Khalifah Fatimiyah PEMIKIRAN FILOSOF AL-FARRABI DAN IBNU SINA TENTANG FILSAFAT ISLAM DAN PENDIDIKAN ISLAM Alfina S. Indosantalia. Salahuddin Email: : alvinasuardi26@gmail. com, indosantalia@uin-alauddin. shalah019@gmail. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji perkembangan pemikiran filsafat Islam dalam mengkaji pengetahuan sesungguhnya tidak terlepas dari sumbangsi pemikiran dua tokoh filsafat Islam pada masanya yakni Alfarabi dan Ibnu Sina. Kedua tokoh inilah yang juga mengilhami masa pencerahan peradaban Eropa terutama dari segi filsafat hukum dan ilmu pengetahuan sehigga menjadi peradaban yang cukup maju hingga saat ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi pokok pemikiran filosof Al-Farabi dan Ibnu Sina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan data primer buku dan Temuan dalam penelitian ini adalah pada filsafat hukum Al-farabi menekankan pada jiwa sebagaimana percaya pada keberadaan jiwa rasional terpisah yang mampu mencapai kebahagiaan melalui kontemplasi terhadap realitas yang dapat dipahami. Sedangkan pemikiran Ibnu sina percaya bahwa akal budi dapat memungkinkan kemajuan melalui berbgai tingkat pemahaman dan pada akhirnya membawa kepada tuhan , serta kebenaran hakiki. Pada ilmu pengetahuan Al-Farabi meyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui akal aktif dan intuisi intelektual. Sedangkan Ibnu Sina terhadap ilmu pengetahuan sangat luas dan berpengaruh, dan ia percaya bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui indera dan akal. Implikasi Penelitian ini diharapkan kepada pembaca sebagai motivator dalam belajar ilmu-ilmu Allah, beribadah dan berlatih untuk membersihkan diri, menjaga dalam setiap perkataan, perbuatan, hati dan pikiran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Kata Kunci: Al-Farabi. Ibnu Sina. Filsafat. Pendidikan Islam. ABSTRACT This The development of Islamic philosophical thought in studying knowledge cannot actually be separated from the contribution of the thoughts of two figures in Islamic philosophy at that time, namely Al-Farabi and Ibn Sina. These two figures also inspired the enlightenment period of European civilization, especially in terms of legal philosophy and science, so that it became a civilization that is quite advanced to this day. This research was conducted to explore the main ideas of the philosophers Al-Farabi and Ibn Sina. The method used in this research is a literature study with primary data from books and journals. The findings in this research are that AlFarabi's legal philosophy emphasizes the soul as he believes in the existence of a separate rational soul that is capable of achieving happiness through contemplation of intelligible reality. Meanwhile. Ibn Sina's thinking believes that reason can enable progress through various levels of understanding and ultimately lead to God and ultimate truth. In science. Al-Farabi believes that knowledge can be obtained through active reason and intellectual intuition. Meanwhile. Ibn Sina's view of science was very broad and influential, and he believed that knowledge could be obtained through the senses and reason. It is hoped that the implications of this research will be for readers as a motivator in learning the knowledge of Allah, worshiping and practicing to cleanse themselves, guarding every word, deed, heart and mind to always get closer to Allah. Keywords: Al-Farabi. Ibnu Sina. Philosophy. Islamic Education. PENDAHULUAN Eksistensi dua filosof ternama dunia yakni Al-Farabi dan Ibnu Sina termasuk yang membawa tonggak-tonggak filsafat Islam yang kemudian diikuti oleh para filosof Dari karya-karya merekalah sehingga membuat dunia tercerahkan baik dalam Sulesana Volume 1 Nomor 2 Tahun 2024 bidang kedokteran maupun dalam bidang keilmuan yang lain. Kedua tokoh filosof tersebut menjadi ujung tombak bagi generasi