Self Concept LGBTQ pada Media Baru JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani Self Concept LGBTQ pada Media Baru I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Udayana. Indonesia idajoni@unud. pascarani@unud. Abstrak Penelitian ini berangkat dari persoalan bagaimana LGBTQ mengkonsepkan diri mereka pada media baru. Pada penelitian ini kebaruan menjadi fokus dengan menggunakan teori konsep diri dari Johari Windows dan new media, serta queer teori dari Judith Butler. Selama ini, kajian dengan queer teori lebih banyak untuk membedah persoalan LGBT di dunia barat, namun masih jarang digunakan untuk membedah hegemoni media di dunia timur seperti negera kita. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode koleksi data observasi. Observasi pada beberapa konten Youtube. Twitter dan Instagram serta disertai dengan koleksi data melalui aktifitas wawancara dengan pemilik konten seperti Youtuber dan beberapa data Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Konsep diri yang dimiliki oleh kalangan LGBTQ sebagian besar adalah konsep diri terbuka dimana informasi mengenai diri mereka masing-masing juga diketahui oleh orang lain, karena mereka cenderung terbuka pada orang lain. Konsep diri terbuka ini cenderung dipengaruhi oleh persepsi sosial yang bersumber dari pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan orang lain khususnya dalam media sosial mereka. Kata kunci: Self Concept. LGBTQ. Media Baru Abstract This research addresses the question of how LGBTQ individuals conceptualize their identities within new media platforms. The study adopts a novel approach, utilizing Johari Window's self-concept theory, theories of new media, and Judith Butler's queer theory. While queer theory has predominantly been applied to analyze LGBTQ issues in Western contexts, its application to media hegemony in Eastern settings, such as Indonesia, remains limited. This qualitative research employs observation as the primary data collection Observations were conducted on selected YouTube. Twitter, and Instagram content, complemented by interviews with content creators, including YouTubers, and a review of relevant The data analysis method is descriptive qualitative. The findings reveal that LGBTQ individuals predominantly exhibit an "open self-concept," wherein personal information is willingly shared with others. This openness is influenced by social perceptions, shaped by their interactions, particularly within their social media environments. Key words: Self-Concept. LGBTQ. New Media PENDAHULUAN Kajian terkait LGBTQ hingga saat ini masih dianggap tabu. Hal ini terutama di negara kita dengan kultur ketimuran menganggap LGBTQ sebagai stigmatisasi golongan pelanggar moral dan sesuatu yang dikur serba tidak normal dan menular. Menariknya, pada catatan yang ditelusuri penulis, meski sejak lama kalangan LGBTQ di Indonesia kerapkali mendapatkan tekanan, keberadaan golongan ini seolah tidak pernah surut mengekspresikan bentuk bentuk ruang sosialnya, baik melalui ekspresi seni maupun sikap lewat fenomena sosial tertentu. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani Kondisi yang paling aktual adalah pro kontra penolakan film Kucumbu Tubuh Indahku. Film ini mendapatkan pemblokiran akibat sweeping sepihak dari ormas Front Pembela Islam. Film ini dianggap mempropagandakan LGBTQ khususnya transgender dan gay. Namun meski dihadang dalam bentuk pelarangan pemutaran film, film ini berhasil menuai prestasi dalam ajang kompetisi film dunia maupun nasional. Kasus ini adalah sedikit dari sekian banyak aksi-aksi ekpresi LGBT yang saling berbalas dalam ruang ruang sosial ekspresi yang mereka ciptakan. Penelitian ini akan secara khusus menelisik identitas-identitas LGBTQ yang muncul dalam media baru sebagai bagian ekspresi ruang baru yang mereka ciptakan. Selama ini kajian-kajian terkait pemetaan identitas banyak dikaji melalui aktivisme anak muda, komoditas net working (Losh, 2. kultur penggemar (Edwards, 2. , dan ruang sosial (Lazzara, 2. Pada kajiankajian ini masih minim penelusuran atas pembentukan