Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 PERAN ORGANISASI MASYARAKAT DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS REMAJA: STUDI KASUS PROGRAM PENDIDIKAN ISLAM KOMUNITAS GUDANG PAHALA REBORN DI KABUPATEN BEKASI Trianjasmara* Noor Azida Batubara** *STAI Haji Agus Salim Cikarang. Indonesia ** STAI Haji Agus Salim Cikarang. Indonesia *E-mail: anjasmara1012@gmail. ** E-mail: azida@staihas. Abstract This study examines the role of the Gudang Pahala Reborn Community Organization in developing religious character in adolescents through a community-based approach in the Bekasi Regency. Using a qualitative case study method, data were collected through in-depth interviews with 18 informants . anagers, adolescent participants, and community leader. , participant observation over 3 months, and analysis of organizational documents. The research findings show that the GPR community development model that integrates Islamic values in daily activities has succeeded in creating three significant changes: . increasing the consistency of daily worship . % of participant. , . changing patterns of social interaction to be more polite . % of participant. , and . strengthening community Analysis using the Kirkpatrick model reveals that a personal approach and participatory activities are key to the success of behavioral transformation . and achieving sustainable impact . This study provides empirical evidence of the effectiveness of a character education model that is integrated with the local community ecosystem. Keywords: community organization, character education, youth, community approach. Bekasi Regency Abstrak Penelitian ini mengkaji peran Organisasi Masyarakat Gudang Pahala Reborn dalam membangun karakter religius remaja melalui pendekatan berbasis komunitas di Kabupaten Bekasi. Dengan metode studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 18 informan . engurus, peserta remaja, dan tokoh masyaraka. , observasi partisipan selama 3 bulan, serta analisis dokumen organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model pembinaan komunitas GPR yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kegiatan sehari-hari berhasil menciptakan tiga perubahan signifikan: . peningkatan konsistensi ibadah harian . % pesert. , . perubahan pola interaksi sosial yang lebih santun . % pesert. , dan . penguatan solidaritas komunitas. Analisis menggunakan model Kirkpatrick mengungkap bahwa pendekatan personal dan aktivitas partisipatif menjadi kunci keberhasilan transformasi perilaku . dan dampak berkelanjutan . Studi ini memberikan bukti empiris tentang efektivitas model pendidikan karakter yang menyatu dengan ekosistem komunitas lokal. Kata Kunci: organisasi masyarakat, pendidikan karakter, remaja, pendekatan komunitas. Kabupaten Bekasi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Berdasarkan model Kirkpatrick, analisis dampak difokuskan pada perubahan perilaku nyata peserta . evel (Kirkpatrick & Kirkpatrick. Pendekatan ini dipilih karena relevansinya dengan tujuan penelitian untuk memahami transformasi konkret yang terjadi pada remaja. PENDAHULUAN Organisasi masyarakat (Orma. telah lama menjadi pilar penting dalam dinamika sosial Indonesia. Sebagai lembaga yang berakar di masyarakat. Ormas berperan strategis dalam mendorong perubahan sosial dan memelihara nilai-nilai luhur bangsa (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Masyarakat, 2. Dalam generasi muda, peran Ormas menjadi kompleksnya tantangan yang dihadapi remaja masa kini. (McLaughlin, 2. Gudang Pahala Reborn (GPR) merupakan inisiatif lokal di Kampung Pisangan. Bekasi, yang menanggapi masalah degradasi moral remaja secara (Ilma, 2023. Indainanto, 2020. Jatimnow. Pusiknas Bareskrim Polri, 2. GPR menarik dikaji karena menggabungkan nilai Sebagaimana diungkapkan Contreras et al. Temuan Rahmat . tentang peran Ormas keagamaan pendidikan Islam semakin memperkuat relevansi penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk: Mengkaji eksistensi dan gerakan GPR dalam membina remaja melalui pendekatan keagamaan berbasis komunitas Menganalisis dampak gerakan GPR terhadap pembentukan perilaku keagamaan remaja Landasan Teoretis Eksistensi GPR sebagai Ormas berbasis komunitas dapat dipahami Santrock . menegaskan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas, di mana pengaruh lingkungan sosial menjadi sangat menentukan. Temuan Lerner Steinberg memperkuat pandangan ini dengan menunjukkan bagaimana komunitas sebaya dapat menjadi media sosialisasi yang efektif. Dalam konteks ini. GPR hadir menawarkan nilai-nilai positif bagi (Cherry. Model pembinaan yang dikembangkan GPR sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya tentang peran Ormas karakter remaja (Muntaqo et al. , 2019. Subhan, 2. Studi Amsa dan Farhan keagamaan dalam pembinaan moralitas komunitas seperti yang dilakukan GPR. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 kontemporer dalam konteks kehidupan nyata ketika batasan antara fenomena dan konteksnya tidak jelas (Yin, 2017. Creswell, 2. Metodologi Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui: Wawancara mendalam dengan pengurus GPR, peserta program, dan tokoh masyarakat Observasi partisipatif terhadap kegiatan GPR Analisis dokumen organisasi Data dianalisis secara tematik pola-pola signifikan terkait eksistensi GPR dan dampak programnya. Evaluasi dampak mengacu pada model Kirkpatrick dengan fokus khusus pada perubahan perilaku . evel behavio. sebagai indikator keberhasilan program. Desain Penelitian Desain model studi kasus intrinsik dan holistik (Creswell, 2. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam tentang kasus spesifik GPR sebagai fenomena unik, sekaligus mengkaji organisasi secara utuh sebagai satu unit analisis (Punch, 2. Partisipan dan Lokasi Penelitian dilakukan di Kampung Pisangan. Kabupaten Bekasi, dengan 5 pengurus inti GPR 10 remaja peserta aktif program . sia 15-19 tahu. 3 tokoh masyarakat setempat Signifikansi Penelitian Temuan penelitian ini diharapkan Memberikan kontribusi teoretis Menjadi pengembangan program serupa di komunitas lain Memperkaya khazanah penelitian tentang peran Ormas lokal dalam pendidikan karakter Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi metode (Creswell, 2. Wawancara Observasi partisipan selama 3 bulan Analisis dokumen organisasi Analisis Data Data dianalisis melalui beberapa tahap (Creswell, 2. Transkripsi dan organisasi data Pengkodean tematik Interpretasi makna METODE Penelitian ini memakai studi kasus kualitatif untuk mengkaji peran GPR dalam membina remaja berbasis Studi kasus dipilih karena sesuai untuk menyelidiki fenomena Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Verifikasi melalui member checking (Punch, 2. remaja dimulai dari masa pubertas pertimbangan utama kebutuhan dan kemampuan setiap remaja (American Psychological Association, 2. Secara umum, remaja identik dengan pribadi yang berada pada level mencari identitas diri, baik melalui pergaulan dengan teman sebaya, teman, dan mereka yang berinteraksi dengan remaja dan dewasa muda. Komunikasi yang dibangun tersebut berpengaruh signifikan terhadap perkembangan remaja (Santrock, 2. Dan salah satu cara remaja yang berada di sekitar lokus penelitian mencari identitas diri dengan cara aktif bergaul dengan organisasi masyarakat lokal Gudang Pahala Reborn (GPR) sebagai ormas berbasis komunitas yang berdiri di lingkungan tersebut. Peran organisasi masyarakat ini, menembus hampir seluruh lapisan masyarakat terutama remaja. Hasil observasi dan wawancara dengan para pendiri. Ormas yang kehadirannya dilatarbelakangi oleh kepedulian para pemuda lingkungan sekitar terhadap gaya pergaulan para remaja yang jauh dari nilai-nilai agama, mengajak para remaja yang ada untuk terlibat aktif dalam berbagai program kegiatan organisasi GPR. Upaya mempermudah edukasi nilai-nilai Islam yang sesuai dengan kebutuhan remaja. Menciptakan dan melibatkan remaja