Islam setelahnya, dari merekalah generasi Islam belajar banyak hal tentang filsafat Islam. Sekalipun masih banyak yang diperdebatkan oleh para ulama dan generasi Islam tentang isi pikiran-pikiran kedua filosof Tetapi pada dasarnya mereka telah memberikan kontribusi yang terbaik lewat keilmuan-keilmuannya pada Islam dan dunia luar pada umumnya. Misalnya konsep pemikiran filsafat emanasi Al-Farabi dan Ibnu Sina yang memilki kesamaan terkait dengan konsepsi emanasi dari akal ke 1 sampai akal ke 10 yang menekankan bahwa hanya Tuhan saja yang ada dengan sendirinya tanpa sebab dari luar dirinya, dan karena itu ia sebut Waajib al-Wujuud li zaatih, . ang mesti ada karena diri-Nya sendir. Dari-Nya memancar segenap alam ciptaan-Nya, baik yang bersifat rohani . maupun yang bersifat jasmani . Di luar Baghdad, di kota-kota propinsi otonom, khususnya di Aleppo dan Damaskus, kajian-kajian filsafat tetap giat dilakukan, sehingga melahirkan seorang filsuf besar, yakni Abu Nasr al-Farabi . Al-Farabi, tokoh yang mempunyai pengaruh besar pada pemikiran sesudahnya ini, baik dalam Islam sendiri maupun di Barat-Eropa, tidak hanya mengembangkan pemikiran-pemikiran metafisika Islam melainkan juga memberikan landasan bagi pengembangan keilmuan pada umumnya. Dalam bidang metafisika, antara lain, ia mengembangkan teori emanasi yang menggabungkan antara teori Neo-platonis dengan tauhid Islam untuk menjelaskan hubungan antara Tuhan Yang Maha Gaib dengan realitas yang empirik. Tuhan Yang Maha Esa dengan realitas yang plural dan seterusnya. mempertemukan antara konsep idealisme Plato . -348 SM) dengan empirisme Aristoteles . -322 SM), dan mempertemukan antara agama dan Grafik perkembangan pemikiran filsafat dalam Islam ternyata tidak senantiasa naik dan mulus melainkan mengalami pasang surut. pertama-tama disambut dengan baik karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan menghadapi pemikiranpemikiran AoanehAo dan AomenyimpangAo, tapi kemudian dicurigai karena ternyata tidak jarang justru digunakan untuk menyerang balik ajaran agama Islam sendiri yang dianggap telah baku, khususnya pada masa Ibnu Hanbal . -855 M). Setelah itu, filsafat berkembang pada masa al-Farabi . -950 M) dan Ibnu Sina . -1037 M), tapi kemudian jatuh lagi karena serangan alGhazali . 8-1111 M). bangkit lagi pada masa Ibnu Rusyd . -1198 M), tapi akhirnya tidak terdengar suaranya, karena filsafat berpindah jalur dan mazhab. Pasca Ibnu Rusyd, pemikiran filsafat berkembang dengan bersinergi pada kajian sufisme, terutama di tangan Sulesana Volume 11 Nomor 2 Tahun 2017 Khalifah Fatimiyah Suhrawardi . 3- 1191 M) dan Ibnu Arabi . 5-1240 M). Setelah itu, kajian filsafat masih terus berkembang di kalangan akademi mazhab Syiah, bahkan sampai sekarang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia lebih mandiri dan otonom. Mereka mengklaim bahwa dunia telah dieksplorasi secara menyeluruh, dan seharusnya tidak ada lagi rahasia yang belum terungkap, berkat kemampuan intelektual mereka. Manusia telah mengalami perubahan besar dari zaman mitologi ke era informasi dan digital. Orang-orang modern bahkan menyatakan bahwa "semakin kita percaya pada sains, semakin kecil kemungkinan kita tertipu oleh takhayulAy. Klaim semacam itu menunjukkan bahwa kepercayaan agama, yang dipandang lebih dekat dengan takhayul, tidak memiliki tempat lagi di zaman modern. Wahyu dan dogma agama ditinggalkan, digantikan oleh sains dan teknologi, yang akhirnya didasarkan pada alasan. Di dunia modern yang diliputi oleh sekularisme, kepercayaan agama tidak akan memiliki banyak ruang untuk diamati atau dilaksanakan sepenuhnya, orangorang lebih sibuk dengan teknologi manusia keyakinan agama untuk hidup mereka. Mereka Dengan kemajuan ilmu cukup untuk menjadi panduan mereka untuk mendirikan sebuah hidup yang baik dan bahagia. II. PEMBAHASAN Biografi Al-Farabi Dan Ibnu Sina Untuk