Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X AuPERAN MASYARAKAT DALAM MEMPERKUAT KEBINEKAAN DAN MERAJUT PERDAMAIANAy Pdt. Manimpan Hutasoit. Pendahuluan Konteks realitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga saat ini masih diwarnai maraknya persoalan yang mencabik-cabik rasa persatuan dan kesatuan di tengah anak bangsa. Apresiasi terhadap kebinekaan/pluralisme Suku. Agama. Ras dan Antar Golongan (SARA) masih belum dengan sungguh-sungguh mendapat tempat di hati orang. Istilah minoritas dan mayoritas, khususnya untuk pemeluk agama di Indonesia secara tidak langsung telah juga mengkotak-kotakkan anggota kelompok masyarakat. Masyarakat kalangan tertentu yang mayoritas merasa lebih berhak yang berimplikasi pada tindakan-tindakan dan keputusankeputusan yang merugikan atau membatasi hak-hak yang dianggap golongan masyarakat Keputusan demokratis atas dasar suara terbanyak di tengah-tengah masyarakat, lembaga-lembaga negara akhirnya lebih memihak pada kepentingan mayoritas. Berbagai produk perundangan yang muncul tidak selalu mencerminkan semangat kebersamaan. Sementara, masyarakat Indonesia di tengah-tengah kemajemukannya telah menetapkan semboyan atau motto nasionalnya yaitu AuBhinneka Tunggal IkaAy1 artinya AuBerbeda-beda Tetapi Tetap SatuAy. Kebinekaan . tampak dalam keanekaragaman SARA, sedang dalam ketunggalan . tampak dalam ungkapan Ausebangsa dan setanah airAy. Namun sekali lagi sejak berdirinya NKRI, hingga saat ini berbagai konflik, khususnya atas dasar SARA sering terjadi di negeri ini, baik dalam sekala kecil, maupun besar. Beberapa konflik yang dapat dicatat yang sulit dilupakan dalam ingatan bangsa ini misalnya konflik atas sentimen agama Kristen dan Islam di Ambon-Lease sejak 1999. tragedi Sampit 2001 suatu konflik berdarah atas sentimen suku. munculnya gerakan-gerakan separatis semisal Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Republik Maluku Selatan (RMS), dan Operasi Papua Merdeka (OPM) yang matimatian melawan pemerintah. lalu penyerangan terhadap pengikut SyiAoah di Kabupaten Sampang Madura Agustus 2012 oleh orang-orang yang menyebut diri pengikut Ahlus Sunnah Wal JamaAoah,2 dan sebagainya. Semua ini menunjuk bahwa di negeri ini dinamika kebinekaan dan ketunggalan belum sungguh-sungguh diresapi, yang konsekuensinya adalah kurang adanya kedamaian di Indonesia, khususnya atas dasar sentimen isu SARA. Demi masa sekarang dan masa depan bangsa ini, tentu tetap diharapkan dan dituntut peran berbagai pihak katakanlah agamawan, pemerintah, institusi-institusi, dan setiap anggota masyarakat yang akan terus memberi apresiasi terhadap kemajemukan/kebinekaan Indonesia demi tercapainya kedamaian di Indonesia. Disini penulis akan menuliskan Peran Masyarakat dalam Memperkuat Kebinekaan dan Merajut Perdamaian. Diambil dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular Lih. Rizka Diputra. Lima Konflik SARA Paling Mengerikan Ini Pernah Terjadi di Indonesia, dalam https://news okezone. iakses 2 Maret 2. Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Kebinekaan Indonesia Dan Peran Masyarakat Untuk Memperkuatnya Secara georafis. Indonesia adalah negara yang paling terpecah-pecah di kolong langit, yaitu 667 pulau, dari sudut bahasa, budaya, dan agama Indonesia termasuk yang paling majemuk di dunia. Ada 250 bahasa dan 300 kelompok etnis. Sulit untuk membayangkan kesatuan dari kenyataan yang sangat berbineka ini. Walau Indonesia beragam . tetapi Ini kontradiksinya. Indonesia disamping kebinekaannya juga ketunggalannya. Bhinneka Tunggal Ika. Jadi berbicara tentang kebinekaan, maupun ketunggalan Indonesia adalah