SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 E-ISSN 2988-0823 | P-ISSN 2988-0858 Website: https://ejurnal-unisap. id/index. php/sibernetik/index Email: ejurnal. sibernetik@gmail. DAMPAK PERILAKU DISRUPTIF SISWA TERHADAP KEKONDUSIFAN KELAS IV MATA PELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR Shela Antika1. Yufi Latmini Lasari2. Gustina3 Universitas Islam Negri Mahmud Yunus Batusangkar1,2,3 Antikashela072@gmail. Info Artikel Histori Artikel: Masuk: 08 Juni 2023 Diterima: 15 Juni 2023 Diterbitkan: 20 Juni 2023 Kata Kunci: Perilaku Disruptif. Kekondusifan Kelas. Pembelajaran IPS. ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Perngumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara, dan observasi. Penelitian ini dilakukan dikelas IV SD ini bertujuan untuk menganalisis dampak prilaku disruptif siswa terhadap kekondusifan kelas. Prilaku disruptif merupakan prilaku menyimpang seperti ribut pada saat jam pembelajaran, bermain dengan teman, mengganggu trman yang sedang fokus mengikuti pembelajaran dan lalai dalam mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru. Penyebabnya faktor psikologis pada anak, kurang perhatian dan motivasi yang diberikan guru, guru kurang adil terhadap siswa didalam kelas misalnya membeda-bedakan antara anak yang pintar dan anak yang kurang mengerti dalam pembelajaran, pola asuh orangtua yang tidak konsisten sehingga disekolah anak berprilaku disruptif dan sebagainya. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Pendidikan dalam bahasa Inggris yang berarti education, yaitu perkembangan pengetahuan, keterampilan, pengetahuan, wawasan, serta kebiasaan kelompok-kelompok yang diturun temurunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Sedangkan menurut Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan adalah proses perubahan sikap, perilaku seseorang atau sekelompok dalam upaya mencerdaskan generasi Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan kepada seseorang untuk tumbuh dan Maksudnya pendidikan merupakan upaya untuk menuntut seseorang agar mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia atau sebagai makhluk sosial dilingkungannya dalam menciptakan hidup yang bagus. Pendidikan adalah proses yang terjadi terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi manusia yang telah berkembang baik secara fisik, mental, kepribadian, emosional, dan Menurut UU No 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses mengajar didalam kelas agar siswa secara aktif dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses belajar mengajar didalam kelas antara pendidik dan peserta didik, dari tidak tahu menjadi tahu baik proses berkembangnya fisik, potensi yang ada pada diri peserta didik, dan emosional yang dinaungi oleh instansi pemerintahan. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disekolah yang bertujuan untuk dapat mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik agar dapat peka atau perduli terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi dilingkungan masyarakat, dapat memiliki sikap mental yang fositif terhadap segala ketimpangan sosial yang terjadi, dan dapat terampil mengatasi setiap masalah-masalah yang terjadi pada dirinya. SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan suatu mata pelajaran kombinasi, campuran, atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti ilmu bumi, ekonomi-politik,sejarah,atropologi dan lainlainnya. Menurut Supardi . 1:186-. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan menjadikan peserta didik menjadi warga negara yang baik, menaati peraturan, mendapatkan HAM, dan mengerjakan HAK sebagai warga negara Indonesia, dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis, inkuiri, menjadi kepribadian yang mandiri, dapat mengembangkan kecerdasan dan keterampilan sosial, menghayati nilai moral, serta dapat mengembangkan kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat dilingkungannya. Menyatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial adalah integrasi dari beberapa cabang lmu sosial seperti, sejarah, geografi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat yang diwujudkan dalam satu