PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuri dan Syeikh Siti Jennar Anton Noverdin UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu antonnoverdin@gmail. Abstract: Wahdatul Wujud in the Perspective of Hamzah Al Fansur and Sheikh Siti Jennar. One of the early figures who spread Sufism in the archipelago was Shaykh Siti Jenar, who was famous for his concept which was a controversy about the issue of life and death. God and freedom, and the place where the Shari'a was applied. Sheikh Siti Jenar views that human life in this world is called death. On the other hand, what is generally called death is the beginning of an essential and eternal life by him. As a consequence, human life in this world cannot be subject to worldly laws, such as state law. In this study, the author uses a library research method that focuses on aspects of thinking, the history of the two figures, as well as other figures who influence So in conducting library research, make a collection of primary and secondary books, which are related to all references that support this writing study. Hamzah Fansuri has thoughts about wahdatul embodiment or embodiment, namely: first, the essence of being, that there is only one being, namely Allah, even though the forms appear to be many. Both Eka in Diversity, that form does not only include its unity even though it has many forms. Third, the creation of nature, the process of creating nature starts from la ta'ayyun, ta'ayyun, tanazzul, by going through the five dignity . , and will bertaraqqi to la ta'ayyun while Shaykh Siti Jenar's thoughts about divinity are what are famous on the island of Java as Manunggaling Kawula lan Gusti, which in the author's understanding is almost the same as the teachings of the Wahdatul Being. Where God and nature are one entity or God is immanent with nature . Keywords: Wahdatul Wujud. Perspective of Hamzah Al Fansuri, and Perspective of Sheikh Siti Jennar Abstrak: Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuridan Syeikh Siti Jennar. Salah satu dari tokoh awal yang menyebarkan ajaran tasawuf di kepulauan Nusantara ini adalah Syaikh Siti Jenar, yang terkenal dengan konsepnya yang kontroversial tentang persoalan hidup dan mati. Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara. Dalam riset ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Researc. yang memfokuskam kepada aspek pemikiran, sejarah dari dua tokoh serta tokoh-tokoh lainya yang Maka dalam mengadakan penelitian kepustakaan penyusun melakukan pengumpulan dari buku-buku primer maupun sekunder, yang ada kaitanya dengan seluruh referensi yang mendukung studi penulisan Hamzah Fansuri memiliki pemikiran tentang wahdatul wujud atau wujudiyyah, yaitu: pertama Hakekat Wujud, bahwa wujud itu hanya satu yaitu Allah meskipun wujud itu kelihatan banyak. Kedua Eka dalam Keanekaan, bahwa wujud bukan hanya mencakup kesatuannya meskipun ia bertajalli dalam banyak bentuk. Ketiga Penciptaan Alam, proses penciptaan alam dimulai dari la taAoayyun, taAoayyun, tanazzul, dengan melalui lima martabat . , dan akan bertaraqqi kepada la taAoayyun sedanngkan Pemikiran tentang ketuhanan yang dimiliki oleh Syaikh Siti Jenar adalah apa yang masyhur di pulau Jawa dengan sebutan Manunggaling Kawula lan Gusti, yang dalam pemahaman penulis hampir sama dengan ajaran dari paham wahdatul wujud. Dimana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam . Kata Kunci: Wahdatul Wujud. Perspektif dari Hamzah Al Fansuri, dan Perspektif dari Syeikh Siti Jennar PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pendahuluan Islam masuk di Indonesia tidak hanya melalui jalur perdagangan yang datang dari Gujarat. Akan tetapi ajaran Islam masuk ke negeri ini juga melalui jalur yang lain yakni melalui perkawinan, pengungsian, serta sebuah operasi rahasia yang dilakukan oleh para Ulama Sufi yang menjadi penyebar ajaran Islam di Bumi Nusantara. 