Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 PENGARUH BOKASHI KOTORAN SAPI DAN ASAM HUMAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L. EFFECTS OF COW MANURE BOKASHI AND HUMIC ACID ON GROWTH AND YIELD OF LETTUCE (Lactuca sativa L. Karen Dastian Alfin1. Melissa Syamsiah2. Angga Adriana Imansyah3 1, 2, 3 Universitas Suryakancana 1 karendastian894@gmail. com, 2 melissa@unsur. id, 3 anggasains@unsur. Masuk: 11 November 2025 Penerimaan: 28 Desember 2025 Publikasi: 29 Desember 2025 ABSTRAK Selada (Lactuca sativa L. ) merupakan sayuran daun bernilai ekonomi tinggi yang permintaannya terus Peningkatan permintaan ini perlu diimbangi dengan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bokashi kotoran sapi, asam humat, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis bokashi kotoran sapi (A) yang terdiri atas empat taraf: A0 . g/polyba. A1 . g/polyba. A2 . g/polyba. , dan A3 . g/polyba. Faktor kedua adalah asam humat (B) dengan lima taraf: B0 . g/L). B1 . ,25 g/L). B2 . ,5 g/L). B3 . ,75 g/L), dan B4 . g/L), yang diberikan melalui penyiraman . mL larutan per polyba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bokashi kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah, dan lebar daun selada. Dosis 180 g/polybag (A. memberikan hasil terbaik dengan rata-rata tinggi tanaman 22,92 cm dan lebar daun 16,89 cm pada umur 35 HST, serta bobot basah 82,47 g per tanaman. Asam humat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun dengan hasil terbaik pada dosis 0,25 g/L (B. , tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah, panjang akar, dan lebar daun. Kombinasi bokashi dan asam humat menunjukkan interaksi positif terhadap tinggi tanaman, dengan kombinasi A2B2 . g bokashi 0,5 g/L asam huma. menghasilkan tinggi tanaman terbaik pada awal fase pertumbuhan, namun tidak memberikan interaksi nyata terhadap bobot basah, panjang akar, dan lebar daun. Kata kunci: Selada (Lactuca sativa L. Bokashi kotoran sapi. Asam humat. Pertumbuhan. ABSTRACT Lettuce (Lactuca sativa L. ) is a leafy vegetable with high economic value, and its demand continues to increase. This increasing demand needs to be supported by cultivation technologies that can improve lettuce growth and yield while reducing reliance on inorganic fertilizers. This study aimed to evaluate the effects of cow manure bokashi, humic acid, and their interaction on the growth and yield of lettuce. A completely randomized design (CRD) in a factorial arrangement with two factors and three replications was used. The first factor was cow manure bokashi (A) with four levels: A0 . g/polyba. A1 . g/polyba. A2 . g/polyba. , and A3 . g/polyba. The second factor was humic acid (B) with five levels: B0 . g/L). B1 . 25 g/L). B2 . 5 g/L). B3 . 75 g/L), and B4 . g/L), applied by drenching . mL solution per polyba. The results showed that cow manure bokashi significantly affected plant height, number of leaves, fresh weight, and leaf width. The dose of 180 g/polybag (A. produced the best response, with an average plant height of 22. 92 cm and leaf width of 16. 89 cm at 35 days after transplanting, as well as a fresh weight of 82. 47 g per plant. Humic acid significantly affected plant height and number of leaves, with the best response at 0. 25 g/L (B. , but had no significant effect on fresh weight, root length, or leaf width. The interaction between bokashi and humic acid significantly affected plant height, with the combination A2B2 . g bokashi 0. 5 g/L humic aci. giving the best early growth, but no significant interaction was found for fresh weight, root length, or leaf width. Keywords: Lettuce (Lactuca sativa L. Cow manure bokashi. Humic scid. Growth. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 PENDAHULUAN Selada (Lactuca sativa L. ) merupakan salah satu komoditas sayuran daun yang banyak dikonsumsi masyarakat, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Kandungan vitamin dan mineral yang cukup tinggi menjadikan selada sebagai komponen penting dalam pola makan Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat serta bertambahnya restoran dan kafe yang menyajikan salad mendorong meningkatnya permintaan selada di pasar. Hal ini membuka peluang pengembangan budidaya selada, termasuk di daerah sentra hortikultura seperti Kecamatan Cipanas. Kabupaten Cianjur. Selama ini, peningkatan produksi selada umumnya masih mengandalkan pupuk Penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dapat menurunkan kualitas tanah, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan berpotensi menimbulkan residu pada produk hortikultura (Sentana, 2. Untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan, perlu dikembangkan penggunaan pupuk organik dan amelioran yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sekaligus mampu menyediakan hara bagi tanaman. Bokashi kotoran sapi merupakan salah satu bentuk pupuk organik hasil fermentasi yang mengandung unsur hara makro dan mikro yang cukup lengkap. Bokashi kotoran sapi yang difermentasi dengan EM4 dan bahan tambahan seperti sekam dan dedak dapat meningkatkan ketersediaan unsur N. P, dan K serta memperbaiki struktur tanah (Imban et al. , 2017. Tallo & Sio, 2. Nitrogen berperan penting dalam pembentukan hijau daun dan pertumbuhan vegetatif, sehingga ketersediaan N yang cukup dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot basah selada (Bangkele, 2018. Putra, 2. Asam humat merupakan fraksi bahan organik yang dikenal mampu meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan dan serapan hara, serta merangsang perkembangan sistem perakaran (Mindari et al. , 2022. Kusuma et al. , 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aplikasi asam humat dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil beberapa komoditas sayuran, antara lain pakcoy dan kangkung (Afrista. Rahmandhias & Rachmawati, 2. Namun, efektivitas asam humat sangat dipengaruhi oleh kondisi kesuburan tanah. pada tanah yang sudah subur, efek penambahan asam humat cenderung kurang nyata (Sarno & Fitria, 2012. Nuraini & Zahro, 2. Penggunaan bokashi kotoran sapi dan asam humat secara bersamaan berpotensi memberikan efek sinergis terhadap pertumbuhan dan hasil selada, terutama pada sistem budidaya dengan media campuran tanah dan sekam bakar yang umum digunakan di tingkat Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Namun, informasi mengenai dosis bokashi kotoran sapi dan asam humat yang tepat serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil selada masih terbatas. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk: . mengetahui pengaruh pemberian bokashi kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa . mengetahui pengaruh pemberian asam humat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman dan . mengevaluasi pengaruh interaksi antara bokashi kotoran sapi dan asam humat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan teknis bagi petani dalam mengelola pemupukan organik pada budidaya selada yang METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Kp Tegallega RT 03 RW 12. Desa Palasari. Kecamatan Cipanas. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat. Kegiatan penelitian berlangsung dari bulan Mei sampai Juli Bahan dan Alat Bahan yang digunakan antara lain benih selada kultivar Grand Rapids, tanah, sekam bakar, kotoran sapi. EM4, gula pasir/tetes tebu, dedak halus, air, serta asam humat komersial . owder/laruta. Media tanam menggunakan campuran tanah dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1 yang dimasukkan ke dalam polybag ukuran 30 y 30 cm. Alat yang digunakan meliputi cangkul, tugal, gembor, terpal, timbangan digital, penggaris/pita ukur, trai semai, alat tulis, dan alat dokumentasi. Rancangan Percobaan Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas satu tanaman, sehingga terdapat 4 y 5 y 3 = 60 Faktor A: dosis bokashi kotoran sapi per polybag A0 = 0 g . A1 = 90 g A2 = 180 g A3 = 270 g Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Faktor B: dosis asam humat per liter air . plikasi kocor, 200 mL/polyba. B0 = 0 g/L . B1 = 0,25 g/L B2 = 0,5 g/L B3 = 0,75 g/L B4 = 1 g/L Tahapan Penelitian Pembuatan bokashi kotoran sapi : Kotoran sapi dicampur dengan sekam padi, sekam bakar, dan dedak halus. Larutan EM4, tetes tebu/gula, dan air dicampurkan lalu disiramkan pada campuran bahan hingga lembab merata. Bahan kemudian ditutup terpal dan difermentasi selama A35 hari dengan pembalikan berkala untuk menjaga suhu dan aerasi (Dewi et al. , 2023. Tallo & Sio, 2. Persiapan media tanam : Media tanam berupa campuran tanah dan sekam bakar . dimasukkan ke dalam polybag 30 y 30 cm. Media dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman, lalu dilakukan pengapuran sekali sesuai kebutuhan untuk menyesuaikan pH (Susila, 2. Penyemaian dan penanaman : Benih selada disemai pada tray berisi campuran tanah dan arang sekam . selama A14 hari. Bibit dengan 3Ae4 helai daun sejati dipindahkan ke polybag, satu bibit per polybag (Husna et al. , 2. Pemberian perlakuan : Bokashi kotoran sapi dicampurkan ke media tanam sesuai dosis perlakuan sebelum tanam. Asam humat diaplikasikan dengan cara dikocor ke media . mL larutan per polyba. pada 1 minggu sebelum tanam, kemudian diulang pada 7, 14, 21, dan 28 hari setelah tanam. Pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan gulma, dan pengendalian hama penyakit secara mekanis/organik sesuai kebutuhan agar kondisi tanaman tetap sehat. Parameter Pengamatan Parameter yang diamati meliputi: Tinggi tanaman . : diukur dari pangkal batang sampai titik daun tertinggi pada setiap tanaman contoh. Pengamatan dilakukan setiap 7 hari mulai 7 sampai 35 hari setelah tanam (HST). Jumlah daun . : dihitung semua daun yang berkembang pada setiap tanaman contoh, diamati setiap 7 hari dari 7 sampai 35 HST. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Bobot basah . : ditimbang seluruh bagian tajuk tanaman per satuan percobaan pada saat panen . HST) menggunakan timbangan digital. Panjang akar . : diukur dengan penggaris pada akar utama setiap tanaman contoh pada saat panen. Lebar daun . : diukur pada tiga daun terlebar dengan membentangkan daun pada permukaan datar, kemudian diambil rata-ratanya pada saat panen. Analisis Data Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf nyata 5% dengan bantuan perangkat lunak SAS dan Microsoft Excel. Apabila terdapat perbedaan nyata, dilakukan uji lanjut Tukey pada taraf 5% untuk membandingkan rerata antar perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Pemberian bokashi kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman selada mulai umur 14 hingga 35 HST. Dosis A2 . g/polyba. menghasilkan tinggi tanaman tertinggi hingga 22,92 cm pada umur 35 HST, yang tidak berbeda nyata dengan A3 . g/polyba. , tetapi berbeda nyata dengan A0 . dan A1 . g/polyba. Hal ini menunjukkan bahwa dosis 180 g bokashi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hara utama (N. K) bagi pertumbuhan vegetatif selada, sementara penambahan hingga 270 g tidak memberikan peningkatan yang berarti. Bokashi kotoran sapi mengandung N sekitar 3,22%. P 3,24%, dan K 4,47% yang berperan dalam pembentukan jaringan vegetatif dan luas daun (Imban et al. , 2. Asam humat juga berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, dengan dosis terbaik pada B1 . ,25 g/L). Dosis asam humat yang terlalu tinggi tidak lagi meningkatkan tinggi tanaman, diduga karena media tanam sudah cukup subur akibat suplai hara dari bokashi sehingga peran tambahan asam humat menjadi kurang dominan (Sarno & Fitria, 2012. Indiarto et al. , 2. Interaksi antara bokashi kotoran sapi dan asam humat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada fase awal pertumbuhan, dengan kombinasi A2B2 . g bokashi 0,5 g/L asam huma. memberikan tinggi tanaman terbaik pada 14 HST. Pada fase ini, tanaman telah melewati fase adaptasi dan memasuki fase pertumbuhan eksponensial, sementara bokashi mulai terdekomposisi dan menyediakan hara dalam jumlah cukup, sehingga dukungan asam humat terhadap ketersediaan hara dan aktivitas akar menjadi lebih nyata (Wijaya et al. , 2017. Mata. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Tabel 1. Rata-Rata Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman . Rata-rata Tinggi Tanaman . Perlakuan 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst Rata-Rata Tinggi Tanaman . Perlakuan 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst Rata-Rata Tinggi Tanaman . Perlakuan 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst A0B0 A0B1 A0B2 A0B3 A0B4 A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A3B0 A3B1 A3B2 A3B3 A3B4 A*B Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama itu tidak berbeda nyata angka yang tidak diikuti oleh huruf yang sama itu tidak berbeda nyata. (A. kontrol (A. bokashi 90 g (A. bokashi 180 g (A. bokashi 270 g (B. kontrol (B. asam humat 0,25 g (B. asam humat 0,5 g (B. asam humat 0,75 g (B. asam humat 1 g. Jumlah Daun Jumlah daun selada dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan bokashi kotoran sapi dan asam humat, namun interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata. Pemberian bokashi 180 g/polybag (A. dan 270 g/polybag (A. cenderung menghasilkan jumlah daun lebih banyak dibandingkan kontrol, sejalan dengan tingginya ketersediaan nitrogen dan kalium yang berperan dalam pembentukan daun. Asam humat dosis rendah . ,25Ae0,5 g/L) memperbaiki kondisi rhizosfer dan meningkatkan serapan hara, sehingga mendukung pembentukan daun, namun peningkatan dosis di atas itu tidak lagi memberikan perbedaan nyata. Hal ini konsisten dengan temuan Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 sebelumnya bahwa asam humat efektif pada dosis moderat dan pada kondisi tanah yang relatif kurang subur (Afrista, 2022. Nuraini & Zahro, 2. Tabel 2. Rata-Rata Hasil Pengamatan Jumlah Daun. Rata-Rata Jumlah Daun (Hela. Perlakuan 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst Rata-Rata Jumlah Daun (Hela. Perlakuan 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst Rata-Rata Jumlah Daun (Hela. Perlakuan 7 hst 14 hst 21 hst 28 hst 35 hst A0B0 A0B1 A0B2 A0B3 A0B4 A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A3B0 A3B1 A3B2 A3B3 A3B4 Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama itu tidak berbeda nyata angka yang tidak diikuti oleh huruf yang sama itu tidak berbeda nyata. (A. kontrol (A. bokashi 90 g (A. bokashi 180 g (A. bokashi 270 g (B. kontrol (B. asam humat 0,25 g (B. asam humat 0,5 g (B. asam humat 0,75 g (B. asam humat 1 g. Bobot Basah Parameter bobot basah tajuk menunjukkan bahwa bokashi kotoran sapi memberikan pengaruh nyata terhadap hasil biomassa selada. Perlakuan A2 . g/polyba. memberikan bobot basah tertinggi sebesar 82,47 g pertanaman, berbeda nyata dengan kontrol dan A1, serta sebanding dengan A3. Peningkatan bobot basah ini menunjukkan bahwa ketersediaan hara makro dari bokashi pada dosis 180 g/polybag sudah optimal untuk mendukung pertumbuhan tajuk dan pembentukan daun yang lebat (Arum et al. , 2. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Sebaliknya, asam humat tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah, dan demikian pula kombinasi antara bokashi dan asam humat. Hal ini diduga karena media tanam sudah mengandung hara yang cukup dari bokashi, sehingga tambahan asam humat tidak memberikan peningkatan signifikan pada produksi biomassa. Asam humat cenderung lebih efektif pada tanah yang miskin hara atau terdegradasi (Restida et al. , 2014. Kusuma et al. , 2. Tabel 3. Rata-Rata Hasil Pengamatan Bobot Basah. Perlakuan Rata-Rata Bobot Basah . Perlakuan Rata-Rata Bobot Basah . Perlakuan Rata-Rata Bobot Basah . A0B0 A0B1 A0B2 A0B3 A0B4 A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A3B0 A3B1 A3B2 A3B3 A3B4 Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama itu tidak berbeda nyata angka yang tidak diikuti oleh huruf yang sama itu tidak berbeda nyata. (A. kontrol (A. bokashi 90 g (A. bokashi 180 g (A. bokashi 270 g (B. kontrol (B. asam humat 0,25 g (B. asam humat 0,5 g (B. asam humat 0,75 g (B. asam humat 1 g. Panjang Akar Perlakuan bokashi