Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi Numerasi dan Hasil Belajar Sejarah Kelas XII IPA 1 Semester Ganjil SMA Negeri 6 Metro Joko Purwanto SMA Negeri 6 Metro jokopurwanto@gmail. Abstract: The study aims to dscribe the method blended learning to litaration numeration and value students XiPA 1 SMAN 6 Metro. Based on the analysis that has been reduction, display, and verification of data. Data colletion tes and non tes. Results and discussion lieration numeration and the value history XII IPA 1 SMAN 6 Metro: Prosessing ability pracyclus 72,6%, siclus I to 92%, cyclus II to 111,6%, and siclus i to 114,4% significant. Learning achievement pracyclus not yet, cyclus I 47,22%, cyclus II 88,88%, and cyclus i 100%. The completness the method blended learning to increase literation numeration and value history Keywords: blended learning, literation numeration PENDAHULUAN Pembelajaran sejarah yang seirama dengan penjelasan masa lalu kehidupan manusia yang dibatasi oleh ruang dan waktu akan menjadi pembelajaran yang berharga dimasa kini dan masa akan datang nantinya. Tetapi bagaimanapun juga berpikir sejarah tersebut akan membentuk diri peserta didik lebih mencintai sejarah Seharusnya pembelajaran sejarah dengan mengoptimalkan sumber yang ada di sekolah baik lingkungan sekolah, media internet, surat kabar, maupun teman sebaya. Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran sejarah diperoleh data sebagai berikut: jumlah peserta didik kelas XII IPA 1 sebanyak 36 orang terdiri atas 15 laki-laki dan 21 orang perempuan. Berkaitan hal tersebut pembelajaran literasi dan numerasi menjadi menyenangkan karena dapat memanfaatkan sumber belajar, dan menjadikan tempat suasana belajar menjadi riang, dan menyenangkan. Winataputra . mengatakan bahwa proses pembelajaran saat ini tidak lebih dari ritual pedagogis yang berisi diskursus yang tidak menarik, dan tidak memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan seluruh potensi sehingga menjadi pebelajar sepanjang hayat. Lebih jauh. Winataputra . 2:6. mengatakan belajar melalui pengalaman . earning by doin. dalam bentuk eksplorasi dan manipulasi akan menjadikan sesuatu yang dipelajari diingat untuk Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . waktu yang lama . ong-term memor. Sedangkan Dimyati . memberikan pendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks,setelah belajar orang akan memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai . stimulasi yang berasal dari lingkungan, . proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mewujudkan budaya literasi dan numerasi perlu diupayakan langkah-langkah antara lain: sekolah menyediakan sumber belajar, sumber bacaan di semua sudut yang mudah dijangkau oleh peserta didik,tersedianyan layanan hotspot area sebagai sumber belajar. Pembelajaran dengan blended learning yang dimaksud adalah menerapkan metode pembelajaran sejarah baik daring,luring maupun memadukan antar keduaanya, dan atau bermacam inonavi mberikan bimbingan, bantuan tahap demi tahap kemudian dikurangi secara bertahap setelah peserta didik mulai memahami topik pembelajaran yang diberikan. Selanjutnya, model blended learning menempatkan sistem penyampaian online sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran, artinya baik proses pembelajaran tatap muka maupun online merupakan satu kesatuan yang utuh. Blended Learning dianggap sebagai solusi pembelajaran 4. yang memanfaatkan TIK untuk meningkatkan produktivitas . fektivitas dan efisiens. dengan tetap menjaga kualitas (Idawati et al, 2. Oleh karena itu, diperlukan suatu desain pembelajaran yang tepat. Hal itu karena blended learning merupakan perpaduan antara tatap muka di kelas dan online, bagaimana kita sebagai pendidik membuat topik yang relevan yang cocok untuk tatap muka di kelas dan online. Jika ada keterbatasan di kelas, bisa