Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Kontestasi Keberagamaan Umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar Lombok Barat Anak Agung Ngurah Anom Kumbara*. Nanang Sutrisno Universitas Udayana. Bali. Indonesia anom_kumbara@unud. Abstract Each religion has a different system of theology, beliefs, religious institutions, and religious practices, in addition to having certain values in common. At the ideal level, religion is believed to be able to create order, integration, and social harmony in society. However, at the empirical level, religion often shows paradoxical phenomena as a source of disintegration and conflict triggered by differences in religious ideology and practice. The purpose of this study is to explore and understand the dynamics of the contestation between Wetu Telu Muslims and Hindus and its implications. The data collection method is carried out by observation techniques, interviews, and document studies. Data analysis was carried out qualitatively based on the social practice theory and phenomenology. This study found that the dynamics of contestation of Wetu Telu Muslims and Hindus in Lingsar Temple represent the influence of modernization and the articulations of religiosity identity in the realm of ideological superstructure, social structure, as well as economic and demographic infrastructure. The implications of this contestation include the polarization of religious practices, the strengthening of group identities, and the struggle for capital resources belonging to Lingsar Temple. Keywords: Ideology. Religiosity. Contestation. Capital Abstrak Setiap agama memiliki sistem teologi, keyakinan, institusi agama, dan praktik keagamaan yang berbeda, di samping memiliki persamaan nilai-nilai tertentu. Pada tataran ideal, agama diyakini mampu menciptakan keteraturan, integrasi, dan harmoni sosial dalam masyarakat. Namun pada pada tataran empris, agama kerap menampakkan fenomena yang paradoks sebagai sumber disintegrasi dan konflik yang dipicu oleh perbedaan ideologi dan praktik agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali dan memahami dinamika kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu serta Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan secara kualitatif berlandaskan teori praktik sosial dan fenomenologi. Penelitian ini menemukan bahwa dinamika kontestasi umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar merepresentasikan pengaruh modernisasi dan artikulasi identitas keagamaan pada ranah suprastruktur ideologis, struktur sosial, sekaligus infrastruktur ekonomi dan demografi. Implikasi dari kontestasi ini mencakup terjadinya polarisasi praktik beragama, menguatnya identitas kelompok, dan perebutan sumbersumber kapital milik Pura Lingsar. Kata Kunci: Ideologi. Keberagamaan. Kontestasi. Kapital Pendahuluan Keragaman budaya, agama, dan etnis di satu pihak menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, namun di pihak lain mengadung kerawanan sosial yang krusial. Perbedaan suku, ras, agama, dan budaya memiliki potensi intoleransi terhadap kemajemukan dan konflik laten sehingga harus diantisipasi dengan memperkuat rasa persaudaraan dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kebersamaan melalui pendidikan kearifan lokal (Kafid, 2015. Haryani, 2019. Asyari. Kearifan lokal masyarakat nusantara yang melebur, berakulturasi, dan berdialektika dengan keimanan dalam relasi antar umat beragama dapat dijadikan mediator resolusi konflik untuk membangun harmoni dan nilai-nilai kebangsaan (Abdullah, 2017. Jamalie, 2014. Izzati, 2. Upaya penguatan dan perekatan solidaritas yang bermuara pada kerukunan dan perdamaian bangsa Indonesia harus terus dilakukan oleh warga bangsa yang beragama (Minarni, 2. Dialog, kemudian menjadi sarana dan alat pembelajaran bersama menyangkut penciptaan harmoni dalam relasi antar agama, juga mempromosikan masalah keadilan sosial dan demokrasi (Haryani, 2019. Wirata. Agama, atau dalam studi-studi antropologi kerap disebut Aosistem religiAo memiliki sistem kepercayaan, pranata agama, dan praktik-praktik keagamaan (Koentjaraningrat. Setiap agama memiliki perbedaan-perbedaan spesifik dengan agama lain pada ketiga aspek tersebut, walaupun juga memiliki kesamaan pada nilai-nilai tertentu. Pada tataran ideal, agama menyediakan nilai-nilai kehidupan mendasar dan bersifat supreme yang berperan penting dalam menciptakan keteraturan, integrasi, dan harmoni sosial. Namun pada tataran empris, agama juga kerap menampakkan fenomena yang paradoks sebagai sumber disintegrasi dan konflik sosial, baik karena perbedaan ideologi maupun praktik keagamaan. Wajah paradoks agama yang damai dan penuh cinta kasih, namun juga garang dan destruktif, menampakkan diri dalam berbagai realitas sosial (Kahmad. Sindhunata, 2023. Kimball, 2. Intensitas kontestasi keberagamaan tampaknya juga meningkat dewasa ini, baik pada lingkup internal umat seagama maupun antarumat beragama. Salah satunya adalah kontestasi keberagamaan di Pura Lingsar. Lombok Barat. Fenomena ini menarik dikaji karena selama berabad-abad pura ini telah digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu dan Islam Wetu Telu secara bersama-sama. Mereka membangun interaksi sosial yang rukun dan