Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik Volume. 3 Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpakk. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpakk Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi Pirminus1. Yanto Sandy Tjang2*. Amadi3. Hemma Gregorius Tinenti4. Felisitas Yuswanto5 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Indonesia *Penulis Korespondensi: ystjang17766@gmail. Abstract. This study explores the Village Cross as a symbol of inculturation, integrating Catholic faith with the Nosu Minu Podi ritual in Dusun Perintis. Balai Sebut Village. Sanggau Regency. Nosu Minu Podi, a post-harvest rice ritual, originally centered on the ancestral statue (Panta. as the main focus of worship. The introduction of Catholicism led to a symbolic transformation, replacing the Pantak with the Village Cross while maintaining ancestral values and harmonizing them with Catholic practices. This research uses a qualitative approach combining ethnography and contextual theology. Data were collected through participatory observation, semistructured interviews, and field documentation. Findings reveal that the Village Cross serves dual functions: as a religious symbol affirming GodAos presence and spiritual protection, and as a marker of social and cultural identity. This transformation strengthens community solidarity, preserves traditional practices, and provides a medium for faith formation among youth. The study highlights that inculturation enables the integration of local traditions with religious teachings, creating space for contextual, inclusive, and practical pastoral approaches. contributes to scholarly understanding of the interplay between religion, culture, and community identity, emphasizing the enduring relevance of local wisdom in contemporary religious practice. Keywords: Catholic Faith. Customary Ritual. Inculturation. Nosu Minu Podi. Village Cross. Abstrak. Penelitian ini mengkaji peran Salib Kampung sebagai simbol inkulturasi yang mengintegrasikan keimanan Katolik dengan ritual adat Nosu Minu Podi di Dusun Perintis. Desa Balai Sebut. Kabupaten Sanggau. Nosu Minu Podi, ritual pasca-panen padi, awalnya menggunakan patung leluhur (Panta. sebagai pusat ibadah. Masuknya agama Katolik memunculkan transformasi simbolik, di mana Pantak digantikan oleh Salib Kampung tanpa menghapus nilai-nilai leluhur, melainkan mengharmonisasikannya dengan praktik keagamaan baru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dan teologi kontekstual. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salib Kampung memiliki fungsi ganda: sebagai simbol religius yang menegaskan kehadiran Tuhan dan perlindungan spiritual, serta sebagai penanda identitas sosial dan budaya komunitas. Transformasi simbol ini memperkuat solidaritas masyarakat, mempertahankan praktik adat, dan menjadi media pembelajaran iman bagi generasi muda. Temuan penelitian menegaskan bahwa inkulturasi memungkinkan harmonisasi antara tradisi lokal dan ajaran agama, sekaligus membuka peluang bagi pendekatan pastoral yang kontekstual, inklusif, dan aplikatif. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman ilmiah mengenai interaksi agama, budaya, dan identitas komunitas, serta menegaskan relevansi kearifan lokal dalam praktik keagamaan Kata kunci: Kesetaraan Gender. Sosiologi Agama. Tafsir Kontemporer. Transformasi Kelembagaan. LATAR BELAKANG Kearifan lokal dapat dipahami sebagai keseluruhan pengetahuan dan kebijaksanaan yang tumbuh dari nilai-nilai luhur yang dipercaya, dipraktikkan, dan dipertahankan secara turun-temurun oleh komunitas dalam wilayah tertentu (Hardiansyah & Roslinda, 2024. Usop. Nilai-nilai ini tidak sekadar menjadi tradisi yang berlangsung terus-menerus, melainkan juga menyimpan makna mendalam tentang kehidupan. oleh karena itu, ia pantas terus dieksplorasi, dikembangkan, dan