1 Sama halnya dengan ajaran-ajaran agama lain yang masuk ke negeri ini. Islam masuk pun juga tidak pernah melalui jalur senjata, sebab masyarakat nusantara ketika itu telah memiliki persepsi yang sama tentang konsep ketuhanan. Hal ini bisa dilihat dari ajaran Hindu maupun Budha yang terlebih dahulu masuk ke Indonesia. Dalam ajaran kedua agama tersebut, kata Tuhan pastinya selalu didefinisikan sebagai sesuatu yang tak bisa dibayang-bayangkan, tak bisa diangan-angankan Begitu juga dengan beberapa ajaran kuno atau lokal yang ada di negeri ini, semuanya merupakan ajaran-ajaran yang memiliki landasan ketauhidan yang mirip dengan Islam. Bahkan di beberapa daerah, biasa didapatkan ajaran-ajaran lokal yang memiliki ajaran yang sama persis dengan apa yang dimiliki oleh ajaran Islam itu Hal tersebut juga sangatlah dikuatkan dengan situasi ketika itu, proses Islamisasi yang terjadi di Indonesia, ketika tasawuf merupakan corak pemikiran yang dominan dalam dunia Islam. Bahkan tulisan-tulisan paling awal karya muslim Indonesia bernapaskan semangat tasawuf. Sehingga dengan tasawuf inilah juga, orang Indonesia kemudian berbondong-bondong memeluk Islam. Salah satu dari tokoh awal yang menyebarkan ajaran tasawuf di kepulauan Nusantara ini adalah Syaikh Siti Jenar, yang kontroversial tentang persoalan hidup dan mati. Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi Sebagai kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara, tetapi tidak termasuk hukum syariat peribadatan sebagaimana yang ditentukan oleh syariat agama Islam. 3 Peradaban Islam adalah peradaban yang mewariskan begitu banyak hal, baik dari khazanah kekayaan sosial budaya, intelektual, arstektur,dan lainnya. Dari berbagai warisan tersebut ada suatu peninggalan yang selalu ada, lestari tidak tidak terputus, yaitu bidang intelektual. Bidang intelektual memainkan peranan yang sangat besar dalam perjalanan sejarah peradaban dunia Islam. Kita tentu mengetahui para tokoh seperti Ibnu Sina. Ibnu Rusyd. Al Ghazali dalam bidang filsafat atau ilmuwan lain seperti Jabir bin hayaan ,al Kawarizmi, al farabi dalam ilmu kimia, al jabar dalam seni dan masih banyak lagi ilmuwan besar yang turut mewarnai kemegahan peradaban Islam dari 2Martin Agus. Sunyoto,Suluk Abdul Jalil, buku I,Yogyakarta:Lkis, , 2002. Hal. Van . Bruinessen . Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung:Mizan. Hal. 3Ahmad,Chodjim. Syekh Siti Jenar Makna Kematian. Jakarta:Serambi, 2004. Hal. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 masa ke masa. 4 Tasawuf adalah pelatihan mensucikan jiwa atau rohani manusia. Hal ini dilakukan untuk melakukan pendekatan atau taqarub kepada Allah dan dengannya segala hidup dan fokus yang dilakukan hanya untuk Allah semata. Untuk itu, tasawuf tentu berkaitan dengan pembinaan akhlak, pembangunan rohani, sikap sederhana dalam hidup, dan menjauhi hal-hal dunia yang dapat membuat terlena. Tentu hal ini bisa membantu manusia dalam mencapai tujuannya dalam hidup. Untuk itu, praktik tasawuf ini dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin membangun akhlak yang baik, kembalinya pada Illahi dalam kondisi yang Pada dasarnya tasawuf merupakan jalan atau latihan-latihan menanamkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. satu sisi Islam sebagai agama yang memang menganggap penting penerapan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, tentunya menjadi partner bagi tasawuf untuk kemudian masuk dalam khazanah Islam. Maka di sinilah kemudian terjadi asimilasi di mana tasawuf mempengaruhi kehidupan sebagian umat Islam. Di antara mereka ada yang kemudian menjadikan kebahagiaan dengan melatih diri menjadi pribadi yang luhur dengan akhlak yang Sebagaimana kita ketahui bahwa tasawuf memiliki beberapa variasi dan 4 Enksiklopedi Islam,(Jakarta :PT Ichtiar Baru Van Hoeve,huruf 1 ,1. , h. M,Solihin dan Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf, (Bandung :Pustaka Setia,2. ,h. 6 H. Rivay Seregar. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2. ,cet 2, h. macam-macam ada tasawuf falsafi, sunni. Namun pemikiran dalam dunia tasawuf di lingkungan Islam memiliki laju yang keras dan tidak dapat dibendung. Terutama ketika terjadi proses penerjemahan karyakarya Yunani keperadaban Islam. Dari sinilah adanya asimilasi filsafat Yunani dengan tasawuf. Seperti tasawuf pada dasarnya mengajarkan latihan-latihan penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mencapai kesucian batin mendekatkan diri kepada Allah. Di satu sisi filosof Yunani juga yang mengajarkan jalan mendapatkan kesucian batin mendekatkan diri pada Tuhan. Socrates. Protogoras. Phytagoras dan Plato mempunyai teori-teori tersebut. Adanya kesamaan ini menarik perhatian masing-masing pihak, baik itu para filosof ataupun sufi. Dari sinilah tampil sejumlah sufi yang filosofis atau filosofis yang sufi. Konsep-konsep tasawuf mereka disebut tasawuf falsafi, yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran filsafat. 8 Salah satu Mahkota tasawuf terletak pada konsep atau wahdat-al-wujud diformulasikan oleh Ibnu Arabi. Maksud dari wahdat al-Wujud adalah bahwa seluruh yang ada walaupun ia nampak, sebenarnya tidak ada dan keberadaannya tergantung kepada Tuhan sang Pencipta. Yang Nampak hanya bayang-bayang dari yang satu. Seandainya Tuhan tidak ada, yang merupakan sumber bayang-bayang yang lain pun tidak ada, karena seluruh 7Ibrahim Hilal. Tasawuf Antara Agama dan Filsafat. Sebuah Kritik Metodologis,terj, (Bandung :Pustaka Hidayah,2. ,cet I, h. 8 H. Rivay Seregar. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2. ,cet 2, h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 alam ini, yang ada hanyalah satu, yaitu Tuhan merupakan bayang-bayang. Paham ini merupakan perluasan dari konsep Hulul. Dikatakan demikian, karena memang Ibnu Arabi memforrmulasikan paham tersebut dengan mengembangkan konsep hululnya al-Hallaj. Ibnu Arabi mengganti istilah nasut yang ada dalam hulul dengan kholq . Sedangkan lahut menjadi al-Haq, khalq, dan al-Haq adalah dua sisi bagi sesuatu, dua aspek yang ada pada segala sesuatu yang ada ini mengandung aspek lahir dan aspek batin. Aspek khalq memiliki sifat kemakhlukan atau nasut. Sedangkan aspek batin al-Haq memiliki sifat ketuhanan lahut. Tiap-tiap yang bergerak tidak terlepas dari dua aspek Yaitu sifat ketuhanan dan sifat Namun, aspek yang terpenting adalah aspek batinnya. Paham wahdat-al-wujud diambil dari falsafat bahwa Tuhan hanya melihat dirinya di luar dirinya. Kemudian diciptakannya alam sebagai cermin yang merefleksikan gambaran, setiap kali ia ingin melihat dirinya, maka ia melihat alam. Karena pada setiap benda alam terdapat aspek al-Haq. Jadi kelihatannya banyak, tetapi sebenarnya yang ada hanyalah satu wujud yaitu alHaq. 