AL-HIKMAH : Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam p-ISSN 2685-4139 Jurnal AL-HIKMAH Vol 7. No 2 . e-ISSN 2656-4327 ISLAMISASI ILMU DI TENGAH ARUS MODERNITAS: ANALISIS TANTANGAN DAN PELUANG BERDASARKAN PANDANGAN AL-FARUQI DAN AL-ATTAS Rizky Firnanda. Husnaini. Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Email : firnandarizky88@gmail. Email : m. husnaini@uii. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep Islamisasi ilmu sebagai respons terhadap dominasi epistemologi sekuler dalam sistem keilmuan modern, serta menganalisis tantangan dan peluang penerapannya berdasarkan pemikiran dua tokoh utama: Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islamisasi ilmu dalam pandangan kedua tokoh ini bukan sekadar upaya menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum, tetapi merupakan proses rekonstruksi paradigma keilmuan yang berlandaskan pada tauhid, wahyu, akal, dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang saling Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. terhadap karya-karya utama Al-Faruqi dan Al-Attas, serta literatur pendukung dari para pemikir Muslim kontemporer lainnya seperti Fazlur Rahman. Mohammed Arkoun, dan Sayyid Abul AAola Maududi. Analisis dilakukan terhadap argumen-argumen epistemologis, prinsip dasar Islamisasi ilmu, serta kondisi sosial-intelektual umat Islam di era modernitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu menghadapi tantangan besar, antara lain dominasi positivisme dalam metodologi ilmu, dualisme kurikulum pendidikan Islam, dan lemahnya institusi pendidikan berbasis nilai Islam. Namun, terdapat peluang besar berupa meningkatnya kesadaran akademik terhadap pentingnya integrasi ilmu, tumbuhnya universitas Islam dengan pendekatan integratif, serta pesatnya perkembangan teknologi digital yang mendukung penyebaran gagasan Islamisasi ilmu. Dengan demikian. Islamisasi ilmu merupakan proyek peradaban yang strategis untuk membangun sistem pengetahuan yang holistik, etis, dan spiritual, sebagai alternatif atas fragmentasi ilmu akibat sekularisasi modern. Kata Kunci: Islamisasi Ilmu. Epistemologi Islam. Sekularisme. Al-Faruqi. Al-Attas. Modernitas. Abstract: This article aims to examine the concept of Islamization of science as a response to the dominance of secular epistemology in the modern scientific system, as well as analyzing the challenges and opportunities for its implementation based on the thoughts of two main figures: Ismail Raji al-Faruqi and Syed Muhammad Naquib alAttas. The Islamization of science in the view of these two figures is not just an effort to combine religious knowledge and general science, but is a process of reconstructing a scientific paradigm based on monotheism, revelation, reason and experience as complementary sources of knowledge. This study uses a qualitative approach with a library research method on the main works of Al-Faruqi and Al-Attas, as well as supporting literature from other contemporary Muslim thinkers such as Fazlur Rahman. Mohammed Arkoun, and Sayyid Abul AAola Maududi. The analysis is carried out on epistemological arguments, basic principles of the Islamization of science, and the socio-intellectual conditions of Muslims in the era of modernity. The results of the study show that the Islamization of science faces major challenges, including the dominance of positivism in scientific methodology, dualism of Islamic education curriculum, and the weakness of educational institutions based on Islamic values. However, there are great opportunities in the form of increasing academic awareness of the importance of integrating science, the growth of Islamic universities with an integrative approach, and the rapid development of digital technology that supports the spread of the idea of the Islamization of science. Thus, the Islamization of science is a strategic civilization project to build a holistic, ethical, and spiritual knowledge system, as an alternative to the fragmentation of science due to modern secularization. Keywords: Islamization of Science. Islamic Epistemology. Secularism. Al-Faruqi. Al-Attas. Modernity Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membawa berbagai kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. 1 Namun, kemajuan tersebut tidak terlepas dari pengaruh paradigma modernitas yang cenderung sekuler, rasionalistik, dan materialistik. Dalam kerangka ini, ilmu dipisahkan dari nilai-nilai spiritual dan religius, sehingga terjadi fragmentasi epistemologis yang cukup mendalam. Ilmu pengetahuan diposisikan sebagai entitas netral, bebas nilai, dan hanya sah apabila diperoleh melalui metode empiris dan rasional. Pandangan meminggirkan peran agama, khususnya dalam dunia pendidikan dan keilmuan, termasuk di kalangan umat Islam. Modernitas yang dimulai sejak era Renaisans Pencerahan (Enlightenmen. di Barat telah membawa dampak signifikan terhadap struktur berpikir masyarakat Muslim. Banyak intelektual Muslim mulai mengadopsi pendekatan ilmiah Barat tanpa melalui 1 Farrukh Habib. AuIslamic Finance and Sustainability: The Need to Reframe Notions of Shariah Compliance. Purpose, and Value,Ay in Islamic Finance. FinTech, and the Road to Sustainability: Reframing the Approach in the PostPandemic Era, ed. Zul Hakim Jumat. Saqib Hafiz Khateeb, and Syed Nazim Ali (Cham: Springer International Publishing, 15Ae40, https://doi. org/10. 1007/978-3-031-13302-2_2. proses kritik epistemologis. Akibatnya, sistem pendidikan di negara-negara Muslim mengalami dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu-ilmu syariah dipelajari secara terpisah dari menghambat pembentukan paradigma keilmuan yang holistik dan integratif. Dalam Islam mengalami krisis identitas intelektual yang serius, yang tercermin dalam sistem pengetahuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, muncul gerakan intelektual yang dikenal dengan istilah Islamisasi (Islamization Knowledg. Gerakan ini dimotori oleh para pemikir Muslim kontemporer yang pengetahuan agar selaras dengan nilainilai Islam. Dua tokoh penting dalam gerakan ini adalah Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Keduanya menawarkan pendekatan yang sberbeda namun saling melengkapi dalam merumuskan konsep Islamisasi Al-Faruqi menekankan pentingnya Sirajudin and Lina Ulfa Fitriani. AuIslamisasi Sains di Tengah Arus Modernitas (Integrasi Agama dan Sain. ,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Amin 2, no. 1 (May 17, 2. : 53Ae integrasi antara ilmu modern dengan nilai-nilai Islam