Berkala Ilmiah Pendidikan Volume 4 Nomor 3. November 2024 scidac plus ANALISIS PENERAPAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI MI WALISANGA I BANYUANYAR Miftahul Hasanah. Mamluatun NiAomah*,Choerul Anwar Badruttamam Universitas Islam Zainul Hasan Genggong mamluknikmahasa@gmail. Abstrak Character education has become a major focus in the development of education in Indonesia to create a quality and responsible generation. One of the approaches adopted is the application of the Pancasila learner profile in student character building. This study aims to analyze the application of the Pancasila learner profile in student character building at MI Walisanga I through a project-based learning approach. A qualitative approach with a case study was used as the research method. Data were collected through participatory observation, interviews with teachers and students, and document analysis related to curriculum and learning The results showed that the project-based learning approach with the Pancasila learner profile succeeded in shaping students' characters who are creative, have a spirit of mutual cooperation, and are able to think critically. The implication of this study emphasizes the importance of integrating character education in the school curriculum to create a quality and responsible generation. Keywords: Character Building. Pancasila Learner Profile. MI Students PENDAHULUAN Pendidikan karakter siswa merupakan aspek penting dalam sistem pendidikan, karena tidak hanya mempersiapkan siswa secara akademik, tetapi juga membentuk kepribadian yang kuat, moral yang baik, dan nilai-nilai etika yang benar. Di Indonesia, di tengah dinamika sosial yang kompleks, pentingnya pendidikan karakter siswa semakin terasa (Nurdiana Sari. Faizin. Muria Kudus, & Hidayatul Mubtadiin, 2. Terdapat berbagai tantangan moral dan perilaku di kalangan siswa, seperti peningkatan kasus pelanggaran disiplin, kecurangan akademik, dan perilaku negatif lainnya (Jaenullah. Ferdian Utama, 2. Pendidikan karakter siswa menjadi sangat penting dalam menjawab tantangan masa kini, terutama ketika mereka harus menghadapi berbagai situasi kehidupan yang kompleks dan penuh dengan dinamika (Julaeha, 2. Dengan pendidikan karakter, siswa tidak hanya diajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga diberikan landasan moral yang kokoh. Landasan ini penting agar mereka mampu menghadapi situasi-situasi tersebut dengan bijak dan beretika (Isroani & Huda, 2. Melalui pembinaan karakter, siswa diajarkan untuk menginternalisasi nilai-nilai penting seperti kejujuran, toleransi, empati, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap sesama. Kejujuran, misalnya, membantu siswa untuk selalu bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatan, sehingga mereka dapat membangun hubungan yang didasarkan pada kepercayaan (Purwadhi. Toleransi mengajarkan mereka untuk menghargai perbedaan, baik dalam hal pendapat, kepercayaan, maupun latar belakang budaya, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis. Empati membuat mereka lebih peka terhadap perasaan orang lain, membantu mereka untuk menjadi individu yang peduli dan tidak egois Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2024 Miftahul Hasanah. Mamluatun NiAomah. Choerul Anwar Badruttamam (Sodik, 2. Tanggung jawab mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan mereka sendiri, sementara rasa hormat terhadap sesama membentuk sikap saling menghargai yang penting dalam kehidupan sosial (Susilawati. Sarifudin, & Muslim, 2. Dengan demikian, pendidikan karakter bukan hanya tentang membentuk individu yang sukses secara akademik, tetapi juga individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Secara umum, karakter merujuk pada serangkaian sifat, nilai, sikap, dan perilaku yang membentuk identitas dan integritas seseorang (Pusat Bahasa Kemdikbud, 2. Karakter mencakup berbagai aspek yang menentukan bagaimana seseorang bertindak, berinteraksi dengan orang lain, serta menanggapi berbagai situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Apriliani et al. , 2. Karakter seseorang mencerminkan esensi moral dan etika yang mereka anut, yang berarti karakter itu sendiri adalah cerminan dari nilai-nilai moral yang diinternalisasi oleh individu tersebut (Fatimatul Zuhroh, 2. Misalnya, bagaimana seseorang memilih untuk bersikap jujur, adil, dan penuh empati dalam interaksi sosial mereka adalah bagian dari karakter mereka. Oleh