EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI SIFAT-SIFAT WAJIB BAGI ALLAH DENGAN METODE MAKE A MATCH NENENG AISYAH MTsN 1 Bekasi e-mail: nenengaisyah72@gmail. ABSTRAK Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini membahas tentang penggunaan metode pembelajaran make a match dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Aqidah Akhlak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 7. 7 yang rendah khususnya pada materi sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah mata pelajaran Aqidah Akhlak MTs Negeri 1 Bekasi tahun pelajaran 2021-2022. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi tersebut. Perolehan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi di MTs Negeri 1 Bekasi. Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar pada materi sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah mata pelajaran Aqidah Akhlak siswa kelas 7. 7 MTS Negeri 1 Bekasi TP. 2021-2022 yang sebelumnya dinilai rendah ternyata meningkat setelah digunakannya metode pembelajaran make a match. Terbukti dari perolehan nilai yang mencapai KKM yang asalnya 30% menjadi 90%. Kata Kunci: Aktivitas dan Hasil Belajar Aqidah Akhlak. Metode Make a Match. Materi Sifat Wajib bagi Allah ABSTRACT This Classroom Action Research (PTK) discusses the use of make a match learning methods in the teaching and learning process of Aqidah Akhlak subjects. This research is motivated by the low activity conditions and learning outcomes of grade 7. 7 students, especially in the material of mandatory, impossible and jaiz properties for Allah in the Aqidah Akhlak subject at MTs Negeri 1 Bekasi for the 2021-2022 academic year. For that we need a learning model that can increase the activity and student learning outcomes in the material. Data collection was carried out by means of interviews, observation and documentation at MTs Negeri 1 Bekasi. The results of this study indicate that the activities and learning outcomes in the material are mandatory, impossible and jaiz for Allah in the Aqidah Akhlak subject for class 7. 7 MTS Negeri 1 Bekasi TP. 2021-2022 which was previously considered low actually increased after the use of the make a match learning method. This is evident from the acquisition of scores that reached KKM, which was originally 30%, to 90%. Keywords: Activities and Learning Outcomes of Aqidah Akhlak. Make a Match Method. Compulsory Nature Material for Allah PENDAHULUAN Pendididkan agama Islam berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam. Masykur . Aqidah Akhlak sebagai salah satu mata pelajaran rumpun Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pembiasaan serta pengalaman peserta didik tentang aqidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Selain itu mata pelajaran Aqidah Akhlak juga bertujuan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 dari ajran dan nilai-nilai aqidah Islam. (Lampiran SKL-SK-KD Aqidah Akhlak. MTs/Kelas VII). Guru Aqidah Akhlak diharapkan mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik hingga menjadi hamba Allah yang mempunyai karakteristik beragama yang baik dan memiliki cita rasa religiusitas yang tinggi sehingga aktivitas beragamanya tidak hanya terjadi ketika sedang melakukan ritual agama . , tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang, pengelola pembelajaran, penilai hasil, pengarah dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Daryanto . mengemukakan pendapatnya bahwa belajar adalah proses yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan tingkah laku dari hasil pengalamannya sendiri melalui interaksi dengan Sedangkan Gagne dalam Ratna W. berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses di mana seseorang dalam suatu kelompok atau lingkungannya dapat merubah perilakunya sebagai hasil dari pengalaman. Witherington dalam M. Thobroni . mengemukakan pendapatnya bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada diri seseorang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, maupun pengetahuan. Belajar merupakan proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahannya dapat dilihat seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap, serta keterampilannya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan tingkah laku yang lebih baik berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan yang merupakan hasil dari pengalaman dilingkungan Dikarenakan proses pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs merupakan salah satu dasar bagi pembentukan akhlak dan karakter selanjutnya, maka guru sebagai pemegang kendali dalam KBM harus lebih aktif, kreatif dan inovatif, membawa siswanya ke arah yang lebih terampil yang muncul karena pengalaman. Aktivitas belajar