JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index ANALISIS KECACATAN PADA PRODUK PAKAIAN JADI MENGGUNAKAN METODE EIGHT DISCIPLINES . D) DI KONVEKSI XYZ ANALYSIS OF DEFECTS IN APPAREL PRODUCTS USING THE EIGHT DISCIPLINES D) METHOD AT XYZ GARMENT COMPANY Rizal Assidiqy dan Arief Rahmana Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas Widyatama. Bandung. Indonesia email: rizal. assidiqy@widyatama. id, arief. rahmana@widyatama. Received: 10 Jul 25 Accepted: 12 Des 25 Published: 15 Des 25 Abstrak Konveksi XYZ merupakan salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang produksi pakaian jadi di Kota Bandung. Pada Konveksi XYZ, terdapat permasalahan produk cacat melebihi target 5%, seperti pada bulan Januari 6,22%. Februari 5,29%. Maret 5,49%. Juli 5,60%. September 6,03%. Oktober 5,71%, dan November 5,42%. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian finansial hingga Rp73. 000 per bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis cacat produk yang paling dominan, menganalisis faktor penyebabnya, serta mengusulkan upaya perbaikan guna mengurangi jumlah produk cacat di Konveksi XYZ. Jenis cacat dominan diidentifikasi menggunakan Diagram Pareto dan dianalisis lebih lanjut dengan Fault Tree Analysis (FTA). Hasil analisis menunjukkan bahwa produk cacat diakibatkan oleh faktor manusia, metode, mesin, material, dan Usulan perbaikan difokuskan pada pembuatan SOP, penggantian jarum rutin, kalibrasi skoci, penerapan backstitch, penataan penyimpanan berbasis 5R, sortir dan verifikasi label ukuran, serta pemasangan kancing di meja datar dan uji kekuatan kancing. Kata Kunci: Kualitas. Cacat Produk. Metode Eight Disciplines . D). Fault Tree Analysis (FTA). Usulan Perbaikan Abstract XYZ Garment Company is a business unit engaged in garment production in Bandung. XYZ, the percentage of defective products exceeds the 5% target, reaching 6. 22% in January, 5. 29% in February, 5. 49% in March, 5. 60% in July, 6. 03% in September, 5. 71% in October, and 5. 42% in November. This condition could potentially lead to financial losses of up to IDR 73,800,000 per month. The purpose of this study is to identify the most dominant types of product defects, analyze the causative factors, and propose improvement efforts to reduce the number of defective products in XYZ Garment Company. The dominant defect type was identified using a Pareto Chart and further analyzed with Fault Tree Analysis (FTA). The results of the analysis show that defective products are caused by human factors, methods, machines, materials, and the Proposed improvements are focused on SOP making, routine needle replacement, screw calibration, implementation of backstitch, 5R-based storage arrangement, size label sorting and verification, as well as flat table button installation and button strength test. Keywords: Quality. Product Defects. Eight Disciplines . D) Method. Fault Tree Analysis (FTA). Improvement Proposals DOI: http://dx. org/10. 31602/jieom. How to cite: Assidiqy. & Rahmana. Analisis Kecacatan Pada Produk Pakaian Jadi Menggunakan Metode Eight Disciplines . D) di Konveksi XYZ. Journal of Industrial Engineering and Operation Management (JIEOM), 8. , 116-131. Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index PENDAHULUAN Kualitas adalah kondisi produk yang menunjang kemampuannya sesuai karakteristik produk tersebut dalam memuaskan kebutuhan atau ekspektasi konsumen (Yulistria et al. , 2. Karakteristik kualitas adalah elemen-elemen spesifik yang dapat diamati, diukur, atau dirasakan yang menentukan kualitas suatu produk (Mitra. , 2. (Kotler dan Armstrong dalam Nurfauzi et al. , 2. , konsumen cenderung lebih loyal terhadap merek yang mampu memberikan produk kualitas tinggi, karena kualitas produk dapat menjadi strategi utama untuk memenangkan persaingan pasar. Konveksi XYZ merupakan salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang produksi pakaian jadi di Kota Bandung. Pada Konveksi XYZ, terdapat permasalahan produk cacat berulang yang harus segera diatasi maupun dikurangi untuk tetap menjaga kepuasan pelanggan. Konveksi XYZ menargetkan produk cacat tidak boleh melebihi 5%. Jumlah produk cacat di Konveksi XYZ ditunjukkan Tabel 1. Tabel 1 Data Produk Cacat Periode Januari 2024 Februari 2024 Maret 2024 April 2024 Mei 2024 Juni 2024 Juli 2024 Agustus 2024 September 2024 Oktober 2024 November 2024 Desember 2024 TOTAL Jumlah Produksi (Uni. Jumlah Defect (Uni. Defect (%) 6,22 5,29 5,49 4,34 4,71 4,81 5,60 4,50 6,03 5,71 5,42 4,41 5,23 Dampak dari tingginya jumlah produk cacat dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan pelanggan, pada akhirnya berdampak negatif terhadap reputasi perusahaan. Berdasarkan rata-rata jumlah produksi selama tahun 2024. Konveksi XYZ mampu memproduksi sekitar 492 pakaian jadi per bulan dengan harga per unit sebesar Rp150. Jika satu mitra memutuskan untuk tidak lagi memesan pakaian di Konveksi XYZ akibat kualitas yang tidak memenuhi harapan, maka perusahaan berpotensi kehilangan pendapatan hingga Rp73. 000 per bulan. Penelitian ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan dan menurunkan jumlah produk cacat di Konveksi XYZ menggunakan Metode Eight Disciplines . D) dengan identifikasi jenis kecacatan paling dominan untuk prioritas perbaikan menggunakan Diagram Pareto dan Fault Tree Analysis (FTA) untuk menganalisis akar penyebab masalah, serta memberikan usulan perbaikan yang harus dilakukan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk perbaikan di Konveksi XYZ sehingga dapat Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index meningkatkan kualitas produk, mengurangi cacat, dan menjamin kepuasan pelanggan. METODE PENELITIAN Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap proses produksi pakaian di Konveksi XYZ. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab potensial penyebab cacat dan mencatat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi dari pihak-pihak yang memiliki peran penting dalam proses produksi, seperti pemilik konveksi, penjahit, dan bagian QC di Konveksi XYZ. Wawancara membantu dalam memperoleh informasi terkait kendala operasional, penyebab utama kecacatan produk, serta strategi yang telah dilakukan perusahaan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Flowchart penelitian yang menggambarkan tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian ini secara sistematis dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Flowchart Penelitian Metode Eight Disciplines . D) digunakan dalam memecahkan masalah terstruktur yang dirancang untuk mengetahui akar masalah suatu permasalahan, merencanakan perbaikan jangka pendek, dan menerapkan solusi jangka panjang untuk tindakan pencegahan (Widodo et al. , 2. Metode Eight Disciplines terdiri dari perencanaan, pembentukan tim, menjelaskan permasalahan, membuat tindakan pencegahan sementara, menganalisis akar penyebab masalah, menentukan tindakan perbaikan, menerapkan dan memvalidasi tindakan perbaikan, tindakan pencegahan, dan pengakuan serta Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index penghargaan tim (Al Giffary & Widjatmaka, 2. Penjelasan mengenai tahapan penelitian menggunakan Metode Eight Discipline . D) adalah sebagai berikut: Perencanaan (D. Menghitung persentase kecacatan produk setiap bulan pada tahun 2024, guna memastikan bahwa tingkat kecacatan yang terjadi telah melampaui ambang batas maksimum sebesar 5% yang ditetapkan oleh Konveksi XYZ. Setelah mengetahui topik permasalahan, selanjutnya merencanakan pembentukan tim yang terlibat, estimasi waktu penyelesaian masalah, dan merencanakan sumber daya akan digunakan. Membentuk Tim (D. Membentuk Tim berdasarkan keahlian dan tanggung jawab masing-masing anggota, yang terdiri dari pemilik konveksi, penjahit, serta