Room of Civil Society Development DOI: https://doi.org/10.59110/rcsd.750 Volume 4 Issue 5, Year 2025 Edukasi Kesehatan Permasalahan Remaja Reproduksi sebagai Upaya Preventif Muhamad Iqbal Rhamadianto1*, Nusaibah Mar’atush Shalihah2 1Universitas Muhammadiyah Bandung, Bandung, Indonesia 2Puskesmas Bambanglipuro, Bantul, Indonesia *Correspondence: miqbalrhamadianto@umbandung.ac.id ABSTRACT This study aims to evaluate the effectiveness of a participatory approach in reproductive health education for new students at SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. The approach was implemented through interactive lectures, group discussions, case studies, role-play simulations, and personal reflections covering topics such as puberty, adolescent challenges, and healthy communication. An evaluative design was employed by measuring the average pre-test and post-test scores. The results indicated a significant improvement in every session, with score increases ranging from 2.7 to 3.4 points. The highest gain was recorded in the third session using role-play and case study methods. In addition to cognitive improvement, the participatory approach was also effective in developing students’ social skills, self-confidence, and assertive attitudes in dealing with reproductive health issues. The variation in students’ levels of understanding highlights the need for additional support through peer educators and mentoring. These findings confirm that participatory-based reproductive health education not only enhances knowledge but also strengthens social skills and positive attitudes among adolescents. Therefore, this approach is recommended to be sustainably integrated into the school curriculum with support from cross-sector collaboration between teachers, health professionals, and parents. Keywords: Adolescents; Assertive; Participatory; Reproductive Health; Social Skills. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pendekatan partisipatif dalam edukasi kesehatan reproduksi pada siswa baru SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Pendekatan ini diterapkan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi peran, dan refleksi personal dengan topik pubertas, tantangan remaja, serta komunikasi sehat. Penelitian menggunakan desain evaluatif dengan pengukuran skor rata-rata pre-test dan post-test. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada setiap sesi, dengan kenaikan skor antara 2,7 hingga 3,4 poin. Peningkatan tertinggi tercatat pada sesi ketiga yang menggunakan metode role play dan studi kasus. Selain peningkatan pengetahuan, pendekatan partisipatif juga terbukti efektif dalam membangun keterampilan sosial, rasa percaya diri, dan sikap asertif siswa dalam menghadapi isu kesehatan reproduksi. Variasi tingkat pemahaman antar siswa mengindikasikan perlunya pendampingan tambahan melalui peer educator dan mentoring sebaya. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi berbasis partisipasi tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan sikap positif remaja. Oleh karena itu, pendekatan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan secara berkelanjutan dalam kurikulum sekolah dengan dukungan kolaborasi lintas sektor antara guru, tenaga kesehatan, dan orang tua. Kata Kunci: Asertif; Kesehatan Reproduksi; Keterampilan Sosial; Partisipatif; Remaja. Copyright © 2025 The Author(s): This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) 769 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development 1. Pendahuluan Transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja berkaitan dengan perubahan fisik, emosional, kognitif, dan sosial yang signifikan. Fase ini ditandai oleh perkembangan dinamis di mana interaksi dengan lingkungan berperan dalam membentuk kesejahteraan dan kesehatan individu (Gniewosz & Gniewosz, 2020). Pada periode ini, perubahan hormonal, metabolisme, serta perilaku tertentu mulai terbentuk yang kemudian menentukan identitas emosional, sosial, dan budaya seseorang (Mastorci et al., 2024). Di Indonesia, tingkat literasi kesehatan reproduksi remaja masih tergolong rendah, baik dari sisi pemahaman konsep dasar maupun perilaku reproduktif yang sehat dan bertanggung jawab (Saparini et al., 2023). Data Kementerian Kesehatan (2025) menunjukkan