dalam kegiatan yang bermanfaat dalam Evaluasi Program Evaluasi menggunakan model Kirkpatrick . dengan fokus pada: Perubahan perilaku . Dampak jangka panjang . Validitas dan Reliabilitas Validitas penelitian dijaga melalui (Creswell, 2. Triangulasi sumber data Audit trail Ulasan sejawat Member checking Aspek Etika Penelitian memenuhi prinsip etika penelitian kualitatif (Punch, 2. Informed consent Kerahasiaan data Anonimitas HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gudang Pahala Reborn adalah keanggotaan didominasi oleh mereka yang berada pada rentang usia remaja. Karakteristik konteks seseorang berada pada masa berkembangnya fisik, sosial, dan kognitif serta usia. Sebagai individu yang tumbuh ke arah kedewasaan (Lerner & Steinberg, 2. , periode Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 upaya mengembangkan nilai-nilai positif pada remaja seperti kepedulian, empati, kepemimpinan, dan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai agama. Nilai-nilai tersebut membantu remaja mengontrol sikap dan perilaku sesuai norma agama dan sosial. Hal ini menegaskan bahwa ormas GPR berupaya menjadi media bagi remaja untuk sampai pada titik kesadaran Komitmen organisasi masyarakat Gudang Pahala Reborn untuk membina etika dan moral remaja sebagai masyarakat muda menjadi sebuah nilai-nilai organisasi yang menjadi keyakinan ormas tersebut. Nilai-nilai yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam diperhatikan oleh ormas diantaranya menjunjung etika dan moral serta nasional, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa . ational securit. (Prayudi et al. , 2. kesadaran beragama sesuai kebutuhan Merujuk pendidikan berbasis komunitas yang dikemukakan Owens dan Wang. Pendidikan Agama Islam berbasis komunitas sebagai serangkaian strategi Islam komprehensif dan aksesibel bagi setiap individu masyarakat termasuk remaja untuk mempelajari apa yang ingin mereka pelajari dari setiap segmen agama Islam. Adapun prinsip-prinsip pendidikan Agama Islam berbasis terbangunnya edukasi yang efektif dan efisien di lingkup ormas GPR merujuk pada Owens dan Wang terdiri dari empat dimensi yakni: 1. Revitalisasi Pembelajar. Proses Sumber belajar (Owens & Wang, 1. Dimensi pertama, revitalisasi Pada tataran praktik -dalam konteks Pendidikan Agama Islam berbasis komunitas- revitalisasi sosial dilakukan dalam bentuk menggiatkan kembali norma sosial dan praktikpraktik etika pada remaja sesuai dengan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (PAI). Program dikemas menarik dan sesuai karakter remaja agar perilaku terbentuk secara sadar, misalnya melalui klub lingkungan atau sosial. Nilai PAI ditanamkan melalui etika ketangguhan, keterampilan, dan akhlak Transformasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Komunitas Pada Remaja GPR mengintegrasikan konsep Pendidikan Agama Islam berbasis keagamaan, dengan melibatkan remaja secara aktif. Pendidikan Agama Islam berbasis Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 mulia . ujur, adil, kasih sayang, tanggung jawab, kerja sam. Remaja diberikan ruang untuk memberikan kesempatan bagi remaja perubahan sosial, serta memfasilitasi terciptanya lingkungan sosial yang lebih kondusif dan bermakna dalam membangun pengalaman belajar remaja beragamanya (Contreras et al. , 2. Revitalisasi sosial remaja dibangun atas asas konsep transformasi diri. QS. Ar-RaAod . 11: Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat ini mengajak memperkuat kesadaran diri untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik harus berasal dari dalam diri sendiri. Asas Islamiyah . QS al-Hujurat . Orang-orang beriman itu sesungguhnya Sebab itu damaikanlah . erbaikilah hubunga. antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Remaja yang dilibatkan dalam program kegiatan GPR diharuskan memiliki rasa Asas al-Itsar . epedulian dan lain/mengutamakan orang lain di atas kepentingan diri sendir. QS. AtTaubah . 