Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan (JIPPER) ISSN 3031-5883. Vol 3. No 1, 2025, 1-14 https://doi. org/10. 35912/jipper. Pengaruh Fluktuasi Harga Cabai Keriting (Capsicum Annum L) terhadap Pendapatan Petani di Desa Lubuk Saung Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin (The Effect of Price Fluctuation of Curly Chili (Capsicum Annum L) on Farmers' Income in Lubuk Saung Village Banyuasin i District Banyuasin Regenc. Een Junistia1*. Yuwinti Nearti2. Nirmala Jayanti3 Universitas Sumatera Selatan. Palembang. Indonesia1,2,3 een030613@students. Abstract Purpose: This study aims to analyze the effect of price fluctuations in curly chili on farmersAo income in Lubuk Saung Village. Banyuasin i District. Banyuasin Regency, and to identify the key factors causing such fluctuations. Curly chili is recognized as a strategic horticultural commodity that is prone to high price volatility due to seasonal conditions, market demand, and distribution constraints. Methodology/approach: Quantitative research with a descriptive approach, using a census of 31 curly chili farmers. Data were analyzed using Exploratory Factor Analysis (EFA) to determine factors causing price fluctuations and Spearman correlation to assess the effect on income. Riwayat Artikel Results/findings: Key factors influencing price fluctuations are Diterima pada 01 Juni 2025 season and weather, production costs, infrastructure, planting Revisi 1 pada 06 Juni 2025 patterns, government policies, middlemen, pest and disease Revisi 2 pada 18 Juni 2025 attacks, seasonal demand, and community consumption trends. Revisi 3 pada 29 Juni 2025 Price fluctuations have a significant effect on farmersAo income. Disetujui pada 05 Juli 2025 Conclusions: Curly chili price volatility in Lubuk Saung Village is influenced by environmental, market, and structural factors, and directly impacts farmer livelihoods. Addressing these challenges requires integrated strategies involving government, market actors, and farmers. Limitations: The studyAos scope is limited to one village with a small sample size, potentially reducing generalizability to other regions or commodities. Contribution: This research contributes empirical evidence on the link between horticultural commodity price volatility and farmer income, offering practical insights for policy design and market stabilization strategies to protect farmer welfare. Keywords: Curly Chili. Income Price Fluctuation How to Cite: Junistia. Nearti. Jayanti. Pengaruh Fluktuasi Harga Cabai Keriting (Capsicum Annum L) terhadap Pendapatan Petani di Desa Lubuk Saung Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin. Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan, 3. , 1-14. Pendahuluan Fluktuasi harga komoditas pertanian merupakan fenomena yang sering terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia salah satu komoditas yang paling sering mengalami fluktuasi harga yaitu cabai Cabai keriting merupakan bahan pangan penting yang banyak digunakan dalam masakan sehari-hari dan sebagai bahan baku industri makanan, ketergantungan masyarakat terhadap cabai keriting menjadikan harga komoditas ini sangat berfluktuasi tergantung pada faktor produksi dan permintaan pasar, fluktuasi harga dapat berdampak signifikan terhadap pendapatan petani. Pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh harga jual komoditas yang mereka hasilkan. Menurut penelitian Santoso and Kusuma Wardhana . , ketika harga cabai keriting turun petani bisa mengalami kerugian yang berdampak pada kesejahteraan mereka. Sebaliknya ketika harga cabai meningkat pendapatan petani dapat meningkat secara signifikan yang tentunya berdampak baik pada kehidupan sehari-hari mereka. Cabai keriting merupakan salah satu komoditas pertanian utama di Indonesia yang memiliki permintaan tinggi di pasar namun harga cabai cenderung fluktuatif akibat berbagai faktor seperti perubahan musim, kondisi cuaca, kebijakan impor serta permintaan dan penawaran di pasar. Ketidakstabilan harga ini dapat berdampak langsung pada pendapatan petani, terutama mereka yang bergantung pada hasil panen cabai sebagai sumber utama penghidupan. Menurut penelitian Ragelsetiawan. Candra. Huzriyansyah, and Firda . , harga cabai merah di Indonesia cenderung mengalami volatilitas yang tinggi, di mana pada saat panen raya harga turun drastis sedangkan pada musim paceklik harga meningkat tajam. Kondisi ini menyebabkan ketidakpastian dalam perencanaan usaha tani dan kesejahteraan petani. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa harga cabai dapat mengalami kenaikan hingga lebih dari 100% dalam kurun waktu singkat akibat keterbatasan pasokan dan peningkatan permintaan yang mendadak. Hal ini diperparah dengan ketergantungan petani pada sistem pemasaran tradisional yang sering kali tidak memberikan keuntungan maksimal bagi mereka (BPS, 2021. Mardiyah & Santoso, 2. Provinsi Sumatera Selatan sebagai salah satu wilayah dengan sektor pertanian yang berkembang memiliki banyak daerah penghasil cabai termasuk Kabupaten Banyuasin. Kabupaten ini terletak di bagian timur Sumatera Selatan dan memiliki lahan pertanian yang luas serta didukung oleh kondisi tanah yang subur(Apriyani. Jayanti, & Nearti, 2025. Hafidin & Fahmi, 2025. Nasir, 2. Salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyuasin yang berkontribusi dalam produksi cabai yaitu Kecamatan Banyuasin i. Kecamatan