Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1708-1714 Analisis Pemberdayaan Perempuan Peternak Sapi Perah dalam Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan Analysis of Women Dairy Farmers Empowerment in the Kartini Peternak Indonesia Program within the KPBS Pangalengan Region Rifdah Yasmin Mumtaazah Aiman*1. Mochamad Ali Mauludin2. Marina Sulistyati3 Program Sarjana Fakultas Peternakan. Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21. Jatinangor Sumedang Departemen Sosial Ekonomi Pembangunan Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21. Jatinangor Sumedang *Email: rifdah21001@mail. (Diterima 03-01-2025. Disetujui 25-06-2. ABSTRAK Pemberdayaan perempuan, khususnya di subsektor peternakan, menjadi isu penting yang terus menjadi perhatian dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Indonesia. Program Kartini Peternak Indonesia diinisiasi untuk memberikan dukungan kepada peternak perempuan dalam mengatasi berbagai kendala yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberdayaan perempuan peternak sapi perah pada Program Kartini Peternak Indonesia yang telah diimplementasikan di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif, melibatkan 27 informan yang terdiri dari peternak perempuan dan pihak terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan program ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak perempuan dalam pengelolaan usaha peternakan, serta membuka peluang diversifikasi usaha. Selain itu program ini juga berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan kualitas hidup peternak perempuan, yang pada gilirannya mendukung ketahanan pangan nasional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk pengembangan lebih lanjut dalam pemberdayaan perempuan di subsektor peternakan. Kata kunci: Pemberdayaan Perempuan. Peternakan. Program Kartini Peternak Indonesia ABSTRACT WomenAos empowerment, particularly in the livestock subsector, is an important issue that continues to receive attention in Indonesia's social and economic development. The Kartini Peternak Indonesia Program was initiated to provide support to female farmers in overcoming the various challenges they face. This study aims to analyze the empowerment of female dairy farmers through the Kartini Peternak Indonesia Program, which has been implemented in the KPBS Pangalengan work area. The research method used is a case study with a qualitative approach, involving 27 informants, including female farmers and related stakeholders. The results of this study show that the program successfully enhanced the knowledge and skills of female farmers in livestock business management, as well as opened opportunities for business diversification. Additionally, the program contributed to the improvement of income and quality of life for female farmers, which in turn supports national food security. This study is expected to provide recommendations for further development in the empowerment of women in the livestock subsector. Keywords: Women's Empowerment. Livestock Farming. Kartini Peternak Indonesia Program PENDAHULUAN Pemberdayaan perempuan di sektor pertanian, khususnya subsektor peternakan, merupakan isu penting yang terus menjadi perhatian dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Indonesia, sejalan dengan tujuan kelima dari Sustainable Development Goals (SDG. yaitu mewujudkan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan. Pemberdayaan perempuan muncul sebagai hasil dari diskursus gender, yang berkembang karena keprihatinan atas diskriminasi terhadap perempuan (Khiftiyah & Nilamsari, 2. Diskriminasi gender menjadi salah satu halangan perempuan untuk bermain peran secara signifikan dalam subsektor peternakan, padahal kesetaraan gender dalam Analisis Pemberdayaan Perempuan Peternak Sapi Perah dalam Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan Rifdah Yasmin Mumtaazah Aiman. Mochamad Ali Mauludin. Marina Sulistyati keluarga peternak memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas, di mana ketidaksetaraan gender dapat menurunkan produktivitas dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya pendapatan usaha (Satiti. Andarwati, & Kusumastuti, 2. Pemberdayaan dapat didefinisikan sebagai usaha untuk meningkatkan kemampuan, baik dalam hal wewenang, tanggung jawab, maupun keterampilan individu, agar lebih berdaya dibandingkan sebelumnya (Putri. Sulistyati, & Nurlina, 2. Perempuan tidak hanya memainkan peran penting dalam keluarga, tetapi juga berkontribusi besar dalam sektor ekonomi, khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan. Tercatat pada Data Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian . , 608 dari 2. 