tingginya kasus HIV, sifilis, dan gonore pada usia muda. Data ini menegaskan bahwa pembahasan kesehatan reproduksi masih dianggap tabu, sehingga tidak memperoleh porsi yang cukup baik di sekolah maupun keluarga. Kondisi ini memperlihatkan perlunya pendekatan edukasi yang lebih interaktif dan relevan dengan kehidupan remaja (Amanda & Adhari, 2024). Hal ini sejalan dengan temuan Elna et al. (2025) yang menekankan pentingnya inovasi program kesehatan reproduksi remaja melalui edukasi dan layanan terpadu untuk menunjang kesehatan seksual. Selain itu, data BKKBN menunjukkan hampir 16% remaja perempuan mengalami kehamilan tidak direncanakan (Hastuti et al., 2021). Kondisi ini mengindikasikan keterbatasan pendekatan komunikasi satu arah yang cenderung gagal menjangkau realitas remaja (Augsberger et al., 2018). Sejumlah penelitian juga mengungkapkan bahwa pendekatan partisipatif lebih efektif dalam memberikan ruang bagi remaja untuk berdialog, berdiskusi, dan merefleksikan isu kesehatan reproduksi. Astutik et al. (2019) membuktikan bahwa keterlibatan aktif siswa dapat memperkuat efikasi diri dan sikap reflektif, sementara Laili et al. (2025) menekankan efektivitas pendekatan psikoedukatif komunitas bagi remaja putri. Penelitian Ramadhaniati et al. (2023) menemukan bahwa keterlibatan guru dan teman sebaya dapat memperluas interaksi dan meningkatkan keterbukaan siswa. Namun, sebagian besar studi masih berfokus pada peningkatan pengetahuan kognitif semata dan belum banyak mengeksplorasi pengembangan keterampilan sosial maupun sikap asertif remaja (Rahmi et al., 2024; Yuniarti et al., 2024). Tantangan lain adalah beragamnya tingkat pemahaman siswa dan latar belakang budaya yang memengaruhi penerimaan materi. Dalam situasi ini, peran peer educator dan mentor sebaya menjadi penting untuk memperkuat transfer pengetahuan secara efektif (Ayuningtyas & Budiyono, 2025). Studi terbaru bahkan menunjukkan bahwa pendampingan sebaya tidak hanya memperkuat pemahaman, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar remaja, sehingga program edukasi dapat lebih optimal. Meski demikian, penelitian di Indonesia mengenai implementasi pendekatan partisipatif dalam edukasi kesehatan reproduksi masih terbatas, sehingga diperlukan model intervensi baru yang lebih dialogis, aplikatif, dan berorientasi pada pemberdayaan remaja. Berdasarkan kondisi tersebut, artikel pengabdian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pendekatan partisipatif dalam edukasi kesehatan reproduksi di SMAN 1 Bambanglipuro. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, sikap reflektif, dan rasa tanggung jawab remaja. Dengan pendekatan yang lebih dialogis dan partisipatif, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya generasi yang sehat secara fisik, mental, dan sosial. 770 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development 2. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan reproduksi remaja dilakukan dengan pendekatan partisipatif, yang memadukan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan refleksi personal. Kegiatan ini diikuti oleh remaja berusia 13–18 tahun yang menjadi siswa program penyuluhan kesehatan di SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Materi yang disampaikan difokuskan pada pemahaman dasar kesehatan reproduksi, dinamika perubahan pada masa pubertas, tantangan sosial yang dihadapi remaja, serta strategi perlindungan diri. Pelaksanaan edukasi dibagi menjadi empat sesi pembahasan yang terdapat pada Gambar 1. disusun secara bertahap untuk memfasilitasi pemahaman siswa. Gambar 1. Tahapan Sesi Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Sesi pertama memaparkan definisi kesehatan reproduksi yang mencakup dimensi fisik, mental, dan sosial. Materi pada sesi kedua mencakup perubahan fisik (misalnya menstruasi, mimpi basah, perubahan suara, dan pertumbuhan fisik), perubahan emosional (fluktuasi emosi, peningkatan ketertarikan terhadap lawan jenis), serta perubahan sosial (dinamika hubungan dengan teman sebaya dan keluarga). Diskusi kelompok dilakukan dengan pemisahan siswa berdasarkan jenis kelamin untuk menjaga kenyamanan. Setiap kelompok mengidentifikasi dan mendeskripsikan perubahan yang mereka alami, kemudian mempresentasikannya di forum besar. Pada sesi