1517 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 MENGUBAH PERSEPSI SAMPAH SEBAGAI CERMIN GAYA HIDUP BERKELANJUTAN Oleh Mohamad Najmudin1. Danang Sunyoto2 1,2Prodi. Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Janabadra-Yogyakarta E-mail: 1mohamadnajmudin34@gmail. com, 2danangsunyoto98@gmail. Article History: Received: 18-09-2025 Revised: 14-10-2025 Accepted: 21-09-2025 Keywords: Pengelolaan Sampah. Identitas Sosial. Gaya Hidup Berkelanjutan. Edukasi Reflektif. Perubahan Perilaku Abstract: Pengelolaan sampah selama ini sering dipahami sebagai kewajiban administratif semata, sehingga kurang membangkitkan keterlibatan emosional dan keberlanjutan perilaku masyarakat. Pengabdian ini bertujuan untuk mengubah paradigma tersebut dengan memperkenalkan pendekatan baru yang mengaitkan pengelolaan sampah dengan identitas sosial dan personal individu. Melalui metode edukasi reflektif, diskusi kelompok terarah, serta praktik langsung berbasis komunitas, peserta diajak membangun makna baru terhadap tindakan pengelolaan sampah sebagai ekspresi nilai diri dan gaya hidup Hasil program menunjukkan perubahan positif, di mana mayoritas peserta mulai memandang sampah sebagai bagian dari identitas hidup mereka. Terbentuk pula komunitas berbasis aksi nyata, seperti bank sampah dan program composting rumah tangga. Pendekatan berbasis identitas terbukti efektif dalam mendorong perubahan perilaku berkelanjutan, meskipun tantangan seperti keterbatasan infrastruktur masih perlu mendapat perhatian. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan aspek psikososial dalam strategi pengelolaan sampah untuk membangun budaya hidup berkelanjutan secara lebih mendalam. PENDAHULUAN Selama bertahun-tahun, persepsi umum terhadap sampah cenderung bersifat negatif: sesuatu yang tidak berguna, kotor, dan harus segera dibuang. Sampah dipandang sebagai masalah administratif yang harus diselesaikan oleh otoritas publik atau sektor tertentu, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab individual yang lebih dalam (Williams, 2. banyak komunitas, membuang sampah pada tempatnya atau memilah limbah rumah tangga masih diperlakukan sebagai tindakan ekstra, bukan standar perilaku. Konsekuensinya, budaya konsumsi berlebih dan perilaku membuang sampah sembarangan tetap menjadi tantangan besar dalam upaya mencapai keberlanjutan lingkungan. Namun, seiring meningkatnya kesadaran global tentang krisis iklim dan pentingnya keberlanjutan, pendekatan terhadap isu sampah mulai bergeser. Sampah kini tidak hanya dipahami sebagai produk sisa konsumsi, melainkan juga sebagai cerminan nilai, identitas, dan gaya hidup seseorang (Douglas, 2003. Evans, 2. Apa yang dikonsumsi, bagaimana limbah dikelola, dan sejauh mana seseorang memperhatikan siklus hidup barang-barang yang mereka gunakan, semua merefleksikan identitas sosial dan personal yang Sampah, dalam perspektif ini, adalah 'jejak sosial' . ocial footprin. yang http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 mengungkapkan lebih banyak tentang nilai-nilai, prioritas, dan kesadaran individu terhadap Berdasarkan pendekatan ini, pengelolaan sampah seharusnya tidak lagi diposisikan sekadar sebagai kewajiban moral atau peraturan yang harus dipatuhi, melainkan sebagai ekspresi aktif dari siapa diri seseorang dan komunitasnya. Pendekatan berbasis identitas ini berakar pada teori motivasi berbasis nilai (Schwartz, 1. dan konsep identitas ekologis (Clayton, 2. , yang menekankan bahwa tindakan-tindakan pro-lingkungan menjadi lebih kuat dan berkelanjutan ketika terkait dengan persepsi diri seseorang. Dengan kata lain, seseorang yang memandang dirinya sebagai individu yang peduli lingkungan akan lebih konsisten dalam perilaku ramah lingkungannya dibandingkan seseorang yang hanya bertindak karena dorongan eksternal. Pengabdian masyarakat berjudul "Mengubah Persepsi Sampah Sebagai Cermin Gaya Hidup Berkelanjutan" hadir untuk mendorong perubahan paradigma ini. Melalui pendekatan kreatif seperti story-telling, kampanye berbasis komunitas, dan refleksi sosial, kegiatan ini bertujuan menggeser motivasi pengelolaan sampah dari yang berbasis kepatuhan . menjadi berbasis identitas dan nilai . dentity-based motivatio. (Whitmarsh & OAoNeill, 2. Ketika masyarakat mulai melihat tindakan mengelola sampah sebagai bagian dari "siapa diri mereka"Ai bukan sekadar "apa yang harus mereka lakukan"Ai maka praktik pengelolaan sampah akan menjadi lebih alami, sukarela, dan berkelanjutan. Lebih jauh, pendekatan ini selaras dengan pandangan bahwa perubahan perilaku lingkungan yang efektif harus memperhatikan aspek sosial dan budaya, bukan hanya aspek teknis (Shove, 2. Membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah memerlukan penciptaan norma sosial baru, simbol identitas baru, dan rasa bangga kolektif atas gaya hidup yang lebih sadar lingkungan. Oleh sebab itu, program pengabdian ini tidak hanya fokus pada aspek teknis seperti pemilahan sampah, composting, atau daur ulang, tetapi juga menekankan pentingnya membangun narasi sosial yang kuat tentang gaya hidup Pada akhirnya, mengubah persepsi tentang sampah berarti membangun fondasi budaya baru: budaya yang memandang keberlanjutan bukan sebagai beban, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan identitas diri. Transformasi ini, meski memerlukan waktu dan pendekatan yang konsisten, adalah langkah strategis untuk mewujudkan masyarakat yang lebih