9 Pengumpamaan Tuhan dengan ciptaannya bagaikan yang melihat cermin di sekelilingnya di dalam setiap cermin tersebut ia dapat melihat dirinya dan akan terlihat banyak sebanyak cermin yang Tetapi, hakikat yang sebenarnya hanya satu. Al-Qasani berkata,AyWajah sebenarnya satu ,tetapi jika engkau perbanyak cermin ia menjadi banyak. AyAkan tetapi di balik perkembangan tasawuf 9 Enksiklopedi Islam,(Jakarta :PT Ichtiar Baru Van Hoeve,huruf 1 ,1. ,h. ahdatul wuju. dari masa ke masa, dari suatu daerah ke daerah . Kita temukan kontroversi atau pro dan kontra tentang benar tidaknya wahdatul wujud dalam dan di antara umat Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah . rang-orang berkeyakinan dengan aqidah wihdatul . man kepada Allah. Rasul-Nya dan hari Akhira. Menurut Syaikhul Islam, dalam masalah iman kepada Allah, mereka menjadikan wujud makhluk merupakan wujud Pencipta itu sendiri. Sebuah taAothil . enghapusan sifat-sifat Alla. yang sangat 10Lebih jauh Syaikhul Islam menjelaskan bahwa, keyakinan seperti ini diadopsi dari pemikiran para filosof, seperti Ibnu Sina dan lain-lain. Yang kemudian dikemas dengan baju Islam melalui Yang kebanyakan terdapat dalam kitab al Kutubul Madhnun biha AoAla Ghairi Ahliha. 11Namun terlepas dari kontroversi tersebut, perkembangan tasawuf terus berkembang ke berbagai belahan dunia Islam, termasuk Islam Nusantara. Hawas Abdullah beberapa bukti tentang besarnya peranan para sufi dalam penyebaran Islam pertama di Nusantara. Ia menyebutkan tokoh sufi Syekh Abdullah Arif di Aceh sekitar abad ke Ae 12 M, bersama mubaligh lainnya seperti Ismail zaffi. Bahkan Hawash Abdullah mengatakan bahwa kalau mau 10 Tahqiq Abu Abdilah Sayyid bin Abbas al Hulaimi dan Abu MuAoadz Aiman bin Arif ad Dimasyqi. Adhwau as salaf. Ar Risalah Ash Shafadiyah,Syaikul Islam Ibnu Taimiyah . H) ,Riyadh ,cet 1 Th. 1423, h. 11Ar Risalah Ash Shafidiyah ,h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 jujur dengan berdasarkan penelitian yang mendalam, kita akan menyimpulakan bahwa para Sufilah yang paling banyak jasanya dalam perkembangan Islam di Nusantara . 12 Selain itu Azyumardi Azra juga mengatakan tasawuf yang pertama kali tersebar dan dominan di Nusantara adalah yang bercorak falsafi, yakni tasawuf yang sangat filosofis dan cenderung spekulatif, seperti konsep al- iitihad, . bu yazid al bishtam. , hulul ( Al halla. , dan wahdatul wujud ( ibnu arab. Dalam perkembangan selanjutnya muncullah para Sufi seperti yang ditulis oleh Sri Mulyati berjudul Tasawuf Nusantara : Rangkaian Mutiara sufi seperti syekh siti jennanr. Hamzah Fansuri. Nuruddin Ar- Raniri. Abd rauf Singkel. Abd Ash AeShamad Al palimbani. Muhammad Nafis al Banjari. Syekh Yusuf Al-Makasari dan lain- lain. Wahdatul wujud Hamzah Fansuri yaitu Hakekat Wujud, bahwa wujud hanya satu yaitu Allah SWT. Kemudian, tentang Eka dalam Keanekaannya, bahwa wujud bukan hanya mencakup kesatuannya melainkan keanekaannya. Meskipun wujud (Tuha. adalah satu. Ia menampakkan diri . dalam banyak bentuk yang tidak terbatas pada alam, yang tak lain dari manifestasi sifat-sifat atau butir-butir ide dalam pengetahuan Tuhan, semacam ekspresi lahiriah sifat-sifat Tuhan, dan yang terahir tentang Penciptaan Alam, bahwa alam tercipta dari yang tidak ada menjadi Alam bersifat qadim yang diciptakan melalui proses tajalli, yaitu manifestasi diri yang abadi. Dalam ajaran Hamzah Fansuri dikenal paham wujudiyyah, yaitu ajaran yang mengajarkan tentang keberadaan wujud Tuhan. Perdebatan-perdebatan yang terjadi di kalangan para cendikiawan muslim tentang wahdatul wujud, menuai polemik yang berkepanjangan di tengah masyarakat, sehingga memunculkan para tokoh sufistik yang mendukung bahkan menentang keras wahdatul wujud. Dari pemikiran para tokoh tersebut, terdapat perbedaan dan persamaan antara tokoh tersebut tentang wahdatul wujud, terutama wahdatul wujud Hamzah Fansuri yang Banyak yang menolak pemikiran wahdatul wujud Hamzah Fansuri. Sedangkan wahdatul wujud Syekh Siti Jenar, di mana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam . Selain itu, ajarannya tentang ketuhanan ini merupakan salah satu dari bentuk paham wujudiyah yang mengajarkan