Vol. Tidak. Pp. SURVEI INDEX MASA TUBUH DAN AKTIVITAS FISIK PADA SISWA MAMBUSAO NATIONAL HIGH SCHOOL I Putu Bagus Wirasukmana1. Ristanti Puji Astuti2 1. Prodi Ilmu Keolahgraan 2. Prodi Ilmu Keolahgraan . Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Indonesia . Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Indonesia Email: guzwira01@gmail. com1, ristantisor@gmail. ARTICLEINFO ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 28-10-2025 Direvisi: 2-12-2025 Diterima: 27-12-2025 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Indeks Massa Tubuh dan aktivitas fisik serta pengaruh Indeks Massa Tubuh terhadap aktivitas fisik pada siswa kelas XII IPA 3 Mambusao National High School. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian berjumlah 34 siswa kelas XII IPA 3. Pengukuran IMT dilakukan menggunakan rumus Indeks Massa Tubuh berdasarkan standar World Health Organization (WHO), sedangkan tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan instrumen Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status IMT siswa terdiri dari kategori obesitas tingkat II sebanyak 7 siswa, obesitas tingkat I 3 siswa, berisiko obesitas 2 siswa, kategori normal 15 siswa, dan kategori kurus 7 siswa. Sementara itu, tingkat aktivitas fisik siswa berada pada kategori tinggi sebanyak 24 siswa . %), kategori sedang sebanyak 5 siswa . %), dan kategori rendah sebanyak 5 siswa . %). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat aktivitas fisik yang tinggi meskipun terdapat variasi status Indeks Massa Tubuh. Oleh karena itu, pemantauan status gizi dan peningkatan aktivitas fisik perlu terus dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan siswa. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh. Aktivitas Fisik. GPAQ. Siswa Keyword: Body Mass Index. Physical Activity. GPAQ. Students ABSTRACT This study aimed to describe Body Mass Index and physical activity levels as well as the effect of Body Mass Index on physical activity among students of class XII IPA 3 at Mambusao National High School. This study employed a quantitative descriptive method. The research subjects consisted of 34 students of class XII IPA 3. BMI was JSH: Journal of Sport and Health Vol 7 No 2 . measured using the Body Mass Index formula based on World Health Organization (WHO) standards, while physical activity levels were assessed using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) WHO. The results showed that studentsAo BMI status consisted of 7 students classified as obesity level II, 3 students as obesity level I, 2 students at risk of obesity, 15 students with normal BMI, and 7 students classified as underweight. Meanwhile, physical activity levels were categorized as high in 24 students . %), moderate in 5 students . %), and low in 5 students . %). Based on these findings, it can be concluded that the majority of students had a high level of physical activity despite variations in Body Mass Index. Therefore, continuous monitoring of nutritional status and promotion of physical activity are necessary to maintain studentsAo health. Pendahuluan Aktivitas fisik didefinisikan sebagai setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik mencakup berbagai aktivitas, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga olahraga terstruktur dengan intensitas ringan, sedang, dan berat (Publikasi, 2. Aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran jasmani, meningkatkan fungsi kardiovaskular, serta mengontrol berat badan pada remaja. Remaja yang melakukan aktivitas fisik secara teratur cenderung memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan dengan remaja yang kurang aktif (Wibowo, 2. (Wiyana et al. , 2. Penelitian (Sukma et al. , 2. pada siswa SMA menunjukkan bahwa rendahnya tingkat aktivitas fisik berhubungan dengan meningkatnya risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Faktor-faktor yang memengaruhi aktivitas fisik siswa SMA antara lain beban akademik, ketersediaan fasilitas olahraga, dan kebiasaan sedentari seperti penggunaan gawai yang Dengan demikian, aktivitas fisik merupakan komponen penting dalam menjaga kesehatan dan keseimbangan energi pada siswa SMA. Secara biologis, remaja mengalami percepatan pertumbuhan fisik dan perkembangan hormonal yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk kebutuhan tidur, pola makan, dan aktivitas fisik(Manopo et al. , 2. Pada remaja usia sekolah menengah, interpretasi IMT menjadi penting karena periode ini merupakan fase pertumbuhan pesat yang ditandai perubahan hormon, peningkatan tinggi badan, perkembangan otot, serta perubahan pola makan dan aktivitas fisik (Ramadhania et al. JSH: Journal of Sport and Health Vol 7 No 2 . Secara teoritis. IMT berfungsi sebagai indikator keseimbangan energi dalam tubuh. Apabila asupan energi melebihi energi yang dikeluarkan, maka tubuh cenderung mengalami peningkatan berat badan sehingga menaikkan nilai IMT(Fitri et al. , 2. Sebaliknya, apabila energi yang dikeluarkan lebih besar dari energi yang masuk, berat badan akan menurun. Konsep keseimbangan energi ini menjadi dasar banyak kajian dalam ilmu olahraga, kesehatan masyarakat, dan gizi. Adanya instrumen berupa Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2002 yang dirancang