mengetahui lebih dalam kedua tokoh filosof Al-Farabi dan Ibnu Sina maka akan dikaji sebagai berikut : Al-Farabi Nama lengkap al-Farabi adalah Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn larkhan ibn Uzalagh al-Farabi. Dilahirkan di kota Wasij, dengan dengan Farab di Transoxiana, pada 259 H/872 M Ae sekitar setahun sebelum al-Kindi wafat di kota Baghdad. Guru pertamanya di Baghdad adalah seorang Kristen. Yuhanna ibn Haylam. Di sana ia belajar logika . , nahwu, sharf, filsafat, musik, matematika, dan sains. Hal ini dapat diketahui dari karyanya, yang menegaskan bahwa ia paham bahasa Turki dan Persia. Bahkan, menurut cerita, ia mengetahui 70 bahasa. Penguasaannya terhadap ilmu-ilmu itu mengantarkannya kepada predikat Magister Secundus (Arab: al-MuAoallim al-Tsani /Guru Kedu. di mana Aristoteles merupakan Magister Primus (Arab: al-MuAoallim alAwwal/Guru Pertam. Sulesana Volume 1 Nomor 2 Tahun 2024 Menurut beberapa literatur, al-Farabi dalam usia 40 tahun pergi ke Baghdad, sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia di kala itu. Ia belajar kaidahkaidah bahasa Arab kepada Abu Bakar al-Saraj dan belajar logika serta filsafat kepada seorang Kristen. Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus. Kemudian, ia pindah ke Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil dan berguru kepada Yuhanna ibnu Jailan. Akan tetapi, tidak berapa lama ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam ilmu Filsafat. Al-Farabi benar-benar memahami filsafat Aristoteles, sebagai bukti atas pemahaman al-Farabi yang mendalam terhadap falsafah Aristoteles adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Ibn Sina pernah membaca buku metafisika, karangan Aristoteles sebanyak lebih kurang empat puluh kali. Al-Farabi meninggal dunia di Damaskus pada bulan Rajab 339 H/ Desember 950 M pada usia 80 tahun dan dimakamkan di luar gerbang kecil . l-bab al-saghi. kota bagian selatan. Di antara karya al-Farabi diantaranya Maqalah fi Aghrad al-Hakim fi Kulli Maqalah min al-Kitab al-Marsum bi al-Huruf. Buku ini merupakan verifikasi terhadap buku Aristoteles yang berjudul Tahqiq Ghard Aristatalis fi Kitab ma BaAoda al-TabiAoah. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat. Syarh Risalah Zainun al-Kabir al-Yunani. Risalah fi MasaAoil Mutafarriqah. Al-TaAoliqat. Al-JamAou baina RaAoyai al-Hakimain Aflatun wa Aristu. Risalah fima Yajibu MaAorifatuhu Qabla TaAoallum al-Falsafah. Risalah Tahsi alSaAoadah. Kitab AAo Ahl al-Madinah al-Fadilah. Kitab al-Siyasat al-Madaniyyah. Kitab alMusiqa al-Kabir. IhsaAo al-AoUlum. AoUyun al-MasaAoil. Al-Tanbih fi Sabil al-SaAoadah. Fusus al-Hikam. Maqalah fi MaAoani al-AoAql. Tajrid Risalah al-DaAoawa al-Qalbiyyah alMansubah li Aristu. Al-Nuqat fima Yashhu wama la Yasihhu min Ahkam al-Nujum. Risalah fi Jawab MasaAoil SuAoila AoAnha. Talkhis Nawamis Aflatun. Sementara karyanya yang secara khusus berbicara tentang logika . l-man. diantaranya Al-TawtiAoah fi al-Mantiq, dan Khamsah Fusul Tasytamilu Aoala Jamima Yadtarru ila MaAorifatihi min AdaAo al-SyuruAo fi SinaAoat al-Mantiq. Ibnu Sina Nama lengkapnya adalah Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Ibnu Sina di lahirkan pada bulan Safar 370 H atau Agustus-September 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil yang berada di wilayah Uzbekistan saat ini. Di dunia Barat ia dikenal dengan aviccennadan dijuluki sebagai pangeran para dokter. Ibnu Sina desa Afsyanah, kampung ibunya, dekat kota Kharmaitsan. Endrika Widdia Putri. AuKonsep Kebahagiaan Dalam Perspektif Al-Farabi,Ay Thaqafiyyat 19, no. 96Ae111, http://search. com/login. aspx?direct=true&db=sph&AN=119374333&site=ehostlive&scope=sitehttps://doi. org/10. 1016/j. 032http://dx. org/10. 1016/j. https://doi. org/10. 