Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 Keberlanjutan Pembelajaran Literasi. Numerasi Dan Adaptasi Teknologi Di SDN 3 Ngepung Paska Penarikan Program Kampus Mengajar Angkatan 5 Salma Qotrunada SA. Agus Machfud FauziA A Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20083@mhs. Abstract In the context of Indonesian education, efforts to reduce the education gap between urban and remote areas have led to various initiatives, including the Teaching Campus Program. This study aims to explore the phenomenon of the sustainability of efforts to improve literacy, numeracy and technological adaptation learning at SDN 3 Ngepung after the withdrawal of the Kampus Mengajar Program Batch 5, which was introduced as part of the Merdeka BelajarKampus Merdeka policy by the Ministry of Education. This policy is designed to strengthen educational infrastructure in remote areas by increasing literacy and numeracy capacity, as well as technological adaptation among students. The research was conducted using a qualitative approach, this research adopts an intensive field study methodology through participatory observation and in-depth interviews with school stakeholders. Data analysis was based on Paulo Freire's critical education theory, which highlights the importance of dialog and active participation of learners in creating an emancipatory and sustainable learning process. Results show that, although the formal influence has ended, the pedagogical practices initiated by the program continue to influence the learning dynamics at SDN 3 Ngepung. The adaptability and adoption of learning innovations by local teaching staff indicates a paradigmatic shift from passive to more collaborative and participatory education, in line with the principles of liberatory education. However, the continuation of this change still depends on the ability of local education institutions to sustain and internalize these innovations in daily educational Dalam konteks pendidikan Indonesia, upaya untuk mengurangi kesenjangan pendidikan antara wilayah urban dan terpencil telah melahirkan berbagai inisiatif, termasuk Program Kampus Mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk menggali fenomena keberlanjutan upaya peningkatan pembelajaran literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi di SDN 3 Ngepung setelah penarikan Program Kampus Mengajar Angkatan 5, yang diperkenalkan sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka oleh Kementerian Pendidikan. Kebijakan ini dirancang untuk memperkuat infrastruktur pendidikan di daerah terpencil dengan meningkatkan kapasitas literasi dan numerasi, serta adaptasi teknologi di kalangan peserta didik. Adapun penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengadopsi metodologi studi lapangan yang intensif melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan stakeholder sekolah. Analisis data dilandasi oleh teori pendidikan kritis Paulo Freire, yang menyoroti pentingnya dialog dan partisipasi aktif peserta didik dalam menciptakan proses pembelajaran yang emansipatif dan berkelanjutan. Hasil menunjukkan bahwa, walaupun pengaruh formal telah berakhir, praktik pedagogis yang diinisiasi oleh program tersebut terus mempengaruhi dinamika pembelajaran di SDN 3 Ngepung. Kemampuan adaptasi dan adopsi inovasi pembelajaran oleh tenaga pengajar setempat menunjukkan sebuah pergeseran paradigmatis dari pendidikan yang pasif menjadi lebih kolaboratif dan partisipatif, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan pembebasan. Namun, kelanjutan dari perubahan ini masih bergantung pada kemampuan institusi pendidikan lokal dalam menopang dan menginternalisasi inovasi tersebut dalam praktik pendidikan sehari-hari. Keywords: Kampus Mengajar Program. Critical Education. Literacy and Numeracy Learning. Technology Adaptation Pendahuluan Kebijakan pendidikan selalu bersifat dinamis dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hal ini terlihat bahwa dari sebelum masa kemerdekaan hingga era reformasi, kebijakan pendidikan tidak bisa Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 dilepaskan dari sistem politik yang ada. Kita semua tahu dan menyadari bahwa setiap sistem, program, maupun regulasi yang dibentuk oleh pemerintah sebagai bagian dari kebijakan pendidikan