pendekatan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial adalah cabang-cabang dari berbagai ilmu sosial seperti, sejarah, geografi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum dan budaya, dan betujuan untuk dapat mengembangkan kecerdasan peserta didik, keterampilan sosial, keperdulian terhadap lingkungan sosial, menaati peraturan UUD,dan menjadikan kepribadian yang mandiri. Ilmu pengetahuan Sosial dapat dikatakan ideal jika proses belajar mengajar didalam kelas menggunakan pendekatan, metode, strategi, dan model yang tepat. Penggunaan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan anak tersebut sebagai guru tidak dapat mentok pada satu pendekatan saja namun harus dilihat dengan kebutuhan dan kesesuaian pada peserta didik. Misalnya menggunakan pendekatan Artinya dalam proses belajar mengajar dikelas IPS para peserta didik diajak, dibina, dan diarahkan agar dapat mengkaji atau memecahkan masalah atau topik dari berbagai disiplin ilmu. Sekolah merupakan lembaga instansi yang dinaungi oleh pemerintah disekolah menjadi tempat anak-anak untuk menimba ilmu, dengan bersekolah dapat mengubah pola fikir anak-anak menjadi lebih baik lagi, menjadikan lebih bermoral, menjadikan peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu, menjadikan peserta didik lebih berkarakter lagi, membentuk solidaritas terhadap teman sebaya, menjadikan lebih bermartabat, menjadikan warga negara yang taat akan peraturan yang telah dibuat oleh negara. Disekolah guru mengajarkan berbagai materi pembelajaran ada bermacam-macam mata pelajaran yang dipelajari salah satunya adalah IPS atau Ilmu Pengetahuan Sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana berwarga negara yang baik, mempelajari menjadi manusia yang lebih bermartabat, dengan IPS mempelajari bersosialisasi dengan baik antar teman, antar keluarga, anatar lingkungan maupun masyarakat. Tujuan IPS dipelajari menjadikan peserta didik menjadi kepribadian yang lebih disiplin akan peraturan yang ada di negara ini, menjadikan peserta didik mempunyai karakter yang berbudi pengerti yang baik, karena sebagai peserta didik mereka dituntut untuk bermoral jikalau tidak maka sekolah atau guru gagal dalam menjalankan tugasnya yang ada. Pada dasarnya IPS terdiri dari beberapa ilmu pengetahuan seperti geografi, sejarah, morfologi, dan sebagainya. Pada kelas IV SD pembelajaran IPS pada tema 1 subtema 1 belajar tentang mengidentifikasi keberagaman sosial,ekonomi, budaya etnis dan agama diprovinsi setempat sebagai identitas bangsa indonesia, serta hubungannya dengan karakteristik ruang, serta dapat menyajikan hasil identifikasi mengenai keberagaman sosial, ekonomi, budaya etnis dan agama diprovinsi setempat sebagai identitas bangsa indonesia, serta hubungannya dengan karakteristik ruang dilakukan dengan metode ceramah guru menjelaskan materinya, kemudian melakukan tanya jawab. Namun pada saat jam pembelajaran IPS berrlangsung banyaknya anak-anak yang melakukan prilaku disruptif maksudnya anak-anak bermain-main, saling mengobrol kepada teman sebangkunya, lalai dalam mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru. Hal ini membuat ketidak kondusifan kelas, banyak sekali faktor sikap disruptif ini yaitu faktor-faktor psikologi yaitu : kurang perhatian yang diberikan guru, guru kurang adil terhadap siswa didalam kelas misalnya membeda-bedakan antara anak yang pintar dan anak yang kurang mengerti dalam pembelajaran, pola asuh orangtua yang tidak konsisten sehingga disekolah anak berprilaku disruptif dan sebagainya. Oleh karna itu masalah prilaku SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 disruptif hal ini sangat memperhatinkan, maka guru sangat perlu untuk memiliki strategi yang tepat dalam menangani prilaku disruptif ini. Prilaku siswa tersebut merupakan prilaku yang salah sehingga peserta didik harus disadarkan dan diberikan arahan. Namun guru harus memandang sebagai makhluk hidup ciptaan Allah yang tidak luput dari dosa, terkadang perkataan orang lain dapat menyebabkan prilaku disruptif pada anak. Prilaku disruptif pada siswa dalam lingkungan naungan pendidikan dpat mengurangi waktu pembelajaran (Josilin at al, 2. Pertama, siswa yang melakukan