dalam kerangka tauhid, sedangkan al-Attas lebih menekankan pada pemurnian konsep-konsep ilmu pemulihan adab dalam dunia akademik. Tujuan utama dari Islamisasi ilmu AumengislamkanAy Barat, membangun sistem epistemologi Islam yang mampu menjadi dasar dalam mengembangkan seluruh cabang ilmu pengetahuan, baik ilmu sosial maupun ilmu alam. Konsep ini tidak bermaksud menolak metode ilmiah modern, tetapi menyaring dan mengkritisinya agar sesuai dengan worldview Islam. Dalam hal ini, wahyu menjadi sumber pengetahuan utama yang berdampingan secara harmonis dengan akal dan Dengan Islamisasi melahirkan sistem pengetahuan yang menyatukan aspek rasional, etis, dan Kebutuhan terhadap Islamisasi ilmu semakin mendesak mengingat dampak menimbulkan berbagai krisis dalam dunia keilmuan. Beberapa krisis tersebut meliputi: krisis nilai, di mana ilmu berkembang tanpa kontrol moral. makna, di mana ilmu tidak lagi diarahkan pada tujuan transendental. serta krisis orientasi, di mana ilmu diproduksi hanya Menurut Al-Faruqi, ilmu yang tidak diorientasikan kepada tauhid akan kehilangan ruh dan arah, sehingga Raha Bistara. AuIslamisasi Ilmu Pengetahuan Dalam Bingkai IntegrasiInterkoneksi: Menguak Ide Islamisasi Ilmu Ismail Raji Al-Faruqi,Ay Refleksi: Jurnal Kajian Agama Dan Filsafat . 193Ae212, https://doi. org/10. 15408/ref. Sementara itu, al-Attas menyoroti hilangnya AuadabAy dalam ilmu sebagai sumber dari kehancuran intelektual umat Islam. Kajian ini sangat penting dilakukan karena menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep Islamisasi ilmu yang telah universitas dan institusi pendidikan Islam. Penelitian terdahulu memang telah konsep-konsep Islamisasi ilmu, namun sebagian besar masih bersifat teoritis dan belum banyak yang mengkaji aktualisasinya secara praktis dalam kurikulum atau struktur pendidikan modern. Untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh, penting untuk menjelaskan terlebih dahulu kajian-kajian awal mengenai Islamisasi ilmu. Gagasan ini mulai mencuat kuat pada akhir abad ke-20, khususnya setelah Konferensi Pendidikan Islam Pertama di Mekkah Dua tokoh sentral yang sangat berpengaruh dalam diskursus ini adalah Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Al-Faruqi menekankan pentingnya mengislamisasi ilmu-ilmu kontemporer dengan cara menyusun ulang disiplin ilmu agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ia menganggap bahwa ilmu-ilmu sosial dipengaruhi oleh paradigma sekuler Barat, sehingga perlu direformulasi agar sesuai dengan worldview Islam. Sementara itu. Al-Attas lebih mengusulkan bahwa akar masalah utama adalah loss of adab, yakni hilangnya kesantunan ilmu dalam masyarakat AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 Muslim. Oleh karena itu, proses Islamisasi menurutnya harus dimulai dari pembenahan konsep-konsep dasar dan pemahaman tentang ilmu itu sendiri, termasuk redefinisi terhadap istilahistilah kunci yang digunakan dalam ilmu Namun, kajian ini berbeda dari pendekatan klasik yang lebih filosofis Alih-alih hanya menelaah pemikiran kedua tokoh itu secara teoritis, praktis dari gagasan-gagasan tersebut. Fokus utamanya adalah bagaimana nilainilai Islam seperti etika, spiritualitas, dan epistemologi dapat diintegrasikan secara nyata dalam sistem pendidikan modern, yang selama ini cenderung didominasi oleh pola pikir dan metodologi Barat. Dengan pendekatan seperti ini, kajian ini tidak hanya memperkaya wacana keilmuan, tetapi juga berusaha Islam mengembangkan kurikulum yang lebih seimbang, menyeluruh . , dan berakar pada nilai-nilai Islam. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis konsep Islamisasi ilmu berdasarkan pandangan Al-Faruqi dan Al-Attas serta mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi dalam implementasinya di era modernitas. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: . mengkaji akar masalah epistemologis yang ditimbulkan oleh sekularisasi ilmu. membandingkan pendekatan Islamisasi ilmu dari kedua tokoh tersebut. merumuskan peluang strategis untuk memperkuat penerapan Islamisasi ilmu dalam disiplin Dengan fokus tersebut, artikel ini diharapkan dapat memberikan Islam komprehensif dan kontekstual. Dengan landasan kajian tersebut, artikel ini berharap dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan bagaimana Islamisasi ilmu dapat menjadi alternatif terhadap sistem keilmuan sekuler? Apa perbedaan pendekatan yang ditawarkan oleh Al-Faruqi dan Al-Attas? Dan bagaimana peluang penerapan Islamisasi ilmu di tengah tantangan globalisasi, sekularisme, dan modernitas yang semakin kompleks? Pertanyaanpertanyaan ini menjadi krusial untuk dibahas dalam upaya membangun sistem pendidikan Islam yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga tetap kokoh dalam nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia. Dengan demikian, kajian Islamisasi ilmu bukanlah sebuah proyek eksklusif milik akademisi, melainkan gerakan peradaban yang memerlukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat Muslim. Islamisasi ilmu harus dimulai dari transformasi cara berpikir, pembaruan kurikulum, penyusunan metodologi riset yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, serta penguatan institusi pendidikan Islam sebagai pusat pengembangan ilmu yang berakar pada tauhid. Melalui pendekatan yang holistik dan kolaboratif. Islamisasi ilmu diharapkan mampu melahirkan generasi intelektual Muslim yang tidak hanya unggul dalam sains dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas spiritual dan moral yang tinggi. Metodologi Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. , yang AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 bertujuan untuk mengkaji konsep dan pemikiran para tokoh Islam mengenai Islamisasi ilmu dalam kerangka teoritis dan filosofis. Pendekatan ini dipilih karena relevan dalam memahami secara prinsip dasar, serta tantangan dan peluang penerapan Islamisasi ilmu di era Sumber penelitian ini adalah karya-karya tokoh sentral dalam gerakan Islamisasi ilmu, yaitu Ismail Raji al-Faruqi melalui bukunya Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan dan Syed Muhammad Naquib al-Attas melalui Prolegomena to the Metaphysics of Islam dan Islam and Secularism. Selain itu, digunakan juga literatur pendukung dari pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman. Mohammed Arkoun. Sayyid Abul AAola Maududi, serta jurnal-jurnal akademik yang relevan. Data dianalisis dengan pendekatan analisis isi . ontent analysi. yang berfokus pada pemahaman makna, argumentasi, serta perbandingan konsep Islamisasi masing-masing Langkah-langkah identifikasi tema utama, klasifikasi gagasan, penafsiran makna filosofis, dan penarikan kesimpulan. Melalui metode ini, penelitian ini berusaha menjawab bagaimana konsep Islamisasi perbedaannya menurut Al-Faruqi dan AlAttas, serta bagaimana implementasinya dapat dikembangkan di tengah arus modernitas dan sekularisasi global. 