dilestarikan sebagai penyeimbang terhadap dinamika sosial budaya serta modernisasi. Meskipun bersifat kontekstual dan lokal, kearifan semacam ini Naskah Masuk: 04 November 2025. Revisi: 29 November 2025. Diterima: 19 Desember 2025. Terbit: 22 Desember 2025 Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi memiliki relevansi universal sebab membentuk kerangka pandang hidup, pengetahuan, dan strategi kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan serta menyelesaikan problem sehari-hari (Hardiansyah & Roslinda, 2. Salah satu bentuk kearifan lokal yang masih terpelihara di wilayah Dusun Perintis. Desa Balai Sebut. Kecamatan Jangkang. Kabupaten Sanggau adalah ritual Nosu Minu Podi. Secara etimologis, istilah tersebut terdiri dari AuNosuAy . emanggil atau mencar. AuMinuAy . oh atau semanga. , dan AuPodiAy . Ritual ini merupakan perayaan adat pasca-panen padi yang sarat makna simbolik karena sebagai ungkapan syukur komunitas terhadap roh padi (Sangiang Pod. dan Tuhan pencipta (Akek Penomp. Ritual ini tidak hanya bersifat religius, tetapi juga berfungsi dalam pemeliharaan dan pengembangan adat serta budaya komunitas setempat (Singkil et al. , 2. Pengamatan lapangan mencatat fenomena menarik dalam pelaksanaan ritual Nosu Minu Podi di Dusun Perintis. Ritual dilakukan di depan salib kampung dengan sesajen seperti cucur, lauk ayam dan babi masak, pulut, tuak, serta benih padi yang diletakkan mengitari salib. Benih padi yang diberkati kemudian akan ditanam kembali pada musim tanam berikutnya. Adanya praktik menanam benih padi suci ini menunjukkan siklus budaya dan pertanian yang berpadu, dan sekaligus menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar simbol, tetapi bagian integral dari sistem agraris dan kepercayaan masyarakat (Osin, 2. Menariknya, penggunaan salib kampung dalam ritual ini menimbulkan pertanyaan tentang makna dan sejarah salib tersebut dalam konteks adat, terutama karena sebelumnya ritual adat di wilayah Dayak umumnya menggunakan patung leluhur (Panta. yang diyakini merepresentasikan roh leluhur. Peralihan dari Pantak ke salib menunjukkan adanya proses inkulturasi, suatu penyesuaian antara tradisi lokal dan elemen agama baru dengan implikasi dalam praktik dan makna ritual (Pangerti, 2. Penelitian ini memiliki nilai kebaruan karena memfokuskan pada interpretasi salib kampung dalam ritual Nosu Minu Podi, sebuah aspek yang belum banyak dibahas dalam literatur ilmiah. Penelitian sebelumnya membahas Nosu Minu Podi tanpa menyinggung keberadaan salib (Singkil et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil pendekatan baru dengan menelusuri bagaimana salib kampung menggantikan peran Pantak, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi praktik dan pemahaman komunitas terhadap ritual adat. Signifikansi penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pengembangan ilmu agama dan antropologi budaya. Dengan mendokumentasikan dan menganalisis perubahan simbolik tersebut, penelitian dapat menawarkan pemahaman ilmiah kepada masyarakat, khususnya Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. generasi muda, serta menyediakan bahan ajar dan referensi pastoral bagi institusi pendidikan keagamaan di kawasan setempat (Usop, 2. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara komprehensif sejarah salib kampung dalam ritual Nosu Minu Podi serta makna yang disematkan masyarakat Dusun Perintis terhadapnya. Melalui kajian ini diharapkan terungkap bagaimana salib kampung menjadi simbol religius yang berbaur dengan kearifan lokal dan menunjukkan interaksi antara budaya dan agama dalam pembentukan identitas serta kehidupan sosial masyarakat setempat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dan teologi kontekstual untuk memahami penggunaan salib kampung dalam ritual adat Nosu Minu Podi di Dusun Perintis. Desa Balai Sebut. Kecamatan Jangkang. Kabupaten