karena itu, karakter sering kali menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan tindakan, karena karakter ini menentukan apakah seseorang akan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip moral dan etika yang kuat atau sebaliknya. Dalam konteks pendidikan, pengembangan karakter menjadi krusial karena membantu membentuk individu yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat (Abrori et, all. , 2. Dengan memiliki karakter yang baik, seseorang lebih mampu membuat keputusan yang bijaksana, menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain, dan menghadapi tantangan hidup dengan sikap yang positif (Kamaruddin. Zulham. Utama, & Fadilah, 2. Karakter juga dapat merujuk pada pengembangan kualitas moral dan kepribadian siswa, seperti kejujuran, disiplin, empati, tanggung jawab, kerja keras, dan lain-lain (Nurdiana Sari et al. , 2. Maka, pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat dan kemampuan untuk berkontribusi secara positif kepada masyarakat. Salah satu aset penting dalam pembentukan karakter siswa di Indonesia adalah penerapan nilainilai Pancasila yang merupakan dasar negara dan panduan moral bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila terdiri dari lima sila yang mengandung nilai-nilai fundamental yang dapat membentuk karakter siswa menjadi individu yang berintegritas, beretika, dan bertanggung jawab (Amelia et al. , 2. Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter membantu siswa untuk memahami dan menginternalisasi prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh bangsa Indonesia (Nurgiansah, 2. Misalnya, sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa," mendorong siswa untuk memiliki keimanan yang kuat dan menghargai keragaman agama. Sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab," mengajarkan pentingnya memperlakukan sesama manusia dengan adil dan penuh penghormatan, serta memupuk rasa empati dan Sila ketiga, "Persatuan Indonesia," menanamkan nilai persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman, membantu siswa untuk menjunjung tinggi persaudaraan dan keharmonisan dalam kehidupan Sila keempat, "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan," mengajarkan nilai demokrasi, yaitu pentingnya musyawarah, kebijaksanaan, dan penghargaan terhadap pendapat orang lain. Sila kelima, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," menekankan pentingnya keadilan sosial, yang mendorong siswa untuk bersikap adil, tidak diskriminatif, dan peduli terhadap kesejahteraan sesama. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan karakter siswa, diharapkan mereka dapat tumbuh menjadi warga negara yang baik, yang tidak hanya memahami hak dan kewajiban mereka, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pada akhirnya akan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang harmonis, adil, dan makmur. Nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum nasional, tetapi juga diharapkan menjadi panduan moral dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan Pendidikan (Susilawati et al. , 2. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan. MI Walisanga 1 merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang holistik, termasuk pembentukan karakter siswa yang berdasarkan nilai-nilai agama dan Pancasila. Dalam konteks ini, penting untuk melakukan analisis mendalam terkait dengan sejauh mana penerapan profil pelajar Pancasila berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa di MI Walisanga 1. Permendikbudristek No 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum Pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah mengatakan bahwa, profil pelajar Pancasila adalah serangkaian kegiatan yang menguatkan pemahaman siswa berbasis proyek yang dirancang sebagai upaya pencapaian kompetensi dan karakter berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Pembelajaran berbasis projek merupakan pembelajaran yang memuat pembelajaran kooperatif di dalamnya (Sari, 2. Mamluatun NiAomah dalam bukunya yang berjudul AuMemahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab halaman 43 mengatakan bahwa : AuPembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan dalam semua mata pelajaran atau bidang studi baik untuk pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan Ada beberapa macam pembelajaran kooperatif, tiga diantaranya yang sudah sering dilakukan, dimana tujuan umumnya sama