Vol. No. 1, 2024, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202525558 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Pemetaan permasalahan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik di sekolah dasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era kurikulum merdeka Saufa Yusyfia*). Iin Purnamasari. Prasena Arisyanto Universitas PGRI Semarang. Indonesia Article Info ABSTRAK Article history: Sebelum merancang dan merencanakan pembelajaran, guru perlu melaksanakan asesmen diagnostik pada peserta didik yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal dan karakteristik peserta didik. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat kesenjangan antara kebijakan asesemen diagnostik yang ditetapkan oleh pemerintah dan praktik di lapangan, khususnya di Kelompok Kerja Guru (KKG) Dewi Sartika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan asesmen diagnostik di KKG Dewi Sartika secara sistematis dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, kuesioner dan studi dokumentasi, kemudian memverifikasi data dengan triangulasi teknik dan member check, sehingga data yang dihasilkan akan lebih akurat. Hasil dari penelitian menunjukan guru di KKG Dewi Sartika telah melaksanakan asesmen diagnostik dengan menggunakan metode yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik peserta didik namun tidak semua secara sistematis. Selama pelaksanaan guru mengalami permasalahan, seperti: . keterbatasan pemahaman secara mendalam mengenai asesmen diagnostik, di antaranya: . 25% guru memiliki pengetahuan terbatas mengenai metode yang tepat untuk digunakan dalam melaksanakan asesmen, . 33% guru merasa kesulitan dalam menyesuaikan soal yang sesuai dengan peserta didik kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), . 83% guru belum sepenuhnya memahami cara menganalisis dan menindaklanjuti hasil asesmen diagnostik untuk merancang pembelajaran yang sesuai. 83% guru mengalami keterbatasan waktu dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Permasalahan ini menyebabkan hasil asesmen diagnostik tidak akurat dan berdampak pada perencanaan pembelajaran. Masalah yang muncul disebabkan kurangnya sosialisasi dan pelatihan, sehingga peningkatan kompetensi guru sangat Received Jun 20th, 2025 Revised Aug 25th, 2025 Accepted Mar 24th, 2025 Keyword: Asesmen diagnostik Pembelajaran Guru sekolah dasar Kualitatif Studi kasus A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Saufa Yusyfia. Universitas PGRI Semarang Email: saufayusyfia2103@gamil. Pendahuluan Asesmen sebagai bagian terpadu yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Selain itu, asesmen juga mendukung fasilitasi dan menyediakan informasi holistik mengenai peserta didik. Asemen tidak hanya Pemetaan permasalahan guru dalam melaksanakan asesmenA memberikan umpan balik konstruktif bagi guru dalam perencanaan pembelajaran, tetapi juga membantu peserta didik mengetahui area yang perlu diperbaiki, dan bagi orang tua untuk memahami perkembangan Sebagaimanaa dinyatakan oleh Nasution . , asesmen adalah suatu kegiatan sistematis dan berkesinambungan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang proses kegiatan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan yang tepat mengenai berbagai aspek pendidikan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Arifuddin et al. , . alam Widiawati. Wahyuningtyas, dan Indri, 2020: . , mengemukakan bahwa asesmen pembelajaran merupakan suatu alat yang krusial untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Menurut Budiono dan Hatip . , hasil asesmen berfungsi untuk mengetahui kebutuhan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dalam rangka pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan di awal. Kurikulum merdeka membebaskan guru dan peserta didik dalam mengeksplorasi pengetahuan, sikap dan keterampilan dari lingkungan. Sehingga, penerapan kebijakan merdeka belajar menuntut guru berperan sebagai fasilitator dalam pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran oleh kemampuan dan kompetensi guru. Astuti . 