identitas yang muncul dalam setiap tayangan yang ada dalam media baru. Penelitian ini berupaya membongkar fenomena sosial kemunculan identitas identitas LGBTQ yang seolah selalu memiliki penciptaan baru yang sangat cepat atas ruang sosialnya di Tercatat misalnya, beberapa waktu lalu Negara, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominf. melayangkan surat permintaan kepada Google untuk mencabut 73 aplikasi yang berkaitan dengan LGBT. Negara Kemenkominfo menghadang konten LGBT di dunia maya, khususnya yang terpajang di Google, meski banyak menyisakan perdebatan banyak pihak termasuk dengan pihak Google sendiri yang harus mematuhi standar (SOP) mereka dalam pencabutan konten. Salah satu aplikasi LGBT yang diajukan Kemekominfo untuk diblokir adalah Blued. Blued adalah fasilitas chatting serta interaksi dalam bentuk teks, foto, dan video untuk sesama Meski telah diblokir, beberapa situs yang tersedia di sosial media tetap bermunculan, termasuk 169 situs LGBTQ yang diberitakan oleh Kemenkominfo. Salah satu logika yang dibangun oleh Negara pada upaya pemblokiran ini adalah konten yang bermuatan asusila dan promosi yang mengikuti gaya hidup LGBTQ (Sumber w. id 23 Januari 2. Selama ini beberapa riset yang mendalami studi ini memang masih minim. Hal ini salah satunya karena ketidakberpihakan dunia akademis terhadap isu isu LGBTQ yang juga masih diletakkan pada kerangka ketabuan/stigmatisasi. Berbeda dengan studi studi yang sudah dilakukan di luar negeri, dimana persoalan LGBTQ sudah diaktualisaiskan dengan teori teori feminisme dan media baru (Dzara, 2010. Hanmer, 2. Bahkan beberapa studi terkait LGBTQ dan media juga secara spesifik mampu dipetakan secara khusus misalnya terkait aktivisme anak muda, komoditas net working (Losh, 2. kultur penggemar (Edwards, 2. , dan ruang sosial (Lazzara, 2. Seharusnya untuk meminimalisir ruang gerak LGBTQ, penelitian serupa harus dilakukan dan diperbanyak. Hal ini adalah untuk mengetahui pada jenis isu isu apa media baru bagi LGBTQ ini bisa diciptakan ruang barunya sehingga bisa diambil langkap pengantisipasiannya. Penelitian ini akan mencoba menjawab beragam persoalan aktualisasi LGBTQ di ruang sosial media baru dengan lebih melihat pada aspek self concept . onsep dir. yang melihat pada dimensi pemanfaatan teori psikologi komunikasi, new media, serta queer teori. Cara pandang atas konsep diri menjadi penting untuk dikaji dalam riset ini terlebih untuk melihat kecenderungan umum apa yang dimunculkan kalangan LGBTQ saat mereka mendapatkan tekanan / opresif dari sebagian besar aparatus masyarakat kita. Kontestasi atas sikap mereka kemudian dikaji melalui ekspresi mereka melalui ruang media baru. Kecenderungan ini dikaji melalui teori psikologi komunikasi serta perilaku mereka yang seringkali dianalisis melalui teori queer. Fokus kajian penelitian ini akan melihat aktualisasi media baru yang diciptakan LGBTQ dan tertampil di youtube. Peneliti akan mencermati dan menganalisis konten bersangkutan dan berusaha pula mewawancarai content creator situs bersangkutan serta di crosscheck secara persepsional pada para pengguna/pemanfaat atau pengkonsumsi media bersangkutan yang ada di beberapa wilayah di Bali. Artikel ini berangkat dari rumusan masalah bagaimana aktualisasi konsep diri kalangan LGBTQ pada media baru yang diciptakannya. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani METODE Artikel ini menguraikan metodologi penelitian kualitatif deskriptif mengenai konsep diri LGBTQ dalam media baru di Bali. Penelitian bertujuan menggambarkan objek secara holistik menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam dengan pemilik konten LGBTQ dan penggunanya di Bali, yang dipilih karena kemunculan konten di wilayah tersebut. Data sekunder berasal dari sumber pustaka, media cetak, dan statistik daerah, serta dokumen dari pejabat berwenang dan organisasi masyarakat sipil. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dengan pedoman wawancara untuk mendapatkan data primer, dengan informan kunci dipilih secara purposive sampling. Selain itu, digunakan teknik dokumentasi yang mencakup berbagai rekaman atau catatan terkait. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara deskriptif. Data primer hasil wawancara digabungkan dengan data sekunder, diverifikasi, dan di-cross-check. Analisis menggunakan kerangka teoritik konsep diri LGBTQ dalam media baru, dan hasilnya disajikan secara kualitatif untuk mendeskripsikan pola konsep diri tersebut secara sistematis. Analisis ini juga diinterpretasikan dengan proyeksi ke depan untuk menghasilkan pengetahuan baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Kajian terkait LGBTQ hingga saat ini masih dianggap tabu terutama di negara kita dengan kultur ketimuran menganggap LGBTQ sebagai stigmatisasi golongan pelanggar moral dan sesuatu yang dikur serba tidak normal dan menular. Menariknya, pada catatan yang ditelusuri penulis, meski sejak lama kalangan LGBTQ di Indonesia kerapkali mendapatkan tekanan, keberadaan golongan ini seolah tidak pernah surut mengekspresikan bentuk bentuk ruang sosialnya, baik melalui ekspresi seni maupun sikap lewat fenomena sosial tertentu. Kondisi yang paling aktual adalah pro kontra penolakan film Kucumbu Tubuh Indahku. Film ini mendapatkan pemblokiran akibat sweeping sepihak dari ormas Front Pembela Islam. Film ini dianggap mempropagandakan LGBTQ khususnya transgender dan gay. Namun meski dihadang dalam bentuk pelarangan pemutaran film, film ini berhasil menuai prestasi dalam ajang kompetisi film dunia maupun nasional. Kasus ini adalah sedikit dari sekian banyak aksi-aksi ekpresi LGBT yang saling berbalas dalam ruang ruang sosial ekspresi yang mereka ciptakan. Penelitian ini akan secara khusus menelisik identitas-identitas LGBTQ yang muncul dalam media baru sebagai bagian ekspresi ruang baru yang mereka ciptakan. Selama ini kajian-kajian terkait pemetaan identitas banyak dikaji melalui aktivisme anak muda, komoditas net working (Losh, 2. kultur penggemar (Edwards, 2. , dan ruang sosial (Lazzara, 2. Pada kajiankajian ini masih minim penelusuran atas pembentukan identitas yang muncul dalam setiap tayangan yang ada dalam media baru. Salah satu aplikasi LGBT yang diajukan Kemekominfo untuk diblokir adalah Blued. Blued adalah fasilitas chatting serta interaksi dalam bentuk teks, foto, dan video untuk sesama penggunanya. Meski telah diblokir, beberapa situs yang tersedia di sosial media tetap bermunculan, termasuk 169 situs LGBTQ yang diberitakan oleh Kemenkominfo. Salah satu logika yang dibangun oleh Negara pada upaya pemblokiran ini adalah konten yang bermuatan asusila dan promosi yang mengikuti gaya hidup LGBTQ (Sumber Selama ini beberapa riset yang mendalami studi ini memang masih minim. Hal ini salah satunya karena ketidakberpihakan dunia akademis terhadap isu-isu LGBTQ yang juga masih diletakkan pada kerangka ketabuan/stigmatisasi. Berbeda dengan studi studi yang sudah dilakukan di luar negeri, dimana persoalan LGBTQ sudah diaktualisaiskan dengan teori teori feminisme dan media baru (Dzara, 2010. Hanmer, 2. Bahkan beberapa studi terkait LGBTQ dan media juga secara spesifik mampu dipetakan secara khusus misalnya terkait aktivisme anak muda, komoditas net working (Losh, 2. kultur penggemar (Edwards, 2. , dan ruang sosial (Lazzara, 2. Seharusnya untuk meminimalisir ruang gerak LGBTQ, penelitian serupa harus dilakukan dan diperbanyak. Hal ini adalah untuk mengetahui pada jenis isu isu apa media baru bagi LGBTQ ini bisa diciptakan ruang barunya sehingga bisa diambil langkap pengantisipasiannya. Penelitian Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani ini akan mencoba menjawab beragam persoalan aktualisasi LGBTQ di ruang sosial media baru dengan lebih melihat pada aspek self concept . onsep dir. yang melihat pada dimensi pemanfaatan teori psikologi komunikasi, new media, serta queer teori. Cara pandang atas konsep diri menjadi penting untuk dikaji dalam riset ini terlebih untuk melihat kecenderungan umum apa yang dimunculkan kalangan LGBTQ saat mereka mendapatkan tekanan/opresif dari sebagian besar aparatus masyarakat kita. Kontestasi atas sikap mereka kemudian dikaji melalui