532 penduduk perempuan di Jawa Barat bekerja di subsektor peternakan, termasuk pada komoditas sapi perah. Kontribusi besar yang perempuan berikan dalam subsektor peternakan tidak membuat perempuan luput akan berbagai kendala, baik secara struktural maupun sosial, yang menghambat mereka mendapatkan akses yang setara terhadap sumber daya, pelatihan dan kesempatan pengembangan diri. Perempuan tidak jarang berperan dalam kegiatan-kegiatan vital pada subsektor peternakan, dari manajemen pemeliharaan ternak hingga pengolahan hasil ternak. Namun, hal tersebut sering dianggap sebagai salah satu bagian dari tugas pekerjaan rumah tangga yang tidak mendapatkan pengakuan secara sosial maupun ekonomi. Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan pada usaha peternakan juga masih terbatas, karena adanya norma sosial yang menganggap laki-laki sebagai pengambil keputusan utama. Program Kartini Peternak Indonesia hadir sebagai sebuah jawaban untuk mendukung pemberdayaan perempuan di subsektor peternakan sapi perah. Program ini merupakan program yang diinisiasi oleh PT. Frisian Flag Indonesia (FFI) dibawah Dairy Development Program (DDP) yang menjalin kemitraan dengan koperasi di Indonesia, termasuk KPBS Pangalengan yang merupakan koperasi penghasil susu sapi sebagai penyumbang 8,2% dari jumlah produksi susu sapi di Jawa Barat dengan rata-rata 22. 422,02 kg/tahun dan tercatat memiliki 433 anggota peternak perempuan atau sekitar 7,61% dari jumlah keseluruhan anggota (Buku Tahunan Koperasi, 2. Program Kartini Peternak Indonesia terdiri dari tiga pilar utama, yaitu: pilar pertama berfokus pada pelatihan teknis terkait usaha peternakan sapi perah, pilar kedua mencakup pelatihan business development, dan pilar ketiga mengenai pelatihan dalam pengelolaan keuangan usaha peternakan serta kesetaraan gender. Serangkaian pelatihan intensif berupa pendampingan dan pemantauan kepada peternak perempuan dilakukan dalam program ini pada wilayah kerja KPBS Pangalengan yang terdiri dari beberapa desa di Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Kertasari dengan tujuan guna mendorong peningkatan produktivitas susu segar dalam negeri serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan para peternak perempuan di Indonesia (Siaran Pers Friesland Campina. Fokus dalam penelitian ini yaitu menganalisis pemberdayaan perempuan peternak sapi perah pada Program Kartini Peternak Indonesia yang telah diimplementasikan di wilayah kerja KPBS Pangalengan. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini yaitu keberhasilan program dalam peningkatan kapasitas peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan dalam berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kualitas susu, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan peternak dan memperkuat ketahanan pangan nasional. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami secara mendalam terkait fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, termasuk persepsi, motivasi, perilaku, dan tindakan secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menggali aspek-aspek kompleks kehidupan manusia secara mendalam (Rachman. Yochanan. Samanlagi, & Purnomo, 2. Penelitian kualitatif menekankan pada analisis yang mendalam, yaitu dengan mengkaji masalah secara per kasus, karena metode ini berpendapat bahwa setiap masalah memiliki karakteristik yang berbeda dari masalah lainnya (Rusli, 2. Subjek penelitian ini adalah anggota peternak perempuan yang terdaftar sebagai peserta Program Kartini Peternak Indonesia di wilayah kerja KPBS Pangalengan. Subjek penelitian dapat diartikan sebagai objek atau individu yang menjadi fokus penelitian, yang diperoleh melalui berbagai metode seperti pembacaan, observasi, atau tanya jawab terkait dengan masalah yang sedang diteliti (Nashrullah et al. , 2. Sedangkan Objek penelitian merujuk pada kondisi yang mencerminkan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1708-1714 situasi terkait hal yang diteliti, dengan tujuan memberikan pemahaman yang jelas mengenai topik yang sedang diteliti (Hamidah & Hakim, 2. Objek dalam penelitian ini berfokus pada analisis pemberdayaan perempuan peternak sapi perah dalam Program Kartini Peternak Indonesia yang telah di implementasikan di wilayah kerja KPBS Pangalengan. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan dipilih secara purposive karena informan penelitian merupakan individu yang memiliki karakter khusus sesuai dengan kebutuhan penelitian (Evani et al. Sebanyak 27 orang dipilih sebagai informan dalam penelitian ini, terdiri dari 1 orang pihak KPBS . oordinator penyulu. , 2 orang trainer dari pihak Stitching Nederlandse Vrijwilligers (SNV) sebagai pihak ketiga antara KPBS Pangalengan dan PT FFI, serta 24 orang anggota peternak perempuan KPBS Pangalengan peserta Program Kartini Peternak Indonesia yang tersebar dari masing-masing TPK yang terdaftar mengikuti program dengan komposisi, yaitu: 5 orang peserta program pada pilar 1. 