JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X ANALISIS ICMP MODIFIKASI TERHADAP NONLINEAR TIME HISTORY DAN PUSHOVER DALAM MODEL BANGUNAN 2-D MULTI STOREY Susanto Triyogo Adiputro1. Roesdiman Soegiarso2, dan Andy Prabowo3* Program Studi Magister Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. 1 Jakarta Program Studi Doktor Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. 1 Jakarta Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Universitas Tarumanagara. Jl. Letjen S. Parman No. 1 Jakarta *andy. prabowo@ft. Masuk: 23-07-2023, revisi: 09-02-2024, diterima untuk diterbitkan: 26-07-2024 ABSTRACT Improved Concecutive Modal Pushover (ICMP) method is proposed to improve the conventional Pushover in estimating earthquake demands on tall buildings. This method accounts for inelastic material properties and interaction between vibration modes. The incremental displacement at the building roof used in each stage of the pushover analysis is modified based on the displacement contribution of each mode. This study proposes an improved of the existing ICMP method by modifying the vibration mode variations in the pushover analysis. The performance of the modified ICMP method is verified against a wide variety of modes to determine the lateral forces of various building conditions. The results obtained from the modified ICMP method are compared with the results from Nonlinear Response History Analysis (NLHRA), and conventional pushover analysis, as well as the original ICMP The comparison shows that the results obtained from the modified ICMP method with mode variation of S1 . % M). S2 . % M1 10% M. , and S3 . % M1 20% M. , are closer than the original ICMP using 100% participation of modes 1, 2, and 3. The modified ICMP yields an underestimate results against the original ICMP in the context of displacement response by not more than 30% Keywords: modal pushover. improved concecutive modal pushover. interaction between modes. seismic demands. tall buildings ABSTRAK Metode Improved Concecutive Modal Pushover (ICMP) diusulkan untuk meningkatkan Pushover konvensional dalam memperkirakan tuntutan gempa pada bangunan tinggi. ICMP menyumbang sifat struktural inelastik dan interaksi antara mode getaran. Perpindahan kenaikan diatap bangunan yang digunakan dalam setiap tahap analisis pushover dimodifikasi berdasarkan pada kontribusi perpindahan masing-masing mode. Kinerja prosedur Pengembangan ICMP yang diusulkan diverifikasi terhadap berbagai macam variasi mode untuk menentukan lateral force dari berbagai kondisi bangunan. Hasil yang diperoleh dari prosedur pengembangan ICMP dibandingkan dengan hasil dari Nonlinear Response History Analysis (NLHRA), analisis pushover konvensional, dan analisis ICMP. Perbandingan hasil ketiga metode menunjukkan kelebihan pengembangan ICMP variasi S1 . % M) S2 . %M1 10%M. S3 . %M1 20%M. , lebih mendekati dibandingkan proposi ICMP sebelumnya yang menggunakan 100% partisipasi mode 1, 2, dan 3. Hasil pengembangan ICMP juga memberikan hasil yang baik dengan rentang underestimate dibawah, terhadap ICMP pada konteks respons displacement tidak lebih dari 30%. Kata kunci: modal pushover. improved concecutive modal pushover. interaksi antara mode. bangunan tinggi PENDAHULUAN Ada dua jenis analisis bangunan tinggi yang saat ini umum digunakan dalam Performance-Based Seismic Design (PBSD), yaitu Nonlinear Response History Analysis (NLHRA) dan Nonlinear Static Procedure (NSP). Dalam menganalisis bangunan tinggi. NLRHA dinilai paling ideal dan akurat, namun tidak praktis dilakukan karena running time yang sangat lama dan kendala pada pemilihan ground motion input, khususnya di Indonesia. NSP merupakan