Penerapan Bimbingan Klasikal Dengan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik PENERAPAN BIMBINGAN KLASIKAL DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK Ismi Nadia Berlusconi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya E-mail : ismi. 21040@mhs. Retno Tri Hariastuti Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya E-mail : retnotri@unesa. Abstrak Keterampilan berpikir kritis peserta didik butuh dikembangkan agar mempunyai keterampilan hidup yang menunjang keberhasilannya. Penelitian bertujuan guna menguji efektivitas layanan bimbingan klasikal dengan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas VII-K SMP Negeri 19 Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimental. Bentuk desain yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest. Teknik analisis data menggunakan Statistic Parametric Paired Sample t-Test. Instrumen tes untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Subjek penelitian kelas VII-K atas rekomendasi guru BK. Terlihat perbedaan dari rata-rata skor yang diperoleh peserta didik antara sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan klasikal dengan model problem based learning sebesar 2,9 poin. Dapat ditarik kesimpulan layanan bimbingan klasikal dengan model problem based learning efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas VII K SMP Negeri 19 Surabaya. Kata Kunci: Kemampuan berpikir kritis. Bimbingan klasikal. Problem based learning. Abstract Students' critical thinking skills need to be developed in order to equip them with life skills that support their success. This study aims to examine the effectiveness of classical guidance services using the problem-based learning model to improve the critical thinking skills of Grade VII-K students at SMP Negeri 19 Surabaya. The research adopts a quantitative approach with a pre-experimental research design. The design used is the One Group Pretest-Posttest model. Data analysis was carried out using the Statistical Parametric Paired Sample t-Test. A test instrument was employed to measure students' critical thinking The research subjects were students of class VII-K, selected based on the recommendation of the school counselor. A difference of 2. 9 points was observed in the average scores before and after the students received classical guidance services using the problem-based learning model. It can be concluded that classical guidance services with the problem-based learning model are effective in enhancing the critical thinking skills of Grade VII-K students at SMP Negeri 19 Surabaya. Keywords: Critical thinking skills. Classical guidance. Problem based learning. Kemampuan berpikir kritis adalah kompetensi dasar yang penting, setara dengan kemampuan menulis dan membaca. Kemampuan ini mengajarkan peserta didik dalam membuat keputusan secara hatihati, teliti, dan logis dari berbagai sudut pandang. Peserta didik juga mampu merefleksikan persepsi orang lain dan menyampaikan pendapatnya. Kemampuan berpikir kritis didapatkan melalui pelatihan atau kondisi pembelajaran yang dirancang khusus untuk merangsang proses berpikir kritis (Darmataksiah & Wiguna, 2. Menurut Kemendikbudristek, berpikir kritis merupakan bagian dari Profil Pelajar Pancasila yang PENDAHULUAN Keterampilan berpikir benar-benar diperlukan demi keberlangsungan hidup manusia. Menurut Rosnawati istilah keterampilan berpikir terbagi menjadi tiga yang sebetulnya cukup berbeda, yakni berpikir tingkat tinggi, berpikir kompleks, serta berpikir kritis. Berpikir kritis adalah keterampilan menelaah dan mengevaluasi informasi yang didapatkan dari hasil observasi, penalaran atau komunikasi guna menentukan apakah informasi itu bisa dipercaya hingga akhirnya bisa menyampaikan kesimpulan dengan rasional dan benar (Dyah, 2. Penerapan Bimbingan Klasikal Dengan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik menjadi arah pengembangan kompetensi peserta didik, termasuk di jenjang SMP. Peserta didik perlu dibimbing agar mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan pertimbangan yang logis, bukan sekadar mengikuti orang lain. Keterampilan berpikir kritis penting untuk menunjang keberhasilan hidup peserta didik, terutama di tengah perkembangan IPTEK yang menuntut kecakapan di berbagai bidang. Ketidakmampuan berpikir kritis dapat merugikan individu dan menghambat perkembangan, karena peserta didik yang tidak kritis cenderung menjadi pasif dan tidak memahami makna dari tindakannya (Hariastuti, 2. Pasca pandemi, dunia pendidikan di Indonesia mengalami perubahan signifikan akibat pembelajaran langsung di kelas beralih ke pembelajaran daring berbasis gadget, yang berdampak pada perkembangan kemampuan berpikir peserta didik (SyafiAoi et al. Peserta didik tingkat SMP menunjukkan peningkatan ketergantungan terhadap internet sebagai sumber informasi tugas sekolah. Di era abad ke-21, peserta didik diharuskan menguasai kemampuan 4C (Critical Thinking. Communication. Collaboration. Creativit. untuk mengatasi persaingan global. Namun, kenyataannya banyak lembaga pendidikan yang belum sanggup menciptakan lulusan yang mampu bersaing (Nasrikin et al. , 2. Studi oleh Solikhin & Fauziah saat pembelajaran daring menunjukkan bahwa 45,7% peserta didik kelas XI di SMP Negeri 62 Surabaya mempunyai kemampuan berpikir kritis pada kategori sedang, meski beberapa aspek seperti menganalisis tergolong baik. Meski begitu, beberapa peserta didik masih menemui kendala pada inferensi dan penjelasan yang dimana hal ini merupakan inti dari kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis bentuk berpikir yang konvergen yakni mengarah pada satu titik. Kemampuan berpikir kritis terlihat di situasi ketika menggunakan logika dan fakta untuk menemukan satu jawaban serta solusi yang tepat dari suatu permasalahan. Berpikir kritis adalah keterampilan penting yang perlu ditumbuhkan sedari awal masa pertumbuhan. Peserta didik pada tingkat sekolah menengah dalam masa pertumbuhan kognitif yang memungkinkan peserta didik untuk mulai berpikir secara lebih kompleks. Situasi ini menegaskan pentingnya bagi peserta didik agar mulai mengasah dan mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya (Uno et al. , 2. Fenomena ini juga ditemukan di SMP Negeri 19 Surabaya, khususnya peserta didik kelas VII. Observasi bersama guru BK, diperoleh gambaran bahwa ditemukan peserta didik tingkat keaktifannya rendah selama proses pembelajaran. Ketika guru menjelaskan materi, peserta didik hanya menulis dan menyimak tanpa mengajukan pertanyaan, meskipun sebenarnya belum memahami isi materi. Adapun ketika peserta didik ditanya. AuMengapa kamu memilih jawaban itu?Ay peserta didik hanya menjawab. AuKarena temanku juga jawab ituAy atau AuSoalnya mirip kayak di Ay Selain itu ketika diskusi kelompok, hanya sekadar satu atau dua peserta didik yang aktif berbicara, sementara yang lain diam atau hanya Peserta didik cenderung menerima informasi secara apa adanya tanpa mempertanyakan atau menganalisis lebih lanjut, serta menunjukkan kesulitan dalam menyampaikan pendapat atau mempertahankan argumen logis. Saat kemampuan berpikir kritis di sekolah tidak terlepas dari peran BK. BK adalah proses pemberian pertolongan atau dukungan untuk individu maupun kelompok bersifat terus-menerus serta terstruktur, oleh tenaga profesional yang sudah mendapatkan pelatihan tertentu (Alam et al. , 2. Berdasarkan Panduan Operasional Penyelenggaran Bimbingan Konseling (POP BK) bimbingan klasikal adalah layanan dasar mewajibkan guru BK berinteraksi langsung dengan peserta didik melalui diskusi, tanya jawab, dan praktik langsung. Bimbingan membantu individu menyesuaikan diri dan mengatasi masalah (Nainggolan, 2. Layanan bimbingan klasikal membantu peserta didik agar terlibat secara aktif, inovatif, dan berperan ketika kegiatan belajarmengajar (Athiya, 2. Layanan bimbingan klasikal dirancang untuk mendukung peserta didik menyelesaikan masalah secara tepat agar perkembangan peserta didik tidak Layanan ini bersifat preventif untuk mencegah munculnya masalah dan juga bersifat development yang