3: . menyampaikan bahwa guru merupakan pilar pendidikan, yang berperan strategis dalam keberhasilan pendidikan. Sehingga, seiring perkembangan zaman kompetensi guru seharusnya perlu ditingkatkan. Zhan et al. , . alam Azis dan Lubis, 2023: . menyatakan bahwa salah satu bentuk asesmen dalam Kurikulum Merdeka adalah asesmen diagnostik. Diagnosis yang tepat membantu dalam mengidentifikasi kendala belajar peserta didik dan merancang pendekatan yang efektif (Karlina et, al: 2. Asesmen ini dilakukan pada awal tahun pembelajaran, pada pembukaan lingkup materi, sebelum merencanakan modul secara mandiri (Perbukuan Kemendikbudristek, 2. Asesmen diagnostik adalah asesmen yang dilakukan dengan spesifik guna mengidentifikasi kekuatan, kelemahan dan kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga nantinya pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kondisi dan kompetensi peserta didik (Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2. Berdasarkan buku Panduan pembelajaran dan asesmen pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Halaman . pelaksanaan asesmen diagnostik dilakukan untuk menentukan fase pada peserta didik sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Setiap Lembaga pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka diwajibkan untuk melaksanakan asesmen diagnostik (Azis & Lubis, 2. Asesmen diagnostik terbagi menjadi dua, yaitu asesmen diagnostik kognitif dan asesmen diagnostik non kognitif (Asrijanty, 2. Asesmen diagnostik kognitif bertujuan untuk menggali informasi tentang sejauh mana peserta didik menguasai pengetahuan terkait materi pelajaran (Alfansyur & Mariyani, 2020:. Selanjutnya, pembelajaran di kelas disesuaikan dengan kompetensi rata-rata peserta didik dan memberikan pelajaran tambahan kepada peserta didik yang memiliki kompetensi dibawah rata-rata (Nugroho et al. Sedangkan tujuan asesmen diagnostik non kognitif adalah mengumpulkan informasi mengenai aspek psikologis dan kondisi emosional setiap peserta didik sebelum pembelajaran berlangsung (Hati, 2. Informasi terkait latar belakang keluarga, school readiness . esiapan belaja. , motivasi belajar, dan minat yang dimiliki peserta didik dapat digunakan untuk bahan pertimbangan dalam merencanakan dan merancang pembelajaran (Sufyadi et al. , 2. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan beberapa metode asesmen, seperti tes, observasi, atau wawancara untuk mengumpulkan informasi peserta didik (Setiawan. Nuri & Faoziyah, 2. Menurut Rakhmi et al. , . menyatakan bahwa dari pengetahuan tentang tingkat kognitif dan karakteristik peserta didik, akan lebih mudah bagi guru untuk menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik. Menurut Anggraena et al. , . mengemukakan bahwa asesmen diagnostik dapat disusun melalui beberapa tahapan. Pertama, melakukan analisis terhadap laporan hasil belajar peserta didik tahun Kedua, mengidentifikasi kompetensi yang akan diajarkan. Ketiga, menyusun instrumen asesmen diagnostik kognitif. Keempat, menyusun instrumen asesmen diagnostik non kognitif. Kelima, melaksanakan dan mengolah hasil asesmen diagnostik. Keenam, hasil asesmen diagnostik digunakan sebagai acuan untuk merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik peserta Pelaksanaan asesmen diagnostik di sekolah dasar ternyata masih ditemukan beberapa permasalahan, tidak sering guru menerapkan asesmen tersebut untuk peserta didik. Ardianti & Amalia . mengutarakan bahwa guru sekolah dasar mengalami kesulitan untuk menyusun asesmen diagnostik. Tidak banyak guru yang menguasai penyusunan instrumen asemen diagnostik. Sayekti . Selanjutnya Alimuddin . mengemukakan bahwa asesmen diagnostik di sekolah dasar belum dilaksanakan dengan baik dikarenakan pemahaman yang dimiliki guru masih kurang. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Yusyfia. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2024, pp. Laporan yang diterbitkan oleh website Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Provinsi Jawa Tengah pada 15 Agustus 2024 mengangkat permasalahan yang dihadapi guru di SMK Negeri 10 Semarang dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Guru sering kali memiliki beban mengajar yang padat, sehingga sulit untuk meluangkan waktu yang cukup untuk merancang dan melaksanakan asesmen diagnostik secara Selain itu, keterbatasan sumber daya juga menjadi masalah bagi guru, karena tidak semua sekolah memiliki akses yang sama terhadap perangkat lunak, alat ukur, atau materi ajar yang diperlukan untuk melaksanakan asesmen diagnostik dengan baik. Penelitian Insani. Nuroso, dan Purnamasari . menyampaikan saran terkait analisis hasil asesmen diagnostik sebagai dasar pembelajaran berdiferensiasi. Guru wajib melakukan asesmen diagnostik kognitif atau non kognitif sebelum mengajar untuk mengetahui kebutuhan belajar peserta didik sehingga guru dapat memetakan kelompok berdasarkan kesiapan belajar, minat dan gaya belajar. Penelitian Laulita. Marzoan, dan Rahayu . menunjukkan bahwa. 40, 91% guru belum memahami dengan baik pelaksanakan asesmen diagnostik. dan guru tidak pernah mengikuti sosialisasi dan pelatihan terkait asesmen diagnostik. Berdasarkan pada data- data yang ditemukan dapat diketahui bahwa guru-guru belum siap menggunakan asesmen diagnostik. Guru-guru masih memerlukan sosialisasi dan pelatihan tentang asesmen diagnostik. Apabila guru masih mengalami permasalahan dalam pelaksanaan asesmen diagnostik, maka akan berdampak pada rancangan pembelajaran yang akan dibuat guru. Karena pada kurikulum merdeka, sebelum guru merancang pembelajaran harus terlebih dahulu memahami peserta didik melalui asesmen Alasan penggunaan laporan dan jurnal-jurnal tersebut karena relevan dalam mendukung penelitian ini. Sebelum melakukan penelitian mendalam, peneliti melakukan wawancara pra penelitian yang dilakukan kepada ketua dan enam kepala sekolah di Kelompok Kerja Guru (KKG) Dewi Sartika Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang menunjukan bahwa belum diketahui apakah asesmen diagnostik ini sudah terlaksana dengan baik dan permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik, berikut hasil wawancara awal: Tabel 1. Tabel Informan Informan Kepala SD Kristen 1 YSKI Kepala SD Santo Antonius 01 Kepala SD Negeri Lamper Lor Kepala SD Negeri Wonodri Kepala SD Negeri Pleburan 03 Kepala SD Negeri Peterongan Kode Sumber : Wawancara, 23 Agustus 2024 Berdasarkan hasil wawancara awal dengan ketua dan enam kepala sekolah di KKG Dewi Sartika Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang yang dilaksanakan pada 23 Agustus 2024 terkait pelaksanaan asesmen diagnostik diperoleh kesimpulan bahwa di KKG Dewi Sartika memiliki kondisi yang sama, yaitu melakukan peralihan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka, mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara bertahap sesuai kebijakan pemerintah dan beberapa guru sudah melaksanakan asesmen diagnostik secara sistematis, tetapi guru belum mendapatkan sosialisasi dan pelatihan khusus terkait pelaksanaan asesmen diagnostik. Guru hanya mengandalkan Platfroam Merdeka Mengajar (PPM) sebagai acuan pelaksanaan asesmen diagnostik. Melihat pentingnya pelaksanaan asesmen diagnostik sebelum proses pembelajaran, dugaan awal dari penelitian ini adalah terdapat variasi penggunaan metode oleh guru yang dipengaruhi oleh pengalaman mengajar dan guru diperkirakan menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya sumber daya dan waktu yang memadai. Berdasarkan uraian pada pendahuluan ini, maka peneliti menganggap perlu dilakukan penelitian pada pelaksanaan dan permasalahan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik di KKG Dewi Sartika. Penelitian ini penting untuk mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan asesmen diagnostik di KKG Dewi Sartika secara sistematis dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Peneliti akan mengkaji pelaksanaan asesmen diagnostik di KKG Dewi Sartika dan membuat pola