Volume 2 No 1 Januari 2021 EISSN 2722-2861 Progress in Social Development FARMERS 'PERCEPTIONS ON THE PERFORMANCE OF FIELD AGRICULTURAL EXTENDERS IN REMPANGA VILLAGE. KUTAI DISTRICT KARTANEGARA PERSEPSI PETANI TERHADAP KINERJA PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN DI DESA REMPANGA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Fiqri B Fahreza1. Sutadji2. Zulkifli Abdullah3 Universitas Mulawarman. Indonesia Email Correspondence: fiqrifhrza@gmail. ABSTRACT: This study describes and analyzes the Perceptions of Farmer Groups on the Performance of Field Agricultural Extension (PPL) in Rempanga Village. Loa Kulu District. Kutai Kartanegara Regency, and to identify whether farmers understand the main duties and functions of field agricultural extension agents in Rempanga Village. Loa Kulu District. Kutai Kartanegara Regency. The type of research used is descriptive qualitative. The research focus in this thesis refers to how farmers understand the performance of field agricultural extension agents (PPL) in the sustainability of the agricultural The data sources were obtained from primary data, namely conducting interviews with key informants and informants, and secondary data from the archives and documents of the Rempanga Village Office as well as other documents related to this research. The data analysis technique used is an interactive data analysis method. Based on the results of research in the field of Farmer Groups' Perceptions of Field Agricultural Extension (PPL) performance, it can be said that the absence of agricultural instructors has had a quite visible negative impact, especially in terms of assistance and education which is an obstacle to running agriculture in Rempanga Village. Keywords: Farmer Group. Perception. Performance. PPL ABSTRAK: Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis mengenai Persepsi Kelompok Tani Atas Kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Rempanga Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara, dan untuk mengidentifikasi apakah para petani mengerti tugas dan fungsi utama penyuluh pertanian lapangan di Desa Rempanga Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Fokus penelitian dalam skripsi ini mengacu pada bagaimana petani memahami kinerja penyuluh pertanian lapangan (PPL) dalam keberlangsungan proses pertanian. Sumber data diperoleh dari data primer yaitu melakukan wawancara dengan key informan dan informan, dan data sekunder yang berasal dari arsip dan dokumen-dokumen Kantor Desa Rempanga maupun dokumen lain yang terkait dengan penelitian ini. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah metode analisis data interaktif. Berdasarkan hasil penelitian dilapangan Persepsi Kelompok Tani Atas Kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dapat dikatakan bahwa ketiadaan penyuluh pertanian membawa dampak negatif yang cukup terlihat terutama dalam segi bantuan serta edukasi yang menjadi kendala jalannya pertanian di Desa Rempanga. Kata Kunci: Kelompok Tani. Kinerja. Persepsi. PPL Article Info Received January 2021 Accepted Published DOI January 2021 January 2021 https://doi. org/ 10. 