Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 125-130 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Teman Sebaya dan Persepsi Remaja Pedesaan tentang Pernikahan Dini terhadap Putus Sekolah akibat Kehamilan Pranikah Andi Fatimah Jamir*. Melda Sambo Layuk Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia Article Information : Received. 18 Oct 2022. Accepted 30 Dec 2022. Published online 31 Dec 2022 *Corresponding author : andifatimahdjamir@gmail. ABSTRAK Masa pubertas seringkali merupakan masa dimana remaja melakukan perilaku seksual yang menimbulkan berbagai masalah. Perilaku seksual pranikah yang mengarah pada kehamilan dan pernikahan dini berkontribusi pada putus sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh persepsi teman sebaya dan remaja desa tentang pernikahan dini terhadap putus sekolah dini akibat kehamilan pranikah. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain studi kasus kontrol dan menggunakan pendekatan retrospektif. Populasi adalah remaja usia 15-17 tahun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Rante Alang. Jumlah sampel 75 responden. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat hasil A < nilai = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai A = 0,001 < nilai = 0,05 untuk pengaruh teman sebaya dan A = 0,000 < nilai = 0,05 untuk pengaruh persepsi remaja mengenai pernikahan Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh teman sebaya dan persepsi remaja mengenai pernikahan dini terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah di wilayah kerja Puskesmas Rante Alang Kabupaten Tana Toraja tahun 2021. Bagi petugas kesehatan perlu untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja utamanya dalam memberikan penyuluhan atau konseling kesehatan reproduksi remaja. Bagi remaja, lebih pandai dalam memilah teman sebaya, dan perlu meningkatkan pengetahuan tentang dampak yang ditimbulkan oleh hamil di luar nikah atau pernikahan dini. Kata kunci : Teman sebaya, persepsi remaja, pernikahan dini, kehamilan pranikah ABSTRACT Adolescence is often a period where adolescents engage in sexual behaviors that cause various problems. Premarital sexual behavior until pregnancy occurs to early marriage which has an impact on school dropout cases. The purpose of this study was to determine the influence of peers and rural adolescents' perceptions of early marriage on dropping out of school due to premarital pregnancy. This type of research is an analytic survey, with a case control study design . ase contro. and using a retrospective approach. The population is adolescents aged 15-17 years who are in the working area of the Rante Alang Health Center. The number of samples is 75 respondents. Data analysis used chi-square statistical test with result level < value = 0. The results showed that the results of statistical tests using the A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 125-130 chi-square test obtained a value of = 0. 001 < value of = 0. 05 for the influence of peers and = 000 < value of = 0. 05 for the influence of adolescents' perceptions of early marriage. It can be concluded that there is an influence of peers and adolescent perceptions of early marriage on cases of dropping out of school due to pregnancy outside of marriage in the working area of the Rante Alang Health Center. Tana Toraja Regency in 2021. For health workers it is necessary to further improve reproductive health services for adolescents, especially in providing counseling or education. adolescent reproductive health counseling. For teenagers, they are smarter in sorting out their peers, and need to increase their knowledge about the impact of getting pregnant out of wedlock or early marriage. Keywords: Peers, adolescent perception, early marriage, premarital pregnency PENDAHULUAN Masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, baik secara fisik maupun spiritual dan Ciri-ciri anak muda adalah tingkat keingintahuan yang baik, haus akan kecenderungan mengambil risiko dengan tindakan mereka. Remaja merupakan kelompok potensial yang perlu mendapat perhatian serius, karena remaja dianggap sebagai kelompok yang berisiko terhadap kesehatan seksual dan reproduksi, dimana mereka memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Pubertas