damai, bahkan terlibat dalam sebuah prosesi ritual yang disebut Perang Topat (Jayadi, et al. , 2. Purwanto . menyatakan bahwa kontestasi antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar disinyalir tidak lepas dari kuatnya pengaruh globalisasi yang mendorong perubahan cara pandang, sikap, serta perilaku keagamaan kedua umat tersebut. Pada gilirannya. Pura Lingsar pun menjadi ajang perebutan modal ekonomi seiring dengan berkembangnya tempat tersebut sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan di Nusa Tenggara Barat. Fenomena kontestasi keberagamaan tersebut menarik diungkap secara kritis dan Studi ini bertujuan untuk mengungkap dinamika dan implikasi kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar. Lombok Barat. Secara teoretis, studi ini dapat memperkaya khazanah kajian sosiologi dan antropologi agama dengan pendekatan kritis. Secara praksis, studi ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu referensi dan acuan dalam mendeteksi serta mengantisipasi kerawanan sosial berlatar belakang perbedaan agama agar tidak berakibat kontraproduktif terhadap upaya pembangunan moderasi beragama di Indonesia. Metode Penelitian ini dirancang dalam metodologi kualitatif dengan pendekatan teori sosial kritis yang berlaku dalam tradisi kajian budaya . ultural studie. Pendekatan ini memandang bahwa praktik sosial yang tampak di permukaan, baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, bukan sesuatu yang sui generis atau apa adanya, melainkan menyimpan pelbagai ideologi dan kekuasaan (Lubis, 2. Teori sosial kritis bertujuan untuk mendekonstruksi relasi-relasi ideologi dan kekuasaan tersebut melalui interogasi tanpa lelah terhadap segala sesuatu yang dianggap wajar. Artinya, pendekatan ini bukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sekadar melahirkan deskripsi tebal . hick descriptio. tentang sebuah fenomena sosial budaya, melainkan juga membantu mencerahkan dan memberdayakan masyarakat dari berbagai penyimpangan praktik sosikultural (Palmer & Caldas, 2. Berdasarkan pendekatan tersebut, peneliti terjun dan berperan langsung dalam pengumpulan data di lapangan. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Untuk mengindari bias dan lebih fokus pada masalah penelitian, peneliti menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, alat perekam suara dalam aplikasi android, serta kamera digital untuk mendokumentasikan data hasil Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles & Huberman, 1. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, memfokuskan, mensimplifikasi, mengelompokkan, dan mengutip hasil wawancara yang mengandung makna subjektif-refleksif. Penafsiran dan penyajian data dilakukan dengan menyusun teks naratif yang menunjukkan keteraturan, penjelasan, dan alur sebab akibat. Penarikan simpulan atau verifikasi dilakukan dengan mengintisarikan makna dari data yang diperoleh di lapangan sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Keabsahan data dikontrol melalui triangulasi, yakni perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan untuk mengecek kesesuaian hasil observasi, wawancara, dan studi dokumen dengan konteks sosialnya sehingga seluruh data dinyatakan valid. Ketiga tahapan tersebut dilaksanakan secara simultan selama proses penelitian melalui kehadiran peneliti di lapangan sehingga data dapat dipertanggungjawabkan reliabilitas, objektivitas, serta validitasnya. Interpretasi data menggunakan pendekatan interpretatif kritis untuk mengungkap secara mendalam lapisan-lapisan makna yang tersembunyi pada realitas yang dikaji (Geertz, 1973. Madison, 2012. Thompson, 2. Intepretasi kritis dilakukan dengan merefleksikan pemikiran atau gagasan para teoretisi terdahulu, yakni teori fenomenologi (Schutz, 1. , dan praktik sosial (Bourdieu, 1977. Berdasarkan kedua teori tersebut, data mengenai kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar. Lombok Barat diungkap secara kritis dan mendalam. Hasil dan Pembahasan Dinamika Kontestasi Keberagamaan Menurut Cambrigde Dictionary . , kontestasi berarti Authe act of arguing and disagreeing about somethingAy. Artinya, kontestasi ditandai dengan perdebatan dan ketidaksetujuan tentang sesuatu yang teraktualisasikan dalam tindakan. Kontestasi juga bermakna persaingan, perebutan, pertentangan, pertarungan, bahkan konflik antara dua pihak atau lebih yang dilandasi clash of argument (Suparno, 2. Kontestasi dapat berujung separasi dan segregasi, tetapi juga integrasi dan rekonsiliasi (Saprillah, et al. Sementara itu, keberagamaan berasal dari kata dasar AuagamaAy yang kemudian mendapatkan imbuhan Aokeber Ae anAo, yakni ajaran atau sistem yang mengatur doktrin keimanan . , tata peribadatan, moral, dan lembaga keagamaan (Hardjana. Jadi, kontestasi keberagamaan adalah persaingan, perdebatan, atau pertentangan antara umat beragama tentang sesuatu yang menyangkut aspek-aspek keberagamaan. Dalam penelitian ini, kontestasi antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu berkaitan erat dengan keberadaan Pura Lingsar. Pura Lingsar merupakan kompleks peribadatan umat Hindu . yang terdiri atas tiga bagian sebagai satu kesatuan, yakni Pura Lingsar Gaduh. Pura Lingsar Ulon, dan Pura Lingsar Manggis. Data sejarah dan mitos yang berkembang di masyarakat Lingsar menunjukkan bahwa keberadaan Pura Lingsar bermula dari ditemukannya dua sumber mata air atau kemaliq dalam bahasa Sasak. Sumber mata air pertama ditemukan Datu Selaparang . 