doktrin bahwa manusia . berasal dari pengetahuan ilahi dan akan mendapat pengalaman dari dunia untuk kemudian menuju AoAin-Nya. Segala sesuatu ada di dunia ini adalah di dalam kandungan Tuhan itu sendiri. Sehingga dapat dikatakan kemudian bahwa dalam pandangan Syekh Siti Jenar segala sesuatu yang ada adalah hanya Dzat Allah semata. Di mana saat Allah menciptakan alam semesta, tidaklah dengan Dzat lain melainkan dengan Dzat-Nya sendiri . engan kata lain terjadi proses emanasi di dalamny. , sehingga lewat ciptaan-Nya Allah menyaksikan diri-Nya sendiri. Dengan pandangan yang demikian. Syaikh Siti Jenar sepertinya meyakini bahwa di dalam semua ciptaan Tuhan . , tersembunyi anasir sang pencipta (Ha. Dimana dalam hal ini khalq disebut sebagai yang dzahir dan Haq disebut yang bathin. M,Solihin dan Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf, (Bandung :Pustaka Setia,2. ,h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Sehingga, khalq adalah wujud yang tergantung pada wujud Tuhan yang Tanpa wujud yang mutlak dari Tuhan, tidak akan ada khalq yang maujud. Artinya bahwa yang memiliki wujud yang hakiki dalam pandangan Syaikh Siti Jenar ini adalah Tuhan, sedangkan khalq . hanyalah merupakan bayangan maya dari tuhan itu sendiri. Para ulama semasa itu saling memperdebatkan tentang wahdatul wujud Hamzah Fansuri dan Syekh Siti Jenar. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap para murid dan Dari masalah pro dan kontra yang terjadi di atas, hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap Wahdatul Wujud perspektif Hamzah al Fansuri dan Syekh Siti Jennar Ay. Dari latar belakang masalah di atas, maka yang akan menjadikan rumusan Masalah adalah bagaimana Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuri dan Syekh Siti Jennar ? Bagaimana pemikiran Wahdatul Wujud Hamzah Fansuri ? Bagaimana pemikiran Wahdatul Wujud Syekh Siti Jennar ? Bagaimana Analisis terhadap keduanya ? Metode Penelitian Dalam riset ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Researc. yang memfokuskam kepada aspek pemikiran, sejarah dari dua tokoh serta tokoh-tokoh Maka penyusun melakukan pengumpulan dari buku-buku primer maupun sekunder, yang ada kaitanya dengan seluruh referensi yang mendukung studi penulisan ini. Pembahasan Ajaran wahdatul wujud Hamzah Fansuri sangat berpengaruh di Aceh dan menyebar ke seluruh Nusantara, apalagi ketika Hamzah Fansuri telah wafat, banyak murid-murid yang menjadi pengikutnya, terutama kedua muridnya. Hamzah Fansuri memiliki pemikiran tentang wahdatul wujud atau wujudiyyah, yaitu: pertama Hakekat Wujud, bahwa wujud itu hanya satu yaitu Allah meskipun wujud itu kelihatan banyak. Kedua Eka dalam keanekaan, bahwa kesatuannya meskipun ia bertajalli dalam banyak bentuk. Ketiga Penciptaan Alam, proses penciptaan alam dimulai dari la taAoayyun, taAoayyun, tanazzul, dengan melalui lima martabat . , dan akan bertaraqqi kepada la taAoayyun. Pemikiran Hamzah Fansuri tentang wahdatul wujud banyak kemiripan dengan pemikiran wahdatul wujud Ibn AoArabi, namun, ada perbedaan Pemikiran Hamzah Fansuri dengan pemikiran Ibn AoArabi, seperti pemikiran Hamzah Fansuri tentang penciptaan alam. Dalam pemikiran Ibn AoArabi penciptaan alam berangkat dari aAoyan tsabitat sebagai wujud potensi. Hamzah Fansuri menggali lebih dalam lagi tentang penciptaan alam, dari wujud yang tidak bisa terdeskripsikan kemudian terjadi ketentuan-ketentuan Pemikiran tentang ketuhanan yang dimiliki oleh Syaikh Siti Jenar adalah apa yang masyhur di Pulau Jawa dengan sebutan Manunggaling Kawula lan Gusti, yang dalam pemahaman penulis hampir sama dengan ajaran dari paham wahdatul Di mana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam . Selain itu, 13 Ibid. , hlm. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 merupakan salah satu dari bentuk paham wujudiyah yang mengajarkan doktrin bahwa manusia . berasal dari pengetahuan ilahi dan akan mendapat pengalaman dari dunia untuk kemudian menuju AoAin-Nya. Segala sesuatu ada di dunia ini adalah di dalam kandungan Tuhan itu sendiri. Sehingga dapat dikatakan kemudian bahwa dalam pandangan Syekh Siti Jenar segala sesuatu yang ada adalah hanya Dzat Allah semata. Di mana saat Allah menciptakan alam semesta, tidaklah dengan Dzat lain melainkan dengan Dzat-Nya sendiri . engan kata lain terjadi proses emanasi di sehingga lewat ciptaan-Nya ini. Allah kemudian menyaksikan diriNya sendiri. Dengan pandangan yang demikian. Syaikh Siti Jenar sepertinya meyakini bahwa di dalam semua ciptaan Tuhan . , tersembunyi anasir sang pencipta (Ha. Di mana dalam hal ini khalq disebut sebagai yang dzahir dan Haq disebut yang bathin. Sehingga, khalq adalah wujud yang tergantung pada wujud Tuhan yang mutlak. Tanpa wujud yang mutlak dari Tuhan, tidak akan ada khalq yang maujud. Artinya bahwa yang memiliki wujud yang hakiki dalam pandangan Syaikh Siti Jenar ini adalah Tuhan, . hanyalah merupakan bayangan maya dari tuhan itu sendiri. Kesimpulan Hamzah Fansuri memiliki pemikiran tentang wahdatul wujud atau wujudiyyah, yaitu: pertama Hakekat Wujud, bahwa wujud itu hanya satu yaitu Allah meskipun wujud itu kelihatan banyak. Kedua Eka dalam Keanekaan, bahwa kesatuannya meskipun ia bertajalli dalam banyak bentuk. Ketiga Penciptaan Alam, proses penciptaan alam dimulai dari la taAoayyun, taAoayyun, tanazzul, dengan melalui lima martabat . , dan akan bertaraqqi kepada la taAoayyun. Pemikiran Hamzah Fansuri tentang wahdatul wujud banyak kemiripan dengan pemikiran wahdatul wujud Ibn AoArabi. Namun, ada perbedaan Pemikiran Hamzah Fansuri dengan pemikiran Ibn AoArabi, seperti pemikiran Hamzah Fansuri tentang penciptaan alam. Dalam pemikiran Ibn AoArabi penciptaan alam berangkat dari aAoyan tsabitat sebagai wujud potensi Hamzah Fansuri menggali lebih dalam lagi tentang penciptaan alam, dari wujud yang tidak bisa terdeskripsikan kemudian terjadi ketentuan-ketentuan Pemikiran tentang ketuhanan yang dimiliki oleh Syaikh Siti Jenar adalah apa yang masyhur di Pulau Jawa dengan sebutan Manunggaling Kawula lan Gusti, yang dalam pemahaman penulis hampir sama dengan ajaran dari paham wahdatul Di mana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam . Selain itu, merupakan salah satu dari bentuk paham wujudiyah yang mengajarkan doktrin bahwa manusia . berasal dari pengetahuan ilahi dan akan mendapat pengalaman dari dunia untuk kemudian menuju AoAin-Nya. Segala sesuatu ada di dunia ini adalah di dalam kandungan Tuhan itu sendiri, sehingga dapat dikatakan kemudian bahwa dalam pandangan Syekh Siti Jenar segala sesuatu yang ada adalah hanya Dzat Allah semata. Di mana saat Allah menciptakan alam semesta, tidaklah dengan Dzat lain melainkan dengan Dzat-Nya sendiri PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 . engan kata lain terjadi proses emanasi di sehingga lewat ciptaan-Nya ini. Allah kemudian menyaksikan diriNya sendiri. Dengan pandangan yang demikian. Syaikh Siti Jenar sepertinya meyakini bahwa di dalam semua ciptaan Tuhan . , tersembunyi anasir sang pencipta (Ha. Di mana dalam hal ini khalq disebut sebagai yang dzahir dan Haq disebut yang bathin. Sehingga, khalq adalah wujud yang tergantung pada wujud Tuhan yang mutlak. Tanpa wujud yang mutlak dari Tuhan, tidak akan ada khalq yang maujud. Artinya bahwa yang memiliki wujud yang hakiki dalam pandangan Syaikh Siti Jenar ini adalah Tuhan, . hanyalah merupakan bayangan maya dari tuhan itu sendiri. Daftar Pustaka