yaitu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran seperti kegiatan wawancara, diskusi, tanya jawab yang membuat siswa berpikir dan berinteraksi lebih banyak lagiAy. Dengan begitu pembelajaran berbasis projek dipercaya mampu meningkatkan kemampuan berpikir dan interaksi siswa di semua jenjang Sedangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 22 Tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Kemendikbud Tahun 2020-2024 (Fajri. Hartini. Purwaningsih. Mustika, & Dwiastuti, 2. yang mengartikan pelajar pancasila adalah perwujudan pelajar indonesia sebagai belajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Melalui penelitian yang dilaksanakan, diharapkan dapat terungkap secara lebih rinci tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, serta dampaknya terhadap karakter siswa. Penelitian ini juga akan memberikan wawasan yang berharga bagi MI Walisanga 1 dan lembaga pendidikan serupa dalam meningkatkan efektivitas pendekatan pembentukan karakter siswa METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan profil pelajar Pancasila dalam pembentukan karakter siswa serta dampaknya di MI Walisanga I. Peran peneliti dalam penelitian kualitatif sangat penting sebagai pengumpul data utama dan bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis, interpretasi data, dan pelaporan hasil penelitian (Syahrizal & Jailani, 2. Data diperoleh dari observasi langsung terhadap peserta didik kelas V serta melalui wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru kelas, dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan mencakup observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan interpretatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi (Miles & Huberman. Keabsahan temuan diperiksa melalui teknik triangulasi, yang melibatkan pengujian data dari berbagai sumber, teknik, dan waktu untuk memastikan kredibilitas dan validitas data yang diperoleh. Tahap 1 APerencana Tahap 2 Tahap 3 AProses AOutput Tahap 4 AAnalisis Gambar 1. Kerangka Berpikir HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Profil Pelajar Pancasila adalah konsep yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Indonesia sebagai upaya untuk menanamkan nilainilai Pancasila dalam diri siswa. Profil ini mencerminkan karakteristik ideal yang diharapkan dimiliki oleh setiap pelajar Indonesia agar mereka dapat menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam konteks pendidikan. Profil Pelajar Pancasila berfungsi sebagai panduan bagi sekolah, guru, dan tenaga pendidikan lainnya untuk mengarahkan proses pembelajaran agar lebih holistik, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Pendidikan et al. Integrasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kurikulum merupakan pendekatan yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia untuk memastikan bahwa setiap siswa memahami dan menerapkan prinsipprinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, keadilan, persatuan, dan keimanan, diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam berbagai mata pelajaran, baik secara eksplisit maupun implisit. Mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. secara langsung mengajarkan prinsip-prinsip Pancasila, sementara mata pelajaran lain, seperti Matematika. Sains. Bahasa Indonesia, atau Seni Budaya, juga mengandung unsur-unsur nilai Pancasila, meskipun tidak secara eksplisit disebutkan. Misalnya, dalam Matematika, kerja kelompok untuk memecahkan masalah mengajarkan tentang gotong royong dan tanggung jawab (Susilawati et al. , 2. Integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum juga mendorong pendidikan yang bersifat holistik, di mana aspek-aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual siswa semuanya diperhatikan secara seimbang. Pendidikan holistik berupaya untuk tidak hanya menghasilkan siswa yang berprestasi secara akademik, tetapi juga individu yang memiliki karakter yang kuat dan beretika (Abrori et, all. , 2. Dalam pendidikan holistik, guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Guru didorong untuk menyusun kegiatan pembelajaran yang melibatkan pengalaman emosional, interaksi sosial, dan refleksi spiritual, sehingga siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang seimbang dan selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini memastikan bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga bermoral dan berkontribusi positif dalam Dalam Sains, diskusi tentang etika