Jurnal Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri (PASTI) Vol. No. April 2026, 112-124 p-ISSN 2085-5869/ e-ISSN 2598-4853 Penurunan Downtime Akibat Plug System Error pada Proses Helium Leak Test 3 Menggunakan Metode Eight Steps di PT Pakoakuina 4W Nicholas Ego Guarsa1*. Mutawally Asy SyaAoroqie2 1,2,. Program Studi Teknik Produksi dan Proses Manufaktur. Politeknik Astra Cikarang Selatan. Kabupaten Bekasi, 17530. Indonesia Email: nicholas. guarsa@polytechnic. (Diterima: 21-03-2026. Direvisi: 19-04-2026. Disetujui: 24-04-2. Abstrak PT Pakoakuina Car Wheel, bagian dari Pako Group yang merupakan anak perusahaan PT Astra Otoparts dan Triputra Group, memproduksi velg berbahan baja dan aluminium untuk pasar OEM dan aftermarket, termasuk merek global seperti Toyota. Honda, dan Perodua. Salah satu tahapan penting dalam proses produksinya adalah Helium Leak Test 3 (HeLT. , yang bertujuan untuk mendeteksi kebocoran pada wheel. Proses ini memerlukan kebersihan wheel dan penutupan lubang valve, yang dilakukan secara manual maupun otomatis. Namun, sering terjadi downtime akibat kekosongan valve pada unit in-plug, karena valve bekas pengujian tidak secara otomatis kembali dan harus dipindahkan secara manual oleh petugas quality gate. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan downtime akibat Plug System Error pada proses Helium Leak Test 3 menggunakan metode Eight Steps. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi kondisi aktual, menentukan akar penyebab masalah, serta merumuskan tindakan perbaikan yang sesuai. Berdasarkan hasil analisis, dilakukan perbaikan melalui perancangan dan implementasi conveyor transfer valve yang berfungsi mengotomatisasi pemindahan valve dari unit un-plug menuju unit in-plug. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan yang diterapkan berhasil menghilangkan kebutuhan pemindahan valve secara manual dan menurunkan downtime akibat Plug System Error hingga 100%. Kata kunci: conveyor. 8 step. Abstract PT Pakoakuina Car Wheel, a subsidiary of Pako Group under PT Astra Otoparts and Triputra Group, manufactures steel and aluminum wheels for both OEM and aftermarket markets, serving global brands such as Toyota. Honda, and Perodua. One of the critical stages in the production process is the Helium Leak Test 3 (HeLT. , which is conducted to detect any leakage in the wheels. This test requires wheel cleanliness and proper valve hole sealing, done either manually or automatically. However, frequent downtime occurs due to valve shortages at the in-plug unit, caused by the failure of used valves to return This study aims to reduce downtime caused by Plug System Error in the Helium Leak Test 3 process using the Eight Steps methodology. The method was employed to identify the current condition, determine the root causes of the problem, and formulate appropriate corrective actions. Based on the analysis results, an improvement was implemented through the design and installation of a valve transfer conveyor system to automate the transfer of valves from the un-plug unit to the in-plug unit. The results indicate that the implemented improvement successfully eliminated the need for manual valve transfer and reduced downtime caused by Plug System Error by 100%. Keywords: conveyor. 8 step. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 PENDAHULUAN Pako Group merupakan anak perusahaan PT Astra Otoparts dan Triputra Group yang bergerak dalam industri komponen otomotif. Perusahaan ini memproduksi wheel rim berbahan baja dan aluminium untuk kendaraan roda dua dan roda empat Velg merupakan komponen penting pada kendaraan yang berfungsi sebagai dudukan ban sekaligus meneruskan beban dan gaya antara kendaraan dengan permukaan jalan sehingga mendukung stabilitas dan keselamatan berkendara (Loganathan & Vijaya, 2. Dalam proses produksi wheel . di PT Pakoakuina, terdapat tahapan utama seperti casting, machining dan Setelah wheel terbentuk melalui proses casting, komponen selanjutnya memasuki tahap machining dan membentuk fitur-fitur fungsional, serta memastikan kualitas produk sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pada tahap machining, dilakukan pula pengujian kebocoran wheel yang disebut Helium Leak Test 3 (HeLT. Pengujian ini melibatkan beberapa tahap yaitu, wheel didorong ke mesin HeLT3 lalu di vakum dan disemprotkan gas helium untuk mendeteksi kebocoran. Bila terdapat kebocoran, helium akan keluar melalui celah dan terdeteksi oleh alat Helium Leak Detector yang menangkap ion helium tersebut dan menunjukkan tingkat kebocorannya melalui sinyal (Pranjono et al. , 2. Wheel yang terdeteksi kebocoran akan dipisahkan menuju tempat produk NG (Not Goo. , sementara wheel . yang lolos akan dilanjutkan pada proses berikutnya, yaitu quality gate. Downtime kumulatif yang terjadi selama bulan januari sampai dengan bulan maret adalah 173 menit dari total waktu kerja sebesar 79. 380 menit. Sehingga secara persentase akibat terjadinya downtime tersebut produktivitas masih berada diangka 77,1%. Produktivitas tersebut masih belum mencapai target dari Perusahaan yaitu sebesar 85%. Proses HeLT3 ini memiliki peran penting dalam menjamin kualitas produk, namun rupanya, proses ini kerap kali menghadapi permasalahan berupa tingginya downtime yang mengakibatkan terhambatnya kelancaran proses produksi. Untuk mengetahui tingkat permasalahan tersebut, dilakukan analisis data downtime pada seluruh lini machining selama periode Januari-Maret 2025. Data downtime lini machining periode JanuariAeMaret 2025 ini menunjukkan bahwa proses Helium Leak Test (HeLT) mencatat downtime tertinggi sebesar 12. 143 menit. Sebanyak 57,5% downtime tersebut berasal dari HeLT 3, dengan plug system error sebagai penyebab dominan sebesar 3. 155 menit . ,2%). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penyebab terbesar pada plug system error adalah valve kosong dengan downtime 1. Temuan ini menunjukkan bahwa permasalahan valve kosong menjadi prioritas utama dalam upaya penurunan downtime pada proses HeLT 3. Sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi akar penyebabnya, diperlukan pemahaman terhadap mekanisme penutupan lubang valve yang diterapkan pada proses HeLT 3. Pada proses ini, penutupan lubang valve dilakukan dengan dua metode, yaitu secara manual dan otomatis . n-plu. Metode manual dilakukan oleh man power menggunakan alat bantu, sedangkan metode otomatis dilakukan oleh robot. Setelah proses pengujian selesai, valve dilepas secara otomatis oleh robot dan jatuh ke dalam box penampungan. Namun, valve yang telah digunakan tidak kembali secara otomatis ke sistem in-plug, sehingga pengisian kembali masih dilakukan secara manual oleh man power quality gate. Kondisi tersebut menyebabkan manpower quality gate, yang seharusnya berfokus pada aktivitas inspeksi kualitas, harus melakukan pekerjaan tambahan berupa pemindahan valve dari box penampungan ke sistem in-plug. Aktivitas tambahan ini berpotensi menimbulkan keterlambatan pengisian valve sehingga stok valve pada in-plug menjadi kosong dan memicu terjadinya downtime pada proses HeLT3. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode Eight Steps yang didukung oleh Seven Tools untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah serta Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 merumuskan usulan perbaikan yang tepat dalam menurunkan downtime akibat plug system error pada proses HeLT3. Metode Eight Steps merupakan metode perbaikan yang digunakan untuk mengolah data, mengidentifikasi akar penyebab . oot caus. permasalahan, serta merumuskan tindakan perbaikan yang sesuai (Khamaludin & Respati, 2. Analisis dalam metode ini didukung oleh Seven Tools, yaitu seperangkat alat pengendalian kualitas yang digunakan untuk membantu organisasi dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan permasalahan proses secara sistematis (Somadi et al. , 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode Eight Steps efektif diterapkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di industri manufaktur. Setiawan . menerapkan metode tersebut untuk mengurangi permasalahan kualitas pada proses perakitan komponen otomotif, sedangkan Fauzan et al . menggunakannya untuk menurunkan tingkat reject pada proses casting. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode Eight Steps mampu mengidentifikasi akar penyebab masalah secara sistematis dan menghasilkan tindakan perbaikan yang efektif. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut masih berfokus pada permasalahan kualitas produk dan tingkat reject, sehingga belum membahas penerapan metode Eight Steps untuk mengatasi downtime yang disebabkan oleh keterbatasan sistem material handling, khususnya pada proses Helium Leak Test. Selain itu, penelitian sebelumnya belum mengintegrasikan hasil analisis akar penyebab dengan usulan perbaikan berupa modifikasi sistem pemindahan material secara otomatis. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan metode Eight Steps yang didukung Seven Tools untuk mengidentifikasi akar penyebab downtime akibat Plug System Error pada proses Helium Leak Test 3, serta mengusulkan penerapan sistem conveyor sebagai solusi untuk meningkatkan ketersediaan valve pada sistem in-plug sehingga downtime dapat Tujuan penelitian ini adalah untuk menurunkan downtime pada proses Helium Leak Test 3. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT Pakoakuina 4W pada line machining dalam pembuatan velg yang menggunakan teknik pengujian kebocoran yaitu helium leak test. Penelitian ini dilakukan selama periode bulan Desember hingga Juni 2025. Produk yang digunakan sebagai objek penelitian adalah part valve yang digunakan sebagai penutup bagian lubang valve wheel, sebelum masuk pengujian kebocoran yaitu helium leak test. Gambar 1. Part Valve Part Valve ini memiliki fungsi sebagai salah satu syarat pengujian helium leak test untuk penutupan lubang valve. Penutupan lubang valve dilakukan dengan dua metode, yaitu manual dan otomatis . n-plu. Metode manual dilakukan oleh man power dengan alat bantu, sementara metode otomatis dilakukan oleh robot. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Mulai Pemecahan Masalah Merencanakan Perbaikan Implementasi Perbaikan Identifikasi Masalah Tidak Rumusan Masalah MenetapkanTujuan Evaluasi Pengumpulan Data Menentukan Tema Menentukan Target Analisa Sebab Akibat Sesuai Standarisai Rencana Perbaikan Tidak Approved Dept Head SELESAI Sesuai Gambar 2. Alur Proses Penelitian Langkah-langkah pemecahan masalah pada penelitian ini digunakan sebagai panduan untuk memperoleh usulan perbaikan yang sistematis sesuai dengan tujuan Metode yang digunakan adalah Eight Steps dengan dukungan Seven Tools. Metode Eight Steps merupakan kerangka berpikir yang terdiri atas tahapan sistematis dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan melakukan perbaikan berkelanjutan (Sutedi et al. Tahapan tersebut meliputi: . menentukan tema dan analisis situasi, . menetapkan target, . analisis kondisi yang ada, . analisis faktor penyebab, . rencana perbaikan, . implementasi perbaikan, . evaluasi hasil, dan . standarisasi serta tindak lanjut. Dalam mendukung tahapan tersebut digunakan Seven Tools sebagai alat bantu analisis penyelesaian masalah pada proses produksi (Ginting et al. , 2. Pada tahap analisis kondisi yang ada. Diagram Pareto digunakan untuk mengolah data downtime pemasangan part valve sehingga dapat diketahui jenis permasalahan yang memberikan kontribusi terbesar dan menjadi prioritas perbaikan. Selanjutnya, pada tahap analisis faktor penyebab. Fishbone Diagram digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab . oot caus. dari permasalahan prioritas berdasarkan faktor manusia . , mesin . , metode . , material . , dan lingkungan . (Valentino et al. , 2. Hasil analisis menggunakan Diagram Pareto dan Fishbone Diagram menjadi dasar dalam penyusunan rencana perbaikan, pelaksanaan implementasi, evaluasi hasil perbaikan, serta penyusunan standar kerja sebagai tindak lanjut untuk mencegah terulangnya permasalahan yang sama. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 HASIL DAN PEMBAHASAN Step 1: Menentukan Tema dan Analisis Situasi Downtime adalah kondisi ketika mesin mengalami gangguan atau berhenti beroperasi sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya dalam proses produksi dan mengakibatkan hilangnya waktu produksi (Avrilio et al. , 2. Berikut merupakan data permasalahan downtime yang timbul beserta jumlah pada proses plug system error periode Januari-Maret 2025. Tabel 1. Data Jenis-Jenis Downtime Proses Plug System Error Masalah Setting WK Competency . Valve kosong Frekuensi Downtime Total Downtime . Total Downtime . Dari data tabel di atas dapat diketahui bahwa ada 3 jenis downtime di proses plug system error selama periode Januari-Maret. Dari data tabel tersebut penulis membentuk diagram pareto untuk mengetahui dengan pasti pada bagian downtime apa yang memiliki waktu terlama. DTE Plug System Error TIME (Meni. VALVE KOSONG SETTING VISION SETTING WK ROBOT Problem Gambar 3. Data Downtime Proses Helium Leak Test 3 Berdasarkan dapat diketahui bahwa downtime tertinggi pada plug system periode bulan Januari-Maret terdapat pada valve kosong dengan total waktu 1877 menit atau 112620 Setelah melakukan penelitian di proses helium leak test 3, didapatkan downtime plug system error yaitu berada pada posisi tertinggi. Dari hasil tersebut maka penulis mengambil tema yaitu menurunkan downtime plug system error pada proses helium leak test 3. Pada penelitian ini penentuan tema terhadap improvement juga dilakukan dengan memperhatikan aspek QCDSM (Quality. Cost. Delivery. Safety. Moral. Tabel 1. Penentuan Tema Berdasarkan QCDSM Aspek Quality Cost Delivery Safety Morale Dampak Ketika Tidak Improvement Kualitas wheel akan berkurang karna MP quality gate terburu-buru Cost potensial losses 3754 wheel I/ 3 bulan, dengan total Rp 3. Cost potensial losses listrik 2. 402 kwh/3 bulan, dengan total Rp 3. Adanya aktifitas tambahan pada MP quality gate yang berpotensi downtime MP quality gate berpotensi tertimpa dan terjepit ketika mengangkat conveyor NG Fokus MP berkurang . uman erro. , karena memiliki double job Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Step 2: Menetapkan Target Berdasarkan data downtime plug system error pada proses helium leak test 3 yang semula 1877 menit pada periode Januari-Maret 2025 menjadi 0 menit atau turun sebesar Target Menit Before After Series1 Series2 Gambar 4. Target Penurunan Step 3: Analisa Kondisi yang Ada Tabel 3. Analisa Kondisi yang Ada Berdasarkan Faktor 4M Faktor Kondisi Standar Kondisi Aktual Man Pengecekan wheel Pengecekan wheel Material Valve dalam keadaan Kondisi valve OK Machine Mesin berproses dengan auto Mesin berproses dengan auto Pemindahan valve Pemindahan valve dilakukan oleh dilakukan oleh MP LD MP quality gate Method Evidence Aktual pada proses OK . helium leak test 3 Aktual valve di OK . vibration feeder Aktual saat di OK . Observasi helium Belum leak test 3, dan OK () monitor saat proses Tidak melakukan pengecekan stok Observasi helium valve, sensor photoelectric leak test 3, dan mendeteksi stok valve 0 pcs yang monitor saat proses menyebabkan downtime Observasi helium Enviroment Akses mudah dilewati Harus buka tutup conveyor NG leak test 3, dan monitor saat proses Pengecekan stok valve sebelum proses minimal 16 pcs Judge Belum OK () Belum OK () Step 4: Analisa Faktor Akibat Analisa faktor penyebab dilakukan menggunakan tools fishbone dan tertuang menjadi sebagai berikut. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Gambar 5. Analisa Sebab-Akibat Berdasarkan analisis penyebab masalah menggunakan fishbone analysis, ditemukan 3 akar masalah terkait man, material, machine, dan method yang menyebabkan downtime plug system error yaitu tidak adanya mesin transfer valve otomatis, tidak adanya prosedur untuk pemindahan valve, dan pemindahan valve dilakukan masih secara manual. Step 5: Merencanakan Perbaikan Rencana perbaikan atau penanggulangan adalah cara untuk menemukan solusi dari akar masalah downtime plug system error pada proses helium leak test 3. Maka dari itu cara proses perbaikan akan dijelaskan pada Tabel 4 dibawah ini. Tabel 4. Tabel 5W 1H What Why Jika tidak terisi downtime pada mesin HeLT 3 Tidak MP quality gate memiliki job utama hanya cek kualitas wheel, tidak pemindahan valve Karena Akses yang sulit Karena How Membuat When Where Who Desember 2024 -Juni Pakoakuina Mutawally Asy SyaAoRoqie Membuat Desember 2024 -Juni Pakoakuina Mutawally Asy SyaAoRoqie Membuat Desember 2024 -Juni Pakoakuina Mutawally Asy SyaAoRoqie Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Berdasarkan Tabel 4 yaitu tabel 5W 1H, didapatkan bahwa rencana perbaikan dari akar permasalahan downtime plug system errors pada proses helium leak test 3 adalah dengan cara merancang conveyor transfer valve untuk pemindahan valve secara otomatis pada proses helium leak test 3. Step 6: Implementasi Perbaikan Implementasi perbaikan dilakukan melalui perancangan conveyor transfer valve sebagai sarana pemindahan valve secara otomatis pada proses Helium Leak Test 3. Conveyor merupakan salah satu sistem material handling yang berfungsi untuk memindahkan material atau produk dari satu titik ke titik lainnya secara kontinu sehingga dapat meningkatkan efisiensi proses, mengurangi aktivitas manual operator, serta meminimalkan waktu perpindahan material dalam proses produksi (Fiatno, 2. (Sadi, 2. Pada penelitian ini, conveyor transfer valve dirancang untuk mengotomatisasi proses pemindahan valve dari area un-plug menuju area in-plug yang sebelumnya dilakukan secara manual oleh operator. Sistem conveyor yang dirancang terdiri dari conveyor vertikal dan conveyor belt yang memiliki fungsi transfer berbeda. Conveyor vertikal digunakan untuk mentransfer material pada arah vertikal guna mengatasi perbedaan ketinggian antar proses, sedangkan conveyor belt berfungsi sebagai alat material handling yang memindahkan material secara horizontal dan berkelanjutan dari out-plug ke in-plug (Giovanni, 2. Perancangan conveyor transfer valve harus memiliki tuntutan rancangan untuk memastikan bahwa rancangan conveyor ini dapat memenuhi fungsionalitas yang diharapkan dan tidak Di bawah ini adalah daftar tuntutan rancangan dari conveyor transfer valve. Tabel 5. Daftar Tuntutan Rancangan Conveyor Transfer Valve Aspek Fungsi D/W Safety Maintenance Proses Estetika Deskripsi Mampu memindahkan valve ke proses un-plug Mampu melakukan proses secara Terdapat pengaman cover pada mesin Untuk maintenance conveyor mudah Part yang ada dalam rancangan dapat diproses manufaktur Bentuk tidak rumit Berikut merupakan hasil rancangan conveyor transfer valve yang diusulkan. Gambar 6. Conveyor Transfer Valve . Conveyor Vertikal . Conveyor Belt Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Gambar 7. Conveyor Transfer Valve Setelah hasil rancangan sudah selesai selanjutnya dilakukan implementasi hasil rancangan conveyor transfer valve tersebut. Implementasi ini meliputi simulasi cara atau mekanisme Tabel 6. Mekanisme Kerja Conveyor Transfer Mekanisme Kerja Ilustrasi Deskripsi Ketika valve sudah dilepas akan jatuh melalui chute menuju conveyor vertikal. Kemudian masuk ke dalam menuju atas. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Tabel 6. Mekanisme Kerja Conveyor Transfer (Lanjuta. Mekanisme Kerja Ilustrasi Deskripsi Selanjutnya valve menuju conveyor belt, lalu akan si transfer menuju area in-plug. Ketika valve sudah maka akan terjatuh ke hopper, dan vibration in-plug. Step 7: Evaluasi Hasil Setelah hasil rancangan sudah jadi selanjutnya dilakukan evaluasi hasil desain terhadap kriteria tuntutan desain yang telah dibuat diatas. Evaluasi desain conveyor dapat dilihat berikut ini. Tabel 7. Evaluasi Desain Conveyor Aspek Fungsi D/W Safety Maintenance Proses Estetika Deskripsi Mampu memindahkan valve ke proses un-plug Mampu melakukan proses secara Terdapat pengaman cover pada mesin Untuk maintenance conveyor mudah Part yang ada dalam rancangan dapat diproses manufaktur Bentuk tidak rumit Status Berdasarkan hasil evaluasi hasil perancangan conveyor transfer valve pada proses helium leak test 3 diatas, semua kriteria perancangan yang meliputi fungsi, safety, maintenance, proses manufatkur, dan estetika dapat terpenuhi semua. Dengan begitu terpenuhinya kriteria tuntutan rancangan tersebut maka conveyor transfer valve dapat digunakan pada proses helium leak test 3. Sehingga manpower tidak perlu memindahkan valve secara manual sehingga downtime dapat dihilangkan 100%. Step 8: Standarisasi dan Tindak Lanjut Rencana Perbaikan Selanjutnya Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Setelah melakukan analisa, terdapat beberapa saran untuk rencana perbaikan . Dengan selesainya perancangan conveyor ini, diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat tambahkan kontrol kelistrikan yang akan digunakan pada conveyor transfer valve. Pada penelitian selanjutnya dapat di analisa terkait frame untuk conveyor belt yang berada pada posisi atas proses helium leak test 3. Standarisasi Standarisasi pada penelitian ini dilakukan melalui penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) preventive maintenance untuk sistem conveyor yang telah dirancang. SOP merupakan pedoman kerja yang disusun secara sistematis untuk memastikan setiap aktivitas dilaksanakan secara konsisten dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (Sitorus & Nasution, 2. Preventive maintenance merupakan kegiatan perawatan yang dilakukan secara terencana dan berkala untuk mencegah terjadinya kerusakan peralatan serta menjaga keandalan mesin selama proses operasional (Febianti et al. , 2. SOP preventive maintenance tersebut akan digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan perawatan conveyor secara berkala. Standard procedure preventive maintenance yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 8. (Febianti et al. , 2. Gambar 8. Form Standard Operation Procedure Preventive Maintenance Kesimpulan Pada penelitian menggunakan metode eight step yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa perbaikan untuk mengatasi masalah downtime plug system error pada proses helium leak test 3 ialah dengan merancang conveyor transfer valve untuk memindahkan valve di proses helium leak test 3, dengan adanya rancangan conveyor transfer valve tersebut dapat digunakan secara otomatis sehingga manpower quality gate tidak perlu memindahkan secara manual. Saran Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 112-124 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penelitian selanjutnya diharapkan dapat merealisasikan hasil perancangan conveyor transfer valve ke dalam bentuk fisik sehingga rancangan yang diusulkan dapat diterapkan dan dievaluasi secara langsung pada kondisi operasional. Setelah proses fabrikasi dan pengujian menunjukkan hasil yang sesuai dengan tujuan perancangan, conveyor transfer valve tersebut selanjutnya dapat diimplementasikan pada proses Helium Leak Test 3 untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung kelancaran proses produksi serta mengurangi downtime yang disebabkan oleh permasalahan valve kosong. DAFTAR PUSTAKA