30872/psd. Copyright and License Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. Journal homepage: https://psd. fisip-unmul. id/index. php/psd PENDAHULUAN Pertanian dan penyuluh saat ini sedang mengalami sejumlah persoalan dan kendala yang cukup serius dan menyebabkan sektor pertanian terhambat khususnya pertanian yang ada di desa rempanga ini. Penyuluhan pertanian harusnya menjadi kegiatan yang penting dan bermanfaat bagi para petani namun berbanding terbalik dengan keadaan disini dimana penyuluh pertanian selaku pihak yang diharapkan membantu dan menyelesaikan permasalahan petani terkesan lepas tanggap terhadap para petani. Padahal penyuluh pertanian adalah ujung tombak pembangunan pertanian di tingkat lapangan turut dalam perkembangan sistem usaha pertanian yang dijalankan oleh petani/kelompok tani. Penyuluh pertanian juga berperan penting bagi kesejahteraan pertanian, sebab penyuluhan merupakan salah satu upaya pemberdayaan kelompo tani dan petani untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Oleh karena itu kegiatan penyuluhan pertanian harus dapat mengakomodasikan serta menyerap aspirasi dan peran aktif petani dan juga kelompok tani melalui pendekatan partisipatif. Kelompok tani di desa rempanga memiliki masalah yang cukup pelik dimana kinerja penyuluh pertanian lapangan di desa rempanga dipertanyakan karna dari penyuluh pertanian sendiri sudah mulai kurang aktif dalam memberikan pelayanan maupun bantuan dan juga penyuluhan terhadap kelompok tani yang ada di desa rempanga, maka dari itu sebaiknya penyuluh pertanian seharusnya memperbaiki sistem maupun struktur dalam peran dan fungsi penyuluh pertanian lapangan itu sendiri. Dalam penjelasan tentang penyuluh pertanian disimpulkan bahwa penyuluh pertanian lapangan memiliki tugas, pokok dan fungsi yang cukup berkaitan dengan pertanian seperti menyusun serta melaksanakan kegiatan pertanian, berperan aktif dan memiliki sikap tanggap terhadap permasalahan pertanian yang ada. Melaksanakan edukasi kepada para petani juga merupakan salah satu dari sekian banyak tugas pokok penyuluh pertanian lapangan yang memungkinkan membuat petani menjadi lebih terberdaya dari sebelumnya dan dapat membuat pertanian menjadi tumbuh dengan baik apabila penerapan tugas pokok dan fungsi dijalankan seperti seharusnya. perilaku setiap individu maupun kelompok bahwa masing-masing memiliki motif dan tujuan yang berbeda terhadap sebuah tindakan yang dilakukan. Menghargai dan memahami alasan-alasan dalam melakukan suatu Sehubungan kualitas pelayanan dan tugas pokok serta fungsi penyuluh pertanian makan dapat dikategorikan bahwa seharusnya penyuluh pertanian lapangan memiliki peran yang cukup intens dalam pengelolaan dan pengawasan suatu pertanian yang dapat membantu para petani dan juga kelompok tani untuk lebih memahami dan dapat menjalankan tugas nya dengan baik dengan bantuan dari penyuluh pertanian, interaksi maupun komunikasi lebih intens juga dapat mempengaruhi hubungan antara petani dan juga penyuluh pertanian. Berdasarkan dengan penelitian diatas yang berkaitan dengan persepsi kelompok tani atas kinerja penyuluh pertanian lapangan juga berkaitan dengan salah satu jurnal atau studi terdahulu yang membahas tentang kualitas layanan penyuluh pertanian lapangan seperti pelayanan dan pengedukasian penyuluh pertanian lapangan kepada para petani dan dengan demikian studi terdahulu sangat menjadi salah satu bahan referensi penulis dalam penulisan skripsi kali ini yang nantinya penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak Persepsi kepada penyuluh pertanian lapangan dari para anggota kelompok tani juga diperlukan demi jalan nya siklus pengolahan lahan persawahan secara masimal sehingga para anggota kelompok tani tahu berada dimana kekurangan dan masalah dalam pengolahan lahan persawahan. METODE Penelitian ini penulis menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan bentuk atau format judul, penelitian ini bersifat deskriptif. Deskriptif adalah data yang dikumpulkan berupa kata, gambar dan bukan angka-angka. Dapat dipahami bahwa penelitian kualitatif deskriptif merupakan sebuah penelitian yang melakukan proses pengumpulan data melalui naskah, wawancara