254 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Penyerapan Air Dan Kelarutan Bahan Semen Ionomer Kaca Sebagai Penutup Pit Dan Fisur Gigi Water Absorption and Solubility of Glass Ionomer Cement as a Cover for Pit and Tooth Physical Emma Krisyudhanti Keperawatan Gigi. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: cantiktitik@rocketmail. ARTICLE INFO: Keywords: Water absorption Material solubility Glass ionomer cement Cover of tooth fissure ABSTARCT/ABSTRAK BACKGROUND: Pit and fissure sealants are materials that are often used for preventive maintenance, especially on occlusal surfaces of teeth that are susceptible to caries. All restoration materials that come into contact with water will experience 2 mechanisms, namely the absorption of water, which causes matrix swelling and increased mass and water solubility, namely the release of components from unreacted monomers and causing reduced mass. OBJECTIVE: measure the value of water absorption and solubility of glass ionomer cement as a cover of the pit and fissure of the tooth. METHODS: 18 specimens of glass ionomer cement sealant material manipulated according to the manufacturer's instructions consisted of six specimens measuring 15 mm in diameter and 1 mm in thickness made for each immersion The specimen was put into a desiccator at 37 A C for 22 hours and then put into another desiccator with a temperature of 23 A C for 2 hours. The specimen was weighed with a precision scale of 0. 1 mg. Measurements are carried out repeatedly until a constant mass is obtained (M. Next the specimen was put into 40 ml of aquabides and stored in a desiccator at 37 A C for 1 day, 2 days and 7 days. At the end of each immersion time, the specimen was removed from aquabides, dried with suction paper and vibrated in the air for 15 seconds. Specimens are weighed to get M2. The specimens were reconditioned to the desiccator at 37 A C for 22 hours and then put into another desiccator with a temperature of 23 A C for 2 hours and this procedure was repeated one day later, then the mass was weighed repeatedly until a constant mass was obtained (M. RESEARCH RESULTS: The Kruskal-Wallis statistical test shows that there is no significant difference in the average water absorption value and solubility of materials for immersion for 1 day, 2 days and 7 days. CONCLUSIONS AND RECOMMENDATIONS: The absorption rate of glass ionomer cement as a cover of dental pit & fissure decreased until the second day and increased until the seventh day, with an average absorption of water for 1 day immersion of 68 g / mmA, 2 days 40, 53 g / mmA and 7 days 42. / mmA. Solubility value in water of glass ionomer cement as a cover of dental pit & fissure decreased until the second day then increased until the seventh day, with an average solubility of material for soaking for 1 day at 41. 46 g / mmA, 2 days 39. 39 g / mmA and 7 days 41,91 g / mmA. It was said that there was no significant difference in the value of water absorption and solubility of materials during the immersion period of 1, 2 and 7 days. It is recommended that in the application of glass ionomer cement as a cover of dental pits and fissures, please note in the provision of varnish or protector to reduce the occurrence of water absorption and solubility of the material. In addition, the pit and fissure of the tooth that has been covered, should be controlled 3 months later to find out if the cover is still intact or has been damaged or loose. It is also recommended