ARTIKEL RISET URL artikel: http://ejournal. poltekkes-denpasar. id/index. php/JIG/article/view/jig2877 Hubungan Asupan Protein Karbohidrat dan Zat Besi Dengan Stunting Pada Balita Di Wilayah Puskesmas Gianyar 1 Ni Komang Yonik Liena Anzi11,K I Ketut Kencana 1. I Wayan Ambartana 1 Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar Email Penulis Korespondensi (K): 08. lienaanzi@gmail. ABSTRACT Stunting or often called stunting or stunting is a condition failure to thrive in children under five years old . due to chronic malnutrition and repeated infections, especially during first 1,000 Days of Life (HPK) period, namely from fetus to child aged 23 months. Toddlers experiencing growth retardation characterized by short and very short physique are 2 main toddler nutrition problems in Bali. purpose of this study was to determine relationship between intake protein, carbohydrates and iron with stunting in toddlers in Gianyar 1 Health Center area. Using research method using cross-sectional method presented in a cross table and then analyzed using statistical tests to determine the strength of the relationship and the direction of the relationship between variable. results this study are that there is relationship between intake of protein, kh , and iron (FE) on incidence stunting as indicated by the value < . With contingency coefficient value of 0. 324 protein. Intake kh 0. 354 and intake of iron (FE) 0. results this study it was suggested to families to pay attention amount intake toddlers both in womb and at birth and to carry out nutritional counseling at posyandu. Puskesmas always provide education about the dangers of stunting. Keywords: Protein, carbohydrate, iron PENDAHULUAN Latar Belakang Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun . akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% . menjadi 30,8% . Sedangkan untuk balita berstatus normal terjadi peningkatan dari 48,6% . menjadi 57,8% . Adapun sisanya mengalami masalah gizi lain. Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi stunting tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2015-2017 adalah 36,4%. Balita yang mengalami hambatan pertumbuhan yang ditandai dengan fisik pendek dan sangat pendek merupakan 2 masalah gizi balita yang utama di Bali. Bali merupakan peringkat ke-3 prevalensi stunting dengan jumlah 21,9% di Indonesia . 128 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. Angka ini sudah mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2013 yaitu sebanyak 37,2% anak yang mengalami stunting. Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2018 menyebutkan data stunting di setiap kabupaten sebagai berikut Gianyar . ,4%). Tabanan . ,2%). Denpasar . ,8%). Buleleng . ,5%). Klungkung . ,4%). Badung . ,2%). Karangasem . ,2%). Jembrana . ,1%). Bangli . ,2%). Tujuan Tujuan umum pada penelitian ini yaitu mengetahui hubungan asupan protein, karbohidrat dan zat besi dengan stunting pada balita di wilayah Puskesmas Gianyar 1. Sedangkan tujuan khusus pada penelitian ini untuk mengukur komsumsi protein pada balita di Wilayah Puskesmas Gianyar 1, mengukur konsumsi karbohidrat pada balita di Wilayah Puskesmas Gianyar 1, mengukur komsumsi Fe pada balita di Wilayah Puskesmas Gianyar 1, menganalisis hubungan asupan protein pada balita dengan stunting di Wilayah Puskesmas Gianyar 1, dan menganalisis hubungan asupan karbohidrat pada balita dengan stunting di Wilayah Puskesmas Gianyar 1. METODE Jenis penelitian ini adalah cross-sectional dengan rancangan kasus - kontrol . ase contro. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Puskesmas Gianyar 1 pada bulan November 2022 - Januari Populasi dari penelitian ini adalah balita yang mengalami stunting di Wilayah Puskesmas Gianyar 1. Sampel penelitian berjumlah 70 balita yang mengalami stunting. Data primer yang dikumpulkan yaitu identitas sampel, asupan zat gizi, berat badan, dan tinggi badan. Data sekunder diperoleh dari profil Puskesmas Gianyar I yang terdiri dari letak, struktur organisasi, waktu pendirian, dan jumlah balita stunting. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung menggunakan formulir food recall 24 jam, penimbangan berat badan menggunakan timbangan berat badan, dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoa. Keterkaitan antar variabel dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. HASIL Karakteristik Sampel Penelitian Tabel 1 Karekteristik Sampel Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia . Jumlah Tabel 1 Sampel penelitian ini berjumlah 70 balita. Menurut jenis kelaminnya, mayoritas sampel adalah perempuan yaitu sebanyak 36 sampel . %). Rata-rata sampel berumur 25-37 bulan. 129 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. Sebaran asupan protein balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Gambar 1. Sebaran Sampel Menurut Asupan Protein Gambar 1 Data sebaran asupan protein balita di wilayah Puskesmas Gianyar I menunjukkan sebagian besar asupan protein pada balita pada kategori baik yaitu sebanyak 36 orang . %). Lebih banyak dari protein pada balita dengan kategori lebih yaitu sebanyak 14 orang . %). Sebaran asupan karbohidrat balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Gambar 2. Sebaran Sampel Menurut Asupan Karbohidrat Gambar 2. Data sebaran asupan karbohidrat balita di wilayah Puskesmas Gianyar I menunjukkan sebagian besar asupan karbohidrat pada balita pada kategori baik yaitu sebanyak 45 orang . %). Lebih banyak dari protein pada balita dengan kategori lebih yaitu sebanyak 8 orang . %). 130 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. Sebaran asupan zat besi balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Gambar 3. Sebaran Sampel Menurut Asupan Zat Besi Gambar 3 Data sebaran asupan zat besi balita di wilayah Puskesmas Gianyar I menunjukkan sebagian besar asupan zat besi pada balita pada kategori baik yaitu sebanyak 39 orang . %). Lebih banyak dari protein pada balita dengan kategori lebih yaitu sebanyak 10 orang . %). Status gizi balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Gambar 4. Sebaran Sampel Menurut Status Gizi Gambar 4 Data status gizi balita di wilayah Puskesmas Gianyar I menunjukkan sebagian besar status gizi . pada balita pada kategori tinggi badan sangat pendek yaitu sebanyak 53 orang . ,7%). Lebih banyak dari status gizi . dengan kategori tinggi badan pendek pada balita yaitu sebanyak 17 orang . ,3%). Hubungan asupan protein dengan stunting pada balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Tabel 2 Hubungan Asupan Protein dengan Stunting Protein Kurang Baik Lebih Jumlah Status Gizi (Stuntin. Sangat Pendek Pendek 131 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Jumlah Pearson Chisquare 8,205 0,017 Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. Tabel 2 Hasil analisis data menunjukkan dari 70 sampel, asupan protein dengan kategori kurang terhadap status gizi . eadaan stuntin. sangat pendek sebanyak 9 orang . %) dan dengan status gizi . eadaan stuntin. pendek sebanyak 11 orang . ,8%) dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara asupan protein pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I dengan nilai P=0,017 kurang dari nilai =0,05. Dengan nilai chi-square hitung 8,205 > chi-square tabel 3,841, maka sebagai dasar pengambilan keputusan diatas, dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang positif antara variabel asupan protein dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Gianyar I. Hubungan asupan karbohidrat dengan stunting pada balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Tabel 3 Hubungan Asupan Karbohidrat dengan Stunting Karbohidrat Kurang Baik Lebih Jumlah Status Gizi (Stuntin. Sangat Pendek Pendek Jumlah 10,061 0,007 Tabel 3 Hasil analisis data menunjukkan dari 70 sampel, asupan karbohidrat dengan kategori kurang terhadap status gizi . eadaan stuntin. sangat pendek sebanyak 9 orang . %) dan dengan status gizi . eadaan stuntin. pendek sebanyak 8 orang . ,1%) dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara asupan protein pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I dengan nilai P=0,007 kurang dari nilai =0,05. Dengan nilai chi-square hitung 10,061 > chi-square tabel 3,841, maka sebagai dasar pengambilan keputusan diatas, dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang positif antara variabel asupan karbohidrat dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Gianyar I. Hubungan asupan zat besi dengan stunting pada balita di wilayah Puskesmas Gianyar I Tabel 4 Hubungan Asupan Zat Besi dengan Stunting Zat Besi Kurang Baik Lebih Jumlah Status Gizi (Stuntin. Sangat Pendek Pendek Jumlah 9,008 0,011 Tabel 4 Hasil analisis data menunjukkan dari 70 sampel, asupan zat besi dengan kategori kurang terhadap status gizi . eadaan stuntin. sangat pendek sebanyak 10 orang . ,8%) dan dengan status gizi . eadaan stuntin. pendek sebanyak 11 orang . ,8%) dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara asupan zat besi pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I dengan nilai P=0,017 kurang dari nilai =0,05. Dengan nilai chi-square hitung 9,008 > chi-square tabel 3,841, maka sebagai dasar pengambilan keputusan diatas, dapat disimpulkan 132 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. bahwa H0 diterima dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang positif antara variabel asupan zat besi dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Gianyar I. PEMBAHASAN Dari hasil analisis data univariat yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa sebaran sampel dengan asupan protein pada balita pada kategori baik yaitu sebanyak 36 orang . ,4%). Lebih banyak dari protein pada balita dengan kategori lebih yaitu sebanyak 14 orang . %). Protein yaitu bahan pembentuk dasar struktur sel tubuh. Protein juga merupakan bagian kedua terbesar tubuh, setelah air. Fungsi utama dari protein adalah membentuk jaringan baru dan memperbaiki jaringan yang rusak. Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan dalam masa pertumbuhan serta memelihara jaringan tubuh selama usia dewasa. Dari hasil analisis data univariat asupan karbohidrat pada balita di dapatkan hasil bahwa sebaran sampel dengan asupan karbohidrat sebagian besar asupan karbohidrat pada balita pada kategori baik yaitu sebanyak 45 orang . ,3%). Lebih banyak dari karbohidrat pada balita dengan kategori lebih yaitu sebanyak 8 orang . ,4%). Karbohidrat merupakan sumber energi utama otak yang diperlukan untuk berbagai proses metabolisme dalam otak. Karbohidrat untuk aktivitas sel otak diperlukan dalam bentuk glukosa. Glikogen yang dipecah dari protein juga dapat digunakan sebagai energi untuk otak, tetapi penggunaan glukosa. Pada penelitian yang dilakukan oleh Elisabeth . yang dimana dalam analisis yang dilakukan didapatkan hasil yaitu bahwa asupan karbohidrat yang dikonsumsi dibandingkan dengan angka kecukupan gizi individu dengan kategori baik sebanyak 49 orang . %), kategori kurang sebanyak 15 orang . %), dengan melihat tersebut bahwa asupan karbohidrat sangat diperlukan oleh balita dalam menjaga kebutuhan energi dan menjaga proses metabolisme didalam tubuh. Asupan karbohidrat yang tinggi mungkin kadang menimbulkan perasaan lelah dan kantuk. Hal ini dapat terjadi karena karbohidrat dapat meningkatkan kadar asam amino triptofan dalam otak yang akan memicu otak untuk memproduksi neurotransmitter serotonin yang berefek menenangkan. Serotonin penting bagi pola tidur normal, belajar, tekanan darah, dan nafsu makan, serta berbagai fungsi lainnya. Dari hasil analisis data univariat asupan zat besi pada balita yang ditelah dilakukan didapatkan hasil bahwa sebaran sampel dengan sebaran sampel pada asupan zat besi (F. balita yaitu sebagian besar asupan zat besi pada balita pada kategori baik yaitu sebanyak 39 orang . ,7%). Lebih banyak dari protein pada balita dengan kategori lebih yaitu sebanyak 10 orang . ,3%). Terdapat beberapa pendapat oleh ahli mengenai peran dari zat besi (F. yaitu sebagai komponen 7 enzim serta komponen sitokrom yang berpengaruh terhadap pertumbuhan. Salah satunya yaitu sebagai komponen enzim ribonukleotida reduktase yang mampu berperan serta dalam sintesis DNA yang bekerja secara tidak langsung pada pertumbuhan jaringan yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan. Selain itu, besi sebagai komponen sitokrom yang dapat berperan serta dalam produksi Adenosine Triphosphate (ATP) serta sintesis protein yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan jaringan. Dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani . dalam melakukan analisis bivariat mendapatkan hasil bahwa analisis hubungan asupan zat besi dengan stunting pada balita diperoleh bahwa pada balita stunting asupan zat besi kurang sebesar 67%, dengan hasil uji statistik di dapatkan p-value 0. 