ketiga ini membahas tiga isu utama, yaitu paparan informasi palsu (hoaks) di media sosial, fenomena perundungan (bullying) baik secara langsung maupun daring, serta risiko pergaulan bebas. Diskusi diakhiri dengan klarifikasi materi oleh pemateri untuk memastikan pemahaman yang benar. Materi terakhir sesi keempat difokuskan pada penguatan konsep menghargai diri sendiri (self-respect) sebagai dasar pembentukan perilaku positif, serta teknik komunikasi sehat dengan orang tua, guru, dan teman sebaya. Simulasi role play digunakan untuk melatih keterampilan asertif, khususnya dalam menolak ajakan yang berisiko tanpa merusak hubungan sosial. Pada akhir kegiatan, siswa melakukan refleksi personal dengan menuliskan hal-hal baru yang mereka pelajari serta rencana penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Sesi penutup diisi dengan tanya jawab. Sebagai tindak lanjut, siswa menerima leaflet edukasi yang memuat ringkasan materi utama. Penelitian ini melibatkan 174 siswa remaja yang dipilih dengan teknik purposive sampling, berdasarkan kesediaan untuk mengikuti seluruh rangkaian intervensi serta melengkapi pengisian instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dengan 10 butir soal pilihan ganda. Setiap jawaban benar diberi skor 1, sedangkan jawaban salah diberi skor 0. Skor akhir diperoleh dari total jawaban benar dan selanjutnya dikategorikan ke dalam tiga tingkat pengetahuan, yaitu rendah (0–4), sedang (5–7), dan tinggi (8–10). 771 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development Analisis data difokuskan pada perbandingan hasil pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa setelah diberikan intervensi. Proses analisis dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi (SD) dari skor pengetahuan pada kedua tahap pengukuran, serta memperhatikan selisih rata-rata sebagai indikator utama adanya peningkatan pengetahuan. 3. Hasil dan Pembahasan Kegiatan edukasi diikuti oleh seluruh siswa baru di SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Selama proses, siswa menunjukkan partisipasi aktif melalui tanya jawab, diskusi kelompok, hingga simulasi peran yang membahas topik pubertas, tantangan remaja, serta komunikasi sehat. Penggunaan media visual, studi kasus, dan refleksi personal terbukti membantu siswa memahami materi yang sensitif sekaligus membangun rasa percaya diri dalam mengenali perubahan diri dan menjaga batasan pribadi. Sebagian besar siswa juga menyatakan bahwa strategi menghadapi bullying, menghindari pergaulan berisiko, serta membangun komunikasi efektif sangat relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Metode partisipatif terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang dinamis. Respon siswa selama empat sesi kegiatan dapat dilihat pada Tabel 1, yang merangkum topik utama, bentuk kegiatan, serta hasil yang dicapai. Tabel 1.Hasil Kegiatan Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja di SMAN 1 Bambanglipuro Sesi Topik Utama Bentuk Kegiatan Respon Siswa Hasil yang Dicapai Siswa aktif Pengenalan Siswa memahami Ceramah mengajukan kesehatan reproduksi konsep dasar 1 interaktif, tanya pertanyaan remaja (fisik, mental, kesehatan jawab dan berbagi sosial) reproduksi pengalaman Siswa saling Siswa mampu bertukar mengidentifikasi Diskusi Pubertas dan pengalaman 2 perubahan fisik dan kelompok kecil, perubahan diri dan brainstorming emosional pada memberikan masa pubertas dukungan Antusias Siswa mengetahui Tantangan remaja dalam strategi menghadapi Studi kasus, role (hoaks, bullying, memerankan 3 play bullying, hoaks, dan pergaulan bebas) skenario dan pergaulan berisiko mencari solusi Siswa mampu Siswa berbagi merumuskan cara Self-respect dan Refleksi personal, 4 strategi menjaga batasan diri komunikasi sehat diskusi komunikasi dan membangun komunikasi efektif Selanjutnya, brainstorming digunakan sebagai strategi utama untuk memfasilitasi pertukaran pengalaman antar siswa. Mereka saling berbagi cerita tentang perubahan fisik maupun emosional yang dialami, disertai dukungan moral dari teman sebaya. Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa mengidentifikasi tanda-tanda pubertas, tetapi juga menumbuhkan rasa saling memahami dan empati. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi faktor penting dalam menghadapi transisi masa remaja secara lebih positif. 