berdaya, berwawasan ekologis, dan siap menghadapi tantangan lingkungan global masa depan. Gambar. Komunitas Sahabat Sampah ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. Gambar. Gaya Hidup Berkelanjutan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 METODE PELAKSANAAN Pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis komunitas, menggabungkan metode edukasi reflektif, diskusi kelompok terarah (FGD), serta praktik Tahapan pelaksanaan meliputi: A Sosialisasi dan Pemetaan Persepsi. Dilakukan melalui survei singkat untuk mengidentifikasi persepsi awal masyarakat tentang sampah dan gaya hidup A Workshop Edukasi Interaktif. Memberikan materi tentang hubungan antara pengelolaan sampah, identitas sosial, dan gaya hidup berkelanjutan. Materi disampaikan melalui storytelling, studi kasus inspiratif, dan refleksi nilai personal. A Praktik Aksi Nyata. Masyarakat diajak menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle dalam kehidupan sehari-hari, disertai pembuatan proyek mini seperti bank sampah komunitas atau program composting rumah tangga. A Refleksi dan Komitmen Personal. Di akhir program, peserta membuat pernyataan komitmen pribadi untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari identitas hidup mereka. Seluruh kegiatan dilakukan selama 3 bulan dengan monitoring berkala untuk melihat perubahan persepsi dan perilaku. Gambar. Belajar Mengelola Sampah Gambar. Kegiatan P5 Gaya Hidup Berkelanjutan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pelaksanaan pengabdian menunjukkan beberapa hasil utama: A Perubahan Persepsi. Sebagian besar peserta . %) mulai memandang pengelolaan sampah bukan sekadar kewajiban, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup yang mencerminkan nilai diri mereka. A Adopsi Praktik Nyata. Terbentuk 2 kelompok bank sampah dan 20 keluarga mulai rutin melakukan composting mandiri. A Penguatan Identitas Sosial. Terbentuk komunitas kecil bertajuk "Eco-Living Community" yang berfokus pada gaya hidup minim sampah sebagai bentuk ekspresi identitas kolektif. A Komitmen Tertulis. 90% peserta menandatangani deklarasi pribadi untuk terus mempraktikkan pengelolaan sampah berkelanjutan. Pembahasan Hasil pengabdian ini memperkuat temuan dari penelitian sebelumnya bahwa http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 perubahan perilaku lingkungan lebih efektif bila dikaitkan dengan aspek identitas diri (Whitmarsh & OAoNeill, 2. A Pendekatan berbasis nilai dan identitas terbukti lebih mampu menciptakan keterlibatan emosional peserta dibanding pendekatan normatif atau berbasis kewajiban administratif (Schwartz, 1. A Pengalaman ini juga mendukung pandangan Shove . tentang pentingnya membangun norma sosial baru untuk mendorong perubahan perilaku Dengan mengaitkan pengelolaan sampah dengan kebanggaan identitas sosial, peserta menunjukkan adopsi perilaku yang lebih konsisten dan Namun, beberapa tantangan juga tercatat, terutama terkait keterbatasan fasilitas pendukung . eperti akses alat compostin. dan perlunya penguatan pendampingan jangka panjang agar perubahan ini tidak hanya sesaat. Secara keseluruhan, program ini membuktikan bahwa mengubah persepsi tentang sampah melalui pendekatan identitas sosial tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga membawa dampak nyata terhadap perilaku individu dan komunitas. Gambar. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat . Gambar. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat . KESIMPULAN Program pengabdian "Mengubah Persepsi Sampah Sebagai Cermin Gaya Hidup Berkelanjutan" berhasil mendorong perubahan persepsi masyarakat mengenai sampah dari sekadar kewajiban administratif menjadi bagian dari identitas sosial dan personal. Pendekatan berbasis nilai dan identitas terbukti efektif dalam membangun keterlibatan emosional peserta, meningkatkan adopsi praktik pengelolaan sampah berkelanjutan, serta membentuk komunitas kecil yang berorientasi pada gaya hidup ramah lingkungan. Hasil ini mengonfirmasi bahwa pengelolaan sampah tidak hanya memerlukan pendekatan teknis, tetapi juga pendekatan psikososial yang mengaitkan tindakan sehari-hari dengan makna identitas diri. Transformasi semacam ini, jika dikelola secara berkelanjutan, dapat memperkuat budaya hidup hijau di tingkat komunitas dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan secara lebih luas. Rekomendasi Berdasarkan hasil pelaksanaan, berikut beberapa rekomendasi untuk pengembangan program ke depan: A Integrasi Program Pengelolaan Sampah ke dalam Pendidikan Formal dan Informal ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Mengadopsi pendekatan berbasis identitas dalam kurikulum pendidikan lingkungan untuk membangun kesadaran ekologis sejak usia dini. A Penguatan Infrastruktur Pendukung. Menyediakan fasilitas pendukung seperti alat composting, tempat daur ulang kreatif, dan platform digital untuk komunitas berbagi praktik baik. A Pendekatan Berbasis Komunitas yang Konsisten. Melanjutkan pendampingan jangka panjang bagi komunitas yang sudah terbentuk agar perubahan perilaku menjadi kebiasaan permanen. A Pengembangan Narasi Positif tentang Gaya Hidup Berkelanjutan. Membuat kampanye sosial yang menonjolkan pengelolaan sampah sebagai simbol prestise sosial dan ekspresi nilai diri. A Kolaborasi Multi-pihak. Menggandeng sektor swasta, pemerintah daerah, dan organisasi non-profit untuk memperluas dampak dan keberlanjutan program. DAFTAR PUSTAKA