permasalahan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Penelitian ini memiliki manfaat, yaitu bagi guru dalam meningkatkan keterampilan asesmen diagnostik, bagi sekolah dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif, dan bagi kebijakan pendidikan Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pemetaan permasalahan guru dalam melaksanakan asesmenA dalam merancang program pelatihan bagi guru. Hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi praktis untuk meningkatkan kompetensi guru, mengatasi permasalahan asesmen diagnostik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran di era Kurikulum Merdeka. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan masukan bagi kebijakan pendidikan di tingkat lokal, sehingga berkontribusi positif terhadap perkembangan pendidikan di lingkungan KKG Dewi Sartika. Metode Jenis Penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Alasan peneliti menggunakan metode ini adalah peneliti bermaksud memahami situasi secara mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Pendekatan studi kasus sangat relevan dengan penelitian ini karena fokusnya pada satu objek yang dapat membantu peneliti menganalisis konteks dan mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai realitas yang ada di lapangan. Menurut Assyakurrohim et al. , . menyatakan bahwa tugas peneliti studi kasus adalah menggali sesuatu yang tidak terlihat menjadi pengetahuan yang terlihat. Dalam penelitian kualitatif, kealamian menjadi fokus Peneliti akan terlibat secara langsung dengan subjek penelitiannya untuk mendapatkan data (Yusanto, 2. Penelitian ini dilaksanakan di SD Kelompok Kerja Guru (KKG) Dewi Sartika yang merupakan salah satu gugus yang terdapat di Kecamatan Semarang Selatan. Kota Semarang. Provinsi Jawa Tengah. Kelompok Kerja Guru Dewi Sartika terdiri dari dan 2 SD swasta yaitu. SD Kristen 1 YSKI SD dan Santo Antonius 01 dan 4 SD Negeri, yaitu SD Negeri Lamper Lor. SD Negeri Wonodri. SD Negeri Pleburan 03, dan SD Negeri Peterongan. Sumber data penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru kelas I. II. IV dan V guru di KKG Dewi Sartika Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang. Hasil wawancara awal dengan ketua dan enam kepala sekolah KKG Dewi sartika, menyatakan bahwa di KKG Dewi Sartika belum pernah mengadakan sosialisasi dan pelatihan pelaksanaan asesmen diagnostik, guru hanya mengandalkan Platfroam Merdeka Mengajar (PMM) sebagai pedoman pelaksanaan asesmen diagnostik. Sumber data dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan memilih kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, guru kelas I dan II sebagai perwakilan guru kelas rendah, dan guru kelas IV dan V sebagai perwakilan guru kelas tinggi. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu merancangan pertanyaan sesuai dengan tujuan penelitian kemudian melakukan wawancara yang bersifat semi-terstruktur kepada kepala sekolah dan guru, untuk mendapatkan informasi terkait implementasi asesmen diagnostik. pengisian kuesioner melalui google form oleh guru kelas I. II. IV dan V guru di KKG Dewi Sartika. Kuesioner ini dirancang untuk mendapatkan pandangan dan pengalaman guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik, dimulai dengan bagian demografis, dilanjutkan dengan pertanyaan yang mengacu pada fokus peneltian, dan diakhiri dengan ucapan terimakasih. dan dokumentasi, seperti lembar asesmen diagnostik dan modul ajar yang sesuai dengan asesmen diagnostik untuk memperoleh informasi, pengetahuan, keterangan dan bukti yang kuat dari penelitian. Data yang diperoleh dari wawancara, kuesioner dan dokumentasi dianalisis dengan langkah analisis data kualitatif menurut model Miles dan Huberman dalam Sugiyono . 