kotoran sapi, asam humat, maupun kombinasinya tidak berpengaruh nyata terhadap panjang akar. Panjang akar yang relatif seragam antar perlakuan menunjukkan bahwa sistem perakaran selada lebih dipengaruhi oleh karakter genetik dan kondisi fisik media . orositas, aeras. yang dalam penelitian ini dibuat homogen dengan campuran tanah dan sekam Hara nitrogen yang cukup justru dapat menekan pemanjangan akar karena tanaman lebih Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 memfokuskan pertumbuhan ke tajuk (Bangkele, 2. Aplikasi asam humat melalui media juga cenderung lebih mempengaruhi percabangan akar lateral dan rambut akar daripada pemanjangan akar utama (Rahmandhias & Rachmawati, 2. Tabel 4 Rata-Rata Hasil Pengamatan Panjang Akar Perlakuan Rata-Rata Panjang Akar . Bokashi kotoran sapi Asam Humat Kombinasi A0B0 A0B1 A0B2 A0B3 A0B4 A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A3B0 A3B1 A3B2 A3B3 A3B4 Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama itu tidak berbeda nyata angka yang tidak diikuti oleh huruf yang sama itu tidak berbeda nyata. (A. kontrol (A. bokashi 90 g (A. bokashi 180 g (A. bokashi 270 g (B. kontrol (B. asam humat 0,25 g (B. asam humat 0,5 g (B. asam humat 0,75 g (B. asam humat 1 g. Lebar Daun Lebar daun selada dipengaruhi secara nyata oleh pemberian bokashi kotoran sapi, namun tidak oleh asam humat maupun interaksi keduanya. Perlakuan A2 . g/polyba. menghasilkan lebar daun terbesar . ,89 c. dan tidak berbeda nyata dengan A3, tetapi berbeda nyata dengan A0 dan A1. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan dosis bokashi sampai 180Ae270 g/polybag meningkatkan suplai hara terutama N. P, dan K, sehingga memperbesar ukuran daun yang berkontribusi langsung pada peningkatan luas permukaan fotosintesis (Imban et al. , 2. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Pemberian asam humat pada berbagai dosis . ,25Ae1 g/L) tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap lebar daun. Dugaan utamanya adalah peran asam humat sebagai amelioran dan peningkat KTK menjadi kurang menonjol pada media tanam yang sudah diperkaya bokashi dan sekam bakar, sehingga perubahan lebar daun tidak berbeda nyata antar perlakuan (Sarno & Fitria, 2012. Mindari et al. , 2. Tabel 5. Rata-Rata Hasil Pengamatan Lebar Daun Perlakuan Rata-Rata Lebar Daun . Perlakuan Rata-Rata Lebar Daun . Perlakuan Rata-Rata Lebar Daun . A0B0 A0B1 A0B2 A0B3 A0B4 A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A3B0 A3B1 A3B2 A3B3 A3B4 Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama itu tidak berbeda nyata angka yang tidak diikuti oleh huruf yang sama itu tidak berbeda nyata. (A. kontrol (A. bokashi 90 g (A. bokashi 180 g (A. bokashi 270 g (B. kontrol (B. asam humat 0,25 g (B. asam humat 0,5 g (B. asam humat 0,75 g (B. asam humat 1 g. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan dosis bokashi kotoran sapi sampai 180 g/polybag efektif meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil selada, sementara peran asam humat lebih terbatas pada peningkatan tinggi tanaman dan jumlah daun pada dosis rendah, dengan efek yang cenderung tidak nyata pada hasil akhir . obot basa. pada kondisi media yang relatif subur. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Pemberian bokashi kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah, dan lebar daun selada. Dosis terbaik adalah 180 g/polybag (A. yang memberikan pertumbuhan vegetatif dan hasil paling tinggi. Pemberian asam humat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun selada, dengan dosis terbaik 0,25 g/L (B. , namun tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah, panjang akar, dan lebar daun. Kombinasi bokashi kotoran sapi dan asam humat menunjukkan interaksi positif terhadap tinggi tanaman, dengan kombinasi A2B2 . g bokashi 0,5 g/L asam huma. memberikan tinggi tanaman terbaik pada fase awal pertumbuhan. Namun, tidak terdapat interaksi nyata antara kedua faktor tersebut terhadap bobot basah, panjang akar, dan lebar daun selada. DAFTAR PUSTAKA