1016/j. Qosim Nursheha Dzulhadi. AuAl-Farabi Dan Filsafat Kenabian,Ay Kalimah 12, no. : 123Ae135. Sulesana Volume 11 Nomor 2 Tahun 2017 Khalifah Fatimiyah kabuaten Balh . ilayah Afganista. , masuk ke dalam Bukhara . ang sekarng masuk wilayah Rusi. Ayahnya berasal dari Bahl, suatu kota yang dikenal dengan sebgai Bakhtra Nama Persia di zaman mengandung mengandung Tengah. Kota AucemerlangAy sebagai pusat metropolitan politik, kota intlektual dan keagamaan, kehidupan agama dan intelektual. Pendidikan dan perjalanan Ibnu Sina, sama halnya dengan kehidupan orang lainnya. 3 Ibnu sina memiliki beberapa ilmiah yang terkenal, diantanya yaitu :4 Kitab Al-Qanun Fith Thib ( Canon of Medicin. Buku ini merupakan insiklopedia dalam bidang kedokteran dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kitab Al-Juzah Ibnu Sina Ath-Tibbiyah. Buku ini merupakan ringkasan dari kitab "Al-Qanun" sehingga dapat dijadikan buku harian dihafal dan dengan mudah dapat mengobati berbeda dan tidak perlu sakit, ketika kondisi Al-Qanun " Buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin An-Najat. Buku ini merupakan ringkasan buku As-Syifa, dan perna diterbitkan bersama-sama dengan buku Al-Qanun dalam ilmu kedokteran pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 M di Mesir. Al-Isyarat wat-Tanbiat. Buku ini adalah buku terakhir dan yang paling baik, dan pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M, dan sebaginya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Al-Hikmat al-Masyriqiyyah. Buku ini banyak dibicarakan orang, karena memuat bagian logika. Pemikiran Filosof Al-Farrabi dan Ibn Sina Terhadap Filsafat Pemikiran Filosof Al-Farrabi . Tuhan dan Sifat-Sifat-Nya Tuhan Yang Maha Esa itu, menurut Al-Farabi, maha sempurna, bersih dari segala macam kekurangan, dan suci dari sebab-sebab, seperti sebab-materi, sebab bentuk, sebab pelaku, dan sebab tujuan. Ia bukanlah materi dan karena itu pada hakikatnya Ia Zaini Dahlan Parlaungan. Haidar Putra Daulay. AuPemikiran Ibnu Sina Dalam Bidang Filsafat,Ay Jurnal Bilqolam Pendidikan Islam 2, no. : 79Ae93. Ibid. Sulesana Volume 1 Nomor 2 Tahun 2024 adalah akal aktual . l-Aoaql bi al-fiAo. Ia memikirkan . er-taAoaqqul terhada. diri-Nya, maka ia adalah akal, aktivitas memikir, dan yang dipikirkan sekaligus secara aktual . l-Aoaql wa al-Aoaqli wa al-maAoqul bi al-fiAo. Selanjutnya Al-Farabi menegaskan bahwa Tuhan, yang disebutnya juga Pencipta Maha Agung (Al-Bari Jalla Jalaalu. adalah pengatur sekalian alam, dan tidaklah tersembunyi dari-Nya sesuatu kendati sekali debu, dan tak satupun dari bagian alam ini luput dari perhatian. Penciptaan Alam Secara Emanasi Menurut al-Farabi, alam tercipta melalui pelimpahan atau emanasi. 33 Proses emanasi berlangsung dari akal pertama hingga akal ke sepuluh secara serentak dan Disinilah nampak sekali pengaruh Neoplatonisme terhadap pemikiran metafisikanya al-Farabi, dan dapat disimpulkan bahwa alam ini berasal dari zat yang maha tunggal, kekal dan suci melalui pelimpahan . Argumen al-Farabi dalam penciptaan alam ini diawali dengan adanya semua alam ini berasal dari wujud tunggal yang mesti ada . ajib al-wuj. yaitu Tuhan, kemudian melimpah menghasilkan . umkin al-wuj. Argumen lain yang dijadikan dasar oleh al- Farabi adalah keteraturan alam dan tata letaknya yang sangat teratur seperti anggota tubuh yang bekerja sesuai fungsinya. Hal ini menunjukkan alam ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dari wujud yang tunggal dan melimpah sedemimikian rupa. Emanasi semua wujud pada dasarnya berasal dari wujud yang satu dan menghasilkan wujud lain, terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis determinis yang melahirkan alam beraneka ragam. Menurutnya akal murni berfikir tetang dirinya yang menghasil wujud pertama . l-maujud al-awwa. yaitu Tuhan sebagai akal yang berdaya fikir tentang diri-Nya. Dari daya pemikiran Tuhan yang besar dan hebat itu timbul wujud kedua yang merupakan akal pertama yang juga punya