ditandai adanya proses komunikasi antara guru dan siswa serta adanya perubahan tingkah laku berupa pengetahuan dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang semula tidak mengerti menjadi mengerti yang akhirnya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat tercapai. Dalam proses belajar mengajar yang dilakukan didalam kelas harus mengacu pada adanya perubahan tingkah laku terutama adanya peningkatan keterampilan siswa. Belajar juga dapat diartikan perubahan tingkah laku suatu penampilan dengan serangkaian kegiatan seperti mengamati, membaca, melakukan percobaan, mencontoh dan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan sehari-hari. Dengan kurangnya minat siswa terhadap materi aqidah akhlak, banyak siswa belum menunjukkan pemahaman konsep yang cukup dalam. Hal ini dapat diamati dari nilai ulangan harian dan ulangan umum yang rata Ae rata masih dibawah 73,00 atau dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sehingga dapat dikatakan siswa belum memahami terhadap materi atau kompetensi dasar yang disajikan akibatnya akan menjadi beban untuk pemahaman kompetensi dasar selanjutnya. Aspek memahami adalah salah satu aspek yang ada dalam penilaian kognitif. Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang Dalam taksonomi Bloom, yaitu suatu taksonomi yang dikembangkan untuk mengklasifikasikan tujuan instruksional, pemahaman berada pada tingkat kedua dalam hirarki tingkat kesukaran berpikir setelah aspek pengetahuan. Dalam hal ini pemahaman siswa terhadap materi sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah dinilai rendah. Hal tersebut tentunya mempengaruhi hasil belajar siswa. Hasil belajar adalah kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa setelah ia mengalami menurut Palguna, et al . Sudjana . berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Jihad dan Haris . mendefinisikan hasil belajar sebagai perubahan tingkah laku siswa secara Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran. Arifin . juga mengatakan bahwa hasil belajar yang optimal dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya, terampil dalam menggerjakan tugas, dan memiliki apresiasi yang baik terhadap Jadi, hasil belajar siswa adalah prestasi atau pencapaian siswa setelah mengalami proses belajar mengajar. Hasil belajar siswa ini dapat dideskripsikan dalam bentuk nilai. Hasil belajar siswa dikatakan baik apabila telah mencapai target nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimu. Di MTs Negeri 1 Bekasi, dalam dua tahun terakhir ini . ahun pelajaran 2021/2022 dan tahun pelajaran 2019/2. KKM untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak adalah 73. Berdasarkan data nilai yang diperoleh siswa tahun sebelumnya sebagian besar siswa mendapatkan nilai di bawah KKM pada materi sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah. Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan berfokus pada penggunaan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang dalam penelitian ini adalah siswa kelas 7. Menurut Lorna Current (Huda, 2011: . model pembelajaran make a match merupakan model pembelajaran mencari pasangan yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan model ini di mulai dari teknik yaitu setiap murid mendapat sebuah kartu, lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Setelah waktu habis maka siswa akan mempresentasikan pasangan kartunya di depan kelas bersama dengan teman Kelompok yang paling banyak mendapatkan kartu berpasangan dinyatakan sebagai kelompok terbaik. Suasana pembelajaran make a match akan riuh tetapi sangat asyik dan menyenangkan. Kemudian berdasarkan penelitian studi literatur yang dilakukan Sari & Harni . disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran make a match memberikan dampak positif bagi siswa. Hal tersebut dapat dilihat pada peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, penerapan model pembelajaran make a match juga membuat siswa menjadi lebih aktif serta mampu meningkatkan pembelajaran siswa baik fisik maupun psikis. Untuk menggunakan metode pembelajaran make a match ini diperlukan langkahlangkah sebagai berikut: Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topic yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Pada mata pelajaran Aqidah Akhlak misalnya pemegang kartu yang bertuliskan sifat wajib Allah berpasangan dengan arti sifat wajib atau sifat mustahil-Nya. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya . idak dapat menemukan kartu soal atau mkartu jawaban ) akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati bersama. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Pelaksanaan metode make a match ini dapat dilakukan juga dengan berbagai cara dengan tidak melepaskan prinsip kerja dari metode ini. Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Dengan memakai model pembelajaran make a match ini diharapkan guru mampu meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam materi sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah pada mata pelajaran Aqidah akhlak kelas 7. 7 MTs Negeri 1 Bekasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini berjudul AuMeningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Materi Sifat-sifat Wajib bagi Allah dengan Metode Make a MatchAy. Lokasi penelitian di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bekasi yang terletak di Jl. Letjen R. Soeprapto no. 19 Bekasi Jawa Barat. Objek penelitian ini adalah siswa kelas 7. 7 MTs Negeri 1 Bekasi semester I TP. 2021-2022 berjumlah 32 orang terdiri dari 12 siswa dan 20 siswi. Kelas 7. 7 dipilih sebagai objek penelitian berdasarkan faktor perbedaan kemampuan belajar antar siswa, dan kondisi lingkungan lokasi Lama penelitian kurang lebih 6 bulan dimulai dari bulan Juni sampai Nopember 2021 dari mulai persiapan penelitian sampai dengan pelaporan. Sedangkan waktu untuk penelitian di kelasnya sendiri pada 17 September 2021 hingga 15 Oktober 2021 sesuai dengan jadwal KBM di kelas tersebut. Metode dalam penelitian menggunakan Tindakan kelas (PTK) yang menurut Ari Kunto Au. 7:16-. Ay secara garis besar terdapat empat tahapan yang dilewati, yaitu: Tahap 1: Menyusun Rancangan Tindakan (Plannin. Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa kapan dan dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Actin. Tahap tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan yaitu mengenakan tindakan di kelas. Tahap 3 : Pengamatan . yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan dilakukan pada waktu Kegiatan Proses belajar mengajar berlansung. Tahap 4 : Refleksi (Reflectin. Dalam kegiatan refleksi ini peneliti mendiskusikan halhal yang terjadi dalam proses belajar mengajar yang sudah dilakukan sebagai masukan untuk waktu selanjutnya. Dalam penelitian tindakan ini peneliti menggunakan beberapa prosedur pengumpulan data agar memperoleh data yang objektif. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain: Observasi. , diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Zuriah, 2. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. Wawancara . , merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai. ( Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia beba. Dokumentasi yang dijelaskan Zuriah . sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, atau hukum -hukum lain yang berhubungan dengan masalah HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua tatap muka . Untuk setiap pertemuan terdiri dari perencanaan,kegiatan inti . ,observasi dan refleksi. Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Pertemuan 1 . iklus I). Dilaksanakan hari Jumat tanggal tanggal 17 September 2021 pk. 00 Ae 08. 20 WIB, pokok bahasan Sifat-sifat Wajib bagi Allah Pertemuan ke- 2 . iklus I) Dilaksanakan hari JumAoat tanggal 24 September 2021 pk. 00 Ae 08. WIB dengan pokok bahasan sifat-sifat mustahil bagi Allah Pertemuan ke- 3 ( siklus II ) Dilaksanakan hari Jumat tanggal 8 Oktober 2021 pk 08. 00 Ae 08. 20 WIB dengan pokok bahasan sifat-sifat Allah yang nafsiyah salbiyah, maani dan maknawiyah. Pertemuan ke- 4 ( siklus II ) Dilaksanakan hari Jumat tanggal 15 Oktober 2021 pk. 00 Ae 08. 20 WIB dengan pokok bahasan sifat jaiz Allah dan contoh fenomena kehidupan yang muncul sebagai bukti dari sifat Allah. Hasil yang didapatkan setelah melakukan pengambilan data di kelas 7. 7 MTs Negeri 1 Bekasi pada pokok bahasan sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah berupa pengamatan baik terhadap guru maupun siswa selama 4 kali pertemuan yang dilakukan oleh observer selanjutnya direkapitulasi dalam tabel seperti berikut ini: Observasi terhadap Aktivitas Siswa Tabel 1. Total skor hasil rekapitulasi aktivitas siswa No. Aspek Penilaian Pertemuan ke-/ % jumlah siswa Kesiapan siswa untuk menerima materi pelajaran Antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan diskusi kelompok Aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi kelompok Aktivitas siswa dalam memecahkan masalah Aktivitas siswa dalam mengerjakan soal latihan Partisipasi siswa dalam menutup kegiatan pembelajaran Rata Ae rata keseluruhan aspek Gambar 2. Total skor hasil rekapitulasi aktivitas siswa Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Aspek kesiapan siswa untuk menerima materi pembelajaran terdiri dari 3 indikator yaitu: masuk kelas tepat waktu, menyiapkan perlengkapan belajar dan tidak melakukan pekerjaan lain yang akan mengganggu proses belajar. Hasil pada pertemuan pertama