E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 KOMBINASI KONSENTRASI 2,4-DICHLOROPHENOXY ACETIC ACID DAN BENZYL ADENINE TERHADAP PERTUMBUHAN AGLAONEMA SP. DENGAN TEKNIK KULTUR JARINGAN Combination of 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid and Benzyl Adenine Concentration on The Growth of Aglaonema sp. with Tissue Culture Technique Ifan Nur Alim. Nurul Fitriah. Rita Tri Puspitasari Fakultas Pertanian. Agroteknologi. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. KH. Ahmad Dahlan. Cireundeu-Ciputat Timur Tangerang Selatan 15419 *) Email korespondensi: tripuspitasari@umj. ABSTRACT Plant seeds can be produced in large quantities quickly, with quality, uniform seed size, and free from disease, one of which is by tissue culture. The composition of the media determines the success of tissue culture, including the concentration of plant growth regulators. Exogenous plant growth regulators of the auxin and cytokinine groups that are widely used in tissue culture media are 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) and Benzyl Adenine (BA). This study aims to determine the effect of giving a combination of 2,4-D and BA concentrations on the growth of Aglaonema sp. with tissue culture. The study was conducted at the Biotechnology and Tissue Culture Laboratory. Faculty of Agriculture. Universitas Muhammadiyah Jakarta. The study used a Completely Randomized Design (CRD) Factorial, with 2 factors, namely, factor 1: 0. 1 mg/l 2,4-D, 0. 3 mg/l 2,4-D, and 0. 5 mg/l 2,4-D. factor 2: 8 BA, 9 mg/l BA, and 10 mg/l BA. The results showed that the administration of a combination of 2,4-D and BA concentrations had no effect on the growth of Aglaonema sp. , but the administration of a single concentration of BA had an effect on the percentage of living explants. The administration of a single dose of 8 mg/l BA had a very significant effect on the percentage of living explants, while the administration of a combination of 0. 1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA concentrations gave the best results and was significantly different from the percentage of living explants. Keywords: Aglaonema sp. BA, 2. 4-D, exogenous hormones ABSTRAK Bibit tanaman dapat diupayakan dalam jumlah banyak dengan cepat, berkualitas dengan ukuran bibit seragam dan bebas penyakit salah satunya dengan teknik kultur jaringan. Komposisi media menentukan keberhasilan kultur jaringan termasuk konsentrasi zat pengatur tumbuhnya. Zat pengatur tumbuh eksogen golongan auksin dan sitokinin banyak digunakan pada media kultur jaringan adalah 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian kombinasi konsentrasi 2,4-D dan BA terhadap pertumbuhan Aglaonema sp. dengan teknik kultur jaringan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, dengan 2 faktor yaitu, faktor 1 : 0,1 mg/l 2,4-D, 0,3 mg/l 2,4-D, dan 0,5 mg/l 2,4-D. faktor 2 : 8 mg/l BA, 9 mg/l BA, dan 10 mg/l BA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi konsentrasi 2,4-D dan BA belum berpengaruh terhadap pertumbuhan Aglaonema sp. , namun pemberian konsentrasi tunggal BA berpengaruh dalam persentase eksplan hidup. Pemberian dosis tunggal 8 mg/l BA berpengaruh sangat nyata terhadap persentase eksplan yang hidup, sedangkan pemberian kombinasi konsentrasi 0,1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA memberikan hasil terbaik dan berbeda nyata terhadap persentase eksplan hidup. Kata kunci: Aglaonema sp. BA, 2. 