122: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya . e medan Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Mengutamakan orang lain adalah bentuk amal saleh yang memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial. Dan ini bagian dari eksistensi remaja sebagai khalifah. QS. an-Nuur . 55: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi. Asas-asas landasan program kerja GPR dalam revitalisasi sosial remaja dengan tujuan membangun rasa komunitas dalam diri remaja sebagai anggota komunitas yakni rasa memiliki, perasaan bahwa para anggota penting bagi satu sama lain dan bagi kelompok, dan keyakinan bersama bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi melalui komitmen mereka untuk bersama, bersama (Townley & Kloos, 2. Dimensi kedua, pembelajar. GPR menerapkan prinsip pembelajar untuk aktualisasi pendidikan agama Islam bagi remaja. Hal ini dimaksudkan membangun kesadaran untuk belajar dan mengembangkan kemampuan pengetahuan dan karakternya sesuai nilai-nilai PAI terefleksikan dalam perilaku seharihari. Prinsip yang dikembangkan yakni: Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Keaktifan remaja dalam belajar dan terlibat penuh dalam proses kegiatan. Kemandirian: Remaja anggota mampu belajar secara mandiri dan bertanggung jawab. Kerjasama/kolaboratif sesama anggota. Pengalaman dan pengetahuan yang GPR direfleksikan oleh remaja. Berbasis pengalaman: remaja dapat belajar dari pengalaman dan konteks Dimensi Mengaktifkan proses edukasi remaja yang efektif dan efisien, terdapat beberapa aspek yang menjadi fokus GPR dalam menciptakan proses pembelajaran yang relevan dengan komunitas yang berimplikasi terhadap terbentuknya perilaku religius remaja (Carnegie Mellon University, 2. Menyesuaikan dengan kebutuhan remaja berdasarkan pengetahuan . rior Bagi anggota yang tingkat pengetahuan, keyakinan, dan sikap masih tergolong pasif, maka diberikan optimal. Membangun peta konsep keagamaan remaja melalui kegiatan belajar memahami adanya hubungan sebabakibat terutama dalam hal pergaulan. Mengedukasi aktivitas sehari-hari. Penguatan motivasi anggota dengan tujuan untuk penguatan kepercayaan diri, memperbaiki kualitas hidup. Mengembangkan kesadaran remaja dan kemampuan mengolah potensi yang dimilikinya baik berbentuk keterampilan maupun pengetahuan serta memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dengan kesadaran diri, juga penguatan kepedulian sosial. Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan ini Prinsip edukasi melibatkan remaja dalam pengaktualisasiannya. Selain melatih kepemimpinan dan kegiatan di komunitas lainnya, juga remaja dilibatkan dalam program mentorship . eningkatkan kemampuan dan keterampilan anggot. , diskusi rutin. Termasuk dalam prinsip proses pembelajaran ini dilakukan evaluasi Untuk kualitas program dan kegiatan komunitas. GPR melakukan evaluasi dan umpan balik . Membangun iklim organisasi positif. Atmosfer organisasi dibentuk untuk memberi dampak positif pada perilaku, motivasi, dan prestasi Sehingga program ormas lebih fleksibilitas dan adaptabilitas Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 yakni lingkungan komunitas yang fleksibel, adaptif, dan mampu berubah sesuai dengan kebutuhan Proses edukasi menekankan konsep metakognitif agar remaja mampu memantau dan mengendalikan diri saat aktif di komunitas. Mampu untuk merefleksikan diri sendiri partisipasi mereka dalam program kegiatan ormas . pa yang telah dicapai/berhasil dan apa yang masih Termasuk meningkatkan kebiasaan intelektual Dimensi keempat, prinsip sumber Sebagai organisasi pembelajar. GPR memfasilitasi komunitasnya segala sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar (Sudjana & Rivai, 2. guna memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi warga negara, pekerja, dan pembelajar seumur hidup yang efektif (Owens & Wang, 1. GPR organisasi pembelajar bagi anggotanya. Sebagaimana dikemukakan Padler et. memfasilitasi anggotanya untuk belajar mentransformasikan dirinya adalah