prilaku disruptif akan mengganggu anak-anak yang mengikuti pembelajaran, berdampak pada prestasi anak-anak tersebut, kedua jika guru meresponnya perilaku anak tersebut maka guru akan menghentikan jam pembelajarannya atau mengentikan informasi akademik tentunya dapat mengakibatkan prestasi anak-anak tersebut. Faktor dari perilaku disruprif meliputi beberapa factor yaitu sebagai berikut : kurangnya motivasi guru maksudnya disini guru kurang mensupport peserta didiknya misalnya guru hanya memperhatikan peserta didik yang pintar saja jadi terlihat kesenjangan perhatian dari guru membuat anak-anak cemburu dengan perlakuan guru yang seperti itu, oleh sebab itu anak-anak peserta didik merasa tidak Kurangnya perhatian dari orangtua, maksudnya orangtua yang mungkin terlalu sibuk dengan kegiatannya membuat tidak memperhatikan anak-anaknya berkembang orangtua hanya mengandalkan lingkungan sekolah sebagai tempat pembentukankarakter sebenarnya peran orangtua juga sangat diperlukan dalam pembentukan karakter peserta didik. Orangtua harus memberikan perhatian kepada anak-anaknya memberikan peluang kepada anak-anaknya untuk bebas menceritakan trntang keluh kesahnya, memberikan kebebasan anak untuk bias berpendapat namun harus diarahkan namun tidak membuat anak-anak tersebut merasa terkekang, berikan arahan dan nasehat kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan yangbermanfaat bagi dirinya orang lain keluarga dan masyarakat. Dizaman sekarang orangtua sangat kurang dalam memperhatikan perkembangan anak apalgi dizaman sekarang anak-anak sudah kecanduan gadget hal tersebut akan berdampat negative. Sebenarnya diera digital ini ada sisi negative dan sisi positifnya namun jika tidak dipantau oleh orangtua maka kebanayak anakanak yang terjerumus akan hal negatifnya. Misalnya anak-anak kan tercandu kepada game, banayknya adegan-adegan yang tidak senono dioerlihatkan dihp, banyaknya perlaku disruptif di hp kebanyakan anak-anak menirunya . Oleh karena itu sangat perlu pantauan orangtua. Metode atau media yang diguanakan oleh guru tidak menarik sehingga perserta didik tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran, ya mereka mencari kesibukan tersendiri dengan bermain-main dikelas dengan temannya, mereka seperti bernyanyi , bermain-main tertawa bersama-sama. Oleh karena itu guru harus menggunakan metode dan media yang menarik perhatian peserta didik tersebut. Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap prilaku atau karakter pada peserta didik. Tugas orangtualah harus memperhatikan anak-anaknya membolehkan anak-anaknya bermain tetapi harus melihat bagaimana perkembangan lingkungan tersebut, jika anak-anak sudah melakukan prilaku disruptif maka untuk mengatasinya perlu beberapa cara oleh karena itu sebelum terjadi hendaklah Prilaku disruptif selain itu berakibatkan ketidak kondusifan kelas atau tidak nyaman untuk dilaksanakan pembelajaran dampak dari prilaku disruptif lainnya yaitu peserta didiknya masih belum mampu mencerna pembelajaran yang disampaikan oleh gurunya hal tersebut berakibatkan dengan akademik mereka dan ilmu wawasan mereka. Karenanya peran gurulah sangat diperlukan dlam mengajar, membentuk prilaku mereka, membimbing mereka, mengarahkan moralis dan etika peserta didik, dan sikap tanggung jawab terhadap kewajiban mereka. SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 METODE PENELITIAN Metode ini dilakukan oleh peneliti itu sendiri dengan menggunakan metode kata-kata atau Penelitian ini pada umumnya bisa dipakai oleh peneliti tentang kehidupan dilingkungan sekitar kita, lingkungan keluarga, sejarahwan, fenomena yang sedang terjadi, masalah sosial, studi kasus dan lain sebagainya. Instrumennya yaitu peneliti itu sendiri. Alasan mengapa peneliti memilih pendekatakan kualitatif yaitu peneliti mempunyai sebuah pengalaman dimana dengan menggunakan metode ini peneliti dapat menemukan dan data memahami apa yang sebenarnya terjadi tentang perilaku disruptif, yaitu sebagai fenomena yang langkah atau unik. Jenis penelitian ini adalah kualitatif studi kasus. Studi kasus adalah memaparkan tentang sesuatu kejadian atau fenomena yang terjadi mengupas kasus dengan cara mendalam dengan