ditambah dalam pembelajaran online, dimana siswa memiliki kewajiban yang sama dengan tatap muka di kelas. Menjadi pendidik di era digital menghadapi generasi milenial ini ditantang untuk membangun komunikasi yang efektif, tidak terlalu lama berbicara di kelas. satu arah. Maka perlu mempersiapkan presentasi yang fun, design yang menarik dan bahkan tampilan gaya busana tidak boleh membosankan, formal tapi casual agar lebih fresh juga menjadi tantangan. Selain praktis dan membangun komunikasi yang efektif, penting juga untuk menggunakan teknologi mulai dari hal-hal sederhana seperti menggunakan daftar hadir digital otomatis, berbagi materi menggunakan platform berbasis teknologi komputasi awan sehingga efektif untuk mengajar dan memudahkan siswa berkomunikasi dengan pendidik. Era informasi identik dengan era literasi yang menggambarkan kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, bahkan beraktualisasi tidak cukup hanya dinyatakan secara lisan, namun juga secara tertulis. Literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang . enyimak, berbicara, membaca, dan menuli. untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Literasi secara sempit, yaitu literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis. National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai "Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Literasi sangat penting bagi Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . siswa karena keterampilan literasi akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar mereka dan kehidupannya (Indani, 2. Penerapan model pembelajaran Blended Learning dalam pembelajaran sejarah di kelas XII IPA 1 merupakan praktik yang didasarkan pada konsep Driscoll . mengatakan Belnded Learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan. Menilik dari teori kajian ini menjelaskan bahwa model pembelajaran Blended Learning . ata pelajaran sejarah Indonesi. di sekolah menunjukkan hasil yang positif terhadap kualitas pembelajaran khususnya sejarah. Berkaitan dengan hal tersebut implementasi pembelajaran sejarah dengen metode Blended Learning pada peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro. Penulis telah mempraktikkannya dengan cara memanfaatkan sumber dari web untuk dibuat menjadi media pembelajaran sejarah. Sumber yang telah diperoleh tersebut dibuat menjadi papan display sejarah. Menurut M. Prawiro . , arti literasi numerasi adalah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Kemudian, sesuai yang tersirat dalam Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tujuan lterasi di sekolah antara lain untuk: . Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah, . Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, . Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, . Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca. Lebih lanjut. Bhattacharya . mengatakan bahwa produk dari aktivitas literasi berupa tulisan, warisan intelektual yang tidak ditemukan di zaman Tulisan dalam bentuk rekaman sejarah yang diwariskan. Literasi telah digambarkan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Seorang yang melek huruf mampu memahami segala bentuk komunikasi. Dampak utama yang dimiliki literasi adalah pada pikiran individu. Kemampuan berpikir kritis dan menentukan sangat ditingkatkan. Literasi melibatkan berbagai dasar bahasa yang kompleks seperti fonologi . elibatkan kemampuan untuk mendengar dan menafsirkan suar. , makna kata, tata bahasa dan kefasihan dalam setidaknya satu bahasa komunikasi. Keterampilan ini menentukan tingkat literasi yang dicapai oleh seorang individu. Literasi dan bahasa sebagian besar terkait. Seseorang mencapai literasi hanya setelah dia menjadi percaya diri dan memperoleh kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa tertentu. Bahasa adalah media komunikasi yang umum. Ada berbagai bahasa di dunia ini seperti Mandarin. Inggris. Hindi. Bengali. Marathi. Urdu. Arab. Spanyol. Prancis. Portugis. Jerman. Rusia. Persia. Tamil. Indonesia. Italia, dan lain-lain. Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Sebuah istilah yang membantu untuk mencapai literasi adalah "pendidikan". Ini adalah studi tentang bahasa tertentu atau seperangkat bahasa yang membantu seseorang untuk memahami keterampilan dasar suatu bahasa (Wicaksono, dkk. Pendidikan dimulai pada tahap awal dan biasanya dilakukan di sekolah atau perguruan tinggi. Seorang anak memulai pendidikan dasarnya antara usia 3 dan 5 Setelah itu ia menghadiri sekolah dasar di mana pendidikan dilanjutkan satu langkah lebih jauh. Pendidikan dasar diikuti oleh sekolah menengah dan sekolah menengah atas dan kemudian orang tersebut memasuki perguruan tinggi atau Menurut pernyataan Wandasari . Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Numerasi Sekolah merupakan usaha untuk memacu partisipasi seluruh warga sekolah . eserta didik, pendidik,tenaga kependidikan,kepala sekolah, ,pengawas, komite sekolah, orangtua/ wali murid,kalangan akademisi, penerbit buku serta pemangku kebijakan semua bertujuan untuk memacu minat baca. Gerakan ini semata-mata untuk mencerdaskan kehidupan bangsa menuju Indonesia Tumbuh. Indonesia Maju,dan Hebat. Menilik dari penjelasan di atas. Sutrisno . mengatakan bahwa gerakan literasi numerasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan tujuan, yaitu: Menumbuhkan budaya literasi numerasi sekolah Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literal Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak yang mampu mengekika pengetahuan Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengane menghadirkan beragam bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca. Berkaitan dengan hal tersebut menurut Atmazaki, dkk . 7: 6-. pada buku panduan gerakan literasi numerasi nasional yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memaparkan dimensi literasi itu sendiri menjadi 6 hal sebagai berikut: . Literasi Baca dan Tulis Literasi baca dan tulis,. Literasi Numerasi Literasi numerasi, . Literasi Sains Literasi sains, . Literasi Digital Literasi digital, . Literasi Finansial Literasi financial, dan . Literasi Budaya dan Kewargaan Literasi budaya dan kewargaan. Sehubungan itu. Kurniawan . 8: . menyatakan sebagai berikut, awalnya literasi numerasi diartikan sebagai kemelekaksaraan yang selanjutkan berkembang menjadi kemelekanwacanaan atau kecakapan dalam membaca dan menulis. Dari pendapat tersebut, budaya literasi numerasi mengandung makna melek aksara atau membudayakan membaca yang mengacu pada belajar sepanjang hayat yaitu kapan ,dimana, dan oleh siapa saja. Wiedarti . 6: . mengatakan komponen literasi numerasi terdiri dari: . Literasi Dasar, yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung berkaitan dengan menganalaisis. Literasi Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Perpustakaan, yaitu memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan non fiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodical, memahami katalog. Literasi Media, kemampuan untuk mengetahui bentuk media yang berbeda seperti media cetak, media elektronik dan media digital. Literasi Teknologi, kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi . ardware dan softwar. serta etika dan etiket memanfaatkan teknologi. Literasi Visual, pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi serta mengembangan kemampuan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual. Kajian di atas mengisyaratkan kita bahwa budaya literasi numerasi sebagai proses membangun informasi melalui bacaan baik yang berasal dari sumber teks/buku maupun dari sumber lain. Budaya literasi dan munerasi sangat perlu digalakan agar peserta didik dan seluruh warga sekolah secara sinergi Berdasarkan