JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 IMPLEMENTASI MANAJEMEN BANDWIDTH METODE PCQ DAN QUEUE TREE DI PT KURNIA SYLVA Zidan Rizaldi Naufal. Herman Kuswanto. 1,2 Program Studi Informatika. Universitas Nusa Mandiri. Jl. Raya Jatiwaringin No. Jakarta Timur Co Responden Email: zidanrizaldinaufal@gmail. Abstract Article history Received 18 Sep 2025 Revised 23 Oct 2025 Accepted 10 Jan 2026 Available online 31 Jan 2026 Keywords Bandwidth. Mikrotik. Queue tree. Per connection queue. PT Kurnia Sylva is a mapping consultancy company that heavily relies on internet connectivity to support its operations, especially within the Geographic Information System (GIS) division. However, the existing network infrastructure faces significant issues due to the absence of a bandwidth management system, resulting in uneven internet speed distribution across divisions. This study aims to implement an effective bandwidth management strategy using the Per connection queue (PCQ) and Queue tree methods on Mikrotik devices. The PCQ method is employed to automatically and fairly allocate bandwidth to each user within a division, while the Queue tree method is used to separate and manage bandwidth allocation based on traffic types, such as download traffic. The research methodology includes observation, interviews, literature review, network design, as well as simulation and testing using VirtualBox and WinBox. The test results indicate that the system successfully distributes bandwidth according to the predefined allocation for each division under both multiuser and multi-profile scenarios. The combination of PCQ and Queue tree methods has proven to be effective in achieving fair and efficient internet distribution, thereby improving overall network performance. This solution is deemed feasible for real-world implementation to support work productivity within PT Kurnia Sylva. Abstrak Riwayat Diterima 18 Sep 2025 Revisi 23 Okt 2025 Disetujui 10 Jan 2026 Terbit online 31 Jan 2026 Kata Kunci Bandwidth. Mikrotik. Queue tree. Per connection queue PT Kurnia Sylva merupakan perusahaan konsultan pemetaan yang sangat bergantung pada jaringan internet dalam mendukung aktivitas pekerjaan, terutama pada divisi Geographic Information System (GIS). Namun, jaringan internet eksisting mengalami permasalahan serius akibat tidak adanya sistem manajemen bandwidth, sehingga distribusi kecepatan internet menjadi tidak merata antar divisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan manajemen bandwidth yang efektif dengan menggunakan metode Per connection queue (PCQ) dan Queue tree pada perangkat Mikrotik. Metode PCQ digunakan untuk membagi bandwidth secara adil dan otomatis kepada setiap pengguna dalam satu divisi, sedangkan Queue tree dimanfaatkan untuk memisahkan dan mengatur alokasi bandwidth berdasarkan jenis trafik seperti unduhan. Penelitian dilakukan melalui tahap observasi, wawancara, studi pustaka, desain jaringan, serta simulasi dan pengujian virtual menggunakan VirtualBox dan WinBox. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu mendistribusikan bandwidth sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan pada setiap divisi, baik dalam skenario multi-user maupun multi-profile. Penggunaan kombinasi metode PCQ dan Queue tree terbukti efektif dalam menciptakan distribusi internet yang adil dan efisien, serta mampu meningkatkan kinerja jaringan secara Solusi ini layak diimplementasikan secara nyata untuk menunjang produktivitas kerja di lingkungan PT Kurnia Sylva . PENDAHULUAN PT Kurnia Sylva merupakan perusahaan konsultan di bidang Kehutanan. Geograpic Information System (GIS). Field