bagian Quality Control (QC) di Konveksi XYZ. Mendefinisikan dan Menjelaskan Masalah (D. Diagram Pareto digunakan untuk menentukan jenis cacat yang paling dominan. Ssetelah mengetahui cacat paling dominan, cacat tersebut akan dijelaskan secara jelas menggunakan pendekatan 5W 1H. Menerapkan Tindakan Pencegahan Sementara (D. Tim mendiskusikan serta menentukan langkah-langkah awal untuk mencegah penyebaran masalah sebelum solusi permanen diterapkan. Tindakan pencegahan sementara bertujuan untuk mengurangi dampak kecacatan terhadap produksi dan Analisis Akar Penyebab Masalah (D. Hasil observasi dan wawancara dengan pemilik, penjahit, dan bagian QC akan dikategorikan berdasarkan faktor penyebab kecacatan untuk analisis lebih lanjut menggunakan Fault Tree Analysis (FTA). Fault Tree Analysis (FTA) digunakan untuk mengidentifikasi dan memvisualisasikan hubungan antara berbagai faktor penyebab kecacatan produk. Penentuan Tindakan Perbaikan Permanen (D. Penentuan tindakan perbaikan permanen merupakan usulan perbaikan yang dirancang untuk mengatasi permasalahan dari sumbernya berdasarkan analisis akar penyebab masalah (D. Menerapkan dan Memvalidasi Tindakan Perbaikan (D. Tahap ini dilakukan untuk merencanakan penerapan tindakan perbaikan membuat usulan perencanaan yang baik, seperti strategi yang harus dilakukan agar penerapan tindakan perbaikan dapat terlaksana dengan sesuai dan hambatan serta tantangan dalam setiap penerapan tindakan perbaikan bisa teratasi. Mencegah Terulangnya Masalah di Masa Mendatang (D. Tahap ini dilakukan untuk merencanakan hal yang perlu dilakukan agar tidak terjadi hal yang sama di masa mendatang, contohnya seperti kebijakan baru yang bisa diterapkan oleh Konveksi XYZ. Pengakuan dan Penghargaan Tim (D. Memberikan pengakuan dan penghargaan tim bertujuan untuk mendorong Konveksi XYZ menciptakan lingkungan kerja yang mendukung perbaikan sistem secara berkelanjutan oleh para pekerjanya. Dengan demikian, perbaikan yang dilakukan bersifat dari pekerja, oleh pekerja, dan untuk pekerja. Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap Perencanaan (D. Data produk cacat pada pakaian jadi di Konveksi XYZ selama periode Januari 2024 hingga 2024 ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Data Produk Cacat Pakaian Jadi Jenis Defect (Uni. Periode . Jumlah Produksi (Uni. Jahitan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember TOTAL Salah Label Ukuran Lubang Kancing Kancing Lepas Resleting Tidak Sejajar Noda Jumlah Defect (Uni. Defect (%) 6,22 5,29 5,49 4,34 4,71 4,81 5,60 4,50 6,03 5,71 5,42 4,41 5,23 Konveksi XYZ menetapkan standar maksimal kecacatan produk sebesar 5%. Namun, berdasarkan data pada Tabel 2 terdapat beberapa periode di mana tingkat kecacatan produk melampaui batas selama periode tahun 2024. Estimasi waktu penyelesaian direncanakan selama empat minggu, yaitu pada 17 April hingga 5 Mei 2025. Sumber daya yang digunakan meliputi alat tulis, laptop, data historis produksi dan kecacatan, serta dukungan dari pemilik dan pekerja dalam bentuk kerja sama dan alokasi waktu. Tahap Pembentukan Tim (D. Pembentukan tim dilakukan untuk membantu menyelesaikan masalah dari dalam. Anggota tim terdiri dari pemilik konveksi, penjahit, dan bagian Quality Control (QC). Pembentukan tim yang lintas fungsi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap sudut pandang dari proses produksi terwakili dalam proses analisis dan pemecahan masalah. Tahap Menjelaskan dan Mendefinisikan Masalah (D. Kecacatan pada produk merupakan kondisi produk yang dihasilkan tidak sesuai spesifikasi ataupun standar yang ditentukan (Elvina & Dwicahyani, 2. Istilah modern untuk cacat adalah nonconformity atau ketidaksesuaian, sedangkan istilah untuk produk cacat adalah nonconforming item atau barang tidak sesuai (Mitra, 2. Terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya produk cacat, faktor manusia, faktor