permasalahan tersebut, dapat dirumuskan masalah mengenai sejauh mana pelaksanaan metode Blended Learning dalam pembelajaran sejarah dan pelaksanaan budaya literasi dan numerasi pada pembelajaran sejarah bagi peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Matro tahun pelajaran 2019/2020. Untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian digunakan teori yang mendukung berkaitan dengan literasi numerasi dengan blended learning. METODE Penelitian dilakukan di SMA Negeri 6 Metro, kelas XII IPA 1 dengan jumlah peserta didik 32 orang tahun pelajaran 2019/2020 dengan objek penelitian peningkatan budaya literasi numerasi dan hasil belajar sejarah dengan metode Blended Learning. Sumber data peneltian diperoleh dari: kehadiran, nilai ulangan harian, hasil lembar kerja peserta didik, responden sebagai subyek peneltian dan kolaborator sebagai mitra yang dijadikan sebagai sumber data di lapangan selama kegiatan penelitian berlangsung. Teknik dan alat pengumpulan data dengaan teknik tes dan non tes. Tes digunakan untuk melihat keberhasilan pembelajaran sejarah, dan non tes menggunakan observasi dan domkumentasi. Menilik dari pendapat ini analisis data yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu . reduksi data . penyajian data dan . penarikan kesimpulan . erifikasi dat. Pelaksanaan penelitian tindakan dilaksanakan di SMA Negeri 6 Metro pada kelas XII IPA 1 semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 Pada kegiatan penelitian penulis mengamati aktivitas dengan lembar observasi pada setiap pertemuan yaitu menggunakan 3 siklus. Proses pembelajaran sejarah dilakukan dengan siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi dengan waktu yang digunakan 2 kali pertemuan . x45 meni. setiap siklus. Adapun prosedur penelitian tindakan menurut Arikunto . terdiri atas 4 tahapan, . Tahap perencanaan tindakan . Tahap pelaksanaan tindakan . Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Tahap pengamatan . Refleksi . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas dilakukan pada kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro. Berdasasarkan hasil penelitian diperoleh data-data sebagai berikut. Siklus I Penerapan metode Blended Learning dalam meningkatkan budaya literasi numerasi peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro sebagai berikut: . indikator kebutuhan terhadap bacaan pada prasiklus mendapat skor 50, pada siklus I menjadi 97, terjadi peningkatan sebesar 27%, . upaya mencari untuk dibaca pada prasiklus mendapat skor 80, pada siklus I menjadi 95, meningkat sebesar 15%, . rasa senang terhadap bacaan prasiklus mendapat skor 89, pada siklus I menjadi 98, meningkat sebesar 9%, . keinginan untuk selalu membaca prasiklus mendapat skor 72 pada siklus I menjadi 95, meningkat sebesar 23%, dan . tindak lanjut dari yang dibaca prasiklus mendapat skor 79, pada silus I menjadi 94, terjadi peningkatan sebesar 15%. Jumlah peningkatan rata-rata keseluruhan 89%. Peningkatan hasil belajar rata-rata sebesar 18, dari 53 pada prasiklus menjadi 71 pada siklus I. Nilai terandah 30 pada prasiklus, ke siklus I 40, terjadi peningkatan sebesar 10. Nilai tertinggi 70 pada prasiklus, pada siklus I menjadi 80, meningkat sebesar 10. Tuntas belajar 0, yang belum tuntas 36, pada siklus I menjadi 17 . ,22%). Refleksi: peningkatan rata-rata sebesar 18 dari 53 pada prasiklus menjadi 71 pada siklus I menunjukkan pengaruh tindakan pada pencapaian hasil belajar sejarah peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro. Siklus II Penerapan metode Blended Learning dalam meningkatkan budaya literasi numerasi peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro sebagai berikut: . indikator kebutuhan terhadap bacaan pada siklus I mendapat skor 97, pada siklus II menjadi 111, terjadi peningkatan sebesar 14%, . upaya mencari untuk dibaca pada siklus I mendapat