7 M). Kemudian, ia memerintahkan beberapa pengawalnya untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mendiami wilayah tersebut dan melaksanakan ajaran agama sesuai dengan petunjuk Ida Hyang Semeru (Dang Hyang Dwijendr. , yakni magama telu. Konsep magama telu yang dimaksud adalah beragama Islam, namun menjalankan rukun Islam . hanya tiga kali sehari (Budiwanti, 2. Peristiwa ini sekaligus menjadi asal muasal AoagamaAo Islam Wetu Telu yang berkembang pada masyarakat di sekitar Pura Lingsar. Sementara itu, sumber mata air kedua ditemukan Anak Agung Made Karangasem dalam ekspedisi Kerajaan Karangasem ke Lombok . 7 M). Setelah Kerajaan Karangasem berhasil menguasai Lombok, maka tempat ditemukannya dua mata air tersebut didirikan tempat suci . Berdasarkan isi Prasasti Pura Lingsar, di lokasi penemuan sumber mata air pertama didirikan Pura Lingsar Gaduh, sedangkan di lokasi penemuan sumber mata air yang kedua didirikan Pura Lingsar Ulon (Jayadi, et al. , 2017. Purna, 2020. Suhupawati, et al. , 2. Data sejarah di atas mengisyaratkan bahwa umat Hindu dan Islam Wetu Telu sama-sama memiliki ikatan historis yang kuat dengan Pura Lingsar. Bagi umat Hindu. Pura Lingsar didirikan Raja Karangasem yang beragama Hindu, dan secara ideologis, pura adalah tempat peribadatan umat Hindu. Terlebih lagi pura ini dibangun penguasa MataramAeLombok pada zamannya sehingga menyimpan nilai historis yang demikian penting bagi umat Hindu di Lombok saat ini. Sebaliknya, umat Islam Wetu Telu juga memiliki ikatan historis dengan Pura Lingsar karena berhubungan erat dengan jasa Datu Selaparang yang sangat mereka hormati. Fakta historis ini membangun memori kolektif kedua umat beragama tersebut untuk menjadikan Pura Lingsar tempat ibadat, sekaligus pusat orientasi religius mereka. Walaupun secara ideologis. Pura Lingsar cenderung merepresentasikan tempat suci pemujaan bagi umat Hindu karena berbentuk pura, namun umat Islam Wetu Telu juga merasa ikut memiliki . elf of belongin. keberadaan pura tersebut karena faktor sejarah. Pemanfaatan Pura Lingsar sebagai tempat ibadah dan orientasi religius bersama oleh dua komunitas umat beragama yang berbeda mengisyaratkan bahwa sesungguhnya kontestasi keberagamaan telah berlangsung sejak Mengingat perbedaan ideologi keagamaan yang terimplementasi dalam dogma, moral, ritual, dan institusi keagamaan, tidak dipungkiri dapat menimbulkan pandangan serta praktik keagamaan yang berbeda. Kontestasi ini dijumpai pada aspek suprastruktur, struktur, dan infrastruktur keagamaan dalam aktivitas religius di Pura Lingsar. Menurut Sanderson . , suprastruktur adalah cara-cara yang terpolakan, dan melalui cara tersebut anggota masyarakat berpikir, mengkonseptualisasi, mengevaluasi, menilai, serta merasaakan apa yang mereka lakukan secara aktual. Dinamika kontestasi keberagamaan dalam suprastruktur ideologi keagamaan dapat dilihat dari kepercayaan, cara pandang, serta praktik religius umat Hindu dan Islam Wetu Telu terhadap konsepkonsep religius yang direpresentasikan di Pura Lingsar. Umat Hindu meyakini bahwa Pura Lingsar adalah tempat pemujaan kepada Tuhan dalam wujud-wujud bhatara dan bhatari atau Istadewata. Sistem kepercayaan ini ditandai dengan keberadaan palinggihpalinggih sebagai pusat orientasi pemujaan dan persembahan. Sebaliknya, umat Islam Wetu Telu memaknai Pura Lingsar sebagai tempat wafatnya wali yang menyebarkan agama Islam sehingga Pura Lingsar adalah tempat ber-tawasul, yakni mendekatkan diri dengan Tuhan (Allah SWT) melalui penghormatan kepada para wali (Karda, 2. Perbedaan ideologis tersebut melahirkan cara pandang yang berbeda terhadap beberapa areal di Pura Lingsar, terutama di pesiraman, kemaliq, dan gaduh. Bagi umat Hindu, ketiga areal tersebut dipandang sebagai mandala . uang sakra. yang terintegrasi secara utuh dengan sistem religi di Pura Lingsar. Pasiraman, kemaliq, dan gaduh ini berkaitan dengan sistem pemujaan dan persembahan spesifik. Akan tetapi, umat Islam Wetu Telu memaknai kemaliq tersebut sebagai tempat bersuci . yang memiliki nilai kesakralan luar biasa karena berasal dari mukjizat Datu Selaparang, sosok yang diyakini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebagai wali. Perbedaan cara pandang ini berimplikasi terhadap bentuk ritual yang dilakukank kedua umat tersebut. Umat Hindu menjadikan pesiraman, kemaliq, dan gaduh sebagai tempat maturan, malukat, mayah sasangi, megat kemaliq, sekaligus ngaturang piodalan atau pujawali. Sebaliknya, umat Islam menjadikan tempat tersebut untuk melakukan ritual bejengo, mayah kaul, ngurisan, megat kemaliq, dan pujawali. Walaupun ritual-ritual yang dilaksanakan oleh kedua kelompok tersebut menggunakan terminologi berbeda, namun fungsi dan maknanya relatif sama, yakni pemujaan kepada Tuhan bagi umat Hindu, serta penghormatan kepada Wali bagi umat Islam Wetu Telu, menyucikan diri, memohon keselamatan, dan ungkapan rasa terima kasih atas limpahan rezeki, kesejahteraan, serta kesehatan yang diterima. Ritual piodalan dan pujawali dilaksanakan secara bersamaan oleh kedua umat beragama