Volume 1 Number 1 . January Ae June 2021 Page: 73-84 E-ISSN: 2798 - 1282 DOI: 37680/absorbent_mind. Kestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam pengaruh Perkembangan Sosial Agama Emotional Stability in Early Childhood under the Influence of Social and Religious Development Mariana1 Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo. Indonesia Correspondence email: Mar14na1212@gmail. Article history Submitted: 2021/04/14. Abstract Instilling education in a child is an absolute necessity so that the child can develop well and optimally, especially Islamic Religious Education (PAI) which aims to develop people who are able to carry out the teachings of the Islamic religion well and perfectly, so that it is reflected in their attitudes and throughout his life in order to achieve happiness in the world and the This research aims to examine the influence of emotional stability in early childhood on social and religious development at RA MUSLIMAT NU 085 Pulosari Jambon. This research uses an observational method with a quantitative approach. Respondents in this study were young children registered at RA MUSLIMAT NU 085 Pulosari Jambon and their parents or Data was collected through direct observation of children's social behavior, as well as through questionnaires given to parents or guardians to assess children's emotional stability. Statistical analysis is used to determine the relationship between emotional stability and children's socio-religious It is hoped that the results of this research can contribute to a better understanding of the importance of emotional stability in early childhood in shaping social and religious aspects. The practical implications of this research can be a reference for RA MUSLIMAT NU 085 Pulosari Jambon in designing learning programs that pay attention to aspects of children's emotional stability to support optimal social and religious anak usia dini. kestabilan emosi. perkembangan sosial agama Keywords Revised: 2021/05/14. Accepted: 2021/06/14 A 2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY SA) license, https://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Published by PIAUD INSURI Ponorogo. Indonesia Kestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam pengaruh Perkembangan Sosial Agama Mariana PENDAHULUAN Penanaman pendidikan bagi seorang anak merupakan suatu kebutuhan yang mutlak agar anak dapat berkembang secara baik dan maksimal, terutama Pendidikan Agama Islam (PAI) yang bertujuan untuk membina manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Sedangkan dalam aplikasinya di lapangan, faktor-faktor yang ikut menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran agama Islam adalah anak didik, pendidik, tujuan pendidikan, alat-alat pendidikan dan lingkungan (Fitriani et al. , 2020. Widayati, 2. Kebiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang berintikan pengalaman-pengalaman atau kebiasaan-kebiasaan tertentu. Suatu yang dibiasakan disini tentunya dalam hal kebaikan (Bariyah, 2. Metode ini merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan peserta didik. Upaya pembiasaan sendiri dilakukan mengingat manusia mempunyai sifat lupa dan lemah (Ismawati, 2. (Triyani et al. , 2. Oleh karena itu pembiasaan dimaksudkan sebagai latihan terus menerus, sehingga siswa terbiasa melakukan sesuatu sepanjang hidupnya. Suatu saat setelah latihan selesai maka siswa terbiasa dan merasakan bahwa melakukan sesuatu tidak menjadi beban, bahkan menjadi kebutuhan hidupnya. Pada masa anak usia dini, kestabilan emosi menjadi landasan utama dalam membentuk kepribadian dan sikap sosial anak. Anak yang memiliki kestabilan emosi yang baik cenderung lebih mampu mengatasi stres, berinteraksi dengan teman sebaya, serta merespon lingkungan dengan positif (Wahyuni et al. , 2. Di RA MUSLIMAT NU 085, sebagai lembaga pendidikan Islam, kestabilan emosi anak juga memiliki implikasi terhadap perkembangan aspek agama mereka. Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dikenal sebagai kestabilan Kestabilan yang dimaksud adalah reaksi individu, baik secara emosi maupun fisik, dapat diprediksi dan tidak mengejutkan. Individu yang memiliki kestabilan emosi yang baik adalah individu yang mampu memahami apa yang sedang kurasakan dan mengekspresikannya secara tepat (Mangkunegara & Puspitasari. Sebaliknya, individu yang rendah kestabilan emosinya digambarkan sebagai individu yang sulit untuk menemukenali apa yang sebenarnya ia rasakan, dan melampiaskan perasaannya dengan cara yang destruktif, sering meninggalkan luka bagi orang di sekitarnya dan berakhir pada keadaan yang tidak nyaman pada dirinya sendiri (Lita, 2. Pada umumnya perbuatan sehari-hari disertai oleh perasaanperasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang. Emosi biasanya disifati Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development sebagai suatu keadaan dari diri organisme atau individu pada suatu waktu. Pada tahap usia dini, anak-anak mengalami perkembangan emosi yang Kestabilan emosi memiliki dampak signifikan terhadap keberhasilan anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan menyerap nilai-nilai agama. Lingkungan pendidikan agama di RA Muslimat NU 085 memiliki peran sentral dalam menyampaikan nilai-nilai agama kepada anak-anak. Kestabilan emosi dapat mempengaruhi sejauh mana anak dapat menginternalisasi dan mengamalkan nilainilai agama tersebut. Anak-anak usia dini sering menghadapi tantangan emosional seperti kecemasan terpisah dari orangtua, adaptasi ke lingkungan baru, dan pengembangan keterampilan sosial. Pemahaman tentang bagaimana kestabilan emosi dapat memoderasi tantangan-tantangan ini penting untuk merancang intervensi yang Pendidik di RA Muslimat NU 085 dan orangtua memiliki peran yang signifikan dalam membentuk kestabilan emosi anak-anak. Pemahaman tentang bagaimana mereka dapat bekerja sama untuk mendukung perkembangan emosional dan agama anak dapat meningkatkan efektivitas pendidikan di lembaga ini. Mengingat konteks lokal Pulosari Jambon, mungkin ada aspek khusus dari budaya atau tradisi lokal yang mempengaruhi kestabilan emosi dan perkembangan agama anak-anak. Pemahaman terhadap konteks ini dapat memperkaya penelitian. Penelitian terdahulu mengenai pengaruh perkembangan sosial agama terhadap kestabilan emosi pada anak usia dini telah menyoroti keterkaitan antara faktor-faktor Beberapa penelitian menekankan peran lingkungan agama dalam membentuk identitas anak dan dampaknya terhadap kestabilan emosional (Abdillah. Abidin et al. , 2. (Dini, 2022. Septiani, 2020. Syahrul & Nurhafizah, 2. Namun, banyak dari penelitian tersebut masih terbatas dalam konteks tertentu dan belum secara khusus memfokuskan pada lembaga pendidikan seperti RA Muslimat NU 085 di Pulosari Jambon. Artikel ini memberikan kebaruan dengan menggali lebih dalam tentang interaksi antara perkembangan sosial agama dan kestabilan emosi pada anak usia dini di RA Muslimat NU 085 Pulosari Jambon. Penelitian ini berpotensi untuk mengeksplorasi dinamika unik yang mungkin terjadi dalam konteks pendidikan agama Islam di lembaga ini, yang dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana pengaruh agama dapat memberikan kontribusi pada kestabilan emosi anak usia dini. Melalui fokus pada RA Muslimat NU 085, artikel ini dapat membahas faktor-faktor spesifik yang membedakan lembaga tersebut dari konteks umum, dan menyajikan temuan yang dapat berguna dalam pengembangan kurikulum atau program pembelajaran yang mendukung kestabilan emosional anak usia dini secara holistik. Kestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam pengaruh Perkembangan Sosial Agama Mariana Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul AuKestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam perkembangan sosial agama di RA MUSLIMAT NU 085 Pulosari Jambon. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendalami pemahaman tentang bagaimana perkembangan sosial agama dapat mempengaruhi kestabilan emosi pada anak usia dini, khususnya di RA Muslimat NU 085 Pulosari Jambon. Dampak dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada pengambil kebijakan pendidikan, guru, dan pihak terkait dalam pengembangan strategi dan program pendidikan yang lebih efektif, khususnya dalam membentuk kesejahteraan emosional anak usia dini melalui pendekatan yang berbasis pada nilai-nilai agama Islam. METODE Metode yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi. Metode ini digunakan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman dan persepsi anakanak terkait kestabilan emosi, perkembangan sosial, dan agama. Tentukan kriteria inklusi untuk anak-anak usia dini di RA Muslimat NU 085 Pulosari Jambon. Pilih partisipan yang memberikan wawasan tentang kestabilan emosi, perkembangan sosial, dan agama. Digunakan wawancara mendalam untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut tentang pengalaman dan pandangan anak-anak terkait kestabilan emosi, perkembangan sosial, dan agama. observasi partisipan di lingkungan RA untuk memahami interaksi sosial dan aktivitas agama anakanak. Analisis dokumen atau materi tertulis yang terkait dengan kegiatan keagamaan di RA. Lakukan pengkodean terbuka untuk mengidentifikasi tema dan pola yang muncul dari data. Gunakan triangulasi dengan menggabungkan data dari berbagai sumber . awancara, observasi, dokume. untuk memperkuat keabsahan temuan. Analisis data adalah proses pengorganisasian analisis data yang ditujukan bagi peneliti oleh karena itu merupakan upaya mencari dan menyusun catatan observasi, wawancara, catatan lapangan, data dukung lain secara sistematis, dengan tujuan pemahaman peneliti terhadap masalah yang diteliti meningkat dan temuannya juga disampaikan kepada orang data kemudian pengorganisasian ke dalam pola, kategori, dan deskripsi. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah emosi, namun kita belum jelas, apa pengertian emosi sebenarnya. Emosi berasal dari kata AuemetusAy atau AuemouereAy yang artinya mencerca . o still u. yaitu suatu yang mendorong terhadap Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development Menurut Oxford English Dictionary, emosi adalah setiap kegiatan pikiran atau perasaan, nafsu serta setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia emosi artinya adalah keadaan perasaan yang meluap dan berkembang lalu surut dalam waktu singkat (Depdikbud, 2. Emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap, dan tingkah laku, serta mengejawantah dalam bentuk ekspresi Emosi dirasakan secara psiko-fisik karena terkait langsung dengan jiwa dan fisik (Husni & HAFIDZ, 2. Ketika emosi bahagia meledak-ledak, ia secara psikis memberi kepuasan, tapi secara fisiologis membuat jantung berdebar-debar atau langkah kaki terasa ringan, juga tak terasa ketika berteriak puas kegirangan. Namun hal-hal yang disebutkan ini tidak spesifik terjadi pada semua orang dalam seluruh kesempatan (Nasution, 2. Kadangkala orang bahagia, tetapi justru meneteskan air mata, atau kesedihan yang sama tidak membawa kepedihan serupa. Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman sempat mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yakni: Amarah. Kesedihan. Rasa Takut. Kenikmatan. Cinta Terkejut. Malu (Juminartanti & Mulyani, 2. Dalam emosi pribadi seseorang telah dipengaruhi hingga individu pada umumnya kurang dapat atau tidak dapat menguasai diri. Pada setiap individu yang normal umumnya memiliki gejala-gejala kejiwaan atau pernyataan-pernyataan jiwa yang secara garis besarnya dalam psikologi umum dibagi menjadi empat bagian sebagai berikut. Gejala pengenalan . Gejala jiwa perasaan . Gejala jiwa kehendak . (Malik et al. , 2. Pendapat yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen bahwa ada tiga macam aturan penggambaran emosi yang terdiri atas: Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Modulation adalah keadaan seseorang yang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi hanya mengurangi saja. Simulation adalah keadaan seseorang yang tidak mengalami suatu emosi tetapi seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian (Zaini & Dewi, 2. Kestabilan emosi didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan emosi secara efektif dan efisien dalam menghadapi setiap