merupakan produk politik (Sopiansyah et al. , 2. Konfigurasi politik dalam setiap era kepemimpinan politik negara, selalu berubah sesuai dengan angin politik dan konfigurasi dari para penguasa politik. Namun demikian, kekuatan-kekuatan di luar sistem pemerintahan, seperti kelompok-kelompok masyarakat pendidikan, akan memberikan warna pada sistem pendidikan. Ketika sistem politik menuntut pemusatan kekuasaan, maka sistem pendidikan juga akan berkonsentrasi pada pemerintahan yang terpusat. Dengan adanya arus reformasi, telah melahirkan banyak perubahan dalam sistem pendidikan. Penelitian ini berangkat dari program Kampus Mengajar Angkatan ke 5, yang mana merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yang resmi diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek pada awal tahun 2020 silam. Adapun program tersebut dilaksanakan dengan teknis mengirim tim yang beranggotakan 3 sampai 5 mahasiswa, di mana mereka ditugaskan untuk merancang dan melaksanakan program guna meningkatkan kemampuan peserta didik pada sekolah Tujuan utama dari adanya program KM adalah peningkatan kemampuan pada pemahaman terkait literasi, numerasi dan adaptasi terhadap kemajuan teknologi peserta didik di sekolah-sekolah yang menjadi target pemerintah, berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, termasuk SDN 3 Ngepung yang merupakan tempat untuk melaksanakan penelitian. Fenomena yang menarik perhatian peneliti adalah terkait keberlanjutan pelaksanaan program-program oleh pihak terkait, yang sebelumnya telah dibentuk dan berhasil dijalankan oleh tim Kampus Mengajar Angkatan 5 di SDN 3 Ngepung. Alasan dibentuknya program KM selain didasari oleh pemberian kesempatan . pada para mahasiswa agar belajar dan berkembang di luar kelas, juga merupakan salah satu bagian dari sekian banyak opsi upaya untuk mengatasi permasalahan sosial yang masih menjamur di negara kita, yakni kurangnya pemerataan pendidikan, baik dari segi sarana prasarana maupun kualitas, melihat bahwa mayoritas sekolah sasaran pemerintah yang menjadi tempat berlangsungnya program merupakan sekolah yang berada di wilayah 3T dengan indeks prestasi yang masih tergolong rendah (Widiansyah. Tim Kampus Mengajar 5 mempunyai beberapa program kerja yang dirancang dan dilaksanakan selama masa penugasan di SDN 3 Ngepung, dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi. Program-program tersebut telah berhasil dijalankan oleh tim Kampus Mengajar Angkatan 5 di SDN 3 Ngepung yang menjadi sekolah sasaran, selama masa penugasan yang kurang lebih berjalan selama 4 bulan. Dalam hal ini program-program tersebut dilaksanakan oleh tim menyasar pada kelas satu sampai lima, mengingat pada saat masa penugasan kelas enam sedang difokuskan pada ujian-ujian menjelang kelulusan. Program tersebut dijalankan ketika Bapak/Ibu tenaga pendidik sedang berhalangan untuk mengisi kelas, atau pada saat peserta didik mendapatkan jadwal olahraga. Khusus untuk bimbingan AKM literasi dan numerasi, tim hanya menyasar pada kelas lima, dikarenakan peserta didik di jenjang itulah yang diwajibkan untuk mengikuti serangkaian tes AKM. Topik permasalahan yang menjadi fokus penelitian adalah mengenai keberlanjutan pelaksanaan program-program oleh pihak-pihak terkait, yang telah dirancang dan dilaksanakan oleh tim program KM 5 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan oleh Kemendikbud di SDN 3 Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 Ngepung. Penelitian bertujuan untuk mengkaji realitas sosial yang terjadi setelah masa penugasan dari tim program KM 5 selesai, sehingga peneliti tertarik untuk mengangkat judul AuKeberlanjutan Pembelajaran Literasi. Numerasi Dan Adaptasi Teknologi Di SDN 3 Ngepung Paska Penarikan Program Kampus Mengajar Angkatan 5Ay. Dengan menggunakan salah satu teori pendidikan kritis, yakni pendidikan pembebasan dengan konsep pendidikan hadap masalah dan pendidikan humanis oleh Paulo Freire sebagai landasan penelitian. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh MirAoatun Nur Arifah dan Luluk Makrifatul Madani . menghasilkan temuan bahwa terdapat tiga tingkat terhadap keberlanjutan program yang diberikan oleh mahasiswa kepada SD di daerah Yogyakarta selama bulan Juni hingga Juli tahun 2022 sebagai bagian dari rujukan Kampus Mengajar. Tiga tingkatan tersebut merupakan program berlanjut sesuai dengan implementasi mahasiswa, adanya penyesuaian dari pihak sekolah, dan tidak adanya program yang Hal ini sejalan dengan penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Suyitno . mengungkapkan bahwa hasil dari program Kampus Mengajar menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan literasi dan numerasi di antara siswa. Melalui penggunaan metode pembelajaran inovatif dan praktis, program berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Evaluasi menyeluruh menunjukkan bahwa kerjasama efektif antara semua pihak terlibat berhasil mengurangi disparitas pendidikan dan memberikan kesempatan. 2 Teori Pendidikan Kritis (Hadap-Masala. Paulo Freire Freire menekankan bahwa dalam pendidikan terdapat tiga elemen fundamental: pengajar, peserta didik, dan realitas. Hubungan antara pengajar dan peserta didik seharusnya seperti teman yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Mereka tidak berfungsi secara struktural formal yang dapat memisahkan keduanya. Sebagai tanggapan terhadap praktik pendidikan yang anti realitas. Freire menegaskan bahwa pendidikan harus diarahkan pada proses hadap-masalah. Penyusunan program pendidikan harus dimulai dari kondisi yang aktual, eksistensial, dan konkret yang mencerminkan aspirasi masyarakat. Program tersebut diharapkan dapat merangsang kesadaran rakyat dalam menghadapi realitas kehidupan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembebasan dari pendidikan Dalam hal ini konsep pendidikan tersebut sejalan dengan gagasan Ibnu Sina yang memandang pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi jasmani dan keterampilan. Orientasi pendidikan ini merupakan bentuk kurikulum yang operasional untuk menjawab realitas yang ada. Berikut adalah konsep pendidikan melek huruf Freire yang terdiri dari tiga tahap: Kodifikasi dan Dekodifikasi: Tahap dasar dalam "konteks konkret" dan "konsep teoritis" . elalui gambar, cerita rakyat, dl. Diskusi Kultural: Tahap lanjutan dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat problematis dengan menggunakan "kata-kata kunci" . enerative word. Tahap Aksi Kultural: Tahap "praksis" yang sesungguhnya, di mana setiap peserta atau kelompok menjadi bagian langsung dari realitas. Dalam perspektif dan metodologi pendidikan kritis, media dianggap sebagai "bahasa" tersendiri bagi para fasilitator pembelajaran. Media ini menekankan pentingnya partisipasi peserta didik dan mendorong produksi pengetahuan dari pengalaman mereka sendiri. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 Metode Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. , di mana hasil penelitian akan dituangkan dalam bentuk deskripsi-deskripsi terkait fenomena yang diangkat. Subjek penelitian adalah para tenaga pendidik di SDN 3 Ngepung yang merupakan salah satu sekolah sasaran dilaksanakannya program Kampus Mengajar 5 di Kabupaten Nganjuk. Peneliti melihat bahwa keberlanjutan pelaksanaan program yang telah dibentuk oleh tim KM 5, merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Dalam hal ini, proses identifikasi permasalahan tersebut dapat peneliti lakukan di SDN 3 Ngepung, oleh karena itu peneliti memilihnya sebagai lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan atau studi literatur dari berbagai macam sumber yang relevan dengan topik penelitian, observasi, dokumentasi, serta wawancara langsung yang dilakukan peneliti kepada warga sekolah di SDN 3 Ngepung, meliputi peserta didik dan juga tenaga pendidik yang bertugas. Analisis data dilakukan dengan mengurai dan mengolah kembali hasil observasi serta wawancara sebagai data primer yang digunakan dalam Selain itu peneliti juga akan membaca, mempelajari serta membuat resume dari sumber berupa artikel jurnal, artikel pemberitaan, dan lain sebagainya, yang kemudian digunakan sebagai data sekunder untuk menunjang artikel penelitian yang akan dibuat. Adapun teori yang akan digunakan dalam penelitian adalah teori pendidikan kritis oleh Paulo Freire, dengan konsep pembebasan pendidikan yang merujuk pada pendidikan hadap-masalah yang bersifat humanis. Hasil dan Pembahasan 1 Dampak Program Kampus Mengajar Angkatan 5 Pada SDN 3 Ngepung Selama masa penugasan Kampus Mengajar 5 yang terdiri dari tiga mahasiswa, dan berlangsung selama kurang lebih empat