ilmiah atau dampak teknologi terhadap lingkungan mencerminkan nilai keadilan sosial dan tanggung jawab terhadap sesama. Selain itu, guru dapat menggunakan studi kasus dan diskusi dalam berbagai mata pelajaran untuk mendorong siswa berpikir kritis dan merefleksikan nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi, keadilan, dan persatuan. Proyek kelompok juga sering digunakan untuk mendorong kerja sama, yang sejalan dengan nilai gotong royong, seperti dalam pelajaran Seni Budaya di mana siswa bekerja sama dalam proyek yang mencerminkan keragaman budaya Indonesia. Kemudian profil pelajar pancasila juga didalamnya membahas tentang Pembentukan karakter melalui studi kasus dan diskusi. Pembentukan karakter melalui studi kasus dan diskusi adalah metode yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam diri siswa. Dalam berbagai mata pelajaran, guru dapat memanfaatkan studi kasus yang melibatkan pengambilan keputusan moral atau etis, yang kemudian menjadi dasar untuk diskusi kelas. Metode ini tidak hanya mendorong siswa untuk berpikir kritis, tetapi juga membantu mereka merefleksikan dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila secara lebih mendalam. Misalnya, dalam pelajaran Bahasa Indonesia siswa bisa diajak untuk berdiskusi tentang cerita atau teks yang menekankan pentingnya nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, atau persatuan. Guru dapat memilih cerita yang mengandung konflik sosial atau moral, yang kemudian dijadikan bahan diskusi untuk menggali pemahaman siswa tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam situasi nyata. Melalui diskusi ini, siswa tidak hanya memahami konsep-konsep tersebut secara teoritis, tetapi juga belajar bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi yang dipandu dengan baik oleh guru memungkinkan siswa untuk berbagi pandangan, mendengarkan perspektif orang lain, dan menganalisis berbagai sudut pandang sebelum mencapai kesimpulan. Proses ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan etis, serta membentuk karakter yang kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pembelajaran yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengetahuan akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan moral siswa, yang penting untuk kehidupan mereka di masa depan. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi bagian dari teori yang dipelajari di sekolah, tetapi juga dihidupkan dalam praktek sehari-hari di lingkungan pendidikan. Integrasi ini bertujuan untuk membentuk generasi yang berkarakter kuat, siap menghadapi tantangan global, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pembentukan Karakter Siswa melalui Profil Pelajar Pancasila Melalui serangkaian observasi, wawancara, dan analisis terhadap data primer dan sekunder, temuan penelitian menunjukkan bahwa MI Walisanga I berhasil menerapkan profil pelajar Pancasila dalam pembentukan karakter siswa. Kepala sekolah MI Walisanga I menjelaskan: "Di madrasah ini, kami menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan pembelajaran berbasis Misalnya, siswa diberikan tugas-tugas yang menekankan pada gotong royong, kreativitas, dan berpikir kritis. Kami juga mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam semua mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler. Tantangan utama yang kami hadapi adalah memastikan bahwa semua guru memahami dan mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran merekaAy Kepala sekolah MI Walisanga I menjelaskan bahwa di madrasah tersebut, penerapan nilai-nilai Pancasila dilakukan melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Seperti gambar dibawah ini: Gambar 2. Kegiatan Pembelajaran Secara Kelompok berbasis Proyek Dalam pendekatan ini, siswa diberikan tugas yang menekankan pada nilai-nilai seperti gotong royong, kreativitas, dan berpikir kritis. Tugas-tugas ini dirancang untuk membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai Pancasila secara praktis dan aplikatif. Selain itu, nilai-nilai Pancasila juga diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, memastikan bahwa setiap aspek dari pengalaman belajar siswa mendukung pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan bahwa semua guru memahami dan mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran mereka. Hal ini mencakup pelatihan dan dukungan yang diperlukan agar guru dapat menerapkan metode yang efektif dalam mengajarkan nilainilai Pancasila, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembentukan karakter siswa sesuai dengan tujuan pendidikan madrasah. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek tidak hanya memungkinkan siswa menguasai materi pelajaran tetapi juga memberikan penugasan yang membentuk karakter siswa. Pembelajaran proyek memungkinkan siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, memecahkan masalah nyata, dan berkolaborasi dengan teman sekelas. Chairun NisaAo sebagai guru mata pelajaran agama mengatakan bahwa : AuPendekatan pembelajaran berbasis proyek sangat efektif dalam membentuk karakter siswa. Siswa menjadi lebih kreatif, mampu bekerja sama dengan baik, mampu memunculkan ide-ide unik untuk menyelesaikan tugas dan berpikir lebih kritis. Mereka juga lebih terlibat dalam proses pembelajaran karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap proyek yang mereka kerjakanAy. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis proyek pada nilai-nilai Pancasila memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk karakter siswa di MI Walisanga Salah satu aspek yang teramati adalah kreativitas siswa yang termanifestasi dalam kemampuan mereka untuk menghasilkan ide-ide baru dan solusi-solusi inovatif dari berbagai tugas yang diberikan selama Dengan pembelajaran berbasis proyek, siswa menjadi lebih kreatif karena mereka dihadapkan pada tantangan yang memerlukan pemikiran inovatif dan solusi yang unik. Mereka juga belajar untuk bekerja sama secara efektif dengan teman-teman mereka, mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang penting. Proses ini mendorong mereka untuk memunculkan ide-ide baru dan berpikir lebih kritis tentang bagaimana menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, siswa merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran karena mereka memiliki tanggung jawab langsung terhadap proyek yang mereka kerjakan. Rasa tanggung jawab ini meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka, karena mereka melihat hasil kerja mereka sebagai bagian dari pencapaian bersama dan merasa memiliki kontribusi yang berarti. Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi pencapaian akademik, tetapi juga mendukung pembentukan karakter yang baik, seperti kreativitas, kerja sama, dan tanggung jawab, yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Selanjutnya, karakter gotong royong juga menjadi sorotan dalam penelitian yang dilakukan. Sikap saling membantu, kerjasama, dan kepedulian terhadap sesama menjadi ciri khas lingkungan belajar di MI Walisanga I. Perbuatan siswa yang menunjukkan hal tersebut salah satunya adalah membantu siswa lainnya yang mengalami keterlambatan dalam menyelesaikan projek. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai solidaritas yang ditanamkan melalui pembelajaran berbasis Pancasila telah terinternalisasi dengan baik oleh siswa, membentuk hubungan yang harmonis dan produktif di antara mereka. Dampak dari profil pelajar pancasila juga diungkapkan oleh Doni siswa kelas V MI Walisanga I : AuContoh gotong royong di kelas saya adalah ketika kami bekerja sama dalam proyek kebersihan Kami membagi tugas untuk membersihkan halaman sekolah, mengumpulkan sampah, dan menanam pohon. Ini mengajarkan kami pentingnya kerjasama dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarAy. Hasil wawancara dengan Doni, siswa kelas V MI Walisanga I, mengungkapkan dampak positif dari penerapan Profil Pelajar Pancasila dalam pendidikan. Doni memberikan contoh konkret tentang bagaimana nilai gotong royong diterapkan melalui proyek kebersihan sekolah. Dalam proyek ini, siswa dibagi menjadi kelompok dengan tugas-tugas spesifik seperti membersihkan halaman sekolah, mengumpulkan sampah, dan menanam pohon. Aktivitas ini tidak hanya menunjukkan penerapan prinsip kerja sama yang mendalam tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan kolaboratif siswa. Selain itu, proyek kebersihan ini mengajarkan siswa tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, sehingga mereka memahami tanggung jawab terhadap alam dan komunitas mereka. Dengan terlibat dalam kegiatan yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, siswa seperti Doni dapat menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis proyek dapat secara efektif membentuk karakter sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila. Hal ini mengindikasikan bahwa profil pelajar pancasila sangat efektif untuk menumbuhkan sikap gotong royong