4-D, hormon eksogen Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 PENDAHULUAN Aglaonema merupakan tanaman hias primadona di Indonesia dan perbanyakan tanaman Aglaonema secara permasalahan seperti terbatasnya jumlah indukan, mahalnya harga jual bibit, pertumbuhan tergantung musim serta rendahnya kualitas dan kuantitas bibit (Dewi et. , 2. Teknik perbanyakan Aglaonema secara kultur jaringan dapat memberikan Keberhasilan propagasi tanaman dengan metode kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh komposisi media yang digunakan (Astutik, 2. Auksin berperan dalam meningkatkan pembelahan dan pemanjangan serta pertumbuhan akar adventif (Sakina et. Sitokinin memiliki peranan dalam morfogenesis (Yuswanti et. , 2. Salah satu hormon eksogen golongan auksin dan sitokinin yang banyak 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA). Mikropropagasi perimbangan antara hormon endogen dan hormon yang ditambahkan ke dalam media kultur . Penggunaan auksin dan sitokinin kedalam media kultur jaringan keduanya karena setiap hormon tersebut mempunyai kelebihan tersendiri (Gamborg. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian berbagai konsentrasi hormon 2,4-D dan BA terhadap kultur daun Aglaonema var. Pride of Sumatera secara in vitro, sehingga dapat dihasilkan jumlah tunas yang banyak. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta. Rancangan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor: Faktor 1: Dosis 2,4-D . ,1 mg/L. 0,3 mg/L. 0,5 mg/L). Faktor 2: Dosis BA . mg/L. mg/L. 10 mg/L). Percobaan seluruhnya terdapat sembilan kombinasi perlakuan dengan lima ulangan masing-masing perlakuan terdiri dari satu botol, dengan jumlah botol seluruhnya sebanyak 45 botol. Setiap botol kultur ditanami tiga eksplan daun berukuran A 1 y 1 cm. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji beda rata-rata menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% untuk mengetahui pengaruh tiap perlakuan terhadap parameter pengamatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Presentase Eksplan yang Hidup (%) Persentase eksplan yang hidup dipengaruhi oleh jumlah eksplan yang hidup, terkontaminasi dan mati. Persentase eksplan yang hidup diamati setiap satu minggu sekali sampai akhir pengamatan dan dihitung pada 8 MSI. Tabel 1. Konsentrasi Tunggal 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Persentase Eksplan yang Hidup. Perlakuan Persentase Eksplan yang Hidup (%) 0,1 mg/l 2,4-D 37,78 a 0,3 mg/l 2,4-D 28,89 a 0,5 mg/l 2,4-D 28,89 a 8 mg/l BA 57,77 a 9 mg/l BA 24,44 b 10 mg/l BA 13,33 b Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut BNJ taraf 5%. Persentase eksplan yang hidup setelah umur 8 MSI diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat bahwa pengaruh tunggal pemberian 2,4-D tidak berpengaruh terhadap persentase eksplan yang hidup, sedangkan pengaruh tunggal pemberian BA menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap persentase eksplan yang hidup dan memiliki nilai rerata tertinggi pada dosis 8 mg/l BA serta berbeda nyata pada perlakuan lainnya (Tabel . Tabel 2. Kombinasi Konsentrasi 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Persentase Eksplan yang Hidup. Perlakuan Persentase Eksplan yang Hidup (%) 0,1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 86,67 a 0,1 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 13,33 b 0,1 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 13,33 b 0,3 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 46,66 ab 0,3 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 33,33 ab 0,3 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 6,67 b 0,5 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 39,99 ab 0,5 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 26,66 ab 0,5 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 19,99 b Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut BNJ taraf 5%. Hasil eksplan yang hidup pada dosis kombinasi penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 8 mg/l BA pada media kultur daun Aglaonema var. Pride of Sumatera tidak berpengaruh nyata terhadap persentase eksplan yang hidup namun memiliki nilai rerata tertinggi, hal ini diakibatkan karena konsentrasi rendah auksin dan tingginya konsentrasi sitokinin pada media lebih optimal dibandingkan dengan kombinasi konsentrasi lainnya yang lebih tinggi. Walaupun penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 8 mg/l BA pada media kultur daun Aglaonema var. Pride of Sumatera lebih optimal dibandingkan kombinasi konsentrasi lainnya, namun