bulan di SDN 3 Ngepung tim Kampus Mengajar Angkatan 5 bertugas dalam tiga bidang utama, yakni peningkatan kemampuan literasi, numerasi, serta adaptasi teknologi. Program ini dilaksanakan melalui dua tahap, yaitu perancangan dan pelaksanaan di sekolah penugasan. Temuan penelitian terkait program peningkatan literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi di SDN 3 Ngepung mengungkap beberapa inisiatif penting. Dalam bidang literasi, program kerja mencakup penerapan metode mendongeng dengan membaca nyaring. Dalam aspek numerasi, program perkalian pulang sekolah dijalankan guna menciptakan lingkungan pembelajaran berbudaya numerasi. Tujuannya agar siswa cepat hafal perkalian, karena perkalian merupakan hal dasar dalam matematika untuk mempelajari konsep lebih lanjut. Program ini tim terapkan berkolaborasi dengan wali kelas. Adaptasi teknologi dilaksanakan melalui penggunaan game interaktif, video pembelajaran, dan PowerPoint interaktif. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman materi melalui interaktivitas dan visualisasi, serta mempromosikan pembelajaran mandiri dan kolaboratif. Selain itu, program kerja juga mencakup upaya menciptakan lingkungan yang mendukung literasi dan numerasi, seperti pembuatan pojok baca dan gerakan numerasi sekolah. Keseluruhan inisiatif ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kompetensi siswa secara komprehensif, memfasilitasi penguasaan pengetahuan dasar, dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Temuan penelitian terkait dampak dari program Kampus Mengajar 5 di SDN 3 Ngepung menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 peserta didik. Program ini berhasil mengintegrasikan metode pembelajaran yang inovatif dan berbasis kontekstual, yang tidak hanya menarik minat siswa tetapi juga memperkuat pemahaman konsepkonsep dasar dalam literasi dan numerasi. Secara keseluruhan. Kampus Mengajar 5 di SDN 3 Ngepung telah berkontribusi besar dalam mengembangkan kepercayaan diri siswa, keterampilan interpersonal, dan kemampuan akademis. Program ini juga meningkatkan keterlibatan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan, yang menunjukkan potensi signifikan dalam mendukung perkembangan pendidikan holistik di lingkungan sekolah. 2 Keberlanjutan Pembelajaran Literasi. Numerasi, dan Adaptasi Teknologi di SDN 3 Ngepung Paska Penarikan Program Kampus Mengajar Angkatan 5 Narasumber pertama memaparkan bahwa program pembelajaran literasi dengan metode mendongeng dengan membaca nyaring, yang memang dirancang oleh tim kampus mengajar angkatan 5 untuk kelas rendah satu dan dua masih dilanjutkan untuk para peserta didik baru di kelas satu, namun dengan penyesuaian dan modifikasi dari narasumber. Lebih lanjut narasumber menambahkan, bahwa penyesuaian pada pelaksanaan program pembelajaran literasi dengan metode mendongeng dengan membaca nyaring di kelas satu, yang mana merupakan jenjang kelas yang dipegang oleh beliau dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dalam proses pembelajaran. Beliau memaparkan bahwa metode mendongeng guna meningkatkan kemampuan literasi dari peserta didik kelas satu, seringkali dilakukan pada awal pembelajaran. Narasumber berpendapat bahwa di waktu-waktu tersebut para peserta didiknya masih memiliki semangat belajar yang tinggi. Selanjutnya adalah terkait program-program yang berkaitan dengan pembelajaran adaptif teknologi, di mana hingga saat ini masih belum mampu berjalan dan diterapkan di kelas satu. Narasumber menuturkan bahwa penyebab utama dari kegagalan implementasi tersebut adalah keterbatasan perangkat dan media pembelajaran yang sesuai. Narasumber menekankan bahwa meskipun terdapat upaya untuk memperkenalkan teknologi dalam pembelajaran, namun terkendala pada ketersediaan perangkat yang memadai, seperti halnya sekolah yang hanya memiliki satu proyektor. Hal ini menyebabkan kelas satu tidak dapat mengadopsi pembelajaran adaptif teknologi secara efektif. Selain keterbatasan perangkat, fokus peserta didik yang masih terbilang rendah menjadi hambatan utama dalam penerapan pembelajaran adaptif teknologi. Narasumber mengamati bahwa pada tingkat kelas satu, peserta didik cenderung membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih langsung dan terarah untuk memahami konsep dasar. Kondisi ini