bahan baku, faktor metode kerja, faktor mesin dan peralatan, serta faktor lingkungan (Wisnugroho & Andriani, 2. Diagram Pareto merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi defect paling dominan untuk dapat prioritas perbaikan (Rachmasari et al. , 2. Diagram pareto Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index memiliki aturan 80/20 yang dapat diartikan bahwa 80% masalah disebabkan oleh 20% penyebab kegagalan (Saputra & Santoso, 2. Berdasarkan hasil identifikasi, defect paling dominan di Konveksi XYZ menunjukan bahwa jenis cacat yang paling dominan adalah jahitan yang bermasalah sebanyak 199 unit . ,4%) dan kesalahan label ukuran tercatat 37 unit . %). Jenis cacat jahitan yang bermasalah dan kesalahan label ukuran akan menjadi fokus perbaikan yang akan Sedangkan kancing yang tidak terpasang dengan baik tidak dilakukan analisis akar penyebab masalah dikarenakan hanya diakibatkan oleh pekerja yang kurang menekan alat pasang kacing. Gambar 2. Diagram Pareto Produk Cacat Penggunaan 5W 1H akan digunakan untuk menjelaskan masalah jahitan loncat, jahitan terurai, salah label ukuran, dan kancing terlepas. Adapun 5W 1H yang digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut: Jahitan Loncat What (Ap. : Jahitan loncat, yaitu hasil jahitan yang tampak terputus-putus. Where (Di man. : Terjadi di bagian produksi menggunakan mesin jahit, khususnya pada area sambungan badan pakaian. When (Kapa. : Ditemukan secara konsisten setiap bulan di tahun 2024. Who (Siap. : Penjahit sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam proses Why (Mengap. : Diduga disebabkan oleh jarum tumpul. How (Bagaiman. : Terjadi ketika jarum tidak mampu menangkap benang bawah dengan benar, sehingga jahitan tampak terputus dan tidak menyatu dengan kain. Jahitan Terurai What (Ap. : Jahitan terurai, yaitu kondisi jahitan yang tidak terkunci dengan baik. Where (Di man. : Terjadi di bagian produksi menggunakan mesin jahit, khususnya pada area sambungan badan pakaian. When (Kapa. : Ditemukan secara konsisten setiap bulan di tahun 2024. Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index Who (Siap. : Penjahit sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam proses Why (Mengap. : Diduga terjadi karena Penjahit tidak mengunci jahitan. How (Bagaiman. : Benang jahitan yang terurai karena jahitan yang tidak terkunci dengan baik dan lupa memotong benang berlebih. Salah Label Ukuran What (Ap. : Pemasangan label ukuran yang tidak sesuai dengan ukuran sebenarnya dari produk. Where (Di man. : Terjadi pada bagian finishing ataupun saat pengemasan. When (Kapa. : Hampir ditemukan diseluruh bulan selama tahun 2024. Who (Siap. : Penjahit ataupun bagian QC. Why (Mengap. : Diduga karena kurangnya pemeriksaan antara ukuran produk dan label, serta kesalahan dalam pengambilan label. How (Bagaiman. : Label ukuran diambil secara manual dan ditempelkan tanpa verifikasi ulang, menyebabkan ketidaksesuaian antara produk dan label. Kancing Terlepas What (Ap. : Kancing terpasang longgar. Where (Di man. : Ditemukan pada saat sudah sampai di customer. When (Kapa. : Hampir ditemukan diseluruh bulan selama tahun 2024. Who (Siap. : Operator pemasangan kacing atau aksesoris. Why (Mengap. : Diduga operator kurang menekan pada saat menggunakan alat handpress kancing mata itik. How (Bagaiman. : Terjadi pada saat operator menekan handpress dengan tekanan yang tidak sesuai. Tahap Menerapkan Tindakan Pencegahan Sementara (D. Jenis kecacatan jahitan loncat dilakukan pengecekan skoci dan pergantian jarum setelah 50 pcs pakaian, jahitan terurai dilakukan pemeriksaan visual secara acak di tengah proses produksi, jenis kecacatan kesalahan label ukuran dilakukan double check pada setiap ornamen dan jumlah ornamen yang diberikan kepada penjahit, serta jenis kecacatan kancing terlepas dilakukan cek kekuatan kancing selama 2x percobaan. Tahap Analisis