lapangan, foto, video, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya. Selain itu dalam penelitian terdapat beberapa pertanyaan yang sering digunakan dalam melakukan wawancara terhadap narasumber seperti, mengapa, apa dan bagaimana alasan terjadinya, serta memandang bahwa sesuatu itu memang demikian keadaannya. Dalam penelitian ini yang akan menjadi objek atau lebih sering disebut unit analisis adalah anggota kelompok tani yang ada di wilayah Desa Rempanga Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan interpretasi data. Sumber data didapatkan melalui beberapa proses, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi berupa foto-foto kegiatan. Penelitian ini menggunakan teknik purpossive. Pencarian subyek penelitian menggunakan sistem purpossive yaitu dengan cara memilih langsung subyek penelitian yang berkaitan dengan fenomena yang dikaji. Data yang diperoleh dari lapangan diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis data,. Analisis data dilakukan dengan cara menggunakan klasifikasi data, triangulasi data serta kategorisasi data yang dapat dilakukan dengan langsung turun ke lapangan guna mendapatkan data narasi yang diinginkan guna kepentingan data penelitian dimulai dari data sekunder sampai pada data primer. Untuk mengetahui data apa Progress in Social Development: Volume 2 No 1 Januari 2021 saja yang akan digunakan dalam penelitian mencari data sekunder dan primer saat penelitian sedang berlangsung dan memudahkan dalam penerapan serta analisis data. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil wawancara peneliti dengan ketua kelompok tani dan beberapa anggota kelompok tani yang digambarkan pada tujuan penelitian serta teknik pengumpulan data, maka dari penelitian ini dapat tergambarkan bahwa persepsi kelompok tani terhadap kinerja penyuluh pertanian lapangan sangat memahami bagaimana dan seharusnya seperti apa tugas, pokok serta fungsi yang harus dijalankan. Para petani di Desa Rempanga sudah dapat memahami tugas dari PPL itu sendiri seperti memberikan penyuluhan edukasi tentang pertanian kepada petani dan juga sebagai perantara antara petani dengan pemerintah terkait bantuan yang di butuhkan para petani. Pertanian pada umumnya memiliki suatu organisasi guna mengkoordinator proses penggarapan lahan sampai proses panen antara satu petani dengan petani lainnya, demikian juga pertanian di Desa Rempanga memiliki organisasi kelompok tani yang berjumlah 4 Kelompok Tani Petani tetap berkegiatan sebagaimana petani memiliki kegiatan pada umumnya karena mereka tetap menggarap lahan pertanian mereka dan mereka pun sama sekali tidak menuntut kehadiran penyuluh pertanian lapangan dalam progress pertanian mereka. Mereka juga secara individualistis menyelesaikan permasalahan dalam proses pengelolaan sampai pada prosespanen pada pertanian dengan secara mandiri tanpa bantuan penyuluh pertanian lapangan, kendala yang dihadapi pula mampu mereka selesaikan secara mandiri karena memang tujuan dari bertani ialah niat atau tidaknya dalam mengelola pertanian secara serius dimulai dari proses awal sampai pada proses akhir pertanian dilakukan secara mandiri oleh mereka. Maka dari itu kemampuan petani dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam lahan pertanian merupakan salah satu anggapan bahwa petani sudah berhasil dalam mewujudkan hasil pertanian yang layak Relasi antara Petani dengan Penyuluh Pertanian Lapangan Berdasarkan informasi yang saya dapatkan pada tahun 1998-2005 pertanian di Desa Rempanga memiliki Penyuluh Pertanian yang cukup aktif dan tanggap terhadap masalah pertanian yang di hadapi anggota kelompok tani saat itu, sampai pada tahun 2006 sampai