subtansi Wujud kedua atau akal pertama berfikir tentang dirinya dan menghasilkan wujud berupa langit pertama, akal kedua berfikir tentang Tuhan melahirkan akal ketiga, akal ketiga berfikir tentang Tuhan menghasilkan akal ke empat dan seterusnya sampai akal kesepuluh, dari kesepuluh akal akal tersebut berfikir tentang dirinya menghasilkan wujud materi berupa Lagnit. Bintang. Saturnus. Yupitaer. Mars. Matahari. Venus. Mercury dan Rembulan. Abdul Majid. AuFilsafat Al-Farabi Dalam Praktek Pendidikan,Ay Manarul QurAoan: Jurnal Ilmiah Studi Islam 19, no. : 1Ae13. M Wiyono. AuPemikiran Filsafat Al-Farabi,Ay Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 18, no. 67Ae80, https://w. ar-raniry. id/index. php/substantia/article/view/3984. Sulesana Volume 11 Nomor 2 Tahun 2017 Khalifah Fatimiyah . Filsafat Jiwa Bagi Al-Farabi, jiwa manusia mempunyai daya-daya sebagai berikut : Daya Al-Muharrikat . , daya ini yang mendorong untuk makan, memelihara dan Daya Al-Mudrikat . engetahui, mencapa. , daya ini yang mendorong untuk merasa dan berimajinas Daya Al-Nathikat . , daya ini yang mendorong untuk berpikir secara teoritis dan praktis Tentang bahagia dan sengsaranya jiwa, al-farabi mengaitkan dengan filsafat negara Bagi jiwa yang hidup pada negara utama, yakni jiwa yang kenal dengan Allah dan melaksanakan perintah Allah, maka jiwa itu menurut Al-Farabi akan kembali ke alam nufus. lam kejiwaa. dan abadi dalam kebahagiaan. Jiwa yang hidup dalam negara fasiqah, yakni jiwa yang dikenal dengan Allah, tetapi ia tidak melaksanakan segala printah Allah, ia akan kembali kealam nufus dan abadi dalam kesengsaraan. Sementara itu jiwa, jiwa yang hidup pada negara jahiliah yakni jiwa yang dikenal sama sekali dengan Allah dan tidak pula pernah melakukan perintah Allah, ia lenyap bagaikan jiwa hewan. Filsafat Kenabian Dalam suasana penuh perdebatan tentang kenabian muncullah al-Farabi dan ia merasa bahwa dirinya harus mengambil bagian, apalagi ia hidup semasa dengan Ibnu arRawandi dan Abu Bakar ar-Razi. Sebagai hasil penggabungannya dengan filsafat yang merupakan kegiatan utama bagi filosof-filosof Islam, maka al-Farabi adalah merupakan orang pertama yang membahas tetnag kenabian secara lengkap, sehingga penambahan dari orang lain hampir tidak ada. Total kenabian al-Farabi yang merupakan bagian terpenting dalam filsafat, ditegakkan atas dasar-dasar psikologi dan metafisika, dan erat hubungannya dengan lapangan-lapangan akhlak. Pada waktu membicarakan negeri utama dari al-Farabi kita melihat bahwa manusia dapat berhubungan dengan akal-faal, meskipun terbatas hanya pada orang tertentu. Hubungan tersebut bisa ditempuh dengan dua jalan, yaitu : jalan fikiran dan jalan imajinasi . , atau dengan perkataan lain melalui renungan fikiran dan inspirasi . Sudah barang tentu tidak semua orang dapat mengadakan hubungan dengan akal faal. , melainkan hanya orang yang mempunyai jiwa suci yang dapat menembus dinding-dinding alam gaib dan dapat mencapai alam cahaya. Ilham Shaleh. AuFilsafat Jiwa Dalam Al-Quran,Ay Jurnal Adabiyah 14, no. : 32Ae43, http://journal. uin-alauddin. id/index. php/adabiyah/article/view/357. Sulesana Volume 1 Nomor 2 Tahun 2024 Dengan melalui renungan-renungan fikiran yang banyak, seorang hakim . dapat mengalahkan hubungan tersebut dan orang semacam inilah yang bisa diserahi oleh al-Farabi untuk mengurusi negeri utama yang dikonsepsikannya itu. Akan tetapi di samping melalui pemikiran hubungan dengan akal faal, bisa terjadi dengan jalan imajinasi, dan keadaan ini berlaku bagi nabinabi. Semua ilham dan wahyu yang disampaikan kepada kita merupakan salah satu bekas dan pengaruh imajinasi tersebut. Pemikiran Filosof Ibnu Sina . Falsafah Emanasi . l-Fay. Teori emanasi berasal dari Plotinus sang filosof yang berkontemplasi, pemikiran plotinus disebut AuYang SatuAy. Yang Satu itu adalah Yang tak Berhingga dan Absolut. Dengan lain perkatan AuYang Satu adalah Allah. Dari kesatuan yang tak berdiferensiasi itukeluarlah kebaikkan dari AuYang SatuAy melalui semacam emanasi atau radiasi. 