organisasi pembelajar (Thompson. Fasilitas di GPR yang menjadi sumber belajar yang membantu terbinanya perilaku religius bagi remaja terdiri dari Al-QurAoan dan Hadits sebagai pedoman utama nilai-nilai pendidikan, sumber daya manusia organisasi, guru-guru agama yang ada di sekitar lingkungan. anggota organisasi, kegiatan organisasi. Strategi Implementasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Komunitas Organisasi Masyarakat Gudang Pahala Reborn, mengimplementasikan Pendidikan Agama Islam sebagai rujukan utama pembinaan perilaku pemberian nasehat. Keteladanan Organisasi Masyarakat GPR memperkenalkan perilaku yang baik melalui keteladanan yang identik dengan memahami sistem nilai Islam dalam bentuk nyata. Strategi dengan keteladanan adalah proses internalisasi dengan cara memberi contoh-contoh nyata yang positif pada remaja. Program keagamaan GPR menanamkan remaja melalui contoh nyata: kesadaran terhadap pentingnya memelihara budaya kebersihan dan kesehatan pada setiap anggota dan Masyarakat, guna meningkatkan kesadaran dan perilaku kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Mencontohkan disiplin waktu dan dalam berbagai aktivitas pada setiap Menaati segala peraturan yang berlandaskan Pancasila dan Undangundang 1945. Menjauhi larangan-Nya dan menaati segala perintah-Nya. Mencontohkan kepada remaja agar memiliki moral . akwa, ikhlas, sabar, syuku. dan perilaku yang baik . ujur dan benar dalam berbicara, menjaga kebersihan, menghormati orang lain terutama orang tua, empat. sesuai dengan ajaran agama Islam. Pembiasaan Metode religius pada setiap anggota GPR dalam kehidupan sosial masyarakat lainnya adalah kegiatan pembiasaan. Perilaku yang ditargetkan mencakup kesadaran remaja terhadap isu lingkungan, pengetahuan lainnya yang bermanfaat, berpatisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, dan menyadari penuh pentingnya berbagi informasi dan pengetahuan dengan orang lain. Pembiasaan ini diaktualisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan . ihat tabel . Terprogram Kegiatan spontanitas yang dilakukan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu: Sharing knowledge terkait informasi atau berita di lingkungan sekitar Kedisplinan sikap, adab, perilaku, dan tatanan bahasa di dalam atau di luar GPR. Kajian Kitab-kitab klasik dan kontemporer yang relevan dengan kebutuhan remaja dan masyarakat. Istighosah dan pembacaan Yasin Peringatan Hari Besar Islam & Nasional. Pemeliharaan Lingkungan Pemeliharaan masjid sekitar Bagi-bagi Takjil Keliling (BATALING) Mengikuti Event Game Mobile Membiasakan diri memiliki jiwa sosial Membiasakan disiplin pada waktu dan tanggung jawab atas apa yang sudah menjadi kewajiban. Membiasakan memberi salam Membiasakan peduli terhadap Pemberian Nasehat . auidzah Metode mauAoidzah atau pemberian memperhatikan tiga unsur, yakni penuh kasih sayang, tidak mengandung celaan, dan tidak bersifat subjektivitas Tabel 1. Kegiatan Pembiasaan ORMAS GPR Agenda Kegiatan Pembiasaan Shalat berjamaah di Rutin Masjid Dialog aktif Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 (Ismail, 2. Materi mencakup etika, motivasi berbuat baik, serta penjelasan sebab-akibat dari perbuatan yang Nasehat keagamaan digunakan untuk membina perilaku remaja di Kampung Pisangan. Pebayuran. Bekasi. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui program keagamaan berisikan seperti tentang perilaku remaja menurut Islam dengan melibatkan mentor keagamaan ormas GPR, dalam pembacaan Yasin dan tahlil bersama di Masjid, dan lain Pada setiap kajian kitab rutin yang telah terprogram di GPR, pemateri atau penyaji selalu memberikan nasihat sebelum mengakhiri kajian kepada setiap anggota GPR maupun remaja yang mengikuti program kegiatan Islam GPR berdasarkan respon remaja selama proses pembinaan dilakukan. Kualitas program dan tingkat kepuasan remaja bersifat korelatif. Semakin berkualitas program pembinaan keagamaan akan semakin tinggi tingkat kepuasannya. Respon positif remaja terhadap edukasi PAI berbasis komunitas berdampak pada motivasi, minat, dan perilaku termasuk keinginan belajar agama yang muncul secara intrinsik dan dalam konteks ini edukasi keagamaan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% peserta puas dengan program keagamaan yang diadakan oleh ormas GPR, dan 80% peserta merasa program keagamaan tersebut dapat membantu memahami nilai-nilai agama dan pengertiannya di dalam kehidupan sehari-hari Kedua, level pembelajaran yang Dimensi keagamaan GPR ditinjau dari ranah kognisi remaja. Evaluasi menggunakan kuesioner, mengukur pengetahuan religius remaja mencakup semua aspekaspek mental yang terkait dengan proses berpikir, memahami, dan mencakup aspek-aspek emosi dan perilaku . ang terkait dengan aspek Dalam konteks ini, secara kognisi, remaja memiliki kemampuan Keefektifan Program Keagamaan Organisasi Masyarakat membina perilaku religius remaja Untuk keefektifan program yang dijalankan organisasi Gudang Pahala Reborn, evaluasi program dilakukan dengan menggunakan teori evaluasi yang Kirkpatrick (Kirkpatrick & Kirkpatrick, 2. Evaluasi dilakukan dalam empat level, yaitu (Kirkpatrick & Kirkpatrick, 2. : pertama, level reaksi . eaksi peserta terhadap progra. Evaluasi pada dimensi ini pada dasarnya untuk keagamaan konteks Pendidikan agama Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 mengembangkan pengetahuan yang positif tentang nilai-nilai Agama Islam yang disampaikan melalui pembinaan oleh ormas GPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% peserta meningkatkan pengetahuan tentang nilai-nilai agama seperti hukum, tata cara, larangan, dan hal-hal kebaikan, dan 80% peserta memahami bagaimana menerapkan ajaran dan nilai-nilai Islam kehidupan sehari-hari Ketiga, level perilaku. Dimensi perilaku diukur melalui pengamatan dan penilaian tindakan remaja. Evaluasi dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: Evaluasi awal. Dilakukan sebelum pembinaan keagamaan pada remaja dimulai, untuk mengetahui tingkat perilaku individu sebelum menerima Evaluasi lanjutan yakni selama proses pembinaan . valuasi Dilakukan untuk memantau kemajuan remaja dan mengetahui apakah mereka telah mencapai tingkat perilaku sebagaimana yang diharapkan. Evaluasi sumatif. Dilakukan untuk mengetahui Tingkat pencapaian remaja dalam pengetahuan, pemahaman, dan perilaku yang diharapkan setelah pembinaan keagamaan selesai. Level keempat adalah hasil. Pada dimensi ini, evaluasi difokuskan pada hasil atau dampak yang diperoleh remaja dari program keagamaan GPR. Fase pemahaman remaja tentang Islam melalui program GPR. Evaluasi juga pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari. Fase kedua, identifikasi dilakukan GPR terkait perubahan remaja setelah mengikuti program keagamaan GPR baik dalam perubahan perilaku, mengamalkan nilai-nilai Agama Islam dan berdakwah. Hasil penelitian menunjukkan perubahan perilaku yang positif, mulai dari tata cara berbahasa dan adab terhadap orang yang lebih tua, dan 80% peserta menjadi lebih rajin beribadah, lebih hormat kepada orang tua, dan lebih peduli terhadap lingkungan Dalam dimensi hasil menurut Kirkpatrick's Model of Evaluation, proses pengukuran keberlanjutan program Mengukur Islam diimplementasikan GPR berdampak jangka panjang serta berkelanjutan. Pengukuran keberlanjutan tersebut pemahaman tentang Agama Islam yang Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 keagamaan GPR. Keberlanjutan dalam kemampuan remaja mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan yang telah diperoleh, serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pengetahuan yang telah diperoleh dan tidak melupakannya. Berupaya terus mempelajari hal-hal baru untuk meningkatkan pengetahuan yang telah Menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Serta, mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan mencari informasi baru dan mempelajari hal-hal baru. Kedua, mengukur keberlanjutan kemampuan dalam