Sanggau. Pendekatan etnografi memungkinkan peneliti belajar langsung akan nilai-nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa masyarakat setempat melalui partisipasi dalam ritual, sedangkan teologi kontekstual digunakan untuk menafsirkan makna religius salib kampung dalam praktik adat. Metode ini menekankan pengumpulan data secara sistematis dan analisis mendalam untuk memperoleh pemahaman yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan (Sugiyono, 2. Penelitian dilakukan di Dusun Perintis, yang dipilih karena penggunaan salib kampung dalam ritual Nosu Minu Podi belum pernah diteliti. Dusun ini memiliki 817 penduduk, dengan 488 umat Katolik. Data dikumpulkan pada 12Ae18 November 2024, dan penelitian berlangsung dari 11 November hingga 11 Desember 2024. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan Observasi dilakukan untuk mencatat aktivitas penggunaan salib kampung dalam ritual, wawancara dilakukan dengan Tokoh Adat. Tokoh Agama. Ketua Lingkungan. Pastor Paroki, dan Kepala Dusun untuk menggali sejarah dan makna simbolis, sementara dokumentasi dilakukan untuk memastikan keautentikan data. Alat bantu yang digunakan meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi foto serta catatan lapangan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber untuk memastikan konsistensi informasi dari berbagai informan dan metode pengumpulan data. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sehingga informasi tentang sejarah, penggunaan, dan makna salib kampung dalam ritual adat dapat dipahami secara menyeluruh dan ditulis dalam bentuk narasi deskriptif. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi HASIL DAN PEMBAHASAN Letak dan Fungsi Salib Kampung Salib Kampung di Dusun Perintis ditempatkan di bagian depan permukiman, sekitar 25 meter dari jalan utama dan 1. 000 meter dari pusat permukiman. Posisi ini dipilih secara strategis agar memudahkan akses warga untuk kegiatan keagamaan sehari-hari maupun pelaksanaan ritual adat Nosu Minu Podi. Penempatan salib di titik awal kampung juga mempermudah pendatang maupun anggota komunitas dalam mengenali lokasi permukiman dan pusat aktivitas spiritual. Selain dari sisi aksesibilitas. Salib Kampung memiliki fungsi Menurut tokoh adat setempat, seperti Temengung dan Kepala Dusun, keberadaan salib diyakini mampu menolak pengaruh negatif dan memberikan rasa aman bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa salib tidak hanya berfungsi sebagai simbol religius, tetapi juga memiliki peran protektif yang terintegrasi dalam kehidupan sosial komunitas. Dari perspektif identitas dan geografis, salib ini menegaskan batas wilayah permukiman sekaligus memperkuat eksistensi komunitas Katolik di Dusun Perintis. Letak yang menonjol memungkinkan warga dan pengunjung untuk segera mengenali karakter religius masyarakat setempat. Secara sosial, keberadaan salib memperkuat solidaritas dan rasa persatuan warga, menjadi titik fokus dalam interaksi komunitas, terutama selama persiapan dan pelaksanaan ritual Nosu Minu Podi. Secara simbolik. Salib Kampung menegaskan kehadiran Tuhan dalam kehidupan masyarakat (Van Hulten, 1. Berdasarkan keterangan Ketua Umat dan para katekis, salib berfungsi sebagai lambang perlindungan, keberkahan, dan keyakinan umat, sekaligus mengingatkan bahwa setiap tindakan dan doa warga terkait dengan nilai-nilai iman Katolik. Kehadirannya juga memperkuat identitas Katolik di tengah keberagaman suku dan agama di dusun tersebut. Dengan demikian, analisis menunjukkan bahwa letak dan fungsi Salib Kampung memiliki dimensi ganda: geografis dan spiritual. Secara geografis, salib memudahkan akses dan menjadi penanda permukiman, sedangkan secara sosial dan spiritual, salib memperkuat rasa aman, persatuan komunitas, dan keimanan warga. Oleh karena itu. Salib Kampung bukan sekadar simbol agama, melainkan bagian integral dari