Surveying. Field Development, dan Lingkungan. Terdapat beberapa divisi pada PT Kurnia Sylva, yaitu Teknis Kehutanan. Administrasi JIKA | 20 Copyright @2026 JIKA (Jurnal of Informatic. Licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 Inventarisasi. Teknis Geograpic Information System (GIS) sebagai divisi yang diutamakan dalam PT Kurnia Sylva. Pekerjaan di Kantor PT Kurnia Sylva sangat bergantung pada efektivitas penggunaan internet untuk saling bertukar informasi dan memproses informasi, seperti aplikasi-aplikasi GIS yang diharuskan tersambung ke GIS Server untuk mengakses informasi, serta pengunduhan citra satelit resolusi tinggi. PT Kurnia Sylva memiliki jaringan komputer eksisting yang telah dipakai dan dimanfaatkan selama bertahun-tahun. Jaringan komputer sendiri menurut (Fauzan Prasetyo Eka Putra & Muhammad Umar Mansyur, 2. adalah sebuah jaringan yang perangkat-perangkat komputer sehingga dapat memungkinkan terjadinya pertukaran informasi antar perangkat komputer serta penggunaan sumber daya elektronik secara bersama, seperti berkas, printer, atau media penyimpanan diperlukan. Berdasarkan jenis jaringan berdasarkan cakupan wilayah yang sempit dan hanya di satu gedung, jaringan di kantor PT Kurnia Sylva merupakan jaringan Local Area Network (Yang Agita Rindri, 2. Jaringan di PT Kurnia Sylva memanfaatkan topologi tree, yaitu kombinasi jaringan bintang yang setiap nodenya memiliki sambungan langsung ke sebuah node utama yang berada di tengah jaringan, sehingga susunan node tersebut membentuk pola seperti bintang dan topologi bus yang disusun menggunakan satu kabel (Yang Agita Rindri, 2. Internet di Kantor PT Kurnia Sylva digunakan untuk administrasi kantor, konferensi tatap muka daring untuk membahas teknis kehutanan, tetapi mayoritas kecepatan internet digunakan untuk mengakses GIS server dan pengunduhan citra satelit resolusi tinggi. Namun jaringan internet eksisting tersebut memiliki masalah yaitu tidak adanya administrasi jaringan yang mengakibatkan dikarenakan tidak adanya manajemen bandwidth yang berfungsi sebagai pengontrol kecepatan transfer data, prioritisasi, hingga pengawasan (Dr. Indrarini Dyah Irawati & Muhammad Iqbal, 2. yang baik dan adil antar divisi yang ada di PT Kurnia Sylva. Padahal, hal tersebut salah satu faktor yang menentukan efektifitas pekerjaan (Asri Choirinisa & Ikhwan, n. ) Ketidakhadiran P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 manajemen bandwidth yang memadai menyebabkan divisi GIS yang memerlukan koneksi internet berkecepatan tinggi dan stabil untuk pengunduhan kerap mengalami kendala. Jaringan Kurnia Sylva memanfaatkan Mikrotik sebagai sistem Mikrotik terdiri dari dua jenis, yaitu Mikrotik RouterOS yang merupakan perangkat lunak berbasis Linux yang memiliki fitur routing, bridging, firewall, proxy server, hotspot, dan bandwidth management dan Mikrotik Routerboard yang merupakan perangkat keras yang dikembangkan oleh perusahaan Mikrotik, di dalam Mikrotik Routerboard sudah terinstall Mikrotik RouterOS. (Deni Bahtiar et al. , 2. Mikrotik terdiri dari dua jenis, yaitu Mikrotik RouterOS yang merupakan perangkat lunak berbasis Linux yang memiliki fitur routing, bridging, firewall, proxy server, hotspot, dan bandwidth management dan Mikrotik Routerboard yang dikembangkan oleh perusahaan Mikrotik, di dalam Mikrotik Routerboard sudah terinstall Mikrotik RouterOS. (Deni Bahtiar et al. , 2. Terdapat beberapa metode pembagian bandwidth pada mikrotik yang biasa digunakan, salah satunya adalah Per Connection Queue (PCQ) memanfaatkan Queue Tree. (Santoso, 2. Menurut Christanto . AuMetode Per Connection Queue dan Queue Tree mampu memaksimalkan