dengan prosesi yang terintegrasi satu sama lain dengan nilai, norma, dan etika Di Pura Lingsar berlaku aturan dalam awig-awig . turan ada. bahwa untuk memasuki Pura Lingsar harus memakai dodot . akaian adat Sasa. , larangan bagi wanita haid, serta larangan mengunakan sarana ritual dari babi dan sapi. Kedua umat beragama sepakat dengan aturan-aturan tersebut sebagai kesadaran kolektif untuk menjaga kesakralan Pura Lingsar. Mereka juga melibatkan diri dalam ritual keagamaan bersama, yakni tradisi perang topat yang dilaksanakan bertepatan dengan pujawali Pura Lingsar pada sasih kaenem setiap tahunnya (Jayadi et al. , 2017. Sarpin & Pramunarti, 2017. Suartana, 2022. Tradisi perang topat yang melibatkan umat Hindu dan Islam Wetu Telu dengan ideologi keagamaan yang berbeda sesungguhnya merepresentasikan bentuk kontestasi karena keduanya sama-sama berusaha untuk menunjukkan ikatan sosioreligiusnya dengan Pura Lingsar. Namun kontestasi tersebut berhasil dimoderasi dengan membangun konsensus bersama yang mampu mengintegrasikan keduanya. Hal ini senada dengan pandangan Saprillah, et al. bahwa kontestasi dapat berujung rekonsiliasi dan integrasi. Dinamika kontestasi berikutnya berlangsung pada tataran struktur sosial yang ditandai dengan keberadaan dua organisasi pengelola Pura Lingsar yang menunjukkan bahwa umat Hindu dan Islam Wetu Telu sama-sama merasa memiliki otoritas terhadap pura tersebut. Menurut Haris (Sanderson, 2. , struktur adalah pola perilaku aktual sebagai lawan dari kesan-kesan atau konsepsi-konsepsi mental manusia. Struktur sosial mengejawantah dalam bentuk, antara lain: pembagian peran-peran institusional, otoritas dan wewenang sosial, norma dan pranata sosial, seksualitas, stratifikasi rasial, etnisitas, politis, dan pendidikan. Secara struktural, umat Hindu membentuk Pengurus Krama Pura Lingsar sebagai institusi sosial yang mempunyai kewenangan mengelola Pura Lingsar, termasuk berbagai aktivitas religius di Pura Lingsar. Sementara itu, umat Islam juga membentuk organisasi Perlindungan Mata Air Pancor Siwaq yang selain ikut mengelola Pura Lingsar, juga menciptakan suatu tatanan hirarkis bahwa pemangku adat Sasak merupakan pusat orientasi dalam keberagamaan yang berhubungan dengan Pura Lingsar. Keberadaan kedua lembaga tersebut menunjukkan bahwa secara struktur, umat Hindu dan Islam Wektu Telu berada dalam kendali hirarki struktur sosial yang berbeda. Secara kelembagaan, kedua struktur sosial tersebut mempunyai otoritas dan legitimasi yang sama untuk mempertahankan eksistensi, sekaligus fungsi Pura Lingsar sebagai pusat religiusitas bagi komunitas masing-masing. Berbeda dengan kontestasi pada tataran suprastruktur ideologis dan struktur sosial yang cenderung mampu menciptakan integrasi dan rekonsiliasi, justru kontestasi pada tataran infrastruktur ekonomi dan demografi mulai menunjukkan kecenderungan berlangsungnya segregasi dan disintegrasi. Infrastruktur adalah bahan-bahan baku dan bentuk-bentuk sosial dasar yang berhubungan dengan upaya manusia mempertahankan hidup, serta beradaptasi dengan lingkungannya (Sutrisno & Kumbara, 2. Secara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH empiris, infrastruktur ekonomi berkaitan erat dengan kunjungan orang-orang ke Pura Lingsar, baik untuk berwisata maupun melaksanakan aktivitas keagamaan. Kunjungan ini dipandang sebagai sumber modal ekonomi yang dapat diakses dan diperebutkan. Fenomena separasi dan segregasi terjadi ketika beberapa tempat, seperti kemaliq, pesiraman, dan gaduh menghadirkan potensi ekonomi, di mana satu kelompok agama mendapatkan pembagian yang lebih besar dibandingkan kelompok lain. Sementara itu, kontestasi demografis terutama berkaitan dengan rasa diri dan identitas keagamaan di Pura Lingsar bahwa secara faktual otoritas umat Hindu dalam pengelolaan sumber daya pura lebih dominan terkait dengan faktor historis dan anggota populasi yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan umat Islam Wetu Telu. Dalam hubungannya dengan Islam mainstream di Lombok. Islam Wetu Telu juga menjadi kelompok minoritas yang secara terus-menerus juga menjadi sasaran dakwah dari kelompok Islam Waktu Lima. Namun identitas sebagai pemeluk agama Islam formal menjadi modal penting umat Islam Wetu Telu yang dioptimalisasikan dengan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Islam Waktu Lima . sebagai kelompok mayoritas di Lombok. Artinya, walaupun dalam kontestasi demografis dengan umat Hindu di Pura Lingsar mereka berposisi sebagai minoritas, tetapi dengan memosisikan diri sebagai bagian integral dari umat Islam dominan di Lombok, maka mereka pun berposisi sebagai mayoritas. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pemanfaatan bersama Pura Lingsar oleh umat Hindu dan Islam Wetu Telu dalam waktu yang panjang menunjukkan dinamika kontestasi keberagamaan. Dinamika kontestasi ini ditandai dengan tindakan persaingan, perdebatan, serta pertentangan yang tersembunyi antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu, baik pada tataran suprastruktur ideologis, struktur sosial, maupun juga infrastruktur demografis dan ekonomi. Pada tataran suprastruktur ideologis dan struktur sosial, dinamika kontestasi tersebut cenderung tidak menimbulkan masalah yang serius. Kedua umat beragama ini mampu memelihara hubungan yang harmonis satu sama lain sehingga tercipta integrasi dan rekonsiliasi. Namun dinamika kontestasi tersebut mulai mengarah ke bentuk segregasi dan disintegrasi ketika Pura Lingsar dijadikan salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pembangunan Pura Lingsar secara bertahap dilakukan pemerintah pusat dan daerah, termasuk renovasi terakhir yang diresmikan tanggal 21 Maret 1997 (Sumertha, 2. Dalam perspektif konflik Dahrendorf (Ritzer & Goodman, 2. Pura Lingsar menyimpan latensi konflik antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu karena adanya sumber daya yang diperebutkan oleh kedua komunitas umat beragama tersebut. Bentuk dinamika kontestasi keberagamaan di Pura Lingsar juga dapat diungkap secara kritis dengan teori praktik sosial (Bourdieu, 1. Teori ini memandang bahwa fenomena keagamaan yang tampak di permukaan sesungguhnya mengandung ideologi tersembunyi yang saling berkontestasi untuk memperebutkan modal melalui strategistrategi, serta praktik-praktik sosiokultural yang melibatkan habitus, ranah, dan modal. Habitus merupakan akumulasi sejarah berupa pengalaman masa lalu, persepsi, pemikiran, tindakan, aturan formal, dan norma terstruktur yang mendasari prakti sosial dengan skema tertentu, baik secara individual maupun kolektif di sepanjang ruang-waktu (Kumbara. Ranah . adalah visi pemetaan hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat mendasarkan posisi-posisi dan kepemilikan sumber daya kapital. Ranah adalah ruang khusus yang terstruktur dengan aturan fungsi yang khas, tetapi tidak kaku dan terpisah dari arena-arena lain yang memungkinkan terjadinya konversi atau pertukaran antarkapital. Arena ibarat pasar komoditas sebagai ruang terjadinya pertarungan dan pertukaran produksi, sirkulasi, appropiasi, barang, layanan, pengetahuan, status, serta posisi kompetitif yang dipegang para aktor. Praktik sosial keagamaan di Pura Lingsar menandai kontestasi habitus, dan modal umat Hindu dengan Islam Wetu Telu. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kontestasi tersebut juga bukan fenomena material semata, melainkan organisasi kognitif dan kesadaran. Dari perspektif fenomenologi dapat dipahami bahwa kedua komunitas umat beragama tersebut berupaya menyusun ulang dunia hidup sehari-hari . sebagaimana subjek memaknainya. Dalam kontestasi tersebut, situasisituasi sosial dikenali, dimaknai, dan dipahami, kemudian dijadikan landasan bertindak. Perhatian subjek pada dunia kehidupannya mengarahkan penyelidikan fenomenologis pada seluk-beluk pengetahuan akal-sehat dan penalaran praktis yang dimanfaatkan masyarakat tersebut untuk mengobjektivasi kehidupan sosialnya (Berger & Luckman. Berkenaan dengan itu, dinamika kontestasi yang berlangsung di Pura Lingsar pada tataran suprastruktur ideologis, struktur sosial, serta infrastruktur demografis dan ekonomi menunjukkan bahwa setiap umat beragama berusaha memaknai realitas sosial keagamaan di Pura Lingsar dalam menentukan tindakannya berdasarkan pengalamanpengalaman subjektif, akal sehat, sekaligus penalaran praktis. Implikasi Kontestasi Keberagamaan Umat Hindu dan Islam Wetu Telu Hubungan religius antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar teraktualisasikan dalam praktik-praktik keagamaan sebagai pengejawantahan ideologi keagamaan yang dianut. Kontestasi ideologi keagamaan menjadi keniscayaan bagi dua komunitas umat beragama yang berbeda, baik berupa nilai, norma, falsafah hidup, dan kepercayaan agama. Kontestasi juga semakin menguat ketika dua atau lebih komunitas umat beragama dengan ideologi keagamaan berbeda menggunakan ranah religiusitas yang sama. Kontestasi keberagamaan di Pura Lingsar tentunya berimplikasi terhadap berbagai aspek kehidupan sosial keagamaan yang dapat dipaparkan sebagai berikut. Pertama, polarisasi kelompok keagamaan merupakan implikasi yang muncul karena perbedaan gagasan, pemahaman, dan kepercayaan terhadap Pura Lingsar. Bagi umat Hindu. Pura Lingsar dipercaya sebagai tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya. Sebaliknya, umat Islam mempercayai bahwa Pura Lingsar adalah tempat wafatnya seorang wali yang menyebarkan agama Islam di Lombok. Perbedaan ini pada gilirannya membangun pemaknaan dan praktik beragama yang berbeda di Pura Lingsar, misalnya umat Hindu memaknai pujawali sebagai ritual pengulangan momen sakralisasi tempat suci, sedangkan umat Islam Wektu Telu lebih memaknainya sebagai pemujaan kepada para wali yang menyebarkan agama Islam di Lombok. Kontestasi keberagamaan ini kemudian berimplikasi tidak hanya terhadap polapola keberagamaan, tetapi juga pola interaksi sosial yang berhubungan erat dengan identitas kelompok dan perebutan sumber-sumber kapital. Polarisasi religiusitas tampak pada munculnya diferensiasi orientasi pemujaan dan perilaku pemujaan. Pada aspek orientasi pemujaan, umat Hindu memandang bahwa Pura Lingsar merupakan tempat sembahyang atau beribadah, sekaligus untuk memohon keselamatan, kesuburan tanaman, berobat, dan membayar kaul. Artinya, sistem teologi yang dibangun umat Hindu di Pura Lingsar inheren dengan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan keagamaannya. Sebaliknya, umat Islam Wetu Telu memaknai Pura Lingsar bukan sebagai tempat