Akar Penyebab Masalah (D. Fault Tree Analysis (FTA) merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis inti permasalahan dengan memastikan kejadian ditimbulkan dari berbagai kemungkinan (Ridwan et al. , 2. FTA membantu untuk merinci segala sesuatu kemungkinan yang dapat menyebabkan suatu masalah, dimulai dengan mengasumsikan terjadinya kegagalan pada kejadian puncak, kemudian merinci faktor-faktor penyebabnya hingga mencapai akar penyebab (Andrian et al. , 2. Analisis akar penyebab masalah menggunakan FTA berdasarkan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya produk cacat. Faktor-faktor yang mempengaruhi produk cacat daintaranya, faktor manusia, faktor mesin dan peralatan, faktor metode kerja, dan faktor lingkungan (Wisnugroho & Andriani, 2. Fault Tree Analysis (FTA) Jenis Kecacatan Jahitan Loncat Terjadi ketika jarum tidak mampu menangkap benang bawah dengan benar, sehingga jahitan tampak terputus dan tidak menyatu dengan kain. Fault Tree Analysis (FTA) Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index untuk jenis cacat jahitan loncat ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. FTA Jahitan Loncat Fault Tree Analysis (FTA) Jenis Kecacatan Jahitan Terurai Terjadi ketika benang jahitan terurai akibat jahitan yang tidak terkunci dengan baik ataupun tidak memotong benang yang lebih. Fault Tree Analysis (FTA) jenis cacat jahitan terurai ditunjukkan pada Gambar 4. Gambar 4. FTA Kesalahan Jahitan Terurai Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index Fault Tree Analysis (FTA) Jenis Kecacatan Salah Label Ukuran Label ukuran diambil secara manual dan ditempelkan tanpa verifikasi ulang, menyebabkan ketidaksesuaian antara produk dan label. Fault Tree Analysis (FTA) untuk jenis cacat salah label ukuran ditunjukkan pada Gambar 5. Gambar 5. FTA Kesalahan Salah Label Ukuran Fault Tree Analysis (FTA) Jenis Kecacatan Salah Label Ukuran Terjadi pada saat operator menekan handpress tanpa memastikan tekanan yang sesuai. Fault Tree Analysis (FTA) jenis cacat kancing terlepas ditunjukkan pada Gambar 6. Gambar 6. FTA Kesalahan Kancing Terlepas Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index Tahap Penentuan Tindakan Perbaikan Permanen (D. Tindakan perbaikan permanen yang ditentukan berdasarkan analisis akar penyebab masalah ditujukkan pada Tabel 3. Jenis Cacat Jahitan Loncat Jahitan Terurai Tabel 3. Tindakan Perbaikan Faktor Tindakan Masalah Penyebab Perbaikan Mengganti Tidak rutin ganti jarum rutin setiap 50pcs Menggunakan jarum DB Kualitas jarum tidak Mesin dan merek Organ Peralatan Needles Melakukan Putaran skoci yang dan kalibrasi tidak presisi. skoci setiap 100pcs pakaian. Penjahit yang Penyesuaian Manusia dikejar target. sistem insentif. Tidak ada SOP Membuat SOP. Menetapkan Metode Customer tidak SPI untuk menetapkan Stitch per Inch (SPI). Konveksi. Penjahit Penjahit lupa mengunci jahitan. backstitch di Manusia akhir jahitan. Menyediakan Penjahit lupa gunting di memotong benang setiap meja Melakukan Pemeriksaan hanya di akhir. antar proses. Metode Tidak ada SOP Membuat SOP. Tidak ada tempat khusus pakaian Membuat selesai dan belum tempat khusus. selesai finishing Lingkungan Memindahkan Area kerja terbatas. tempat istirahat ke lantai 2. Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA Penanggung Jawab Pemilik dan Penjahit Pemilik dan Penjahit Pemilik dan Penjahit Pemilik Pemilik Pemilik dan Bagian QC Pemilik dan Bagian QC Pemilik Bagian QC Pemilik Pemilik dan Seluruh Pekerja Pemilik dan Seluruh Pekerja JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index Penjahit tidak membaca label dengan baik. Salah Label Ukuran Kancing Terlepas Memberikan tanda di plasik Label disortir Disimpan ditempat Manusia yang sama. Label disortir Tidak ada tanda dan diberi Membuat Tidak adanya SOP pengambilan label. Melakukan Metode Pemeriksaan hanya sebelum dan di akhir. Membagi area