struktur sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Dusun Perintis (Pangerti, 2. Sejarah Transformasi dari Pantak ke Salib Kampung Sebelum masuknya agama Katolik, masyarakat Dusun Perintis mengembangkan kehidupan spiritual yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme. Dalam sistem kepercayaan ini, patung Pantak berfungsi sebagai pusat ritual sekaligus medium penghubung antara manusia, roh leluhur, dan kekuatan alam. Pantak diyakini memiliki Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. kemampuan supranatural untuk melindungi masyarakat, menjamin hasil pertanian, dan membawa keberuntungan. Ritual Nosu Minu Podi, sebagai wujud syukur atas panen padi, dilaksanakan di sekitar Pantak dengan partisipasi seluruh anggota komunitas, menegaskan fungsi sosial dan spiritual Pantak sebagai simbol perlindungan dan keberkahan (Ariani, 1993. Osin, 2. Pantak bukan sekadar objek ritual, melainkan lambang identitas budaya dan simbol kekuatan masyarakat. Keberadaannya mengatur tata cara pelaksanaan upacara adat, menentukan hierarki pemimpin ritual, dan memperkuat solidaritas komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa simbol budaya dalam masyarakat Dayak tradisional bersifat sakral sekaligus struktural, menegaskan keteraturan sosial, dan mengikat komunitas melalui praktik gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati (Sabudin, 2. Masuknya agama Katolik pada pertengahan abad ke-20 membawa perubahan signifikan terhadap struktur simbolik dan praktik ritual. Pantak secara bertahap digantikan oleh Salib Kampung sebagai pusat ritual Nosu Minu Podi. Pergantian ini bukan sekadar penggantian fisik, tetapi juga perubahan makna simbolik: fokus syukur bergeser dari pemujaan roh leluhur ke penyembahan kepada Allah sebagai Sang Pencipta (Pasalima & Firmanto, 2. Transformasi ini menandai proses inkulturasi, di mana nilai-nilai budaya lokal diharmonisasikan dengan ajaran agama baru tanpa menghapus identitas leluhur. Ritual Nosu Minu Podi tetap dijalankan, namun mengalami modifikasi penting. Persembahan hasil panen yang dahulu dipersembahkan kepada Pantak kini diarahkan kepada Salib Kampung. Pemuka adat bekerja sama dengan pemuka agama Katolik, seperti Pastor atau Katekis, memimpin doa dan prosesi. Hal ini menunjukkan fleksibilitas ritual adat dalam menyesuaikan simbol keagamaan baru, sambil tetap mempertahankan fungsi sosialnya, yaitu memperkuat solidaritas komunitas dan menegaskan identitas bersama (Martasudjita, 2. Transformasi dari Pantak ke Salib Kampung juga merefleksikan proses akulturasi budaya yang mendalam. Nilai-nilai leluhur, seperti penghormatan terhadap alam, solidaritas, dan musyawarah tetap dijaga, namun dikontekstualisasikan dalam kerangka Katolik. Beberapa unsur ritual yang bersifat animistik dialihkan menjadi doa syukur, persembahan kepada Tuhan, dan permohonan berkat bagi hasil panen. Proses ini menegaskan kemampuan masyarakat menafsirkan ulang simbol budaya agar tetap relevan dan selaras dengan iman baru (Praptantya et al. , 2. Dari sudut pandang teologis, transformasi Pantak menjadi Salib Kampung merepresentasikan simbol keselamatan, manifestasi kasih Allah, perwujudan kesatuan umat beriman, serta ekspresi kesetiaan kepada Tuhan. Salib Kampung tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas ibadat, melainkan juga dipahami sebagai simbol perlindungan, sumber Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi keberkahan, dan tanda kehadiran Tuhan di tengah kehidupan masyarakat. Dengan demikian. Salib Kampung mempertahankan dimensi protektif dan spiritual yang sebelumnya dilekatkan pada Pantak, namun kini diartikulasikan dalam kerangka iman Katolik (Pasalima & Firmanto. Transformasi simbol ini juga memiliki implikasi sosial dan psikologis. Keberadaan Salib Kampung memperkuat rasa aman, memupuk solidaritas, dan menegaskan identitas komunitas Katolik