sekarang sejak pemekaran Desa Rempanga dilakukan yang kini mempunyai Desa baru yaitu Desa Jongkang maka penyuluh pertanian di Desa Rempanga pun diganti dengan yang baru sehingga semenjak pergantian ppl baru ini petani tidak pernah merasakan kinerja ppl yang sebenarnya sejak 2005 silam, padahal ppl terdahulu sangat aktif dan berkerja sama kepada seluruh ketua kelompok tani jikalau pertanian mereka ada kendala dan membutuhkan bantuan maka ppl akan menjadi perantara untuk menerima bantuan dari pemerintah untuk disalurkan langsung kepada kelompok tani sehingga bisa di bilang dahulu relasi antara kelompok tani dengan ppl pada tahun 1998-2005 sangat baik dan memahami satu sama lain namun berbeda untuk sekarang karena latar belakangnya saja petani tidak tahu menahu yang pada akhirnya hubungan antara petani dan ppl memudar dan petani sudah mulai bersikap biasa saja sejak tidak ada kehadiran ppl dan mulai berperilaku mandiri dalam meminta bantuan ke pemerintah sampai penanggulangan hama denga membuat permohonan proposal kepada pemerintah terkait maupun dinas penanggulangan hama itu sendiri. Untuk itu petani menganggap bahwa ppl hanya sebagai formalitas semata namun tidak ada tindakan nyata kepada para petani, pernah pada suatu ketika petani mengalami kendala tentang jenis hama baru dan juga terkait bantuan alat pertanian seperti traktor yang kala itu petani sangat amat buntu dan tidak tau harus berbuat apa hingga akhirnya petani mengalami gagal panen karena tidak paham akan jenis hama baru dan terkait traktor akhirnya petani memilih untuk bersama sama mengumpulkan uang untuk membeli satu unit traktor yang nantinya akan dipakai maupun bisa digunakan untuk petani lainnya, bahkan bisa di sewakan untuk kelompok tani lainnya yang ada di Desa Rempanga. Sejak pemekaran Desa Rempanga dilakukan yang kini mempunyai Desa baru yaitu Desa Jongkang maka penyuluh pertanian di Desa Rempanga pun diganti dengan yang baru sehingga semenjak pergantian ppl baru ini petani tidak pernah merasakan kinerja ppl yang sebenarnya sejak 2005 silam, padahal ppl terdahulu sangat aktif dan berkerja sama kepada seluruh ketua kelompok tani jikalau pertanian mereka ada kendala dan membutuhkan bantuan maka ppl akan menjadi perantara untuk menerima bantuan dari pemerintah untuk disalurkan langsung kepada kelompok tani sehingga bisa di bilang dahulu relasi antara kelompok tani dengan ppl pada tahun 1998-2005 sangat baik dan memahami satu sama lain namun berbeda untuk sekarang karena latar belakangnya saja petani tidak tahu menahu yang pada akhirnya hubungan antara petani dan ppl memudar dan petani sudah mulai bersikap biasa saja sejak tidak ada kehadiran ppl dan mulai berperilaku mandiri dalam meminta bantuan ke pemerintah sampai penanggulangan hama denga membuat permohonan proposal kepada pemerintah terkait maupun dinas penanggulangan hama itu sendiri. Usaha Petani dalam Pengembangan Pertanian Dalam suatu lingkup pertanian pasti memiliki kendala maupun hambatan begitu juga yang di alami Pertanian di Desa Rempanga ketika PPL mereka tidak aktif bukan berarti menyurutkan niat petani untuk tetap menggarap lahan persawahan demi sesuap nasi dan segenggam rupiah untuk kebutuhan rumah tangga mereka, yang dilakukan petani di Desa Rempanga cukup mengesankan karena petani disini sudah terbiasa untuk bertindak mandiri semenjak tidak adanya kehadiran PPL lagi pula apakah dengan adanya PPL dapat membantu petani seutuhnya? Jawabannya tidak namun juga dapat dikatakan benar tetapi selagi mampu melakukan secara individual maka mereka akan melakukan nya terlebih semenjak tahun 2006 sampai sekarang proses panen tetap berjalan lancer sesuai usia varietas padi