Peran Komunikasi Antarpribadi dalam Meningkatkan Kepatuhan Gaya Hidup Sehat pada Keluarga Muda Sinta Muda1*. Sitty Fadhilla Fitrianty Lahay2. Irsyad3 Program Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia1,2,3 Received : 02/02/2025 Revised : 29/03/2025 Accepted : 01/05/2025 Published : 31/05/2025 Corresponding Author: Author Name*: Sinta Muda Email*: sintamuda222@gmail. DOI: A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Phone*: 6285298545180 Abstract: Penelitian ini menganalisis peran komunikasi antarpribadi dalam meningkatkan kepatuhan gaya hidup sehat pada keluarga muda, dengan fokus pada pola makan sehat, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif melalui penelusuran sistematis pada Google Scholar. PubMed. ScienceDirect, dan Portal Garuda terhadap sumber publikasi tahun 2015Ae2025. Sebanyak 47 literatur dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi untuk mengidentifikasi pola, mekanisme komunikasi, dan determinan perilaku sehat dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi yang terbuka, suportif, dan konsisten berperan penting dalam memediasi perilaku makan sehat, meningkatkan motivasi aktivitas fisik, serta membantu keluarga mengelola stres. Aktivitas fisik terbukti berfungsi sebagai proteksi stres, sementara pola makan sehat berkaitan dengan kualitas komunikasi dalam keluarga. Penelitian ini menegaskan perlunya pendekatan promosi kesehatan berbasis keluarga yang mengintegrasikan komunikasi interpersonal sebagai strategi inti dalam membangun kepatuhan gaya hidup sehat keluarga muda. Keywords: Komunikasi Antarpribadi. Keluarga Muda. Gaya Hidup Sehat. Pola Makan. Aktivitas Fisik Pendahuluan Gaya hidup sehat menjadi kebutuhan mendesak bagi keluarga muda di Indonesia, terutama karena fase kehidupan awal keluarga ditandai dengan tekanan pekerjaan, penyesuaian peran, dan tuntutan finansial yang memengaruhi pola makan, aktivitas fisik, serta pengelolaan stres. Keluarga merupakan unit strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat, sebagaimana ditekankan dalam program Keluarga Sadar Gizi yang menempatkan keluarga sebagai investasi masa depan untuk pembangunan sumber daya manusia (Kementerian Kesehatan RI, 2. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan Indonesia masih dihadapkan pada masalah gizi kompleks, termasuk tingginya prevalensi obesitas pada dewasa yang terus meningkat, serta masalah gizi kurang yang terjadi di seluruh strata ekonomi masyarakat (Kementerian Kesehatan RI. Tekanan psikososial yang tinggi berkontribusi terhadap penurunan kualitas pola makan dan aktivitas fisik pada keluarga muda. Penelitian menunjukkan ___________ How to Cite: Muda. Lahay. Irsyad, & Zahraini. Peran komunikasi antarpribadi dalam meningkatkan kepatuhan gaya hidup sehat pada keluarga muda. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. bahwa 82,5% mahasiswa sebagai representasi dewasa muda mengalami stres yang berdampak pada perubahan pola makan dan aktivitas fisik (Luthfiya et al. , 2. Studi lain menemukan hubungan signifikan antara stres akademik, pola makan, dan aktivitas fisik dengan obesitas remaja selama pandemi . = 0,005. p = 0,026. = 0,. (Rahma et al. , 2. Lebih lanjut, 43,5% subjek penelitian mengalami stres yang berkorelasi dengan perubahan perilaku makan . ,3%), asupan energi kurang . ,3%), dan aktivitas fisik kurang . ,5%) (Purnomo et al. , 2. Meskipun bukti mengenai hubungan stres, pola makan, dan aktivitas fisik cukup kuat, sebagian besar penelitian sebelumnya meneliti populasi mahasiswa atau individu tanpa mempertimbangkan dinamika komunikasi dalam keluarga. Padahal, keluarga muda adalah arena komunikasi intensif tempat