kombinasi konsentrasi ini belum optimal dalam kemunculan kalus maupun tunas. Eksplan yang ditanam pada kombinasi konsentrasi 0,1 mg/l 2,4-D dan 8 mg/l BA mulai sedikit membengkak saat umur 2 MSI. Pembengkakan eksplan merupakan salah satu respon dimana terjadinya pembesaran pada sel karena adanya aktivitas sel berupa penyerapan air dan unsur hara, hal ini sesuai dengan pendapat Sitinjak et. , . yang menyatakan bahwa respon pembengkakan pada eksplan terjadi karena adanya interaksi antara eksplan terhadap lingkungan tumbuh dan zat pengatur tumbuh melalui penyerapan nutrisi yang dilakukan oleh Persentase Eksplan Terkontaminasi (%) Persentase terkontaminasi dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan sterilisasi dalam kontaminan berasal. Persentase eksplan yang terkontaminasi diamati setiap satu minggu sekali sampai akhir pengamatan dan dihitung pada 8 MSI. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 Tabel 3. Konsentrasi Tunggal 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Persentase Eksplan Terkontaminasi. Perlakuan Persentase Eksplan Terkontaminasi (%) 0,1 mg/l 2,4-D 6,67 a 0,3 mg/l 2,4-D 4,44 a 0,5 mg/l 2,4-D 4,44 a 8 mg/l BA 6,67 a 9 mg/l BA 4,44 a 10 mg/l BA 4,44 a Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut BNJ taraf 5%. Persentase terkontaminasi setelah 8 MSI diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dan dapat dilihat bahwa pengaruh tunggal pemberian 2,4-D persentase eksplan yang terkontaminasi. Pengaruh menunjukkan hal yang sama seperti pemberian 2,4-D, yaitu tidak berpengaruh terhadap persentase eksplan yang terkontaminasi serta tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan tidak memberikan pengaruh terhadap persentase eksplan yang terkontaminasi utnuk lebih jelasnya dapa (Tabel . dibawah ini. Tabel 4. Kombinasi Konsentrasi 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Persentase Eksplan Terkontaminasi. Perlakuan Persentase Eksplan Terkontami-nasi (%) 0,1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,00 a 0,1 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 13,33 a 0,1 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 0,00 a 0,3 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 6,67 a 0,3 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,00 a 0,3 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 6,67 a 0,5 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 13,33 a 0,5 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,00 a 0,5 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 6,67 a Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut BNJ taraf 5%. Tabel diatas menunjukkan bahwa pengaruh waktu karantina yang singkat tanaman pendonor sebelum dilakukannya Aglaonema tidak terserap denganbaik dan menjadi kurang optimal, hal ini sesuai Shofiyani Hajoeningtijas . bahwa penggunaan atau pemberian antibiotik yang kurang kontaminan bakteri menjadi toleransi. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada gambar berikut ini. Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 Gambar 1. Sumber Kontaminasi Eksplan : a dan b. cendawan dengan hifa berwarna putih. koloni bakteri merah muda. dan d. cendawan dengan hifa berwarna putih coklat kehitaman. Sumber kontaminan pada penelitian ini didominasi oleh kontaminasi sistemik, yaitu sumber kontaminan yang berasal dari dalam atau jaringan eksplan yang ditanam. Cendawan menjadi salah satu penyebab kontaminasi dimana terdapat dua gejala. Kontaminasi oleh cendawan pertama kali muncul saat eksplan berumur 1 MSI dengan ciri fisik hifa berwarna putih yang tumbuh di sekitar bekas potongan eksplan, hanya berada pada permukaan media, tidak menembus ke dalam media. Gejala yang kedua sama seperti gejala pertama namun dalam kurun waktu tertentu hifa-hifa berubah menjadi berwarna coklat dan hitam serta tumbuh ke dalam media agar (Gambar 1. Bakteri juga merupakan sumber kontaminasi yang muncul di sekitar bekas potongan eksplan pada umur 3 MSI dengan koloni berwarna merah muda, serupa