bandwidth tanpa harus Ay(Christanto. Daru, & Kurniawan, 2. Per Connection Queue dimanfaatkan untuk mengelompokkan setiap divisi menjadi user profile sehingga setiap divisi dapat dibedakan dengan divisi lainnya. (Habibi, 2. Selain itu, metode Per Connection Queue digunakan untuk menghasilkan kecepatan unduh lebih baik,(Christanto et al. , 2. dikarenakan pada Per Connection Queue, bandwidth setiap user profile dibagi merata secara otomatis. Sedangkan metode Queue Tree dimanfaatkan untuk memisahkan protokol seperti unggah dan unduh, selain itu metode Queue Tree diterapkan agar kecepatan internet tetap stabil dan efisien. (Aminah, 2. AuAnalisa Bandwidth Menggunakan Metode Antrian Per Connection QueueAy menjelaskan bahwa untuk mengurangi dampak tidak stabilnya koneksi internet. JIKA | 21 Copyright @2026 JIKA (Jurnal of Informatic. Licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 diperlukan pengaturan bandwidth agar kecepatan transfer data dapat dimanfaatkan lebih optimal (Jumiati, 2. Penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian (Azizah & Veritawati, 2. , (Fikri Dwilaksono. Henni Endah Wahanani, & Mohammad Idhom, 2. yang memiliki permasalahan yang mirip, yaitu tidak stabilnya koneksi dan kecepatan internet yang disebabkan oleh sumber daya yang dimiliki tidak dapat dimanfaatkan secara efisien dikarenakan tidak adanya manajemen bandwidth. Terdapat dikombinasikan dengan Queue Tree, yaitu Peer Connection Queue (PCQ) dan Simple Queue. Dari dua cara pembatasan bandwidth tersebut memiliki keunggulan masing-masing seusai dengan tujuan penggunaannya (Karisma & Juansen, 2. , sementara Queue Tree mengalokasikan bandwidth berdasarkan port, alamat IP, ataupun protokol. Paket data akan ditandai dan tanda tersebut akan digunakan untuk pengidentifikasian arus paket pada Queue Tree (Surya Imansyah, 2. Pada prinsipnya. Peer Connection Queue (PCQ) mendistribuskan bandwidth yang dalam profil pengguna yang sama secara otomatis (Surya Imansyah, 2. Penelitian yang dilakukan di Plasa Telkom Beureunen (Muhammad Khatami, pembatasan bandwidth memanfaatkan metode Peer Connection Queue (PCQ) dengan Queue Tree dengan parameter hasil quality of servicenya Ausangat bagus. Ay Manajemen bandwidth yang dilakukan di MTs. Muhammadiyah Tawangsari (Prasetyo. Santoso, & Riyadi, 2. juga berhasil mengimplementasikan metode yang sama. Hasil dari implementasi tersebut diindikasikan dari kesesuaian pembatasan kecepatan unduh yang dihasilkan dengan kecepatan unduh yang direncanakan. Metode manajemen bandwidth lain yang dapat dimanfaatkan adalah metode Simple Queue yang dikombinasikan dengan Queue Tree. Simple Queue bekerja dengan memberikan Hierarchical Token Bucket (HTB) dengan pemanfaatan lalu lintas prioritas dan limitasi ganda (Anwar, 2. Metode pembatasan bandwidth dengan metode tersebut berhasil diterapkan pada penelitian (Rahman. Ibrahim. Nurdin, & Qomaruddin, 2. yang berhasil meminimalisir terjadinya P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 over bandwidth pada pengguna jaringan. Sementara itu. Quality of Service dengan teknik Simple Queue dan Queue Tree dilakukan pada penelitian (Valia Yoga Pudya Ardhana & Mulyodiputro, 2. dengan hasil sangat memuaskan dan dapat digunakan pada Dengan meninjau jurnal penelitian terdahulu, penelitian yang dilakukan di PT Kurnia Sylva yaitu dengan kombinasi teknik Peer Connection Queue (PCQ) dan Queue Tree. Metode tersebut dinilai lebih cocok diimplementasikan di Kantor PT Kurnia Sylva. Hal tersebut didukung oleh penelitian (Nurjanah, 2. yang membandingkan pendekatan pembasatan bandwidth antara metode PCQ dan Simple Queue. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa AuPCQ terbukti paling cocok dalam pembagian bandwidth yang akurat sesuai dengan pembatas yang telah ditetapkan. Ay Dari uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi dalam administrasi manajemen bandwidth yang efektif di PT Kurnia Sylva menggunakan metode Per Queue menggunakan Mikrotik, guna memastikan distribusi bandwidth yang adil antar divisi. Serta mengoptimalkan pemanfaatan jaringan internet eksisting untuk meningkatkan efektifitas kerja melalui pengelolaan koneksi internet yang terstruktur dan teradministrasi dengan baik. METODE PENELITIAN Metode penelitian dilakukan dengan 3 Yaitu Observasi yang dilaksanakan dengan memperhatikan aspek visual dan fungsi pada jaringan eksisting yang terdapat di Kantor PT Kurnia Sylva dengan alamat Jl. Bontang Nomor 57. Jatiwaringin Asri. Kecamatan Pondokgede. Kota Bekasi. Jawa Barat dengan hasil berupa gambaran tentang topologi dan teknologi yang dimanfaatkan di PT Kurnia Sylva. Wawancara mengajukan beberapa pertanyaan terkait permasalahan yang ada pada jaringan Hasil dimanfaatkan sebagai pertimbangan besaran bandwidth download yang akan diberikan kepada setiap divisi. Pada tahap ini, disepakati pula bahwa dalam administrasi jaringan di PT Kurnia Sylva dibagi dalam 3 divisi yang terdiri JIKA | 22 Copyright @2026 JIKA (Jurnal of Informatic. Licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 dari GIS. Adm, dan Hut yang akan dimanfaatkan sebagai user profile. Serta studi pustaka dilakukan dengan mencari teori-teori yang mendukung penelitian dari sumber buku, jurnal, maupun penelitian lampau. Gambar 1. Topologi Jaringan di PT Kurnia Sylva Analisis kebutuhan dilaksanakan untuk menunjang penelitian ini seperti Mikrotik Routerboard. Access Point, kabel, dan WinBox. Selain itu dilakukan pembuatan desain guna melakukan penggambaran jaringan eksisting dengan memanfaatkan aplikasi Packet Tracer. Gambar 3. Skema jaringan PT Kurnia Sylva. Pada tahap ini, disimpulkan pula bahwa di PT Kurnia Sylva keamanan jaringan wifi hanya menggunakan WPA2-PSK, dengan adanya penelitian ini juga akan diterapkan hotspot login dengan autentifikasi nama pengguna dan kata sandi pribadi untuk setiap pekerja di PT Kurnia Sylva untuk pengganti keamanan WPA2-PSK. Keamanan jaringan yang ada di Kantor PT Kurnia Sylva dinilai sudah cukup baik dan cukup aman dengan menggunakan Network Address Translation (NAT). Selain itu PT Kurnia Sylva Consultindo menggunakan Windows Security yang didukung oleh jasa keamanan komputer pihak ketiga Kaspersky Endpoint Security for Windows. Dalam tahap analisis kebutuhan juga dilakukan konfigurasi-konfigurasi yang Konfigurasi dalam penelitian meliputi konfigurasi hotspot login dan user P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 profile, konfigurasi mangle, konfigurasi queue tree, dan konfigurasi per connection queue. Konfigurasi pertama yang dilakukan adalah konfigurasi hotspot login dan user Konfigurasi hotspot login dan user profile dimanfaatkan sebagai autentifikasi awal pengguna agar dapat menggunakan koneksi internet yang ada di PT Kurnia Sylva. Di PT Kurnia Sylva terdapat 20 pekerja yang dikelompokkan menjadi 3 user profile dengan shared user sesuai dengan jumlah pekerja yang terdapat di masing-masing divisi kerja. Pada user profile terdapat pula penandaan incoming dan outgoing packet mark yang ditandai dengan nama Auuser profile-in/out. Ay packet mark tersebut dimanfaatkan sebagai mekanisme untuk mengelompokkan dan mengidentifikasi paket data berdasarkan aturan tertentu, yang dalam konteks penelitian kali ini adalah konfigurasi mangle. Gambar 2. User Profile Saat konfigurasi hotspot login dan user profile