membuat sulitnya implementasi pembelajaran adaptif yang menuntut tingkat otonomi yang lebih tinggi dari peserta didik. Oleh karena itu, tantangan utama yang dihadapi oleh Narasumber adalah menyesuaikan metode pembelajaran dengan tingkat pemahaman yang dimiliki oleh peserta didik, sambil tetap mempertahankan keterlibatan dan motivasi mereka dalam proses kegiatan belajar mengajar. Narasumber kedua memaparkan bahwa program pembelajaran literasi dengan metode mendongeng dengan membaca nyaring, yang memang dirancang oleh tim kampus mengajar angkatan 5 untuk kelas satu dan dua tidak berlanjut di kelas dua. Alasannya adalah keterbatasan kemampuan narasumber untuk dapat membacakan cerita atau mendongeng di depan para peserta didiknya. Dalam hal ini diketahui bahwa penerapan pembelajaran dengan metode mendongeng dengan membaca nyaring, sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan literasi di kelas dua mengalami kendala yang cukup signifikan. Salah satu temuan utama adalah keterbatasan kemampuan mendongeng dari tenaga Dalam wawancara narasumber menyampaikan bahwa meskipun memiliki tekad yang kuat untuk menerapkan metode tersebut, namun keterbatasan dalam kemampuan bercerita secara menarik Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 dan memikat menjadi hambatan utama. Lebih lanjut narsumber memaparkan bahwa, walaupun program mendongeng dengan membaca nyaring, guna meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hal literasi tidak berlanjut di kelasnya, namun beliau menggantinya dengan gerakan literasi 10 menit sebelum memulai pembelajaran. Para peserta didik di kelas dua setiap harinya dibiasakan untuk membaca buku pembelajaran atau buku cerita yang dipinjam dari perpustakaan, untuk mengawali pembelajaran di kelas. Narasumber kedua mengungkapkan bahwa kegiatan pembelajaran berbasis teknologi juga belum dapat dilaksanakan di kelas dua, beliau menyebutkan alasan yang sama dengan narasumber pertama yakni karena adanya kendala dalam hal ketersediaan perangkat yang memadai. Meskipun narasumber memiliki kemampuan yang cukup mumpuni dalam menguasai pembelajaran adaptif teknologi, namun kenyataannya, masih menghadapi keterbatasan dalam hal perangkat yang diperlukan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa walaupun narasumber telah memahami konsep dan potensi pembelajaran adaptif teknologi, namun tanpa dukungan sarana yang memadai, penerapannya dalam kelas dua menjadi terhambat. Dengan keterbatasan perangkat, seperti jumlah komputer atau proyektor yang tersedia di kelas, sulit untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengandalkan teknologi. Narasumber ketiga memaparkan bahwa program perkalian pulang sekolah . yang dirancang oleh tim kampus mengajar angkatan 5 untuk kelas tiga, empat, dan lima masih dilanjutkan untuk para peserta didik di kelas tiga, namun dengan penyesuaian dan modifikasi dari narasumber selaku tenaga pendidik sekaligus wali kelas tiga di SDN 3 Ngepung. Dalam wawancara beliau menjelaskan bahwa pengetahuan akan perkalian merupakan suatu hal yang penting, terlebih bagi para peserta didik yang telah berada di jenjang kelas tiga. Oleh karena itu, program perpulsek atau perkalian pulang sekolah yang dirancang oleh tim kampus mengajar angkatan 5 akan terus dilanjutkan di kelas beliau, karena membawa dampak yang cukup signifikan bagi kemampuan peserta didik dalam mengenal konsep numerasi. Selain itu pengetahuan peserta didik akan perkalian tidak hanya bermanfaat saat ini saja, melainkan juga akan membawa manfaat di kemudian hari, bahkan di jenjang sekolah yang lebih tinggi. Dalam pelaksanaannya di kelas tiga, program perkalian pulang sekolah ini juga mengalami modifikasi guna untuk menyesuaikan kebutuhan Narasumber memilih menerapkan hafalan perkalian di akhir pembelajaran, dengan cara diam-diaman. Peserta didik yang terlihat paling diam diantara teman-temannya dipilih untuk menyetorkan hafalan perkalian, selanjutnya diperbolehkan untuk pulang ketika hafalan sudah selesai dan benar. Lain halnya dengan tim kampus mengajar, yang dahulu memanfaatkan tabel pada kertas untuk proses pelaksanaan program. Berbeda dengan kelas satu dan dua, narasumber ketiga memaparkan bahwa kegiatan pembelajaran berbasis teknologi di kelas tiga telah sedikit banyak berjalan, meskipun tanpa adanya