itu sendiri bahkan untuk penanggulangan hama sendiri mereka sudah paham dan tidak awam lagi untuk permasalahan hama yang dialami walau pernah pada tahun 2018 pertanian mereka terdampak penyakit kuning yang membuat padi tidak dapat tumbuh dan langsung mati pada saat itu juga dan itu cukup membuat petani merasa kecewa karena dampak penyakit kuning pada padi ini cukup mengerikan, namun hal itu sudah berlalu dan petani sampai sekarang pun tetap dapat melaksanakan proses panen hingga 223 karung beras dalam 2 periode ( 1 tahu. di panen petani di Desa Rempanga sendiri, pada zaman pemerintahan Prof. Dr. Syaukani Hasan Rais. SE. MM atau yang akrab dipanggil pak kaning bagi warga kutai kartanegara pada masa pemerintahan nya pada tahun 1999 Ae 2004 kala itu pertanian di kutai kartanegara terkhusus nya Desa Rempanga dapat melaksanakan panen raya karena bantuan dan kebijakan dari beliau pada saat menjabat sangat membantu para petani, dalam panen raya itu sendiri Desa Rempanga mengundang Pak Kaning untuk hadir sebagai tamu dalam pesta panen mereka dan itu menjadi salah satu sejarah yang mengesankan bagi para petani karena dapat melaksanakan panen raya yang berbanding balik untuk sekarang karena dengan panen berhasil saja dan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga para petani cukup bersyukur. Lepas dari hal di atas usaha petani dalam mengembangkan pertanian terbilang tidak bisa dikatakan lancar namun juga tidak bisa dikatan bahwa pertanian mereka terhambat, selagi ada niat dan tujuan untuk menggarap pertanian secara aktif maka akan menghasilkan hasil yang baik juga untuk lahan pertanian maupun untuk para petani nya sendiri. Yang membuat petani di Desa Rempanga mandiri juga ialah rata-rata petani disini hanya berkerja sendiri sendiri dan menyelesaikan masalah nya sendiri karena juga ada beberapa petani yang menggarap lahan milik orang lain lalu menyetor uang sewa lahan kepada pemilik, lalu ada juga petani yang menggarap lahan orang lain lalu di upah pemilik lahan selebihnya terkait musyawarah petani tetap bersama sama walaupun sikap gotong royong antar petani disini tidak terlihat hingga itulah yang membuat petani disini bersikap mandiri setelah kehadiran ppl tidak ada. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan pada tahun 1998-2005 pertanian di Desa Rempanga memiliki Penyuluh Pertanian yang cukup aktif dan tanggap terhadap masalah pertanian yang di hadapi anggota kelompok tani saat itu, sampai pada tahun 2006 sampai sekarang sejak pemekaran Desa Rempanga dilakukan yang kini mempunyai Desa baru yaitu Desa Jongkang maka penyuluh pertanian di Desa Rempanga pun diganti dengan yang baru sehingga semenjak pergantian ppl baru ini petani tidak pernah merasakan kinerja ppl yang sebenarnya sejak 2005 silam, padahal ppl terdahulu sangat aktif dan berkerja sama kepada seluruh ketua kelompok tani jikalau pertanian mereka ada kendala dan membutuhkan bantuan maka ppl akan menjadi perantara untuk menerima bantuan dari pemerintah untuk disalurkan langsung kepada kelompok tani sehingga bisa di bilang dahulu relasi antara kelompok tani dengan ppl pada tahun 1998-2005 sangat baik dan memahami satu sama lain namun berbeda untuk sekarang karena latar belakangnya saja petani tidak tahu menahu yang pada akhirnya hubungan antara petani dan ppl memudar dan petani sudah mulai bersikap biasa saja sejak tidak ada kehadiran ppl dan mulai berperilaku mandiri dalam meminta bantuan ke pemerintah sampai penanggulangan hama denga membuat permohonan proposal kepada pemerintah terkait maupun dinas penanggulangan hama itu sendiri. Untuk itu petani menganggap bahwa ppl hanya sebagai formalitas semata namun tidak ada tindakan