ekspresi mereka melalui ruang media baru. Kecenderungan ini dikaji melalui teori psikologi komunikasi serta perilaku mereka yang seringkali dianalisis melalui teori queer. Penelitian tentang konsep diri di kalangan LGTQ dalam penciptaan media baru masih terbatas dan banyak didominasi penelitian deskriptif maupun persepsional khusus terkait upaya mereka dalam melepaskan himpitan stigmatisasi yang berlangsung di sekelilingnya. Hal ini seperti penelitian yang dilakukan oleh Ardi. Yendi. Ifdil . terkait komunikasi psikologis pada konseling siswa dari kalangan LGBTQ. studi Hoon . terkait stigmatisasi LGBTQ pada kalangan urban umat religius. serta kajian Jowett . terkait eksistensi kalangan LGBTQ menghadapi tekanan homophobia. Pada konteks relasinya dengan penelitian ini, terdapat kajian Losh . Diungkapkan bahwa bentuk bentuk media dimunculkan kalangan LGBTQ lebih merujuk pada media berbasis internet, termasuk situs web, tv berbasis web, berita berbasis web, media sosial, jejaring sosial, dan berbagi video. Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa kalangan LGBTQ menggunakan media baru untuk mengeksploasi identitas, perilaku, dan gaya hidup yang sifatnya tetap dan tidak dapat diakses secara offline. LGBT memiliki kemampuan mengembangkan identitas minoritas seksual secara online sedangkan kehidupan offline mengharuskan mereka hadir untuk mengatasi heteroseksual atau membatasi penyajian seksualitas ideal mereka dengan cara tertentu. Pengetahuan kalangan LGBT sangat cepat berkembang terutama dalam pembentukan identitas termasuk strategi dalam memberikan pengaruh terhadap penguatan identitas. Pada situasi sama. Lazara . menyebut bahwa kecenderungan LGBTQ kalangan remaja dan anak muda memiliki aktualisasi atas ekspresi di media sosial sangat besar. Mereka merpresentasikan keberadaannya secara apa adanya, termasuk semangat untuk menumbuhan harga dir, termasuk pengalaman saling berbagi saat harus melarikan diri dari keluarga, perlawanan pada lingkungan, hingga kondisi pencarian pada lingkungan yang mau menerima mereka apa adanya. Fragmentasi atas penggunaan media baru ini memang menyertakan beragam wacana. Beberapa titik temu atas riset riset diatas dicoba dijalin oleh riset Dzara, 2010 dan Hanmer, 2009. Dzara menegaskan soal imajinasi masa depan yang seringkali dibayangkan oleh kalangan LGBTQ. Situs yang seringkali digunakan adalah Tumblr, situs microblogging dan jejaring sosial. Mereka membentuk kolektifitas diantara mereka untuk membangun pendapat soal masa depan mereka secara onloine dan ruang digital lainnya. Sedangkan Hanmer lebih banyak menekan pada aspek penguatan identitas antar LGBTQ dalam ruang internet. Fasilitas yang seringkali mereka gunakan adalah media sosial, blog, dan komunikasi pribadi antar email sevagai platform yang seringkali mereka gunakan. Motifpun bermacam dari pemerangan soal diskriminasi, pencarian informasi, pembentukan identitas hingga ke keintiman. Teori yang digunakan dalam riset ini adalah konsep diri. Konsep diri memiliki keterkaitan dengan pembentukan soal diri, dalam bahasa inggrisnya disebut dengan self. Sedangkan persepsi diri disebut dengan self perception, dan konsepsi diri disebut dengan self conception. Secara sederhana persepsi adalah proses aktif dan kreatif manusia dalam mengkonstruk suatu gambar mengenai dunia, benda, situasi, peristiwa, menjadi prasyarat bagi pentingnya proses untuk saling memahami . diri dan orang lain di sekitar kita. Konsep ini menekankan soal proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisir dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita, bahkan ia adalah inti dari komunikasi. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani Pemahaman tentang diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini. Sedangkan orang lain dalam bahasa inggrisnya disebut dengan the other. Persepsi terhadap orang lain dikenal dengan istilah perception to the other, dan konsepsi terhadap orang lain disebut dengan conception to the other. Persepsi pada akhirnya akan membentuk konsepsi tertentu terhadap apa yang dipersepsi. Karena itu persepsi dan konsepsi senantiasa pengaruh Ae Persepsi yang salah akan membuat kelirunya konsepsi. Sebaliknya konsepsi yang salah juga akan membuat persepsi yang tidak benar. Teori media baru sangat berhubungan dengan konsep diri ini terutama terkait dalam penguatan identitas secara online. Teori media baru dikembangkan oleh Pierre Levy, yang mengemukakan bahwa media baru merupakan teori yang membahas mengenai perkembangan Dalam teori media baru, terdapat dua pandangan, pertama yaitu pendangan interaksi sosial, yang membedakan media menurut kedekatannya dengan interaksi tatap muka. Pierre Levy memandang World Wide Web . sebagai sebuah lingkungan informasi yang terbuka, fleksibel dan dinamis, yang memungkinkan manusia mengembangkan orientasi pengetahuan yang baru dan juga terlibat dalam dunia demokratis tentang pembagian mutual dan pemberian kuasa yang lebih interaktif dan berdasarkan pada masyarakat . ttp://en. New Media atau media online didefinisikan sebagai produk dari komunikasi yang termediasi teknologi yang terdapat bersama dengan komputer digital. Definisi lain media online adalah media yang di dalamnya terdiri dari gabungan berbagai elemen. Itu artinya terdapat konvergensi media di dalamnya, dimana beberapa media dijadikan satu (Lievrouw, 2. New Media merupakan media yang menggunakan internet, media online berbasis teknologi, berkarakter fleksibel, berpotensi interaktif dan dapat berfungsi secara privat maupun secara publik. Definisi lain mengemukakan, media baru merupakan digitalisasi yang mana sebuah konsep pemahaman dari perkembangan zaman mengenai teknologi dan sains, dari semua yang bersifat manual menjadi otomatis dan dari semua yang bersifat rumit menjadi ringkas. Menjadi penting mengkaitkan keberadaan konsep diri LGBTQ dalam media baru dalam kerangka teori queer dari Judth Buttler. Pada teori ini dikemukakan bahwa identitas tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial. Dalam konteks teori, dapat digolongkan sebagai sesuatu yang anti identitas. Ia bisa dimaknai sebagai sesuatu yang non normative atau non essensialis. Dalam teori ini terdapat tiga makna intelektual dan politik, meskipun sulit membuat batasan-batasannya. Teori queer juga dikenal sebagai teori antinormatif, antikategori dan antidominan. Pada intinya teori ini berkaitan dengan soal proses yang difokuskan pada pergerakan yang melintasi ide, ekspresi, hubungan, ruang dan keinginan yang menginovasi perbedaan cara hidup di dunia. Queer menjadi tempat peperangan serta pertandingan yang terus menerus dan tidak Contoh yang paling menarik dan berharga bukanlah yang terdapat didalamnya, dimana seseorang memenuhi kelayakan kita dalam membentuk kategori identitas, tetapi ketika orang tersebut tidak melakukannya. Kemungkinan untuk menampilkan identitas tidak ada akhirnya, masing-masing dari kita memilih dari acuan identitas konstruksi khusus gender, jenis kelamin, seksualitas dan identitas yang sangat pantas dengan kita. Hal inilah yang akan dilihat pada kapasitas keberadaan LGBTQ di ruang media baru. Jika digambarkan dalam bagan, maka persepsi dan konsepsi bagaikan lingkaran komunikasi ayam dan telur ayam, yang tidak pernah tau mana yang lebih dahulu keduanya. interpretasi ini menyertakan simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan pada orang lain. Teori interaksionisme simbolik yang paling populer adalah teori yang dikemukakan Herbert Blumer. Teori interaksionisme simbolik menganalisis masyarakat berdasarkan makna subjektif yang diciptakan individu sebagai basis perilaku dan tindakan Individu diasumsikan bertindak lebih berdasarkan apa yang diyakininya, bukan berdasar pada apa yang secara objektif benar. Apa yang diyakini benar merupakan produk konstruksi sosial yang telah diinterpretasikan dalam konteks atau situasi yang spesifik. Hasil Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani interpretasi ini disebut sebagai definisi situasi. Blumer menuliskan tga prinsip utama teori interaksionisme simbolik. Pertama, kita bertindak dan berperilaku berdasarkan makna yang kita interpretasikan dari perilaku