86 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Kontribusi Lokus Kendali. Regulasi Emosi, dan Harga Diri terhadap Tingkat Kesejahteraan Psikologis Astiti Tenriawaru Ahmad. Nurfajriyanti Rasyid. Program Studi Psikologi. Universitas Negeri Makassar. Indonesia Email: astiti. tenriawaru@unm. Abstract. Psychological well-being is a multidimensional construct crucial for human This study aims to analyze the influence of internal and external locus of control, emotion regulation, and self-esteem on psychological well-being. The sample consisted of 219 respondents. Linear regression analysis showed that the model explained 45. of the variance in psychological well-being (RA = 0. Self-esteem was the strongest predictor ( = 0. 526, p < 0. , followed by internal locus of control ( = 0. 522, p < External locus of control had a significant negative effect ( = -0. 407, p = 0. while emotion regulation contributed minimally ( = 0. 046, p = 0. The findings were validated with Spearman correlation, showing convergent validity. The findings imply that self-esteem and sense of internal control are the main determinants of psychological well-being among students. Keywords: psychological well-being, locus of control, self-esteem, emotion regulation This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Kontribusi Lokus Kendali. Regulasi Emosi, dan Harga Diri PENDAHULUAN Kesehatan mental mahasiswa di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius yang memerlukan perhatian khusus. Data terkini dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental pada kelompok usia 15-24 tahun mencapai 2%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 1,4%. Kondisi ini semakin memprihatinkan dengan temuan dari berbagai penelitian di perguruan tinggi yang menunjukkan angka jauh lebih tinggi: 21,9% mahasiswa mengalami gangguan mental berat (Universitas Negeri Surabaya, 2. , dan 58,9% mahasiswa mengalami stres (Samarinda, 2. Lebih mengkhawatirkan lagi, riset Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa . melaporkan adanya peningkatan signifikan prevalensi gangguan kecemasan menjadi 16% dan depresi menjadi 17,1%, meningkat dari data Riskesdas 2018 yang hanya 9,8% dan 6%. Kesejahteraan psikologis merupakan konstruk multidimensi yang mencerminkan fungsi psikologis optimal individu dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Ryan dan Deci . , kesejahteraan psikologis bukan hanya ketiadaan dari penyakit mental, melainkan kehadiran unsur-unsur positif seperti otonomi, kompetensi, dan relasi yang bermakna. Dalam konteks modern yang penuh stres, pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan psikologis menjadi semakin penting untuk promosi kesehatan mental dan peningkatan kualitas hidup. Lokus kendali, yaitu persepsi individu tentang sejauh mana mereka dapat mengendalikan kejadian dalam hidup (Rotter, 1. , terdiri dari dua dimensi: internal . eyakinan bahwa hidup dikendalikan oleh diri sendir. dan eksternal . eyakinan bahwa hidup dikendalikan oleh faktor eksternal atau nasi. Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa lokus kendali internal konsisten berhubungan dengan kesejahteraan yang lebih tinggi (Lin et al. , 2. Harga diri, yang didefinisikan sebagai evaluasi keseluruhan individu terhadap nilai diri mereka (Rosenberg, 1. , juga merupakan prediktor penting kesejahteraan psikologis dengan bukti yang kuat dari berbagai studi populasi (Orth et al. , 2. Regulasi emosi, kemampuan memodulasi pengalaman dan ekspresi emosi (Gross & John, 2. , merupakan konstruk yang dinamis dan dapat ditingkatkan melalui intervensi (English et al. , 2. Meskipun literatur individual menunjukkan hubungan signifikan antara setiap variabel dengan kesejahteraan psikologis, penelitian yang mengintegrasikan keempat faktor ini secara simultan dalam model regresi yang kuat masih terbatas, terutama di konteks Indonesia. Penelitian ini dirancang untuk menganalisis kontribusi relatif masingmasing prediktor terhadap kesejahteraan psikologis dengan menggunakan pendekatan regresi linear yang dilengkapi validasi nonparametrik . orelasi Spearma. untuk memastikan ketangguhan terhadap pelanggaran asumsi normalitas. 