siswa MI Walisanga I. Tak kalah pentingnya, peneliti juga menyoroti kemampuan siswa dalam berpikir kritis. Chairun NisaAo guru kelas V mengatakan bahwa : AuMelalui metode belajar profil pelajar pancasila ini, siswa mengalami banyak sekali peningkatan, mulai dari kreativitas, gotong royong, dan berpikir kritis. Ketika saya mencermati hasil tugas siswa yang merupakan soal gabungan antara aqidah akhlak dan sejarah islam, mereka sepertinya tidak mengalami kesulitanAy. Dengan melibatkan siswa dalam proyek-proyek yang menuntut analisis, refleksi, dan pemecahan masalah, metode ini membantu siswa untuk mempertajam kemampuan mereka dalam mengevaluasi informasi, membuat keputusan yang bijak, dan memahami perspektif yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis Profil Pelajar Pancasila tidak hanya mendukung pembentukan karakter, tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir kritis yang penting bagi perkembangan akademik dan pribadi siswa. Siswa dilatih untuk menyikapi informasi dengan kritis, menganalisis secara mendalam, dan mengevaluasi dengan objektif sebelum mengambil keputusan atau bertindak. Hal ini tercermin pada saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, mereka mampu menyelesaikan tugas yang memiliki alur pengerjaan yang lumayan rumit seperti soal gabungan antara materi aqidah akhlak dan sejarah islam. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kebaharuan dalam pembentukan karakter siswa melalui penerapan Profil Pelajar Pancasila dengan pendekatan berbasis proyek. Kebaharuan tersebut terletak pada integrasi nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek pembelajaran, baik dalam mata pelajaran inti maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya memahami nilai-nilai Pancasila secara teori, tetapi juga mengaplikasikannya dalam praktik, seperti melalui proyek-proyek yang menekankan gotong royong, kreativitas, dan berpikir kritis. Penelitian ini mengungkap bahwa metode berbasis proyek secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa, serta mendukung penerapan nilai gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa merasa lebih terlibat dan termotivasi karena tanggung jawab langsung terhadap proyek, yang pada gilirannya memperkuat pengembangan karakter Selain itu, peningkatan dalam kemampuan analisis dan evaluasi siswa juga tercermin dalam tugastugas yang melibatkan materi kompleks seperti aqidah akhlak dan sejarah Islam. Dengan demikian, pendekatan berbasis Profil Pelajar Pancasila tidak hanya mendukung pembentukan karakter tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa secara efektif. Temuan dalam penelitian ini memberikan dukungan kuat terhadap pentingnya integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan sebagai upaya nyata untuk membentuk karakter siswa yang Implikasi dari temuan ini tidak hanya berlaku untuk MI Walisanga I saja, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan lainnya dalam menyusun strategi pembelajaran yang berfokus pada pembentukan karakter siswa yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan profil pelajar Pancasila dalam pembentukan karakter siswa di MI Walisanga I melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek efektif dalam menghasilkan siswa yang memiliki karakter kreatif, gotong royong, dan bernalar kritis. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah sebagai upaya untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan bertanggung jawab. Pendekatan berbasis proyek memungkinkan siswa untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik sehari-hari, meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan kemampuan berpikir kritis mereka. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek juga membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan sosial, seperti kerja sama dan kepedulian terhadap lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa metode ini tidak hanya mendukung pencapaian akademik tetapi juga membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi strategi pendidikan di Indonesia dan dapat menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan lain dalam merancang kurikulum yang berfokus pada pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kami ucapkan kepada segenap seluruh stakeholder yang memberikan dukungan dan bantuannya atas terlaksananya penelitian yang kami lakukan, terkhusus kepada dosen pembimbing dan MI Walisanga 1 Banyuanyar. DAFTAR PUSTAKA