Open Community Service Journal 4 . : 190-197 2025 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual Berbasis Booklet pada Remaja Perempuan di YKSUWI Lamongan Faizatul Ummah1*. Aimmatun NadhirohA. Aulia Kurnianing Putri1. Ananda Aliyah1. Aoedita Trisia Agustien1. Rista Ramadhanti Az-zahra1 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Lamongan. Indonesia Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya. Surabaya. Indonesia *Correspondence E-mail: faizatul_ummah@umla. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Artikel: Disubmit 18 September 2025 Diperbaiki 13 Oktober 2025 Diterima 28 Oktober 2025 Diterbitkan 3 November 2025 Kata Kunci: Booklet. Infeksi Menular. Kesehatan Reproduksi. Pendidikan Kesehatan. Remaja Perempuan. ABSTRAK Latar Belakang: Remaja perempuan merupakan kelompok usia yang sedang berada pada fase transisi menuju dewasa, sehingga rentan terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi dan infeksi menular seksual (IMS). Rendahnya pengetahuan dan keterbatasan akses informasi yang tepat dapat memicu munculnya perilaku berisiko di kalangan remaja. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman remaja perempuan mengenai kesehatan reproduksi melalui pendidikan kesehatan berbasis booklet. Metode: Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan dengan pendekatan ceramah interaktif, diskusi, serta tanya jawab, yang didukung media booklet, dan diikuti oleh 25 remaja putri. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta. Hasil: Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 66,60 menjadi 82,56 . eningkat sebesar 15,96 poi. , hasil uji paired t-test menujukkan perbedaan yang signifikan . = 6,99. p < 0,. Temuan ini membuktikan bahwa intervensi berbasis booklet efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan IMS. Dengan demikian, booklet dapat direkomendasikan sebagai salah satu media edukasi yang efektif dalam promosi kesehatan remaja. Untuk mengutip artikel ini: Ummah. Nadhiroh. Putri. Aliyah. Agustien. Az-zahra. Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual berbasis booklet pada remaja perempuan di YKSUWI Lamongan. Open Community Service Journal, 4. , 190Ae197. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2025 by author/s Pendahuluan Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dengan berbagai perubahan fisik, psikologis, dan social yang signifikan. Pada masa ini, remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk terkait kesehatan reproduksi dan seksual. (Bagley, 2. Namun, kurangnya pengetahuan dan akses terhadap informasi yang benar sering kali menimbulkan perilaku berisiko. World Health Organization . menyatakan bahwa remaja di seluruh dunia menghadapi berbagai tantangan kesehatan reproduksi, termasuk kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual (IMS), serta rendahnya kesadaran tentang perawatan organ World Health Organization . mencatat lebih dari satu juta kasus baru infeksi menular seksual (IMS) setiap harinya, dengan remaja dan dewasa muda berusia 15Ae24 tahun menjadi kelompok yang paling rentan. Kondisi ini menegaskan bahwa kesehatan reproduksi remaja perlu mendapatkan perhatian serius. Di Indonesia, masalah kesehatan reproduksi pada remaja masih cukup tinggi. Kementerian Kesehatan RI . 900 kasus HIV baru pada tahun 2023, dengan sekitar 21% di antaranya terjadi pada kelompok usia remaja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . sekitar 48% remaja putri dan 50% remaja putra memiliki pengetahuan yang kurang memadai tentang kesehatan reproduksi. Di Jawa Timur, sebuah penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pengetahuan baik sebesar 58,1%, artinya masih hamper separoh remaja yang pengetahuan kesehatan reproduksinya rendah (Ertiana & Ottu, 2. Situasi yang sama juga dialami oleh remaja perempuan di Yayasan Keluarga Silaturahmi Ukhuwwah Islamiyah (YKSUWI) Lamongan. Hasil observasi awal menunjukkan sebagian besar . %) santriwati belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta pencegahan IMS. Studi Bhwa et al. juga menyatakan bahwa remaja di SMPN Kupang memiliki pemahaman kesehatan reproduksi yang rendah . %) sebelum diberikan penyuluhan partisipatif. Rendahnya literasi kesehatan reproduksi, terbatasnya akses layanan ramah remaja, serta budaya tabu membicarakan