Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Pemetaan kerapatan bangunan pada tahun 2018 dan 2023 menggunakan Normalized Difference Built-Up Index (NDBI) di Kota Sukabumi Muhammad Deffry 1,*. Ilham Badaruddin Mataburu2 Geografi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Jakarta. Jl. Rawamangun Muka Raya No. 2 Geografi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Jakarta. Jl. Rawamangun Muka Raya No. *) Email Korespondensi: mdefri35@gmail. Abstract Sitasi: Deffry. Mataburu. B2. Pemetaan Kerapatan Bangunan Pada Tahun 2018 Menggunakan Normalized Difference BuiltUp Index (NDBI) di Kota Sukabumi. Jurnal Sains Geografi. Vol. No. Sejarah Artikel: Diterima: 14 Januari 2024 Disetujui: 15 Maret 2024 Publikasi:27 Mei 2024 The growth of regional development activities in Indonesia has recently begun to grow very rapidly, especially in land use that has begun to be converted. Sukabumi city is one of the cities in Indonesia with continuous development. The NDBI method is a way to detect the index variable of builtup land. In 2018, it shows that the Sukabumi city area is dominated by non-built-up land, which is 3561. 17 ha and the smallest is very dense settlements, which is 1. 08 ha. 2023, it is dominated by undeveloped land with an area of 84 ha and the smallest area in very dense settlements with an area of about 0. 3 ha only. undeveloped land has an additional land area of 0. 02% or 1. 67 ha. An increase also occurred in settlements with a sparse density of 1. 12% or 43 ha. Settlements with a tight density have an inverse trend from the previous 2 classifications, decreasing by 78% or 29. 34 ha. Then in settlements with very dense density, it has a downward trend of 57. 06% or 0. 78 ha. This is a fairly good trend, where there is an increase in undeveloped areas and a reduction in land with a tight and very tight density. Keywords: Built-up Land. Index. NDBI. Sukabumi City Abstrak Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Perkembangan dari kegiatan pembangunan suatu wilayah di Indonesia akhir Ae akhir ini mulai berkembang dengan sangat pesat, khususnya pada penggunaan lahan yang mulai dikonversi Kota Sukabumi menjadi salah satu kota yang berada di Indonesia dengan perkembangan pembangunan yang terus berkelanjutan. Metode NDBI merupakan cara untuk mendeteksi variabel indeks dari lahan yang terbangun. pada tahun 2018 menunjukkan bahwa wilayah kota sukabumi dominan pada wilayah bukan lahan terbangun, yaitu seluas 3561,17 ha dan terkecil pada permukiman yang sangat rapat yakni seluas 1,08 ha. Pada tahun 2023, didominasi oleh lahan tidak terbangun dengan luasan 3562,84 ha serta luasan terkecil pada lahan permukiman yang sangat padat dengan luasan sekitar 0,3 ha saja. lahan tidak terbangun memiliki penambahan lahan sebesar 0,02% atau 1,67 Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Kenaikan juga terjadi pada permukiman dengan kepadatan yang jarang yaitu sebesar 1,12% atau 28,43 ha. Permukiman dengan kepadatan yang rapat memiliki tren yang terbalik dari 2 klasifikasi sebelumnya, yaitu menurun sebesar 44,78% atau 29,34 Lalu pada permukiman dengan kepadatan yang sangat rapat, memiliki tren penurunan, yaitu sebesar 57,06% atau 0,78 ha. Hal ini merupakan tren yang cukup baik. Dimana terjadi penambahan wilayah yang tidak terbangun dan pengurangan pada lahan dengan kepadatan yang rapat dan sangat rapat. Kata Kunci: Lahan Terbangun. Indeks. NDBI. Kota Sukabumi et al. , 2. Konversi lahan menjadi Pendahuluan Perkembangan lahan terbangun ini lebih masif pembangunan suatu wilayah di Indonesia akhir Ae akhir ini mulai berkembang dengan sangat pesat, khususnya pada penggunaan lahan Perubahan lahan yang terjadi dikarenakan adanya laju