2: . melalui beberapa tahap, yaitu: . Pengumpulan data: kegiatan mencari data yang diperoleh dari hasil wawancara, kuesioner, dan dokumentasi terkait pelaksanaan dan permasalahan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik, . Reduksi data: merangkum dan memilih hal-hal pokok data mentah yang muncul dari hasil wawancara, kuesioner dan pencermatan dokumentasi untuk difokuskan pada kesesuaian tujuan penelitian. Reduksi data merujuk pada proses penyempitan data mentah yang telah dikumpulkan, sehingga lebih mudah dipahami. Proses reduksi data dilakukan menggunakan teknik axial coding, . Penyajian data: peneliti menyusun informasi data yang telah direduksi mengenai pelaksanaan asesmen diagnostik dan menyajikan pola permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik, dan . Penarikan kesimpulan, peneliti menarik kesimpulan dari data hasil penelitian yang sudah dikumpulkan. Hasil penelitian ini memaparkan informasi terkait telah atau belum terlaksana asesmen diagnostik sebelum pembelajaran beserta alasannya dan permasalahan yang dihadapi guru di KKG Dewi Sartika dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Keabsahan data dilakukan untuk mengetahui ketetapan, kebenaran dan kesesuaian respon partisipan. Untuk menjamin keabsahan data pada penelitian ini, maka dalam uji keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi teknik dan member check. Penggunaan teknik digunakan untuk menguji kredibilitas dengan cara memverifikasi data yang diperoleh melalui metode yang berbeda-beda (Permatasari et al. , 2021:3. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Yusyfia. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2024, pp. Keterbatasan penelitian ini adalah hanya berfokus pada KKG Dewi Sartika, sehingga temuan yang dihasilkan hanya relevan untuk konteks tersebut. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak dapat diterapkan secara luas pada sekolah-sekolah lain yang memiliki kondisi berbeda dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Prinsip etika yang diterapkan peneliti, meliputi peneliti memasuki lapangan dengan memperhatikan tata tertib, keakraban, menghormati, dan mampu menyesuaikan diri agar tercipta rasa nyaman saat penelitian berlangsung. Selain itu, peneliti mengumpulkan data dengan merencanakan waktu dan data yang dibutuhkan serta memastikan bahwa data yang dikumpulkan tidak disalahgunakan. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan Asesmen Diagnostik Zhan et al. , . alam Azis dan Lubis, 2023: . menyatakan bahwa salah satu bentuk asesmen dalam Kurikulum Merdeka adalah asesmen diagnostik. Setiap Lembaga pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka diwajibkan untuk melaksanakan asesmen diagnostik (Azis & Lubis, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan 30 informan dan kuesioner yang telah diisi 24 reponden terkait pelaksanaan asesmen diagnostiK di KKG Dewi Sartika diketahui bahwa dengan menggunakan metode yang berbeda-beda, guru sudah melaksanakan asesmen diagnostik. Pelaksanaan asesmen diagnostik di SD Kelompok Kerja Guru (KKG) Dewi Sartika bertujuan untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan peserta didik dalam kemampuan awal dan karakteristik. Asesmen ini dilaksanakan menggunakan berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Berikut gambar diagram metode yang digunakan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik: Gambar 1 Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa metode yang digunakan oleh guru antara lain observasi, wawancara, tanya jawab, penilaian antar teman, dan soal kuesioner. Melalui observasi, guru dapat memperoleh informasi mengenai perilaku dan keterampilan peserta didik, sementara wawancara dan tanya jawab digunakan untuk menggali lebih dalam mengenai pemahaman dan karakteristik peserta didik. Penilaian antar teman menjadi metode lain yang digunakan untuk menilai kemampuan sosial dan kerjasama antar peserta didik. Sementara itu, penggunaan kuesioner soal dimaksudkan untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kemampuan akademik dan kondisi psikologis peserta didik, seperti kebiasaan belajar di rumah dan situasi keluarga. Mayoritas guru menggunakan metode observasi dalam pelaksanaan asesmen Guru melaksanakan asesmen diagnostik di awal pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal, gaya