atau tindakan kita. Kedua, makna sosial merupakan hasil konstruksi Ketiga, penciptaan makna sosial dan pemahaman makna sosial merupakan proses interaktif yang terus berlangsung. Makna sosial biasanya sudah eksis jauh sebelumnya. Proses interaksi bisa melanggengkannya, mengubahnya perlahan, atau menggantinya secara radikal. Teori interaksionisme simbolik melihat realitas sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui proses interaksi yang terus berlangsung. Teori ini sering digolongkan sebagai teori mikro sosiologi karena ranah analisisnya sampai pada aspek individu. Terdapat tiga ide dasar interaksi Pertama, pikiran (Min. adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain. Kedua, diri (Sel. adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (The-Sel. dan dunia luarnya. Ketiga, masyarakat (Societ. adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah Berdasarkan penelusuran pada penelitian ini, hal menarik dicermati bahwa perumusan konsep diri yang ada pada kalangan LGBTQ mulai dari persepsi fisik, sosial, hingga psikologis yang bersumber dari pengalaman setiap informan dan interaksi mereka dengan orang lain. Pada informan TO yang tinggal di area Badung, dimana Badung merupakan salah satu pusat pariwisata di Bali. Akulturasi budaya begitu kental di area Badung, berbagai turis lokal maupun manca negara menjadikan Badung sebagai tujuan utama mereka yang cenderung menginginkan Terdapatnya bar, cafe, restaurant dengan sentuhan budaya barat yang esetetik dan dikelilingi pemandangan pantai yang indah, menjadikan Canggu. Seminyak, dan sekitarnya tempat favorit kalangan turis-turis untuk mencari inspirasi dalam membuat konten yang nantinya akan di unggah di media sosial. Informan TO yang kesehariannya tinggal dan bekerja di area Canggu, memiliki persepsi fisik yang cukup positif. Terlihat dari bagaimana ia menpersepsikan fisiknya yang tidak hanya sehat tetapi juga bugar. Ini ia jelaskan karena lingkungan yang mendukung untuk memiliki persepsi fisik positif. TO juga kerap mengunggah konten- konten terkait gaya hidup sehatnya dengan melakukan olahraga di sebuah gym daerah Canggu. Dalam unggahannya ia kerap memperlihatkan before-after gym juga asupan makanan yang ia makan setelah melakukan gym. Caption dalam unggahan tersebut juga sarat dengan bahasa-bahasa positif mengenai pola hidup sehat dan betapa bangganya ia dengan pencapaiannya sekarang setelah rutin berolahraga. Informan DA dan informan lainnya juga memiliki persepsi fisik yang cukup positif. Konsep diri yang dimiliki oleh keseluruhan informan cenderung dipengaruhi oleh persepsi sosial, dimana seluruh informan melihat diri mereka adalah orang yang mudah bergaul. Persepsi sosial ini bersumber dari pengalaman mereka berinteraksi dengan orang lain khususnya di dunia Mereka kerap mengobrol melalui DM . irect messag. pada instagram dan cenderung terbuka menanggapi komen di kolom komentar Youtube. Ini bisa dilakukan karena sebagian besar menyatakan tidak ada alasan untuk menutup diri, karena yang terpenting adalah keluarga sudah menerima kondisi mereka yang memiliki orinetasi seksual yang berbeda dari orang pada Sehingga bagaimana mereka menampilkan diri pada media sosial mereka terlihat apa adanya, tanpa ada yang ditutupi. Konsep diri pada kalangan LGBTQ dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah faktor pengalaman. Faktor pengalaman ini terkait dengan sejarah hidup mereka hingga usia saat ini yang mengalami berbagai hal yang berpengaruh pada diri mereka. Pengalaman yang dimiliki masing-masing informan beragam, namun menariknya hampir seluruh informan memiliki pengalaman masa kecil yang akhirnya mengubah cara pandang mereka terhadap orientasi Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani Hanya satu informan yang memiliki pengalaman buruk yang menurutnya mengubah orientasi seksualnya saat duduk di bangku SMA. Dengan faktor pengalaman masa lalu yang kurang mengenakkan bagi sebagian besar informan mereka memiliki watak introvert saat usia anak-anak hingga remaja. Namun dengan mulai mengenal lingkungan yang lebih luas