pengamalan nilai- nilai Agama Islam dan berdakwah. Menilai seberapa baik remaja dapat mempertahankan dan meningkatkan mengamalkan nilai-nilai Agama Islam dan berdakwah dalam jangka waktu yang lama. Ketiga, mengukur keberlanjutan dalam aspek perilaku remaja setelah mengikuti program keagamaan GPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level hasil 77% responden meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai agama khususnya remaja, dan 70% responden Masyarakat. Gambar 1. Evaluasi Program Keagamaan dengan Kirkpatrick's Model of Evaluation Berdasarkan deskripsi di atas. Agama Pendidikan Islam berbasis komunitas Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 meliputi membina dan meningkatkan kemampuan remaja menerapkan nilainilai Pendidikan agama Islam dalam berperilaku sehari-harinya: Evaluasi pengamatan/observasi, dan perilaku remaja dalam berbagai program kegiatan GPR di kampung Pisangan terutama remaja yang terlibat sebagai anggota GPR, seperti pada saat berinteraksi dengan teman sebayanya, dengan masyarakat umum, ketika permasalahan, atau dalam membuat keputusan. Program berpikir analitis agar remaja memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-QurAoan dan Hadits dalam masalah sosial. GPR membina remaja agar berintegritas dan berdedikasi dalam PAI melalui partisipasi aktif dan konsisten dalam berbagai program, mempelajari dan memahami Al-QurAoan dan Hadits, hingga mengembangkan kemampuan dalam berdakwah kepada masyarakat baik melalui perilaku, sikap, attitude, dan kesantunan dalam menyampaikan ajaran syariat Islam. lingkungan sekitar. Program keagamaan Ormas GPR ikut berperan dalam meningkatnya kesadaran beragama remaja yang sehari-hari membiasakan Shalat 5 waktu di masjid, berpakaian sesuai syariat, yang menunjukkan remaja menjadi lebih sadar akan pentingnya nilainilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan Penerapan nilai-nilai pendidikan Islam keagamaan ormas GPR membekali atau memberi perlindungan kepada diri remaja, dan juga mencegah dari segala perilaku tidak terpuji seperti kenakalan remaja yang sering terjadi pada saat ini. Remaja dibiasakan mengucapkan salam, jujur dan beretika saat berbicara, lebih hormat kepada orang tua, berinteraksi baik dengan masyarakat, dan lebih peduli terhadap lingkungan. Meningkatnya rasa solidaritas dan kebersamaan: Remaja menjadi lebih solid dan bersatu dalam menjalankan kegiatan keagamaan dan sosial. Meningkatnya kualitas hidup remaja. Remaja menjadi lebih seimbang sehari-hari, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun akademis. Pendidikan GPR memudahkan remaja menghayati nilai-nilai Islam. Karena selain Dampak Program Keagamaan Ormas GPR Bagi Remaja Adanya program keagamaan di organisasi masyarakat Gudang Pahala Reborn kampung Pisangan turut berperan dalam membina perilaku religius remaja baik yang tergabung Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 ilmu-ilmu pendidikan dan Aoamaliyah, remaja mengaplikasikannya dengan cara pembiasaan diri dalam menjalankan syariat Islam dalam aktivitas seharihari. Diantaranya keamanan dan ketertiban di Masyarakat kriminalitas dan kekerasan yang dilakukan oleh remaja. Dampak lainnya Meningkatnya pencegahan perilaku negatif remaja dan menumbuhkan rasa percaya antara masyarakat dan remaja, sehingga secara tidak langsung akan terwujud kualitas hidup masyarakat. Program masyarakat agar bisa menjangkau lebih banyak remaja dan dikembangkan secara kreatif. Dengan demikian, program keagamaan ORMAS GPR dapat menjadi contoh baik bagi ORMAS program keagamaan yang efektif dan KESIMPULAN Program keagamaan berbasis komunitas yang dilaksanakan oleh organisasi masyarakat dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam membentuk perilaku religius pada Program meningkatkan kesadaran, kepatuhan, komunitas, sekaligus memperbaiki kualitas hidup mereka. Dampak positif dari remaja dengan perilaku religius juga dapat memberikan dampak positif yang DAFTAR PUSTAKA