belajar, minat, dan karakteristik peserta didik. Sebagai contoh, di SD Kristen 1 YSKI, asesmen diagnostik dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru kelas. Di SD Santo Antonius 01, asesmen ini digunakan untuk mengetahui kemampuan akademik dan karakteristik peserta didik. Sementara itu, di SD Negeri Lamper Lor, semua guru diinstruksikan untuk menyusun asesmen diagnostik baik kognitif maupun non-kognitif guna menggali lebih dalam mengenai kemampuan dan karakteristik peserta didik. Pentingnya pelaksanaan asesmen diagnostik ini, memfokuskan guru agar dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi awal peserta didik dan merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini sejalan dengan saran penelitian oleh Insani. Nuroso, dan Purnamasari Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pemetaan permasalahan guru dalam melaksanakan asesmenA . menyampaikan saran terkait analisis hasil asesmen diagnostik sebagai dasar pembelajaran berdiferensiasi bahwa guru wajib melakukan asesmen diagnostik kognitif atau non kognitif sebelum mengajar untuk mengetahui kebutuhan belajar peserta didik sehingga guru dapat memetakan kelompok berdasarkan kesiapan belajar, minat dan gaya belajar. Namun, pada data studi dokumentasi peneliti 67% guru tidak memiliki berkas asesmen diagnostik, hal ini ditemukan pada kejadian guru merasa melaksanakan asesmen diagnostik dengan memberikan pertanyaan secara lisan dan melakukan observasi peserta didik tanpa ditemukan adanya berkas pelaksanaan asesmen diagnostik. Situasi ini menunjukkan bahwa telah terjadi miskonsepsi pemahaman asesmen diagnostik oleh guru, guru merasa sudah melaksanakan asesmen diagnostik tetapi belum sesuai dengan konsep pelaksanaan asesmen Permasalahan yang Dihadapi Guru dalam Melaksanakan Asesmen Diagnostik Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya asesmen diagnostik. Namun masih banyak guru mengalami permasalahan dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Guru di KKG Dewi Sartika masih memiliki keterbatasan dalam pemahaman secara mendalam mengenai asesmen diagnostik, seperti 25% guru memiliki pengetahuan terbatas mengenai metode yang tepat untuk digunakan dalam melaksanakan asesmen, 8. guru merasa kesulitan dalam menyesuaikan soal yang sesuai dengan peserta didik kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), dan 45. 83% guru belum sepenuhnya memahami cara menganalisis dan menindaklanjuti hasil asesmen diagnostik untuk merancang pembelajaran yang sesuai. Pada saat guru menggunakan metode tanya jawab dan wawancara dalam pelaksanaan asesmen diagnostik beberapa peserta didik tidak terbuka atau merasa malu untuk menjawab pertanyaan. Ketidakterbukaan peserta didik dipengaruhi oleh perbedaan kondisi psikologis sehingga berpengaruh pada cara peserta didik berinteraksi dalam asesmen diagnostik. Keterbatasan waktu dalam pelaksanaan asesmen diagnostik menjadi salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh guru di KKG Dewi Sartika. 83% guru mengalami keterbatasan waktu dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Waktu yang tersedia dalam kegiatan pembelajaran seringkali tidak memadai untuk melaksanakan asesmen diagnostik secara komprehensif, karena terbatasnya waktu untuk menyampaikan materi dan menjalankan kegiatan pembelajaran lainnya. Hal ini menyebabkan asesmen diagnostik yang dilakukan terburu-buru atau tidak menyeluruh, sehingga data yang diperoleh tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi peserta didik yang sebenarnya. Adanya permasalahan yang dihadapi guru menyebabkan hasil asesmen diagnostik tidak dapat memberikan gambaran yang akurat mengenai kemampuan awal dan karakteristik peserta didik, sehingga berdampak pada rencana dan rancangan pembelajaran. Permasalahan yang muncul dipengaruhi oleh guru tidak mendapatkan sosialisasi dan pelatihan khusus dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Menurut Darling-Hammond. alam Wardani dan Budiadnya, 2023: . guru tidak hanya berperan