mengumpulkan informasi-inromasi secara lengkap dengan berbagai prosedur yang mengumpukan berbagai data-data berdasarkan waktu. Kasusu ini berupa suatu fenomena, aktivitas atau sebuah proses. Pada jenis penelitian ini untuk mengetaahui dampak darai prilaku disruptif pada kekondusifan kelas. Pada penelitian kualitatif sampai jenuh dalam mendapatkan berbagai informasi. Pada penelitian ini kasusunya berupa fenomena yang terjadi disekolah pada kelas IV SD. Peserta didik melakukan prilaku disruptif dikelas maupun diluar kelas. Dengan itulah peneliti ingin mencari berbagai informasi yang tentang prilaku disruprif pada peserta didik dengan tujuan mengetahui dampakdampak dari perilaku disruptif tentang kekondusifan dikelas. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan beberapa bentuk perilaku disruptif pada peserta didik dikelas IV SD adalah mengekspresikan keagresifnya kepada teman-temannya, peserta didik mengeluarkan kata tidak sopan untuk diucapkan, peserta didik mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati teman sebayanya, peseta didik tidak memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh gurunya, dan melakukan keributan-keributan pada saat pembelajaran dilaksanakan. Munculnya sikap disruptif pada saat pembelajaran dikelas IV Sekolah Dasar , pada umumnya terjadi pada lingkup pendidikan. Hal ini senada dengan pendapatnya Arbuckle, , & Abetz-Webb . Arbuckle. , & Abetz-Webb . menyatakan sikap disruptif yang sering muncul pada anak-anak pada tingkat Sekolah Dasar. Termasuk menuntut berbagai permintaan yang harus dituruti atau tidak bisa menunggu untuk diperhatikan, mengusik kegiatan siswa lainnya pada kegiatan pembelajaran, tidak dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri, atau menuntut perhatian lebih dari gurunya, siswa melarikan diri dari kelas pada saat pembelajaran, tidak mau dengan bersosialisasi pada teman lainnya, pesserta didik menolak untuk mematuhi norma-norma yang telah diterapkan oleh gurunya, siswa suka mengecewakan perasaan teman lainnya, dan suka berbohong, melarikan dirinya kekantin sekolah pada saat belajar, enggan bersikap disisiplin disekolahnya, dan suka membohongi orang disekitarnya. Sikap disruptif pada siswa tersebut pada aktivitas belajar dan mengajar terasa terusik dan menjadi tidak nyaman. Hal tersebut senada pada pendapat dari Kamps. Tankersley. Ellis (Pada Bidell & Deacon, tahun 2. menyatakan sikap disruptif adalah prilaku yang berdampak terjadi didalam kelas maupun diluar kelas perilaku disrputif mengganggu guru atau siswa lainnya sehingga kegiatan belajar dan mengajar terganggu dengan perlaku mereka. Perilaku spesifik sebagai contohnya sebagai berikut : mengeksperesikan keagresifan terhadap guru atau siswa lainnya, membuat pernyataan verbal negativenyasaat dikelas, mereka enngan mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan dikelasnya misalnya pada classmeeting, tidak menghargai teman sebayanya atau gurunya , dan tidak mau memperhatikan pembelajaran yang disampaikan oleh gurunya didepaan kelas, melakukan keributan pada saat pembelajaran, pada hasil penelitian senada dengaan hasil penelitian sebelumnya oleh Widodo. G, s: Hariyono. dan Hanurawan. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa beberapa kenalakankenalakan pada siswa adalah sikap menyimpang dan melanggar peraturan disekolah yang telah SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 ditetapkan oleh sekolah yang dilakukan oleh siswa-siswa sehingga mengganggu kegiatan atau tidak nyaman suasana belajar dan mengajar pada saat pembelajaran, dan dapat merugikan pihak individu Bentuk kenakalan siswa dapat dikategorikan menjadi dua yaitu sikap mengganggu dan kenakalan yang serius pada siswa. Perilaku mengganggu dipersepsikan beragam meiluti : tidak memperhatikan kerapihan baju sekolahnya, tidak memperhatikan penjelasan guru, sangat agrestif, mencontek pada saat ujian, membuat ancaman fisik terhadap temannya, dan verbal kepada gurunya atau teman lainnya, beralih topic pembicaraan dari materi belajar atau diskusi kelompok , ennbgan paatuh pada arahaan yang telah disampaikan oleh gurunya, mengeyel . erus berbicara dan enggan mengakui kesalahan yang telah diperbuatny. Sedangkan kenakalan seriusnya pada siswa meliputi sebagai berikut : perilaku bolos pada saat pembelajaran, dan mencuri uang jajan temannya dan lain sebagainya. Apapun beberapa bentuk, sikap disruptif pada proses belajar dan mengajar sebaiknya melakukan tindak lanjutkan agar sikap tersebut teratasi dengan baik. Karena dampaknya yang bermunculan adalah dapat merugikan secara akademik bagi dirinya sendiri ataupun juga berefek pada teman lainnya. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Syafwar. F, . yang menyatakan bahwa dampak sikap disruptif pada belajar dan mengajar perlunya di tindak lanjutkan pada belajar mengajar supaya cepat diatasi karena akan dapat merugikan dirinya dalam pembelajaran perlu cepat ditanggulangi karena akan dapat merugikan pada diri sendiri , lingkupan masyarakat, teman-teman sebayanya dan lingkupan belajar. Guru perlunya menerap beberapa karakter yang baik untuk mengarahkan siswa menjadi karakter yang lebih baik lagi untuk sikap yang tidak berat mengganggu dan berakibatkan gagal dalam belajar mengajar disekolah misalnya mereka bicara, ribut, memakan permen dan memakan jajan, suka tidur dikelas, jalan-jalan pada saat pembelajaran tidak mau mengerjakan tugas yangdiberikan oleh atau tidak mau belajar dengan giat. Beberapa peran sekolah dalam mengimplementasikan dengan berbagai interventasi moderat jika ditemui perilaku murid sudah merusak dan dapat merugikan pada individu. maupun lingkungkup , misalnya peserta didik mengusik temannya dalam kegiatan belajar, berantam dengan teman sebayanya, coret meja kelas, peserta didik banting bangku, nendang meja, lempar kertas bekas pada kegiatan belajar, peserta didik bermain-main dengan teman sebayanya. Apabila gurunya tak sanggup dalam mencari solusi permasalah-permasalah siswa pada kelas di IV SD tentunya pemanfaatan lainnya sepertigurunya, walinya, maupun teman sebayanya ataupun yang bersangkutan tentang pembentukan karakter pada anak-anak. Semua tindakannya tujuannya terjadi perubahan karakter siswa menjadi hal yang bermanfaat dan membentuk karakter yang cerdas. Faktornya dari sikap disruprif meliputi beberapa factor yaitu sebagai berikut : kurangnya motivasi guru maksudnya disini guru kurang mensupport pserta didiknya misalnya guru hanya memperhatikan peserta didik yang pintar saja jadi terlihat kesenjangan perhatian dari guru membuat anak-anak cemburu dengan perlakuan guru yang seperti itu, oleh sebab itu anak-anak peserta didik merasa tidak diperhatikan. Kurangnya perhatian dari orangtua, maksudnya orangtua yang mungkin terlalu sibuk dengan kegiatannya membuat tidak memperhatikan anak-anaknya berkembang orangtua hanya mengandalkan lingkungan sekolah sebagai tempat pembentukan karakter sebenarnya peran orangtua juga sangat diperlukan dalam pembentukan karakter peserta didik. Orangtua harus memberikan perhatian kepada anak-anaknya memberikan peluang kepada anak-anaknya untuk bebas menceritakan tentang keluh kesahnya, memberikan kebebasan anak untuk bias berpendapat namun harus diarahkan namun tidak membuat anak-anak tersebut merasa terkekang, berikan arahan dan nasehat kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan yangbermanfaat bagi dirinya orang lain keluarga dan masyarakat. Dizaman sekarang orangtua sangat kurang dalam memperhatikan perkembangan anak apalgi dizaman sekarang anak-anak sudah kecanduan gadget hal tersebut akan berdampat negative. Sebenarnya diera digital ini ada sisi negative dan sisi positifnya namun jika tidak dipantau oleh orangtua maka kebanayak anakanak yang terjerumus akan hal negatifnya. Misalnya anak-anak kan tercandu kepada game, banayknya SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 adegan-adegan yang tidak senono dioerlihatkan dihp, banyaknya perlaku disruptif di hp kebanyakan anak-anak menirunya . Oleh karena itu sangat perlu pantauan orangtua. Metode atau media yang digunakan oleh guru tidak menarik sehingga perserta didik tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran, ya mereka mencari kesibukan tersendiri dengan bermain-main dikelas dengan temannya, mereka seperti bernyanyi , bermain-main tertawa bersama-sama. Oleh karena itu guru harus menggunakan mmetode dan media yang menarik perhatian peserta didik tersebut. Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap prilaku atau karakter pada peserta didik. Tugas orangtualah harus memperhatikan anak-anaknya membolehkan anak-anaknya bermain tetapi harus melihat bagaimana perkembangan lingkungan tersebut, jika anak-anak sudah melakukan prilaku disruptif maka untuk mengatasinya perlu beberapa cara oleh karena itu sebelum terjadi hendaklah Dilingkungan pada zaman sekarang memang sangat rawan bagi anak-anak atau peserta didik jadi sebagai orangtua harus melihat dengan siapa anak kita berteman- dengan siapa anak-anak kita bergaul. Faktor internal yaitu factor dari anak itu tersebut misalnya memang karakter anak tersebut yang sangat agresif, anak yang suka bermain-main, anak yang suka dengan keributan, anak yang suka dengan Namun hal tersebut haruslah di control oleh orangtua maupun guru. Orang tua maupun guru harus saling beriringan dalam mengontrol perkembangan anak-anaknya tersebut. Menurut pernyataan Subawa. S,. Widhiasthini. Pika. Suryawati. I,. Astawa . menyatakan factor dari sikap disruptif pada peserta didik dari factor dirumah, lingkungan sekolah maupun lignkungan masyarakat. Pengalaman peserta didik dirumahnya secara signifikasi berdampak sebagai pengaruh dalam pembentukan karakter pada peserta didik khususnya bagi anak-anak yang mengalami broken home atau orangtuanya bercerai, mengalami kemiskinan, orangtua yang berlebihan dalam menghukum anak-anaknya kurangnya perhatian dari orangtua maupun dorongan semangat dari orangtuanya. Dampak dari perilaku disruptif dalam lingkungan sekolah sebagai berikut : . dengan adanya perilaku disruptif tersebut membuat ketidak nyamanan kelas untuk dilaksanakan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung karena akan membuat suasana menjadi ribut pada hakikatnya pembelajaran yang kondusif atau yang nyaman yaitu tidak adanya gangguan dari internal maupun eksteranl maksud internal yatu gangguan keributan dari dalam ruangan kelas yaitu keributan yang dilakukan oleh peserta didik itu tersebut. Gangguan eksternal yaitu gangguan yang diluar kelas misalnya diteras sekolah adanya peserta didik yang lain melakukan keributan, ada juga peserta didik yang bermain diteras kelas hal tersebut dapat menggangu kegiatan pembelajaran saat dilakukan. Anak-anak yang ingin focus saat pembelajaran jadi terganggu dengan keributannya. Dampak dari prilaku disruptif bagi lingkungannya juga berdampak buruk pertama masyarakat akan terganggu dengan kenakalan anak-anak tersebut maka dari tu perlunya perhatian dari orangtua maupun dari guru. Peran orangtua dan guru sangatlah penting terutama pada pembangunan karakter (Dalam Novitasari. R, 2. menyatakan beberapa pendapat bahwa faktornya yang menjadi pengaruh sikap disruptif terhadap siswa yaitu terbagi dua factor pertama factor . Faktor dalam sebagai berikut: Emosional, kognitif, genetic dan biologis. Selanjutnya factor liar sebagai berikut : lingkup berakibatkan kestress, dan komunikasi antara siswa dan orangtua tidak lancar. Strategi yang dilakukan oleh guru SD kelas IV Negeri pada solusi berbagai sikap disruptif siwa menghukum nya secara verbal, namun guru memberikan tegur saja, misalnya menasihati anak-anak yang berprilaku disruptif . pada Hasil penelitian yang dilakukan peneliti senada dengan peneliti dahulunya oleh penelitian Prijanto. H dan Oktavaria. K . menyatakan yang dilakukan pendidik terhadap berbagai berprilaku disruptif atau anak yang bermasalah dalam hal kedisiplinan yang di buat peraturan oleh sekolah adalah bukan mencaci maki peserta didik tersebut, membentak dengan suara yang lantang,dan jangan menyaakiti hati kecilnya karena mereka harus dijaga dan dirawat dengan baik walaupun kadang ada perilakunya yang kurang baik. Akan tetapi tindakan yang bagus adalah sebagai SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 berikut: . Tidak membiarkan siswa bersikap tidak disiplin pada peraturan sekolah maupun pada saat . Mencari-cari apasih penyebab siswa tidak mau disiplin pada peraturan sekolah. Mengenali berbagai bagaimana karakternya yang dimiliki peserta didik guru meluang waktunya sebagai hanya teman