jenis analisis nonlinear yang paling praktis dilakukan namun tidak direkomendasikan oleh peraturan karena dinilai kurang akurat dengan keterbatasannya yang mencakup pengaruh ragam getar tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu prosedur analisis yang masih praktis dilakukan namun juga dapat memberikan hasil yang relatif cukup akurat. Berdasarkan verifikasi hasil studi dan riset analitis yang berkembang selama dua dekade terakhir, analisis multi-mode pushover yang menyempurnakan NSP menjadi salah satu prosedur alternatif yang dinilai dapat mengatasi kekurangan maupun kendala prosedur lain. Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Triyogo et al. Berdasarkan Zhang et al. ada 3 pertimbangan pada analisis Improved Concecutive Modal Pushover (ICMP) yang dikembangkan. Pertama, meningkatkan perpindahan diatas bangunan. Kedua, mempertimbangkan perubahan kekakuan lateral sebagai nonlinear yielding yang terjadi selama analisis pushover. Ketiga, interaksi antara vibration mode bangunan yang melampaui keadaan elastis. Meningkatkan perpindahan diatas bangunan Dalam prosedur ICMP konvensional, partisipasi modal efektif rasio massa . uyc ) digunakan untuk menentukan kenaikan perpindahan atap dalam setiap tahap analisis pushover bertingkat. Penentuan perpindahan atap ditingkatkan dengan memodifikasi faktor yuyc sesuai dengan Aukontribusi perpindahanAy yang mengacu pada sistem ESDOF. Dalam analisis Multistage, jumlah mode yang dipilih sama dengan jumlah tahapan dalam pushover analisis. Respon perpindahan maksimum dari tiga mode pertama dalam sistem SDOF didefinisikan sebagai ya1ycoycaycu , ya2ycoycaycu , dan ya3ycoycaycu (Chopra. Masing-masing faktor peningkatan perpindahan atap untuk tahap ke-I adalah yuCycn dihitung sebagai mode dari sistem SDOF yang sesuai. Faktor baru peningkatan perpindahan atap untuk tahap ke-i yuCycn diperoleh dari Persamaan 1: yuCycn = . uycn yaycnycoycaycu | . u1 ya1ycoycaycu | . u2 ya2ycoycaycu | . u3 ya3ycoycaycu | ycn = 1,2,3 . dengan yuCycn = perpindahan atap . , yuycn = faktor partisipasi modal, yaycoycaycu = perpindahan maksimum . Jumlah yuCycn dalam tiga tahap pertama, sama dengan satu kesatuan. Metode yang digunakan, mengasumsikan bahwa struktur dalam keadaan elastis saat menentukan perpindahan atap maksimum dari mode yang lebih tinggi . a2ycoycaycu dan ya3ycoycaycu ). Asumsi ini dikaitkan dengan fakta bahwa kontribusi mode yang lebih tinggi terhadap respons struktur yang tidak elastis kecil ketika pemindahan atap tercapai. Dengan demikian, kesalahan menggunakan respons elastis dari pada respons inelastik dapat diabaikan. Ini berarti ya2ycoycaycu dan ya3ycoycaycu dapat diperoleh dari elastis spektrum perpindahan gerakan tanah yang sesuai walaupun ya1ycoycaycu diperoleh dari analisis numerik, mengingat sifat struktur yang inelastik. Kenaikan ycycycn perpindahan dimodifikasi menjadi Persamaan 2 (Chopra, 2. ycycycn = yuCycn yuyc ycn = 1,2,3 . dengan ycycycn = kenaikan perpindahan . , yuCycn = perpindahan atap . , yuyc = perpindahan total . Pertimbangkan perubahan kekakuan lateral Untuk analisis pushover multistage, kekakuan struktur bervariasi karena mengalami nonlinieritas material. Yang paling masuk akal pendekatannya adalah dengan menggunakan kurva perpindahan yang bergantung pada waktu dan distribusi gaya lateral pada setiap tahap analisis. Karena itu, relatif sederhana, seperti yang ditunjukkan pada Kurva realistic dan bi-liniearized pushover, digunakan dalam penelitian ICMP, mirip dengan yang diusulkan oleh Mao et al. Kurva pushover yang realistis adalah diidealkan ke kurva bilinear dengan titik leleh A (Gambar . Lereng dua fase (OA dan AB) ditandai oleh yco1 dan yco2 , masing-masing. Prinsip dasar bilinearisasi kurva pushover memiliki dua elemen kunci: . Area yang dilingkupi oleh kurva pushover asli dan sumbu perpindahan harus sama dengan yang terlampir oleh kurva pushover bilinearized dan sumbu perpindahan. Diantara kurva pushover bilinearized yang memenuhi persyaratan . Kurva pushover bilinearized yang dioptimalkan adalah yang paling dekat dengan aslinya kurva pushover. Dengan demikian, jumlah area terlampir dioptimalkan kurva pushover bilinearized dan kurva pushover asli harus diminimalkan. Artinya, untuk mendapatkan yang optimal kurva pushover bilinearized, jumlah ycI1 , ycI2 dan ycI3 seharusnya diminimalkan (Comartin, 1. Gambar 1. Kurva kapasitas Mempertimbangkan interaksi antara mode getaran JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X Efek interaksi antara mode getar pada respons struktur dipertimbangkan dalam bagian ini. Teori modal superposisi digunakan untuk menentukan distribusi gaya lateral di sini daripada untuk menggabungkan respon dinamis dari masing-masing mode (Chopra dan Han, 2. Oleh karena itu, interaksi antara mode secara langsung dipertimbangkan dengan menerapkan gaya lateral gabungan ke struktur sampai perpindahan atapnya mencapai nilai Karena faktor partisipasi modal adalah indeks penting untuk mewakili kontribusi setiap mode terhadap respons struktural total, untuk mendapatkan pola gaya lateral berdasarkan faktor partisipasi modal. Secara teoritis, semakin besar jumlah mode yang digunakan dalam analisis pushover, semakin baik estimasi respons struktural (FEMA-440. Dengan demikian, jumlah mode yang dipilih ditentukan berdasarkan pada kondisi bahwa jumlah dari rasio massa yang berpartisipasi modal . odal participating mass rati. mereka harus setidaknya 0,9 sesuai dengan Persamaan 3. ycAycA Oc yuycn Ou 0. ycn=1 dengan ycAycA = jumlah mode yang dipertimbangkan untuk menentukan kekuatan lateral distribusi. Seperti disebutkan sebelumnya, modal participating mass ratio dihitung dari properti modal awal dan dapat diperoleh dengan mudah dari analisis numerik. Demikian, distribusi gaya lateral atas ketinggian struktur adalah ditentukan menggunakan rumus Persamaan 4. ycAycA . uycn | ycoyuoyc ycAycA Oc . uycn | yc=1 yc=1 . yaycI = Oc dengan yayc = gaya lateral (KN), yco= matriks massa, yuyc = faktor partisipasi modal, yuoyc = vektor bentuk mode j. Untuk benar pertimbangkan kontribusi setiap node terhadap respons struktural, itu diperlukan untuk mengadopsi nilai absolut dari partisipasi modal faktor, karena mungkin negatif untuk beberapa mode. Misalnya jika ycAycA = 3, bentuk eksplisit dari Persamaan 4 adalah Persamaan 5. yayc = . u1 | . u2 | . u3 | ycoyuo1 ycoyuo2 ycoyuo3 . u1 | . u2 | . u3 | . u1 | . u2 | . u3 | . u1 | . u2 | . u3 | . dengan yayc = gaya lateral (KN), ), yco= matriks massa, yuyc = faktor partisipasi modal, yuoyc = vektor bentuk mode j. METODE PENELITIAN Terdapat tujuh tahap prosedur analisis yang dilakukan untuk mendapatkan hasil analisis pengembangan pushover ICMP: Menghitung ragam bentuk/mode shapes (A), periode alami . dan frekuensi alami (A. dari ketiga model struktur dengan bantuan software MATHLAB. Menghitung distribusi pertambahan beban lateral untuk tiap tahap analisis pushover dari hasil kali massa terpusat . umped mas. dengan mode shape . n = m. A) untuk fase first stage dengan beban lateral s1, lalu fase multistage yang terdiri dari second stage dan third stage dimana pendefinisian fase tersebut didapat dari tiga mode awal terbesar. Sehingga terdapat tiga beban lateral yaitu s1, s2 dan s3 sesuai pada Tabel 1. Tabel 1. Beban Lateral No Variasi %M. %M. %M. %M1 10%M. %M1 10%M. %M. %M. %M. Variasi Lateral Force . %M. %M1 10%M. %M1 20%M. %M1 10%M. %M1 20%M. %M1 10%M. %M1 20%M. %M1 30%M. %M. %M1 20%M. %M1 30%M. %M1 20%M. %M1 30%M. %M2 20%M. %M2 30%M. %M2 40%M. Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Triyogo et al. Menghitung target perpindahan (A. berdasarkan FEMA-273 . Mendefinisikan perilaku nonlinear material penampang dengan bantuan software XTRACT. Melakukan analisis pushover untuk tahap tunggal . ingle stage. dan tahap banyak . ulti-stag. pada software ETABS. Melakukan analisis kurva kapasitas yang didapat (FEMA 356, 2. Membandingkan hasil analisis pengembangan pushover ICMP dengan pushover konvensional. NLTHA dan ICMP. Sesuai dengan peraturan SNI 1726:2019 bahwa jenis beban struktur Time History menggunakan 12 jenis gempa (Gambar . , dalam pembahasan jurnal ini mengunakan 12 jenis gempa seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Beban struktur Time History Jenis Gempa Imperial Valley Nortridge Chi-Chi Friuli Kocaeli Loma Prieta Kobe Hollister Landers Trinidad St Elias San Fransisco PGA . Gambar 2. Perbandingan percepatan vs waktu 12 Gempa Untuk memperjelas metode penelitian dapat dilihat diagram alir pada Gambar 3. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X Gambar 3. Flowchart metodologi penelitian Data struktur bangunan Struktur bangunan rumah sakit dua dimensi . D) dirancang dengan desain sebagai berikut: Jumlah Model Gedung Jumlah Bentang Balok Tinggi per tingkat Faktor Keutamaan (I. Koefisien Modifikasi (R) Faktor Kuat Lebih (A. Faktor Defleksi (C. Lokasi Gedung Jenis Tanah : 3 Model Gedung 2D 10 Lantai, 20 Lantai & 30 Lantai : 3 . imana panjang tiap bentang adalah 4,5 mete. : 3,5 meter : 1. edung rumah saki. : 8 (SRPMK) : 3 (SRPMK) : 5. : Jakarta : Tanah Sedang (SD) Berikut data material dan dimensi penampang yang digunakan dalam perancangan struktur: Mutu Beton . Ao. : 30 MPa Mutu Baja Tulangan . : 400 MPa Penampang balok dan kolom yang dipergunakan mempunyai beberapa variasi sesua dengan model dan jumlah lantai setiap bangunan seperti pada Tabel 3 sampai dengan Tabel 5. Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Triyogo et al. Tabel 3. Data ukuran penampang elemen struktur 10 tingkat Tipe Elemen Struktur BALOK 1 BALOK 2 KOLOM 1 KOLOM 2 Dimensi . 250X350 250X400 400X400 450X450 Lokasi Tingkat Tingkat Dasar s/d Tingkat 5 Tingkat 6 s/d Tingkat 10 Tingkat Dasar s/d Tingkat 5 Tingkat 6 s/d Tingkat 10 Tabel 4. Data ukuran penampang elemen struktur 20 tingkat Tipe Elemen Struktur BALOK 1 BALOK 2 KOLOM 1 KOLOM 2 Dimensi . 250X350 250X400 400X400 450X450 Lokasi Tingkat Tingkat Dasar s/d Tingkat 10 Tingkat 11 s/d Tingkat 20 Tingkat Dasar s/d Tingkat 10 Tingkat 11 s/d Tingkat 20 Tabel 5. Data ukuran penampang elemen struktur 30 tingkat Tipe Elemen Struktur BALOK 1 BALOK 2 KOLOM 1 KOLOM 2 Dimensi . 250X350 250X400 400X400 450X450 Lokasi Tingkat Tingkat Dasar s/d Tingkat 15 Tingkat 16 s/d Tingkat 30 Tingkat Dasar s/d Tingkat 15 Tingkat 16 s/d Tingkat 30 Pemodelan struktur dua dimensi . D) menggunakan bantuan software ETABS v19, dimana terdapat tiga model yaitu model 10 lantai, model 20 lantai dan model 30 lantai seperti pada Gambar 3. Gambar 3. Model Struktur 10 Tingkat . Model Struktur 20 Tingkat . Model Struktur 30 Tingkat . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis perbandingan story drift dengan variasi 12 jenis gempa dapat kita lihat pada Gambar 4, bahwa yang mencapai story drift terbesar adalah jenis gempa Kobe. Walaupun dalam hasil tersebut ada perbedaan hasil optimum JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X saat di lantai dasar, lantai tengah dan lantai atas. Dalam lantai elevasi tengah terlihat jenis gempa Kocaeli mendapatkan nilai optimum dibandingkan gempa Kobe, kemudian dalam lantai puncak yang mendekati jenis gempa Nortridge berdampingan dengan gempa Kobe. Gambar 4. Dua belas . model gempa yang telah di matching dengan respon spektrum Jakarta Kedua belas model gempa pada Gambar 4 yang telah di matching dengan respon spektrum Jakarta, mengalami warna hijau pada sendi plastis yang menggambarkan bahwa bagian tersebut sudah melewati batas elastisnya (B-C). Namun, pada jenis gempa Kobe dan Kocaeli masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan kekuatannya, dimana Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Triyogo et al. elemen balok sudah mengalami plastis, sedangkan pada kolom tidak terjadi story mechanism. Sedangkan jenis gempa yang lainnya belum mengalami proses sendi plastis pada sturuktur balok maupun kolom. Perbandingan hasil analisis untuk ICMP dari berbagai variasi mode. CPP dan NLTHA Perbandingan Deformasi Struktur Height . Displacement . NLTHA CPP ICMP V1 ICMP V2 ICMP V3 ICMP V4 ICMP V5 ICMP V6 ICMP V7 ICMP V8 Gambar 5. Hasil analisis perbandingan displacement lantai 10 Terlihat pada Gambar 5 hasil analisis perbandingan displacement dengan variasi beberapa mode, bahwa yang mendekati dengan hasil NLTHA adalah ICMP V2. ICMP V3. ICMP V4 dan ICMP V5. Dibandingkan itu semua. ICMP V2 adalah yang paling mendekati dengan hasil NLTHA. Perbandingan Story Drift Height . NLTHA CPP ICMP V4 ICMP V5 Story Drift ICMP V1 ICMP V2 ICMP V3 ICMP V6 ICMP V7 ICMP V8 Gambar 6. Hasil analisis perbandingan story drift lantai 10 Terlihat pada Gambar 6 hasil analisis perbandingan story drift dengan variasi beberapa mode, bahwa yang mendekati dengan hasil NLTHA adalah ICMP V2. ICMP V3. ICMP V4 dan ICMP V5. Dibandingkan itu semua. ICMP V2 adalah yang paling mendekati dengan hasil NLTHA. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X Perbandingan Gaya Geser Antar Lantai Height . Story Shear . N) NLTHA CPP ICMP V1 ICMP V2 ICMP V3 ICMP V4 ICMP V5 ICMP V6 ICMP V7 ICMP V8 Gambar 7. Hasil analisis perbandingan story shear lantai 10 Terlihat pada Gambar 7 hasil analisis perbandingan story shear dengan variasi beberapa mode, bahwa yang mendekati dengan hasil NLTHA adalah ICMP V2. ICMP V3. ICMP V4 dan ICMP V5. Dibandingkan itu semua. ICMP V2 adalah yang paling mendekati dengan hasil NLTHA. Perbandingan Hasil Analisis untuk ICMP optimal (S1 100%M1. S2 90M1 10%M2. S3 80%M1 20%M. CPP dan NLTHA Dapat dilihat pada (Gambar 8-. menunjukkan hasil analisis perbandingan Story Shear, displacement. Story Drift dan pada analisa NLTHA, pengembangan ICMP. ICMP, dan CPP bahwa analisis struktur yang menggunakan pengembangan ICMP dengan variasi mode hasilnya mendekati hasil dari NLTHA, mulai dari lantai bawah sampai dengan lantai atas. Dibandingkan dengan hasil dari ICMP yang tidak mengunakan variasi mode, mulai dari lantai bawah sampai atas hasil lebih jauh dari displacement. Story Drift dan Story Shear tidak mendekati hasil dari NLTHA. Perbandingan Gaya Geser Antar Lantai Height . NLTHA CPP Story Shear . N) ICMP Pengembangan ICMP Gambar 8. Hasil analisis perbandingan story shear lantai 10 Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Perbandingan Displacement Struktur Height . Triyogo et al. Displacement . NLTHA CPP Pengembangan ICMP ICMP Gambar 9. Hasil analisis perbandingan displacement lantai 10 Perbandingan Story Drift Height . NLTHA CPP Story Drift ICMP Pengembangan ICMP Gambar 10. Hasil analisis perbandingan story drift lantai 10 Tiga . model gempa pada Gambar 11 yaitu gempa hasil matching Kobe. ICMP. Pengembangan ICMP. Original Kobe dan CPP, telah mengalami warna hijau pada sendi plastis yang menggambarkan bahwa bagian tersebut sudah melewati batas elastisnya (B-C) namun masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan kekuatannya. Perilaku yang ditampilkan pada model struktur sesuai dengan apa yang direncanakan. Dimana elemen balok sudah mengalami plastis, sedangkan pada kolom tidak terjadi story mechanism. Selebihnya struktur diizinkan mengalami plastis, namun tidak boleh terjadi story mechanism. Gambar 11. Pola Keruntuhan Sendi Plastis ICMP . ICMP. CPP. NLTHA KOBE . Lanta. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X Perbandingan Hasil Analisis untuk ICMP. CPP dan NLTHA Height . Perbandingan Displacement Displacement . NLTHA ICMP Pengembangan CPP SNI ICMP Gambar 12. Hasil analisis perbandingan perpindahan 20 lantai Perbandingan Story Drift 20 LANTAI Height . NLTHA Story Drift ICMP Pengembangan CPP SNI ICMP Gambar 13. Hasil analisis perbandingan story drift 20 lantai Height . Perbandingan Story Shear 20 LANTAI Story Shear . N) NLTHA ICMP Pengembangan CPP SNI ICMP Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Triyogo et al. Gambar 14. Hasil analisis perbandingan gaya geser antar lantai 20 Dapat dilihat pada (Gambar 12-. menunjukkan hasil analisis perbandingan displacement. Story Drift, dan Story Shear lantai 20 pada analisa NLTHA. Pengembangan ICMP. ICMP, dan CPP bahwa anlisis struktur yang menggunakan pengembangan ICMP dengan variasi mode dan ICMP hasilnya mendekati hasil dari NLTHA , mulai dari lantai bawah sampai lantai atas. Berbanding jauh dibandingkan dengan hasil dari CPP yang tidak mengunakan variasi lateral force dan mode, mulai dari lantai bawah sampai atas pada hasil dari displacement Shear tidak mendekati hasil dari NLTHA. Pada hasil Story Drift, dan Story Shear lantai bawah pada CPP tidak mendekati hasil dari NLTHA, mulai medekati pada lantai atas struktur. Gambar 15. Pola Keruntuhan Sendi Plastis ICMP . ICMP. CPP. NLTHA KOBE . Lanta. Tiga 3 model gempa pada Gambar 15 yaitu gempa hasil matching Kobe. ICMP. Pengembangan ICMP . Original Kobe dan CPP, telah mengalami warna hijau pada sendi plastis yang menggambarkan bahwa bagian tersebut sudah melewati batas elastisnya (B-C) namun masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan Perilaku yang ditampilkan pada model struktur sesuai dengan apa yang direncanakan, dimana elemen balok sudah mengalami plastis, sedangkan pada kolom tidak terjadi story mechanism. Kecuali pada ICMP dan CPP mengalami sendi plastis pada kolom. Hal ini dikarenakan struktur memang didesain elastis hanya mencapai beban gempa dengan faktor sekala Ie/R, selebihnya struktur diizinkan mengalami plastis, namun tidak boleh terjadi story JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X Perbandingan hasil analisis untuk ICMP. CPP dan NLTHA Perbandingan Displacement 30 LANTAI CPP SNI ICMP Displacement . NLTHA ICMP . Gambar 16. Hasil analisis perbandingan perpindahan lantai 30 Perbandingan Story Drift 30 LANTAI Height . Story Drift NLTHA ICMP . CPP SNI ICMP Gambar 17. Hasil analisis perbandingan story drift lantai 30 Perbandingan Story Shear 30 LANTAI Height . Height . Story Shear . N) NLTHA ICMP . CPP SNI ICMP Analisis ICMP Modifikasi Terhadap Nonlinear Time History dan Pushover Dalam Model Bangunan 2-D Multi Storey Triyogo et al. Gambar 18. Hasil analisis perbandingan gaya geser antar lantai lantai 30 Dapat dilihat pada Gambar 16-18 menunjukkan hasil analisis perbandingan displacement. Story Drift, dan Story Shear lantai 30 pada analisa NLTHA. Pengembangan ICMP. ICMP, dan CPP. Analisis struktur yang menggunakan pengembangan ICMP dengan variasi mode dan ICMP hasilnya mendekati hasil dari NLTHA, walaupun jika dibandingkan dengan hasil pada struktur lantai 30 ini lebih variatif polanya. Pada perbandingan hasil dari displacement pada lantai bawah