23Filsafat Islam bermaksud untuk memurnikan tauhid. Emanasi ialah teori tentang keluarnya suatu Wujud Mumkin. lam makhlu. dari Zat yang Wajib al-Wujud (Zat yang mesti Tuha. Teori ini disebut juga Au teori Urut-urutan wujudAy. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi . l-Faid, pancara. Yang Maha Esa berpikir tentang diri-Nya yang Esa, dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diri-nya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang dirinya itu adalah akal pertama atau wujud pertama yang keluar dari Tuhan. Falsafah Jiwa . Berdasarkan pendapat Ibnu Sina, tidak semua jiwa menjadi potret bagi badan, sebab jiwa rasional terpisah dari badan dan wujudnya tidak selalu terpatri dalam materi Ibnu Sina mempelajari konsep jiwa dengan sangat teliti dimana meneliti dan mempelajari dari al-Quran dan Sunnah. 31 ia berpenapat bahwa jiwa itu kekal, akan tetapi ada setelah tubuh binasa, dan tidak akan mati karena kematian tubuh. Wujud jiwa tetap utuh ketika meninggalkan raga yang telah mati. Meskipun badan dan tubuh sudah mati Gunaldi Ahmad. AuPemikiran Pendidikan Islam Menurut Al-Farabi,Ay JIEBAR : Journal of Islamic Education: Basic and Applied Research 1, no. : 48Ae64. Kamaruddin Mustamin. AuFilsafat Emanasi Ibnu Sina,Ay Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah 16, no. : 75Ae90. Sulesana Volume 11 Nomor 2 Tahun 2017 Khalifah Fatimiyah dan hancur, jiwa tetap ada, jiwa kekal karena kehendak Tuhan yang kuasa. Meskipun jiwa bersifat kekal tapi Tuhan lah yang memiliki sifat baqo, dalam pandangan Ibnu Sina keabadian jiwa sebagai sesuatu yang mempunyai awal tetapi tidak memiliki akhir, ini bermakna jiwa hanya dikekalkaln oleh Allah tapi pada akhirnya tidak berujung. Falsafah Kenabian . l-Nubuwwa. Ibnu Syny juga mengakui bahwa kenabian itu terjadi akibat emanasi dari Akal Aktif, selain dari itu juga nabi memiliki daya suci yang disebut sebagai al-qudsy alqudsy . ntuisi suc. Daya tersebut hanya dimiliki oleh manusia yang disebut nabi. Tidak semua makhluk mampu memperoleh intuisi suci, karena intuisi suci hanya diperoleh manusia pilihan atas kehandak Tuhan. Islam mengakui bahwa di samping kebenaran hakiki yang datang dari Tuhan, masih ada kebenaran relatif yang dicapai melalui tahapan pemikiran atau akal budi manusia. Akal merupakan anugerah Tuhan kepada manusia yang menjadikan manusia lebih mulia atau juga sebaliknya dibanding makhluk lain. Sehingga sangat logis jika kemudian ia memperoleh pencapaian kebenaran relatif. Meskipun sifat kebenaran ini nisbi, namun sejauh tidak bertentangan dengan al-QurAoyn dan sunnah, maka kebenaran akal dapat dijadikan pegangan dalam meraih kemuliaan. Menurut Ibnu Syny, akal berfungsi untuk mempertimbangkan sesuatu dalam membuat definisi mengenai bentuk-bentuk inderawi yang telah diterangi Akal Aktif, sehingga bentukbentuk imajinatif menjadi sebuah konsep abstrak yang tercetak dalam fakultas rasional, baik dalam bentuk definitif maupun nalar korelasional, semuanya telah dipersiapkan dan terpancar dari Akal Aktif. Hal demikian menjadi akibat bagi nabi untuk berada pada posisi paling tinggi di antara seluruh manusia. Falsafah Wujud (Al-Wuju. Wajib al-wujud adalah sesuatu yang ada . l-mauju. yang jika diandaikan tidak ada, ia menjadi mustahil, dengan kata lain ia mesti adanya. Sedangkan yang dimaksud dengan mumkin al-wujud dalah yang tidak diandaikan, tidak ada atau ada, ia tidak menjadi mustahil, maksudnya ia boleh ada dan boleh tidak ada atau tidak ada dari sisi apapun . Konsep semata-mata Ibnu Sina Amir Reza Kusuma. AuKonsep Jiwa Menurut Ibnu Sina Dan Aristoteles,Ay TASAMUH: Jurnal Studi Islam 14, no. : 61Ae89. Radiyatun Adabiyah. AuKenabian Perspektif Ibnu