000 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara asupan zat besi dengan Zat besi dikaitkan sebagai salah satu mineral yang berperan dalam pertumbuhan balita karena salah fungsinya untuk kekebalan tubuh . Pada masa balita sangat rentan terhadap terjadinya penyakit yang akan menyebabkan masalah gizi, oleh karena itu beberapa konsumsi mineral dibutuhkan untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi zat besi saja namun zat gizi lainnya. Analisis keterkaitan antara asupan protein pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I menunjukkan ada hubungan yang positif antara variabel asupan protein dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Gianyar I. Jika konsumsi potein kurang maka akan mempengaruhi asupan protein didalam tubuh yang nantinya akan mempengaruhi produksi dan kerja dari hormon IGF-1. IGF-1 atau somatomedin yang merupakan hormon polipeptida yang berfungsi sebagai mitogen dan stimulator poliferasi sel dan berperan penting dalam proses perbaikan dan 133 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. regenerasi jaringan. Asupan protein memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pertumbuhan, secara umum fungsi protein untuk pertumbuhan, pembentukkan komponen struktural dan pembentukkan anti bodi sehingga jika kekurangan asupan protein bisa berisiko untuk terjadinya Asupan protein yang tidak adekuat dapat menyebabkan kurang energi kronis dan jika dalam kurun waktu lama dapat menyebabkan pertumbuhan linier terganggu. Dari hasil penelitian diatas lalu dihubungkan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Kundrawati . , yang dimana hasil penelitiannya sejalan dengan hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan kejadian stunting ditunjukkan dengan nilai p-value 0,000, dan OR 4,5511. Semakin kurang konsumsi protein maka berisiko 4,5511 kali lebih besar mengalami stunting. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Suryani . , dalam penelitiannya mengatakan bahwa balita yang asupan protein cukup dan tidak Stunting sebanyak 26 balita dengan presentase . 9%) sedangkan pada balita dengan asupan protein cukup dan Stunting sebanyak 16 orang dengan presentase . 1%). Hasil Uji Statistik diperoleh nilai p-value = 1. 0,05 yang berarti tidak ada hubungan antara Asupan zat gizi Protein dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu Tahun 2022. Analisis keterkaitan antara asupan karbohidrat pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I menunjukkan ada hubungan yang positif antara variabel asupan karbohidrat dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Gianyar I. Asupan karbohidrat rendah berisiko 6,5 kali terhadap kejadian balita stunting dibandingkan dengan asupan karbohidrat yang Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa asupan karbohidrat yang rendah memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kejadian stunting. Fungsi karbohidrat memiliki peranan sebagai pengatur metabolisme serta penyumbang energi ke otak dan syaraf. Selain itu karbohidrat adalah zat gizi yang berfungsi sebagai suplai energi utama untuk tubuh agar dapat beraktivitas. Karbohidrat menghasilkan energi untuk balita dalam menunjang perkembangan otak dan aktivitas bermain. Dari hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Suryani . yang dimana hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square didapatkan p-value 0. 