pasangan berinteraksi, berdiskusi, dan membangun keputusan kesehatan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terbuka dan suportif dapat meningkatkan kesehatan mental dan perilaku adaptif (Setiyawati, 2. Pola komunikasi dan interaksi dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kesehatan mental, di mana cara keluarga mengekspresikan dan mengomunikasikan sesuatu dapat membentuk kesehatan atau justru gangguan mental (Setiyawati, 2. Data terkini menunjukkan urgensi perhatian terhadap kesehatan mental di Indonesia. Survei Asia Care 2024 mencatat 56% masyarakat Indonesia mengkhawatirkan stres atau burnout sebagai masalah kesehatan mental utama, diikuti gangguan tidur . ,6%) dan kecemasan . ,2%) (Kementerian Koordinator Bidang Kemanusiaan, 2. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) melaporkan bahwa 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan, menunjukkan kondisi yang memperburuk ketahanan keluarga (Supini et al. , 2. Lebih mengkhawatirkan. Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa 2024 mencatat prevalensi gangguan kecemasan meningkat menjadi 16% dan depresi menjadi 17,1%, naik signifikan dari angka 9,8% dan 6% pada Riskesdas 2018 (Kementerian Kesehatan RI, 2. Kondisi ini menimbulkan tiga kesenjangan penelitian penting. Pertama, belum ada bukti memadai mengenai bagaimana komunikasi interpersonal dalam keluarga muda dapat memediasi atau memperkuat kepatuhan terhadap pola makan sehat dan aktivitas fisik. Kedua, dinamika stres dalam keluarga muda sebagian besar diteliti sebagai fenomena individual, bukan sebagai hasil interaksi komunikasi sehari-hari. Ketiga, penelitian sebelumnya cenderung berorientasi pada hubungan statistik, bukan pada mekanisme komunikasi yang memengaruhi Teori komunikasi kesehatan menekankan bahwa perilaku sehat terbentuk melalui proses interpersonal seperti dukungan emosional, validasi, persuasi, negosiasi, serta pemantauan bersama (DeVito, 2. Dalam konteks keluarga, komunikasi diatur oleh aturan-aturan tertentu yang membentuk pola interaksi sehari-hari, termasuk keterbukaan dalam membicarakan kesehatan, pola makan, dan gaya hidup (DeVito, 2. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang mengintegrasikan tiga aspek gaya hidup sehat pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stre dengan analisis mekanisme komunikasi antarpribadi dalam keluarga muda, sebuah wilayah kajian yang belum banyak dieksplorasi dalam konteks Indonesia. Dengan memadukan perspektif komunikasi, perilaku kesehatan, dan dinamika keluarga, penelitian ini berpotensi memberikan kerangka baru untuk memahami bagaimana pasangan muda membangun kepatuhan terhadap gaya hidup sehat. Integrasi berbagai temuan empiris sebelumnya yang umumnya terpisah antara stres, pola makan, dan aktivitas fisik membuka ruang untuk memahami perilaku kesehatan secara holistik. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab kekosongan tersebut dengan menawarkan pemahaman komprehensif mengenai peran komunikasi antarpribadi dalam membentuk perilaku sehat keluarga muda di Indonesia, sekaligus memperkuat landasan promosi kesehatan berbasis dinamika hubungan interpersonal. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur untuk menganalisis peran komunikasi antarpribadi dalam meningkatkan kepatuhan gaya hidup sehat pada keluarga muda, khususnya terkait pola makan sehat, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Studi literatur dipilih karena topik penelitian membutuhkan sintesis pengetahuan dari berbagai sumber ilmiah untuk memahami pola, mekanisme, dan determinan perilaku sehat dalam konteks komunikasi keluarga. Pengumpulan literatur dilakukan melalui penelusuran sistematis pada basis data ilmiah seperti Google Scholar. PubMed. ScienceDirect, dan Portal Garuda, dengan kata kunci Aukomunikasi antarpribadiAy. Augaya hidup sehatAy. Aupola makan keluargaAy. Auaktivitas fisikAy. Aumanajemen stresAy, dan Aukeluarga mudaAy. Kriteria inklusi mencakup artikel jurnal, laporan penelitian, dan dokumen resmi yang diterbitkan dalam rentang waktu 2015Ae2025, memiliki relevansi langsung dengan variabel penelitian, serta memenuhi kualitas metodologis yang memadai. Artikel klasik sebelum tahun tersebut tetap dipertimbangkan jika memiliki kontribusi teoretis signifikan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis isi . ontent analysi. dengan langkah: membaca literatur secara menyeluruh, mengidentifikasi tema-tema utama, mengekstraksi temuan-temuan kunci, dan mengorganisasi informasi secara tematik. Proses sintesis dilakukan dengan membandingkan temuan antar penelitian untuk melihat kesamaan, perbedaan, dan pola hubungan antar konsep. Validitas dijaga melalui triangulasi sumber dengan membandingkan informasi dari berbagai jenis publikasi dan memeriksa konsistensi hasil melalui beberapa literatur terpercaya. Hasil analisis kemudian disajikan secara naratif untuk Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. menggambarkan hubungan antara komunikasi antarpribadi dan kepatuhan gaya hidup sehat pada keluarga muda. Hasil Penelitian Studi literatur ini mengkaji 47 artikel ilmiah yang terdiri dari 28 jurnal penelitian empiris, 12 laporan kebijakan kesehatan pemerintah, dan 7 artikel review yang diterbitkan dalam rentang tahun 2014-2025. Literatur yang dikaji mencakup tiga fokus utama: . komunikasi keluarga dan kesehatan . , . pola makan dan nutrisi keluarga . , dan . stres, aktivitas fisik, dan kesehatan mental . Mayoritas studi menggunakan desain cross-sectional . ,5%), kualitatif . %), dan longitudinal . ,5%) dengan populasi yang beragam meliputi keluarga muda, remaja, mahasiswa, dan lansia di Indonesia. Analisis Tematik Penelitian Berdasarkan sintesis mendalam dari berbagai literatur, ditemukan lima tema utama yang menggambarkan peran komunikasi antarpribadi dalam membentuk gaya hidup sehat keluarga muda: Tabel 1. Tema Utama. Sub-tema, dan Temuan dari Literatur Tema Utama Komunikasi Keluarga Determinan Pola Makan Sub-tema Peran Ibu dalam Menentukan Konsumsi Nutrisi Makan Bersama sebagai Media Komunikasi Pola Pluralistik Pengambilan Keputusan Stres dan Perilaku Kesehatan Keluarga Korelasi Stres dengan Pola Makan Stres Akademik dan Obesitas Dukungan Keluarga dalam Manajemen Stres Temuan Literatur Penelitian menunjukkan pola komunikasi dalam menentukan konsumsi nutrisi didominasi oleh ibu. Faktor internal yang menentukan adalah waktu berkomunikasi, rendahnya pengetahuan tentang nutrisi, dan keterbatasan ekonomi. Kegiatan makan bersama digunakan sebagai ruang komunikasi berkualitas tanpa jarak antar anggota keluarga. Keluarga yang rutin makan bersama cenderung memiliki pola konsumsi lebih sehat, lebih banyak makan sayur dan buah. Untuk kegiatan makan di luar rumah, keluarga cenderung menerapkan pola pluralistik dimana orang tua membuka ruang diskusi dengan anak dalam pengambilan keputusan menu makanan. Penelitian menemukan hubungan signifikan antara tingkat stres dengan pola makan . =0,. Sebesar 82,5% remaja mengalami stres yang berdampak pada perubahan pola makan. 