nyata kepada para petani, pernah pada suatu ketika petani mengalami kendala tentang jenis hama baru dan juga terkait bantuan alat pertanian seperti traktor yang kala itu petani sangat amat buntu dan tidak tau harus berbuat apa hingga akhirnya petani mengalami gagal panen karena tidak paham akan jenis hama baru dan terkait traktor akhirnya petani memilih untuk bersama sama mengumpulkan uang untuk membeli satu unit traktor yang nantinya akan dipakai maupun bisa digunakan untuk petani lainnya, bahkan bisa di sewakan untuk kelompok tani lainnya yang ada di Desa Rempanga. Persepsi Kelompok Tani Tentang Kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Rempanga Para petani di Desa Rempanga sudah dapat memahami tugas dari PPL itu sendiri seperti memberikan penyuluhan edukasi tentang pertanian kepada petani dan juga sebagai perantara antara petani dengan pemerintah terkait bantuan yang di butuhkan para petani . Hal tersebut menjadi tolak ukur bahwasanya relasi antara petani dan penyuluh pertanian sempat mengalami hubungan yang cukup baik da mendapatkan Progress in Social Development: Volume 2 No 1 Januari 2021 keuntungan satu sama lain, tetapi beda hal nya dengan sekarang dimana petani hanya bertindak secara individual dalam pengelolaan pertanian di Desa Rempanga Karena pada dasarnya pula petani disana mendstribusikan hasil pertanian mereka masing-masing, teknik marketing yang digunakan juga dapat menjadi salah satu acuan agar hasil pertanian dapat diuangkan sehingga petani tidak hanya mendapatkan hasil pertanian seperti beras guna kebutuhan hidup mereka tetapi juga mendapatkan hasil berupa uang untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka lainnya. Pertemuan dengan penyuluh pertanian yang juga tidak kunjung terlaksana menjadi mula sebagai renggangnya intensitas kerjasama antara kelompok tani dengan penyuluh pertanian yang bertindak sebagai pembimbing para petani dan sebagai pengawas ketika mulainya proses pertanian dari mulai masa penanaman kemudian proses perawatan dan pada sampai tahap proses panen pertanian harusnya mendapat pemantauan serta evaluasi langsung dari penyuluh pertanian. Banyak yang melatarbelakangi mengapa petani di Desa Rempanga bersikap mandiri dan tidak menggubris tentang tidak aktif nya penyuluh pertanian dalam menjalankan tugas sebagaimana mestinya, petani sudah terbiasa akan ketidakhadiran penyuluh pertanian yang dimana hal ini tidak menjadi salah satu tumpuan petani untuk tidak mengelola lahan pertanian yang ada. Sebaliknya para petani tetap melakukan prosesi penggarapan maupun pengelolaan lahan pertanian dimulai dari proses pembajakan tanah, penanaman varietas padi, pengairan, perawatan dan sampai proses panen petani seutuhnya melakukan dengan modal dan tenaga mereka sendiri tanpa keikutsertaan penyuluh pertanian di dalamnya. Hal yang berkaitan pula karena pada dasarnya rata-rata petani di desa rempanga buruh tani, buruh tani sendiri merupakan pekerja tani dimana mereka diupah untuk menggarap lahan pertanian orang lain lalu akan diupah oleh pemilik lahan pertanian itu Petani tetap berkegiatan sebagaimana petani memiliki kegiatan pada umumnya karena mereka tetap menggarap lahan pertanian mereka dan mereka pun sama sekali tidak menuntut kehadiran penyuluh pertanian lapangan dalam progress pertanian mereka. Mereka juga secara individualistis menyelesaikan permasalahan dalam proses pengelolaan sampai pada proses panen pada pertanian dengan secara mandiri tanpa bantuan penyuluh pertanian lapangan, kendala yang dihadapi pula mampu mereka selesaikan secara mandiri karena memang tujuan dari bertani ialah niat atau tidaknya dalam mengelola pertanian secara serius