ini memiliki berbagai desa yang mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama salah satunya yaitu Desa Lubuk Saung merupakan daerah yang dikenal dengan produksi cabai keriting, kondisi geografis dan iklim di daerah ini mendukung pertumbuhan cabai keriting namun petani di daerah ini sering kali menghadapi tantangan dalam mengelola fluktuasi harga yang tidak menentu(Meirisa. Arafah, & Rakhmat, 2024. Salman, 2. Di tingkat makro, volatilitas harga komoditas hortikultura terutama cabai keriting seringkali berkaitan dengan dinamika inflasi pangan dan stabilitas daya beli rumah tangga. Karena cabai merupakan komponen penting dalam konsumsi harian dan bahan baku industri kuliner, guncangan harga pada komoditas ini cepat merambat ke indeks harga konsumen, memengaruhi persepsi inflasi dan ekspektasi Dalam konteks tersebut, kestabilan harga tidak hanya menjadi isu pertanian semata, tetapi juga agenda pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial (Zubair. Suherman, & Darmawan, 2. Oleh sebab itu, memahami sumber-sumber fluktuasi serta mekanisme transmisi harga dari tingkat petani hingga konsumen menjadi kunci untuk merumuskan strategi mitigasi yang efektif. Selain faktor penawaran dan permintaan, struktur rantai nilai memainkan peran penting. Panjangnya mata rantai distribusi mulai dari petani, pengepul, pedagang perantara, hingga pedagang besar dan pengecer menciptakan celah transmisi harga dan margin pemasaran yang lebar. Di banyak daerah sentra produksi, posisi tawar petani relatif lemah akibat pasar yang oligopsonistik pada tingkat hulu dan keterbatasan akses terhadap informasi harga waktu nyata. Kondisi ini kerap membuat kenaikan harga di tingkat konsumen tidak serta merta meningkatkan pendapatan petani dalam proporsi yang sama. Sebaliknya, ketika harga turun pada saat panen raya, tekanan langsung segera dirasakan petani karena mereka berhadapan dengan komoditas yang mudah rusak dan memerlukan penjualan cepat. Faktor musiman memperkuat dinamika tersebut. Pola hujan, anomali iklim, dan kejadian ekstrem . anjir/kemarau panjan. memengaruhi produktivitas, kualitas, dan timing panen. Ketidakselarasan kalender tanam antarpetani misalnya karena perbedaan akses input, air irigasi, atau modal kerja menyebabkan konsentrasi panen pada waktu tertentu, memicu kelebihan pasokan jangka pendek dan 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 kejatuhan harga. Sebaliknya, pada periode paceklik, pasokan menipis, sementara permintaan tetap, sehingga harga melonjak tajam. Dalam jangka menengah, ketidakpastian tersebut mempersulit perencanaan usaha tani, terutama dalam menentukan luas tanam dan strategi budidaya yang optimal. Dari sudut pandang ekonomi rumah tangga petani, volatilitas harga meningkatkan risiko pendapatan dan mengganggu arus kas. Biaya produksi meliputi benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan logistik bersifat relatif kaku dalam jangka pendek, sehingga penurunan harga jual tidak diimbangi oleh penurunan biaya secara proporsional. Petani kecil, yang lazim bekerja dengan lahan terbatas dan modal kerja minim, menghadapi kerentanan yang lebih besar terhadap guncangan harga. Keterbatasan akses pembiayaan formal dengan skema yang sesuai musim tanam menambah beban, karena banyak keputusan usaha . isalnya intensitas pemupukan atau pengendalian ham. bergantung pada ketersediaan likuiditas. Isu informasi pasar juga krusial. Keterlambatan informasi harga dan permintaan antarwilayah membuat keputusan penjualan sering bersifat reaktif. Padahal, integrasi informasi misalnya melalui aplikasi harga komoditas, papan harga digital pasar, atau sistem informasi pertanian berbasis kelompok tani dapat memperkecil asimetri informasi, menekan biaya transaksi, dan memperbaiki keputusan timing Inovasi pemasaran termasuk kemitraan dengan pelaku ritel modern, restoran, atau platform e-commerce berpotensi memendekkan rantai pasok, meningkatkan transparansi, dan menaikkan porsi harga yang diterima petani . armerAos shar. , sejauh standar kualitas dan kontinuitas pasokan dapat Dari sisi infrastruktur dan logistik, ketersediaan fasilitas pascapanen seperti sorting, grading, pengemasan, dan cold chain menentukan daya simpan dan nilai jual cabai keriting. Investasi sederhana misalnya peti panen yang tepat, gudang teduh berventilasi, atau pengemasan yang mengurangi kerusakan mekanis dapat menekan shrinkage dan memperlambat penurunan mutu, sehingga memberi ruang bagi petani untuk menunggu harga yang lebih baik dalam jangka waktu pendek. Di banyak sentra, perbaikan akses jalan produksi dan efisiensi transportasi juga berdampak langsung pada biaya logistik dan kecepatan distribusi, terutama menuju pasar induk atau collection point yang lebih likuid. Pada level kelembagaan, penguatan organisasi ekonomi petani kelompok tani, gabungan kelompok tani, atau koperasi pemasaran dapat meningkatkan posisi tawar dan skala ekonomi dalam pengadaan input serta penjualan output. Melalui mekanisme lelang kelompok, kontrak pasokan, atau penjualan terjadwal, kelompok petani dapat menstabilkan arus pasok dan memanfaatkan bargaining power Sinergi dengan penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan pelaku swasta diperlukan untuk menyusun protokol kualitas, kalender tanam terkoordinasi, serta skema pembiayaan yang selaras musim dan risiko . isalnya kredit musiman, asuransi gagal panen berbasis indeks cuaca, atau