4 Dr Muhammad Ramdhan M. M S. Pd. Metode Penelitian (Cipta Media Nusantara, n. 5 AMIRULLAH M. M SE. Metode & Teknik Menyusun Proposal Penelitian (Media Nusa Creative (MNC Publishin. , 2. Hasil dan Pembahasan Islamisasi Ilmu Islamisasi ilmu adalah suatu gagasan yang muncul sebagai respon atas dominasi paradigma sekuler dalam Dalam dunia Barat, sejak era Renaisans Pencerahan, rasional, dan materialistik. Meskipun berhasil mendorong kemajuan teknologi dan sains, pendekatan ini secara spiritual dan nilai-nilai moral yang sebelumnya melekat dalam pencarian Akibatnya, ilmu pengetahuan dengan Tuhan dan tujuan-tujuan etik yang mulia. Dalam konteks ini. Islamisasi ilmu muncul sebagai upaya rekonstruksi pengetahuan agar kembali berakar pada nilai-nilai tauhid dan ajaran Islam. Gagasan Islamisasi ilmu pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Ismail Raji al-Faruqi pada akhir abad ke20 melalui karyanya Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan . Menurut Al-Faruqi. Islamisasi ilmu adalah proses menanamkan nilainilai Islam ke dalam seluruh disiplin ilmu modern, baik dalam metodologi, tujuan, maupun orientasi sosialnya. Tujuan utama dari Islamisasi ilmu adalah mengintegrasikan wahyu dengan akal dan pengalaman sebagai sumber sah ilmu pengetahuan, serta menghindarkan umat Islam dari mengadopsi ilmu Barat yang 6 Abdul Aziz et al. Manajemen Pendidikan Islam: Filosofi. Konsep Dasar, dan Implementasi Praktis (Pustaka Peradaban, 2. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Ia menekankan bahwa ilmu harus tunduk pada prinsip tauhid, dan karenanya, ilmu seharusnya tidak netral secara moral dan tidak terpisah dari Al-Faruqi prinsip utama dalam proses Islamisasi ilmu: . tauhid sebagai dasar segala ilmu, . kesatuan antara ilmu dan nilai Islam, . kesatuan antara ilmu dan sejarah peradaban Islam, . kesatuan antara teori dan praktik, dan . kesatuan antara ilmu dan tujuan hidup. Prinsipprinsip ini menjadi kerangka filosofis untuk menilai, mengkaji ulang, dan Islam. Dalam praktiknya. Al-Faruqi juga merancang dua belas langkah implementatif untuk Islamisasi mencakup penguasaan ilmu modern dan warisan keilmuan Islam, analisis kritis terhadap isi ilmu Barat, dan rekonstruksi kurikulum pendidikan Islam agar sesuai dengan worldview Islam. Sementara itu, pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas menempuh jalur yang berbeda namun tidak Dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam, alAttas menekankan bahwa Islamisasi ilmu bukan hanya proses teknis atau metodologis, melainkan lebih bersifat konseptual dan filosofis. Ia memandang bahwa ilmu modern telah mengalami 7 Shyella Putri Mandasari. Sri Ramadhani, and Mawaddah Irham. AuAnalisis Pemanfaatan Bank Sampah Untuk Meningkatkan Nilai Jual Dan Nilai Tambah Pada Masyarakat Dengan Pendekatan Sircular Economy . R) Di Kota Medan Ditinjau Dalam Konsep Ekonomi Islam,Ay Ekonomi Bisnis Manajemen dan Akuntansi (EBMA) (July 1695Ae1716, https://doi. org/10. 36987/ebma. rasionalisme Barat. Oleh karena itu, menurutnya, tugas utama Islamisasi ilmu adalah pemurnian konsep-konsep ilmu dari pengaruh worldview Barat dan pengembalian maknanya ke dalam kerangka tauhid. Al-Attas menganggap bahwa krisis terbesar dalam dunia Muslim bukan hanya kehilangan ilmu, melainkan kehilangan AuadabAy dalam ilmu. Konsep adab dalam pandangannya mengacu pada tata nilai, etika, dan kesadaran spiritual dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, ilmu akan kehilangan arah, bahkan menjadi alat yang merusak tatanan sosial dan Oleh karena itu. Islamisasi ilmu menurut al-Attas adalah pemulihan kembali makna ilmu dan pemantapan peran wahyu sebagai pusat dari seluruh struktur pengetahuan. Pendekatan alAttas cenderung lebih bersifat filosofis dan spiritual, menekankan pentingnya worldview Islam sebagai fondasi bagi semua bentuk pengetahuan. Secara umum, baik Al-Faruqi al-Attas Islamisasi ilmu bukan sekadar islamisasi istilah atau penggantian label. Mereka menolak pendekatan superfisial yang hanya mengganti nama atau bahasa tanpa menyentuh struktur epistemologi ilmu itu sendiri. Islamisasi ilmu adalah usaha radikal dan mendalam untuk membangun sistem pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai Islam, yang tidak hanya mencakup sumber ilmu, tetapi juga metodologi, struktur kurikulum, orientasi sosial, dan tujuan akhir ilmu Dengan Islamisasi ilmu merupakan proyek AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 peradaban, akademik semata. Salah satu fondasi utama dari Islamisasi epistemologi Islam. Dalam Islam, sumber ilmu tidak terbatas pada akal dan pengalaman empiris semata, tetapi mencakup wahyu . l-Qur'an dan Sunna. sebagai sumber utama dan tertinggi. Akal memiliki peran penting sebagai alat untuk memahami wahyu dan alam semesta, namun tetap berada dalam kendali etika dan tauhid. Selain itu, pengalaman inderawi juga diakui dalam Islam sebagai sumber pengetahuan, tetapi harus dipahami dalam konteks spiritual yang lebih luas. Ketiga sumber ini wahyu, akal, dan pengalaman harus epistemologi yang utuh. Dalam praktiknya. Islamisasi ilmu dapat diterapkan dalam berbagai bidang Dalam ilmu sosial, misalnya. Islamisasi ilmu dapat dilakukan dengan menafsirkan ulang konsep-konsep seperti masyarakat, keadilan, dan kepemimpinan dalam kerangka Islam. Dalam bidang produktif, dan larangan riba adalah contoh konkret penerapan prinsip Islam dalam ekonomi modern. Dalam sains dan teknologi, pendekatan Islamisasi ilmu dapat dilakukan melalui penerapan etika Islam kedokteran, dan rekayasa genetika, serta penyadaran bahwa alam semesta adalah ayat-ayat Tuhan yang perlu ditafsirkan, bukan semata-mata objek eksperimental. Namun, proses Islamisasi ilmu tidak lepas dari tantangan. Tantangan terbesar adalah dominasi paradigma sekuler dalam dunia akademik, serta resistensi dari kalangan ilmuwan yang menganggap ilmu bersifat netral dan tidak perlu diislamisasi. Selain itu, masih pengembangan metodologi riset Islam dan kurangnya dukungan institusional, terintegrasi dan minimnya pelatihan dosen atau tenaga pengajar dalam konsep Islamisasi ilmu. Meskipun demikian. Islamisasi ilmu memiliki