mengembangkan potensi peserta didik, seperti karakter, keterampilan berpikir, dan pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan secara terencana untuk menjawab tantangan dan kebutuhan yang relevan dengan karakter dari tahap perkembangan peserta didik di kelas tertentu. Bimbingan klasikal dinilai efektif dan efisien karena dilakukan secara langsung dan tatap muka pada waktu dan lokasi yang sama (Aprinawati, 2. Layanan bimbingan klasikal yang diterapkan oleh peneliti yakni problem based learning. Model ini memanfaatkan permasalahan di kehidupan dijadikan sarana dalam melatih kemampuan berpikir kritis, mengatasi persoalan, memperoleh wawasan penting melalui kegiatan pembelajaran. (Kusmiati et al. Peserta didik yang terlibat akan mendapat pengalaman ketika menangani permasalahan teman Penerapan Bimbingan Klasikal Dengan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik sebaya-nya yang bersifat realistis, berfokus pada kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan memanfaatkan berbagai sumber untuk merancang ide serta meningkatkan keterampilan belajar (Dewinta & Prasetiawan, 2. Permasalahan yang telah diuraikan, menjadi dasar ketertarikan peneliti dalam melaksanakan penelitian yang berjudul AuPenerapan Bimbingan Klasikal Dengan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta DidikAy. sedang, dan 8 berkategori tinggi. Sehingga data tersebut akan diberi layanan selama 5 kali pertemuan serta 1 pertemuan untuk refleksi. Tiap pertemuan layanan memiliki fokus dan capaian yang berbeda-beda. Pertemuan pertama mencakup pemahaman terkait kemampuan berpikir kritis berfokus pada interpretasi. Pertemuan kedua mencakup kemampuan peserta didik untuk menganalisis. Pertemuan ketiga mencakup kemampuan peserta didik untuk Pertemuan keempat mencakup kemampuan peserta didik membuat kesimpulan yang logis. Pertemuan kelima mencakup kemampuan peserta didik untuk Pemberian layanan dilaksanakan mulai dari tanggal 19 Februari sampai 26 Februari 2025. Diketahui bahwa 33 subjek mengalami peningkatan skor kemampuan berpikir kritis. Terlihat adanya perbedaan dalam berpikir kritis ke arah lebih positif setelah pelaksanaan layanan. Berikut perbandingan pre-test dan post-test: METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain penelitian pre-eksperimental. Bentuk desain One Group Pretest-Posttest. Pre-test diberikan untuk peserta didik sebelum memberikan layanan berupa bimbingan klasikal. Sedangkan Post-test diberikan setelah memberikan layanan bimbingan klasikal. Pemilihan subjek menggunakan VII-K SMP Negeri 19 Surabaya atas rekomendasi guru Bimbingan dan Konseling yang didasari oleh problematika mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis yang di mana banyak peserta didik cenderung menerima informasi secara pasif tanpa mempertanyakan, menganalisis, atau mengevaluasi kebenaran dari informasi yang diterima. Teknik pengumpulan data dengan instrumen tes keterampilan berpikir kritis Set-A merupakan adopsi dari disertasi Hariastuti. Sementara teknik analisis data dengan Statistic Parametric Paired Sample t-Test agar mengetahui perbedaan antara sebelum dan sesudah pemberian layanan. Perbedaan ini dianalisis melalui masing-masing layanan. Hasil Pre-test dan Post-test Gambar 1. 1 Hasil Pre-test dan Post-test Tahap selanjutnya uji normalitas dengan SPSS Berikut merupakan hasil perhitungan uji normalitas: HASIL Berdasarkan diskusi awal bersama guru BK, direkomendasikan mengambil data kelas VII-K karena memiliki problematika mengenai kurangnya kemampuan berpikir kritis yang ditemukan bahwa banyak peserta didik cenderung menerima informasi secara pasif tanpa mempertanyakan, menganalisis, atau mengevaluasi Dalam kegiatan pembelajaran maupun diskusi, peserta didik sering menunjukkan sikap tidak aktif, jarang bertanya, serta kesulitan dalam mengemukakan pendapat dan memberikan alasan logis. Peserta didik juga cenderung mengikuti pendapat mayoritas tanpa mempertimbangkan alternatif dari penyelesaian masalah atau solusi yang lebih Dilakukan pengukuran dengan menyebarkan pre-test menggunakan instrumen tes keterampilan berpikir kritis Set-A kepada 33 peserta didik. Hasil pre-test instrumen tes keterampilan berpikir kritis, diketahui bahwa terdapat 7 berkategori rendah, 18 berkategori Gambar 1. 