skema pembiayaan rantai paso. Dari perspektif kebijakan, kombinasi instrumen market-friendly dan intervensi selektif dapat dipertimbangkan. Penetapan harga acuan yang realistis, operasi pasar terbatas pada momentum tertentu, dukungan logistik pascapanen, serta sistem informasi harga yang andal merupakan contoh intervensi yang menyeimbangkan kepentingan produsen dan konsumen. Di sisi lain, program literasi keuangan dan manajemen risiko bagi petani perlu diperkuat agar keputusan produksi dan pemasaran lebih adaptif terhadap sinyal pasar. Koordinasi lintas wilayah juga penting, mengingat keterhubungan pasar cabai antarprovinsi yang tinggi. Secara akademik, kajian mikro di tingkat desa seperti di Desa Lubuk Saung. Kecamatan Banyuasin i memberikan kontribusi berharga karena menangkap konteks lokal yang kerap hilang dalam analisis Pendekatan Exploratory Factor Analysis (EFA) memungkinkan pereduksian sejumlah besar variabel menjadi faktor-faktor inti penyebab fluktuasi harga. sedangkan korelasi Spearman membantu memetakan keeratan hubungan antara dinamika harga dan pendapatan petani pada data yang tidak berdistribusi normal. Dengan menggabungkan kedua pendekatan, penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi klaster faktor penyebab . roduksiAeinfrastruktur, distribusi, konsumen, kebijakanAepola tana. , tetapi juga menunjukkan implikasi ekonominya terhadap kesejahteraan petani setempat. Kebaruan praktis dari fokus lokasi penelitian terletak pada penyusunan rekomendasi yang berbasis bukti lokal dan dapat segera dioperasionalkan: penjadwalan tanam yang terkoordinasi untuk mengurangi lonjakan pasokan, peningkatan fasilitas pascapanen skala desa, pembentukan/ penguatan unit pemasaran kolektif, serta pengembangan kanal informasi harga lintas pasar. Rekomendasi ini selaras dengan agenda pembangunan daerah dan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 Goal. seperti No Poverty dan Zero Hunger, karena stabilitas pendapatan petani merupakan fondasi ketahanan ekonomi rumah tangga dan keamanan pangan. Akhirnya, urgensi riset ini berangkat dari kebutuhan untuk menutup kesenjangan antara dinamika pasar yang cepat berubah dengan kapasitas adaptasi petani kecil. Dengan memetakan faktor-faktor penentu fluktuasi harga dan mengaitkannya secara empiris dengan pendapatan, penelitian ini menyediakan dasar argumen bagi perumusan kebijakan dan intervensi kelembagaan yang lebih tepat sasaran di Banyuasin i seraya menawarkan kerangka analitis yang dapat direplikasi di sentra cabai lainnya dengan penyesuaian konteks setempat. Tinjauan Pustaka dan Pengembangan Hipotesis 1 Fluktuasi Harga Komoditas Pertanian Fluktuasi harga merupakan fenomena umum pada sektor pertanian yang disebabkan oleh interaksi kompleks antara permintaan dan penawaran di pasar. Sukiyono and Asriani . menjelaskan bahwa komoditas hortikultura, khususnya cabai, sangat rentan terhadap perubahan harga karena sifatnya yang mudah rusak, ketergantungan pada musim tanam, serta sensitif terhadap perubahan cuaca. Fenomena ini menimbulkan risiko signifikan terhadap pendapatan petani karena harga dapat berfluktuasi secara drastis dalam jangka waktu singkat. Faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah, kondisi infrastruktur, dan distribusi pasar juga memengaruhi kestabilan harga (Simatupang & Timmer, 2. Fluktuasi harga yang tinggi tidak hanya menimbulkan ketidakpastian pendapatan, tetapi juga dapat mengurangi motivasi petani dan mengganggu rantai pasok. 2 Cabai Keriting sebagai Komoditas Strategis Cabai keriting merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia dengan tingkat konsumsi yang tinggi, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri pengolahan makanan. Badan Ketahanan Pangan . menyebutkan bahwa cabai keriting memiliki kontribusi signifikan terhadap inflasi pangan nasional, sehingga kestabilan harganya menjadi prioritas pemerintah. Ketersediaan cabai keriting dipengaruhi oleh pola tanam musiman, curah hujan, dan serangan hama penyakit. Pranoto et . menemukan bahwa ketidakseimbangan pasokan dan permintaan sering menjadi penyebab utama fluktuasi harga. Pada saat pasokan menurun akibat faktor iklim atau serangan hama, harga sebaliknya, pada musim panen raya harga dapat jatuh drastis. 3 Faktor Penyebab Fluktuasi Harga Penelitian terdahulu mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab fluktuasi harga cabai keriting, antara lain: Musim dan Cuaca Ae Perubahan iklim dan cuaca ekstrem memengaruhi produktivitas tanaman. Biaya Produksi Ae Kenaikan harga pupuk, benih, dan pestisida meningkatkan harga jual. Pola Tanam Ae Ketidakseimbangan jadwal tanam antarpetani memicu lonjakan pasokan dan kekurangan stok di waktu berbeda. Kebijakan Pemerintah Ae Intervensi harga, subsidi, atau kebijakan impor dapat memengaruhi harga di tingkat petani. Peran Tengkulak Ae Tengkulak mengendalikan harga di tingkat distribusi awal. Hama dan Penyakit Ae Menurunkan kualitas dan kuantitas panen. Permintaan Musiman Ae Kenaikan konsumsi pada momen tertentu, seperti hari raya. Perubahan Tren Konsumsi Ae Preferensi konsumen terhadap komoditas tertentu memengaruhi Nelva. Anita, and Melvin . menegaskan bahwa kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan volatilitas harga yang sulit diprediksi. 