akar, permukaan koloni cembung dengan tepi koloni utuh (Gambar 1. Bakteri muncul pada satu perlakuan saja, sedangkan cendawan muncul pada enam perlakuan yang berbeda. Sumber kontaminasi sistemik dapat diminimalisir dengan melakukan karantina tanaman sebelum dilakukannya inisiasi, untuk itu diperlukan larutan antiseptik tanaman yang mengandung antibiotik. Larutan antiseptik Aglaonema yang mengandung streptomisin, amoksilin dan Ketiga bahan antibiotik tersebut memiliki aktivitas dan spektrum yang berbeda. Streptomisin merupakan antibiotika golongan aminoglikosida yang memiliki fungsi untuk mengendalikan penyakit bakteri dan jamur pada budidaya bunga dan kentang, pembibitan tembakau dan sayur-sayuran (Indijah dan Fajri, 2016. Stockwell dan Duffy, 2. Menurut Stockwell dan Duffy . , streptomisin merupakan antiobiotika yang bersifat bakterisid, cara kerjanya dengan mengikat secara irreversible ribosom bakteri dan menghambat sintesa protein. Bahan kedua yang terkandung di dalam larutan antiseptik Aglaonema adalah amoksilin. Menurut Khalil et. , . amoksilin merupakan antibiotika spektrum luas dan merupakan antibiotika derivat dari penisilin. Amoksilin bekerja dengan melawan bakteri Kloramfenikol merupakan bahan ketiga yang terkandung pada larutan antiseptik Aglaonema. Indijah dan Fajri . merupakan antimikroba dengan spektrum luas serta memiliki mekanisme kerja dengan menghambat sintesis protein. Selain itu, kloramfenikol memiliki aktivitas melawan bakteri aerobik, anaerobik dan fungi (Juliana dan Yulian, 2. Persentase Eksplan Pencoklatan (%) Persentase eksplan yang mengalami pencoklatan . dilakukan untuk melihat besarnya kandungan senyawa Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 fenolik pada daerah bekas pelukaan. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali sampai akhir pengamatan dan dihitung pada 8 MSI Tabel 5. Konsentrasi Tunggal 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Persentase Eksplan Pencoklatan. Perlakuan Persentase Eksplan Pencoklatan (%) 0,1 mg/l 2,4-D 88,89 a 0,3 mg/l 2,4-D 88,89 a 0,5 mg/l 2,4-D 97,78 a 8 mg/l BA 93,33 a 9 mg/l BA 88,89 a 10 mg/l BA 93,33 a Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut BNJ taraf 5%. Persentase eksplan yang mengalami pencoklatan setelah 8 MSI diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dan didapatkan bahwa pengaruh tunggal pemberian 2,4-D tidak berpengaruh terhadap persentase eksplan yang mengalami pencoklatan. Pemberian BA juga tidak berpengaruh terhadap persentase eksplan yang mengalami pencoklatan serta tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hasil . menunjukkan bahwa pemberian kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA tidak pencoklatan pada eksplan (Tabel . , hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Andaryani . , bahwa konsentrasi tinggi 2,4-D dan BA memacu terjadinya proses penuaan dengan menghambat proses pertumbuhan kalus. Selain itu, munculnya pencoklatan pada eksplan umumnya disebabkan oleh adanya senyawa fenolik yang biasanya muncul dan terakumulasi disebabkan oleh aktivasi dari enzim Polyphenol oxidase (PPO) (Admojo dan Indrianto, 2. Tabel 6. Kombinasi Konsentrasi 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Persentase Eksplan Pencoklatan. Perlakuan Persentase Eksplan Pencoklatan (%) 0,1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 100,00 a 0,1 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 60,00 a 0,1 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 100,00 a 0,3 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 80,00 a 0,3 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 100,00 a 0,3 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 80,00 a 0,5 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 80,00 a 0,5 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 100,00 a 0,5 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 80,00 a Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut BNJ taraf 5%. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya pencoklatan . yaitu genotipe, usia eksplan dan proses pengirisan atau pemotongan eksplan. Menurut Admojo dan Andrianto . , organ eksplan yang mengalami pelukaan dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme dari ROS (Reactive Oxygen Specie. Hal ini dapat memicu peroksidasi pada membran lipid dan kehilangan integritas membran sel yang dapat memicu over akumulasi dari senyawa fenolik dan Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 berujung terjadinya pencoklatan (Ru et. Menurut Purnawati . , penggunaan eksplan yang berusia muda memiliki kandungan fenolik yang lebih rendah dibandingkan jaringan tanaman pada eksplan yang sudah berusia tua. Oleh karena itu, menggunakan eksplan daun muda Aglaonema var. Pride of Sumatera 3 hari setelah daun menggulung terbuka sempurna dapat mengurangi potensi terjadinya pencoklatan. Namun, semua mengalami pencoklatan pada daerah Hal disebabkan masih adanya senyawa fenolik pada jaringan eksplan (Gambar . Gambar 2. Eksplan yang Mengalami Pencoklatan Pencoklatan pada seluruh eksplan disetiap perlakuan didominasi oleh kategori pencoklatan menyeluruh, pada 1 MSI eksplan sudah mulai mengalami gejala pencoklatan hingga 8 MSI pencoklatan menyebar keseluruh bagian eksplan, oleh karena itu eksplan tidak mampu membentuk kalus. Hal tersebut sesuai dengan Rineksane dan Sukarjan . , yang menyatakan bahwa daun yang mengalami pencoklatan . secara pertumbuhannya yang mengakibatkan tidak terjadi pembentukan kalus atau tunas Upaya pencoklatan pada kultur dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti penggunaan arang aktif, penggunaan antioksidan serta mentransfer atau memindahkan eksplan ke media baru . Tarampak et. penambahan asam askorbat 1 mg/l dan arang aktif 4 g/L pada ruang gelap menunjukkan keberhasilan sebesar 100% terhadap kultur yang diinisiasi. Jumlah Tunas Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan eksplan dalam teknik kultur jaringan. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali hingga akhir pengamatan dan dihitung pada 8 MSI. Hasil menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA belum mampu menumbuhkan tunas pada eksplan (Tabel . , hal ini dikarenakan seluruh eksplan pada setiap perlakuan . sehingga eksplan sulit untuk tumbuh dan Daun . yang mengalami pencoklatan . secara menyeluruh akan mengalami kendala berakibat eksplan tidak mampu dalam pembentukan kalus atau tunas baru (Rineksane dan Sukarjan, 2. Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 Tabel 7. Kombinasi Konsentrasi 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Jumlah Tunas. Perlakuan Jumlah Tunas 0,1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,1 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,1 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 0,3 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,3 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,3 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 0,5 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,5 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,5 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA Jumlah tunas yang muncul menjadi indikasi sebagai keberhasilan multiplikasi dalam kultur jaringan. Semakin banyak tunas yang terbentuk maka semakin tinggi tingkat multiplikasinya. Menurut Sadat , . penanaman eksplan pada media dengan konsentrasi auksin rendah dan sitokinin tinggi dapat menghasilkan pertumbuhan tunas yang baik, muncul tunas cepat dan jumlah tunas yang banyak. Kombinasi konsentrasi rendah 2,4-D dengan konsentrasi tinggi BA yang diberikan pada media untuk penanaman eksplan daun muda Aglaonema var. Pride of Sumatera masih belum dapat membentuk tunas, diduga rasio auksin endogen dengan sitokinin eksogen yang tidak berimbang sehingga pertumbuhan tunas menjadi terhambat. Menurut Arti dan Mukarlina . , sitokinin memacu perbandingan antara rasio auksin endogen dengan sitokinin eksogen yang berimbang sel-sel meristem yang akan membelah dan