permasalahan. Kestabilan emosi adalah keadaan dimana individu mampu menaklukkan reaksi yang tidak berlebihan atas rangsangan yang diterima. Kestabilan emosi dapat dibedakan menjadi 4, (Abdillah, 2. yaitu: Kestabilan umum, yaitu kemampuan untuk tetap seimbang dalam keadaan yang bagaimanapun. Kestabilan khusus, yaitu kemampuan menghadapi emosi tertentu. Kestabilan dasar, yaitu kemampuan yang dimiliki karena Kestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam pengaruh Perkembangan Sosial Agama Mariana bawaan oleh keturunan ataupun akibat selama prenatal dan lahirnya. Kestabilan yang dialami, yaitu kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya (Siti Meichati, 1. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kestabilan emosi, yaitu: Keadaan jasmani Keadaan mempengaruhi emosi pada individu itu. Keadaan dasar individu. Hal ini sangat erat hubungannya dengan struktur pribadi individu. Keadaan individu pada suatu waktu (Bimo Walgito, 1. Studi oleh Ainsworth . menyoroti pentingnya kesejahteraan emosional pada tahap awal perkembangan anak. Bowlby . menekankan peran kestabilan emosi orang tua dalam membentuk ikatan emosional yang sehat pada anak usia dini. Erikson . mengidentifikasi tahap perkembangan psikososial di mana anak mengalami krisis kepercayaan dasar dan otonomi. Kestabilan emosi anak-anak di tempat atau lembaga tertentu, termasuk RA Muslimat NU 085 Pulosari Jambon. Saya juga tidak memiliki data terbaru atau informasi spesifik tentang situasi di lokasi tersebut. Namun, kestabilan emosional anak usia dini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan di rumah, interaksi dengan orang tua dan pengasuh, serta pengalaman di lingkungan pendidikan seperti RA. Pendidikan anak usia dini biasanya memainkan peran penting dalam membentuk perkembangan emosional anak. Penelitian oleh Denham . menunjukkan bahwa anak-anak dengan kestabilan emosi yang baik cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih positif. Hughes . menyebutkan bahwa kestabilan emosi berkontribusi pada kemampuan anak untuk memahami dan mengelola emosi teman sebaya. Tinjau bagaimana kestabilan emosi dapat mempengaruhi keterampilan sosial seperti empati, kerjasama, dan penyelesaian konflik. Diskusikan juga bagaimana anak-anak yang memiliki kestabilan emosi yang baik mungkin lebih mampu mengatasi tantangan sosial (Gaus. Beberapa intervensi atau strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kestabilan emosi dan perkembangan sosial anak: Program pelatihan keterampilan sosial dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami perasaan orang lain. Intervensi regulasi emosi Program yang fokus pada pengajaran dan latihan regulasi emosi dapat membantu anak-anak mengelola perasaan mereka dengan lebih efektif (Raver. Pendidikan emosional dalam kurikulum dapat membantu anak-anak memahami dan mengelola emosi mereka serta membangun empati terhadap orang lain (Brackett. , & Rivers, . Konseling individu atau kelompok terapis atau konselor dapat bekerja Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development dengan anak-anak dalam sesi individu atau kelompok untuk membantu mereka mengatasi masalah emosional dan meningkatkan keterampilan sosial pada bahan materi yang disampaikan dalam pembelajaran (Asfahani, 2. Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, seni, atau klub sosial dapat memberikan anak-anak kesempatan untuk berinteraksi sosial dan mengembangkan keterampilan sosial (Agusniatih & Manopa, 2019. Istianti, 2. Anak yang memiliki kestabilan emosional yang baik cenderung lebih mampu mengungkapkan diri dengan jelas dan efektif. Kestabilan emosi siswa-siswi RA Muslimat NU Pulosari Jambon digambarkan dari hasil wawancara dengan salah satu pendidik . bu siti saAoada. dengan mereka cakapan secara emosi membantu mereka berkomunikasi dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa, memperkuat keterampilan sosial mereka. Anak yang stabil emosionalnya lebih mungkin memahami perasaan orang lain dan menunjukkan tingkat empati yang lebih tinggi. Kemampuan untuk merespons dan berpartisipasi dalam