Dusun Perintis. Salib menjadi titik fokus dalam ritual kolektif dan perayaan bersama, sehingga meskipun terjadi perubahan kepercayaan, struktur sosial dan kohesi komunitas tetap terjaga (Van Hulten, 1. Hal ini menunjukkan kemampuan masyarakat menyeimbangkan tradisi lama dengan identitas agama baru sehingga akulturasi terjadi secara harmonis dan berkelanjutan (Praptantya et al. , 2. Dengan demikian, transformasi dari Pantak ke Salib Kampung memperlihatkan bagaimana agama dan budaya dapat berinteraksi secara harmonis, menciptakan identitas spiritual yang tetap berakar pada warisan leluhur namun menegaskan iman Katolik (Martasudjita, 2. Salib Kampung menjadi simbol multifungsi: religius, sosial, budaya, dan spiritual Makna Salib Kampung dalam Ritual Nosu Minu Podi Salib Kampung dalam ritual Nosu Minu Podi memiliki makna yang mendalam dari perspektif spiritual, budaya, dan sosial. Secara religius, salib menjadi simbol pusat penghayatan iman Katolik, di mana masyarakat menyalurkan doa, syukur, dan permohonan berkat atas kehidupan sehari-hari, terutama berkaitan dengan pertanian dan kesejahteraan keluarga (Sari, 2. Transformasi simbol dari Pantak ke salib menunjukkan kemampuan masyarakat menafsirkan kembali makna spiritual tradisional ke dalam kerangka iman Katolik, sejalan dengan ajaran Gereja bahwa salib melambangkan keselamatan, kehadiran Tuhan, dan kasih Allah (Pasalima & Firmanto, 2. Dari perspektif akulturasi budaya, ritual Nosu Minu Podi mencerminkan adaptasi nilai leluhur dalam praktik keagamaan Katolik. Praktik yang dulunya bersifat animistik dialihkan menjadi doa syukur Katolik, namun tetap mempertahankan esensi penghormatan terhadap alam, rasa syukur, dan solidaritas komunitas. Transformasi ini menegaskan bahwa masyarakat mampu mengharmonisasikan tradisi leluhur dengan ajaran agama baru tanpa kehilangan identitas budaya (Praptantya et al. , 2. Salib Kampung juga berfungsi sebagai simbol pemersatu komunitas, menekankan nilai kebersamaan dan solidaritas melalui partisipasi kolektif dalam ritual. Keberadaan salib dalam prosesi adat memperkuat keterikatan sosial warga, sekaligus menegaskan identitas komunitas Katolik yang berakar pada nilai-nilai lokal Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. (Sabudin, 2. Selain itu, salib menjadi simbol perlindungan dan keberkahan dalam konteks Masyarakat meyakini bahwa doa yang dipusatkan pada salib memberikan berkat bagi hasil panen dan menjaga kesejahteraan komunitas. Persepsi ini menunjukkan kesinambungan makna spiritual dari tradisi leluhur ke praktik keagamaan Katolik yang kontemporer (Van Hulten, 1. Secara edukatif, ritual Nosu Minu Podi yang melibatkan Salib Kampung menjadi media pembelajaran iman bagi generasi muda. Melalui partisipasi dalam ritual, mereka memahami pentingnya doa, rasa syukur, dan penghormatan terhadap lingkungan dan sesama, sehingga nilai-nilai Katolik diajarkan secara kontekstual dalam bingkai budaya lokal (Aprilia, 2. Dengan demikian, makna Salib Kampung dalam ritual Nosu Minu Podi menekankan integrasi antara iman Katolik dan tradisi lokal melalui dimensi spiritual, sosial, budaya, dan edukatif. Simbol ini mencerminkan harmonisasi antara nilai leluhur dan kepercayaan baru, membentuk identitas spiritual yang berkelanjutan tanpa kehilangan akar budaya masyarakat Dusun Perintis (Bevans, 2. Implikasi Pastoral Keberadaan Salib Kampung di Dusun Perintis memberikan peluang bagi pengembangan pendekatan pastoral yang kontekstual dan sensitif terhadap budaya lokal. Simbol ini dapat dimanfaatkan oleh Gereja sebagai sarana pembinaan iman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, sekaligus menjadi titik awal penguatan praktik rohani yang bersifat kolektif dan partisipatif. Dalam konteks ini. Salib Kampung tidak hanya berfungsi sebagai objek fisik, tetapi juga media yang memperkaya pengalaman spiritual umat melalui