mendapat rata-rata siswa sebanyak 86%, pertemuan kedua mendapat 90%, pertemuan ketiga mendapat 94% dan pertemuan keempat mendapat 100%. Adapun aspek antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan diskusi kelompok terdiri dari 3 indikator yaitu: menyimak seluruh informasi yang disampaikan oleh guru, tidak mengobrol dengan teman dalam kelompok kecuali membahas bahan pelajaran dan memberikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Hasil penelitian pada pertemuan pertama mendapat rata-rata siswa sebanyak 79%, pertemuan kedua mendapat 81%, pertemuan ketiga mendapat 84% dan pertemuan keempat mendapat 100%. Pada aspek aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi kelompok, terdiri dari 3 indikator yaitu: mengajukan pendapat pada saat diskusi kelompok, melaksanakan diskusi kelompok sampai batas waktu yang ditentukan, memperlihatkan hasil diskusi kelompok pada guru. Hasilnya adalah pada pertemuan pertama mendapat rata-rata siswa sebanyak 72%, pertemuan kedua mendapat 74%, pertemuan ketiga mendapat 78% dan pertemuan keempat mendapat 80%. Pada aspek aktivitas siswa dalam memecahkan masalah yang terdiri dari 3 indikator yaitu: mengerjakan LKS yang diberikan secara diskusi, memastikan semua anggota kelompok sudah menguasai materi dalam LKS, dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami pada masalah di LKS, hasil pada pertemuan pertama mendapat rata-rata siswa sebanyak 83%, pertemuan kedua mendapat 84%, pertemuan ketiga mendapat 90% dan pertemuan keempat mendapat 91%. Kemudian aspek aktivitas siswa dalam mengerjakan soal latihan terdiri dari 3 indikator yaitu: mengerjakan soal latihan yang diberikan, mengacungkan tangan untuk maju menjawab soal latihan di papan tulis dan memberi tanggapan atas jawaban dari soal-soal yang telah dikerjakan oleh temannya Hasil pada pertemuan pertama 83%, pertemuan kedua 88%,pertemuan ketiga 92% dan pertemuan keempat mendapat rata-rata siswa sebanyak Sedangkan pada aspek partisipasi siswa dalam menutup kegiatan pembelajaran yang terdiri dari 3 indikator yaitu: membuat kesimpulan materi yang telah diberikan, memperbaiki atau menambah kesimpulan temannya jika kesimpulan temannya masih kurang lengkap dan mencatat kesimpulan atau rangkuman materi yang diberikan, hasil pada pertemuan pertama mendapat rata-rata siswa sebanyak 92%, pertemuan kedua mendapat 94%, pertemuan ketiga mendapat 96% dan pertemuan keempat mendapat 100%. Dari penelitian diperoleh hasil rekapitulasi skor aktivitas siswa, menunjukkan kenaikan setiap pertemuan yang sebanding dengan hasil observasi terhadap guru yang juga mengalami kenaikan. Artinya semakin tinggi aktivitas guru, maka akan semakin tinggi pula aktivitas siswa. Observasi terhadap Hasil Belajar Siswa Data hasil belajar diperoleh dari nilai post tes yang dilaksanakan setiap pertemuan pada kegiatan pembelajaran menggunakan metode make a match, nilai ketuntasan minimal untuk mata pelajaran Aqidah akhlak kelas 7. Berikut adalah hasil tes dari keempat Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Tabel 2. Tabel Distribusi Frekuensi nilai Tes Aqidah Akhlak kelas 7. Pertemuan Ke-/ Jumlah Siswa No No Jml Jml Jml Jml < 73 74 - 80 81 Ae 88 Total 100% 32 100% 32 100% 32 < 73 74Ae 80 81 Ae 88 PERTEMUAN KE 1 PERTEMUAN KE 2 PERTEMUAN KE 3 PERTEMUAN KE 4 Gambar 2. Hasil belajar yang dicapai siswa sesuai rentang nilainya Nilai tes akhir siswa dari 4 kali pertemuan ditabulasi menjadi 3 rentang nilai dengan memperhatikan nilai ketuntasan minimal Aqidah Akhlak yaitu 73. Dari jumlah seluruhnya 32 siswa , yang memiliki nilai kurang dari 73 atau di bawah KKM pada pertemuan pertama yaitu 23 orang . %),pada pertemuan kedua 10 siswa . %), pada pertemuan ketiga 2 siswa 6%) dan pertemuan keempat 1 siswa . %). Nilai tes akhir siswa yang memiliki nilai dari 74 sampai 80 pada pertemuan pertama yaitu 9 siswa . %), pada pertemuan kedua 21 siswa . %), pada pertemuan ketiga 22 siswa . %) dan pertemuan keempat 23 siswa . %). Nilai tes akhir siswa yang memiliki nilai dari 81 sampai 88 pada pertemuan pertama yaitu 0 siswa . %), pada pertemuan kedua 1 siswa . %), pada pertemuan ketiga 8 siswa . %) dan pertemuan keempat 8 siswa . %). Hal-hal di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa semakin meningkat sehubungan meningkatnya aktifitas guru dan aktifitas siswa dengan penggunaan make a match pada aktifitas keduanya. Sejalan dengan pernyataan tersebut, beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa model kooperatif make a match efektif digunakan pada materi gas ideal di SMA Negeri 2 Semarang (Astika, 2. Selanjutnya, model pembelajaran make a match juga membantu guru dalam menciptakan suasana proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (Wijanarko, 2. , demikian pula dengan penelitian (Prihatiningsih & Setyanigtyas, 2. yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model Picture and Picture dan Make a Match memiliki kemampuan yang seimbang sehingga siswa tidak mudah bosan dalam proses Model make a match ini juga digunakan sebagai usaha untuk menjadikan mata pelajaran Aqidah Akhlak menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas V MIS Hidayatullah Martapura dengan materi Asmaul Husna. (Mursyidawati, 2. Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Refleksi Setelah melakukan diskusi dengan observer berdasarkan pengamatan selama penerapan metode pembelajaran make a match sebanyak 4 kali pertemuan, maka diperoleh beberapa temuan berupa kekurangan dan kelebihan dari penerapan model ini. Refleksi Pertemuan 1. iklus I) Berdasarkan hasil pengamatan selama berlangsungnya tindakan, pada pertemuan pertama ditemukan beberapa hal berupa kelebihan dan kekurangan yang terjadi baik pada penampilan guru maupaun aktivitas siswa antara lain: Dalam mengikuti pembelajaran masih ada beberapa siswa melakukan aktivitas lain yang mengganggu proses belajar misalnya: mengobrol, saling berbisik, meminjam alat tulis temannya, menimpali pernyataan siswa secara berlebihan dan beberapa siswa kurang memiliki antusiasme dalam menanggapi apa yang disampaikan oleh guru. Hal ini disebabkan karena sebagian dari mereka kurang memperhatikan yang disampaikan guru, dan ada juga yang tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh guru. Dalam kegiatan kelompok, banyak siswa yang belum berani memasangkan kartu yang dipunyai dengan pasangan kartunya, mereka masih mengandalkan temannya yang dianggap lebih pandai. Karena belum hafal, maka banyak siswa yang yang asal-asalan dalam memasangkan Padahal senada dengan pendapat Shoimin . bahwa make a match ialah model pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa untuk bergerak aktif menemukan pasangan kartu yang sesuai dengan pertanyaan atau jawaban dalam kartu Saat mengerjakan soal latihan, beberapa siswa tidak mengerjakan dengan baik dengan alasan belum paham maksud soalnya. juga belum berani memberi tanggapan atas jawaban dari soal-soal yang telah dikerjakan oleh temannya. Pada akhir kegiatan pembelajaran, siswa belum berani menyatakan pendapatnya untuk membuat kesimpulan, mereka tampak ragu untuk memperbaiki atau menambah kesimpulan temannya jika kesimpulan temannya masih kurang lengkap. Refleksi Pertemuan 2 . iklus I) Berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan selama berlangsungnya tindakan kelemahan-kelemahan penanggulangannya pada siklus berikutnya, yaitu penggunaan metode pembelajaran make a match harus disertai dengan persiapan yang memadai, seperti pengadaan kartukartu soal dan jawaban contoh gambar, bagan dan foto. serta pengelompokkan siswa. Hal-hal tersebut jika tidak disiapkan dengan baik akan banyak menyita waktu belajar Refleksi Pertemuan 3 . iklus II) Berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan selama berlangsungnya tindakan ditemukan kelemahan-kelemahan yang perlu direncanakan kembali pada siklus berikutnya, yaitu : pada kegiatan belajar dengan make a match guru harus bijak dalam mengatur kelompok supaya kemampuannya relatif merata/seimbang yang akan mendukung dalam penyelesaian tugas individu maupun kelompok. Refleksi Pertemuan 4 . iklus II) Berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan selama berlangsungnya tindakan ditemukan kelemahan-kelemahan yang perlu direncanakan untuk diperbaiki kembali pada siklus berikutnya, yaitu : guru harus mampu membangkitkan minat dan aktivitas siswa dengan cara yang tidak membosankan. Metode pembelajaran make a match ini dapat dilaksanakan dengan berbagai cara karena menggunakan model dan metode yang sama dengan cara yang sama pula dan terus menerus dapat menimbulkan kebosanan. Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 KESIMPULAN Dari data yang sudah dijabarkan diatas berupa penerapan metode pembelajaran make a match dan diskusi dengan observer maka dapat dianalisis antara lain : Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas, guru menerapkan metode pembelajaran make a match. Metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran kooperatif make a match mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Kenaikan hasil belajar ini digambarkan pada diagram 3. 2 di Pada awal pembelajaran dalam siklus 1 perolehan nilai siswa < 73 . ilai KKM) mencapai lebih dari 70%. Tetapi setelah dilakukan pembelajaran dengan model make a match maka perolehan nilai mengalami kenaikan, nilai di bawah KKM semakin sedikit sedangkan nilai di atas KKM semakin banyak . ebih dari 72%) bahkan ada yang mencapai nilai 81-88 . %) DAFTAR PUSTAKA