peluang besar untuk munculnya kesadaran intelektual baru di kalangan umat Islam. Banyak universitas Islam, seperti International Islamic University Malaysia (IIUM), telah integratif yang menyatukan ilmu agama dan ilmu umum. Kemajuan teknologi digital juga memperluas akses terhadap literatur, kursus, dan forum diskusi tentang Islamisasi ilmu. Bahkan di sektor ekonomi dan industri. Islamisasi ilmu telah diaplikasikan secara nyata melalui sistem keuangan syariah dan sertifikasi Dengan demikian, konsep dasar Islamisasi ilmu bukanlah upaya reaktif terhadap Barat, tetapi lebih merupakan gerakan konstruktif dan proaktif untuk membangun sistem pengetahuan yang seimbang antara dimensi rasional, empiris, dan spiritual. Ini adalah proyek besar yang membutuhkan kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat Muslim akademisi, ulama, pendidik, peneliti. Jika sistematis. Islamisasi ilmu dapat menjadi Azwar Rahmat M. TPd et al. KONSEP DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM (EDU PUBLISHER, 2. 8 Zulkifli et al. Konsep Dasar Pengajaran & Pembelajaran Pendidikan Islam (Deepublish, 2. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 dasar lahirnya peradaban Islam yang unggul, etis, dan berkelanjutan di tengah tantangan global modern. Tantangan Islamisasi Ilmu Meskipun gagasan Islamisasi ilmu telah menjadi topik penting dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer, menghadapi berbagai tantangan serius epistemologi, metodologi, kelembagaan, maupun dari pengaruh globalisasi. Tantangan-tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek-aspek filosofis yang mendalam, terutama menyangkut cara pandang umat Islam terhadap ilmu pengetahuan, sistem pendidikan, dan struktur sosial yang terwariskan dari modernitas Barat. Oleh karena itu, memahami secara kritis hambatan-hambatan Islamisasi ilmu merupakan langkah penting untuk merumuskan strategi penguatan konsep ini di masa depan. Salah satu tantangan paling Barat pendidikan global. Ilmu pengetahuan modern dibangun di atas asas positivisme dan empirisme yang menempatkan observasi, pengalaman inderawi, dan pengujian laboratorium sebagai satusatunya sumber valid pengetahuan. Paradigma ini mengabaikan dimensi spiritual, etika, dan wahyu yang justru menjadi pilar utama dalam epistemologi Islam. Konsekuensinya, ilmu yang berkembang saat ini cenderung bersifat reduksionistik hanya memandang realitas dari aspek material dan terukur tanpa memperhitungkan nilai-nilai ketuhanan dan moralitas. Dalam konteks ini, wahyu tidak dianggap sebagai sumber ilmu, melainkan sebagai doktrin keagamaan yang terpisah dari kajian ilmiah. Selain tantangan epistemologis, hambatan berikutnya adalah minimnya pengembangan metodologi penelitian berbasis nilai-nilai Islam. Metode ilmiah yang digunakan dalam banyak disiplin ilmu, termasuk di universitas Islam sekalipun, masih mengacu pada standar metodologi Barat yang sekuler dan netral dari nilai. Belum banyak upaya sistematis yang dilakukan untuk membangun metode penelitian yang menggabungkan wahyu, akal, dan realitas sosial sebagai satu kesatuan. Hal ini menyebabkan konsep Islamisasi ilmu kerap dianggap tidak aplikatif, terutama dalam bidang sains dan teknologi. Dalam ilmu eksakta seperti fisika atau biologi, pendekatan Islamisasi seringkali dianggap tidak relevan karena tidak menawarkan metode eksperimen baru, padahal yang dimaksud adalah penyematan etika, nilai, dan orientasi spiritual dalam proses pengembangan dan penerapan ilmu 10 Nurjanah Achmad. Mustaffa Abdullah. Mohamad Azrien Mohd Adnan. AuPemerkasaan Pengajian Al-QurAoan Di Perguruan Tinggi Agama Islam (Pta. Di Indonesia: Kajian Di Institut Ilmu Al-QurAoan (Ii. Jakarta: Empowerment of Quranic Studies in Islamic Higher Education Institutions (PTAI) in Indonesia: A Study at the Institute of Quranic Sciences (IIQ) Jakarta,Ay ALBASIRAH JOURNAL (June 70Ae82, https://doi. org/10. 22452/basirah. Muhammad Syarifuddin Amin. Muhammad Yusron Maulana El-Yunusi, and Didit Darmawan. AuPengaruh Lingkungan Sosial. Rutinitas Membaca Al-QurAoan Dan Prestasi Belajar Pai Terhadap Akhlak Peserta Didik MTs Muhyidin Keputih Surabaya,Ay Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 22, no. 03 (October 31, 2. : 225Ae 32, https://doi. org/10. 36835/jipi. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah struktur kurikulum dan sistem pendidikan yang masih bercorak Di banyak negara Muslim, terdapat pemisahan antara lembaga pendidikan umum yang berorientasi pada ilmu modern dengan lembaga pendidikan agama yang fokus pada studi Pemisahan ini menciptakan dua produk lulusan yang berbeda secara epistemologis: lulusan sekolah umum cenderung terbentuk dalam kerangka berpikir sekuler, sementara lulusan pesantren atau madrasah seringkali tidak memiliki kompetensi dalam ilmu-ilmu Dualisme ini menjadi keilmuan yang menjadi inti dari proyek Islamisasi ilmu. Sayangnya, perubahan sistem pendidikan yang telah berjalan puluhan tahun ini tidak mudah, karena menyangkut kebijakan negara, birokrasi pendidikan, dan budaya akademik yang telah mengakar kuat. Di sisi kelembagaan, tidak banyak universitas Islam yang benar-benar menerapkan paradigma Islamisasi ilmu secara menyeluruh. Beberapa institusi seperti IIUM (International Islamic University Malaysi. dan Universitas Ibn Khaldun (Indonesi. memang telah menjadi pelopor dalam upaya ini, namun sebagian besar lembaga pendidikan Islam kurikulum dan metode pembelajaran Barat. Bahkan di institusi yang telah mengadopsi wacana Islamisasi ilmu, sebatas pada pembukaan mata kuliah pengantar atau seminar tematik, tanpa pembaruan signifikan dalam struktur kurikulum dan sistem evaluasi akademik. Minimnya dosen dan peneliti yang memahami konsep Islamisasi ilmu secara utuh juga memperparah situasi ini. Pengaruh westernisasi juga menjadi tantangan Dunia akademik saat ini sangat dipengaruhi oleh arus pemikiran Barat melalui jurnal internasional, standar akreditasi, dan peringkat universitas Banyak akademisi Muslim yang internasional agar penelitiannya diakui, mengembangkan pendekatan Islamisasi yang dianggap "kurang ilmiah" oleh standar Barat. Selain itu, globalisasi membawa masuk nilai-nilai liberal, sekuler, dan relativistik ke dalam ruang publik Muslim, termasuk di lingkungan Hal ini memperlemah posisi epistemologi Islam dan menjadikan Islamisasi ilmu dianggap sebagai gerakan AuideologisAy yang kurang rasional atau Tantangan resistensi internal dari kalangan umat Islam sendiri, termasuk para akademisi Muslim. Tidak semua ilmuwan Muslim sepakat dengan konsep Islamisasi ilmu. Beberapa dari mereka beranggapan bahwa ilmu bersifat netral, dan tidak perlu diislamisasi karena yang penting adalah bagaimana ilmu itu digunakan. Sebagian lainnya menganggap bahwa Islamisasi ilmu adalah proyek idealistik yang sulit diterapkan dalam praktik nyata, apalagi dalam disiplin ilmu sains dan teknologi. Bahkan ada pula yang mengkritik gagasan ini sebagai bentuk Fitria Handayani and Dina Nadya Azahara. AuIntegrasi Nilai-Nilai Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan Modern: Sebuah Pendekatan Berbasis Islamic Worldview,Ay Journal of Information Systems and Management (JISMA) 4, no. 01 (February 20, 2. : 33Ae38, https://doi. org/10. 