Sina,Ay Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam 17, 1 . : 61Ae78. Sulesana Volume 1 Nomor 2 Tahun 2024 menjabarkanya dengan membagikan wajib al-wujud menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, wajib al-wujud bi zatihin, wujudnya ada karena zatnya semata, sehingga mustahil jika diandaikan tidak ada, karena adanya tidak butuh sebab yang lain di luar dirinya. Kedua, wajib al-wujud bi ghoirihi, wujudnya karena ada sesuatu yang lain di luar zatnya, umpamanya tempat adanya itu bukan karena dirinya, melainkan hasil penambahan dua dengan dua. Pemikiran Filosof Al-Farrabi dan Ibn Sina Terhadap Pendidikan Islam Pemikiran Al-Farabi Konsep ilmu pengetahuan al-Farabi dapat diklasifikasikan pada ranah Filsafat Pendidikan Islam. Filsafat Pendidikan Islam itu sendiri adalah ilmu yang mengkaji hakikat dan seluk beluk pendidikan yang bersumber dari al-QurAoan dan as-sunnah, merumuskan berbagai proses pembelajaran, merumuskan strategi pembelajaran, kurikulum, dan sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang digali dari ajaran Islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan Islam yang khusus maupun yang umum, yang temporal maupun yang eternal . Dalam Filsafat Pendidikan Islam ada tiga aliran Filsafat Pendidikan Islam. Ketika satu persatu aliran pendidikan Islam itu di telusuri akan ditemukan ide-ide pendidikan al-Farabi. Ada tiga aliran Filsafat Pendidikan Islam yakni: Aliran pendidikan konservatif . l-muhafid. Dalam aliran ini yang terlebih dahulu diajarkan adalah al-QurAoan dengan memahami tafsirnya serta sekalian ilmu yang berkaitan dengan al-QurAoan (Muhammad Jawari Ridha, 1980: . Al-Tusi menegaskan kembali pendapat Muhammad al-Jawad Ridha tentang aliran pendidikan Islam koservatif ini bahwa, ilmu alQurAoan merupakan induk segala ilmu, kemudian dilanjutkan belajar hadits, ulumul hadits, ushul fiqih, nahwu Aodan syaraf. Aliran Religius-Rasional . l-Diniy al-AoAqlan. Dalam aliran relegius-rasional ini pembahasan soal pendidikan cenderung bersikap rasional filosofis. Kecenderungan ini menjadi jalan masuk bagi pemerhati pendidikan yang ingin mengkaji strategi program pendidikannya. Kecenderungan rasional filosofis secara eksplisit terungkap dalam rumusan mereka tentang konsep ilmu dan konsep belajar jauh Herwansyah. AuPemikiran Filsafat Ibnu Sina (Filsafat Emanasi. Jiwa Dan Al-Wujud,Ay el-fikr 1, no. : 55Ae67. Sulesana Volume 11 Nomor 2 Tahun 2017 Khalifah Fatimiyah berbeda dengan rumusan aliran tradisionalis-tekstualis . l-muhafiz. Aliran Pragmatis Aliran ini memiliki pengertian Aliran pendidikan guna mencegah prilaku buruk dan meningkatkan moral. Dalam pemikiran filsafat pendidikan Islam salah satu tokoh yang menganut pemikiran ini adalah Ibnu Khaldun. Bagi Ibnu Khaldun pendidikan lebih berorientasi kepada aplikatif praktis. Dia mengklasifikasikan ilmu berdasarkan tujuan fungsionalnya, bukan berdasarkan nilai substansinya semata. Pemikiran Filosof Ibnu Sina Menurut Ibnu Sina ilmu terbagi menjadi dua, yaitu ilmu yang tak kekal dan ilmu yang kekal . Ilmu yang kekal dipandang dari perannya sebagai alat dapat disebut Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat dibagi menjadi ilmu yang praktis dan yang teoritis. Ilmu teoritis seperti ilmu kealaman, matematika, ilmu ketuhanan dan ilmu Kulli. Sedangkan ilmu yang praktis adalah ilmu akhlak, ilmu pengurusan rumah, ilmu pengurusan kota dan ilmu nabi . hariAoa. Ibnu Sina mengatakan bahwa akal itu wajib dikembangkan dan itulah sebenarnya tujuan akhir dari pendidikan. Akal merupakan salah satu instrument pokok dalam mengurai kekusutan fenomena yang belum ditemukan benang merahnya. Akal diperlukan dalam rangka membuka tabir pengetahuan. Tujuan pendidikan menurut Ibn Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya. Selanjutnya Ibnu Sina dalam Nata mengatakan bahwa tujuan pendidikan itu harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangan yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti dalam rangka menciptakan insan kamil. KESIMPULAN Al-Farabi dan Ibnu Sina adalah dua filsuf terkemuka yang berkontribusi terhdap perkembangan islam. Meskipun mereka memiliki beberapa kesaman dalam pemikiran mereka, mereka juga memiliki perbedaan yang jelas dalam karya dan ide mereka. Fokus karya-karyanya yaitu Al-Farrabi lebih banyak di pengaruhi oleh filsafat Yunani. Ahmad. AuPemikiran Pendidikan Islam Menurut Al-Farabi. Ay Aris Try Andreas Putra. AuPemikiran Filosofis Pendidikan Ibnu Sina Dan Implikasinya Pada Pendidikan Islam Kontemporer,Ay LITERASI (Jurnal Ilmu Pendidika. 6, no. : 191Ae201. Sulesana Volume 1 Nomor 2 Tahun 2024 khususnya gagasan plato, sedangkan karya ibnu sina lebih orisional dan independen. Tulisan-tulisan Al-farabi seringkali melibatkan sintesis pemikiran Yunani dan Islam, sedangkan karya-karya Ibnu Sina lebih Fokus pada filsafat islam dan kaitannya dengan cabang ilmu pengetahuan lainnya. Pemikiran Al-Farabi mencakup beberapa konsep filsafat yaitu Tuhan dan sifatsifatnya, penciptaan alam secara emanasi, falsafah jiwa, serta falsafah kenabian. Dari pemikiran tersebut Al-farabi menekankan pada jiwa sebagaimana percaya pada keberadaan jiwa rasional terpisah yang mampu mencapai kebahagiaan melalui kontemplasi terhadap realitas yang dapat dipahami. Konsep Tuhan Al-Farabi percaya pada konsep keberadaan yang niscaya . aajib al-wuju. yang memancar seluruh ciptaan, baik spiritual maupun material dari esensinya. Pemikiran Ibnu Sina mencakup beberapa konsep filsafat yaitu falsafah emanasi . l-fay. , falsafah jiwa (Al-Naf. ,falsafah kenabian (Al-nabawi. , dan falsafah wujud . Dari pemikiran Ibnu sina tersebut ia percaya bahwa akal budi dapat memungkinkan kemajuan melalui berbgai tingkat pemahaman dan pada akhirnya membawa kepada tuhan , serta kebenaran hakiki. Disisi lain konsep Tuhan Ibnu Sina lebih banyak dipengaruhi oleh Neoplatonisme, dimana Tuhan adalah sumber segala keberadaan dan penyebab utama segala sesuatu. Filsafat Pendidikan Islam ada tiga aliran Filsafat Pendidikan Islam. Ketika satu persatu aliran pendidikan Islam itu di telusuri akan ditemukan ide-ide pendidikan alFarabi. Ada tiga aliran Filsafat Pendidikan Islam yakni: Pertama: Konservatif. Kedua religius/rasional, ketiga aliran Pragmatis. Dari tiga model pemikiran filsafat pendidikan Islam di atas . liran konservatif, religius rasional dan pragmati. , model pemikiran pendididikan yang bercorak religius-rasional meupakan kekhasan dari al-Farabi. Kekhasan al-Farabi ini lebih ditopang dengan teori kebahagian yang ia populerkan. Menurut alFarabi kebahagiaan adalah pencapaian kesempurnaan akhir bagi manusia. Dan itulah tingkat mustafad, dimana ia siap menerima emanasi seluruh objek rasional dari Akal Aktif. Dengan demikian perilaku berfikir adalah perilaku yang dapat mewujudkan kebahagian manusia. Tujuan pendidikan menurut Ibn Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya. Selanjutnya Ibnu Sina dalam Nata mengatakan bahwa tujuan pendidikan itu harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki Sulesana Volume 11 Nomor 2 Tahun 2017 Khalifah Fatimiyah seseorang ke arah perkembangan yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti dalam rangka menciptakan insan kamil. Jika penulis gambarkan maka potensi manusia yang harus dipertajam dan dikembangkan dalam proses pendidikan diantaranya Akal : Daya pikir, ouputnya adalah pengetahuan/kognitif. Hati : Daya rasa, perasaan/kemampuan afektif, dan Gerak/Skil : Mengahasilkan keterampilan/kemampuan Terdapat beberapa kemajuan yang pernah dicapai oleh Dinasti Fatimiyah adalah kemajuan di bidang politik, kemajudan di bidang ilmu pengetahuan dan kesusastraan, kemajuan di bidang ekonomi, kemanjuan di bidang arsitektur dan kemajuan di bidang DAFTAR PUSTAKA