urbanisasi (Widiawaty, 2. , penduduk (Handayani, 2. , serta munculnya status wilayah sebagai destinasi wisata (Hendrawan et al. Perubahan lahan yang terjadi bukan dipergunakan untuk produksi Perkebunan, melainkan lahan ini dikonversi dari (Ichsan Ali et al. , 2. Kota yang dengan perluasan konversi lahan ke dikaitkan dengan perluasan lahan (Zahrotunisa. Perkembangan lahan terbangun ini infrastruktur seperti keterjangkauan transportasi, fasilitas sosial, dan fasilitas umum. Infrastruktur tersebut antara kebutuhan masyarakat dengan ketersediaan pelayanan sosial atau umum yang layak dan terjangkau. menjadi lahan terbangun (Hidayati Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Kota Sukabumi wilayahnya yang strategis, tepatnya wilayah dengan administrasi daerah di jalur antara ibu kota provinsi Jawa Barat (Bandun. dan ibu kota negara Kecamatan (Jakart. serta didukung infrastruktur Gunung Puyuh. Kecamatan Cikole, yang memadai menjadikan Kota Kecamatan Citamiang. Kecamatan Sukabumi sebagai salah satu tujuan Warudoyong. Baros, para pendatang dari berbagai daerah Kecamatan Lembursitu, untuk datang dan tinggal (BPBD Kecamatan Cibeureum (BPBD Sukabumi, 2. Kota Sukabumi menjadi salah satu kota yang berada di Indonesia dengan perkembangan Perkembangan perekonomian hingga pertumbuhan penduduk mulai sangat pesat saat Hal tersebut diketahui dengan adanya pembangunan permukiman supermarket ataupun mal yang bisa kita lihat di google maps dan google Hal ini dikarenakan Kota Sukabumi terletak di antara pusat Jabodetabek dan Bandung Raya. Jarak dari Kota Bandung A 96 KM dan jarak dari kota DKI Jakarta A 120 KM. Jarak yang relatif dekat ini membuat pergerakan orang dan barang secara signifikan meningkat kota-kota Letak Sukabumi, 2. Analisis citra digital merupakan salah satu cara dalam mengetahui penyebaran penggunaan lahan di Kelebihan mempermudah dalam pengelolaan dengan berbagai algoritma yang (Rosyadi & Azahra, 2. Dengan demikian, informasi yang dihasilkan penggabungan dengan informasi Ae pengembangan dari hasil (Mansouri et al. , 2. Peneliti memiliki persebaran dan luasan dari lahan terbangun dan lahan yang tidak terbangun di kota Sukabumi dengan NDBI (Normalized Difference Built-Up Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Inde. dengan memanfaatkan citra LANDSAT Perkembangan OLI. akan dilihat perbedaannya dalam kurun waktu 5 tahun, sehingga citra LANDSAT yang dibutuhkan adalah batas dengan kecamatan di Kabupaten Sukabumi, yaitu Kecamatan Sukabumi di bagian utara. Kecamatan Nyalindung bagian Selatan. Kecamatan Cisaat sebelah barat, dan Kecamatan Sukaraja di sebelah timur. Diagram Alir citra landsat tahun 2018 dan 2023 dengan menggunakan Band 5 (NIR atau Inframerah deka. dan Band 6 (SWIR atau Inframerah gelombang pende. (Khomarudin, 2. Metode Penelitian Area Studi Persiapan Penelitian Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan beberapa data dan perangkat yang menjadi faktor pendukung penelitian, yaitu: Studi Literatur Citra Satelit Landsat 8 OLI tahun 2018 . Septembe. Gambar 1. Peta Administrasi Kota Sukabumi Kota Sukabumi merupakan salah satu kota di Jawa Barat dengan letak koordinat yaitu, 6A49Ao29Ay Lintang Utara dan 6A50Ao44Ay Lintang Selatan serta 106A45Ao50Ay Bujur Timur dan 106A45Ao10Ay Bujur Barat. Kota Sukabumi yang dikelilingi oleh Kabupaten Sukabumi ini memiliki dan 2023 . Septembe. Peta Administrasi Kota Sukabumi . umber: Badan Informasi Geospasia. Laptop Software Arcgis 10. Metode NDBI (Normalized Difference Built-Up Inde. Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Pada Penelitian NDBI = . 6 - b. : . 