doa, refleksi, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan (Pangerti, 2. Salib Kampung berpotensi menjadi fokus pembinaan generasi muda melalui pendekatan pastoral Pengajaran nilai-nilai Kristiani dapat dikaitkan dengan pengalaman konkret masyarakat, seperti rasa syukur, tanggung jawab, dan solidaritas. Dengan demikian, pembinaan iman berlangsung secara kontekstual dan aplikatif, tanpa melepaskan perhatian terhadap kondisi sosial dan budaya tempat umat tinggal (Aprilia, 2. Selain itu, simbol ini dapat mendukung pengembangan model pastoral yang mengintegrasikan pembinaan spiritual dengan penguatan komunitas. Partisipasi umat dalam persiapan dan pelaksanaan ritual mendorong kerja sama, penghargaan terhadap peran masingmasing, dan rasa memiliki terhadap kehidupan beragama. Hal ini memperkuat kohesi sosial dan menekankan bahwa pengalaman rohani tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Dari perspektif pendidikan moral dan etis. Salib Kampung dapat digunakan untuk Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi menanamkan nilai-nilai praktis, seperti menghargai hasil kerja dan menjaga kesejahteraan Nilai-nilai tersebut dapat dipadukan dengan refleksi iman, sehingga umat memperoleh pengalaman rohani yang kontekstual dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Simbol ini juga membuka peluang bagi pembinaan iman yang inklusif, mendorong partisipasi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia atau status sosial. Pendekatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab kolektif terhadap perayaan dan ritual yang menjadi ciri khas komunitas (Martasudjita, 2. Selain dimensi internal. Salib Kampung memungkinkan pengembangan kesadaran sosial umat. Gereja dapat mengaitkan penghayatan spiritual dengan aksi nyata, seperti kegiatan sosial, gotong royong, dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga iman tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga teraktualisasi dalam kehidupan sosial. Secara strategis, simbol ini dapat menjadi pusat dialog antara iman dan budaya. Pendekatan pastoral yang memadukan nilai-nilai Kristiani dengan tradisi lokal memungkinkan gereja membangun komunikasi yang efektif dengan umat, menjadikan praktik keagamaan lebih diterima, relevan, dan berkelanjutan. Umat belajar melihat tradisi bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai sarana pengalaman iman yang hidup (Simatupang, 2. Secara keseluruhan, implikasi pastoral dari Salib Kampung mencakup penguatan pengalaman spiritual kolektif, pembinaan generasi muda, pengembangan solidaritas komunitas, pendidikan moral dan etis, inklusivitas umat, pemberdayaan kesadaran sosial, serta dialog iman-budaya. Dengan demikian, simbol ini memperkaya praktik pastoral secara holistik, menekankan hubungan antara iman, tindakan nyata, dan kehidupan komunitas yang KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian ini menegaskan bahwa Salib Kampung di Dusun Perintis berfungsi sebagai simbol religius yang merepresentasikan integrasi antara iman Katolik dan kearifan lokal dalam pelaksanaan ritual Nosu Minu Podi. Peralihan dari Pantak menuju Salib Kampung mencerminkan dinamika inkulturasi, di mana nilai-nilai leluhur tidak ditinggalkan, melainkan direinterpretasi dan diharmonisasikan dengan ajaran Katolik, sehingga ritual tetap menjalankan peran sosial, spiritual, dan kultural dalam kehidupan masyarakat. Dalam makna simboliknya. Salib Kampung merepresentasikan iman, perlindungan, keberkahan, dan identitas komunitas, sekaligus menjadi pusat penguatan solidaritas dan kohesi sosial. Keberadaan simbol ini juga membuka ruang bagi pengembangan pendekatan pastoral yang kontekstual dan inklusif, yang mengintegrasikan pembinaan iman, pendidikan moral, keterlibatan generasi muda, serta Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 e-ISSN : 3031-8378, p-ISSN : 3031-836X. Hal. penguatan