88 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 METODE PENELITIAN Desain dan Sampel Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan analisis data Sampel terdiri dari 219 responden yang memiliki data lengkap untuk semua variabel yang diteliti. Kriteria inklusi adalah usia minimal 18 tahun dan bersedia berpartisipasi secara sukarela. Data dikumpulkan melalui survei daring dengan persetujuan tertulis yang jelas. Variabel dan Instrumen Pengukuran Variabel dependen adalah kesejahteraan psikologis, sementara variabel independen terdiri dari: . lokus kendali internal, . lokus kendali eksternal, . regulasi emosi, dan . harga diri. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen baku yang telah divalidasi dalam bahasa Indonesia dengan reliabilitas memadai. Skala pengukuran menggunakan format Likert yang memungkinkan responden memberikan penilaian pada kontinum respons yang jelas. Analisis Data Analisis data meliputi: . uji normalitas Shapiro-Wilk untuk mengecek asumsi distribusi normal, . analisis kolinearitas dengan faktor inflasi varians untuk mendeteksi multikolinearitas, . regresi linear metode kuadrat terkecil biasa untuk estimasi pengaruh, dan . korelasi Spearman untuk triangulasi dan validasi nonparametrik mengingat asumsi normalitas tidak terpenuhi. Signifikansi ditetapkan pada = 0,05. Semua analisis dilakukan dengan perangkat lunak jamovi versi 2. 3, sesuai rekomendasi untuk penelitian yang transparan dan dapat direproduksi (Lakens et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Sampel dan Uji Asumsi Sampel terdiri dari 219 responden. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa distribusi kesejahteraan psikologis tidak normal (W = 0,977, p = 0,. , melanggar asumsi normalitas regresi linear. Namun, multikolinearitas tidak terdeteksi dengan semua nilai faktor inflasi varians < 2 . okus kendali internal: FIV = 1,31. kendali eksternal: FIV = 1,15. regulasi emosi: FIV = 1,10. harga diri: FIV = 1,. , menunjukkan independensi yang memadai antarprediktor dan memvalidasi penggunaan regresi berganda (Hair et al. , 2. Kesesuaian Model dan Koefisien Regresi Model regresi linear menunjukkan kesesuaian yang kuat dengan RA = 0,456, bermakna 45,6% variasi kesejahteraan psikologis dijelaskan oleh keempat prediktor. Tabel 1 menampilkan koefisien regresi yang diperoleh: Harga diri merupakan prediktor terkuat ( = 0,526, p < 0,. , diikuti lokus kendali internal ( = 0,522, p < 0,. Lokus kendali eksternal menunjukkan pengaruh negatif signifikan ( = -0,407, p = 0,. , sementara regulasi emosi memberikan kontribusi Kontribusi Lokus Kendali. Regulasi Emosi, dan Harga Diri minimal meskipun signifikan ( = 0,046, p = 0,. Semua prediktor signifikan pada taraf = 0,05. Analisis dengan Spearman's Rho Untuk mengatasi pelanggaran asumsi normalitas, analisis korelasi Spearman dilakukan sebagai triangulasi. Hasil menunjukkan validitas konvergen yang kuat: harga diri (A = 0,614, p < 0,. , lokus kendali internal (A = 0,512, p < 0,. , lokus kendali eksternal (A = -0,352, p < 0,. , dan regulasi emosi (A = 0,266, p < 0,. Arah dan besaran korelasi konsisten dengan koefisien regresi, memperkuat validitas temuan meskipun asumsi normalitas dilanggar dan sejalan dengan prinsip mixed-methods validation (Creswell & Plano Clark, 2. Temuan penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa harga diri dan lokus kendali internal adalah determinan utama kesejahteraan psikologis, masing-masing dengan ukuran efek yang hampir setara ( OO 0,. Hal ini konsisten dengan Teori Determinasi Diri (Ryan & Deci, 2. yang menekankan otonomi dan kompetensi sebagai kebutuhan fundamental untuk kesejahteraan psikologis. Individu yang memiliki harga diri tinggi dan rasa kendali internal terhadap hidup mereka dilengkapi dengan pola pikir yang mendukung kesejahteraan, sejalan dengan meta-analisis terbaru tentang harga diri dan kesehatan psikologis (Orth et al. , 2. Sebaliknya, lokus kendali