4 Dampak Fluktuasi Harga terhadap Pendapatan Petani Pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh harga jual hasil panen. Hernanto . menyatakan bahwa fluktuasi harga yang tajam dapat mengakibatkan kerugian besar, bahkan ketika biaya produksi tidak Penurunan harga di bawah biaya produksi menurunkan semangat petani, sedangkan lonjakan harga mendadak dapat memicu ketidakstabilan pasokan akibat perubahan luas tanam di musim 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 berikutnya. Selain aspek ekonomi, dampak psikologis juga signifikan. Petani cenderung mengalami penurunan motivasi dan rasa aman dalam berusaha tani ketika harga sangat berfluktuasi. 5 Pendekatan Penelitian dalam Mengkaji Fluktuasi Harga Artikel ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Dua metode utama yang digunakan adalah: A Exploratory Factor Analysis (EFA) untuk mengidentifikasi faktor dominan penyebab fluktuasi EFA berguna dalam mereduksi banyak variabel menjadi sejumlah faktor inti (Hair, 2. A Analisis Korelasi Spearman untuk mengukur hubungan antara fluktuasi harga dan pendapatan Metode ini sesuai untuk data ordinal dan non-parametrik, sehingga relevan dalam menganalisis data hasil survei lapangan. Kombinasi metode tersebut memberikan pemahaman komprehensif mengenai hubungan langsung antara penyebab fluktuasi harga dan pengaruhnya terhadap pendapatan petani. 6 Strategi Mengatasi Fluktuasi Harga Beberapa strategi yang direkomendasikan oleh literatur untuk mengatasi dampak fluktuasi harga antara Diversifikasi Tanaman Ae Mengurangi risiko dengan menanam lebih dari satu jenis komoditas (Ashari, 2. Pengolahan dan Penyimpanan Ae Mengolah cabai menjadi produk olahan seperti cabai kering atau bubuk untuk memperpanjang umur simpan. Peningkatan Infrastruktur Ae Memperbaiki akses jalan dan fasilitas penyimpanan untuk distribusi yang lebih efisien. Penguatan Kelembagaan Petani Ae Membentuk koperasi atau kelompok tani untuk meningkatkan posisi tawar. Akses Informasi Pasar Ae Menggunakan teknologi untuk memperoleh data harga terkini. Intervensi Pemerintah Ae Melalui operasi pasar, subsidi, atau penetapan harga acuan. Metodologi Penelitian Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dalam menganalisis hubungan antara fluktuasi harga cabai keriting dan pendapatan petani. Metode kuantitatif dipilih karena memungkinkan pengukuran yang objektif terhadap variabel-variabel yang diteliti sehingga hasil yang diperoleh lebih terukur dan dapat di analisis secara statistik. Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan kondisi nyata di lapangan sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai dampak perubahan harga terhadap kesejahteraan petani di wilayah penelitian. Fokus utama penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh mana fluktuasi harga cabai keriting mempengaruhi pendapatan petani di Desa Lubuk Saung Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin. Harga cabai sering mengalami fluktuasi yang tajam yang berdampak langsung pada pendapatan petani penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola perubahan harga serta bagaimana petani merespons kondisi tersebut dalam kegiatan usahanya, untuk memperoleh data yang akurat penelitian ini akan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber termasuk wawancara dengan petani, survei harga pasar serta data sekunder dari instansi terkait. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan metode statistik untuk melihat hubungan antara variabel fluktuasi harga dan pendapatan petani. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai permasalahan yang dihadapi petani serta memberikan rekomendasi yang dapat membantu mereka dalam menghadapi ketidakstabilan harga di pasar. Metode yang digunakan untuk menentukan sampel yaitu teknik sensus atau sampling jenuh. Pendekatan ini diterapkan karena jumlah populasi relatif kecil yaitu 31 petani cabai keriting di Desa Lubuk Saung kecamatan Banyuasin i kabupaten Banyuasin, dimana seluruh populasi dijadikan sebagai sampel sehingga data yang diperoleh lebih akurat dan representatif tanpa risiko bias sampling. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan analisis yang lebih menyeluruh terhadap dampak fluktuasi harga cabai keriting terhadap pendapatan petani. Selain itu teknik ini memastikan bahwa setiap 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 petani dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untk berkontribusi dalam penelitian sehingga hasil yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi sebenarnya dilapangan. Pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode observasi, wawancara, kuesioner dan studi Analisis data merupakan proses sistematis dalam mengelolah, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari data yang dikumpulkan. Tujuan dari analisis data yaitu untuk menemukan pola hubungan atau tren yang dapat mendukung pengambilan keputusan atau menjawab pertanyaan peneliti. Berikut metode yang digunakan untuk menganalisis data pada penelitian ini yaitu : Analisis Faktor Exploratory Factor Analysis dan Analisis Korelasi Spearman. Hasil dan Pembahasan 1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian di laksanakan di Desa Lubuk Saung Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Desa tersebut berjarak 15 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Banyuasin dan memiliki akses transfortasi yang cukup baik. Secara geografis terletak di titik koordinat sekitar 2A56A2. 400A LS, 104A26A13. 200A BT dengan ketinggian 12 m di atas permukaan laut. Luas wilayah desa mencapai sekitar 1. 