2 orang peserta program pada pilar 2. dan 17 orang peserta program pada pilar Data dalam penelitian ini diperoleh dari dua sumber, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan informan yang ditentukan oleh peneliti. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur dan pengumpulan dokumentasi terkait Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan untuk mendukung hasil penelitian. Studi literatur adalah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data atau sumber yang berhubungan dengan topik yang akan diteliti (Habsy. Selain itu, dalam pengumpulan data juga digunakan teknologi Global Positioning System (GPS) yang terintegrasi dalam aplikasi KoBo Toolbox, yang memungkinkan pemetaan lokasi peternak perempuan peserta Program Kartini Peternak Indonesia dengan tingkat presisi yang tinggi di wilayah kerja KPBS Pangalengan. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peternak Karakteristik peternak sapi perah merupakan keseluruhan ciri yang dimiliki individu peternak yang bersifat biografis dan berfungsi sebagai pengidentifikasi yang membedakan antara individu satu dengan yang lainnya (Firdaus. Yunasaf, & Alim, 2. Karakteristik perempuan peternak sapi perah yang dianalisis meliputi umur, jenjang pendidikan formal, kepemilikan ternak, pengalaman dalam beternak, dan lama keanggotaan koperasi. Tabel 1 menunjukkan karakteristik perempuan peternak sapi perah sebagai peserta Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan. Tabel 1. Karakteristik Peternak Karakteristik Keterangan Umur >65 Jenjang Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Kepemilikan Ternak 1-6 ekor 7-13 ekor > 13 ekor Pengalaman Beternak >41 Lama Keanggotaan >31 Sumber: Analisis Data Primer . Analisis Pemberdayaan Perempuan Peternak Sapi Perah dalam Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan Rifdah Yasmin Mumtaazah Aiman. Mochamad Ali Mauludin. Marina Sulistyati Umur merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi pola pikir dan keterampilan peternak perempuan dalam mengelola usaha peternakan. Variasi umur peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan memberikan gambaran tentang pengalaman serta adaptasi terhadap perubahan dalam dunia peternakan. Menurut Halidu et al. , . , kategori usia produktif di Indonesia berada pada rentang usia 15 hingga 64 tahun. Berdasarkan Tabel 1 menunjukan bahwa keseluruhan responden yaitu 24 orang . %) masih berusia produktif. Hal ini menunjukkan bahwa adanya potensi tenaga kerja peternak perempuan yang optimal dalam menjalankan usaha peternakan, baik dalam hal kemampuan fisik untuk melakukan kegiatan operasional peternakan, maupun fleksibilitas dalam belajar dan beradaptasi dengan teknologi serta metode manajemen baru. Jenjang pendidikan formal menjadi salah satu faktor yang dapat menunjang keberhasilan usaha peternakan sapi perah. Menurut Hasan et al. , . , jenjang pendidikan setiap individu dapat mempengaruhi tingkat pemahaman terhadap sesuatu yang dipelajarinya. Semakin tinggi jenjang pendidikan seorang peternak, maka pola pikir dan sikap peternak tersebut dalam menjalankan usaha peternakan akan lebih baik. Tabel 1 menunjukkan bahwa jenjang pendidikan formal peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan masih rendah karena didominasi oleh peternak dengan jenjang pendidikan SD sebanyak 12 orang . %). SMP sebanyak 10 orang . ,67%). SMA sebanyak 1 orang . ,16%), dan Perguruan Tinggi sebanyak 1 orang . ,16%). Rendahnya pendidikan seseorang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk motivasi individu, aksesibilitas, aspek ekonomi dan kondisi sosial. Berdasarkan Tabel 1. , jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan menunjukkan hasil yang bervariasi. Sebanyak 10 orang memiliki ternak dengan skala 1-6 ekor, 9 orang memiliki ternak dengan skala 7-13 ekor, 5 orang memiliki ternak >13 ekor. jumlah kepemilikan ternak tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan modal yang dimiliki peternak serta dampak dari wabah PMK (Fatahan. Ikbal. Pateda, & Dako, 2. Usaha Peternakan sapi perah akan dapat berjalan dengan lebih optimal dan efisien jika dilakukan oleh peternak yang berpengalaman. Pengalaman dalam beternak sapi perah menjadi aspek krusial dalam keberhasilan usaha peternakan sapi perah. Pengalaman yang memadai mencakup keterampilan, pemahaman terhadap pekerjaan, serta