berkembang menjadi tunas. Rendahnya eksplan dalam menghasilkan tunas juga disebabkan oleh adanya kandungan auksin endogen pada eksplan yang jumlah atau konsentrasinya seimbang dengan sitokinin yang diberikan . (Suharijanto. Menurut Fahmi . , respon tanaman terhadap penambahan ZPT pada media dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jenis tanaman, jenis ZPT, cara pengaplikasian dan tinggi rendahnya konsentrasi yang diberikan. Selain itu, jenis media dan jenis eksplan menginduksi morfogenesis yang spesifik (Saepudin , 2. Waktu Muncul Tunas . Pengamatan waktu tunas muncul dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA dalam membentuk tunas. Pengamatan dilakukan setiap hari sampai terbentuknya Menurut Mawaddah et. , . waktu muncul tunas dapat ditandai dengan adanya pembengkakan atau penebalan seperti tonjolan . alon tuna. pada permukaan eksplan di bagian atas atau bagian bawah potongan eksplan yang Tabel 8. Kombinasi Konsentrasi 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid . ,4-D) dan Benzyl Adenine (BA) terhadap Waktu Muncul Tunas. Perlakuan Waktu Muncul Tunas . 0,1 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,1 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,1 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA 0,3 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,3 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,3 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA Available online at https: //jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/prosiding E-ISSN 3032-5943 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Vol. 2 Tahun 2024 Perlakuan 0,5 mg/l 2,4-D 8 mg/l BA 0,5 mg/l 2,4-D 9 mg/l BA 0,5 mg/l 2,4-D 10 mg/l BA Hasil pengamatan waktu muncul tunas menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA masih belum mampu dalam mempercepat pertumbuhan tunas (Tabel . , diduga pada eksplan terdapat auksin endogen yang konsentrasinya berimbang dengan konsentrasi sitokinin eksogen. Penambahan berbagai dosis kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA masih belum mampu memunculkan tunas pada kurun waktu tertentu untuk eksplan daun muda Aglaonema var. Pride of Sumatera. Menurut Lakitan . , penambahan sitokinin eksogen secara berlebih dapat menghambat proses pembelahan sel. Jenis ZPT, pengaplikasiannya serta dosis konsentrasi yang diberikan juga menjadi faktor yang (Fahmi. Kebutuhan sitokinin pada media kultur berbeda-beda tergantung dengan jenis tanaman yang dikulturkan (Pierik, 1. SIMPULAN Penambahan kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA pada media belum berpengaruh signifikan terhadap induksi multiplikasi tunas pada kultur daun Aglaonema var. Pride of Sumatera. Penambahan kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA pada media tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang ada, tetapi pengaruh tunggal pemberian 8 mg/l BA menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap parameter persentase eksplan yang hidup. Kombinasi konsentrasi 0,1 mg/l 2,4-D dan 8 mg/l BA memberikan Waktu Muncul Tunas . hasil terbaik pada parameter persentase eksplan yang hidup. SARAN Kombinasi konsentrasi 2,4-D dengan BA pada media kultur kultur daun Aglaonema Pride of Sumatera belum mampu menginduksi multiplikasi tunas. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya pencoklatan . pada eksplan, sehingga penelitian lanjut diharapkan menambahkan senyawa antioksidan yang tepat dengan kombinasi konsentrasi 0,1 mg/l 2,4-D dan 8 mg/l BA dan dapat menggunakan tanaman Aglaonema var. Rotundum Aceh, yang sekarang dikoleksi dan sedang diteliti. UCAPAN TERIMA KASIH Penulisan jurnal ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak, termasuk kepada Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang telah memberikan hibah dana RisetMu Batch V dengan judul AuMikropropagasi Tanaman Hias Aglaonema. Alokasia dan CaladiumAy a. Dr. Nurul Fitriah. Si. dan penelitian ini merupakan bagian dari penelitian tersebut. DAFTAR PUSTAKA