4444/jisma. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 Auromantisme intelektualAy yang tidak pengetahuan modern. Kritik lain terhadap Islamisasi ilmu adalah kurangnya kajian empiris dan riset terapan yang bisa dijadikan model. Banyak literatur tentang Islamisasi ilmu masih berada pada tataran konseptual dan filosofis, tanpa disertai contoh konkret yang bisa diimplementasikan dalam bidang tertentu. Kurangnya buku ajar, modul, dan jurnal ilmiah yang berbasis Islamisasi ilmu menyebabkan ide ini sulit masuk ke dalam kurikulum secara sistemik. Di samping itu, masih terbatasnya dana riset dan dukungan pemerintah terhadap pengembangan epistemologi Islam juga menjadi kendala Sebagian diarahkan pada pengembangan teknologi dan inovasi berbasis ekonomi, bukan keilmuan yang berbasis nilai-nilai Islam. Terakhir, hambatan bahasa dan akses juga menjadi faktor penghambat. Banyak Islamisasi ilmu hanya tersedia dalam bahasa Inggris atau Arab, sehingga terbatas pemanfaatannya di kalangan Muslim menguasai bahasa tersebut. Di sisi lain, literatur Islam klasik yang sangat kaya tidak mudah diakses oleh generasi muda karena keterbatasan terjemahan dan Kurangnya pelatihan dosen dan pengkaderan peneliti dalam bidang Islamisasi ilmu menjadikan regenerasi ilmuwan Muslim yang berpandangan holistik masih berjalan lambat. Dengan terhadap Islamisasi ilmu bukanlah menyangkut aspek-aspek struktural, kultural, dan filosofis yang kompleks. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan sinergi antara akademisi, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat Islamisasi ilmu harus diperkuat integratif, pelatihan metodologi riset berbasis Islam, penyediaan sumber daya akademik, serta penciptaan ekosistem pendidikan yang mendukung nilai-nilai Islam secara komprehensif. Tanpa gagasan Islamisasi ilmu akan terus terpinggirkan sebagai wacana teoretis yang tidak menyentuh realitas. Dea Dwi Anggraeni AuPERSPEKTIF MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DAN EPISTEMOLOGI ILMU DALAM INTEGRASI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN,Ay Sindoro: Cendikia Pendidikan 15, no. (June 21Ae30, https://doi. org/10. 99534/bs67dp15. 14 Kader Munir. Salminawati, and Usiono. Peluang Strategis Penerapan Islamisasi Ilmu Meskipun Islamisasi menghadapi berbagai tantangan serius dalam aspek epistemologis, metodologis, dan kelembagaan, gagasan ini tetap memiliki peluang strategis yang sangat potensial untuk dikembangkan dan Meningkatnya kesadaran umat Islam terhadap pentingnya integrasi antara AuPendidikan Islam Dalam Perspektif World Conferences on Muslim Education: TelaAoah Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis,Ay Didaktika: Jurnal Kependidikan 14, no. 1 Februari (February 925Ae40, https://doi. org/10. 58230/27454312. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 ilmu dan nilai agama, serta munculnya institusi pendidikan Islam yang progresif, menunjukkan bahwa gagasan Islamisasi ilmu tidak hanya hidup dalam ranah mendapatkan tempat dalam praktik akademik dan sosial. Perubahan sosial yang cepat akibat globalisasi dan digitalisasi juga memberikan ruang baru bagi penyebaran dan aktualisasi gagasan ini secara lebih luas. Salah satu peluang besar yang meningkatnya kesadaran akademik dan intelektual di kalangan umat Islam terhadap pentingnya membangun sistem keilmuan yang berlandaskan tauhid. Dalam beberapa dekade terakhir, telah muncul banyak publikasi ilmiah, seminar, dan konferensi internasional yang membahas isu-isu seputar Islamisasi ilmu, baik di bidang filsafat, pendidikan, ekonomi, maupun sains. Organisasi seperti International Institute of Islamic Thought . T) mempromosikan wacana Islamisasi ilmu pengembangan metodologi riset Islam. Kesadaran ini menjadi modal penting untuk menggerakkan gerakan intelektual yang lebih terstruktur, terutama di lingkungan akademik Muslim. Peluang lain yang tidak kalah universitas Islam yang mulai menerapkan pendekatan integratif antara ilmu agama dan ilmu umum. Contoh konkret dapat Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), yang sejak Nisa Nuranisa et al. AuKepercayaan Masyarakat Adat Dan Modernisasi Di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya,Ay Jurnal Dinamika Sosial Budaya 25, no. 2 (December 13, 2. : 337Ae47, https://doi. org/10. 26623/jdsb. awal berdirinya berkomitmen untuk mengembangkan kurikulum berbasis Islamisasi ilmu. Di IIUM, mata kuliah agama tidak hanya diajarkan secara terpisah, tetapi menjadi dasar bagi pendekatan epistemologis dalam semua Universitas Ibn Khaldun (Indonesi. juga menjadi pelopor dalam mengembangkan paradigma integrasi keilmuan, melalui program studi seperti sosiologi Islam, psikologi Islam, dan ekonomi syariah. Model-model seperti ini dapat direplikasi di universitas Islam lainnya untuk memperkuat basis institusional Islamisasi Di luar ranah pendidikan formal. Islamisasi ilmu juga menemukan peluang besar dalam pengembangan ekonomi Islam. Perkembangan pesat sektor keuangan syariah, termasuk perbankan syariah, asuransi syariah . , dan pasar modal syariah, menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Islam dapat diterapkan secara praktis dalam sistem ekonomi modern. Keberhasilan sistem ini tidak hanya menunjukkan relevansi nilainilai Islam dalam konteks kontemporer, tetapi juga membuka ruang bagi integrasi antara teori ekonomi modern dan ajaran Islam. Selain itu, inovasi seperti wakaf produktif dan zakat berbasis teknologi telah menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat dioperasionalkan secara efektif dalam konteks ekonomi digital dan masyarakat modern. Bidang sains dan teknologi juga diislamisasi, bukan dalam arti mengubah 16 Aslan Aslan and Dea Tara Ningtyas. AuDIALOG IDENTITAS: INTEGRASI TRADISI KEAGAMAAN LOKAL DI TENGAH ARUS BUDAYA GLOBAL,Ay Prosiding Seminar Nasional Indonesia 3, no. 2 (May 10, 2. : 71Ae80. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 metode ilmiahnya secara total, tetapi dengan memberikan orientasi etis dan tujuan spiritual terhadap pengembangan dan penerapan ilmu tersebut. Konsep seperti teknologi halal, bioteknologi syariah, dan rekayasa genetika berbasis maqashid syariah mulai berkembang dan mendapat tempat di beberapa lembaga riset dan industri. Dalam bidang astronomi, misalnya, muncul kembali minat terhadap ilmu falak sebagai bagian dari integrasi antara ilmu syariah dan sains modern dalam menentukan waktuwaktu ibadah. Inisiatif-inisiatif ini membuktikan bahwa Islamisasi ilmu tidak bertentangan dengan kemajuan pendorong untuk inovasi yang lebih etis dan berkelanjutan. Peluang strategis lainnya adalah pemanfaatan teknologi digital dan media sosial sebagai sarana penyebaran gagasan Islamisasi ilmu. Era digital telah mengubah cara manusia memperoleh, mengakses, dan membagikan informasi. Munculnya daring seperti Bayyinah TV. Islamic Online University, dan Al-Balagha Academy, membuka akses luas bagi masyarakat Muslim global untuk mempelajari konsep-konsep dasar Islamisasi ilmu secara lebih mudah dan fleksibel. samping itu, banyak jurnal ilmiah digital dan blog Islam yang menyediakan literatur penting secara terbuka, sehingga memperkaya wacana dan mendorong kolaborasi lintas negara. Dalam konteks ini, digitalisasi menjadi katalisator penyebaran ide-ide Islamisasi ilmu secara lebih luas, inklusif, dan Muhamad Fahmiyudin et AuSEJARAH SINGKAT PENDIDIKAN ISLAM (TINJAUAN KRITIS),Ay ACADEMIA: Jurnal Inovasi Selain aspek teknologi, dukungan dari lembaga-lembaga internasional juga menjadi peluang strategis yang layak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mendorong integrasi ilmu dan agama melalui berbagai program pendidikan dan riset. Forum-forum akademik seperti World Conference on Islamic Thought and Civilization dan Muslim World League juga semakin aktif membahas isu epistemologi Islam dan masa depan keilmuan umat Islam. Dukungan pemerintah negara-negara Muslim, jika diarahkan secara konsisten, dapat transformasi sistem pendidikan tinggi yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islamisasi ilmu. Aspek lain yang menjadi peluang penting adalah kebutuhan masyarakat Muslim terhadap sistem pendidikan yang lebih relevan dan bernilai. Dalam situasi dunia yang sarat krisis moral, spiritual, dan sosial, masyarakat Muslim semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh bebas nilai. Mereka menginginkan sistem pendidikan yang tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga manusia yang memiliki keutuhan Kesadaran ini dapat menjadi dorongan pendidikan dasar hingga tinggi yang mengintegrasikan sains dan agama, serta membentuk lulusan yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak mulia. Riset Akademik 5, no. 1 (May 22, 2. : 43Ae50, https://doi. org/10. 51878/academia. 18 Muhammad Nasikin. AuRekonstruksi Pendidikan Islam Di Era Society 5. 0,Ay December AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 Secara strategis untuk menerapkan Islamisasi ilmu terbuka lebar, baik dari aspek perkembangan ekonomi dan teknologi, hingga dukungan masyarakat dan lembaga internasional. Tentu saja, untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut secara maksimal, diperlukan komitmen serius dari seluruh elemen umat IslamAi terutama para intelektual, pendidik, peneliti, dan pengambil kebijakan. Islamisasi ilmu tidak dapat berjalan hanya melalui wacana atau seminar, tetapi harus dilaksanakan dalam bentuk metodologi, dan kerja sama lintas disiplin Upaya membutuhkan strategi jangka panjang, sinergi kelembagaan, serta keberanian untuk meninjau ulang sistem pendidikan dan riset yang telah terlalu lama didominasi paradigma sekuler. Jika dilaksanakan dengan tepat. Islamisasi ilmu akan mampu memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan peradaban Islam yang unggul, seimbang antara dunia dan akhirat, serta berakar kuat pada nilai-nilai tauhid dan keadilan. Di tengah krisis global yang ditandai oleh degradasi moral, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial. Islamisasi ilmu hadir sebagai tawaran peradaban yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga bermakna, manusiawi, dan transenden. Perbandingan Al-Faruqi dan Al-Attas Dalam diskursus Islamisasi ilmu, dua tokoh yang paling sering dirujuk adalah Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Meskipun keduanya memiliki visi yang sama, yaitu http://repository. id/handle/123456789/ mereformasi sistem ilmu pengetahuan agar selaras dengan prinsip-prinsip Islam, pendekatan, fokus, dan metodologi yang mereka gunakan memiliki perbedaan Perbandingan sangat penting untuk memahami dimensi konseptual dan praktis dari proyek Islamisasi ilmu, sekaligus menjadi dasar implementasi yang lebih komprehensif. Ismail Raji al-Faruqi melihat Islamisasi ilmu sebagai proyek integrasi antara ilmu modern dan nilai-nilai Islam, dengan menjadikan tauhid sebagai asas epistemologis yang menyatukan berbagai cabang ilmu. Fokus utamanya adalah pada reformasi institusi pendidikan dan pengembangan kurikulum yang mampu menjembatani ilmu agama dan ilmu Al-Faruqi menyusun dua belas langkah konkret sebagai pedoman praktis dalam melakukan Islamisasi ilmu. menekankan pentingnya penguasaan terhadap ilmu modern dan warisan Islam, kurikulum baru yang sesuai dengan worldview Islam. Di sisi lain. Syed Muhammad Naquib al-Attas lebih menekankan pada pemurnian konsep dan perbaikan makna ilmu yang telah tercemar oleh worldview sekuler Barat. Pendekatannya lebih filosofis dan spiritual, dengan fokus pada pembentukan kepribadian intelektual Muslim melalui pengembalian makna ilmu kepada kerangka tauhid. Konsep kunci dalam pemikiran al-Attas adalah adab, yakni integritas moral dan etika Andi Fitriani Djollong and Anwar Akbar. AuPERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN NILAI-NILAI TOLERANSI ANTAR UMMAT BERAGAMA PESERTA DIDIK UNTUK MEWUJUDKAN KERUKUNAN,Ay Jurnal Al-Ibrah 8, no. 1 (March 4, 2. : 72Ae92. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 dalam proses pencarian ilmu. Baginya. Islamisasi ilmu harus dimulai dari pembenahan terhadap struktur konsep dan nilai yang mendasari setiap disiplin Untuk memperjelas perbedaan perbandingan antara pemikiran AlFaruqi dan Al-Attas: Tabel Perbandingan Konsep Islamisasi Ilmu: Al-Faruqi vs Al-Attas Aspek Pendekatan Fokus Landasan Tujuan Ismail Raji al-Faruqi Integratif Ae Integrasi antara ilmu modern dan nilai Islam Tauhid Membangu Islam yang Syed Muhammad Naquib alAttas Filosofis Ae konsep ilmu Pemurnian makna ilmu dan peran adab dalam Tauhid dan adab sebagai Membangun spiritual dan Hidayatul Khasanah. Yuli Nurkhasanah, and Agus Riyadi. AuMETODE BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DALAM MENANAMKAN KEDISIPLINAN SHOLAT DHUHA PADA ANAK HIPERAKTIF NURUL ISLAM NGALIYAN SEMARANG,Ay Jurnal Ilmu Dakwah 36, no. 1Ae25, https://doi. org/10. 