skor 95, pada siklus II menjadi 112, meningkat sebesar 17%, . rasa senang terhadap bacaan siklus I mendapat skor 98, pada siklus II menjadi 117, meningkat sebesar 19%, . keinginan untuk selalu membaca siklus I mendapat skor 95, pada siklus II menjadi 110, meningkat sebesar 15%, dan . tindak lanjut dari yang dibaca siklus I mendapat skor 94, pada silus II menjadi 110, terjadi peningkatan sebesar 16%. Hasil belajar: peningkatan rata-rata sebesar 8, dari 71 pada siklus I menjadi 79 pada siklus II. Nilai terandah 40 pada siklus I, ke siklus II 60, terjadi peningkatan sebesar 20%. Nilai tertinggi 80 pada siklus I, pada siklus II menjadi 90, meningkat sebesar 10. Tuntas belajar pada siklus I 17 . ,22%), pada siklus II mennjadi 32 , meningkat sebesar 19% peserta didik. Refleksi: tindakan yang dilakukan pada siklus II, telah memberikan peningkatan pada hasil belajar. Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Meskipun menjadi lebih baik tetapi belum mencapai indikator yang diharapkan yaitu pada skor 78. Siklus i Penerapan metode Blended Learning dalam meningkatkan budaya literasi numerasi peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro sebagai berikut: . indikator kebutuhan terhadap bacaan pada siklus II mendapat skor 11, pada siklus i menjadi 115, terjadi peningkatan sebesar 4%, . upaya mencari untuk dibaca pada siklus II mendapat skor 112, pada siklus i menjadi 113, meningkat sebesar 1%, . rasa senang terhadap bacaan siklus II mendapat skor 117, pada siklus i menjadi 125, meningkat sebesar 8%, . keinginan untuk selalu membaca siklus II mendapat skor 110, pada siklus i menjadi 111, meningkat sebesar 1%, dan . tindak lanjut dari yang dibaca siklus II mendapat skor 110, pada silus i menjadi 110, terjadi stagnan. Hasil belajar: peningkatan rata-rata sebesar 9, dari 79 pada siklus II menjadi 88 pada siklus i. Nilai terandah 80 pada siklus II, ke siklus i 80, terjadi stagnan. Nilai tertinggi 100 pada siklus II, pada siklus i menjadi 100, terjadi stagnan. Tuntas belajar 32 . ,88%), yang belum tuntas 4 pada siklus II, pada siklus i menjadi 36 . %). Peningkatan rata-rata sebesar 9 dari 79 pada siklus II menjadi 88 pada siklus i menunjukkan pengaruh tindakan pada pencapaian hasil belajar sejarah peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Metro. Tindakan yang dilakukan pada siklus i, telah memberikan peningkatan pada hasil literasi numerasi dan hasil belajar dan telah mencapai lebih dari skor yang diharapkan yaitu >78. Keterlaksanaan pembelajaran dengan model Blended Learning sudah sepenuhnya mampu meningkatkan hasil belajar lebih giat belajar sejarah. SIMPULAN Berdasarkan uraian pada pembahasan, dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran sejarah dengan metode Blended Learning mmenjadi lebih menyenangkan, menantang, dan menimbulkan suasana riang gembira hal ini dapat dilihat partisipasi pembelajaran menjadi lebih meningkat. Hasil literasi numerasi dalam pembelajaran sejarah prasiklus 72,6%, siklus I menjadi 92%, siklus II meningkat menjadi 111,6% dan siklus i menjadi 114,4%. Dari hasil pembelajaran prasiklus rata-rata mendapat 53%,siklus I menjadi 71%, siklus II mendapat 79% dan siklus i menjadi 88%. Ketuntasan belajar prasiklus belum tercapai. Siklus I meningkat menjadi 47,22%, siklus II menjadi 88,88%, dan siklus i meningkat menjadi 100%. Metode Blended Learning dapat meningkatkan budaya literasi numerasi dan hasil belajar sejarah kelas XII IPA 1 semester ganjil SMA Negeri 6 Metro tahun pelajaran 2019/2020. Dengan demikian, penerapan dalam pembelajaran sejarah metode Blended Learning kelas XII IPA 1 semester ganjil SMA Negeri 6 Metro tahun pelajaran 2019/2020 menjadi lebih baik dan meningkat. Joko Purwanto Penerapan Metode Blended Learning sebagai Upaya Meningkatkan Budaya Literasi. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . DAFTAR PUSTAKA