386 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara zat gizi Karbohidrat dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu Tahun 2022, dari hasil wawancara food recall 3x24 jam sebagian besar balita yang tidak stunting mengalami kekurangan asupan zat gizi karbohidrat oleh karena itu tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan zat gizi karbohidrat dengan kejadian stunting pada balita . Analisis keterkaitan antara asupan zat besi pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I menunjukkan ada hubungan yang positif antara variabel asupan zat besi dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Gianyar I. Asupan karbohidrat dengan kategori kurang terhadap status gizi . eadaan stuntin. sangat pendek sebanyak 10 orang . ,8%) dan dengan status gizi . eadaan stuntin. pendek sebanyak 11 orang . ,8%). Kekurangan besi akan menyebabkan anemia gizi besi yang ditandai dengan kulit pucat, letih dan nafasnya pendek akibat kekurangan oksigen. Mineral besi merupakan zat gizi esensial yang berperan dalam fungsi motorik. Fungsi yang pertama adalah besi (F. berperan dalam sintesis monoamine. Monoamine merupakan enzim mitokondria yang terdapat di semua bagian berhubungan dengan metabolisme aerobik dari makanan yang menghasilkan energi, dengan kata lain sebagai pusat pembangkit energi. Asupan zat gizi didapat dengan membandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk makronutrien dan (Estimated Average Requiremen. EAR untuk mikronutrien. Konsumsi makanan keluarga akan sangat berpengaruh pada konsumsi makanan balita. Ibu berperan penting dalam menyediakan, mengatur, dan pengadaan konsumsi makanan dirumah khususnya konsumsi makanan balita itu sendiri, ketika konsumsi pangan ditingkat keluarga kurang juga berpengaruh tehadap konsumsi zat gizi untuk anak balita yang kurang. Asupan Fe yang rendah juga dipengaruhi oleh asupan vitamin C yang rendah. Vitamin C membantu dalam meningkatakan asupan zat besi di dalam usus khususnya besi non heme yang memiliki tingkat penyerapan yang rendah. Zat besi juga berpengaruh terhadap imunitas tubuh, kurangnya zat besi mengakibatkan penyakit infeksi mudah masuk ke dalam tubuh. Anemia merupakan penyebab penyebab infeksi yang kronis yang akan berdampak terhadap pertumbuhan linier anak. Dari hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Kundrawati . menunjukkan hasil penelitian yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara asupan zat besi dengan kejadian stunting ditunjukkan dengan nilai p-value 0,005. Penelitian ini sejalan 134 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Yonik Liena Anzi. Ni Komang. Kencana. I Ketut. Ambartana. I Wayan (Hubungan Asupan Protein. dengan penelitian Bahmat . menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi zink dengan kejadian stunting dengan p-value 0,007. Sebagian besar Fe di dalam tubuh dapat terkonjugasi dengan protein dalam bentuk ferro atau ferri. Apabila jumlah Fe di dalam tubuh cukup, maka kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah dalam sumsum tulang akan selalu SIMPULAN DAN SARAN Simpulan pada penelitian ini adalah asupan protein, karbohidrat, dan zat besi pada balita sebagian besar sudah termasuk dalam kategori baik. Data asupan yang diperoleh juga menunjukkan sekitar 9-10 dari 70 balita dengan kategori asupan protein, karbohidrat dan zat besi yang kurang. Kondisi asupan protein, karbohidrat dan zat besi yang kurang, dihubungkan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Gianyar I. Hasil uji keterkaitan antar variabel menunjukkan ada hubungan antara antara asupan protein, karbohidrat dan zat besi pada balita dengan kasus stunting yang terjadi pada balita di Puskesmas Gianyar I. Hubungan yang dihasilkan antara variabel asupan protein, karbohidrat, dan zat besi terhadap kejadian stunting pada balita memiliki nilai korelasi positif. Semakin baik asupan protein, karbohidrat, dan zat besi maka semakin baik pula status gizi pada balita. Pencegahan kejadian stunting pada balita dapat dimulai dari keluarga yang harus memperhatikan asupan balita dan rutin melakukan konseling gizi atau datang pada saat setiap kegiatan posyandu yang dilakukan puskesmas. Puskesmas setempat juga disarankan untuk selalu memberikan edukasi kepada ibu balita dan ibu hamil agar asupan dan status gizi tetap terjaga. Kejadian stunting yang telah terjadi harus segera ditindak lanjuti oleh Dinas Kesehatan dengan memberikan bantuan logistik berupa biskuit ibu hamil dan biskuit untuk balita yang dapat dikonsumsi dalam meningkatan asupan gizi. DAFTAR PUSTAKA