kerja untuk Tidak adanya pembagian area label dan pakaian jadi Lingkungan ataupun belum Tidak adanya Menambahkan tempat bantu lemari vertikal untuk label. Pengunaan alat Memasang handpress dengan kancing di meja tekanan yang tidak agar tekanan lebih konsisten. Manusia Menyesuaikan Penempatan kancing bantalan tidak pas. dengan ukuran Melakukan Tidak ada SOP double cek Metode pengujian kancing. Melakukan Tidak ada Pemeriksaan pemeriksaan awal Material penerimaan dari dari supplier. Helper Helper Helper Pemilik Pemilik dan Bagian QC Pemilik dan Helper Pemilik dan Helper Helper Helper Bagian QC Bagian QC Tahap Menerapkan dan Memvalidasi Tindakan Perbaikan (D. Berdasarkan hasil analisis terhadap jenis kecacatan produk di Konveksi XYZ. Upaya yang dapat dilakukan Konveksi untuk meningkatkan kualitas produk adalah sebagai Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index Permasalahan jahitan loncat Penyusunan SOP, penggantian jarum dilakukan secara rutin setiap 50 pcs pakaian untuk mencegah terjadinya jahitan loncat akibat jarum tumpul, menggunakan jarum DB merek Organ Needles original, pemeriksaan dan kalibrasi skoci setiap 100 pcs pakaian untuk memastikan kaitan benang, serta penyesuaian sistem insentif dilakukan agar tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga memperhatikan kualitas hasil Permasalahan jahitan terurai Memberikan instruksi untuk melakukan backstitch di akhir jahitan, menyediakan gunting di setiap meja jahit, melakukan pemeriksaan antar proses, menyusun SOP pemeriksaan, serta menata ulang ruang kerja dengan menyediakan tempat khusus untuk pakaian yang telah dan belum selesai finishing. Permasalahan salah label ukuran Penyortiran ornamen dan label dilakukan dengan memisahkan berdasarkan jenis dan ukuran seperti S. L, dan XL, serta disimpan tempat khusus berupa lemari vertikal yang tertata rapi agar tidak tertukar. Penerapan budaya 5R di Konveksi XYZ untuk menata rapi penyimpanan label dan ornamen. Ekananda et al. menyatakan bahwa penerapan budaya 5R memungkinkan pekerjaan dilakukan Aubetter, faster, safer, and with better qualityAy. Lingkungan kerja yang lebih tertata dan perilaku kerja yang lebih disiplin, potensi terjadinya cacat produk dapat diminimalkan, sehingga kualitas produk dapat lebih konsisten dan sesuai spesifikasi. Serta menerapkan setiap pengambilan ornamen dilengkapi dengan formulir verifikasi guna memastikan kesesuaian label. Permasalahan kancing terlepas Menyortir kancing yang rusak atau tidak layak pakai sebelum masuk ke proses Menyesuaikan bantalan handpress dengan ukuran kancing dan proses pemasangan kancing dilakukan di atas meja datar agar menekan alat handpress menjadi lebih konsisten. Setelah kancing terpasang, dilakukan double check dengan cara membuka dan menutup kancing sebanyak dua kali untuk memastikan kekuatannya. Tentunya usulan penerapan mempertimbangkan hambatan serta tantangan dalam setiap penerapan tindakan perbaikan bisa teratasi. Adapun hambatan yang bisa terjadi adalah sebagai berikut: Hambatan yang bisa terjadi adalah kurangnya kedisiplinan dan inisiatif penjahit dalam mengikuti SOP. Ketersediaan jarum DB merek Organ Needles original juga dapat menjadi kendala, jika tidak direncanakan secara rutin. Hambatan dalam pengelompokan hasil jahitan per penjahit adalah risiko tercampurnya hasil produksi jika tidak ada sistem pencatatan yang jelas, sehingga menyulitkan evaluasi dan pemberian insentif secara adil. Hambatan yang bisa terjadi antara lain kelalaian dalam memotong benang bisa terjadi karena dianggap sepele atau ditunda hingga akhir proses, namun berisiko terlewat. Penataan ulang ruang istirahat ke lantai dua untuk menyediakan area kerja tambahan dapat menimbulkan ketidaknyamanan sementara. Hambatan yang bisa terjadi adalah pemeriksaan setelah pemasangan label dan pengisian formulir verifikasi ornamen dapat dianggap merepotkan dan menghambat