dan juga kehadiran teknologi komunikasi informasi seperti media sosial, perlahan mereka mulai bisa membuka diri dengan orang lain. Interaksi dengan orang lain khususnya di media sosial akhirnya membentuk persepsi mereka atas dirinya sendiri. Kalangan LGBTQ menggunakan media baru untuk mengeksplorasi identitas, perilaku, dan gaya hidup yang sifatnya tetap dan tidak bisa di akses secara offline. Konsep diri yang ada pada kalangan LGBTQ bukan sekedar persepsi atas diri sendiri namun ada unsur penilaian dimana mereka menilai dang mengukur dirinya berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan orang Dimensi konsep diri kalangan LGBTQ merupakan konsep diri aktual dimana persepsi realistis terhadap diri mereka dengan menyadari siapa diri mereka saat ini dan persepsi yang ingin mereka gambarkan pada orang lain bahwa mereka adalah LGBTQ dan ingin orang lain melihat mereka sama dengan kalangan heteroseksual. Dimensi konsep diri pribadi pada kalangan LGBTQ berusahan menunjukkan bagaiamana mereka menjadi diri sendiri dan apa adanya pada media sosial mereka. Dalam konteks dimensi sosial, dengan menayangkan kontenkonten yang cenderung menunjukkan mereka adalah kalangan LGBTQ maka mereka ingin LGBTQ dipandang oleh orang lain sebagai bagian dari society. Konsep diri positif yang dimiliki oleh seluruh informan juga sangat dipengaruhi oleh orangorang yang dianggap penting oleh mereka seperti orang tua dan teman dekat. Komunitaskomunitas LGBTQ di online juga cukup berpengaruh pada pembentukan konsep diri positif ini. Namun tidak sedikit dari mereka meyakini memilih komunitas LGBTQ yang positif adalah salah satu faktor yang membentuk konsep diri mereka saat ini. Karena tidak sedikit komunitas LGBTQ yang memberikan dampak negatif pagi anggotanya, seperti komunitas PSK pria dan transgender. Dalam media sosial, kalangan LGBTQ ini memang cenderung tidak melakukan filter pada kontenkonten yang mereka unggah. Ini menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja ingin memberikan informasi pribadi sebanyak-banyaknya pada masyarakat khususnya pada media sosial. Dalam konsep Johari Windows, konsep ini merupakan salah satu cara untuk mengenal diri sendiri. Mulai dari dinamika kepribadian kita baik perilaku, perasaan, motivasi yang kita miliki sebagai bagian dari proses komunikasi. Kalangan LGBTQ di media sosial menujukkan AuOpen SelfAy yang besar artinya mereka menyajikan semua informasi baik perilaku, sifat, perasaan, keinginan, ide, motivasi yangdiketahui oleh diri sendiri dan orang lain. Dalam hal ini makin besar area open self maka mengartikan komunikasi yang berlangsung baik antara kalangan LGBTQ dengan pengikut mereka di media sosial. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan temuan dan analisis dalam artikel ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep diri yang terbentuk pada kalangan LGBTQ di media sosial adalah konsep diri aktual, pribadi, dan sosial yang menampilkan kehidupan pribadi mereka dalam kesehariannya untuk mendapatkan pengukuhan sosial dengan harapan kondisi mereka bisa diterima oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Indonesia. Faktor yang mendorong keeksistensian LGBTQ pada media baru adalah faktor sosial seperti keinginan untuk diterima masyarakat dan faktor material seperti mendapatkan likes dan subscribes yang berujung pada perolehan penghasilan atau pendapatan melalui endorsment product. Diperlukan adanya perhatian pemerintah dan departemen terkait dalam mengontrol aktivitas media sosial. Pemangku kebijakan khususnya Kominfo memperhatikan dampak atau efek dari unggahan-unggahan khsusnya kalangan LGBTQ di media sosial mengingat saat ini unggahan tersebut makin banyak dan tidak terkontrol isi pesannya. Para pengguna media sosial baik pembuat konten ataupun penikmat konten mampu menyaring informasi atau pesan mana yang bisa di unggah dan di terima. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Self Concept LGBTQ pada Media Baru Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah I Dewa Ayu Sugiarica Joni. Ni Nyoman Dewi Pascarani DAFTAR PUSTAKA