dimulai dari proses awal sampai pada proses akhir pertanian dilakukan secara mandiri oleh mereka. Maka dari itu kemampuan petani dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam lahan pertanian merupakan salah satu anggapan bahwa petani sudah berhasil dalam mewujudkan hasil pertanian yang layak. Dari beberapa hasil wawancara yang saya amati keseluruhan petani memiliki opini atau pendapat yang sama mengenai penyuluh pertanian lapangan yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya, sehingga mengakibatkan lamban nya petani dalam memahami proses permohonan bantuan kepada pemerintah terkait masalah pertanian. Sehingga absen nya penyuluh pertanian lapangan dapat dikategorikan sebagai kepentingan lainnya diatas kepentingan umum dimana para petani sendiri mengutamakan sebisa mungkin untuk dapat tetap menggarap persawahan mereka agar tetap dapat hasil pertanian yang dapat menguntungkan dalam segi materi maupun dalam segi kebutuhan hidup pokok manusia. Dari keempat tipe tindakan sosial yang saya gunakan tersebut berguna untuk menganalisis makna dari tindakan yang dilakukan oleh individu. Makna simbolis dapat diidentifikasi dengan cara melakukan interpretasi dan mengklasifikasi tipe tindakan sosial apa yang dilakukan oleh individu. Dan teori diatas berkaitan dengan persepsi menurut pandangan sosiologi dimana seorang individu mengekspresikan hasil opini mereka dengan cara mengutrakan apa yang mereka lihat dengan satu tindakan yang nyata, bukan secara berekspresif dengan mengutamkana bahasa tubuh sebagai acuan persepsi terkait apa yang mereka lihat, namun secara sosial memandang lalu menganalisa bagaimana kondisi atau keadaan objek tersebut. Namun tidak selamanya proses pertanian di Desa Rempanga mengalami hambatan dan masalah yang berkepanjangan, terbukti dari para petani mampu menghasilkan setidaknya kurang dari 80 karung beras untuk di distribusikan dan di konsumsi secara pribadi bagi keluarga mereka, karena dengan bertani para petani yang telah memiliki keluarga dapat memenuhi setidaknya kebutuhan pangan mereka untuk sehari-hari dan sebagian lagi di distribusikan kepada kerabat maupun di komersilkan secara langsung di pasar. Tidak banyak petani yang memiliki lahan pribadi sebagai lahan pertanian, karena banyak pula petani yang menjadi buruh dan diupah oleh pemilik lahan hal ini tentu menjadi satu keuntungan antara pemilik lahan dan buruh tani yang menggarap lahan tersebut, sikap saling menguntungkan satu sama lain dimana pemilik lahan menerima uang sewa lahan/hasil pertanian sementara buruh tani mendapatkan sejumlah uang dari keuntungan menjual beras dan juga mendapatkan hasil pertanian yang dimanfaatkan untuk kebutuhan makanan mereka. Dari hasil analisis yang saya gunakan mengenai persepsi atau pandangan para petani terhadap penyuluh pertanian lapangan dapat diakumulasikan dengan tindakan rasional dimana para petani berpendapat tentang penyuluh pertanian sudah jelas tujuan nya guna ingin mengetahui bagaimana seharusnya kinerja penyuluh pertanian terlaksana di Desa Rempanga. Lalu dengan tindakan berorientasi nilai yaitu petani menganggap bahwa dengan bertindak mandiri sendiri dapat membantu proses pengelolaan lahan pertanian dan itu benar sehingga hanya kehadiran penyuluh pertanian disini yang absen terhadap jalannya proses pengelolaan pertanian demi kelangsungan pertanian kedepannya. Lalu dengan tindakan afektif sendiri berkaitan dengan rasa kecewa para petani yang tidak bisa dipungkiri, beberapa petani merasa kecewa dengan tidak adanya kehadiran penyuluh pertanian lapangan sebagai luapan kondisi pertanian mereka, rencana bantuan pertanian sampai tata kelola permasalahan hama yang dihadapi