kerja, kurangnya kesadaran dalam mengisi formulir verifikasi juga dapat Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index menyebabkan pencatatan tidak akurat. Jika wadah penyimpanan ornamen dan label tidak tertata dengan baik, ruang kerja menjadi sempit dan tidak efisien. Kesalahan penempatan label masih berpotensi terjadi apabila pekerja tidak mencocokkan label dengan keterangan yang tersedia. Hambatan yang bisa terjadi adalah keterbatasan waktu saat produksi padat, sehingga proses penyortiran kancing tidak dilakukan secara teliti. Selain itu, penggunaan meja potong sebagai tempat pemasangan dapat mengganggu alur kerja jika pada waktu bersamaan meja tersebut sedang digunakan untuk proses memola dan memotong Mencegah Terulangnya Masalah di Masa Mendatang (D. Menjaga konsistensi kualitas produk jadi yang dihasilkan oleh Konveksi XYZ merupakan upaya bekelanjutan yang harus dilakukan untuk mencegah terulangnya kembali masalah di masa mendatang. Pendekatan bertahap dan melibatkan pekerja dalam proses penyusunan SOP akan menjadi langkah efektif dalam membangun kesadaran dan komitmen bersama terhadap kualitas. Usulan standar baku ditunjukkan pada Tabel 4. Aspek Utama Bahan dan Kain Kualitas Pola Pemotongan Tabel 4. Usulan Standar Baku Standar Kualitas Parameter Teknis / Toleransi Kain mulus tanpa cacat seperti Bahan dan kain tidak boleh noda, lubang, dan sobekan. ada cacat Ou 1 cm2. Bahan yang telah dipola dan Perbedaan panjang maksimal dipotong simetri antara sisi 0,5 mm. kanan dan kiri. Kualitas Jarum Jarum harus kuat dan tidak Skoci Skoci dalam keadaan lancar tanpa hambatan dan presisi. Sepatu Jahit Sepatu jahit harus disesuaikan dengan jenis kain untuk menghasilkan jahitan yang rapi, tidak tergelincir, dan tidak merusak kain Jahitan Jahitan rapih dan padat, serta tidak longgar atau terputus. Rizal Assidiqy: Analisis Kecacatan Pada ProdukA Jarum yang digunakan jarum DB merek Organ Needles Original. Kain Medium (Uk. Kain Tebal (Uk. Pergantian jarum dilakukan setiap 50 pcs Pemeriksaan skoci dan kalibrasi skoci jika diperlukan, dilakukan setiap 100 pcs Kain tebal menggunaakan sepatu jahit besi. Kain tipis menggunakan sepatu jahit plastik. Stitch per Inch (SPI) Jahitan rapi dan tidak terdapat jahitan loncat. Tidak diperbolehkan ada sisa benang. JIEOM Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2620-8184 https://ojs. uniska-bjm. id/index. php/jieom/index Pola Jahitan Jahitan mengikuti pola desain dengan presisi. Ukuran Ukuran harus sesuai dengan Size Chart yang disepakati. Label Ukuran. Merek, dan Perawatan Label ukuran, merek, dan perawatan harus terncantum diposisi yang ditentukan. Resleting Posisi resleting harus sejajar dan lancar saat digunakan Kancing dan Lubang Toleransi jarak jahitan dengan pola O 0,5 cm dihitung dari titik acuan. Toleransi ukuran A 2 cm untuk panjang bahu, lingkar dada, panjang lengan, dan panjang pakaian Label ukuran harus dipastikan sesuai dengan size chart dan ukuran produk jadi Label ukuran dan merek berada di tengah dalam bagian belakang Label perawatan berada di sebelah kiri bawah Resleting di uji dengan 5x pengujian buka/tutup untuk mengetahui ketahanan sesuai Kancing tidak boleh terlepas saat dilakukan uji penarikan 2x Jarak antar kancing sesuai pola dengan toleransi A 0,3 Kancing dan lubang harus Selain standar baku yang telah dibuat dan menjadi pedoman yang wajib dilaksanakan, akan dibuatkan juga formulir yang wajib pula diisi oleh operator QC saat Formulir sederhana dibuat untuk mencatat dan memastikan pemeriksaan telah dilaksanakan ditunjukkan pada Gambar 7. !"#A%&DE)*D !"#ABCD !"#ABCE !"#ABC) !"#ABCG !"#ABCH RPBP4"IJ"ICRP9"9"B"I )9j?h9:K*@Ua9b9g9j N9g9jKO9I@gKRSTU9: 9:c?:dKO@e9b OTI9:dK. 9:c?:dK>?A9SK*,g,:d =@bg@h?:dK=Tb9S =@bg@h?:dK>?A9SKN@i9i9U N9g9jKL,b?b?K0U:9a@: N9g9jKRSTU9: 9?:K*@U:,A9 B"IJJ"K LMK"I B"#MI ITUT4CS"UOPK RPBP4"IJ"ICO4TNMRSA ,JKL0 RSTU9: NAOP4ARS" >>BKC