that there is further research to determine the value of water absorption and solubility of ingredients if soaked in artificial saliva for more than 7 days. Kata Kunci: Penyerapan air Kelarutan bahan Semen ionomer kaca Penutup fisur gigi LATAR BELAKANG: Pit dan fissure sealant merupakan bahan yang sering digunakan untuk perawatan pencegahan, khususnya pada permukaan oklusal gigi yang rentan karies. Semua bahan restorasi yang berkontak dengan air akan mengalami 2 mekanisme, yaitu penyerapan air, yang menyebabkan pembengkakan matriks serta meningkatnya massa dan kelarutan air, yaitu terlepasnya komponen dari monomer yang tidak bereaksi dan menyebabkan berkurangnya massa. TUJUAN: mengukur nilai penyerapan air dan kelarutan bahan semen ionomer kaca sebagai penutup pit dan fisur gigi. METODE: Sebanyak 18 spesimen material sealant semen ionomer kaca dimanipulasi sesuai petunjuk pabrik terdiri dari masing-masing enam spesimen berukuran diameter 15 mm dan tebal 1 mm dibuat untuk setiap waktu perendaman. Spesimen tersebut dimasukkan ke dalam desikator bersuhu 37 C selama 22 jam dan kemudian dimasukkan ke desikator lainnya yang bersuhu 23 C selama 2 jam. Spesimen ditimbang dengan timbangan presisi 0,1 mg. Pengukuran dilakukan berulangkali sampai massa konstan didapatkan (M. Berikutnya spesimen dimasukkan ke dalam 40 ml aquabides dan disimpan pada desikator bersuhu 37 C selama 1 hari, 2 hari dan 7 hari. Pada akhir setiap waktu perendaman, spesimen dipindahkan dari aquabides, dikeringkan dengan kertas penghisap dan digetarkan di udara selama 15 detik. Spesimen ditimbang untuk mendapatkan M2. Spesimen direkondisi dengan dimasukkan ke dalam desikator bersuhu 37 C selama 22 jam dan kemudian dimasukkan ke dalam desikator lainnya yang bersuhu 23 C selama 2 jam dan prosedur ini diulang pada satu hari berikutnya, kemudian massa ditimbang berulangkali sampai massa konstan didapatkan (M. HASIL PENELITIAN: Uji statistic Kruskal Ae Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai rata-rata penyerapan air dan kelarutan bahan untuk perendaman selam 1 hari, 2 hari dan 7 hari. KESIMPULAN DAN SARAN: Nilai penyerapan air semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi mengalami penurunan hingga hari kedua lalu meningkat hingga hari ketujuh, dengan rata- rata penyerapan air untuk perendaman selama 1 hari sebesar 42,68 g/ mmA, 2 hari 40,53 g/ mmA dan 7 hari 42,99 g/ mmA. Nilai kelarutan dalam air semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi mengalami penurunan hingga hari kedua lalu meningkat hingga hari ketujuh, dengan ratarata kelarutan bahan untuk perendaman selama 1 hari sebesar 41,46 g/ mmA, 2 hari 39,39 g/ mmA dan 7 hari 41,91 g/ mmA. dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan untuk nilai penyerapan air dan kelarutan bahan selama masa perendaman 1, 2 dan 7 hari. Disarankan agar dalam pengaplikasian semen ionomer kaca sebagai penutup pit dan fisur gigi harap diperhatikan dalam pemberian varnish atau pelindung agar mengurangi terjadinya penyerapan air dan kelarutan bahan. Selain itu, pit dan fisur gigi yang sudah diberi penutup, hendaknya dikontrol 3 bulan kemudian untuk mengetahui apakah penutupnya masih utuh atau sudah rusak maupun lepas. Disarankan pula agar ada penelitian lanjutan untuk mengetahui nilai penyerapan air dan kelarutan bahan jika direndam di dalam saliva buatan selama lebih dari 7 hari. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Emma Krisyudhanti Jalan Farmasi. Kupang- 85111 Email: cantiktitik@rocketmail. PENDAHULUAN oklusal yang utuh dengan permukaan gigi Pada permukaan oklusal dari gigi posterior terdapat suatu daerah yang dalam dan berlika-liku, daerah ini disebut sebagai pit dan fisur gigi. Pit dan fisur gigi ini dikelilingi antagonisnya yang karies atau terestorasi, kavitas kelas 1 yang telah bebas karies dan fossa yang terisolasi dengan baik dari fossa lainnya (Harris. Garcia. , 2. oleh tonjolan yang disebut fossa. Daerah pit Material penutup pit dan fisur . dan fisur yang dalam seringkali tidak dapat terdiri dari berbagai macam bahan, namun dijangkau oleh bulu sikat gigi atau dental floss yang paling populer adalah yang terbuat dari resin komposit dan dari semen ionomer kaca. Resin komposit sebagai sealant dalam dapat menyebabkan karies gigi (Anonim, penggunaannya harus dilakukan etsa terlebih Karies gigi adalah kehilangan kronis yang berkelanjutan dari ion mineral pada email atau permukaan akar . yang umumnya distimulasi oleh kehadiran flora bakteri dan produk-produknya (Mount. Hume. Karies disebabkan oleh banyak faktor, antara lain bakteri Streptococcus mutans, retensi dan karbohidrat, saliva yang memiliki flow dan Namun sebelumnya permukaan oklusal harus bebas dari debris makanan (Mount. J dan Hume, , 2. Semen ionomer kaca sebagai memerlukan etsa terlebih dulu, hanya perlu dilakukan tindakan penghilangan smear layer bertujuan untuk meningkatkan perlekatan bahan terhadap struktur gigi (Baum. kemampuan buffering yang rendah serta Suatu bahan penutup pit & fisur gigi kurangnya pemaparan fluoride (Mount. yang baik memiliki nilai penyerapan air dan dan Hume. , 2. Karies dapat pula kelarutan bahan yang sekecil mungkin, menyebabkan berbagai hal, seperti gigi ngilu, karena nilai penyerapan air dan kelarutan abses, gangren pulpa, penurunan kualitas hidup, sampai serangan jantung akibat infeksi Salah satu tindakan pencegahan perubahan dimensi, kehilangan integritas kariees adalah melalui upaya penutupan pit tepi, staining, bahkan dapat menyebabkan dan fisur gigi. kegagalan restorasi. Penyerapan air dan Ada beberapa kriteria pit dan fisur yang perlu dilapisi, yaitu fossa harus telah erupsi seluruhnya, ada kontak permukaan stanilisasi mekanis serta biokompatibilitas material, seperti menstimulasi pertumbuhan direndam selama 1, 2, dan 7 hari. Adapun bakteri sekitar restorasi (Hansel dkk, 1998 manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian dalam Veranes, 2. dan reaksi alergi pada ini, adalah bagi peneliti diharapkan hasil beberapa orang (Spahl dkk, 1994 dalam penelitian ini dapat menjadi masukan dalam Veranes, 2. Bahan penutup pit & fisur gigi yang digunakan harus memenuhi standar ISO Standar ISO 4049 menetapkan bahwa nilai maksimum untuk penyerapan air adalah 40 Ag/ mmA dan kelarutan bahan dalam air adalah 7,5 Ag/ mmA. Penelitian Hertanto . menyatakan bahwa nilai penyerapan air resin sebagai penutup pit dan fisur adalah sebesar 37,4 Ag/ mmA dan nilai kelarutan bahannya sebesar 4,5 Ag/ mmA, yang berarti penutup pit & fisur gigi yang efektif berada dalam rongga mulut, bagi Klinik Jurusan Keperawatan Gigi diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan tambahan pustaka bagi dosen. Clinical Instructure dan Jurusan Keperawatan Gigi, terutama dalam perawatan penutupan pit dan fisur gigi dan bagi keilmuan, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi data awal tentang penyerapan dan kelarutan semen ionomer kaca sebagai bahan penutup pit dan fisur gigi. nilainya lebih rendah daripada nilai yang ditetapkan oleh ISO sehingga memenuhi METODE PENELITIAN syarat untuk digunakan di klinik. Penelitian Peneltian ini merupakan jenis penelitian Ghanim . menunjukkan hasil bahwa eksperimental laboratorik rancangan acak nilai penyerapan air semen ionomer kaca Sampel yang digunakan adalah sebagai bahan tumpatan adalah sebesar sealant dari semen ionomer kaca merek GC 219,17Ag/ mmA dan nilai kelarutan bahannya Fuji VII yang diproduksi oleh GC Japan. sebesar 44,82Ag/ mmA, sedangkan penelitian Jumlah sampel yang digunakan adalah untuk mengukur nilai penyerapan air dan sebanyak 18 buah dengan 6 sampel untuk . erendaman sebagai bahan penutup pit & fisur gigi belum selama 1 hari, 2 hari dan 7 har. Kriteria pernah dilakukan. sampel, yaitu berbentuk silindris berukuran Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur nilai penyerapan air dan kelarutan semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi serta untuk membandingkan nilai penyerapan air dan kelarutan semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi yang diameter 15 mm x tebal 1 mm, permukaan atas dan bawah sampel licin serta tidak ada retakan atau patahan pada sampel. Adapun cara kerja pada penelitian ini adalah dengan urutan sebagai berikut: Material sealant semen ionomer kaca dimanipulasi sesuai petunjuk pabrik dan membuat enam spesimen berukuran diameter 15 mm dan tebal 1 mm dibuat untuk setiap waktu perendaman Spesimen dimasukkan ke dalam desikator bersuhu Cetakan diisi sedikit demi sedikit dengan 37CC selama 22 jam dan kemudian hasil adukan semen ionomer kaca dan dimasukkan ke dalam desikator lainnya ditumpuk di antara 2 pelat gelas untuk yang bersuhu 23CC selama 2 jam dan mengeluarkan material berlebihan prosedur ini diulang pada satu hari Setelah mengeras, spesimen dikeluarkan dari cetakan masing-masing. Spesimen didapatkan (M. desikator bersuhu 37CC selama 22 jam Nilai dari water sorption dan solubility dan kemudian dimasukkan ke desikator dinyatakan dalam Ag/ mmA dan dihitung lainnya yang bersuhu 23CC selama 2 jam. dengan persamaan berikut: Spesimen ditimbang dengan timbangan Wsp = M2 Ae M3/ V presisi 0,1 mg. Pengukuran dilakukan Wsl = M1 Ae M3/ V didapatkan (M. M1 adalah massa sebelum direndam Spesimen dimasukkan ke dalam 40 ml berikutnya, kemudian massa ditimbang aquabides dan disimpan pada desikator aquabides, dalam satuan miligram. bersuhu 37CC selama 1 hari, 2 hari dan 7 adalah massa setelah dilakukan proses perendaman dan pengeringan, dalam satuan Pada akhir setiap waktu perendaman. V adalah volume dari spesimen spesimen dipindahkan dari aquabides, dalam mmA. Volume spesimen dihitung dikeringkan dengan kertas penghisap dan dengan rumus volume silinder (Archegas dkk, digetarkan di udara selama 15 detik. Keyf dkk, 2006. Gerdolle dkk, 2008. Spesimen ditimbang untuk mendapatkan Cefaly dkk, 2. Data yang diperoleh akan M2. dianalisis dengan uji Kruskal Ae Wallis. Skema 1. Alur Penelitian membuat 18 cetakan berdiameter 4 mm x tebal 1 mm mengaduk powder dan liquid semen ionomer kaca sealant memasukkan hasil adukan ke dalam cetakan menghasilkan 18 buah spesimen spesimen dimasukkan ke dalam desikator T 37CC selama 22 jam spesimen dimasukkan lagi ke dalam desikator T 23CC selama 2 jam spesimen ditimbang berulangkali hingga didapatkan massa konstan spesimen direndam di dalam aquabides T 37CC selama 1 hari . 2 hari . 