kenyataan, namun sekaligus persoalan. Di tengah-tengahnya bahaya disintegrasi merupakan ancaman yang potensial, walau sekaligus integrasi bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan munculnya istilah integrasi didasarkan pada pandangan bahwa bangsa ini berasal dari Oleh karena itu, tidak beralasan jika ada usaha untuk AumelenyapkanAy atau AumenghapuskanAy kemajemukan itu, baik dengan cara penyeragaman maupun dengan cara Dengan kata lain usaha penyeragaman dan penghapusan kemajemukan sama halnya dengan usaha mengingkari kenyataan dan usaha menciptakan disintegrasi bangsa. Dalam kenyataan objektif Indonesia, menunjuk kebinekaan yang lebih mencolok daripada Memungkiri kenyataan kebinekaan adalah kemustahilan dan lebih tepat disebut langkah mundur. Alangkah memprihatinkannya, bila penghayatan Bhinneka Tunggal Ika itu, sebagai semboyan atau motto Indonesia yang sudah dihayati dan dihidupi sekian lama harus tersendat dan terhalang di tengah jalan hanya karena pada akhirnya tidak siap berbeda di tengah-tengah kebinekaan . dan menjadikan kebinekaan itu untuk saling memperkaya dan bukan memisahkan. Kebinekaan dalam kehidupan ini, sebagaimana sudah dihayati dan dihidupi harus terus dikembangkan agar setiap anggota masyarakat dapat berani berbeda walaupun satu, harus berani bersatu walau berbeda. Perbedaan bukanlah subversi, yang kita tolak adalah tindakan pembedaan dalam hal ini diskriminasi. Perbedaan itu indah, pembedaan itu menyakitkan. Beragam itu indah, seragam itu membelenggu. Seragam sekolah bagi para pelajar itu ok, tetapi seragam dalam pandangan dan keyakinan hidup yang dipaksakan menjadi pemasungan sosial. Dalam upaya pengelolaan kebinekaan di Indonesia diperlukan peran setiap anggota masyarakat untuk membuat konsensus/kesepakatan terhadap nilai-nilai, cita-cita dan norma-norma yang disepakati bersama. Semakin banyaknya konsensus atau kesepakatan-kesepakatan yang dicapai mengenai nilai-nilai, cita-cita dan norma-norma yang dijadikan anutan di dalam kehidupan bersama, semakin kokoh dan sejahterapulalah komunitas masyarakat yang ada. Bagi masyarakat Indonesia sila-sila Pancasila, itu telah disepakati menjadi nilai-nilai dasar, cita-cita dan norma-norma universal bagi kehidupan dan kegiatan anggota masyarakat berbangsa dan Pancasila adalah niai-nilai dasar, sebagaimana dipahami nilai adalah apa yang dianggap baik dan berharga, yang dijunjung tinggi. Dalam terang ini Pancasila merupakan apa yang paling dasar dijunjung tinggi dan dihargai bangsa Indonesia dalam hidup bersama. Di Indonesia hidup bersama akan terasa paling bagus ketika lima sila Pancasila semakin menjadi kenyataan. Pancasila merumuskan cita-cita kehidupan bersama bangsa Indonesia. Pancasila adalah cita53 Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X cita yang diusahakan, yang membimbing bangsa dalam kemajuannya, harapan masa depan Pancasila sebagai norma-norma memaksudkan sebagai norma-norma etika politik bangsa Indonesia. Seluruh rencana, sikap dan tindakan politik bangsa Indonesia, entah dalam dimensi legislatif, entah dalam dimensi eksekutif adalah yang sesuai dengan Pancasila. Semua rencana-rencana, sikap dan tindakan politik harus diukur apakah sesuai dengan, serta memajukan realisasi cita-cita Pancasila. Setiap anggota masyarakat berperan dalam memperkuat kebinekaan melalui pengamalan setiap sila dari Pancasila. Berdasarkan Sila . Ketuhanan Yang Maha Esa, dirumuskan untuk setiap anggota masyarakat bersikap tidak diskriminatif atas dasar agama, mendukung jaminan kebebasan beragama dan kebinekaan ekspresi keagamaan. Di sini penting untuk disadari oleh setiap anggota