seksualitas semakin memperburuk kondisi ini (UNICEF, 2. Penelitian (Hasanah et al. , 2. menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di Indonesia memiliki pengetahuan dan perilaku kesehatan reproduksi yang rendah tentang kesehatan reproduksi. Hal ini dapat berimplikasi pada tingginya risiko terpapar IMS. Remaja perempuan yang belum memahami pentingnya perawatan organ reproduksi, seperti menjaga kebersihan area genital, penggunaan pembalut yang tepat, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala, jika dibiarkan, perilaku yang salah dapat menimbulkan dampak serius seperti infeksi, gangguan menstruasi, bahkan risiko komplikasi di masa Hal ini mencerminkan masih rendahnya perilaku kesehatan reproduksi di tingkat lokal yang perlu segera diintervensi Oleh karena itu edukasi yang komprehensif dan relevan sangat dibutuhkan untuk membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan menjaga kesehatan Urgensi edukasi kesehatan reproduksi dan seksual pada remaja menjadi semakin tinggi mengingat dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan. Edukasi ini tidak hanya berfungsi mencegah perilaku berisiko, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya perawatan organ reproduksi sejak dini. Pemilihan metode dan media yang tepat dalam pendidikan kesehatan akan meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta. Media booklet merupakan sarana edukasi yang dapat menyajikan informasi secara ringkas atau sederhana namun komprehensif, menarik, mudah dipahami, dan dapat dibaca ulang kapan saja sehingga dapat meningkatkan ketertarikan dan tidak bosan untuk membaca (Jatmika et al. Informasi yang disampaikan melalui ceramah, dan diskusi interaktif akan menambah pemahaman peserta. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual berbasis booklet dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja perempuan di Yayasan Keluarga Silaturahmi Ukhuwwah Islamiyah (YKSUWI) Lamongan mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan IMS. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk pendidikan kesehatan berbasis penyuluhan partisipatif. Mitra kegiatan adalah remaja perempuan yang tinggal di Yayasan Keluarga Silaturahmi Ukhuwwah Islamiyah (YKSUWI) Lamongan sebanyak 25 orang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 19 Juli 2025 di ruang pertemuan YKSUWI, dalam bentuk pendidikan kesehatan berbasis penyuluhan partisipatif (Bhwa et al. , 2. Mitra sasaran adalah remaja perempuan yang tinggal di Panti Asuhan Yayasan Keluarga Silaturahmi Ukhuwwah Islamiyah (YKSUWI) Lamongan sebanyak 25 orang. Pemilihan mitra didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan rendahnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan infeksi menular seksual. Pelaksanaan kegiatan dan penyampaian materi oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah persiapan, yang mencakup koordinasi dengan pihak yayasan, penyusunan materi edukasi, serta perancangan media Tahap kedua adalah implementasi berupa penyuluhan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Materi yang disampaikan meliputi pengertian kesehatan reproduksi remaja, perubahan fisik, psikis, dan social, perawatan kesehatan reproduksi, masalah kesehatan reproduksi remaja, infeksi menular seksual. Selama proses penyuluhan, booklet dibagikan kepada peserta Selama proses penyuluhan, booklet dibagikan kepada peserta sebagai panduan edukasi yang dapat dibaca ulang secara mandiri. Tahap ketiga adalah monitoring dan evaluasi, yang dilaksanakan dengan dua cara, yaitu observasi keaktifan peserta selama kegiatan serta pengukuran pengetahuan menggunakan pre-test dan post-test. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbentuk pilihan ganda yang diberikan kepada seluruh peserta sebelum dan sesudah penyuluhan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan menghitung skor rata-rata pre-test dan post-test, sehingga dapat diketahui adanya perubahan tingkat pengetahuan remaja setelah intervensi pendidikan kesehatan berbasis booklet. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test, dilanjutkan dengan uji paired t-test pada tingkat kemaknaan 0,05. Hasil dan Pembahasan Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual pada remaja di Yayasan Keluarga Silaturahmi Ukhuwwah Islamiyah (YKSUWI) diikuti oleh 25 peserta. Kegiatan berjalan lancar, dan seluruh peserta berpartisipasi aktif dari awal hingga akhir. Hal ini ditunjukkan oleh perhatian peserta selama penyajian materi, banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan yang belum dipahami yaitu sejumlah 7 orang . %) serta 4 . %) peserta yang memberikan sumbangan saran. Gambar 1. Sesi penyampaian materi, . Pengerjaan post test. Evaluasi hasil menggunakan kuesioner . dengan lima indikator yaitu pengertian kesehatan reproduksi remaja, perubahan fisik, psikis, dan sosial, perawatan kesehatan reproduksi, masalah kesehatan reproduksi remaja, infeksi menular seksual. Adapun pemahaman peserta mengenai kesehatan reproduksi dan seksual dijelaskan sebagai berikut: 1 Pengetahuan Remaja Sebelum Intervensi Hasil evaluasi pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan seksual sebelum diberikan intervensi . re-tes. menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada kategori AucukupAy . %), sementara 24% berada pada kategori AubaikAy dan AukurangAy. Rerata skor pengetahuan peserta sebelum diberikan Pendidikan kesehatan adalah 66,60. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilakukan, pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi masih kategori AucukupAy. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan tentang Reproduksi dan seksual Kategori Frekuensi . Persentase (%) Baik Cukup Kurang Total Skor Min & Skor Max Rerata Standar Deviasi Skor minimum = 40 Skor maximum = 86 66, 60 14,02 Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa dari 15 pertanyaan yang dikembangkan dari lima indikator, pemahaman yang paling rendah adalah tentang infeksi meular seksual. Kondisi ini dapat menyebabkan implikasi medis yang serius. Remaja yang tidak memahami gejala awal dan cara penularan IMS berisiko lebih tinggi melakukan perilaku seksual tidak aman, terlambat mencari pengobatan. Hal ini berdampak pada meningkatknya kerentanan terhadap HIV/AIDS dan IMS lainnya, serta komplikasi jangka panjang seperti infertilitas, kehamilan ektopik. 2 Pengetahuan Remaja Setelah Intervensi Setelah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual menggunakan media booklet, hasil post-test menunjukkan bahwa mayoritas peserta . %) memiliki pengetahuan kategori AubaikAy, 16% berada dalam kategori AucukupAy, dan tidak ada satupun peserta yang tingkat pengetahuannya AukurangAy. Rerata skor pengetahuan post-test sebesar 81,76. Peningkatan rata-rata skor sebesar 15,4 poin ini membuktikan bahwa booklet efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan tentang Reproduksi dan seksual Kategori Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Persentase Skor Min & Skor Max Rerata Standar Deviasi Skor minimum = 73 Skor maximum = 93 82,56 8,86 3 Perbedaan Tingkat Pengetahuan Remaja Sebelum dan Setelah diberikan Intervensi Untuk mengetahui efektifitas Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual dengan media booklet terhadap pengetahuan remaja, dilakukan uji statistic paired t-test. Hasilnya disajikan pada Gambar 1. Rerata= pre-test 66,60, post-test 82,56 . elisih rerata =15,. Nilai t=6, 6,99. p < 0,001 Gambar 1. Uji Perbedaan Pengetahuan Remaja Sebelum dan Sesudah Intervensi Berdasarkan Gambar 1, diketahaui bahwa rerata pengetahuan remaja sebelum diberikan intervensi . re-test ) sebesar 66,60, dan setelah intervensi . ost-test 82,. Peningkatan rerata skor sebesar 15,96 poin, hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p<0,001. Hal ini membuktikan bahwa booklet efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan seksual. Hasil ini sejalan dengan penelitian Dewi et al. yang menunjukkan adanya pengaruh pendidikan kesehatan melalui media booklet terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi dalam mencegah risiko kehamilan pada pasangan pranikah. Hasil analisis menunjukkan nilai yang signifikan(A = 0,005< 0,05. Penelitian Hidayah dan Ermiyani . di SMA Muhammadiyah Imogiri juga menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan kesehatan reproduksi siswa melalui edukasi dengan booklet. Demikian halnya penelitian Utaminingtyas et al. melaporkan bahwa penggunaan media e-booklet efektif untuk meningkatkan pengetahuan ciri-ciri pubertas pada remaja. Penyuluhan dengan media booklet mampu meningkatkan pengetahuan remaja dari 80,3% menjadi 