sampai tengah hasilnya dari ICMP lebih kecil dibandingkan hasil dari NLTHA, lalu kemudian dari lantai tengah sampai atas hasilnya lebih besar dibandingkan NLTHA. Berbanding jauh dibandingkan dengan hasil dari CPP yang tidak mengunakan variasi lateral force dan mode, mulai dari lantai bawah sampai atas pada hasil dari displacement idak mendekati hasil dari NLTHA. Pada hasil Story Drift dan Story Shear lantai bawah pada CPP tidak mendekati hasil dari NLTHA, mulai medekati pada lantai atas struktur. Gambar 19. Pola keruntuhan sendi plastis ICMP . ICMP. CPP. NLTHA KOBE . Lanta. Tiga 3 model gempa pada Gambar 19 yaitu gempa hasil Matching Kobe. ICMP. Pengembangan ICMP . Original Kobe dan CPP, telah mengalami warna hijau pada sendi plastis yang menggambarkan bahwa bagian tersebut sudah melewati batas elastisnya (B-C) namun masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan Perilaku yang ditampilkan pada model struktur sesuai dengan apa yang direncanakan, dimana elemen balok sudah mengalami plastis. Pada kolom tidak terjadi story mechanism, kecuali pada CPP mengalami sendi plastis pada Hal ini dikarenakan struktur memang didesain elastis hanya mencapai beban gempa dengan faktor sekala Ie/R, selebihnya struktur diizinkan mengalami plastis, namun tidak boleh terjadi story mechanism. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. November 2024: hlm 12071222 EISSN 2622-545X RELATIVE EROR( %) 10 LANTAI RELATIVE EROR( %) 20 LANTAI RELATIVE EROR( %) 30 LANTAI NLTHA NLTHA NLTHA ICMP ICMP ICMP CPP CPP CPP -15 0 1 2 3 4 Gambar 20. Galat kombinasi ICMP dan CPP terhadap displacement NLTHA Dapat dilihat berturut-turut pada Gambar 20 untuk tipe CPP, dimana hasil CPP yang tidak baik dapat didekati dengan pemilihan metode ICMP. ICMP memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan CPP dengan memberikan parameter output yang memiliki galat lebih rendah dan/atau lebih konservatif . ebih aman dalam tahap desig. Dapat dilihat pula bahwa hasil dari lantai 10, 20 dan 30 lantai semkain tinggi metode CPP semakin jauh relative erornya, sedangkan metode ICMP memiliki galat yang stabil mendekati metode NLTHA di setiap tingkatan KESIMPULAN Berdasarkan laporan penelitian yang disajikan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa penambahan jumlah lantai, berturut-turut dari bangunan 10 lantai, bangunan 20 lantai dan bangunan 30 lantai memberikan efek dibutuhkannya tambahan modal seiring meningkatnya tinggi gedung. Selanjutnya, efek penambahan kontribusi higher modes pada pengembangan ICMP meningkatkan akurasi terhadap NLTHA. Namun, penambahan kontribusi mode pada pengembangan ICMP tidak selalu terikat berdasarkan modal mass participation ratio. Dalam penelitian ini, 1 . sampai dengan 3 . mode awal pada arah yang ditinjau sudah dapat mencukupi. Dari 8 variasi lateral force, variasi yang mendekati dengan ICMP adalah variasi S1 . % M) S2 . %M1 10%M. S3 . %M1 20%M. , lebih mendekati dibandingkan proposi ICMP sebelumnya yang menggunakan 100% partisipasi mode 1, 2, dan 3. Dari hasil penelitian ini, didapatkan bahwa estimasi prosedur ICMP dapat memberikan hasil yang baik dengan rentang underestimate dibawah perkiraan terhadap ICMP pada konteks respons displacement tidak lebih dari 30%. Untuk respons struktur terhadap story drift, gaya geser antar lantai dan deformasi dari lantai 10, 20, dan 30 lantai mendekati ICMP baik dari lantai bawah hingga lantai puncak. Hal yang sulit terjadi jika mengunakan analisis pushover biasa, dimana semakin tinggi bangunan analisis semakin konservatif . enjauhi hasil analisis ICMP) dikarenakan tidak mempertimbangkan faktor mode, perubahan kekakuan, lateral force dan faktor lainnya. DAFTAR PUSTAKA