bercakap, dengan peserta didik maupun bisa juga dengan kegiatan aktivitas sama. guru Menegurnya dengan kasih sayang. guru memanggil siswa dengan yang baik-baik dan berbicara secara personali. guru menemui pihak wali orang tua peserta didik ataupun guru berbincang bersama-sama mendapatkan penyelesaian ataupun melakukan perbaikan atau evaluasi kedisiplinan peserta didik . Kreatifitasan dalam menyusun tempat duduk peserta didik dan inovasi pembelajaran tentunya. Kreatifitasan untuk menyusunkan kursi bagi peserta didik secara inovasi pembelajaran lainnya. Memberikan reward atau hadiah bagi peserta didik nya yang berprilaku baik atau tidak berprilaku disruptif dan . guru berdoa tentang kebaikan peserta didiknya. Berbagai upaya sekolah pada sikap disruptif siswa, dengan cara memperelok kelakuan siswa caranya sekolah faham akan masalah yang dialami peserta didik baik masalah yang terjadi disekolah maupun di lingkungannya. Dari pernyataan peneliti beberapa yang relevan dengan pndapat peneliti terlebih dahulu yaitu Christian & Hidayat . menyatakaan cara menaggulangi sikap disruptif peserta didik perlunya belajar secara Gurunya juga harus mempunyai berbagai pendekatan untuk manajemenkan kelasnya sehingga terciptanya belajar mengajar kondusif dan efesien waktu dalam pembelajaran. Berbagai prilaku siswa memperlihatkan sikap mengusik pada kegiatan belajar, lalu gurulah perlunya meresponya dengan baik kemudian melaksanakan berbagai metode dengan siswanya untuk mengetahuinya bagaimana kondisi dari berbagai persoalan-persoalan sikap siswanya. Tanggapan siswa-siswa tentang pendekatan yang dilakukan sekolah dalam mengurangi sikap disruptif pada peserta didik yaitu mereka merespon atau bereaksi maksudnya disini siswa manerima atau menolak serta sikap yang tidak perduli atau perduli terhadap yang disampaikan oleh gurunya Dalam teori Fatmawati dan Anjarsari. menyatakan bahwa reaksi tertutup yaitu sifatnya emosi dan individu, adalah rangsangan yang positive dan negative. Pada orang disekitarnya ataupun objeknya atau pada kondisi lainnya. Senada pada pendapat tersebut bahwa pada dasarnya siswa mampu memberikan rangsangan yang positive pada prilaku disruptif yang mereka lakukan. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan anak-anak sebagian besar memperhatikan penjelasan-penjelasan yang diterangkan oleh guru dikelas, peserta didik mau merubah situasi yang ribut menjadi nyaman, dan sebagian besar peserta didik mau mengikuti peraturan yangdiadakan disekolahnya tersebut. Nyatanya siswa manut akan perintah dari sekolah, dulu kondisi kelas ribut sekarang menjadi tenang atau kondusif layak digunakan untuk mengadakan pembelajaran. Kurangnya respon peserta didik terhadap upaya-uapaya yang dilakukan oleh guru dalam mengatsi-mengatasi permasalah pada prilaku disruptif dapat menghambat prodses pemulihan terhadap prilaku disruptif pada peserta didik. Cara guru dalam mengatasi perilaku disruptif yang tepa dan tangkap yaotu gur harus mengembangkan rangsangan pada peserta didiknya. Sebab hal itu guru harus pintar dalam menggunakan media-media atau pendekatan dengan psikologis pada anak tersebut sehingga peserta didik merasa minat dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi prilaku dsirptif tersebut. Selanjutnya akhir peserta didiknya lebih mudah merespon dan menjadi pendorong akan semua upaya yang dilakukan oleh guru. Stimulus atau rangsangan yang dipakai oleh para psikolog untuk memaparkan suatu kondisi yang terjadi respon-respon tertentu. Stimulus atau rangsangan yaitu pemberitahuan yang didapatkan oleh 5 panca indra. Dalam teorinya behavior menngunakan kata rangsangan yang dipasang oleh responrespon yang menjelaskan bagaimana proses-proses terbentuk karakter yang terjadi. Jika pada stimulus dan respon yang dipasang atau bagaimana kondisi itu akan dapat memperoleh karakter terhadap rangsangan yang terjadi. SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 PENUTUP Beberapa Bentuk sikap disruptif ini pada siswa dikelas IV SD sangat bermacam, adalah. siswa yang menggusik atau ribut pada proses pembelajaran dikelas , perilaku yang menggusik hak teman sebayanya dalam proses belajar. Hal ini peserta didik yang