98,9% dengan nilai signifikansi . = 0,. (Sandriani et al. , 2. Konsistensi temuan ini menegaskan bahwa booklet merupakan media edukasi yang efektif di berbagai konteks. Penggunaan booklet sebagai media edukasi dapat diberikan dalam bentuk booklet maupun e-booklet. Keduanya efektif meningkatkan pengetahuan remaja (Nuraenah et al. , 2. Media booklet terbukti lebih efektif dibandingkan media visual lainya seperti leaflet dan modul. Penelitian Setyandari & Rahayuningsih . menyatakan bahwa media booklet lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja dibandingkan leaflet. Rerata pengetahuan pada kelompok booklet 67,48 A 14,060 dan rerata kelompok leaflet 54,20 A 6,331 . =0,. Hasil penelitian Lusiana et al. juga membuktikan bahwa edukasi kesehatan dengan media e-Booklet lebih efektif dalam menangani masalah kesehatan reproduksi remaja dibandingkan dengan media modul. Dengan demikian booklet tampaknya bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan edukasi remaja dalam berbagai aspek kesehatan reproduksi. Edukasi kesehatan reproduksi dengan media booklet bukan saja dapat meningkatkan pengetahuan akan tetapi juga meningkatkan kemampuan perawatan diri kesehatan reproduksi bagi siswi yang relatif konstan (AbdiShahshahani et al. , 2. Meski banyak penelitian yang menyatakan booklet merupakan media edukasi yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja, namun beberapa penelitian lain terkait media edukasi pada remaja menunjukkan hasil yang tidak selalu signifikan atau kurang relevan dalam konteks kesehatan reproduksi. Pratiwi . melaporkan bahwa penggunaan media cetak booklet meningkatkan pengetahuan remaja tentang stunting, tetapi tidak berdampak pada perilaku atau pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Selain itu, penelitian Wijayanti dan Mulyadi . menemukan bahwa booklet dapat meningkatkan pengetahuan remaja, namun variasi metode penyampaian dan durasi penyuluhan dapat memengaruhi hasilnya, sehingga tidak semua penggunaan booklet memberikan efek yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas media booklet sangat tergantung pada topik dan konteks edukasi. Penelitian-penelitian ini menegaskan pentingnya pemilihan media edukasi yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta agar intervensi benar-benar efektif. Oleh karena itu, penggunaan booklet yang menarik secara visual dan informatif yang dikembangkan secara digital . -bookle. berpotensi memotivasi remaja untuk memahami kesehatan reproduksi sehingga akan meningkatkan pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi (Azinar & Fibriana, 2. Kombinasi teks dan gambar yang disajikan dalam booklet dapat meningkatkan daya serap informasi (Mayer, 2. Dengan demikian, booklet dapat digunakan sebagai media edukasi kesehatan reproduksi yang benar-benar efektif. Pendidikan kesehatan yang efektif tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membentuk sikap positif dalam menjaga kesehatan diri (Notoatmodjo, 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual pada remaja dengan media booklet terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja perempuan mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan infeksi menular seksual. Media booklet menjadi sarana edukasi yang menarik, mudah dipahami, dan dapat dibaca ulang, sehingga memfasilitasi pemahaman peserta secara mandiri. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan media cetak sederhana namun memuat materi secara komprehensif sebagai bagian dari strategi promosi kesehatan remaja, khususnya di lingkungan yang memiliki keterbatasan akses informasi dan budaya tabu dalam membicarakan seksualitas. Selain meningkatkan pengetahuan, intervensi ini berpotensi membentuk sikap positif peserta dalam menjaga kesehatan reproduksi, sehingga mendukung upaya pencegahan perilaku berisiko di kalangan remaja. Oleh karena itu, booklet dapat dijadikan salah satu media edukasi yang efektif untuk program promosi kesehatan remaja di sekolah, yayasan, maupun komunitas remaja secara lebih luas. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Lamongan yang telah memfasilitasi kegiatan pengabdian masyarakat ini. Terimakasih pula kepada YKSUI Lamongan yang telah berkenan sebagai mitra dan mensupport kegiatan pengabdian masyarakat ini sehingga berjalan Daftar Pustaka