096 hektar yang terdiri atas lahan perkebunan, pemukiman dan area lainnya. Desa Lubuk Saung berbatasan dengan Desa Lubuk Rengas di sebelah utara. Desa Talang Kebang di selatan. Kelurahan Kayuara Kuning di timur dan Desa Regan Agung di sebelah barat. Jarak lokasi penelitian dari Universitas Sumatera Selatan yaitu sekitar 40 hingga 45 km. Mayoritas penduduk desa bermata pencaharian sebagai petani dengan komoditas utama berupa cabai, karet dan sayur-sayuran kondisi geografis dan ikllim tropis di wilayah ini mendukung aktivitas pertanian masyarakat setempat. Aspek pemasaran dalam penjualan hasil penen umumnya dijual melalui pedagang pegumpul atau 2 Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup beberapa aspek dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini. Tabel 1. Karakteristik Responden Jenis Kelamin Karakteristik Kategori Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Total Sumber: Data Primer diolah . Jumlah Persentase% 41,94 58,06 Tabel 1 karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa dari total 31 responden yang terlibat dalam penelitian sebanyak 41,94% merupakan laki-laki sedangkan 58,06% merupakan perempuan, data ini menunjukkan bahwa responden dalam penelitian didominasi oleh perempuan. Perbedaan jumlah ini penting untuk diperhatikan karena jenis kelamin dapat memengaruhi cara individu dalam memberikan respons terhadap suatu permasalahan atau fenomena tertentu. Menurut Wijayanti dan Ardiansyah . Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 2 dibawah Tabel 2. Karakteristik Responden Usia Karakteristik Kategori < 30 tahun Usia 30-50 tahun > 50 tahun Total Sumber: Data Primer diolah . Jumlah Persentase% 9,68 45,16 45,16 Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa responden dalam penelitian terdiri dari tiga kelompok usia, yaitu usia O30 tahun sebanyak 3 orang 9,68%, usia 30-50 tahun sebanyak 14 orang 45,16% dan usia >50 tahun sebanyak 14 orang 45,16%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dalam 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 kelompok usia produktif yaitu usia 30 tahun ke atas yang mencakup sekitar 90% dari keseluruhan Usia produktif menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kemampuan kerja dan keterlibatan dalam kegiatan ekonomi terutama di sektor pertanian. Menurut Badan Pusat Statistik . , penduduk usia produktif 15-64 tahun mendominasi kegiatan ekonomi nasional termasuk dalam aktivitas pertanian di wilayah perdesaan. Kelompok usia ini memiliki daya fisik yang relatif baik serta pengalaman yang cukup dalam menghadapi dinamika usaha tani sehingga keberadaannya sangat strategis dalam keberhasilan pengelolaan pertanian. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini. Tabel 3. Karakteristik Responden Pendidkan Terakhir Karakterstik Kategori Pendidikan Terakhir SMP SMA Total Sumber: Data Primer diolah . Jumlah Persentase% 51,61 22,81 25,81 Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) sebanyak 16 orang 51,61%, diikuti oleh SMA sebanyak 8 orang 25,81% dan SMP sebanyak 7 orang 22,58%. Responden pada umumnya memiliki latar belakang pendidikan formal yang relatif rendah hingga menengah. Rendahnya tingkat pendidikan dapat mempengaruhi tingkat pemahaman terhadap teknologi pertanian, informasi pasar serta kemampuan dalam menyusun strategi menghadapi tantangan usaha tani. Rahayu dan Saptana . menyatakan bahwa tingkat pendidikan petani secara signifikan memengaruhi efektivitas pengambilan keputusan terutama terkait dengan adopsi inovasi dan pemanfaatan teknologi Petani dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih mudah menerima perubahan dan lebih cepat dalam beradaptasi dengan kebijakan baru atau kondisi pasar yang fluktuatif. Pendidikan menjadi faktor penting yang turut memengaruhi keberhasilan usaha tani. Karakteristik responden berdasarkan jumlah tanggungan dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini. Tabel 4. Karakteristik Responden Jumlah Tanggungan Karakteristik Kategori 1 Ae 2 Orang Jumlah Tanggungan 3 Ae 5 Orang Total Sumber: Data Primer diolah . Jumlah Persentase% 51,61 48,39 Berdasarkan Tabel 4 jumlah tanggungan responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu 1Ae2 orang sebanyak 16 orang 51,61% dan lebih dari 3 orang sebanyak 15 orang 48,39%, menunjukkan bahwa hampir separuh dari responden memiliki tanggungan keluarga yang cukup besar. Jumlah tanggungan yang tinggi dapat meningkatkan beban ekonomi rumah tangga terutama dalam kondisi fluktuasi harga hasil pertanian yang tidak menentu. Semakin besar jumlah tanggungan semakin tinggi pula kebutuhan konsumsi dan pengeluaran rumah tangga yang pada akhirnya mempengaruhi strategi ekonomi petani dalam mengatur produksi, penjualan dan distribusi hasil tani. Fitriani and Mulyadi . , menjelaskan bahwa jumlah tanggungan memiliki pengaruh signifikan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga petani karena semakin banyak tanggungan maka semakin tinggi pula kebutuhan ekonomi yang harus dipenuh yang berpotensi mendorong petani menjual hasil panen dengan harga lebih rendah demi memenuhi kebutuhan mendesak. Karakteristik responden berdasarkan lama bertani dapat dilihat pada 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 Tabel 5 Karakteristik Responden Lama Bertani Karakteristik Kategori < 5 tahun Lama Bertani 5 Ae 10 tahun > 10 tahun Sumber: Data Primer di olah . Jumlah