bilham Imanuel Polla. Anita I Tuela, and Max G Ruindungan. AoStrategi Pembelajaran Guru Pak Sebagai Upaya Menumbuhkan Sikap Moderasi Beragama Bagi Siswa Di SMA N 2 ManadoAo. LIMMUD: Jurnal Ilmu Keagamaan Dan Sosial Humaniora. Vol. No. , pp. 48Ae65, doi:10. 70420/limmud. Pidemon Gulo. Talizaro Tafonao, and Agiana Her Visnhu Ditakristi. AoModerasi Beragama Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Kristen: Tantangan Dan Peluang ImplementasinyaAo. Educatum: Jurnal Dunia Pendidikan. Vol. No. , pp. 111Ae23, doi:10. 62282/je. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Dalam kerangka ini, sekolah Kristen menjadi agen transformasi sosial, bukan hanya lembaga pendidikan internal komunitas gereja. Ketika Pendidikan Agama Kristen dirawat sebagai ruang dialog teologis dan pendidikan, hasilnya bukan sekadar generasi yang taat pada doktrin melainkan individu yang secara iman mengakar, dan sekaligus secara relasional terbuka. Inilah model pendidikan yang tidak hanya mencetak murid, tetapi pejuang kebajikan bersama di tengah keberagaman. KESIMPULAN Dalam menghadapi tantangan zaman yang ditandai oleh multikulturalisme, pluralisme religius, dan fragmentasi sosial. Pendidikan Agama Kristen dituntut untuk meninggalkan pendekatan eksklusif yang tertutup dan bergerak menuju model yang dialogis, reflektif, dan kontekstual. Artikel ini telah menegaskan bahwa filsafat pendidikan Kristen harus dilihat sebagai ruang perjumpaan sebuah medan transformatif di mana iman Kristen dihayati secara otentik sambil membuka diri terhadap keragaman yang ada. Dengan menggali pemikiran Diana Eck tentang pluralisme aktif dan Gavin DAoCosta mengenai inklusivisme teologis, ditemukan bahwa dialog bukan ancaman bagi identitas iman, melainkan jalan untuk memperdalamnya. Filsafat pendidikan Kristen yang berpijak pada kasih, relasi, dan keterbukaan menjadikan ruang kelas bukan sekadar tempat transfer pengetahuan, melainkan tempat bertemunya manusia dan makna, iman dan konteks, identitas dan tanggung jawab sosial. Implikasinya tercermin dalam kurikulum yang inklusif, metode pembelajaran yang partisipatif, serta evaluasi yang menekankan sikap dan transformasi spiritual. Lebih dari sekadar pendidikan agama, pendekatan ini membentuk manusia beriman yang mampu menjadi pelaku damai di tengah dunia yang terpecah. Dengan demikian, filsafat Pendidikan Agama Kristen sebagai ruang perjumpaan tidak hanya menjadi pendekatan alternatif, tetapi sebuah panggilan moral dan spiritual untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana menghadirkan Kerajaan Allah di mana kasih, pengertian, dan perdamaian menjadi dasar setiap pengajaran. DAFTAR PUSTAKA