kemampuan peternak dalam menggunakan peralatan peternakan secara efektif. Tabel 1 menunjukkan bahwa pengalaman peternak perempuan dalam beternak sapi perah di wilayah kerja KPBS Pangalengan sangat bervariasi. Mayoritas peternak perempuan, sebanyak 9 orang . ,5%) sudah berpengalaman beternak selama 21-30 tahun. Berdasarkan pengalaman yang cukup lama tersebut maka kemampuan peternak perempuan dalam beternak sapi perah sudah cukup memadai untuk mengambil keputusan terkait langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam usaha. Pengalaman tersebut juga memungkinkan peternak dalam melakukan evaluasi terhadap kegiatan peternakan, sehingga usaha yang dijalankan dapat terus berkembang dan lebih baik (Mulatmi. Anggraini, & Prima, 2. Lama keanggotaan peternak perempuan di Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan menunjukkan hasil yang bervariasi dan mayoritas telah tergabung selama 1-20 tahun sebanyak 13 orang . ,16%). Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan berperan penting bagi peternak dalam menyalurkan dan memasarkan susu hasil produksi peternak ke industri pengolahan susu. Selain itu. KPBS Pangalengan juga menyediakan berbagai layanan pendukung kemajuan pengembangan usaha peternakan sapi perah. Pelaksanaan Program Kartini Peternak Indonesia Program Kartini Peternak Indonesia merupakan sebuah program pemberdayaan perempuan di subsektor peternakan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perempuan peternak sapi perah serta mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Program ini dilaksanakan dalam bentuk one-day training yang dirancang untuk memberdayakan peternak perempuan melalui pendekatan praktis dan terstruktur. Setiap sesi pelatihan dimulai dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta terkait materi yang akan disampaikan. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan pematerian yang mencakup topik-topik penting seperti manajemen peternakan, pengembangan usaha peternakan, pengelolaan keuangan usaha, dan kesetaraan gender. Pematerian disampaikan oleh trainer dari pihak Stitching Nederlandse Vrijwilligers (SNV) dan dilakukan secara komunal dengan mengumpulkan anggota peternak perempuan peserta program di lokasi yang mudah dijangkau, seperti rumah salah satu anggota kelompok atau kantor KPBS Pangalengan. Setelah pematerian selesai, dilakukan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan Hasil pre-test dan post-test digunakan untuk menilai efektivitas pelatihan. Pendekatan ini Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1708-1714 tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mendorong partisipasi aktif peternak perempuan dalam belajar dan menerapkan pengetahuan baru di usaha mereka. Dengan format oneday training, program ini memberikan fleksibilitas waktu bagi peserta, sehingga mereka tetap dapat menjalankan aktivitas rutin di peternakan tanpa terganggu. Persebaran Peternak Perempuan Peserta Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan Gambar 1. Persebaran Peternak Perempuan Peserta Program Kartini Peternak Indonesia Wilayah kerja KPBS Pangalengan mencakup Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Kertasari, dengan peternak perempuan dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok di masing-masing Tempat Pelayanan Koperasi (TPK). Terdapat 9 TPK yang mengikuti Program Kartini Peternak Indonesia, terdiri dari 8 TPK di Kecamatan Pangalengan, yaitu Los Cimaung. Cipanas. Warnasari. Citere. Mekar Mulya. Gunung Cupu. Cibuluh, dan Cisangkuy, serta 1 TPK di Kecamatan Kertasari, yaitu Lembang Sari. Dalam penelitian ini, dipilih satu peternak perempuan peserta Program sebagai perwakilan dari setiap kelompok di TPK yang berpartisipasi. Terdapat 1-5 kelompok dari masing-masing TPK, namun tidak semua kelompok berpartisipasi dalam Program Kartini Peternak Indonesia. Hal tersebut yang menjadikan tidak meratanya distribusi peternak perempuan peserta program. Gambar 1. Menunjukkan adanya perbedaan distribusi peternak perempuan peserta Program Kartini Peternak Indonesia di kedua kecamatan tersebut. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi geografis, aksesibilitas terhadap fasilitas koperasi, potensi peternakan yang ada, serta motivasi peternak untuk berpartisipasi dalam program. Kecamatan Pangalengan, yang merupakan pusat kegiatan koperasi, memiliki konsentrasi peternak perempuan peserta program yang lebih Hal ini didukung oleh akses yang lebih mudah dan infrastruktur yang lebih memadai dibandingkan dengan Kecamatan Kertasari. Dampak Program Kartini Peternak Indonesia Terhadap Pemberdayaan Peternak Perempuan di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan Program Kartini Peternak Indonesia telah membawa dampak positif terhadap pemberdayaan peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan. Salah satu hasil nyata dari program ini Analisis Pemberdayaan Perempuan Peternak Sapi Perah dalam Program Kartini Peternak Indonesia di Wilayah Kerja KPBS Pangalengan Rifdah Yasmin Mumtaazah Aiman. Mochamad Ali Mauludin. Marina Sulistyati adalah terbukanya pola pikir peternak dalam mengembangkan usaha mereka. Sebelum mengikuti program, banyak peternak hanya fokus pada pengelolaan sapi perah sebagai satu-satunya sumber Namun, setelah mendapatkan pelatihan, para peternak mulai memiliki perspektif yang lebih luas tentang potensi pengelolaan usaha. Mereka mampu melihat peluang diversifikasi usaha untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang ada. Diversifikasi usaha menjadi salah satu hasil nyata dari pemberdayaan ini. Beberapa peternak mulai mengelola budidaya cacing, yang kini menjadi salah satu usaha tambahan bernilai ekonomi tinggi. Hasil panen cacing dijual dengan harga Rp. 000 per kilogram, memberikan tambahan pendapatan yang signifikan. Selain itu, peternak juga memanfaatkan kotoran ternak . yang sebelumnya hanya dianggap limbah menjadi produk bernilai jual dengan harga jual Rp. 200 per tong. Tidak hanya itu, peternak juga memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk menanam labu siam, yang kemudian dijual atau dikonsumsi sendiri. Selain diversifikasi usaha, program ini juga membantu peternak perempuan untuk mengelola keuangan dengan lebih baik. Salah satu perubahan penting yang terjadi adalah kemampuan untuk memisahkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga. Dengan membedakan aliran pendapatan dan pengeluaran, peternak kini dapat mengelola modal usaha secara lebih efektif. Hal ini memungkinkan peternak untuk merencanakan pengembangan usaha secara lebih matang, mengurangi risiko kebocoran keuangan, serta meningkatkan keuntungan jangka panjang. Dampak tersebut tidak hanya terlihat dalam aspek ekonomi tetapi juga dalam peningkatan kepercayaan diri dan kemandirian peternak perempuan yang kini lebih berani mengambil keputusan strategis untuk mengembangkan usaha dan memanfaatkan peluang yang ada. Dengan pelatihan yang diberikan, para peternak mampu melihat usaha mereka sebagai investasi masa depan yang Hal ini menunjukkan bahwa Program Kartini Peternak Indonesia berhasil mendorong transformasi peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan menjadi lebih berdaya dan KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa peternak perempuan Program Kartini Peternak Indonesia keseluruhan berapa pada rentang usia produktif . -64 tahu. , dengan mayoritas jenjang pendidikan formal hanya pada tingkat SD, dan sebagian besar memiliki pengalaman yag cukup matang dalam beternak . -30 tahu. Program ini dilaksanakan melalui one-day training dengan pendekatan Setiap sesi dimulai dengan pre-test, dilanjutkan pematerian tentang manajemen peternakan, pengembangan usaha, keuangan, dan kesetaraan gender, serta diakhiri dengan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan, hal ini mendukung fleksibilitas waktu bagi peternak perempuan agar tetap dapat menjalankan aktivitas rutin mereka. Program Kartini Peternak Indonesia diimplementasikan pada dua kecamatan diwilayah kerja KPBS Pangalengan, yaitu Pangalengan dan Kertasari, dengan peternak perempuan dikelompokkan dalam 9 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK). Hasil menunjukkan bahwa Kecamatan Pangalengan memiliki konsentrasi peternak perempuan lebih tinggi karena akses yang lebih mudah dan infrastruktur yang lebih baik dibandingkan Kecamatan Kertasari. Program Kartini Peternak Indonesia telah berhasil memberdayakan peternak perempuan di wilayah kerja KPBS Pangalengan. Melalui pelatihan teknis, pengembangan bisnis, dan pengelolaan keuangan, peternak perempuan mampu meningkatkan produktivitas usaha mereka, diversifikasi sumber pendapatan, dan mengelola keuangan dengan lebih baik. Hasilnya, terdapat peningkatan signifikan dalam pendapatan dan kualitas hidup peternak perempuan, yang juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional. Hasil penelitian menunjukkan perlunya pengembangan program yang lebih terintegrasi. Penelitian lanjutan juga disarankan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang program terhadap kesejahteraan peternak perempuan dan komunitas mereka, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan program di wilayah lain, sehingga pemberdayaan perempuan di sektor peternakan dapat terus ditingkatkan sesuai kebutuhan lokal. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 1708-1714 DAFTAR PUSTAKA