Persentase% 22,58 48,39 29,03 Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 31 responden yang diteliti sebanyak 15 orang 48,39% memiliki pengalaman bertani selama 5Ae10 tahun, 9 orang 29,03% memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dan sisanya 7 orang 29,03% bertani kurang dari 5 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dalam kategori petani berpengalaman dengan masa bertani di atas 5 tahun. Lama pengalaman bertani menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kemampuan petani dalam menghadapi tantangan di lapangan seperti perubahan iklim, fluktuasi harga maupun serangan hama Semakin lama seseorang berkecimpung dalam dunia pertanian, maka semakin tinggi pula pemahaman dan keterampilannya dalam mengelola usaha tani secara efisien dan berkelanjutan. Selain itu, pengalaman juga berperan dalam memperkuat kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebijakan pertanian. Karakteristik responden berdasarkan luas lahan yang di garap masing-masing petani di desa Lubuk Saung dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini. Tabel 6 Karakteristik Responden Luas Lahan Karakteristik Kategori Luas Lahan 0,1 Ae 0,4 > 0,4 Sumber : Data Primer diolah . Jumlah Persenase% 96,77 3,23 Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki lahan garapan O 0,4 hektare yaitu sebanyak 30 orang 96,77% sedangkan hanya 1 orang 3,23% yang memiliki lahan >0,4,5 hektare. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tergolong sebagai petani kecil dengan skala usaha tani yang terbatas. Keterbatasan luas lahan menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Luas lahan memiliki hubungan yang signifikan terhadap pendapatan petani semakin luas lahan maka semakin besar pula peluang untuk meningkatkan volume produksi dan keuntungan ekonomi. Petani dengan lahan sempit cenderung menghadapi kendala dalam efisiensi produksi, akses teknologi dan keterbatasan modal sehingga berisiko lebih tinggi terhadap tekanan ekonomi, terutama dalam situasi harga yang tidak stabil. 3 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fluktuasi Harga Cabai Keriting Fluktuasi harga komoditas pertanian disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan baik dari sisi penawaran maupun permintaan. Kondisi cuaca dan iklim menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil produksi. Perubahan musim, bencana alam atau serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan penurunan produksi yang signifikan. Selain itu ketersediaan dan harga input produksi seperti pupuk, benih dan pestisida juga berperan penting. Ketika biaya produksi meningkat petani mungkin mengurangi luas tanam atau intensitas budidaya. Perubahan pola konsumsi, tren pasar global dan dinamika ekspor dan impor sangat memengaruhi harga. EFA bertujuan untuk mereduksi data dan mengelompokkan variabel yang memiliki keterkaitan tinggi ke dalam faktor-faktor tertentu yang lebih ringkas namun tetap merepresentasikan data secara memadai (Fabrigar dan Wegener, 2. Pada praktiknya EFA digunakan ketika peneliti belum memiliki teori atau asumsi kuat mengenai jumlah atau struktur faktor yang mendasari data. EFA sering menjadi tahap awal dalam pengembangan instrumen pengukuran atau eksplorasi struktur konseptual. Langkah pertama dalam EFA yaitu menguji kelayakan data melalui dua indikator utama yaitu KMO dan BartlettAos Test of Sphericity. KMO mengukur kecukupan sampel untuk analisis faktor dengan nilai ideal >0,5 nilai KMO yang rendah mengindikasikan bahwa korelasi antar variabel tidak cukup kuat untuk dilakukan analisis faktor (Hair, 2. 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 Uji bartlett menguji apakah korelasi antar variabel signifikan, nilai signifikansi . -valu. <0,05 menunjukkan bahwa analisis faktor layak dilakukan. Setelah data dinyatakan layak langkah selanjutnya mengekstrak faktor. Proses ini dilanjutkan dengan penentuan jumlah faktor yang dipertahankan berdasarkan nilai eigenvalue >1 dan scree plot. Selanjutnya dilakukan rotasi faktor untuk menyederhanakan interpretasi struktur faktor. Rotasi yang paling umum digunakan yaitu varimax yang merupakan rotasi ortogonal dan mempertahankan independensi antar faktor. KMO and BrtlettAos Test dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini. Tabel 7. Analisis Faktor KMO and BartlettAos Test KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Approx. Chi-Square Bartlett's Test of Sphericity Sig. Sumber: Data primer diolah . 0,512 102,919 0,000 Tabel 7 hasil uji KMO menunjukkan nilai 0,512 yang tergolong pada kategori cukup. Menurut Hadi dan sentot . nilai KMO antara 0,5-0,7 menunjukkan bahwa korelasi antar variabel masih memadai untuk dilakukan ekstrasi faktor. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa data cukup layak untuk di analisis lebih lanjut. Hasil uji BartlettAos Test memberikan nilai Approx. Chi-Square sebesar 102,919 dengan derajat kebebasan df 36 dan tingkat signifikansi 0,000 nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 mengindikasikan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antar variabel sehingga analisis faktor layak untuk dilanjutkan (Taherdoost et al. ,2. Faktor yang terbentuk dapat dilihat pada grafik scree plot Gambar 1. Gambar 1. Grafik Scree Plot Gambar 1 menunjukkan grafik scree plot merupakan salah satu alat bantu visual dalam analisis faktor eksploratori (EFA) yang digunakan untuk menentukan faktor yang layak dipertahankan. Grafik ini menyajikan hubungan antara eigenvalue dan jumlah faktor yang diekstraksi. Pada sumbu horizontal ditampilkan urutan komponen atau faktor, sedangkan sumbu vertikal menunjukkan nilai eigenvalue yang di hasilkan masing-masing faktor. Menurut Tambunan. Sembiring. Gozali, and Sianturi . , penentuan jumlah faktor dapat dilakukan dengan mengidentifikasi titik elbow . itik belo. pada grafik scree plot, titik tersebut menunjukkan perubahan tajam dari penurunan nilai eigen yang menandakan bahwa faktor-faktor setelah titik tersebut memberikan kontribusi varians yang sangat kecil dan kurang signifikan untuk dipertahankan dalam model analisis. Berdasarkan scree plot pada Gambar 1 terlihat bahwa terjadi penurunan nilai eigenvalue yang tajam hingga faktor keempat dan grafik menunjukkan garis cenderung datar, jadi jumlah faktor 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 yang paling tepat untuk di pertahankan ada 4 faktor utama, keempat faktor tersebut dapat dilihat pada Tabel 8 hasil rotated componen matrix dibawah ini. Tabel 8. Rotated Componen Matrix Produksi dan Variabel Infrastruktur Musim dan cuaca 0,853 Biaya produksi 0,897 Infrastruktur 0,874 Pola tanam 0,195 Kebijakan pemerintah 0,031 Tengkulak Hama dan penyakit 0,317 Permintaan musiman 0,083 Trend konsumsi masyarakat Sumber: Data Primer di olah . Distribusi Konsumen 0,024 0,165 0,123 0,885 0,893 0,096 0,022 0,096 0,016 0,067 0,048 0,867 0,853 Kebijakan dan Pola Tanam 0,133 0,200 0,860 0,216 0,152 Tabel 8 menunjukkan hasil Rotated Component Matrix dengan metode rotasi Varimax diperoleh bahwa sembilan variabel penyebab fluktuasi harga cabai keriting dapat dikelompokkan ke dalam empat faktor Setiap variabel menunjukkan korelasi tertinggi terhadap satu faktor tertentu yang menunjukkan bahwa variabel tersebut dominan dalam menjelaskan faktor tersebut. Teknik ini digunakan untuk mereduksi data multivariat dan mengelompokkan variabel-variabel yang berkorelasi tinggi ke dalam satu konstruk yang lebih sederhana dan interpretatif (Abugu & Othman, 2. Faktor pertama terdiri atas tiga variabel dengan loading tinggi yaitu musim dan cuaca 0,853, biaya produksi 0,897 dan infrastruktur 0,874 faktor ini dinamakan Produksi dan Infrastruktur karena seluruh variabel di dalamnya berkaitan erat dengan proses produksi cabai keriting. Musim dan cuaca memengaruhi ketersediaan air dan waktu tanam, biaya produksi berkaitan dengan beban pengeluaran petani dan infrastruktur menentukan kemudahan transportasi hasil panen ke pasar. Hal ini sejalan dengan temuan Astuti and Sutrisno . yang menyatakan bahwa perubahan iklim dan biaya produksi merupakan faktor utama yang memengaruhi keberhasilan panen dan harga jual komoditas hortikultura. Faktor kedua terdiri dari tengkulak 0,885, hama dan penyakit 0,893 dinamakan distribusi, kedua variabel berperan dalam rantai pasok hasil pertanian. Tengkulak memiliki kekuatan pasar terhadap harga beli di tingkat petani, sementara hama dan penyakit mempengaruhi hasil produksi yang akhirnya berpengaruh pada pasokan dan harga di pasar. (Sukiyono & Asriani, 2. menegaskan bahwa serangan hama menyebabkan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan yang mendorong fluktuasi Faktor ketiga mencakup permintaan musiman 0,867 dan tren konsumsi masyarakat 0,853, yang dapat dikelompokkan sebagai faktor Konsumen. Permintaan cabai keriting cenderung meningkat pada waktuwaktu tertentu seperti menjelang hari besar dan juga dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat yang Seiring dengan meningkatnya tren makanan pedas, konsumsi cabai meningkat sehingga berdampak pada fluktuasi harga. Hal ini konsisten dengan studi yang dilakukan oleh Wahyuni et al. yang menunjukkan bahwa permintaan cabai sangat bergantung pada musim dan preferensi konsumen menyebabkan harga menjadi tidak stabil. Faktor keempat terdiri dari pola tanam 0,860 dan kebijakan pemerintah . Kebijakan pemerintah memiliki nilai loading negatif tetapi nilainya signifikan dan menunjukkan adanya hubungan terbalik terhadap kestabilan harga. Nilai loading faktor yang bernilai negatif tetap dapat dianggap signifikan selama nilai absolutnya mencapai atau melebihi ambang batas yang umum digunakan yaitu Ou 0,5. Nilai loading menunjukkan sejauh mana suatu variabel berkorelasi dengan faktor yang terbentuk, ketika nilai loading bernilai positif artinya variabel tersebut memiliki hubungan searah dengan faktor sedangkan jika bernilai negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan arah. Berarti meskipun arah hubungannya negatif nilainya tetap signifikan karena lebih besar dari 0,5 secara absolut. 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 Nilai loading negatif tidak mengurangi makna signifikansi secara statistik melainkan memengaruhi cara interpretasi hubungan antar variabel dan faktor, pandangan ini sesuai dengan pendapat Hair . yang menyatakan bahwa loading faktor baik positif maupun negatif tetap valid dan signifikan asalkan memiliki nilai yang cukup besar. Faktor keempat dinamakan kebijakan dan pola tanam karena berisi dua variabel yang menggambarkan pengaruh regulasi serta keputusan tanam petani terhadap keseimbangan pasokan. Jika pola tanam tidak serempak atau kebijakan tidak tepat sasaran, maka terjadi ketimpangan pasokan yang menyebabkan harga naik-turun tidak menentu. 