seringkali merupakan masa dimana remaja melakukan perilaku seksual yang menimbulkan berbagai Masalah tersebut biasanya dimulai dari perilaku seksual pranikah melalui kehamilan hingga pernikahan di usia muda (Hapsari, 2. Secara global. UNICEF memperkirakan pada tahun 2018 sekitar 21 persen wanita muda . erusia 20 hingga 24 tahu. menikah Angka itu turun dari sepuluh tahun lalu, sebesar 25 persen. Namun, sekitar 650 juta perempuan dan anak perempuan yang menikah sebelum ulang tahun ke-18 masih Pada tahun 2018, setiap sembilan gadis di Indonesia menikah (Badan Pusat Statistik, 2. Diperkirakan perempuan berusia antara 20 dan 24 menikah sebelum usia 18 tahun, menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari 10 . negara dengan angka absolut tertinggi perkawinan anak di dunia. Analisis data perkawinan anak melihat perempuan usia 20 hingga 24 tahun yang menikah sebelum usia 15 dan 18 tahun. Dalam 10 . tahun terakhir, perkawinan anak di Indonesia penurunan, yaitu sebesar 3,5 persen. Sementara itu, sekitar pada tahun 2015 sekitar 1,6% anak usia < 18 berstatus sekolah telah menikah, dan sekitar 5,79 anak usia Ou 18 tahun berstatus sekolah telah menikah, dan tidak melanjutkan sekolah . utus sekola. Sedangkan pada tahun 2018, sekitar 5,57% anak usia < 18 berstatus sekolah telah menikah, dan sekitar 10,09% anak usia Ou 18 tahun berstatus sekolah telah menikah, dan melanjutkan sekolah . utus sekola. (Badan Pusat Statistik, 2017, 2. Pada Provinsi Sulawesi Selatan anak yang melangsungkan pernikahan dini hanya melangsungkan pendidikan selama 7-8 Hal ini tidak sesuai dengan standar pendidikan minimal yaitu minimal 12 tahun. Berdasarkan data Puskesmas Rante Alang, kehamilan dibawah umur, dengan status anak putus sekolah akibat kehamilan pranikah sekitar sekitar 3,5% tahun 2018, sekitar 3,2% tahun2019 dan sekitar 3,2% Sementara itu, berdasarkan pengamatan awal yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa banyaknya anak usia remaja yang putus sekolah akibat hamil pranikah. Orang tua merasa terpukul, harus mampu menerima kenyataan bahwa kehamilan pranikah dan terpaksa harus putus sekolah . rop ou. Sebab, kejadian tersebut merupakan sebuah aib dan dapat dikucilkan oleh kalangan masyarakat. Melihat fenomena yang ada masih tingginya angka perkawaninan usia dini yang berdampak pada kasus putus sekolah, kehamilan di usia dini yang dapat menimbulkan risiko bagi ibu, bayi dan Kehamilan remaja menimbulkan dampak negatif baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual. Efeknya dari segi A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 125-130 fisik membahayakan ibu dan janin dalam sang ibu mencoba menghindari tanggung jawab atau secara kompulsif melanjutkan kehamilan. Dampak sosialnya, masyarakat dicemooh dan juga ditolak. Selain itu, kehamilan di usia muda atau remaja memiliki risiko kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), dan perdarahan pascapersalinan yang dapat meningkatkan kematian ibu dan anak. Kehamilan remaja juga dikaitkan dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi yang berbahaya. Angka kematian pada bayi baru lahir, bayi pasca melahirkan, dan balita lebih tinggi pada ibu berusia di bawah 20 tahun dibandingkan ibu berusia 20 hingga 39 tahun. (Nazulah,R 2. Beberapa faktor penyebab kehamilan pranikah pada remaja yaitu, rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan persepsi tentang pernikahan dini, sikap permisif remaja yang mudah terpengaruh maksiat, pengaruh teman dekat . eman sebay. yang mendorong pergaulan perilaku, pola asuh yang umumnya memungkinkan anak untuk bersosialisasi, dan akses yang lebih mudah terhadap pornografi di media. Remaja masih beranggapan bahwa wanita tidak akan hamil setelah berhubungan seks. Orang yang berilmu lebih banyak lebih sadar melakukan dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu yang hanya meniru perbuatan orang Oleh pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja. Informasi gender yang salah dapat seksualitas dan selanjutnya mendorong perilaku seksual yang salah dengan segala konsekuensinya (Hapsari, 2. Teman atau teman pergaulan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan perilaku remaja. Dipengaruhi oleh teman, kemungkinan melakukan perilaku seksual pranikah 19. 