ibadah selayaknya masjid atau mushola, melainkan suatu Aotempat keramatAo yang digunakan untuk ber-tawasul atau memohon ridhlo dari roh suci . yang diyakini wafat di tempat tersebut dengan melaksanakan ritual-ritual tradisi untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti memohon rezeki, jodoh, dan obat. Implikasinya bahwa sistem teologi yang dikembangkan umat Islam dalam praktik keagamaan di Pura Lingsar menunjukkan terjadinya pergeseran dari monoteisme ke politeisme implisit. Perbedaan penghayatan sistem teologi tersebut juga berimplikasi terhadap pusat religiusitas kedua umat beragama tersebut. Umat Hindu memusatkan religiusitasnya pada gaduh sebagai mandala utama Pura Lingsar, sedangkan umat Islam terpusat pada https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kemaliq. Perbedaan orientasi pemujaan, juga berimplikasi terhadap perilaku pemujaan di mana umat Hindu tetap berorientasi pada konsep tri angga atau tiga mandala . tama mandala, madya mandala, dan jaba mandal. yang berjenjang sebagai satu kesatuan. Pasiraman Mandala sebagai orientasi persembahyangan umat Hindu dapat ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar 1. Pesiraman Mandala Sebagai Salah Satu Pusat Religiusitas Umat Hindu di Pura Lingsar Sumber: Dokumen. Kumbara, 2020 Kedua, keragaman kultur keagamaan akibat kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar juga menciptakan perbedaan-perbedaan pragmatis. Perbedaan-perbedaan ini ditandai dengan serangkaian pilihan yang tidak menentu bagi kedua umat beragama tersebut, bahkan tidak memiliki landasan yang pasti untuk menentukan pilihannya dan memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan Namun demikian, agensi memiliki kapasitas yang dikonstruksi secara sosial untuk bertindak, walaupun tidak seorang pun bebas dari konteks sosial (Barker, 2. Dengan kata lain, keragaman kultur keagamaan sering kali menjadi ranah umat beragama untuk menentukan pilihan tindakan dalam pergulatan kebebasan dan determinasi. Menurut Barker . , pergulatan tentang kebebasan dan determinasi hendaknya dipandang sebagai cara diskursus yang berbeda dan sebagai pengalaman yang dikonstruksi secara diskursif. Diskursus kebebasan dan determinasi adalah dua narasi yang diproduksi secara sosiokultural bahwa manusia yang memiliki tujuan berbeda dapat menerapkan cara yang berbeda. Pemahaman kedua bahwa setiap agen bertindak dengan gagasan tentang kebebasan, sedangkan determinasi struktur tidak memiliki pengaruh apapun terhadap pengalaman eksistensial karena agen memiliki kemampuan untuk mengubahnya, di dalam . dan melalui . praktik kehidupan sehari-hari. Diskursus seperti ini dapat dibangun dengan membandingkan berbagai struktur sosial dan determinasi yang berbeda serta menilai suatu aspek adalah lebih baik ketimbang yang lain berdasarkan nilai-nilai sebelumnya yang ditentukan secara sosial. Dalam serangkaian kontestasi keberagamaan yang terjadi antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar, muncul beragam pola kultural yang diproduksi dan direproduksi dalam rangka pembentukan identitas Identitas kelompok dikonstruksi terus-menerus oleh agen, baik untuk melanggenggkan narasi tentang diri maupun membangun perasaan adanya kontinuitas Identitas berusaha menjawab seputar pertanyaan Ayapa yang harus dilakukan?Ay. Aybagaimana bertindak?Ay, dan Ayingin menjadi siapa?Ay Individu selalu mengkonstruksi narasi identitas yang koheren di mana AodiriAo membentuk lintasan perkembangan masa lalu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH hingga masa depan yang dapat diperkirakan (Giddens, 1. Oleh karenanya. Giddens (Barker, 2. menyatakan bahwa identitas adalah proyek, yakni sesuatu yang diciptakan, selalu dalam proses, dan suatu gerak maju ketimbang sesuatu yang datang Identitas kultural di Pura Lingsar tidak hanya bergerak seputar apakah identitas tersebut menjadi milik mereka sendiri atau bukan, tetapi identitas yang Hal ini ditegaskan Barker . bahwa tidak ada elemen transendental atau ahistoris terkait dengan bagaimana seharusnya menjadi seseorang karena identitas sepenuhnya bersifat sosial dengan alasan: . pandangan bagaimana seharusnya menjadi seseorang adalah pertanyaan budaya. sumber daya materi bagi proyek identitas, misalnya bahasa dan praktik budaya. selalu berkarakter sosial. berbagai sumber daya dapat dibawa ke dalam proyek identitas tergantung pada kekuatan situasional di mana seseorang dan masyarakat menerjemahkan kompetensi budayanya dalam konteks budaya tertentu. Jadi, identitas bukan hanya soal deskripsi, tetapi juga label diri dan sosial. Pergulatan identitas kelompok di Pura Lingsar tampak dari cara umat Hindu dan Islam Wetu Telu mempertahankan narasi tentang kelompoknya, seperti nilai, kepercayaan, dan perilaku keberagamaannya. Umat Hindu berusaha mempertahankan pemahamannya bahwa Pura Lingsar adalah tempat suci untuk membangun hubungan religiusitas dengan Tuhan dan seluruh manifestasi-Nya melalui palinggih-palinggih di seluruh mandala. Umat Hindu juga mengkonstruksi identitas keagamaan secara kolektif dengan tetap mempertahankan cara-cara beragama selayaknya umat Hindu di Bali sebagai referensi kultural dan biografis. Berbagai material budaya, misalnya pakaian, bahasa, tata cara ritual, dan sarana persembahan . tetap dipertahankan dalam praktik keberagamaan di Pura Lingsar seperti tampak pada gambar di atas. Sebaliknya, umat Islam Wetu Telu pun mempertahankan nilai dan kepercayaannya terhadap Pura Lingsar yang dikaitkan dengan historis kewalian yang menyebarkan agama Islam di pulau Lombok. Kemaliq sebagai pusat orientasi keberagamaannya menjadi tempat utama yang Semua ritual dipusatkan di tempat ini, baik dalam ritual berskala besar maupun skala kecil. Identitas sebagai etnik Sasak Islam dengan model beragama yang spesifik juga dipertahankan dalam keberagamaannya, walaupun ia berbeda dengan Islam mainsteram atau Islam Waktu Lima. Dalam hal ini, mereka mempertahankan narasi sebagai Islam Wetu Telu berdasarkan pemahaman historis, seperti penjelasan Taufiq (Wawancara, 12 Agustus 2. berikut ini. Ceritanya ada seorang ulama dari Jawa yang menyebarkan agama Islam dan berlabuh di Bayan dengan menggunakan rakit dari bambu petong. Rakit itulah yang dinamakan Sasak sehingga leluhur kami disebut AuOrang SasakAy. Hanya saja, ada orang Sasak yang beragama Hindu dan ada yang Islam. Jadi, kami adalah orang Sasak yang beragama IslamAy, yang orang di luar menyebut kami Wetu Telu. Kisah tersebut menjadi salah satu dasar masyarakat Sasak mempertahankan identitas kulturalnya, baik etnisitas maupun keagamaannya. Keyakinan mereka pada para wali mendorong pemertahanan keberagamaan di Pura Lingsar sehingga sistem pemujaan kepada wali dipusatkan di Pasiraman dan Kemaliq. Pemujaan umat Islam Wetu Telu dilakukan dengan sarana sesajen yang tak lazim digunakan dalam agama Islam, tetapi mereka membangun identitas keagamaannya dengan melaksanakan sholat di Kemaliq, melakukan ritual Kurisan seperti gambar berikut ini. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 2. Seorang wanita Islam Melakukan Sholat dan Ritual Kurisan di Kemaliq Sumber: Dokumen. Kumbara, 2022. Dengan mempertahankan identitas keislaman, bukan berarti masyarakat Islam Wetu Telu meninggalkan tradisi leluhurnya. Mereka tetap mempertahankan identitas budaya orang Sasak dengan tetap melaksanakan ritual di Kemaliq dengan berbagai sarana persembahan dan menggunakan material-material budaya, misalnya pakaian adat Sasak. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai upacara adat di Kemaliq, maka permohonannya dapat dikabulkan. Berkaitan dengan itu. Sahnim (Wawancara, 12 Agustus 2. menyatakan setelah mempersembahkan sesajen di Kemaliq dan menyucikan diri di pasiraman ia merasakan lebih bersih, lahir dan batin. Upaya pemertahanan identitas kelompok dengan melestarikan tradisi Sasak tersebut tampaknya menjadi ruang bagi pembentukan identitas kolektif dengan umat Hindu di Pura Lingsar. Konstruksi identitas kolektif ini tampak dalam pelbagai kegiatan ritual yang dilaksanakan di Pura Lingsar, misalnya dalam Perang Topat seperti tampak pada gambar di bawah ini. Gambar 3. Rangkaian Upacara Perang Topat yang Melibatkan Umat Hindu dan Islam di Pura Lingsar Sumber: Dokumen. Kumbara, 2020 Upacara Perang Topat merupakan puncak rangkaian upacara pujawali di Pura Lingsar. Acara ini dihadiri ribuan umat Hindu dan Islam, sekaligus dimanfaatkan pemerintah menjadi wahana pemersatu umat beragama. Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Hal tersebut seperti diungkapkan Bagiarta . awancara, 11 Juli 2. sebagai berikut: Umat Hindu dan Islam bersatu menjaga Pura Lingsar sebagai warisan leluhur. Kami di sini saling menghormati satu sama lain. Pada saat akan memulai pujawali, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH maka masyarakat dari seluruh Lombok, baik yang Hindu maupun yang Islam datang ke sini untuk ngayah dan menyumbangkan bahan-bahan yang akan dipakai Integrasi sosial di Pura Lingsar dibangun berdasarkan nilai-nilai sosial yang bersifat fundamental, yaitu batasan-batasan, norma-norma dan pranata-pranata sosial yang disepakati bersama. Perbedaan keyakinan tidak menyebabkan lunturnya nilai- nilai konsesus kolektif. Nilai religius ini menyatukan umat Hindu dan Islam dalam keharmonisan ritual terutama di Kemaliq, bahkan seolah-olah tanpa sekat perbedaan. Salah satunya dengan melibatkan kedua umat beragama tersebut dalam ritual kolektif, di mana Pemangku Hindu dan Pamangku Sasak (Isla. memimpin ritual bersama-sama di Kemaliq dalam rangka melaksanakan upacara bersaji. Upacara bersaji dapat dipandang sebagai media yang efektif dalam rangka pembentukan identitas kelompok yang melibatkan umat Hindu dan umat Islam. Namun bukan berarti bahwa integrasi ini menghilangkan identitas kelompok umat beragama karena pada kenyataannya, setiap kelompok tersebut berupaya mempertahankan identitas kelompoknya masing-masing. Salah satunya dapat dilihat dari balutan busana yang digunakan perempuan Sasak dalam upacara ritual di Pura Lingsar. Selain menggunakan busana adat, mereka juga mengunakan identitas Islam berupa penggunaan jilbab untuk perempuan dan songkok bagi laki-laki. Berdasarkan paparan di atas dapat dipahami bahwa menguatnya identitas kelompok menjadi implikasi yang tidak terhindarkan dari kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar. Identitas ini menyangkut persoalan kesamaan dan perbedaan, tentang aspek sosial dan personal. Implikasi ini ditunjukkan dengan artikulasi budaya dan upaya