telah selesai, konfigurasi yang perlu konfigurasi mangle. Mangle merupakan fitur dalam Mikrotik RouterOS yang digunakan untuk menandai paket data dari berbagai trafik Dalam penelitian di PT Kurnia Sylva, terdapat beberapa konfigurasi mangle yang dibutuhkan, yaitu: Mark Packet dari user profile untuk menandai setiap paket dari pengguna dengan user profile. Tujuannya adalah agar paket data dapat dikenali sejak awal sebelum tahapan pengelolaan trafik berikutnya. Mark Connection (Preroutin. yang berfungsi menandai seluruh koneksi secara menyeluruh berdasarkan tanda dari paket awal, sehingga semua paket dalam koneksi yang sama dapat dikenali tanpa harus diperiksa kembali satu per satu. Paket data yang ditandai adalah paket data dari user Mark Packet dari Connection (Preroutin. yang dimanfaatkan sebagai penandaan yang memungkinkan sistem Mikrotik untuk JIKA | 23 Copyright @2026 JIKA (Jurnal of Informatic. Licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 mengelompokkan seluruh paket berdasarkan koneksi spesifik yang berasal dari user profile tertentu sehingga kebijakan queue yang akan dibuat dapat diterapkan dengan lebih tepat sasaran. Mark Packet ulang (Postroutin. yang bertujuan memastikan bahwa penandaan paket tetap terbaca setelah proses Network Address Translation (NAT), sehingga sistem dikonfigurasi dan diimplementasikan tetap dapat mengenali dan memproses paket data Hal ini dilakukan karena pada proses NAT yang terjadi di postrouting, informasi paket seperti IP Address sumber dapat berubah yang berakibat queue tree yang akan diimplementasikan tidak dapat lagi mengenal packet mark yang sebelumnya diterapkan di chain prerouting. Konfigurasi yang selanjutnya dilakukan adalah Queue Tree. Queue Tree dipilih karena bekerja lebih efektif dalam lingkungan jaringan yang sempit tetapi kompleks karena dapat mengelola lalu lintas paket data berdasarkan packet mark yang diberikan pada proses mangle. Hal ini memungkinkan mengelompokkan jenis trafik data, dalam permasalahan di PT Kurnia Sylva Consultindo adalah berdasarkan divisi kerja. Selain itu, queue Tree dapat bekerja langsung pada interface jaringan, sehingga bandwidth download dapat dikontrol secara menyeluruh pada sisi divisi kerja tanpa harus menetapkan target IP Adress secara eksplisit seperti pada metode simple queue. Queue tree disusun secara hierarkis berupa parent and child menggunakan Hierarchical Token Bucket (HTB) sebagai mekanisme dasar untuk membagi bandwidth. Namun, untuk menunjang pembagian bandwidth yang adil dan otomatis pada pengguna, digunakan pula metode Per Connection Queue (PCQ) sebagai tipe Per Connection Queue (PCQ) sangat cocok diterapkan dalam jaringan dengan multi-user karena mampu membagi bandwidth secara dinamis berdasarkan koneksi aktif tanpa harus mengatur batasan satu per satu setiap pengguna. Pada penelitian di PT Kurnia Sylva, pcq-rate diatur sebesar 0, yang berarti sistem tidak memberikan batas kecepatan secara langsung pada setiap klien. Sebaliknya, pembagian bandwidth dilakukan P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 secara dinamis tergantung pada jumlah pengguna aktif dan kapasitas bandwidth yang tersedia pada queue parent. Pendekatan ini mendukung skenario pembagian sumber daya yang adil, di mana setiap klien akan mendapatkan alokasi bandwidth yang seimbang dan efisien selama tidak melebihi total kapasitas jaringan. Kombinasi antara queue tree dan per connection queue (PCQ) menjadikan sistem pengaturan bandwidth download di PT Kurnia Sylva diharapkan lebih efisien, merata dan dapat disesuaikan dengan Setelah konfigurasi-konfigurasi diimplementasikan, langkah selanjutnya yag dilakukan adalah pengujian. Pengujian dilakukan secara simulasi dengan dua metode, multi-user menyambungkan beberapa user pada user profile yang sama. Pengetesan dapat dilakukan dengan mengakses kecepatan internet pada website w. com secara bersamaan. Tujuan pengetesan ini untuk memastikan bandwidth terbagi rata antar user pada user profile yang sama. Dan simulasi multi-profile, yaitu menyambungkan user pada user profile yang berbeda. Pengetesan ini dilakukan dengan cara yang sama dengan simulasi multiuser. Namun, tujuan pengetesan ini untuk memastikan bandwidth pada user profile yang berbeda telah sesuai dengan porsi yang konfigurasi bandwidth dengan metode Per connection queue dan Queue tree diimplementasikan pada dunia nyata, implementasi dan konfigurasi secara virtual dapat dilakukan dengan memanfaatkan Virtual Box Machine. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian memanfaatkan virtual box machine dengan 4 buah sistem operasi yang terdiri dari 3 buah sistem operasi Windows 7 dan sebuah sistem operasi RouterOS. Seluruh pengujian dilakukan dengan mengakses alamat web penguji kecepatan internet yaitu com Untuk mendukung pengujian, diperlukan validasi dengan melihat kolom average rate pada interface Mikrotik di aplikasi Winbox apakah penerapan sudah sesuai atau belum. Pengujian awal jaringan Pengujian awal pada jaringan di Kantor PT Kurnia Sylva dilakukan dengan menguji kecepatan internet tanpa adanya manajemen JIKA | 24 Copyright @2026 JIKA (Jurnal of Informatic. Licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 bandwidth download. Berikut adalah hasil dari Pengujian awal dengan tidak adanya manajemen bandwidth untuk download di mana sumber daya internet yang ada tidak terbagi secara merata dan terdapat tarikmenarik kecepatan internet dikarenakan terdapat faktor seperti kemampuan perangkat klien dalam memproses data dan jumlah data yang sedang digunakan oleh klien. P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 Pengujian akhir user profile Auadm. Ay Gambar 6. Pengujian akhir user profile Auadm. Ay Gambar 4. Pengujian awal dengan tidak adanya manajemen bandwidth. Pengujian menyambungkan beberapa user pada user profile yang sama dengan tujuan apakah bandwidth sudah terbagi dengan rata sesuai prinsip per connection queue (PCQ). samping itu, pengujian dengan simulasi multi profile dilakukan dengan menyambungkan user pada user profile yang berbeda dengan tujuan memastikan bandwidth sudah sesuai dengan porsi yang diberikan. Pada pengujian akhir untuk user profile adm, pada sisi klien menggunakan 3 user yang terdaftar pada user profile adm dengan maksimal bandwidth 1 Mbps. Ketiga user tersebut mengakses halaman web penguji kecepatan internet secara bersamaan dengan hasil PC1 sebesar 320 Kbps. PC2 370 Kbps, dan PC3 330 Kbps. Besaran data tersebut divalidasi oleh Mikrotik pada queue list dengan Average rate yaitu 1006 Kbps. Pengujian akhir user profile Auhut. Ay Pengujian akhir user profile AuGIS. Ay Gambar 5. Pengujian akhir user profile AuGIS. Ay Pada pengujian akhir untuk user profile GIS, pada sisi klien menggunakan 3 user yang terdaftar pada user profile GIS dengan maksimal bandwidth 3 Mbps. Ketiga user tersebut mengakses halaman web penguji kecepatan internet secara bersamaan dengan hasil PC1 sebesar 1,2 Mbps. PC2 1,1 Mbps, dan PC3 920 Kbps. Besaran data tersebut divalidasi oleh Mikrotik pada queue list dengan Average rate yaitu 2,9 Mbps. Gambar 7. Pengujian akhir user profile Auhut. Ay Pada pengujian akhir untuk user profile hut, pada sisi klien menggunakan 3 user yang terdaftar pada user profile hut dengan maksimal bandwidth 1 Mbps. Ketiga user tersebut