kesadaran sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian. Salib Kampung tidak semata-mata berfungsi sebagai penanda keagamaan, melainkan juga sebagai medium pembelajaran spiritual dan kultural yang bersifat holistik, mempererat relasi antara tradisi lokal, iman Katolik, dan dinamika kehidupan komunitas, serta menumbuhkan harmoni yang berkelanjutan antara nilai-nilai leluhur dan praktik keagamaan kontemporer. Sejalan dengan itu, diperlukan upaya berkelanjutan dari pihak Gereja dan masyarakat untuk terus mengembangkan pemaknaan Salib Kampung sebagai wahana dialog antara iman dan budaya, sekaligus mendorong keterlibatan aktif generasi muda agar proses inkulturasi tersebut tetap hidup dan berkelanjutan. DAFTAR REFERENSI Aprilia. Teologi ekologi berbasis nilai budaya Huma Betang dalam penghayatan iman dan cinta lingkungan bagi kaum muda Katolik. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik, 11. , 105Ae115. https://doi. org/10. 58374/sepakat. Ariani. Pantak dalam hubungannya dengan kepercayaan dan kehidupan masyarakat Dayak Ribun. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak. Bevans. Models of contextual theology. Orbis Books. Hardiansyah. , & Roslinda. Kearifan lokal dalam kegiatan ladang berpindah Suku Dayak UUD Danum Desa Meroboi. Kecamatan Serawai. Kabupaten Sintang. Jurnal Hutan Lestari, 12. , 507Ae516. https://doi. org/10. 26418/jhl. Martasudjita. Teologi inkulturasi: Perayaan Injil Yesus Kristus di bumi Indonesia. Kanisius. Martasudjita. Proses inkulturasi liturgi di Indonesia. Studia Philosophica et Theologica, 10. , 39Ae60. https://doi. org/10. 35312/spet. Osin. Pelaksanaan adat Bogawai Nosu Minu Podi pada masyarakat Dayak Jangkang Dusun Pisang Desa Pisang Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau. Jurnal Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, 5. Pangerti. Imajinasi warga jemaat di Pos Pelayanan & Kesaksian (PosPelKe. Kharisma Mundun Kalimantan Barat tentang simbol salib (Studi agama dan kebudayaan Clifford Geert. (Skripsi. Universitas Kristen Satya Wacan. Pasalima. , & Firmanto. Perkembangan teologi dan makna pantak dalam adat istiadat masyarakat Dayak Kanayatn. The Messengers: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 1. , 161Ae175. Praptantya. Darmawan. Dewantara. Efriani. , & Yuliono. Akseptasi modernitas beragama orang Dayak di Kampung Nyarumkop. Satwika: Kajian Ilmu Budaya Perubahan Sosial, 6. , 336Ae351. https://doi. org/10. 22219/satwika. Sabudin. Pendekatan budaya dan penginjilan dalam mengubah keterbelakangan Suku Dayak Kanayatn Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Damai, 2. , 43Ae52. https://doi. org/10. 61132/damai. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025 Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi Sari. Simbol salib dalam agama Kristen. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama, 14. , 155Ae168. https://doi. org/10. 14421/rejusta. Simatupang. Keterlibatan umat beriman dalam karya misi Gereja lokal berdasarkan model teologi kontekstual Stephen B. Bevans. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katolik, 3. , 200Ae218. https://doi. org/10. 52110/jppak. Singkil. Bahari. , & Chalimi. Tradisi adat Nosu Minu Podi pada Dayak Pangkodant di Desa Lape Kecamatan Kapuas. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 10. , 1Ae8. https://doi. org/10. 26418/jppk. Sugiyono. Metode penelitian kualitatif . ntuk penelitian yang bersifat eksploratif, interpretatif, interaktif, dan konstrukti. Alfabeta. Usop. Peran kearifan lokal masyarakat Dayak Ngaju untuk melestarikan pahewan . utan suc. di Kalimantan Tengah. ENGGANG: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni, dan Budaya, 1. , 89Ae95. https://doi. org/10. 37304/enggang. Van Hulten. Hidupku di antara suku Dayak. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik - Volume 3. Nomor. 4 Desember 2025