untuk mengumpulkan data aktivitas fisik secara menyeluruh yang dapat digunakan dalam pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular di berbagai negara (Abduh et al. , 2. Maka dari itu penelitian pada siswa sekolah menengah, seperti siswa Mambusao National High School menggunakan GPAQ sangat relevan digunakan karena mampu mengukur aktivitas fisik dalam konteks kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun aktivitas transportasi. GPAQ memiliki beberapa tujuan penting dalam penelitian dan pemantauan kesehatan masyarakat, seperti : Mengukur tingkat aktivitas fisik berdasarkan frekuensi dan durasi kegiatan, mendeteksi pola aktivitas fisik di berbagai domain sehingga memberikan gambaran mengenai gaya hidup seseorang dan Mendukung evaluasi kebijakan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan pencegahan obesitas, penyakit degeneratif, dan gaya hidup sedentari. Sehingga mampu melahirkan siswa-siswi unggul yang siap bersaing di tingkat tertinggi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif. Metode survei deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta serta karakteristik populasi tertentu tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap subjek penelitian (Putri et al. , 2. Desain ini dipilih untuk memperoleh gambaran status Indeks Massa Tubuh (IMT) dan tingkat aktivitas fisik siswa pada siswa Mambusao National High School. Subjek penelitian adalah 34 siswa Kelas XII IPA 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) Mambusao National High School. Provinsi Capiz. Filipina, dengan rentang usia 17Ae18 tahun yang dilaksanakan pada November hingga Desember menggunakan Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria siswa aktif terdaftar di sekolah, dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian penelitian. Variabel JSH: Journal of Sport and Health Vol 7 No 2 . penelitian meliputi Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai variabel independen, dan Aktivitas fisik sebagai variabel dependen. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan intrumen, . Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT diperoleh melalui pengukuran berat badan . dan tinggi badan . siswa menggunakan alat ukur standar. Nilai IMT dihitung berdasarkan rumus WHO dan diklasifikasikan ke dalam kategori kurus, normal, risiko obesitas . , obesitas I, dan obesitas II. Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO). GPAQ mengukur aktivitas fisik pada tiga domain, yaitu aktivitas sekolah/kerja, transportasi, dan aktivitas rekreasi, dengan memperhatikan intensitas, frekuensi, dan durasi aktivitas. Data GPAQ dikonversi ke dalam satuan MET-minutes/week dan diklasifikasikan menjadi aktivitas fisik tinggi, sedang, dan rendah. Pengisian kuesioner dilakukan secara langsung dengan pendampingan peneliti dan guru Pendidikan Jasmani untuk memastikan pemahaman responden terhadap instrumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatif berupa metode untuk mengolah, menganalisis, dan menafsirkan data berbentuk angka . dengan tujuan menghasilkan informasi yang dapat diuji secara statistik, ditarik kesimpulan objektif, dan sering kali digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis meliputi perhitungan frekuensi, persentase, nilai rata-rata, dan distribusi kategori untuk variabel IMT dan tingkat aktivitas fisik. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan deskripsi naratif untuk memberikan gambaran profil IMT dan aktivitas fisik siswa serta sebagai dasar interpretasi hubungan antara kedua variabel. Penelitian dilaksanakan di Mambusao National High School. Provinsi Capiz. Filipina. Hasil Dan Pembahasan Hasil Hasil Pengukuran IMT pada siswa Mambusao National High School memberikan informasi mengenai kategori status gizi siswa, meliputi kategori kurus, normal, overweight, hingga obesitas. Temuan ini sangat penting karena setiap kategori IMT memiliki implikasi fisiologis yang berbeda, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan siswa untuk melakukan aktivitas fisik. Selain itu, variasi IMT di antara siswa mencerminkan perbedaan gaya hidup, pola makan, serta tingkat aktivitas fisik sehari-hari. JSH: Journal of Sport and Health Vol 7 No 2 . Obesitas 2 Obesitas 1 20,5% Tabel 1. Hasil IMT Resiko Normal Obesitas Kurang 20,5% Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap 34 siswa Mambusao National High School, diperoleh distribusi status gizi sebagai berikut: Kategori obesitas II berjumlah 7 siswa, kategori obesitas I tercatat sebanyak 3 siswa, kategori risiko obesitas sebanyak 2 siswa, kategori normal adalah kategori yang paling banyak ditempati, yaitu sebanyak 15 siswa dan kategori kurang (Underweigh. ditemukan sebanyak 7 siswa. Distribusi ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa berada pada kategori normal, terdapat kelompok yang cukup signifikan berada pada kategori obesitas (I dan II) serta kategori kurang. Kondisi ini penting untuk dianalisis lebih lanjut karena perbedaan status IMT. Hasil pengukuran aktivitas fisik siswa Mambusao National High School, diukur menggunakan instrumen Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO). GPAQ digunakan untuk mengukur aktivitas fisik berdasarkan intensitas dan durasinya, sehingga