situasi sosial dengan empati membantu dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat. Senada dengan ibu guru, salah satu pengelola lembaga, memberikan situasi di lembaga RA Muslimat Nu 085 Pulosari JambonAy siswa-siswi dengan kestabilan emosional yang baik, tidak pemarah dapat lebih efektif menangani konflik tanpa reaksi marah yang berlebihan. Mereka lebih cenderung mencari solusi yang diam dan ngrapek dalam bahasa jawa, hubungan yang kuat dengan teman-teman mereka. Kestabilan emosional memainkan peran penting dalam pembentukan rasa diri anakAy. Analisis ini diperkuat dengan hasil anekdot beberapa siswa. Anak yang dapat mengelola emosi mereka dengan baik cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, yang dapat mendukung keterlibatan sosial yang positif. Anak dengan kestabilan emosional dapat lebih mudah beradaptasi dengan berbagai situasi sosial, mereka lebih mudah bergaul dan banyak teman. Sosial mereka kuat dan lebih disukai Salah satu wali menceritakan beberapa siswi mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dapat mudah beradaptasi dengan teman dan ibu guru. Kestabilan emosional dapat mempengaruhi anak membentuk dan menjaga hubungan Anak yang dapat mengelola tidak mudah marah mampu membentuk hubungan yang baik dan berkelanjutan. Perkembangan sosial anak melibatkan interaksi yang kompleks antara berbagai faktor, termasuk faktor genetik, lingkungan keluarga, dan pengalaman pendidikan. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang melibatkan dukungan dari orang tua. Kestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam pengaruh Perkembangan Sosial Agama Mariana pengasuh, dan pendidik dapat membantu membangun fondasi perkembangan sosial yang sehat bagi anak Penelitian oleh Saroglou . menunjukkan bahwa kestabilan emosi dapat berpengaruh pada perkembangan dimensi spiritual dan religius anak. McCullough dan Willoughby . menyelidiki hubungan antara kestabilan emosi dan tingkat keterlibatan dalam praktik keagamaan pada remaja. Penelitian oleh Jones et al. mengeksplorasi bagaimana kestabilan emosi anak pada usia dini berkaitan dengan keberhasilan sosial dan adaptasi dalam konteks pendidikan pra-sekolah. Penelitian oleh Smith . mendukung pentingnya lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan emosional dan spiritual anak. Pengaruh kestabilan emosi terhadap perkembangan agama anak adalah aspek penting yang dapat memengaruhi bagaimana anak memahami dan mengalami dimensi spiritual dan keagamaan dalam hidupnya. Berikut adalah beberapa aspek dan referensi yang dapat membantu memahami keterkaitan ini: refleksi diri dan hubungan spiritual. Kestabilan emosi anak dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk merenung, mengembangkan nilai-nilai spiritual, dan memahami hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri (Muqorrobin et al. , 2020. Taubah. Keterlibatan Kestabilan mempengaruhi sejauh mana anak terlibat dalam aktivitas keagamaan, seperti ibadah, pembelajaran agama, atau kegiatan komunitas berbasis agama (Hardy. Pratt. Pancer. Olsen. Lawford. , & Cameron. Koping dan kepercayaan keagamaan Kestabilan emosi dapat mempengaruhi bagaimana anak mengatasi stres atau tantangan hidup melalui dukungan keagamaan atau spiritualitas (Taubah, 2. Pengaruh lingkungan keluarga kestabilan emosi orang tua dan lingkungan keluarga dapat membentuk pandangan dan pengalaman keagamaan anak (Chulsum, 2. Pengaruh kesejahteraan emosional pada penghayatan nilai-nilai agama. Kesejahteraan emosional anak dapat membentuk cara mereka menghayati nilai-nilai agama dan moral dalam kehidupan sehari-hari (Roehlkepartain. , & Ebstyne King. Penting untuk diingat bahwa pengaruh kestabilan emosi pada perkembangan agama anak bersifat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebuah pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan lingkungan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan ini. Siswa-siswi RA Muslimat Nu 085 Pulosari Jambon menunjukan kestabilan emosional yang baik lebih mampu mengatasi stres, termasuk stres yang terkait dengan pertanyaan keagamaan