pemertahanan identitas keagamaan komunitas umat beragama tersebut. Umat Hindu mempertahakan ideologi keagamaan dan tata cara ritual yang bersumber dari tradisi Hindu-Bali. Sebaliknya, umat Islam Wetu Telu mempertahankan identitas keagamaan sebagai pemeluk Islam etnis Sasak dengan tradisi keagamaan yang spesifik. Identitas kelompok dalam keagamaan dalam wujud fisik ditandai dengan penggunaan simbol-simbol religius dan atribut-atribut kultural, sedangkan secara ideologis bahwa umat beragama tersebut mempertahankan narasi keimanan dan budayanya. Selain itu, kontestasi juga berimplikasi terhadap identitas kolektif antarumat beragama sebagai upaya membangun integrasi sosial dalam bentuk ritual bersaji tanpa meninggalkan identitas kelompok masing-masing. Ketiga, kontestasi keberagamaan antara umat Islam Wetu Telu dan Hindu di Pura Lingsar merupakan arena produksi kultural yang melibatkan habitus, modal, dan ranah dalam praktik sosial dinamis. Bourdieu . mengelaborasi tiga konsep tersebut dalam rumus persamaan generatif Au(Habitus x Moda. Ranah = PraktikAy. Habitus merupakan struktur mental atau kognitif untuk menghadapi kehidupan sosial, yaitu nilai yang meresap dalam pikiran dan perasaan individu, sekaligus memengaruhi dan menentukan nilai selera seseorang (Ritzer & Goodman, 2004. Lubis, 2. Habitus berhubungan sedemikian rupa dengan ranah . dan modal . yang memberikan kerangka tindakan kepada individu dalam praktik sosialnya. Bourdieu . menegaskan bahwa dalam setiap ranah, habitus menjadi sistem disposisi tindakan yang berasosiasi dengan asal-usul sosial tertentu yang dispesifikasikan dan hanya dapat dijalankan dalam praktik-praktik sosial struktural. Habitus membentuk tindakan sosial dalam struktur yang menstruktur . tructuring structure. , dan melalui struktur yang terstruktur . tructured Ranah atau arena atau medan adalah struktur yang memungkinkan berbagai potensi eksis dan dipertaruhkan dalam posisi-posisi tertentu yang dilandasi kepemilikan modal-modal para aktor di dalamnya. Ada empat modal utama yang diperebutkan dalam praktik sosial, yakni modal ekonomi, sosial, kultural dan simbolik. Aktor-aktor saling https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH bersaing untuk mendapatkan modal tersebut demi kepentingan kekuasaan atau suatu diferensiasi yang menjamin status aktor sosial tersebut yang selajutnya dapat digunakan untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut (Bourdieu, 2. Merujuk pada teori tersebut, kontestasi keberagamaan antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar berimplikasi terhadap terjadinya perebutan sumbersumber kapital, baik berupa material, simbol, legitimasi, maupun otoritas. Salah satu sumber daya ekonomi . yang menjadi ajang kontestasi adalah palaba pura seluas 12 hektar yang digarap pangempon Pura Lingsar, baik umat Hindu maupun Islam Wetu Telu. Kapital ini secara subsistensi membentuk ikatan pangempon dengan Pura Lingsar sehingga modal ini penting dimiliki karena berkaitan dengan kebutuhan dan keberlangsungan hidup mereka. Sumber material lainnya dari Pura Lingsar adalah mata air yang mengairi pertanian di seputar kawasan Lingsar. Kemaliq dan pasiraman dalam kedudukannya sebagai tempat melukat dan pusat ritual, juga sekaligus sebagai daya tarik wisata menjadi modal lain yang diperebutkan. Kunjungan wisatawan ke Pura Lingsar juga menjadi sumber kapital yang diperebutkan kedua kelompok ini. Hal ini menegaskan bahwa kontestasi keberagamaan di Pura Lingsar merepresentasikan perebutan modalmodal, sekaligus menjadi bentuk strategi pemertahanan dari kedua umat beragama agar sumber-sumber kapital tersebut tidak hilang. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dinamika kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar terjadi karena adanya memori historis, perbedaan ideologi keagamaan, dan sumber daya kapital yang layak diperebutkan. Kontestasi keberagamaan berlangsung pada tataran suprastruktur ideologis, struktur sosial, serta infrastruktur ekonomi dan demografis. Kontestasi pada tataran suprastruktur ideologis meliputi nilai, keyakinan dogma dan ajaran yang mendasari praktik religiusitas kedua umat beragama tersebut. Kontestasi pada tataran struktur sosial tampak pada adanya dua institusi atau organisasi keagamaan yang mengatur peran-peran sosial umat dalam pengelolaan Pura Lingsar. Kontestasi keberagamaan pada tataran infrastruktur ekonomi dan demografis menguat setelah Pura Lingsar dijadikan objek wisata unggulan di Nusa Tenggara Barat. Dinamika kontestasi keberagamaan umat Hindu dan Islam Wetu Telu di Pura Lingsar mencakup polarisasi praktik beragama, menguatnya identitas kelompok, dan perebutan sumber daya kapital milik Pura Lingsar. Namu demikian, kontestasi ini dapat dikelola sehingga integrasi dan rekonsiliasi cenderung lebih menonjol daripada segregasi dan separasi, walaupun populasi umat Hindu lebih banyak dan mempunyai kewenangan yang lebih besar atas keberadaan Pura Lingsar. Untuk mencegah kontestasi tidak berkembang dan menjadi manifes konflik ke depannya, pemerintah, pemimpin pengempon pura, dan stakeholder lainnya perlu melakukan pembinaan dan upaya pemeliharaan hubungan harmonis yang telah terbangun secara berkesinambungan dan partisipatoris. Daftar Pustaka