sebagai pengajar yang memberikan informasi, tetapi juga harus bisa membantu peserta didik dengan berbagai latar belakang untuk belajar, bahkan terhadap materi yang rumit. Sebelumnya guru hanya diharapkan bisa mempersiapkan sekelompok kecil peserta didik untuk berpikir secara intelektual, sekarang guru dituntut untuk membimbing semua peserta didik agar mampu berpikir kritis dan menunjukkan kemampuan peserta Oleh karena itu, penting bagi guru meningkatkan kompetensi dalam pelaksanaan asesmen diagnostik. Guru perlu beperan aktif untuk mengembangkan diri secara mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM), ikut serta dalam pelatihan, seminar atau sumber lainnya (Sugiarto et al. , 2. Sehingga, mencapai pembelajaran yang sesuai akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di era Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian terkait permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik sejalan dengan laporan yang diterbitkan oleh website Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Provinsi Jawa Tengah pada 15 Agustus 2024 mengangkat permasalahan yang dihadapi guru di SMK Negeri 10 Semarang dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Guru sering kali memiliki beban mengajar yang padat, sehingga sulit untuk meluangkan waktu yang cukup untuk merancang dan melaksanakan asesmen diagnostik secara Selain itu, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Laulita. Marzoan, dan Rahayu . tentang kesiapan guru dalam mengimplementasikan asesmen diagnostik menunjukkan bahwa. 40, 91% guru belum memahami dengan baik pelaksanaan asesmen diagnostik. guru tidak pernah mengikuti sosialisasi dan pelatihan terkait asesmen diagnostik. Berdasarkan pada datadata yang ditemukan dapat diketahui bahwa guru-guru belum siap menggunakan asesmen diagnostik. Guruguru masih memerlukan sosialisasi dan pelatihan tentang asesmen diagnostik. Selanjutnya permasalahan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik dirumuskan sebagai temuan pokok dalam kegiatan penelitian yang disajikan dalam pola permasalahan yang dihadapi guru di KKG Dewi Sartika dalam melaksanaan asesmen diagnostik sebagaimana gambar 2. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Yusyfia. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2024, pp. Gambar 2 Dari gambar 2 tersebut diketahui bahwa guru mengalami permasalahan dalam melaksanakan asesmen diagnostik di antaranya: . Keterbatasan pemahaman guru secara mendalam mengenai pelaksanaan asesmen diagnostik, seperti guru memiliki pengetahuan terbatas mengenai metode yang tepat untuk digunakan dalam melaksanakan asesmen, kesulitan menyesuaikan soal peserta didik kategori ABK, kesulitan menganalisis dan menidaklanjuti hasil asesmen diagnostik. Keterbatasan waktu dalam melaksanakan asesmen diagnostik. Simpulan Mengetahui kemampuan dan karakteristik peserta didik sangat penting bagi guru untuk dapat merancang dan merencanakan pembelajaran yang sesuai, sehingga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus melaksanakan asesmen diagnostik secara sistematis. Permasalahan guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik sangat beragam. Beberapa saran yang peneliti sampaikan, sebagai berikut: . Guru perlu mengikuti sosialisasi dan pelatihan asesmen diagnostik dan lebih disiplin dalam mendokumentasikan setiap pelaksanaan asesmen diagnostik. Pihak sekolah perlu mendukung pelaksanaan asesmen diagnostik dengan membangun budaya dokumentasi dan melakukan pemantauan pelaksaan asesmen diagnostik. Kebijakan Pemerintah melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) Dewi Sartika perlu mengadakan sosialisasi dan pelatihan terkait pelaksanaan asesmen diagnostik. Dengan saran tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam pelaksanaan asesmen diagnostik, sehingga permasalahan asesmen diagnostik dapat teratasi dan asesmen diagnostik dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, serta dapat meningkatakan kualitas pembelajaran di era Kurikulum Merdeka ini. Referensi