2 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Pada output test statistics gambar 1. 2, diketahui penilaian Asymp. Sig . -taile. yakni 0,076 dan 0,010 lebih besar apabila dibandingkan taraf signifikansi 0,05. Bisa disimpulkan probabilitas sudah berdistribusi dengan Tahap selanjutnya uji homogenitas dengan SPSS Berikut merupakan hasil perhitungan Levene test: Penerapan Bimbingan Klasikal Dengan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik adalah mengenai AuMengelola Waktu untuk Kebersamaan KeluargaAy. Capaian dari materi ini adalah kemampuan peserta didik untuk menganalisis permasalahan, mengarah pada pemecahan suatu masalah serta pengambilan keputusan yang berada di lingkungan keluarga. Tahap ini, peserta didik menunjukkan peningkatan keaktifan dalam menganalisis permasalahan dengan berhasil menyebutkan faktor-faktor permasalahan. Pada pertemuan ketiga topik bahasan yang merupakan materi pada bimbingan klasikal adalah mengenai AuBijak Menggunakan Media SosialAy. Capaian dari materi ini adalah kemampuan peserta didik untuk mengevaluasi atau meninjau kembali secara kritis suatu contoh kasus dengan membandingkan peristiwa atau kondisi lain agar mengetahui sejauh mana peristiwa dapat diselesaikan di lingkungan sosial media. Pada tahap ini, peserta didik dapat membandingkan solusi dan mencari tahu sejauh mana dalam mengatasi masalah. Kemudian pertemuan keempat topik bahasan yang merupakan materi pada bimbingan klasikal adalah mengenai AuMenghentikan Tawuran di SMP YamadaAy. Capaian dari materi ini adalah kemampuan peserta didik membuat kesimpulan yang logis dari keseluruhan contoh kasus di lingkungan sekolah dengan memperhitungkan informasi yang relevan maupun bentuk representasi lainnya secara singkat, padat, dan jelas. Tahap ini, peserta didik dapat menarik kesimpulan solusi yang lebih efektif. Pertemuan kelima topik bahasan yang merupakan materi pada bimbingan klasikal adalah AuMisteri Sampah di Sungai DesaAy. Capaian dari materi ini adalah kemampuan peserta didik untuk mengeksplanasi yakni menjelaskan peristiwa secara rinci permasalahan di lingkungan masyarakat berdasarkan fakta yang ada, mengutarakan, menyampaikan alasan dalam bentuk argumen yang Tahapan ini, peserta didik dapat menjelaskan ulang permasalahan berdasarkan fakta-fakta. Pada pertemuan keenam yakni pertemuan terakhir melakukan refleksi dan evaluasi pertemuan awal hingga akhir, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya mengenai layanan yang telah dilaksanakan dan diberikan kesempatan untuk bertanya terkait pemahaman mereka yang mungkin masih kurang atau bingung sehingga dapat diluruskan lagi di pertemuan ini. Post-test dilakukan di pertemuan keenam kepada 33 peserta didik diberi instrumen tes keterampilan berpikir kritis terdapat 28 kategori tinggi, 4 kategori sedang, dan 1 kategori rendah. Dari peningkatan yang signifikan, indikator 2 atau kemampuan mengenali asumsi di pertemuan kedua yaitu pada topik AuMengelola waktu bersama keluargaAy yang paling mengalami kenaikan. Melihat semua peserta didik yang mengalami kenaikan dapat dilihat poin instrumen kemampuan berpikir kritis bagian 2 yakni nomor 4, 5, dan 6. Sedangkan peserta didik Gambar 1. 3 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Pada output test statistics gambar 1. 3, diketahui penilaian Asymp. Sig . -taile. yakni 0,776 yang lebih besar apabila dibandingkan taraf signifikansi 0,05. Bisa disimpulkan varian data homogen terpenuhi. Kemudian dilakukan analisis uji t paired sample t-test dengan SPSS 25. Berikut hasil perhitungan uji t: Gambar 1. 4 Hasil Perhitungan Uji Paired Sample Test Pada output test statistics gambar 1. 