menghasilkan kategori aktivitas fisik tinggi, sedang, dan rendah. Tinggi Tabel 2. Hasil pengukuran aktivitas fisik Sedang Rendah Total Hasil pengukuran aktivitas fisik menggunakan GPAQ menunjukkan bahwa mayoritas siswa Mambusao National High School memiliki tingkat aktivitas fisik yang tergolong tinggi. Sebanyak 70% siswa mampu memenuhi kriteria aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat. Hal ini mencerminkan adanya pola hidup yang cukup aktif di kalangan siswa, kemungkinan dipengaruhi oleh kegiatan sekolah, pelajaran pendidikan jasmani, aktivitas rekreasional, serta kebiasaan sehari-hari yang melibatkan gerak fisik. Namun demikian, masih terdapat 15% siswa yang berada pada kategori aktivitas fisik sedang dan 15% lainnya berada pada kategori rendah. Pembahasan Bagian Hasil pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) pada 34 siswa Mambusao National High School menunjukkan distribusi sebagai berikut: kategori normal sebanyak 15 siswa JSH: Journal of Sport and Health Vol 7 No 2 . %), kurus 7 siswa . %), obesitas I 3 siswa . %), obesitas II 7 siswa . %), dan risiko obesitas . 2 siswa . %). Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori normal, namun terdapat proporsi yang signifikan dalam kategori obesitas dan Fenomena ini sesuai dengan teori keseimbangan energi yang dijelaskan oleh WHO . , di mana kelebihan atau kekurangan berat badan dipengaruhi oleh perbedaan antara asupan energi dan pengeluaran energi. Siswa yang berada dalam kategori obesitas kemungkinan memiliki asupan energi yang melebihi pengeluaran melalui aktivitas fisik, sedangkan siswa kurus dapat mengalami ketidakseimbangan energi sebaliknya. Selain itu, variasi IMT pada siswa juga dipengaruhi oleh faktor genetik, pola makan, tingkat aktivitas fisik, serta faktor lingkungan dan sosial. Kondisi ini penting karena IMT yang tidak normal, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah, dapat berdampak pada kemampuan fisik, daya tahan, dan prestasi dalam kegiatan olahraga di sekolah. Misalnya, siswa obesitas cenderung mengalami keterbatasan mobilitas dan stamina, sedangkan siswa kurus mungkin memiliki daya tahan otot yang lebih rendah. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan GPAQ, sebagian besar siswa . siswa atau 70%) termasuk dalam kategori aktivitas fisik tinggi, 5 siswa . %) berada pada kategori sedang, dan 5 siswa . %) berada pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa Mambusao National High School memiliki tingkat aktivitas fisik yang cukup Hasil ini menunjukan bahwa aktivitas fisik remaja dapat dibagi menjadi aktivitas rekreasi, transportasi, dan aktivitas di sekolah. Siswa yang aktif secara rutin cenderung memiliki stamina, kekuatan otot, dan daya tahan kardiovaskular yang lebih baik. Aktivitas fisik tinggi juga berperan penting dalam mengontrol berat badan, sehingga dapat mencegah risiko obesitas dan menjaga keseimbangan energi. Keseimbangan energi menyatakan bahwa berat badan dipengaruhi oleh perbedaan antara asupan energi kalori masuk dan pengeluaran energi kalori keluar (Yoo, 2. Ketidakseimbangan antara keduanya dapat mengakibatkan kenaikan atau penurunan berat badan yang berujung pada obesitas atau gizi kurang. Konsep ini menjadi dasar untuk memahami distribusi IMT pada populasi remaja. Studi menunjukkan bahwa ketidakseimbangan energi yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak dan remaja, sehingga aktivitas fisik diarahkan tidak hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai komponen utama dalam pengendalian lemak tubuh (Di & Mojolaban, 2. JSH: Journal of Sport and Health Vol 7 No 2 . Meski mayoritas siswa aktif, terdapat 30% siswa yang berada dalam kategori aktivitas fisik sedang hingga rendah. Kondisi ini perlu diperhatikan karena aktivitas fisik yang kurang dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan, menurunkan kebugaran jasmani, serta berdampak negatif pada kesehatan jangka panjang. Kesimpulan Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap aktivitas fisik pada siswa Mambusao National High School, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut: . Distribusi IMT siswa bervariasi, di mana mayoritas siswa berada pada kategori normal, diikuti oleh siswa kurus, obesitas I, obesitas II, dan risiko obesitas . Variasi ini menunjukkan adanya perbedaan status gizi dan kondisi fisik di kalangan siswa. Tingkat aktivitas fisik siswa mayoritas tergolong tinggi, dengan sebagian kecil siswa berada pada kategori sedang hingga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa aktif secara fisik, baik melalui kegiatan sekolah, olahraga, maupun aktivitas seharihari. Terdapat hubungan antara IMT dan tingkat aktivitas fisik, di mana siswa dengan IMT normal cenderung memiliki aktivitas fisik yang tinggi, sedangkan siswa dengan IMT obesitas atau kurus memiliki kecenderungan aktivitas fisik sedang hingga rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa status massa tubuh dapat memengaruhi partisipasi dan intensitas aktivitas fisik pada siswa. Variasi IMT dan aktivitas fisik menunjukkan pentingnya intervensi kesehatan, baik untuk meningkatkan aktivitas fisik siswa dengan IMT tidak normal maupun untuk menjaga kondisi fisik siswa yang sudah sehat agar tetap aktif. Daftar Pustaka