7 hari . spesimen ditimbang berulangkali hingga didapakan massa konstan (M. spesimen dimasukkan lagi ke dalam desikator 37CC selama 22 jam , kemudian ke dalam desikator 23CC selama 2 jam spesimen ditimbang berulangkali hingga didapatkan massa konstan (M. uji penyerapan dan kelarutan nilai penyerapan air dan kelarutan bahan HASIL DAN PEMBAHASAN terlihat bahwa nilai penyerapan air Hasil Penelitian menurun di hari kedua lalu meningkat Penyerapan Air hingga hari ketujuh dengan rata-rata Grafik nilai penyerapan air seteleh direndam penyerapan air . ater sorptio. pada selama 1 hari adalah 42,68Ag/ mmA, 18 spesimen dengan 3 jenis lama 2 hari sebesar 40,53Ag/ mmA, dan 7 Dari grafik tersebut hari sebesar 42,99Ag/ mmA. water sorption water sorption 1 hari 2 hari 7 hari Grafik 1. Nilai Rata-rata Penyerapan Air (Water Sorptio. Kelarutan Bahan Grafik 2 menggambarkan nilai kelarutan bahan . ater solubilit. pada 18 spesimen dengan 3 jenis lama perendaman. Dari grafik tersebut terlihat bahwa nilai kelarutan bahan menurun di hari kedua lalu meningkat hingga hari ketujuh dengan rata-rata nilai kelarutan bahan seteleh direndam selama 1 hari adalah 41,46Ag/ mmA, 2 hari sebesar 39,39Ag/ mmA, dan 7 hari sebesar 41,91Ag/ mmA. water solubility water solubility 1 hari 2 hari 7 hari Grafik 2. Nilai Rata-rata Kelarutan Bahan (Water Solubilit. Jika dilihat secara bersamaan, antara nilai penyerapan air dan kelarutan bahan. Nampak pada grafik 3 berikut ini. water sorption water solubility 1 hari 2 hari 7 hari Grafik 3. Nilai Rata-rata Penyerapan Air dan Kelarutan Bahan Dalam melakukan pengolahan data Syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan uji non parametric Kruskal Ae menggunakan SPSS 21. Dari uji statistik Wallis adalah memiliki > 2 kelompok, yang dilakukan, diharapkan dapat diketahui apakah terdapat perbedaan bermakna untuk Pada hasil uji Kruskal Ae Wallis nilai penyerapan air dan kelarutan bahan untuk penyerapan air, diperoleh nilai p = dengan lama perendaman 1 hari, 2 hari dan 0,676 . > 0,. yang berarti tidak terdapat 7 hari. Berdasarkan perendaman 1 hari, 2 hari ataupun 7 hari. varians, sebaran data yang diperoleh adalah Demikian juga pada hasil uji Kruskal Ae Wallis homogen . > 0,. Dari hasil uji normalitas untuk kelarutan bahan, diperoleh nilai p = Kolmogorov Ae Smirnov 0,812 . > 0,. yang berarti tidak terdapat bahwa nilai penyerapan air dan kelarutan bahan untuk semua waktu perendaman perendaman 1 hari, 2 hari ataupun 7 hari. mempunyai nilai signifikansi . > 0, 05 . Hal tersebut nampak dari nilai rata-rata yang berarti sebaran data di dalam masing- penyerapan air dan kelarutan bahan yang masing kelompok spesimen tersebut adalah didapat dari hasil penelitian ini, dimana memang hanya terdapat sedikit selisih nilai terjadi pada 3 menit pertama setelah aplikasi Secara dapat dikatakan bahwa semua nilai signifikansi penyerapan penyinaran adalah pada 2 menit pertama air dan kelarutan bahan antar kelompok setelah aplikasi (Dental, 2. Berdasarkan perlakuan memiliki nilai p > 0,05 yang berarti hasil penelitian bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna bahwa nilai penyerapan air semen ionomer antar setiap kelompok perlakuan. Ghanim . , diketahui sebesar 219,17Ag/ mmA dan nilai kelarutan Pembahasan bahan semen ionomer kaca sebagai bahan Suatu bahan yang direndam di dalam restorasi adalah sebesar 44,82Ag/ mmA air akan mengalami dua mekanisme yang Hasil penelitian ini menunjukkan Pertama, penyerapan air, yang bahwa nilai penyerapan air dan kelarutan bahan pada semen ionomer kaca sebagai meningkatnya massa dan yang kedua, kelarutan bahan dalam air, terlepasnya dibandingkan dengan semen ionomer kaca sebagai bahan restorasi, dengan kata lain , bereaksi yang menyebabkan berkurangnya massa (Archegas et al, 2. penutup pit dan fisur gigi lebih tidak Semen Ionomer menyerap air dan lebih tidak larut dalam air terhadap erosi air, fenomena ini diperburuk jika dibandingkan dengan semen ionomer di oleh kondisi lingkungan mulut dengan kaca sebagai bahan restorasi. Selain itu juga adanya senyawa yang bersifat agresif pada Keberhasilan klinis semen ionomer kaca tergantung pada perlindungan awal yang diberikan untuk menghindari terjadinya kelarutan bahan untuk perendaman selama hidrasi dan dehidrasi. 1 , 2 dan 7 hari, namun perbedaan tersebut Ghanim Deniz dkk dalam tidaklah bermakna, atau dengan kata lain, walaupun direndam sampai 7 hari, semen dengan awal terpaparnya bahan semen ionomer kaca tetaplah stabil sebagai bahan dengan air setelah diaduk. Semen ionomer penutup pit dan fisur gigi. kaca sebagai perekat sangat sensitif dengan Sensitivitas terhadap air yang dimiliki oleh semen ionomer kaca sealant (Fuji VII) Namun jika dibandingkan dengan bahan penutup fisur gigi dari resin komposit, semen ionomer kaca lebih menyerap air dan Nilai penyerapan air resin komposit sebagai penutup fisur gigi adalah 37,4Ag/ mmA dan fisur gigi mengalami penurunan hingga hari kedua lalu meningkat hingga hari ketujuh, 4,5Ag/ dengan rata-rata penyerapan air untuk (Hertanto, 2. Semen penutup pit dan fisur gigi dirancang untuk gigi dengan indikasi remineralisasi maupun gigi sehat yang membutuhkan proteksi dari kemungkinan terjadinya karies. Gigi-gigi dengan indikasi tersebut seringkali dimiliki oleh anak-anak dalam masa gigi bercampur, yang tentunya memiliki produksi saliva lebih banyak daripada orang dewasa. Bahan penutup fisur gigi sebaiknya adalah bahan yang bersifat penyerapan air dan kelarutan bahannya rendah. Untuk saat ini, yang bisa memenuhi ketentuan tersebut adalah resin komposit (Veranes, 2. Namun perlu diingat bahwa dalam pengaplikasian resin komposit sebagai penutup pit dan fisur gigi, artinya ada pengikisan sebagian kecil email. Selain itu, resin komposit tidak melepaskan fluor yang bisa menjadi agen pencegah karies gigi. Semen ionomer kaca memiliki nilai penyerapan air dan kelarutan bahan yang lebih tinggi dari resin komposit, namun dalam pengaplikasiannya tidak mengikis email dan justru melepaskan fluor untuk 42,68Ag/ mmA, 2 hari 40,53Ag/ mmA dan 7 hari 42,99Ag/ mmA, dan untuk nilai kelarutan dalam air semen ionomer kaca sebagai penutup pit & fisur gigi penurunan hingga hari kedua lalu meningkat hari ketujuh, dengan rata-rata kelarutan bahan untuk perendaman selama 1 hari sebesar 41,46Ag/ mmA, 2 hari 39,39Ag/ mmA dan 7 hari 41,91Ag/ mmA, selain itu tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk nilai penyerapan air dan kelarutan bahan selama masa perendaman 1 , 2 dan 7 hari. Melalui hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa dalam pengaplikasian semen ionomer kaca sebagai penutup pit dan fisur gigi harap diperhatikan dalam pemberian varnish atau pelindung mengurangi terjadinya penyerapan air dan kelarutan bahan. Selain itu, pit dan fisur gigi yang sudah diberi penutup, hendaknya mengetahui apakah penutupnya masih utuh atau sudah rusak maupun lepas. Penulis menganjurkan agar ada penelitian lanjutan untuk mengetahui nilai penyerapan air dan mencegah karies gigi. kelarutan semen ionomer kaca sebagai penutup pit dan fisur gigi jika direndam di dalam saliva buatan selama lebih dari 7 hari. KESIMPULAN Dari disimpulkan bahwa nilai penyerapan air semen ionomer kaca sebagai penutup pit & REFERENCES