6 b. penulis menggunakan Metode NDBI dalam analisis citra yang (SWIR 1 Ae NIR) : (SWIR1 NIR) bertujuan mengidentifikasi lahan Keterangan: bangunan yang terjadi di suatu NDBI Metode ini merupakan Built Up Index cara untuk mendeteksi variabel indeks dari lahan SWIR 1/b6 : Short Wave Infrared/ Band 6 yang diperkenalkan dalam proses NIR/b5 otomatisasi pemetaan dari lahan Pola spektral wilayah perkotaan di atas, selanjutnya dibuat menjadi empat klasifikasi berdasarkan hasil kerapatan bangunan, yaitu: wilayah perkotaan sangat peka NIR (Near Infrare. dan band Swir 1 (Short Wave Infrare. Pada Metode NDBI, menggunakan algoritma matematika berbeda dengan tutupan lahan : Near Infrared/ Band 5 Setelah melakukan pengkoreksian yang terbangun (Zha et al. , 2. : Normalized Difference Hasil dan Pembahasan Hasil Di bawah merupakan peta hasil dari perhitungan algoritma matematika dari rumus NDBI pada tahun 2018. Terlihat masih banyak wilayah Kota Sukabumi yang termamsuk ke dalam klasifikasi non-permukiman (-1 Ae . dan permukiman jarang . Ae 0,. Wilayah Utara dari kota Sukabumi didominasi oleh dua klasifikasi tersebut. Tabel 1. Klasifikasi Normalized Difference Built-Up Index (NDBI) Sumber: (Handayani, 2. Kelas -1 Ae 0 0 Ae 0,1 0,1 Ae 0,2 0,2 Ae 0,3 Keterangan Non Permukiman / bukan lahan terbangun Permukiman Jarang Permukiman Padat Permukiman Sangat Padat Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Analisis NDBI (Normalized Difference Built-Up Inde. Kota Sukabumi Tahun 2018 Tabel 2. Luasan Hasil NDBI Kota Sukabumi Tahun 2018 Gambar 2. Peta NDBI Kota Sukabumi . Peta di bawah ini merupakan hasil dari perhitungan NDBI di Kota Sukabumi pada tahun 2023. Wilayah kota sukabumi pada tahun 2023 terlihat didominasi oleh permukiman yang jarang . Ae 0,. hingga non permukiman (-1 Ae 0 ). Namun terdapat beberapa permukiman rapat . ,1 Ae 0,. di bagian utara dan di bagian Selatan dari wilayah kota Sukabumi. Gambar 2. Peta NDBI Kota Sukabumi . Pembahasan Keterangan Luas . Non Permukiman 3561,17 Permukiman Jarang 1256,38 Permukiman Rapat 47,44 Permukiman Sangat Rapat 1,08 Pada penilaian indeks lahan terbangun pada tahun 2018 menunjukkan bahwa wilayah kota sukabumi memiliki indeks NDBI yang dominan pada wilayah bukan lahan terbangun. Berdasarkan menunjukkan bahwa dengan indeks klasifikasi -1 Ae 0 atau memiliki luasan 3561,17 ha. Lalu pada lahan terbangun dengan kerapatan permukiman yang jarang atau dengan indeks 0 Ae 0,1, merupakan klasifikasi NDBI terluas kedua, yaitu seluas 1256,38 ha. Lalu disusul oleh permukiman yang rapat dengan indeks 0,1 Ae 0,2 seluas 47,44 ha, dan permukiman yang sangat rapat dengan indeks 0,2 Ae 0,3 yakni seluas 1,08 ha. Lahan terbangun terlihat lebih luas di wilayah Selatan dari Kota Sukabumi, sedangkan wilayah Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. dengan permukiman jarang, terlihat banyak di wilayah utara Kota Sukabumi. Wilayah Utara bagian Tengah dari Kota Sukabumi kuning dan merah yang bangunan yang rapat dan sangat rapat Gambar 2. 1284,8 ha. Terdapat permukiman dengan kepadatan yang rapat dengan indeks 0,1 Ae 0,2, yaitu seluas 18,10 ha. Terakhir, pada lahan permukiman yang sangat padat dengan indeks 0,2 Ae 0,3 masih terbilang kecil karena memiliki luasan sekitar 0,3 ha Analisis NDBI (Normalized Difference Built-Up Inde. Kota Sukabumi Tahun 2023 Pada tahun 2023, terlihat permukiman yang jarang masih terdapat pada wilayah Kota Sukabumi bagian utara dan mulai menyebar ke arah Selatan. Sehingga permukiman di wilayah Selatan Lalu permukiman rapat yang diberi tanda berwarna kuning, mulai menyebar dibeberapa titik yang Selatan. Permukiman yang memiliki kepadatan yang sangat rapat, masih berada di wilayah utara Tengah Gambar 3. Tabel 3. Luasan Hasil NDBI Kota Sukabumi Tahun 2023 T Keterangan b Permukiman Non Permukiman Jarang Luas . 