mengakses halaman web penguji kecepatan internet secara bersamaan dengan hasil PC1 sebesar 360 Kbps. PC2 350 Kbps, dan PC3 280 Kbps. Besaran data tersebut divalidasi oleh Mikrotik pada queue list dengan Average rate yaitu 1006 Kbps. JIKA | 25 Copyright @2026 JIKA (Jurnal of Informatic. Licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License JIKA (Jurnal Informatik. Universitas Muhammadiyah Tangerang Vol 10. No 1. Januari 2026, pp 20-27 Pengujian akhir multi-profile. Gambar 8. Pengujian akhir multi profile. Pada pengujian akhir multi profile, pengujian dilakukan dengan memasukkan user pada user profile yang berbeda dengan keseluruhan bandwidth adalah 5 Mbps. Pada PC1 dengan user profile GIS menghasilkan bandwidth 2,8 Mbps. PC2 dengan user profile adm menghasilkan bandwidth 940 Kbps, dan PC3 dengan user profile hut menghasilkan 930 Kbps. Besaran data tersebut divalidasi oleh Mikrotik pada queue list yang menunjukkan bahwa total kecepatan download 5 Mbps. Pada pengujian yang dilakukan terhadap bandwidth download di jaringan eksisting PT Kurnia Sylva dapat dilihat bahwa sumberdaya kecepatan internet yang tersedia sebelum terdistribusi dan dimanfaatkan secara adil. Sebelum adanya manajemen bandwidth dapat dipengaruhi Kecepatan internet pada satu user dan user yang lainnya dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah jumlah besarnya data yang sedang diunduh oleh satu user akan berpengaruh kepada kecepatan unduh user lainnya. Setelah adanya manajemen bandwidth, kecepatan internet yang ada di PT Kurnia Sylva terbagi secara adil dan merata pada setiap user seperti yang digambarkan pada pengujian di setiap user Di samping itu, dalam pengujian multiuser dapat dilihat bahwa kecepatan bandwidth pada setiap user profile terbagi sesuai dengan porsinya masing-masing dan tidak saling mengganggu kecepatan di antara user profile. KESIMPULAN Berdasarkan manajemen bandwidth menggunakan metode Queue tree dan Per connection queue (PCQ) pada jaringan di kantor PT Kurnia Sylva, dapat disimpulkan bahwa Sistem ini mampu membagi bandwidth download secara adil dan P ISSN : 2549-0710 E ISSN : 2722-2713 proporsional sesuai dengan konfigurasi masing-masing user profile. Sebelum distribusi koneksi internet tidak merata antar Hal ini ditunjukkan dengan adanya tarik-menarik kecepatan internet yang disebabkan oleh faktor seperti kemampuan masing-masing perangkat klien dalam memproses data, jumlah data yang sedang digunakan, serta tidak adanya pembatasan bandwidth yang mengatur penggunaan secara Setelah diterapkan pembatasan bandwidth download menggunakan Queue tree dan Per connection queue (PCQ), distribusi bandwidth download menjadi lebih Pengujian multi-user pada setiap user profile menunjukkan hasil pembagian kecepatan internet yang adil dan merata. samping itu, pengujian multi profile dengan total bandwidth 5 Mbps, sistem mampu mendistribusikan bandwidth ke masingmasing user profile sesuai dengan proporsi yang telah ditentukan. Meskipun hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem dapat bekerja secara efektif, terdapat variasi kecil dalam pembagian bandwidth antar pengguna. Variasi ini disebabkan oleh beberapa faktor teknis seperti perbedaan waktu mulai akses, intensitas permintaan data antar klien, serta latensi data. Variasi ini tidak mengganggu keadilan distribusi bandwidth download secara Hal ini membuktikan, sistem pembatasan bandwidth yang dibangun dengan kombinasi Queue tree dan Per connection queue (PCQ) terbukti mampu mengatur penggunaan internet secara adil. Sistem ini dapat menjadi solusi yang efektif dan stabil dalam lingkungan jaringan di Kantor PT Kurnia Sylva. REFERENSI