masyarakat, bahwa segala kekerasan atas nama agama tidak boleh ditoleransi. Berdasar Sila . Kemanusiaan yang adil dan beradab, setiap anggota masyarakat menyadari bahwa keadilan dan keberadaban sebagai dasar hidup bersama bangsa Indonesia, mengartikan di satu pihak, setiap anggota masyarakat tidak mentolerir tindakan kekerasan sebagai cara dalam tindakan resolusi konflik. Sebaliknya, keadilan, martabat dengan segala hak-hak azasinya akan semakin dijunjung tinggi. Sebab secara sederhana: orang beradab tidak hidup dalam konflik dan kekerasan. Di lain pihak, menuntut setiap anggota masyarakat dalam kebinekaan saling menghormati sesuai dengan harkat dan martabatnya. Berdasar Sila . Persatuan Indonesia, secara eksplisit menyadarkan setiap anggota masyarakat atas realitasnya dalam kebinekaan dan dalam kebinekaan itu dituntut ketunggalan. Bhinneka Tunggal Ika. Memperkuat rasa kesetiakawanan sebagai satu bangsa dalam kerangka persatuan dan kesatuan bangsa serta makin menghilangkan ketegangan-ketegangan yang berdasarkan sentimen SARA. Berdasar Sila . Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, melawan segala kecenderungan yang dapat membawa ke otoriterisme, militerisme, dan totaliterisme. Berdasar Sila . Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menyiratkan bahwa setiap anggota masyarakat menegasikan diskriminasi terhadap minoritas. Pancasila yang telah berakar pada kebudayaan bersama yang ada, ia dapat mencegah perbedaan-perbedaan dalam konsepsi nilai-nilai terlembagakan secara sendiri-sendiri dan terpisah-pisah. Pancasila memberikan Auaturan mainAy di dalam masyarakat memainkan Ia memberikan sebuah kerangka nasional, di dalam mana perbedaan tidak ditindas tetapi tidak juga dibiarkan begitu saja sehingga menjadi sepenuhnya antagonistis satu sama Pancasila melalui pendekatannya yang inklusif, ia memberi suatu kerangka di dalam mana semua kelompok di dalam masyarakat dapat hidup bersama, bekerja bersama di dalam suatu dialog karya yang terus menerus guna membangun suatu masa depan bangsa. Inilah sumbangan Pancasila yang amat berharga, dimana ia telah mempertahankan baik ketunggalannya maupun kebinekaannya di Indonesia secara dinamis. Franz Magnis-Suseno. Pancasila: Etika Politik Bangsa Indonesia, bahan seminar pada Seminar Nasional Teologi Kebangsaan AuAgama dan PerdamaianAy. Rabu-Jumat, 13-15 April 2016 di STT GMI Bandar Baru. Sibolangit Sumatera Utara, hal. Eka Darmaputera. Pancasila: Identitas dan Modernitas: Tinjauan Etis dan Budaya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988, hal. Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X Mencari Titik Temu Agama-Agama: Sebagai Upaya Merajut Perdamaian Agama-agama diturunkan ke dunia untuk menjadikan kehidupan manusia meaningfull atau lebih bermakna bukan meaningless atau tanpa makna. Dalam agama-agama tidak ada ajaran untuk memusuhi penganut agama lain meskipun tidak menyepakati ajaran agama tertentu. Kerukunan boleh korban karena ketersinggungan emosi keagamaan, tetapi kalau didukung dengan kesadaran bahwa agama-agama memiliki titik-titik temu yang sangat mendasar tidak akan mengorbankan kerukunan hanya karena riak-riak kecil yang mengganggu antar agama. Sekalipun banyak perbedaan yang ada diantara satu agama dengan yang lain, namun di samping itu banyak terdapat persamaan. Kita melihat beberapa titik temu di dalam kehidupan beragama yang lebih harmonis, dengan dibingkai oleh teologi kerukunan. Diantara persamaanpersamaan itu adalah bahwa realitas dari yang transenden, yang suci, dan yang lain daripada yang lain itu merupakan kebaikan yang paling tinggi, kebenaran yang paling tinggi, keindahan yang paling indah, yang melampaui semua jenis kebaikan dan keindahan. Ia merupakan summum bonum Aykebaikan yang paling tinggiAy. Ungkapan ini adalah umum dalam semua Hal ini terdapat dalam ajaran Hindu. Budha, di kalangan mistik Kristen juga dalam Agama Islam. Realitas dari yang Maha Suci itu adalah kecintaan yang tak terbatas yang ditumpahkan kepada manusia. Maha Murah dan Maha Asih adalah sifat-sifat Yahweh dalam pengalaman nabi-nabi Israel. Tuhan dari Bible adalah cinta yang terus menerus dan memberi AuTuhan adalah cintaAy, demikianlah Bible menyatakan. AuHati kecintaan yang agungAy merupakan esensi dari Yang Maha Suci di dalam Mahayana Budhisme, dan hatinya terbuka kepada sesama manusia. Demikianlah juga jika orang membaca Al-QurAoan maka kalimat utama yang ditemukan adalah AuBismilahir-Rahmanir-RahimAy (Dengan Asma Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengasi. dan salam kehormatan dari seorang Muslim adalah AuAssalamuAoalaikum warahmatullahi wabarakatuhAy (Selamat Sejahterah mudah-mudahan dilimpahkan pada anda, juga rahmat dan berkat Allah. 7 Semua agama mengajarkan bukan hanya jalan menuju kepada Tuhan saja, tetapi juga mengajarkan supaya kita berlaku baik kepada sesama yang lain. Jalan keselamatan mistis tidaklah dapat disempurnakan dalam vita contemplativa tidak dalam Aulari seorang diri kepada zat yang sendiriAy, sebagaimana Plotonius Tetapi keselamatan itu ditemukan dalam melanjutkan amal bakti kepada sesama M Ridwan Lubis (Ketua Perwakilan Lembaga Pengkajian Umat Baragama/LPKUB Sumatera Utar. Konsepsi Tentang Kerukunan Umat Beragama Yang Lebih Harmonis. Dinamis. Kreatif, dan Pro Aktif Serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hal. Materi Seminar Sehari Mencari Titik-Titik Temu Untuk Tercapainya Kerukunan Umat Beragama Yang Lebih Harmonis. Dinamis. Kreatif, dan Produktif di Best Western ASEAN International Hotel Medan, 9 Januari 1997. Diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian Umat Beragama (LPKUB) Sumatera Utara Syahrin Harahap (Sekretaris Perwakilan Lembaga Pengkajian Umat Baragama/LPKUB Sumatera Utar. Titik Temu Agama-Agama Dalam Kiprah Pembangunan AuTeologi KerukunanAy Menciptakan Kerjasama Umat Beragama yang Dinamis dan Kreatif, hal. Materi Seminar Sehari Mencari Titik-Titik Temu Untuk Tercapainya Kerukunan Umat Beragama Yang Lebih Harmonis. Dinamis. Kreatif, dan Produktif di Best Western ASEAN International Hotel Medan, 9 Januari 1997. Diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian Umat Beragama (LPKUB) Sumatera Utara Mukti Ali (Guru Besar Ilmu Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakart. Hubungan Antar Agama dan Masalah-Masalahnya, dalam Eka Darmaputera . Konteks Berteologi di Indonesia: Buku Penghormatan untuk HUT ke-70 Prof. Dr. Latuihamallo. Jakarta: BPK Gunung Mulia 1997, hal. Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X manusia vita activa. Pada waktu Gautama Budha telah mencapai pencerahan yang sempurna di bahwa pohon Bodhi, ia tidak mau tinggal diam. Karena rasa cinta kepada segala yang ada maka ia bertekad untuk mengajarkan kebenaran kepada orang lain. Demikian juga setelah Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama di Gua Hira, ia segera bangkit menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia. Ajaran yang demikian itu terdapat dalam semua agama. Cinta adalah jalan yang paling tinggi untuk mencapai Tuhan. Semua agama mengajarkan untuk mencapai tujuan yang tertinggi dengan jalan cinta. Dalam setiap agama, selalu ada apa yang disebut kaidah emas dalam hal ini yang menuntun setiap anggota kelompok