727 kali lebih besar dibandingkan remaja yang tidak dipengaruhi oleh teman sebayanya. Remaja yang melakukan perilaku seksual pranikah dapat dimotivasi oleh efek kelompok untuk menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang dianut oleh kelompoknya . erilaku seksual pranika. Juga didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala sesuatu yang belum diketahui (Iskandar, 2. Berdasarkan penelitian terdahulu oleh (Mirna, 2. menyatakan bahwa Faktor penyebab remaja putus sekolah akibat kehamilan pranikah adalah faktor keluarga, ketidakpedulian, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ketersediaan destinasi wisata dan kurangnya pendidikan agama dikalangan remaja. Menurut sebuah penelitian (Seknun, 2. , penyebab kehamilan pranikah pada remaja di Desa Mastur terbagi menjadi tiga faktor yaitu faktor perilaku, faktor keluarga dan faktor Penelitian (Andriyani Muadudi, responden . ,5%) melakukan perilaku seksual berisiko. Responden perempuan . ,5%), berusia 16 tahun . ,1%) dan yang . ,8%) memperkirakan bahwa teman sebaya berperan dalam perilaku seksual pranikah Variabel yang menunjukkan hubungan yang signifikan adalah umur dan peran teman sebaya, sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang Berdasarkan permasalahan di atas, bahwa tingginya kasus anak putus sekolah yang ditandai dengan tingginya angka perkawinan anak usia dini, dan tingginya kehamilan diusia remaja, yang berdampak pada masa depan remaja, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teman sebaya dan persepsi remaja pedesaan mengenai pernikahan dini terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini menggunakan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 15-17 yang berada diwilayah kerja Puskesmas Rante Alang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 75 orang. Yang terdiri dari kelompok kontril berjumlah 45 orang dan kelompok kasus berjumlha 30 Kelompok kontrol adalah remaja usia 15-17 tahun yang berada diwilayah kerja Puskesmas Rante Alang, dan kelompok A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 125-130 kasus adalah remaja usia 15-17 tahun yang putus sekolah akbiat kehamilan pranikah berada diwilayah kerja Puskesmas Rante Alang. Tehnik menggunakan simpel random sampling. Instrumen kuesioner yang memuat 17 pertanyaan, pada variabel persepsi remaja memuat 26 pertanyaan meliputi aspek kognitif, afektif dan konatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji chi-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 75 orang jumlah responden, yang memiliki teman sebaya kurang baik terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah sebanyak 23 orang . ,7%) dan yang memiliki teman sebaya kurang baik terhadap remaja yang sementara duduk dibangku sekolah sebanyak 5 orang . ,7%). Sedangkan yang memiliki teman sebaya baik terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah sebanyak 7 orang . ,3%) dan yang memiliki teman sebaya baik terhadap remaja yang sementara duduk dibangku sekolah sebanyak 40 orang . ,3%). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji chi-square diperoleh nilai A = 0,001< nilai = 0,05. Hal ini berarti ada pengaruh teman sebaya terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah diwilayah kerja Puskesmas Rante Alang Kabupaten Tana Toraja tahun 2021. Penelitian Maryatun . yang juga menjelaskan hubungan antara pergaulan teman sebaya dengan perilaku seksual Pergaulan teman yang besar remaja karena banyak menghabiskan waktunya bersama temannya. Teman sebaya adalah anak-anak atau remaja dengan usia atau kelompok usia yang kira-kira sama. Salah satu peran terpenting kelompok sebaya memberikan informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Orang kemampuan mereka dari rekan-rekan mereka (Nessi et al. , 2. Hubungan yang baik dengan teman sebaya berkontribusi besar pada perkembangan sosial normal anak-anak. Anak-anak bijaksana yang ditolak oleh teman sebayanya dan merasa kesepian berisiko mengalami depresi. Anakanak yang agresif terhadap teman sebayanya menghadapi berbagai masalah seperti: Kenakalan remaja dan putus Interaksi sesama memungkinkan proses identifikasi, kerja sama dan Proses ini mewarnai proses pembentukan perilaku khas anak muda (Nessi et al. , 2. Hurlock . juga menunjukkan bahwa pergaulan dengan teman sebaya berkaitan dengan penentuan perilaku seksual, karena persepsi perilaku seksual merupakan persepsi terhadap norma teman sebaya pada masa remaja, dan masa remaja lebih bergantung pada teman daripada orang tua untuk kedekatan dan Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 75 orang jumlah responden, yang memiliki persepsi kurang baik mengenai pernikahan dini terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah sebanyak 24 orang . ,0%) dan yang memiliki persepsi kurang baik mengenai pranikah dini terhadap remaja sementara duduk di bangku sekolah sebanyak 8 orang Tabel 1. Pengaruh Teman Sebaya Dan Persepsi Remaja Terhadap Kasus Putus Sekolah Akibat Kehamilan Pranikah . Teman Sebaya Kurang Baik Persepsi Remaja Kurang Baik Kasus Putus Sekolah Kasus Kontrol Total 0,000 0,000 A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 125-130 . ,7%). Sedangkan yang memiliki yang memiliki persepsi baik mengenai pernikahan dini terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah sebanyak 6 orang . ,0%) dan yang memiliki persepsi baik mengenai pernikahan dini terhadap remaja yangsementara duduk dibangku sekolah sebanyak 40 orang . ,3%). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji chi-square diperoleh nilai A = 0,000< nilai = 0,05. Hal ini berarti ada pengaruh persepsi remaja mengenai pernikahan dini terhadap kasus putus sekolah akibat kehamilan pranikah diwilayah kerja Puskesmas Rante Alang Kabupaten Tana Toraja tahun 2021. Masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, baik secara fisik maupun spiritual dan Ciri-ciri anak muda adalah tingkat keingintahuan yang baik, haus akan kecenderungan mengambil risiko yang sembrono dengan tindakan mereka. Jika keputusan dalam menangani konflik tidak tepat, maka akan mengakibatkan perilaku konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang terkait dengan berbagai masalah kesehatan fisik dan psikososial. (Dumilah R. Remaja berpikir abstrak dan suka mengkritik, rasa ingin tahunya terhadap halhal baru semakin meningkat. Selain itu, remaja biasanya lebih peka terhadap Hal-hal yang mempengaruhi emosi remaja berbeda-beda, salah satunya adalah keluarga dan lingkungan. Terkadang hal ini mempengaruhi sikap dan tindakan anak muda. Seorang remaja berdiri di perbatasan antara kehidupan masa kanakkanak dan kehidupan dewasa. Tubuhnya terlihat AudewasaAy, namun diperlakukan seperti orang dewasa tidak menunjukkan kedewasaannya (Hapsari, 2. Faktor penyebab pernikahan dini pada remaja akibat kehamilan pranikah adalah kurangnya pengetahuan atau pemahaman tentang agama, pergaulan bebas atau seks bebas, kurangnya perhatian orang tua, membuat anak merasa seperti berteman dengan semua orang dan melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa kurangnya kontrol orang Orang tua berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak, terutama dalam pengajaran atau pendampingan. Namun, saat ini banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan sehingga jarang mengurus anak dan pendidikannya (Usman. Wiwiyanti, 2. Remaja yang mengalami kehamilan pranikah juga menimbulkan konflik dengan orang tuanya. Hal itu karena kekecewaan para orang tua yang membesarkan dan menyekolahkan anaknya dengan harapan kelak akan berhasil. Ketidakharmonisan hubungan akibat kekecewaan orang tua dapat dirasakan sejak orang tua mengetahui anaknya hamil hingga orang tua perlahan menerima kembali anaknya. Hal ini sesuai dengan penelitian Sari A. I . bahwa salah satu dampak kehamilan pranikah pada remaja adalah perselisihan hubungan dengan orang tua. Menurut Siti Windarti . dalam penelitiannya di desa Dlingo terdapat beragam faktor yang membuat warga Dlingo melakukan pernikahan dini diantaranya dipicu oleh faktor ekonomi, faktor pendidikan yang tergolong rendah, faktor pergaulan kurang baik bagi mereka yang mengadu nasib ke luar daerah kemudian kembali ke desanya semua faktor tersebut bermuara pada pola pikir tradisional yang masih erat tertanam pada masyarakat desa Dlingo. KESIMPULAN Terdapat pengaruh teman sebaya dan persepsi remaja terhadap kasus putus sekolah kehamilan pranikah di wilayah kerja Puskesmas Rante Alang Kabupaten Tana Toraja tahun 2021 REFERENSI