21580/jid. Metodologi Bidang Kritik Barat Sasaran Dua belas Islamisasi . enguasaa Pendidikan. Islam Ilmu Barat secara nilai dan perlu Kurikulum ilmu agama dan umum hakiki ilmu Rekonstruks i konsep dan istilah dalam Filsafat Islam, n karakter Ilmu Barat rusak secara Individu Muslim dan Dari tabel tersebut, terlihat bahwa Al-Faruqi menekankan aspek praktis dan struktural, sementara al-Attas lebih fokus pada dimensi konseptual dan personal. Al-Faruqi ingin membangun sistem pendidikan baru yang menyatukan berbagai cabang ilmu ke dalam satu kurikulum berbasis Islam. Sebaliknya, alAttas intelektual Muslim yang beradab, melalui pemahaman yang benar terhadap makna ilmu, serta penyucian konsep-konsep keilmuan dari pengaruh sekularisme dan humanisme Barat. 21 Prof Dr H. Nur Syam M. Si. Integrasi Ilmu Mazhab Indonesia: Studi Interdisipliner. Crossdisipliner. Multidisipliner, dan Transdisipliner (Prenada Media, 2. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 Keduanya Pendekatan Al-Faruqi sangat relevan untuk pembangunan institusi dan pengembangan kurikulum, sementara pendekatan al-Attas penting dalam kesadaran individu dalam menuntut Dalam implementasi Islamisasi ilmu yang utuh, kedua pendekatan ini melainkan dikombinasikan. Beberapa pemikiran yang dapat mendukung pernyataan tersebut antara lain: Syed Muhammad Naquib alAttas menekankan pentingnya pembentukan kepribadian Muslim yang beradab . nsan adab. melalui intelektualitas, dan etika ilmu. Menurutnya, krisis umat Islam bukan sekadar persoalan sistem, tetapi berakar pada krisis makna dan nilai yang memerlukan penataan dari dalam . nternal Ismail Raji al-Faruqi Islamisasi ilmu harus melibatkan dua aspek: rekonstruksi ilmu pengetahuan agar sesuai dengan nilai-nilai Islam, pembentukan individu Muslim yang mampu berpikir kritis, spiritual, dan produktif. Dalam manusia yang memiliki worldview Islam akan bersifat dangkal. Ziauddin Sardar, seorang pemikir bahwa Islamisasi ilmu tidak bisa hanya dilakukan dengan cara Barat menjadi istilah Arab atau Islam. mengajak kepada pendekatan yang lebih kontekstual, yaitu identitas epistemologis Muslim di tengah globalisasi. Dalam konteks tantangan global. Abdulkerim Soroush . eskipun berpandangan lebih reformislibera. , pendidikan dan pembentukan spiritualitas individual sebagai modernitas secara kritis dan Dengan merujuk pada pandanganpandangan ini, dapat disimpulkan bahwa sinergi antara reformasi sistemik dan spiritual-intelektual memang merupakan kunci strategis dalam mewujudkan Islamisasi ilmu yang tantangan zaman. Implikasi Islamisasi Ilmu di Era Modern Islamisasi ilmu bukan sekadar mengislamkan ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat, melainkan merupakan suatu visi peradaban yang bertujuan membangun sistem keilmuan yang menyeluruh, integral, dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Dalam konteks era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi informasi, dan kompleksitas sosial konsep Islamisasi ilmu memiliki berbagai implikasi yang Implikasi ini tidak hanya berdampak pada tataran pendidikan dan keilmuan, tetapi juga menyentuh sektor sosial, politik, ekonomi, bahkan arah pembangunan umat secara keseluruhan. Implikasi pertama dari Islamisasi ilmu adalah terbukanya jalan menuju AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 integrasi antara ilmu agama dan ilmu Salah satu penyakit utama pendidikan modern di dunia Islam adalah dualisme ilmu, di mana ilmu agama dianggap suci dan sakral, sementara ilmu dunia bersifat profan dan bebas nilai. Pandangan ini menyebabkan keterputusan antara dimensi spiritual dan praktikal dalam kehidupan umat Islam. Islamisasi menghilangkan dikotomi ini dengan menegaskan bahwa seluruh ilmuAibaik itu fisika, biologi, ekonomi, maupun teologi dapat dan harus berlandaskan nilai-nilai Islam. Dengan integrasi ini, umat Islam tidak lagi terjebak dalam pilihan biner antara menjadi ilmuwan melainkan dapat menjelma menjadi ilmuwan beriman yang spiritualitasnya Implikasi kedua adalah terciptanya sistem pendidikan yang membentuk . nsan Pendidikan modern sering kali hanya menekankan penguasaan keterampilan teknis dan kemampuan intelektual, tanpa memperhatikan pembinaan moral dan Dalam kerangka Islamisasi ilmu, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk manusia beradab yakni individu yang memiliki ilmu, iman, dan Hal ini sangat penting di era modern, di mana krisis moral dan disorientasi nilai semakin merajalela. Dengan menjadikan tauhid sebagai pusat sistem pendidikan. Islamisasi ilmu dehumanisasi pendidikan modern yang Dr dr Titik Kuntari MPH. KHITAN: MEMAHAMI KEBENARAN ISLAM MELALUI ILMU KEDOKTERAN MODERN (Uiipress, 2. cenderung menjadikan manusia sebagai mesin produktivitas ekonomi belaka. Implikasi pengembangan paradigma ilmu yang lebih etis dan bertanggung jawab. Salah satu kelemahan ilmu pengetahuan modern adalah klaim netralitasnya. Ilmu dianggap bebas nilai dan bertugas sekadar menjelaskan Auapa adanya,Ay bukan mempertimbangkan Auapa yang Ay Akibatnya, penemuan dan aplikasi ilmu yang justru merusak tatanan sosial dan lingkungan, eksploitasi alam, dan penyalahgunaan teknologi dalam ranah biologis. Islamisasi paradigma alternatif, yakni ilmu yang tidak bebas nilai tetapi terikat pada prinsip keadilan, keseimbangan, dan Dengan mengintegrasikan Islam pengembangan ilmu. Islamisasi ilmu mampu membangun peradaban sains yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Implikasi keempat dari Islamisasi intelektual umat Islam di tengah arus Modernitas, globalisasi, sering kali membawa nilainilai bertentangan dengan ajaran Islam. Banyak intelektual Muslim merasa inferior terhadap keunggulan sains Barat dan pada akhirnya terjebak dalam sikap imitasi tanpa kritik. Islamisasi ilmu mendorong kemandirian intelektual umat Islam dengan membangun epistemologi alternatif yang bersumber dari warisan Islam Dengan 23 Fajar Cahyadi et al. Kemanusiaan di Persimpangan Zaman: Spiritualitas. Pendidikan. Ekonomi, dan Teknologi (Cahya Ghani Recovery. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 demikian, umat Islam tidak lagi menjadi konsumen ilmu dari luar, tetapi dapat menjadi produsen ilmu yang autentik, kritis, dan berakar pada worldview Islam. Implikasi kelima adalah kesiapan umat Islam untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri. Era modern menuntut kompetensi tinggi dalam bidang sains, teknologi, dan Namun, kompetensi saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan orientasi nilai dan tujuan hidup yang Melalui pendekatan Islamisasi ilmu, umat Islam dapat menguasai sains dan teknologi tanpa harus menanggalkan keimanan dan akhlak. Seorang insinyur, dokter, atau ekonom Muslim yang menginternalisasi nilai-nilai Islam akan memanfaatkan ilmunya bukan sekadar untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk kemaslahatan umat. Dengan begitu. Islamisasi ilmu tidak menghambat kemajuan, justru memberi arah dan makna pada setiap capaian kemajuan Implikasi munculnya inovasi-inovasi berbasis nilai Islam dalam berbagai bidang keilmuan. Dalam ekonomi, lahir sistem keuangan syariah sebagai alternatif terhadap kapitalisme yang eksploitatif. Dalam sains, berkembang pendekatan penelitian menimbang manfaat dan kerusakan dari setiap eksperimen. Dalam psikologi, muncul teori-teori kepribadian Islam yang melengkapi pendekatan Barat yang Semua menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu tidak berhenti di tataran wacana, tetapi Deti Elice M. Pd et al. Pendidikan Investasi Manusia . awasan Ilmu, n. telah mulai memengaruhi praktik keilmuan secara nyata. Akhirnya, perlu ditegaskan bahwa implikasi-implikasi tersebut tidak akan komitmen kuat dari seluruh elemen umat Islam terutama para akademisi, pendidik. Islamisasi ilmu memerlukan langkahlangkah konkret, seperti reformasi pengembangan metodologi riset Islami, serta penyediaan sumber daya akademik yang memadai. Sinergi antara lembaga pendidikan, institusi keagamaan, dan pemerintah sangat diperlukan agar proyek Islamisasi ilmu tidak hanya menjadi idealisme, tetapi benar-benar mengakar dan memberi dampak nyata bagi umat. Kesimpulan Islamisasi respons strategis umat Islam terhadap krisis epistemologi yang ditimbulkan oleh dominasi paradigma sekuler dalam dunia pendidikan dan keilmuan modern. Dalam sistem ilmu Barat, aspek spiritual, etika, dan transendental sering kali dikotomi antara ilmu agama dan ilmu Konsekuensinya, umat Islam mengalami disorientasi intelektual dan kehilangan integritas keilmuan yang seharusnya berlandaskan pada tauhid. Islamisasi ilmu hadir untuk menjawab persoalan ini dengan cara membangun sistem pengetahuan yang integral dan Fenny Prezita et al. AuTANTANGAN KAPABILITAS SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL,Ay Jurnal Manejemen. Akuntansi Dan Pendidikan. July 17, 297Ae304, https://doi. org/10. 59971/jamapedik. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 pengalaman sebagai sumber ilmu yang Pemikiran dua tokoh utama Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas menjadi fondasi penting dalam pengembangan konsep Islamisasi Al-Faruqi menekankan integrasi ilmu modern dengan nilai-nilai Islam melalui rekonstruksi kurikulum dan reformasi kelembagaan pendidikan. dengan prinsip tauhid sebagai basis epistemologi dan menyusun langkahlangkah konkret untuk penerapannya. Sementara al-Attas menitikberatkan pada pemurnian makna ilmu dari pengaruh worldview Barat serta pentingnya adab sebagai fondasi Baginya. Islamisasi ilmu adalah proses filosofis dan spiritual yang mengembalikan ilmu kepada kehormatan dan orientasi transendennya. Namun, penerapan Islamisasi ilmu Tantangan dihadapi sangat kompleks, mulai dari keterbatasan metodologi riset Islami, dualisme kurikulum pendidikan, hingga lemahnya dukungan kelembagaan dan kebijakan negara. Di sisi lain, globalisasi dan westernisasi turut memperkuat arus pemikiran yang bertentangan dengan prinsip Islamisasi ilmu. Meskipun demikian, terdapat peluang besar untuk membumikan konsep ini. Kesadaran perkembangan universitas Islam dengan teknologi digital, dan berkembangnya ekonomi syariah menjadi faktor penting dalam mendukung penerapan Islamisasi ilmu di berbagai bidang. Islamisasi ilmu memiliki implikasi luas, baik dalam aspek pendidikan, sosial, menghapus dikotomi ilmu, membentuk manusia yang utuh secara intelektual dan spiritual, serta memberikan arah etis dan transendental bagi kemajuan sains dan Dalam Islamisasi ilmu dapat menjadi pondasi bagi kebangkitan peradaban Islam yang unggul, berakar pada nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kemaslahatan umat. Dengan demikian. Islamisasi ilmu adalah proyek jangka panjang yang memerlukan sinergi seluruh elemen umat Islam akademisi, ulama, pendidik, dan pembuat kebijakan. Tanpa komitmen kolektif, gagasan besar ini hanya akan menjadi wacana teoritis. Namun dengan keseriusan dan langkah strategis yang terencana. Islamisasi ilmu dapat menjadi pijakan utama dalam membangun masa depan peradaban Islam yang lebih adil, bermartabat, dan berdaya saing global. Daftar Pustaka Achmad. Nurjanah. Mustaffa Abdullah, and Mohamad Azrien Mohd Adnan. AuPemerkasaan Pengajian Al-QurAoan Di Perguruan Tinggi Agama Islam (Pta. Di Indonesia: Kajian Di Institut Ilmu Al-QurAoan (Ii. Jakarta: Empowerment of Quranic Studies in Islamic Higher Education Institutions (PTAI) in Indonesia: A Study at the Institute of Quranic Sciences (IIQ) Jakarta. Ay ALBASIRAH JOURNAL 12, no. (June 70Ae82. https://doi. org/10. 22452/basirah. Amin. Muhammad Syarifuddin. Muhammad Yusron Maulana ElYunusi, and Didit Darmawan. AuPengaruh Lingkungan Sosial. AL-HIKMAH. Volume. Nomor 2. Juli 2025 Rutinitas Membaca Al-QurAoan Dan Prestasi Belajar Pai Terhadap Akhlak Peserta Didik MTs Muhyidin Keputih Surabaya. Ay Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 22, no. 03 (October 31, 2. : 225Ae32. https://doi. org/10. 36835/jipi. Anggraeni. Dea Dwi. Fadila Alifa Dalilati. Ziyad Muhamad Ridho. Oumar Bagayoko, and Abdul Azis. AuPERSPEKTIF MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DAN EPISTEMOLOGI ILMU DALAM INTEGRASI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN. Ay Sindoro: Cendikia Pendidikan 15, no. (June 21Ae30. https://doi. org/10. 99534/bs67dp1 Aslan. Aslan, and Dea Tara Ningtyas. AuDIALOG IDENTITAS: INTEGRASI TRADISI KEAGAMAAN LOKAL TENGAH ARUS BUDAYA GLOBAL. Ay Prosiding Seminar Nasional Indonesia 3, no. 2 (May 10, 2. : 71Ae80. Aziz. Abdul. Abdun Nafi. Eva Yuniarti Utami. Dito Anurogo. Muchamad Arif Kurniawan. Rahmawati Alwi. Fuad Ahmad RivaAoi. Manajemen Pendidikan Islam: Filosofi. Konsep Dasar. Implementasi Praktis. Pustaka