4, diketahui penilaian Asymp. Sig . -taile. yakni 0,000 lebih kecil dibandingkan taraf signifikansi 0,05. Bisa dinyatakan Ha diterima, yang menunjukkan adanya perbedaan pada peningkatan layanan kemampuan berpikir kritis peserta PEMBAHASAN Pre-test keterampilan berpikir kritis yang sudah rata-rata keseluruhan skor peserta didik adalah 7,60. Akan tetapi, setelah pelaksanaan 5 sesi layanan rata-rata keseluruhan skor peserta didik mengalami peningkatan yakni 10,5. Pada pertemuan pertama topik bahasan yang merupakan materi bimbingan klasikal adalah mengenai AuPersiapan Lomba 17 Agustus di Kampung MawarAy. Capaian dari materi ini adalah pemahaman peserta didik terkait kemampuan berpikir kritis yang berfokus pada interpretasi yakni dengan memberikan kesan atau pandangan terhadap contoh kasus yang berada di lingkungan masyarakat. Pada tahap ini, peneliti membangun rasa percaya dan kenyamanan agar peserta didik lebih terbuka mengikuti sesi selanjutnya. Selain itu, peneliti menggunakan alat peraga presentasi yang berisi tentang kemampuan berpikir kritis untuk mengajak peserta didik agar tertarik dengan topik pembahasan Berdasarkan observasi, suasana yang kondusif berhasil tercipta, terlihat dari peserta didik yang memahami permasalahan lebih dalam dan mencari tahu sumber permasalahan. Pada pertemuan kedua topik bahasan yang merupakan materi pada bimbingan klasikal Penerapan Bimbingan Klasikal Dengan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik paling mengalami kenaikan signifikan terlihat pada subjek 1 dan subjek 32. Kedua subjek mengalami kenaikan signifikan di indikator 2 dibandingkan indikator 1, 3, 4 Secara keseluruhan, peserta didik menunjukkan perkembangan yang bertahap dan positif dalam kemampuan berpikir kritis selama lima pertemuan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa peserta didik semakin terasah berpikir secara kritis, sistematis, dan Dengan stimulasi yang tepat dan pembiasaan yang konsisten, kemampuan berpikir kritis peserta didik bisa berpotensi terus berkembang dengan maksimal. Peserta didik awalnya belum memiliki cara bagaimana mempertimbangkan fakta-fakta yang ada setelah adanya layanan memiliki peningkatan keterampilan dalam hal mengenali nilai-nilai pada dirinya sendiri yang sesuai dengan indikator berpikir kritis yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, kesimpulan dan eksplanasi. Berdasarkan hasil pre-test, rata-rata skor diperoleh sebesar 7,60 sedangkan pada hasil skor post-test diperoleh sebesar 10,5. Berdasarkan pengujian menggunakan uji normalitas SPSS 25 One-Sample Kolmogorov-Smirnov nilai Asymp. Sig . -taile. 0,076 dan 0,010 lebih besar dari 0,05 probabilitas data berdistribusi Selanjutnya uji homogenitas Levene test nilai signifikansi 0,776 lebih besar dari 0,05 bisa ditarik kesimpulan varian data homogen atau uji homogenitas Kemudian melakukan uji t Paired Sample tTest didapatkan nilai 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga Ha diterima. Dikatakan ada perbedaan skor tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik. Oleh karena itu, ditarik kesimpulan layanan bimbingan klasikal dengan model problem based learning efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik VII-K di SMP Negeri 19 Surabaya. t-Test. Dijelaskan bahwa analisis uji normalitas diperoleh Asymp. Sig . -taile. adalah 0,076 dan 0,010 Ou 0,05. Hasil tersebut terlihat probabilitas berdistribusi normal. Kemudian, melakukan uji t Paired Sample t-Test didapatkan nilai sebesar 0,000 O 0,05 artinya ada perbedaan rata-rata antara pre-test dan post-test. Saran Berdasarkan simpulan, dapat dinyatakan saran yang bisa dijadikan beberapa pertimbangan yakni: Bagi Guru Bimbingan dan Konseling Sebagai pertimbangan atau referensi terutama ketika bimbingan klasikal dengan problem based learning yang berkaitan berpikir kritis. Bagi Peserta Didik Mampu belajar berpikir kritis melalui kegiatan layanan bimbingan klasikal dan mampu mengasah keterampilan dalam menghadapi permasalahan di dunia nyata. Bagi Peneliti Mampu memberikan referensi guna mengembangkan penelitian yang relevan, khususnya tentang bimbingan klasikal dan kemampuan berpikir kritis. DAFTAR PUSTAKA