proyektor. Narasumber menuturkan bahwa penggunaan laptop pribadi milik beliau menjadi salah satu solusi untuk menunjang pembelajaran di kelas tiga. Dengan menggunakan laptonya, seringkali narasumber memutarkan video pembelajaran dari platform online seperti YouTube untuk mendukung materi yang sedang dipelajari. Meskipun tidak memiliki proyektor, penggunaan laptop ini memberikan alternatif yang cukup efektif dalam menyajikan materi secara visual kepada peserta didiknya. Narasumber keempat memaparkan bahwa gerakan numerasi dengan perkalian pulang sekolah . di kelas empat masih terus berlanjut. Namun, narasumber menyatakan bahwa terdapat penyesuaian yang dilakukan oleh beliau dalam mengimplementasikan metode ini. Selain hafalan perkalian, beliau menambahkan umpan balik berupa pemberian pertanyaan seputar perkalian pada Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 peserta didiknya, yang dikemas dengan soal cerita singkat. Beliau menjelaskan bahwa, setiap kelas memiliki dinamika dan kebutuhan yang berbeda, sehingga strategi pembelajaran harus disesuaikan secara tepat agar mencapai hasil yang optimal. Selanjutnya terkait pembelajaran yang memanfaatkan teknologi di kelas empat berjalan, dengan memanfaatkan media PowerPoint (PPT). Narasumber menyebutkan bahwa PPT yang digunakan bukanlah PPT interaktif seperti yang dibuat dan digunakan oleh tim kampus mengajar angkatan 5 ketika membantu pembelajaran, melainkan lebih sebagai alat bantu visual untuk menyampaikan materi-materi pembelajaran kepada peserta didik. Narasumber kelima menjelaskan bahwa gerakan literasi dengan pembuatan, serta pemanfaatan pojok baca sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di kelas lima, masih terus berlanjut hingga saat ini. Menariknya, tidak hanya buku-buku yang berasal dari perpustakaan sekolah yang menjadi sumber bacaan, tetapi juga bertambah dari sumbangan peserta didik yang membawa buku dari rumah. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya literasi semakin meningkat di kalangan peserta didik, serta dukungan dari lingkungan keluarga terhadap kegiatan literasi ini. Narasumber memaparkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi tidak diterapkan di kelas lima. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan beliau sebagai tenaga pendidik dalam mengoperasikan laptop maupun proyektor, yang menjadi media pembelajaran berbasis teknologi. Narasumber menjelaskan bahwa beliau kurang memiliki kemahiran dan kepercayaan diri dalam mengoperasikan alat-alat teknologi yang dibutuhkan untuk pembelajaran. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar cenderung lebih memilih untuk mengandalkan metode pembelajaran konvensional yang telah beliau kuasai dan nyaman untuk 3 Keberlanjutan Program Berdasarkan Teori Pendidikan Kritis (Hadap-Masala. Paulo Freire Keberlanjutan Pembelajaran Literasi Dialog sebagai basis pembelajaran, dan pendidikan sebagai praktik kebebasan. Dalam praktiknya narasumber pertama mengadaptasi upaya peningkatan literasi yang dirancang oleh tim KM 5 melalui metode mendongeng dengan membaca nyaring untuk memperkenalkan literasi pada anak-anak kelas Ini mencerminkan pendekatan 'kodifikasi' dan 'dekodifikasi' yang Freire sebut sebagai langkah penting dalam proses pendidikan kritis. Melalui mendongeng, narasumber pertama tidak hanya menceritakan kisah, tapi juga membuka ruang dialogis di mana peserta didik diajak berinteraksi dengan cerita tersebut, menganalisis simbol dan pesan yang disampaikan, dan mengaitkannya dengan realitas mereka sendiri. Pendekatan ini sangat efektif dalam meningkatkan literasi dan partisipasi emosional anak, yang merupakan ciri khas dari tahap awal pendidikan kritis Freire. Keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan belajar, di mana mereka tidak hanya sebagai penerima pasif informasi tetapi juga sebagai kontributor aktif, menunjukkan prinsip dialogis dalam pendidikan kritis yang mendorong Pendidikan problem-posing, di mana pembelajaran harus memicu pemikiran kritis dan refleksi. Meskipun mengalami kendala dalam kemampuan mendongeng, narasumber kedua beradaptasi dengan menggantikan metode ini dengan aktivitas literasi yang lebih sederhana, yaitu membaca buku bersama sebelum kelas dimulai. Pendekatan ini, meskipun lebih tradisional, tetap menciptakan