772 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development Selain respon kualitatif, peningkatan pengetahuan siswa juga tercermin dari hasil pretest dan post-test. Rata-rata nilai awal dan akhir pada tiap sesi ditampilkan pada Gambar 2 berikut: Gambar 1. Nilai Pemahaman Siswa SMAN 1 Bambanglipuro Berdasarkan Gambar 2, terlihat adanya peningkatan pemahaman siswa pada setiap sesi. Sesi pertama mengenai kesehatan reproduksi remaja meningkat sebesar 2,7 poin (dari 6,2 menjadi 8,9). Peningkatan ini dipengaruhi oleh kedekatan materi dengan pengalaman sehari-hari siswa. Pada sesi kedua tentang pubertas dan perubahan diri, rata-rata nilai naik 3,0 poin (dari 6,0 menjadi 9,0), karena materi berhubungan langsung dengan pengalaman personal peserta. Sesi ketiga mencatat peningkatan tertinggi, yaitu 3,4 poin (dari 5,4 menjadi 8,8). Hal ini disebabkan penggunaan studi kasus dan role play yang menuntut siswa menganalisis situasi nyata, mengenali risiko, serta melatih strategi penanganan. Proses ini melibatkan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersamaan, sehingga pembelajaran lebih optimal dibandingkan sesi lainnya. Sementara itu, sesi keempat mengenai self-respect dan komunikasi sehat meningkat sebesar 2,8 poin (dari 6,3 menjadi 9,1). Walaupun peningkatannya tidak setinggi sesi ketiga, hasil ini tetap menegaskan efektivitas metode refleksi personal dan diskusi dalam membangun kesadaran menjaga batasan diri serta keterampilan komunikasi sehat. Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual remaja mengenai kesehatan reproduksi, tetapi juga berkontribusi pada penguatan keterampilan komunikasi, rasa percaya diri, dan sikap asertif. Data kualitatif melalui respon siswa dan data kuantitatif melalui peningkatan skor pengetahuan saling melengkapi untuk menegaskan efektivitas program. Temuan ini menjadi dasar penting untuk dianalisis lebih lanjut pada bagian pembahasan dengan mengaitkannya pada teori pendidikan partisipatif dan temuan penelitian terdahulu. 4. Pembahasan Hasil kegiatan edukasi kesehatan reproduksi di SMAN 1 Bambanglipuro menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif efektif dalam meningkatkan pemahaman, keterampilan sosial, dan sikap asertif remaja. Peningkatan skor pengetahuan pada semua sesi mengonfirmasi bahwa metode interaktif lebih mudah diterima siswa dibandingkan pendekatan konvensional berbasis ceramah. Hal ini sejalan dengan temuan Astutik et al. (2019) yang menegaskan bahwa keterlibatan aktif remaja melalui peer education dapat memperkuat efikasi diri dan sikap reflektif. 773 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development Gambar 2. Poster Elektronik Kesehatan Remaja Visualisasi materi melalui media edukatif terbukti membantu siswa memahami isu yang sensitif. Gambar 3 memperlihatkan contoh poster elektronik tentang kesehatan remaja yang menekankan empat aspek penting: pola makan sehat, aktivitas fisik, kesehatan mental, dan pencegahan risiko. Media semacam ini memudahkan siswa untuk menangkap pesan secara sederhana namun bermakna. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nilasari et al. (2024), yang menyebutkan bahwa penggunaan modul digital dan visual menarik meningkatkan keterlibatan remaja dalam edukasi kesehatan. Gambar 3. Penyampaian Materi Penyampaian materi dengan pendekatan visual dan interaktif, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4, menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara siswa dengan orang tua, guru, maupun tenaga kesehatan. Cara ini memberikan pemahaman baru bagi siswa bahwa mencari bantuan yang tepat ketika menghadapi masalah merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan reproduksi. Sesi terakhir yang mengangkat konsep self-respect dan self-protect memberi dampak kuat terhadap perubahan sikap, karena siswa mulai menyadari bahwa menjaga harga diri dan mengenal batasan diri merupakan langkah awal dalam melindungi diri dari risiko pergaulan bebas dan kekerasan seksual. Selain meningkatkan pengetahuan, pendekatan partisipatif juga terbukti efektif dalam membentuk keterampilan sosial remaja dalam mengelola isu-isu kesehatan reproduksi. Melalui diskusi kelompok dan simulasi peran (role-play) sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5, siswa tidak hanya berlatih menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan menawarkan solusi terhadap studi kasus, tetapi juga mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan komunikasi, serta kemampuan berpikir kritis. Aktivitas ini mendorong siswa 774 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga pemahaman yang diperoleh tidak bersifat teoritis (Nicholson, et al. 2021). Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa sekolah dapat menjadikan pendekatan partisipatif sebagai strategi pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum, khususnya pada mata pelajaran yang berhubungan dengan pendidikan kesehatan dan pengembangan karakter. Peran orang tua sangat penting untuk mendukung keberlanjutan edukasi melalui komunikasi terbuka dan pendampingan di rumah, sehingga nilai-nilai yang diperoleh di sekolah dapat diperkuat dalam lingkungan keluarga. Di sisi lain, tenaga kesehatan memiliki posisi strategis untuk bekerja sama dengan pihak sekolah dalam memberikan informasi yang valid serta mendampingi siswa dalam memahami isu-isu kesehatan reproduksi secara lebih komprehensif (Susanti et al., 2023; Elna et al., 2025). Implikasi lebih luas juga menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor antara sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan untuk membangun ekosistem pendidikan kesehatan reproduksi yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan remaja (Bhwa et al., 2025). Temuan ini sejalan dengan Fadhilah et al. (2025), yang menekankan pentingnya skrining dan edukasi sebagai upaya preventif pada remaja Karang Taruna dalam mencegah risiko penyakit tidak menular, sehingga memperkuat argumen bahwa intervensi sejak dini merupakan strategi efektif untuk menjaga kesehatan remaja secara komprehensif. Gambar 4. Diskusi Mengenai Kesehatan Remaja Menurut Wardana (2017), metode pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memperkuat sikap asertif pada remaja. Hal ini sejalan dengan temuan Bambang (2024) yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran kesehatan reproduksi mendorong mereka lebih percaya diri dalam mengambil keputusan yang sehat. Namun, tantangan yang muncul adalah perbedaan tingkat pemahaman antar siswa. Beberapa memerlukan penjelasan berulang dan pendampingan tambahan, terutama pada konsep ilmiah seperti mekanisme reproduksi dan penyakit menular seksual. Oleh karena itu, integrasi kegiatan lanjutan melalui peer educator dan mentoring sebaya sangat direkomendasikan. Ayuningtyas & Budiyono (2025) menegaskan bahwa pendidik sebaya mampu memperkuat transfer pengetahuan karena komunikasi antar teman sebaya lebih mudah diterima dan dipahami oleh remaja. Hasil ini menegaskan bahwa edukasi partisipatif tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga membangun keterampilan sosial, memperkuat sikap asertif, 775 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development dan mendorong perilaku pencegahan yang positif. Keberhasilan ini menunjukkan perlunya intervensi serupa diintegrasikan dalam program sekolah secara rutin, melibatkan guru, tenaga kesehatan, dan orang tua untuk memastikan keberlanjutan dampak. Ramadhaniati et al. (2023) juga menemukan bahwa keterlibatan guru dan teman sebaya memperluas interaksi di kelas, sedangkan Sari et al. (2025) menegaskan bahwa pembelajaran interaktif mampu meningkatkan pengetahuan mahasiswa secara signifikan melalui mekanisme kolaboratif. Kedua penelitian tersebut mendukung temuan ini, bahwa metode partisipatif tidak hanya menambah pemahaman konseptual, tetapi juga melatih kemampuan argumentasi, penyampaian ide, serta kerja sama. Hal-hal tersebut sulit dicapai melalui metode ceramah konvensional yang cenderung satu arah. Selain itu, pembelajaran partisipatif terbukti mampu mengurangi hambatan psikologis saat membahas topik sensitif. Yuniarti et al. (2024) melaporkan bahwa intervensi edukasi interaktif dapat menumbuhkan sikap positif dan mengurangi rasa enggan siswa berdiskusi mengenai isu reproduksi. Utami et al. (2024) juga menemukan bahwa model berbasis kelompok sebaya dan digital lebih mendorong keterlibatan aktif sekaligus meningkatkan kepercayaan diri remaja dalam mengambil keputusan yang sehat. Sejalan dengan itu, Nilasari et