54,3% subjek dengan stres mengalami perubahan perilaku makan dan asupan energi kurang. Studi menemukan hubungan signifikan antara stres akademik, pola makan, dan aktivitas fisik dengan obesitas remaja . =0,005. p=0,026. p=0,. selama Konflik keluarga yang tidak terselesaikan memicu stres dan kecemasan. Dukungan emosional dari orang tua dan komunikasi yang suportif dapat mengurangi dampak negatif stres terhadap kesehatan mental Sumber Utama Wardyaningrum . Norgaard & Brunso . FAO . Untar . Chen Wardyaningrum Luthfiya et al. Purnomo et Rahma et al. Biofarma . IDAI . Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Aktivitas Fisik sebagai Proteksi Kesehatan Keluarga Rendahnya Aktivitas Fisik di Indonesia Aktivitas Fisik dan Stres Prinsip Aktivitas Fisik BBTT Peran Orang Tua dalam Membentuk Perilaku Sehat Orang Tua sebagai Role Model Komunikasi Positif Meningkatkan Kesejahteraan Kurangnya Peran Organisasi Masyarakat Gaya Hidup Sehat dan Media Komunikasi Perubahan Pola Makan Modern Saluran Komunikasi Kesehatan Program Keluarga Sadar Gizi Data Riskesdas 2013 menunjukkan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan PTM meningkat pada kelompok usia muda . -15 tahu. dan produktif . -65 Hipertensi mencapai 25,8%, obesitas 15,4%, dan diabetes 2,3%. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan tingkat stres. Aktivitas fisik minimal 60 menit/hari untuk usia 6-17 tahun dapat mengurangi depresi, kecemasan, dan stres. Aktivitas fisik merupakan pereda stres penting bagi segala usia. Aktivitas fisik efektif harus dilakukan dengan prinsip Baik. Benar. Terukur, dan Teratur (BBTT), yaitu 3-5 kali/minggu dengan durasi 30-60 menit, disesuaikan kondisi fisik dan kemampuan. Penelitian menunjukkan hubungan bermakna antara peran orang tua dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja . <0,. Remaja masih dominan dipengaruhi lingkungan keluarga terutama orang tua dalam memilih makanan. Percakapan positif saat makan bersama membantu proses pencernaan dan meningkatkan metabolisme nutrisi. Katakata positif mengembangkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis. Faktor eksternal yang menghambat adalah lingkungan sosial yang kurang berinteraksi dan kurangnya peran organisasi (PKK, koperasi, sekola. dalam memberikan pengetahuan nutrisi. Globalisasi berpengaruh pada gaya hidup, mengubah pola makan tradisional Indonesia yang sehat menjadi miskin serat dan nutrisi. 88,5% siswa kurang mengonsumsi buah dan sayur. Informasi gaya hidup sehat disebarkan melalui media sosial (WhatsApp. Line. Messenge. , seminar kesehatan, dan komunikasi interpersonal dari teman atau Riskesdas 2023 dan Global Nutrition Report . menunjukkan keluarga Indonesia mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat sederhana dan lemak jenuh, rendah serat dan protein. Susenas 2023 mencatat penurunan frekuensi makan bersama di perkotaan. Kemenkes P2PTM BINUS Parent . US DHHS Kemenkes P2PTM Sharps et al. Hammons & Fiese . Untar . McHugh et al. Wardyaningrum Ayosehat Kemenkes . ARGIPA . Ratnasari . Susilo . UPI Gizi . Kemenkes RI Sumber: Analisis Peneliti, 2025 Tabel 2. Prevalensi dan Data Epidemiologi Gaya Hidup Sehat di Indonesia Indikator Kesehatan Hipertensi Prevalensi (%) 25,8% Tahun Sumber Keterangan Riskesdas 2013 Kelompok usia Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Obesitas Diabetes Melitus Gangguan Kecemasan 15,4% 2,3% Depresi 17,1% Stres/Burnout Riskesdas 2013 Riskesdas 2013 Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa Survei Asia Care Gangguan Tidur Mahasiswa Stres 42,6% 82,5% Survei Asia Care Luthfiya et al. Siswa Kurang Konsumsi Sayur & Buah Remaja Masalah Kesehatan Mental 88,5% ARGIPA 15,5 juta I-NAMHS Dewasa Populasi umum Naik dari 9,8% . Naik dari 6% . Masalah kesehatan mental utama Populasi Indonesia Berdampak pada pola makan SMP Jakarta Termasuk depresi & Sumber: Analisis Peneliti, 2025 Tabel 3. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi dan Gaya Hidup Sehat Keluarga Kategori Faktor Faktor Internal Keluarga Faktor Spesifik Waktu komunikasi antar anggota keluarga Pengetahuan gizi orang Keterbatasan ekonomi Pola asuh Faktor Eksternal Lingkungan sosial Peran Globalisasi Media massa Faktor Psikososial Tekanan akademik/pekerjaan Perundungan . Konflik keluarga Dampak terhadap Gaya Hidup Sehat Waktu terbatas mengurangi kualitas diskusi kesehatan dan perencanaan menu Rendahnya menu kurang sehat Mempengaruhi akses terhadap makanan bergizi dan fasilitas Pola asuh terlalu protektif atau meningkatkan risiko gangguan Kurang interaksi dengan masyarakat lain menghambat Kurangnya PKK, edukasi nutrisi Mengubah tradisional sehat menjadi tinggi lemak, rendah serat Iklan makanan tidak sehat di TV mempengaruhi pilihan Menyebabkan stres yang berdampak pada pola makan dan aktivitas fisik Menyebabkan emosional, rendah percaya diri, kecemasan sosial Memicu stres, kecemasan, dan gangguan perilaku makan Literatur Pendukung Wardyaningrum Wardyaningrum Wardyaningrum . Purnomo et al. Biofarma . Wardyaningrum Wardyaningrum Ayosehat Kemenkes ARGIPA . Luthfiya et al. Rahma et al. Biofarma . Biofarma . Sumber: Analisis Peneliti, 2025 Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Tabel 4. Rekomendasi Intervensi Berdasarkan Temuan Literatur Level Intervensi Keluarga Pendidikan & Pelatihan Strategi Target Outcome Meningkatkan frekuensi makan bersama . inimal 45x/mingg. Meningkatkan komunikasi, konsumsi sayur/buah, kesejahteraan psikologis FAO . Untar . Melibatkan semua anggota dalam perencanaan menu Menciptakan komitmen bersama terhadap pola makan sehat Wardyaningrum Menerapkan komunikasi positif saat makan Meningkatkan pencernaan dan metabolisme nutrisi Untar . Aktivitas fisik bersama keluarga 3-5x/minggu Mengurangi PTM, meningkatkan bonding Kemenkes P2PTM . Edukasi gizi seimbang untuk orang tua Meningkatkan pengetahuan pemilihan makanan sehat Meningkatkan kualitas komunikasi keluarga tentang kesehatan Wardyaningrum Program manajemen stres untuk remaja dan keluarga Mengurangi dampak stres terhadap pola makan dan aktivitas fisik Luthfiya et al. Mengaktifkan peran PKK, koperasi, posyandu Menyebarkan informasi kesehatan dan nutrisi Wardyaningrum Program CERDIK (Cek kesehatan. Enyahkan asap Rajin aktivitas fisik. Diet Istirahat cukup. Kelola Implementasi Program Keluarga Sadar Gizi Mencegah PTM pada Kemenkes P2PTM . Membangun kebiasaan hidup sehat dalam Kemenkes RI Regulasi iklan makanan tidak sehat di media Mengurangi pengaruh negatif media terhadap pilihan makanan Mengatasi stres, kecemasan, depresi pada remaja dan keluarga ARGIPA . Pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal Komunitas Kebijakan Penyediaan layanan konseling kesehatan mental Dukungan Literatur Setiyawati . Biofarma . Sumber: Analisis Peneliti, 2025 Analisis tematik dari 47 literatur menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi dalam keluarga merupakan faktor kunci dalam membentuk dan mempertahankan gaya hidup sehat. Lima tema utama yang teridentifikasi mengungkapkan bahwa: Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Komunikasi Keluarga sebagai Fondasi Komunikasi keluarga, khususnya melalui kegiatan makan bersama, berfungsi sebagai ruang diskusi berkualitas yang memfasilitasi pengambilan keputusan sehat dan transfer nilai-nilai gizi antar generasi. Data menunjukkan keluarga yang rutin makan bersama cenderung mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah. Stres sebagai Faktor Risiko Dominan Studi empiris menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat stres dengan pola makan . =0,. , dengan 82,5% remaja yang mengalami stres