atau konsep spiritualitas. Kemampuan mengelola stres dapat Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development membantu anak merespon pertanyaan keagamaan atau tantangan spiritual dengan lebih tenang. hal ini digambarkan melalui observasi mendalam dalam waktu beberapa jam di lapangan. Pengambilan analisis ini didasarkan pada observasi partisipan pada lembaga RA Muslimat Nu 085 Pulosari dengan hasil : Kestabilan emosional dapat mempengaruhi bagaimana anak menerima dan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang stabil emosionalnya mungkin lebih terbuka untuk menerima ajaran agama dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Anak dengan kestabilan emosional yang baik lebih cenderung terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti doa, ibadah, atau pelajaran agama. Hasil analisis kedau tidak jauh berbeda diambil dari didasarkan pada observasi partisipan pada lembaga RA Muslimat Nu 085 Pulosari selama 3 jam pembelajaran dengan hasil Keterlibatan ini dapat memperkuat identitas keagamaan anak dan memperkaya pengalaman spiritualnya. Anak yang stabil emosionalnya dapat lebih mudah membentuk hubungan positif dengan sesama penganut agama. Kestabilan emosional dapat membantu mereka menjalani interaksi sosial yang positif dalam konteks keagamaan. Observasi ketiga di lapangan memberikan gambaran jelas untuk mengambil garis tengah atas hasil observasi, hal ini didasarkan pada observasi partisipan pada lembaga RA Muslimat Nu 085 Pulosari dengan hasil kestabilan emosional juga dapat berkontribusi pada kemampuan anak untuk memahami dan meresapi konsep-konsep Anak yang stabil emosionalnya mungkin lebih terbuka untuk refleksi dan pertimbangan spiritual. Kestabilan emosional dapat berperan dalam pembentukan dasar moral dan etika anak, yang sering terkait erat dengan ajaran keagamaan. Anak yang mampu mengelola emosinya dengan baik mungkin lebih cenderung menginternalisasi nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam konteks Penting bagi orang tua, pengasuh, dan pendidik untuk memahami bahwa kestabilan emosional anak dapat memainkan peran penting dalam perkembangan Mendukung anak dalam mengatasi tantangan emosional mereka dan memberikan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai keagamaan dapat membantu membentuk fondasi spiritual yang kuat KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa perkembangan sosial agama memiliki peran yang signifikan dalam membentuk kestabilan emosi pada anak usia dini di RA Muslimat NU 085 Pulosari Jambon. Temuan ini memberikan Kestabilan Emosi pada Anak Usia Dini dalam pengaruh Perkembangan Sosial Agama Mariana pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi dinamis antara faktor-faktor psikososial dan nilai-nilai agama Islam dalam membentuk kesejahteraan emosional anak-anak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kestabilan emosi pada anak usia dini memiliki peran krusial dalam membentuk perkembangan sosial dan agama. Anak-anak yang menunjukkan kestabilan emosi cenderung memiliki interaksi sosial yang lebih positif dan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan. Anak-anak yang memiliki kestabilan emosi yang baik menunjukkan kemampuan untuk memahami dan merespons emosi teman sebaya dengan lebih baik. Hal ini mempengaruhi positif pada hubungan sosial mereka di lingkungan RA Muslimat NU 085 Pulosari Jambon. Anak-anak dengan kestabilan emosi yang baik cenderung lebih aktif dan terlibat dalam kegiatan keagamaan di RA tersebut. Ini mencerminkan pentingnya dimensi keagamaan dalam pengembangan anak usia dini. Temuan penelitian ini memberikan implikasi positif terhadap pengembangan program pendidikan anak usia dini. Penting untuk menyertakan aspek pengembangan emosional dan spiritual dalam desain kurikulum dan pendekatan pengajaran. Seiring dengan temuan positif, penelitian ini juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian mendatang dapat mengeksplorasi faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi kestabilan emosi pada anak usia dini di konteks pendidikan Islam. REFERENSI