al. (2024) menunjukkan bahwa keterlibatan remaja sejak tahap perancangan modul daring menjadikan konten edukasi lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Pemanfaatan teknologi digital dalam edukasi kesehatan reproduksi semakin membuka peluang inovatif. Aplikasi edukasi, video pembelajaran, dan platform diskusi daring memungkinkan siswa mengakses informasi kapan pun dengan cara yang menarik dan relevan. Teknologi juga mendukung pendampingan jarak jauh oleh peer educator maupun tenaga kesehatan, terutama di masa pandemi atau wilayah dengan keterbatasan akses. Agar manfaat ini optimal, peningkatan literasi digital di kalangan remaja menjadi syarat penting, sehingga mereka dapat memilah informasi secara kritis dan terhindar dari konten berbahaya. 5. Kesimpulan Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi berbasis pendekatan partisipatif di SMAN 1 Bambanglipuro terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman, keterampilan komunikasi, serta sikap asertif siswa. Peningkatan skor pengetahuan terlihat pada seluruh sesi, dengan capaian tertinggi pada sesi yang menggunakan metode role play dan studi kasus. Hasil ini menegaskan bahwa pembelajaran partisipatif yang mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor lebih bermakna dibandingkan metode ceramah konvensional, sekaligus memperkuat kepercayaan diri, empati, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi tidak cukup hanya bersifat informatif, tetapi perlu dirancang dengan melibatkan partisipasi aktif siswa melalui diskusi, refleksi personal, dan pendampingan sebaya. Implikasi praktis dari kegiatan ini adalah perlunya integrasi metode partisipatif ke dalam kurikulum sekolah serta dukungan orang tua dan tenaga kesehatan agar pesan-pesan kesehatan yang diperoleh di sekolah dapat diperkuat dalam keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja, tetapi juga menawarkan model intervensi yang dialogis, aplikatif, dan berorientasi pada pemberdayaan, yang dapat direplikasi di sekolah lain sebagai strategi preventif menghadapi tantangan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia. 776 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development 6. Ucapan Terima Kasih Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, atas kesempatan dan dukungan yang diberikan selama pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan reproduksi. Daftar Pustaka Amanda, C., & Adhari, A. (2024). Pentingnya pendidikan seksualitas dalam mencegah kekerasan seksual terhadap perempuan. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 7(1), 677–686. https://doi.org/10.38035/rrj.v7i1.1303 Astutik, H., Amin, I., & Yuliwar, R. (2019). Peningkatan tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi dengan peer education. Malang Journal of Midwifery (MAJORY), 1(2), 73. https://doi.org/10.31290/majory.v1i2.2201 Augsberger, A., Gecker, W., & Collins, M. (2018). “We make a direct impact on people's lives”: Youth empowerment in the context of a youth‐led participatory budgeting project. Journal of Community Psychology, 47(3), 462–476. https://doi.org/10.1002/jcop.22131 Ayuningtyas, N. P., & Budiyono, B. (2025). Evaluasi program peer educator bidang kesehatan reproduksi di SMP Kota Semarang menggunakan model discrepancy. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 11(2). https://doi.org/10.31949/educatio.v11i2.12791 Bambang, E. (2024). Peranan edukasi kesehatan reproduksi pada remaja. Federalisme: Jurnal Kajian Hukum dan Ilmu Komunikasi, 1(3), 45–51. https://doi.org/10.62383/federalisme.v1i3.21 Bhwa, D. A. V. P., Tulasi, O. A., Bria, J. X. G., Mara, C. N., & Liunome, A. A. (2025). Peningkatan pemahaman siswa tentang kesehatan reproduksi melalui penyuluhan partisipatif di SMPN 1 Kupang. Daarul Ilmi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 19–28. https://doi.org/10.52221/daipkm.v3i1.749 Elna, N. P., Novita, M., Yusnaini, Y., & Syahradesi, Y. (2025). Inovasi program kesehatan reproduksi remaja: Edukasi dan layanan untuk menunjang kesehatan seksual. Room of Civil Society Development, 4(3), 509–520. https://doi.org/10.59110/rcsd.640 Fadhilah, S., Rusliani, D. M., Nuryati, A., & Suryantara, B. (2025). Deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular pada remaja Karang Taruna: Skrining dan upaya pencegahan. Room of Civil Society Development, 4(1), 222–233. https://doi.org/10.59110/rcsd.537 Gniewosz, G., & Gniewosz, B. (2020). Psychological adjustment during multiple transitions between childhood and adolescence. The Journal of Early Adolescence, 40(4), 566–598. https://doi.org/10.1177/0272431619858422 Hastuti, P., Juwita, B., & Yunitasari, E. (2021). The impacts of unplanned pregnancy on adolescence: A literature review. Nurse and Holistic Care, 1(3), 139–150. https://doi.org/10.33086/nhc.v1i3.2567 Kemenkes RI. (2025, June 20). Berani tes, berani lindungi diri: Kemenkes targetkan eliminasi HIV dan IMS tahun 2030. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://kemkes.go.id/id/berani-tes-berani-lindungi-diri-kemenkes-targetkaneliminasi-hiv-dan-ims-tahun-2030 777 Volume 4 No 5: 769-778 Room of Civil Society Development Mastorci, F., Lazzeri, M. F. L., Vassalle, C., & Pingitore, A. (2024). The transition from childhood to adolescence: Between health and vulnerability. Children, 11(8), 989. https://doi.org/10.3390/children11080989 Nicholson, J., Song, P., Shen, Y., & Nicholson, D. (2021). Exploring the relationship among learning styles, engagement, and learning outcomes in the context of role-play activities. Journal of Higher Education Theory and Practice, 21(15), 160–170. https://doi.org/10.33423/jhetp.v21i15.4905 Nilasari, H., Indriatmi, W., Gunardi, H., Kayika, I. P. G., Kekalih, A., Siregar, K. N., Kurniawan, K., Lesmana, E., & Haswinzky, R. A. (2024). Developing an online reproductive health module on sexually transmitted infections for Indonesian adolescents: A qualitative mixed methods study. Medical Journal of Indonesia, 33(4), 245– 253. https://doi.org/10.13181/mji.oa.247635 Rahmi, N., Hasibuan, U. M., Mumtazah Sipahutas, W., & Yulistadrifani Siregar, V. (2024). Efektivitas konseling kelompok dalam meningkatkan keterampilan sosial remaja. Social Science and Contemporary Issues Journal, 2(1), 122–132. https://doi.org/10.59388/sscij.v2i1.494 Ramadhaniati, F., Kurniati, N., Yulyani, L., & Fakultas, K. (2023). The involvement of teachers and peers in providing knowledge on adolescent reproductive health at State Vocational High School 2 Bengkulu City. Jurnal Eduhealth, 14(2). https://ejournal.seaninstitute.or.id/index.php/healt/article/view/2318 Rosyidah, R. (2025). Peningkatan kesadaran kesehatan reproduksi dan literasi digital bagi remaja putri melalui pendekatan psikoedukatif komunitas. DedikasiMU: Journal of Community Service, 7(2), 190–195. https://doi.org/10.30587/dedikasimu.v7i2.9852 Saparini, S., Simbolon, D., & Ningsih, L. (2023). Knowledge and access to adolescent reproductive health information in Indonesia. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 19(1), 1–10. https://doi.org/10.14710/jpki.19.1.1-10 Sari, P., Bestari, A., Martini, N., Nirmala, S., Yasirulhaq, Y., Hartiti, W., Ambarsari, F., Salsabila, N., Lumbanraja, N., Aflah, I., & Siswantari, R. (2025). An interactive learning to increase the knowledge of sexual and reproductive health among university students: A pilot study in West Java, Indonesia. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 18, 2721–2730. https://doi.org/10.2147/JMDH.S512267 Susanti, R., Anggarini, I., & Rusmiati, D. (2023). Peran usaha kesehatan sekolah terhadap pengetahuan dan sikap remaja dalam upaya mencegah kehamilan remaja. Promotif Jurnal Kesehatan Masyarakat, 13(2), 143–147. https://doi.org/10.56338/promotif.v13i2.4371 Utami, D. R. R. B., Nurwati, I., & Lestari, A. (2024). School-based sexual and reproductive health education among adolescents in developing countries. International Journal of Public Health Science (IJPHS), 13(1), 141. https://doi.org/10.11591/ijphs.v13i1.23267 Wardana, W. (2017). Pengaruh metode pembelajaran dan kemampuan berpikir kritis terhadap kesadaran sejarah siswa SMA Islam Al Azhar Kelapa Gading Jakarta. Jurnal Pendidikan Sejarah, 6(2), 38–48. https://doi.org/10.21009/jps.062.05 Yuniarti, S., Yustanta, B. F., Kowaas, I. N., Nurrachmawati, A., & Rahmawati, S. (2024). The effect of health education programs on adolescents’ knowledge and attitudes regarding reproductive health. Journal of World Future Medicine, Health and Nursing, 2(2), 325–338. https://doi.org/10.70177/health.v2i2.820 778