kesempatan bagi peserta didik untuk terlibat dalam literasi dan memperkenalkan mereka pada dunia buku. Penggantian Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 ini kurang mengakomodasi prinsip pendidikan kritis Freire sepenuhnya karena kurangnya elemen dialog dan keterlibatan kritis dari peserta didik dalam prosesnya. Namun, inisiatif ini masih memberikan kontribusi positif dalam membangun kebiasaan membaca di kalangan peserta didik. Narasumber kelima melanjutkan penggunaan pojok baca dan kegiatan literasi yang dirancang oleh tim sebelumnya, dengan menambahkan sumber bacaan dari donasi dan mengintegrasikan kegiatan ini dengan kurikulum kelasnya. Pemanfaatan pojok baca sebagai sumber belajar dan pertukaran pengetahuan di antara peserta didik mencerminkan prinsip pendidikan kritis dalam menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan mendukung pembebasan intelektual. Dalam menganalisis praktik pembelajaran di SDN 3 Ngepung dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan yang diadaptasi dari rancangan program oleh tim Kampus Mengajar Angkatan 5 melalui lensa teori Freire, terlihat bahwa meskipun ada variasi dalam sejauh mana prinsip-prinsip pendidikan kritis diadopsi, ada usaha berkelanjutan untuk membuat pembelajaran lebih relevan, partisipatif, dan Inovasi dan adaptasi yang ditunjukkan oleh pengajar dalam menghadapi tantangan infrastruktur dan sumber daya menggambarkan komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan pemenuhan kebutuhan peserta didik, sesuai dengan filosofi pendidikan kritis Paulo Freire. Dalam konteks pendidikan kritis Paulo Freire, literasi tidak hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai alat pembebasan yang memungkinkan individu untuk mengkritisi dan memahami dunia sekitar mereka. Di SDN 3 Ngepung, program literasi yang melibatkan mendongeng dan membaca nyaring terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan literasi peserta Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan mendengarkan, tetapi juga memperkaya interaksi sosial di antara peserta didik, seperti yang diungkapkan oleh narasumber Pendekatan Freire yang mengutamakan dialog dan refleksi kritis terlihat melalui metode pembelajaran yang menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam proses belajar. Keberlanjutan Pembelajaran Numerasi Edukasi sebagai alat pembebasan dan konsep "tahap aksi kultural". Narasumber ketiga mengintegrasikan matematika dengan kegiatan sehari-hari melalui permainan dan metode interaktif untuk mengajar perkalian. Ini mencerminkan tahap aksi kultural dari pendidikan Freirean, di mana peserta didik langsung terlibat dalam aktivitas yang membuat mereka menerapkan pengetahuan matematika dalam konteks praktis dan nyata. Pendekatan ini efektif dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan menyenangkan, yang sangat sesuai dengan prinsip pendidikan kritis Freire tentang membebaskan peserta didik melalui partisipasi aktif dan praktik langsung. Integrasi antara teori dan praktik. Narasumber keempat menambahkan elemen soal cerita ke dalam sesi perkalian, yang meminta peserta didik untuk menerapkan konsep perkalian dalam skenario yang mirip dengan kehidupan nyata. Ini adalah contoh aplikasi pendidikan problem-posing, memungkinkan peserta didik untuk menggunakan pengetahuan mereka dalam konteks yang berarti. Menurut Freire, pendidikan harus menyediakan konteks bagi siswa untuk menghubungkan pengetahuan dengan realitas mereka. Program numerasi di SDN 3 Ngepung, yang melibatkan penggunaan cerita dan soal cerita yang mengintegrasikan konsep numerik ke dalam konteks seharihari, merupakan aplikasi dari prinsip ini. Program seperti perkalian pulang sekolah membantu siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga mengaplikasikan konsep perkalian dalam berbagai situasi, meningkatkan pemahaman dan keterampilan matematika mereka. Keberlanjutan Pembelajaran Adaptif Teknologi Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 Program adaptasi teknologi di SDN 3 Ngepung menghadapi tantangan yang signifikan, terutama dalam hal infrastruktur dan ketersediaan perangkat teknologi. Kurangnya sumber daya teknologi yang memadai seringkali menjadi penghalang dalam mengimplementasikan metode pembelajaran yang inovatif dan efektif. Namun, mengadopsi pendekatan kritis seperti yang diajarkan oleh Paulo Freire, yang menekankan pada pentingnya kritik dan adaptasi terhadap keadaan sosial, dapat membuka jalan bagi sekolah untuk mencari dan menerapkan solusi kreatif. Sebagai contoh, narasumber ketiga, telah menggunakan laptop pribadinya untuk mengatasi keterbatasan perangkat di sekolah, memungkinkan penggunaan teknologi dalam pengajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa. Pendekatan Freire juga mendorong refleksi kritis terhadap cara teknologi dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih mendalam. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam kurikulum, pengajaran tidak hanya menjadi lebih menarik tetapi juga lebih relevan dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya menjadi konsumen konten digital tetapi juga pembuat konten, merangsang kreativitas serta keterampilan analitis dan problem-solving Pendekatan ini menunjukkan pentingnya adaptasi teknologi dalam pendidikan, tidak hanya sebagai alat pengajaran tetapi sebagai bagian integral dari proses belajar yang mengajarkan siswa untuk berinteraksi dengan dunia digital secara kritis dan kreatif. Kesimpulan Secara keseluruhan penelitian ini membahas mengenai keberlanjutan program oleh para tenaga pendidik, yang mana program-program telah dirancang dan dijalankan oleh tim Kampus Mengajar Angkatan 5 di SDN 3 Ngepung selama masa penugasan berlangsung. Program tersebut berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guna untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hal literasi, numerasi, serta adaptasi teknologi. Tim Kampus Mengajar Angkatan 5 yang beranggotakan 3 mahasiswa, telah berhasil menjalankan program tersebut, yang kemudian berdampak pada peningkatan kemampuan literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi. Hasil temuan data di lapangan menunjukkan bahwa terdapat beberapa kategori, diantaranya program berlanjut, program tidak berlanjut, serta program berlanjut namun dengan penyesuaian serta modifikasi dari tenaga pendidik di SDN 3 Ngepung. Adapun program yang tidak berlanjut disebabkan karena keterbatasan, baik dari fasilitas sekolah maupun kemampuan tenaga pendidik. Program yang tidak berlanjut kebanyakan adalah kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Program yang berlanjut namun dengan penyesuaian dilakukan tenaga pendidik dengan mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, serta kemampuan para peserta didiknya. Program yang berlanjut sejauh ini telah membawa pengaruh yang mampu dirasakan, baik oleh peserta maupun tenaga pendidik di SDN 3 Ngepung dalam proses pembelajaran. Kelima tenaga pendidik di SDN 3 Ngepung memiliki strategi yang berbeda dalam melanjutkan program peningkatan literasi dan numerasi yang telah dirancang oleh tim Kampus Mengajar Angkatan Hal tersebut terjadi karena perbedaan kemampuan dari masing-masing tenaga pendidik untuk mengadaptasi hal-hal yang ada di dalam program, yang mana berkaitan dengan pengaplikasian kegiatan pembelajaran yang mengedepankan aspek kolaborasi dan inovasi, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan peserta didik dalam hal literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi. Program yang telah dirancang oleh tim KM 5di SDN 3 Ngepung telah mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan kritis Paulo Freire secara beragam. Program tersebut sedikit banyak telah berhasil membantu dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui pembelajaran literasi, numerasi dan adaptasi teknologi dimana bertumpu melalui pendekatan dialogis yang memungkinkan keterlibatan Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, 81-90 aktif dan kritis para peserta didik. Metode pembelajaran interaktif dan kontekstual telah menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Adanya penyesuaian dan adaptasi dalam metode pengajaran menunjukkan komitmen para pengajar dalam mengatasi tantangan infrastruktur dan sumber daya, serta dalam memenuhi kebutuhan spesifik komunitas sekolah. Secara keseluruhan, program ini mencerminkan usaha berkelanjutan untuk menjadikan pembelajaran lebih partisipatif dan pembebas, sejalan dengan filosofi pendidikan kritis Freire yang menekankan pemberdayaan melalui pemahaman dan transformasi realitas sosial. Daftar Pustaka