4 Pengaruh Fluktuasi Harga Cabai Keriting terhadap Pendapatan Petani Perubahan harga yang tidak menentu memberikan dampak besar terhadap pendapatan petani terutama mereka yang berada dalam skala usaha kecil. Ketidakstabilan harga komoditas pertanian menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang menyulitkan petani dalam merencanakan produksi, investasi jangka panjang dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Laporan FAO . menunjukkan bahwa gejolak harga hasil tani dapat mengurangi minat petani untuk meningkatkan hasil panen karena tingginya risiko kerugian ketika harga turun setelah masa panen(Xie & Wang, 2. Jika harga jual komoditas turun tajam pendapatan petani langsung tertekan karena beban biaya produksi tetap tinggi sebaliknya ketika harga naik petani tidak selalu mendapatkan keuntungan optimal karena sistem distribusi yang panjang dan dominasi perantara membuat mereka hanya menerima bagian kecil dari harga akhir, kondisi ini memperburuk stabilitas ekonomi rumah tangga petani termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan dan layanan kesehatan(Indrajaya. Maulana. Yulianti. Ismaya, & Nuraini, 2. Ketidakpastian ini bisa mendorong perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lain yang dianggap lebih stabil sehingga berdampak negatif pada keberlanjutan pertanian (Howard & Lincoln, 2. Rekap pendapatan petani dapat dilihat pada lampiran 9 nomor IV. Analisis korelasi spearman digunakan untuk menjawab tujuan ke dua dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini: Tabel 9. Analisis Korelasi Spearman Correlations Harga Cabai Spearman's rho Pendapatan Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Harga Cabai 1,000 Pendapatan 0,563 0,563 0,001 1,000 0,001 Sumber: Data Primer diolah . Tabel 9 menunjukkan hasil uji korelasi SpearmanAos rho diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,563 dengan tingkat signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,001. Nilai koefisien ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara harga cabai dan pendapatan petani. Hubungan positif tersebut mengindikasikan bahwa apabila harga cabai meningkat, maka pendapatan petani juga cenderung meningkat. Sebaliknya penurunan harga cabai akan berdampak pada penurunan pendapatan yang diterima petani. Menurut (Ghozali, 2. , analisis korelasi Spearman digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel yang bersifat ordinal atau ketika data tidak memenuhi asumsi normalitas, dalam konteks karena data harga dan pendapatan kemungkinan tidak terdistribusi normal maka uji Spearman dianggap lebih sesuai dibandingkan uji korelasi Pearson(De Winter. Gosling, & Potter, 2016. Schober. Boer, & Schwarte, 2. Koefisien korelasi sebesar 0,563 termasuk dalam kategori hubungan sedang hal ini sesuai dengan klasifikasi korelasi yang dijelaskan oleh Sugiyono . , yaitu bahwa nilai koefisien antara 0,40 hingga 0,599 termasuk dalam kategori hubungan sedang, nilai signifikansi < 0,05 menunjukkan bahwa 2025 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan / Vol 3 No 1, 1-14 hubungan tersebut signifikan secara statistik, dengan demikian hubungan antara harga cabai dan pendapatan petani dalam penelitian ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan benar-benar memiliki keterkaitan yang nyata (Fathi & Iskandar, 2. Hasil ini juga selaras dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Padapi. Mursalat. Haryono, and Fitriyah . , yang menemukan bahwa fluktuasi harga komoditas hortikultura khususnya cabai memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat pendapatan petani kecil. Selama harga cabai di pasar mengalami kenaikan maka nilai penjualan hasil panen petani akan meningkat yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan pendapatan. Sebaliknya, penurunan harga akan menurunkan nilai jual dan merugikan petani(Dabutar & Husein, 2. BPS . , petani hortikultura seperti petani cabai sangat bergantung pada kestabilan harga pasar. Fluktuasi harga yang tajam dapat menyebabkan pendapatan petani menjadi tidak stabil yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan ekonomi rumah tangga petani. Kesimpulan 1 Kesimpulan Faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi harga cabai keriting tingkat petani di desa Lubuk Saung meliputi faktor produksi, faktor distribusi, faktor konsumen serta faktor kebijakan dan pola tanam. Berdasarkan hasil analisis faktor, keempat kelompok tersebut terbukti memiliki kontribusi signifikan terhadap ketidakstabilan harga cabai. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara harga cabai dan pendapatan petani dengan koefisien sebesar 0,563 dan signifikansi 0,001 artinya kenaikan harga cabai cenderung meningkatkan pendapatan petani sehingga harga menjadi faktor penting dalam menentukan kesejahteraan petani. 2 Saran Meningkatkan kapasitas petani dalam budidaya dan manajemen usaha tani melalui pelatihan dan pendampingan dari penyuluh pertanian. Pemerintah daerah perlu memperbaiki infrastruktur pertanian pedesaan seperti jalan dan irigasi serta memfasilitasi akses petani terhadap pupuk dan pestisida dengan harga terjangkau. Pemerintah desa diharapkan mendukung pembentukan atau penguatan kelompok usaha bersama (KUB) yang dapat membantu petani menjual hasil panennya tanpa tergantung pada tengkulak. Pemerintah desa juga dapat memfasilitasi kerja sama dengan pasar, dinas pertanian dan pembeli tetap agar harga cabai lebih stabil dan pendapatan petani meningkat. Referensi