para petani. Dan dengan tindakan tradisional sendiri merupakan salah satu cara petani menanggapi dengan ketidak hadiran penyuluh pertanian lapangan dengan tetap bersikap biasa saja dan tetap melakukan proses penggarapan lahan sesuai prosedur pengolahan lahan yang mereka terapkan, dan ini terbukti berhasil dengan berlanjutnya proses panen yang didapat petani yang dapat menjadi pundi-pundi rupiah atau sekedar menjadi pusat pangan mereka dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga mereka masing-masing. Mengambil dalam konteks pemberdayaan masyarakat sendiri letak geografis wilayah desa rempanga sendiri bisa dikatakan dapat menjadi salah satu wilayah teritori dalam persawahan karena banyaknya lahan persawahan masyarakat desa rempanga sendiri yang memungkinkan terjadinya proses pemberdayaan masyarakat yang terfokus dalam daerah pertanian, terlebih pertanian di desa rempanga sendiri memiliki proses pengelolaan yang cukup baik dan dapat dimanfaatkan. Dalam pengukuran indikator persepsi sendiri para petani dengan pernyataan yang telah diajukan memiliki kesamaan dan pernyataan yang rata-rata serupa dengan informan lainnya dimana para petani sendiri sudah paham dan mengerti seperti apa seharusnya kinerja penyuluh pertanian lapangan dalam penerapan kesejahteraan pertanian di desa rempanga, sejalan dengan tugas, pokok dan fungsi penyuluh pertanian lapangan yang ada indikator persepsi yang digunakan sendiri lebih mengacu ke ekspersif informan dan bagaimana informan memahami objek yang di persepsikan. KESIMPULAN Perfrormansi kinerja PPL dalam kesejahteraan pertanian di desa rempanga sendiri cukup pasif dan dapat dikatakan bahwa petani dapat berlaku sikap secara individualistis terhadap permasalahan pengelolaan lahan yang mereka garap, bersikap mandiri dapat menjadikan petani begitu memahami seluk beluk dalam dunia pertanian maupun cara mengambil tindakan guna kebaikan dalam proses pengelolaan lahan pertanian itu Para petani di Desa Rempanga memahami bahwa kinerja penyuluh pertanian lapangan ialah sebagai pemberi edukasi pertanian dan juga sebagai perantara bantuan untuk petani kepada pemerintah. Para kelompok tani di Desa Rempanga menganggap bahwa penyuluh pertanian memiliki peran yang cukup penting dalam keberlangsungan pertanian kedepannya tidak sedikit petani yang di kecewakan terkait gagal panen karena kurangnya edukasi dari penyuluh pertanian lapangan itu sendiri, semenjak penyuluh pertanian tidak aktif para petani gencar tetap menggarap sawah mereka seperti biasa dan tetap mengelola lahan pertanian sebagaimana mestinya. Pengukuran keberhasilan dalam progress pemberdayaan masyarakat yang ditujukan kepada ppl serta seperti apa para petani di desa rempanga mampu memahami objek serta subjek kinerja ppl dalam wujud pemberdayaan masyarakat terkhususnya dalam wilayah pertanian dan sejauh mana keuntungan dari pihak satu dan lainnya dalam mencapai kesepakatan bersama guna menciptakan perwujudan pemberdayaan masyarakat yang sebenarnya seperti apa. Seluruh petani berharap pada kesiapan penyuluh pertanian yang akan datang tentang permasalahan pertanian yang ada di Desa Rempanga dan juga para petani meminta dinas pertanian Kabupaten Kutai Kartanegara dapat ikut andil dalam proses pengelolaan lahan pertanian di Desa Rempanga kemudian masih banyak petani yang berharap mengenai panen raya yang mudahan bisa dilaksanakan petani ketika pertanian di Desa Rempanga sejahtera sehingga seluruh petani di Desa Rempanga berharap ada Swasembada pada pertanian di Desa Rempanga sehingga akan berdampak positif bagi petani maupun pengelolaan lahan Progress in Social Development: Volume 2 No 1 Januari 2021 DAFTAR PUSTAKA