menunjukkan perubahan pola makan. Stres memicu aktivasi sistem saraf simpatis yang meningkatkan tekanan darah, terutama jika dikombinasikan dengan obesitas atau gaya hidup tidak sehat. Aktivitas Fisik Masih Rendah Data Riskesdas 2013 menunjukkan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan PTM meningkat pada kelompok usia muda dan produktif, dengan prevalensi hipertensi mencapai 25,8% dan obesitas 15,4%. Peran Orang Tua Sangat Signifikan Penelitian menunjukkan hubungan bermakna antara peran orang tua dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja, di mana remaja masih dominan dipengaruhi lingkungan keluarga dalam memilih makanan. Perubahan Pola Akibat Modernisasi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susena. 2023 mencatat penurunan frekuensi makan bersama keluarga, terutama di wilayah perkotaan, sementara globalisasi mengubah pola makan tradisional Indonesia yang semula sehat menjadi tinggi lemak dan karbohidrat serta rendah serat. Temuan literatur ini mengindikasikan bahwa intervensi promosi kesehatan untuk keluarga muda harus bersifat holistik, mengintegrasikan tiga komponen utama: Pertama. Peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal dalam keluarga sebagai mediator perilaku sehat. Kedua. Edukasi gizi dan manajemen stres yang disesuaikan dengan konteks keluarga muda Indonesia. Ketiga. Fasilitasi aktivitas fisik bersama sebagai strategi bonding sekaligus proteksi kesehatan Kesenjangan yang teridentifikasi adalah minimnya penelitian yang secara spesifik meneliti mekanisme komunikasi antarpribadi dalam keluarga muda sebagai mediator antara kesadaran kesehatan dan implementasi perilaku sehat. Mayoritas studi yang ada masih memisahkan fokus antara komunikasi keluarga, pola makan, dan aktivitas fisik tanpa melihat interaksi dinamis ketiganya dalam konteks kehidupan keluarga muda di Indonesia. Simpulan Hasil studi literatur menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan fondasi penting dalam membentuk kepatuhan gaya hidup sehat pada keluarga muda. Komunikasi yang terbuka dan suportif terbukti memfasilitasi pengambilan keputusan terkait pola makan, meningkatkan motivasi aktivitas fisik bersama, serta membantu keluarga menghadapi tekanan psikososial melalui Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. manajemen stres yang lebih adaptif. Temuan ini menegaskan bahwa gaya hidup sehat tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga kualitas interaksi dalam Oleh karena itu, promosi kesehatan bagi keluarga muda membutuhkan pendekatan yang mengintegrasikan aspek komunikasi, edukasi gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan mental secara holistik. Rekomendasi Bagi keluarga muda, perlu meningkatkan frekuensi makan bersama, membangun komunikasi positif terkait kesehatan, dan merencanakan aktivitas fisik bersama secara rutin untuk memperkuat komitmen perilaku Bagi tenaga kesehatan, penting memberikan edukasi gizi, pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal, dan konseling manajemen stres yang relevan dengan konteks kehidupan keluarga muda. Bagi komunitas dan lembaga masyarakat, perlu mengaktifkan kembali peran PKK, posyandu, dan komunitas olahraga sebagai fasilitator edukasi kesehatan Bagi pembuat kebijakan, perlu memperkuat program promosi kesehatan berbasis keluarga seperti Keluarga Sadar Gizi dan CERDIK serta memperluas akses layanan kesehatan mental dan gizi. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan melakukan studi empiris yang menguji mekanisme komunikasi spesifik dalam keluarga muda dan pengaruhnya terhadap perilaku makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. References