masyarakat dalam komunitasnya. Sebuah ayat dari Kitab Suci yang mengungkapkan kaidah . yang bernilai sangat tinggi. Menariknya kaidah-kaidah emas itu tidak jauh berbeda. Islam: AuLakukanlah kepada sesamamu semua yang kamu harapkan mereka lakukan kepadamuAy. Budha: AuJangan sakiti sesamamu dengan apa yang menyakitkan dirimu sendiriAy. Khong Hu Chu: AuJangan memperlakukan sesamamu dengan apa yang tidak kamu sukai dilakukan kepadamuAy. Kristen : AuPerbuatlah kepada orang lain apa yang engkau ingin orang itu lakukan kepadamuAy. Kaidah emas ini begitu penting karena menyentuh kebutuhan mendasar setiap orang. kebutuhan mendasar itu adalah penerimaan, penghargaan, perhatian dan cinta kasih. Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteraman. Tidak pernah ada cita-cita agama manapun yang ingin membuat onar, membuat ketakutan, suasana kecelakaan, pembunuhan, sadisme dan perusakan. Sebelum adanya agama masyarakat dibayangkan sebagai kelompok tidak beraturan, suka berkonflik, saling membunuh, saling menjelekkan dan seterusnya. Kemudian agama datang untuk membawa cahaya kedamaian bagi manusia di bumi ini. Namun sayangnya dari masa lalu hingga kini antar agama jarang menemukan titik temu atas realitas perbedaan yang sudah semestinya niscaya ini, lalu terjadilah konflik atas nama agama. Jika konflik atas nama agama dibenarkan hilanglah nurani dan hakikat agama itu sendiri. Agama tidak lagi menjadi payung perdamaian karena sudah mengalami politisasi dan fanatisme. Titik-titik temu agama ini, dan masih banyak yang lain dalam setiap agama, dapat diamalkan oleh setiap anggota masyarakat dalam merajut perdamaian, dalam hal ini di tengah-tengah realitas kebinekaan masyarakat Indonesia. Kesimpulan Kebinekaan dalam realitas masyarakat Indonesia sebagimana sudah dihayati dan dihidupi harus terus dikembangkan, agar setiap anggota masyarakat terus dapat berani dalam kebinekaan . walaupun kita tunggal . Juga harus terus berani dalam Ibid, hal. Benny Susetyo (Sekretaris Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan-Konferensi Wali Gereja Indonesi. Membumikan Wawasan Multikultural di Indonesia: Agama. Pluralisme, dan Pancasila Sebagai Habitat Baru. Materi Seminar Nasional dan Diskusi Panel Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Perayaan Natal Oikumene dan Syukuran Tahun Baru Masyarakat Sumatera Utara 2012/2013, hal. Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X ketunggalan walau bhinneka. Realitas kebinekaan Indonesia sebagai anugerah Tuhan harus tetap dijadikan untuk saling memperkaya dan bukan memisahkan. Di tengah-tengah memperkuat kebinekaan tentu koheren dengan upaya merajut perdamaian. Setiap anggota masyarakat terpanggil merajut perdamaian. Secara proaktif mengupayakan dan mempromosikan perdamaian di tengah-tengah lingkungan komunitasnya yang mempresentasikan karakteristik yang senantiasa menghendaki perdamaian. Eleanor Rosevelt pernah berkata: It is not enough to talk about peace, one must believe it. And it is not enough to believe it, one must work for itAy. Setiap anggota masyarakat dalam hal ini di tegah-tengah kebinekaan bertolak dari penghayatan hakikat agama dan kepercayaan tidak hanya mendoakan dan mengimani perdamaian, tetapi juga mengupayakannya maka Indonesia bisa menjadi sebuah panggung perdamaian . ahkan duni. yang terus semarak. Dengan inilah setiap anggota masyarakat berperan dalam memperkuat kebinekaan dan merajut perdamaian di Indonesia bukan hanya sekedar live service, bukan sebagai hanya slogan dalam kehidupan bersama di bumi Pancasila yang Bhinneka Tunggal Ika tetapi telah menjadi praktik kehidupan. Daftar Pustaka