3562,84 1284,80 Permukiman Rapat 18,10 Permukiman Sangat 0,30 Rapat dihasilkan setelah dilakukan klasifikasi dari citra. Pada tahun 2023. Kota Sukabumi masih didominasi oleh lahan tidak terbangun atau dengan nilai NDBI -1 Ae 0, yaitu seluas 3562,84 ha. Selanjutnya disusul kerapatan yang jarang dengan penilaian indeks 0 Ae 0,1, seluas Analisis NDBI Tahun 2018 dan 2023 di Kota Sukabumi Setiap tahun ke tahun pasti sebuah kota akan mengalami perubahan penggunaan lahan, baik menjadi rapat maupun menjadi renggang. Tabel 4. Persentase dan Luasan Perubahan Lahan Terbangun di Kota Sukabumi 2018 hingga 2023 Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Keterangan Persentase (%) Luasan . Non Permukiman 0,02 1,67 Permukiman Jarang 1,12 28,43 Permukiman Rapat -44,78 -29,34 Permukiman Sangat Rapat -57,06 -0,78 peta sebelumnya bahwa area berwarna kuning yang diartikan sebagai permukiman rapat dan hijau tua yang diinterpretasikan permukiman menjadi berwarna hijau muda atau permukiman dengan kepadatan jarang di Permukiman dengan kepadatan yang rapat memiliki tren yang terbalik dibandingkan dua klasifikasi sebelumnya, yaitu menurun sebesar 44,78% atau 29,34 ha lahan tidak menjadi wilayah dengan permukiman Lalu permukiman dengan kepadatan yang sangat rapat, memiliki tren penurunan pada tahun 2023 tertinggi, yaitu sebesar 57,06% atau 0,78 ha lahan yang tidak lagi menjadi wilayah dengan permukiman yang sangat rapat. Tabel di atas, merupakan besaran persentase perubahan yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2018 hingga tahun 2023 di Kota Sukabumi. Pada tabel diberlakukan rumus persentase pada setiap kelas dari Normalized Difference Built-Up Index (NDBI): Hal ini merupakan tren yang cukup baik. Dimana terjadi penambahan wilayah yang tidak terbangun dan pengurangan pada lahan dengan kepadatan yang rapat hingga sangat rapat. Meskipun permukiman yang jarang bertambah, hal tersebut masih terbilang positif karena 1,12% (. 3 Ae 2. : . ) Berdasarkan rumus di wilayah dengan lahan tidak penambahan lahan sebesar 0,02% atau 1,67 ha. Hal ini merupakan tren yang positif karena terjadi penambahan lahan terbuka baik untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) ataupun pemanfaatan sebagai lahan Perkebunan. Kenaikan juga terjadi pada permukiman dengan kepadatan yang jarang yaitu sebesar 1,12% atau 28,43 ha. Hal ini terlihat di Kesimpulan C Kota Sukabumi menjadi salah satu kota yang berada di Indonesia perkembangan pembangunan yang terus berkelanjutan. Metode NDBI dipergunakan untuk mengidentifikasi lahan terbangun ataupun kerapatan bangunan yang terjadi di suatu wilayah. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Berdasarkan tabel tahun 2018, menunjukkan bahwa wilayah tidak terbangun memiliki luas 3561,17 ha, permukiman yang jarang 1256,38 ha, permukiman rapat seluas 47,44 ha, dan permukiman yang sangat rapat seluas 1,08 ha. Pada tahun 2023. Kota Sukabumi masih didominasi oleh lahan tidak terbangun dengan luasan 3562,84 ha. Permukiman kerapatan yang jarang seluas 1284,8 ha, permukiman dengan kepadatan yang rapat 18,10 ha, dan permukiman yang sangat padat dengan luasan sekitar 0,3 ha. Tahun 2018 hingga 2023 memiliki wilayah dengan lahan sebesar 0,02% atau 1,67 ha dan permukiman dengan kepadatan yang jarang yaitu sebesar 1,12% atau 28,43 ha. yang rapat memiliki tren klasifikasi sebelumnya, yaitu menurun sebesar 44,78% 29,34 kepadatan yang sangat rapat, memiliki tren penurunan yaitu sebesar 57,06% atau 0,78 ha. Hal ini merupakan tren yang cukup baik dalam segi ketersediaan lahan terbuka Dimana penambahan wilayah yang pengurangan pada lahan dengan kepadatan yang rapat hingga sangat rapat. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Daftar Pustaka