berperilaku disruptif mengekspresikan keagresifnya kepada temannya sebayanya, bercakap kata yang tidak layak untuk diucapkan, mengeluarkan kata yang menyakitkan hati teman sebayanya, enggan melihat penjelasan dari guru, dan membuat keributan saat pembelajaran dilaksankan, enggan melakukan aktivitasnya secara sendiri atau ingin di perhatikan yang berlebih dari guru, membantah ketika ditegur oleh guru, cabut diri dari kelas, tidak bergaul baik dengan siswa lain, menolak untuk mematuhi aturan yang ditetapkan guru, mengabaikan perasaan orang lain, dan berbohong. Faktor penyebab terjadinya sikapsikap disruptif peserta didik kelas IV SD, adalah dari faktor psikologis anak, kurangnya motivasi dari guru, guru bersikap negatif terhadap peserta didik, pola asuh orangtua yang tidak konsisten dalam mendidik anaknya, kurangnya kepedulian orangtua terhadap anak/ kurangnya kasih sayang, orangtua yang terlalu posesif atau selalu melarang, dan kualitas pengajaran yang buruk yang diberikan guru, media yang digunakan guru dalam mengajar kurang menarik sehingga siswa mencari kesenangan Dampak dari prilaku disruptif ini adalah ruangan kelas yang tidak kondusif atau tidak nyaman untuk dilaksanakan pembelajaran, anak yang ingin focus pada saat pembelajaran jadi terganggu dan lain sebagainya. Prilaku siswa tersebut merupakan prilaku yang salah sehingga peserta didik harus disadarkan dan diberikan arahan. Namun guru harus memandang sebagai makhluk hidup ciptaan Allah yang tidak luput dari dosa, terkadang perkataan orang lain dapat menyebabkan prilaku disruptif pada Prilaku disruptif pada siswa dalam lingkungan naungan pendidikan dpat mengurangi waktu pembelajaran (Josilin at al, 2. Pertama, siswa ynag melakukan prilaku disruptif akan mengganggu anak-anak yang mengikuti pembelajaran, berdampak pada prestasi anak-anak tersebut, kedua jika guru meresponnya perilaku anak tersebut maka guru akan menghentikan jam pembelajarannya atau mengentikan informasi akademik tentunya dapat mengakibatkan prestasi anak-anak tersebut. Prilaku disruptif selain itu berakibatkan ketidak kondusifan kelas atau tidak nyaman untuk dilaksanakan pembelajaran dampak dari prilaku disruptif lainnya adalah peserta didik yang kurang mampu memahami pembelajaran yang disampaikan oleh guru hal tersebut berakibatkan dengan prestasi mereka dan pengetahuan mereka. Karena itu peran gurulah sangat diperlukan dlam mengajar, membentuk prilaku mereka, membimbing mereka, mengarahkan moralis dan etika peserta didik, dan sikap tanggung jawab terhadap kewajiban mereka. Cara mengatasi perilaku disruptif peserta didiknya menggunakan beberapa cara pendekatan, yaitu pendekatan behavioristik. Dalam hal ini guru menerapkan pemberian pujian kepada peserta didik yang berperilaku baik dan sopan, guru memberikan peringatan secara langsung tentang anak-anak yang berprilaku disruptif, guru menerapkan strategi peragaan, guru mengajar dengan media yang menarik sehingga perhatian anak menuju pada pembelajaran. Selain itu, guru-guru juga menggunakan pendekatan kognitif, yaitu dengan menceritakan pengalaman tentang beberapa perilaku disruptif pada peserta didik/ teman sebayanya. Guru juga dapat menngunakan pendekatan humanistic yaitu dengan memahami masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik tersebut. Respon peserta didik terhadap upaya-uapaya yang dilakukan oeh guru dalam mengatasi perilaku disruptif. Peserta didik melihaat dan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru, peserta didik berkeinginan merubah perlaku disruptif menjadi yang lebih baik, membuat Susana kelas menjadi tenang dan nyaman , peserta didik mau mengikuti aturan yang diberikan oleh guru dan sekolah. Dan orangtua yang memperhatikan perkembangan anaknya sehingga perilaku-perilaku peserta didk dapat terkontrol dengan baik. Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh guru ataupun sekolah hal ini dapat menemukan solusi bagi sikap disruptif siswa tersebut. Upayanya sebagai berikut : guru harus memberikan arahan atau memberikan pelayanan yang positif, gurulah menjadi pedoman bagi siswanya. SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran | Volume 1. Nomor 1. Juni 2023 DAFTAR PUSTAKA