eksternal menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Kepercayaan bahwa hidup dikendalikan oleh faktor eksternal atau nasib dikaitkan dengan fatalisme, ketidakberdayaan, dan berkurangnya kekuatan diri atau semua kondisi yang menurunkan kesejahteraan. Temuan ini sejalan dengan literatur terkini yang menunjukkan bahwa lokus kendali eksternal adalah faktor risiko untuk kecemasan, depresi, dan kesejahteraan subjektif yang rendah (Lin et al. , 2021. Ng & Diener, 2. Regulasi emosi memberikan kontribusi positif tetapi minor terhadap kesejahteraan psikologis ( = 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa sementara kemampuan meregulasi emosi memiliki peran pelindung, ia bukan pendorong utama kesejahteraan dalam model ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa regulasi emosi lebih berfungsi sebagai mekanisme koping yang membantu mengelola stres (English et , 2. , sementara harga diri dan lokus kendali lebih fundamental dalam membentuk kepuasan hidup dan kesehatan psikologis secara keseluruhan. Ini konsisten dengan model proses regulasi emosi yang menunjukkan bahwa efektivitas regulasi bergantung pada keyakinan mendasar tentang nilai diri dan kendali (Gross & Barrett, 2. Model menjelaskan 45,6% variasi kesejahteraan psikologis, menyisakan 54,4% yang dipengaruhi oleh variabel lain seperti dukungan sosial, makna/tujuan hidup, pertumbuhan pribadi, dan hubungan interpersonal. Temuan ini menekankan bahwa kesejahteraan psikologis adalah hasil multidimensi yang dipengaruhi banyak hal, sejalan dengan model kesejahteraan kontemporer yang multifaset (Ryff, 2. Namun, proporsi yang dijelaskan model cukup substansial untuk konteks penelitian psikologi, 90 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 mengindikasikan bahwa persepsi diri . arga dir. dan kendali diri adalah komponen signifikan dari kesejahteraan dan target yang berharga untuk intervensi. Pelanggaran asumsi normalitas (Shapiro-Wilk,p=0,. ditangani melalui validasi nonparametrik dengan korelasi Spearman, yang menunjukkan validitas konvergen. Pendekatan metode ganda ini meningkatkan kepercayaan pada temuan meskipun asumsi tidak sepenuhnya terpenuhi, dan menunjukkan ketepatan kesimpulan substantif (Kline, 2. Penggunaan metode bootstrap methods dan robust standard errors direkomendasikan untuk penelitian lanjutan guna memvalidasi lebih lanjut temuan di bawah pelanggaran asumsi. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa harga diri dan lokus kendali internal adalah determinan utama kesejahteraan psikologis yang hampir sama kuatnya, sementara lokus kendali eksternal berperan sebagai faktor risiko signifikan. Regulasi emosi memiliki kontribusi minimal dalam model ini. Model menjelaskan 45,6% variasi kesejahteraan psikologis, mengindikasikan pentingnya berbagai jalur dalam kesejahteraan psikologis. Temuan divalidasi melalui analisis nonparametrik yang menunjukkan validitas konvergen, meningkatkan ketepatan kesimpulan dan kepercayaan pada hasil meskipun asumsi normalitas dilanggar. Implikasi Praktis dalam penelitian ini antara lain Program intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis yang berfokus pada peningkatan harga diri dan meningkatkan lokus kendali internal melalui pembinaan, pelatihan keterampilan, dan program pemberdayaan restrukturisasi kognitif untuk mengurangi lokus kendali eksternal . eyakinan fatalisti. juga penting. Pelatihan regulasi emosi dapat ditambahkan sebagai dukungan lainnya. Temuan ini relevan untuk kesehatan kerja, psikologi klinis, dan program kesehatan mental masyarakat. Saran untuk Penelitian Lanjutan yaitu penelitian kuasi-eksperimental diperlukan untuk menetapkan hubungan kausal. Eksplorasi variabel mediator . isalnya, strategi koping, makna hidup, dukungan sosia. dan moderator . isalnya, usia, jenis kelamin, faktor buday. dapat memperdalam pemahaman tentang mekanisme yang menghubungkan prediktor dengan kesejahteraan psikologis. Generalisasi perlu diuji pada populasi yang beragam dan konteks budaya yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA