Jurnal Manajemen Bisnis dan Keuangan e-ISSN: 2716-3695 p-ISSN: 2775-1465 Vol. No. Oktober 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 51805/jmbk. Keunggulan Bersaing melalui Orientasi Pasar. Kemampuan Jejaring, dan Inovasi pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Jawa Timur Farika Nikmah1 . nikmah@polinema. Halid Hasan2 . hasan@polinema. Heny Sidanti3 . enysidanti@unipma. 1,2Politeknik Negeri Malang. Kota Malang. Jawa Timur. Indonesia 65141 3Universitas PGRI Madiun. Kota Madiun. Jawa Timur. Indonesia 63118 *Penulis Korespondensi Artikel Masuk: 30 Mei 2025 Artikel Diterima: 28 Agustus 2025 Abstract Small and Medium Enterprises (SME. play a vital role in IndonesiaAos economy. The dynamic market conditions demand that SMEs achieve competitive advantage to ensure the sustainability of their businesses. Strategies to attain such advantage can be developed by strengthening market orientation, networking capability, and This study analyzes the direct influence of market orientation, networking capability, and innovation on the competitive advantage of SMEs in East Java. quantitative approach was employed, with data collected through questionnaires distributed to SMEs in East Java in collaboration with the Integrated Business Service Center (PLUT) in Batu City. Malang Regency. Tulungagung Regency, and Mojokerto Regency. PLUT is an institution that assists SMEs in expanding market A total of 600 questionnaires were distributed, and 552 were deemed valid for The data were analyzed using multiple linear regression methods. The findings reveal that the competitive advantage of SMEs is significantly influenced by market orientation, which provides the most dominant contribution, followed by innovation and networking capability. These findings offer valuable insights for SMEs in formulating effective strategies to achieve competitive advantage, enabling them to face increasing competition and adapt to the global market. Keywords: SMEs. market orientation. networking capabilities. competitive advantage JEL Classification: E3. M2. Abstrak Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Kondisi pasar yang dinamis menuntut UKM untuk meraih keunggulan bersaing agar dapat mempertahankan keberlanjutan Strategi untuk mencapai keunggulan tersebut dapat diperoleh A 2025. This work is licensed under a CC BY 4. 0 license Nikmah et al. melalui penguatan orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi. Penelitian ini menganalisis pengaruh langsung orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan bersaing UKM di Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada UKM di wilayah Jawa Timur, bekerja sama dengan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Kota Batu. Kabupaten Malang. Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Mojokerto. PLUT merupakan lembaga yang membantu UKM dalam memperluas akses Sebanyak 600 kuesioner disebarkan dan 552 di antaranya dinyatakan layak untuk dianalisis. Data dianalisis menggunakan metode regresi linier Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan bersaing UKM dipengaruhi oleh orientasi pasar yang memberikan kontribusi paling dominan, diikuti oleh inovasi dan kemampuan jejaring. Temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi UKM dalam menentukan strategi yang tepat untuk meraih keunggulan bersaing, sehingga mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dan beradaptasi dengan pasar global. Kata Kunci: UKM. orientasi pasar. kemampuan jejaring. Klasifikasi JEL: E3. M2. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. PENDAHULUAN Sesuai dengan asumsi global tentang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) disebutkan sebagai mesin utama pendorong pertumbuhan ekonomi, memberikan peluang bagi UKM untuk terus bertumbuh dibantu oleh semua pihak (Maksum et , 2020. Piza et al. , 2. Baik negara maju maupun berkembang menyadari bahwa UKM memberi manfaat besar pada penciptaan lapangan kerja yang berarti mengurangi pengangguran serta pemerataan kesejahteraan (Bayraktar & Algan. Manzoor et al. , 2. Secara khusus di negara berkembang. UKM penting tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga karena mempekerjakan pekerja tidak terampil yang banyak terdapat di masyarakat (Aurick et al. , 2. Seperti halnya di Indonesia, sebagian besar masyarakat bekerja di sektor UKM (Nikmah et , 2. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa Jawa Timur menjadi kontributor terbesar kedua dalam perekonomian Indonesia, dengan nilai 14,52% terhadap PDB nasional. Selain itu. Jawa Timur juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Pulau Jawa dengan angka 25,55%. Angka ini menunjukkan tantangan bagi UKM di Jawa Timur untuk terus bertumbuh dan memberi kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian daerah. UKM menjadi topik pembahasan yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena memiliki sejumlah keunggulan yang terbukti mampu menjaga keberlanjutan usaha, terutama pada masa krisis. Misalnya, pada saat krisis moneter di Indonesia tahun 1997-1998 yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan menurunnya kepercayaan pasar serta publik. UKM yang berorientasi pada pasar ekspor dengan bahan baku yang bersumber dari dalam negeri justru mengalami peningkatan keuntungan. Selanjutnya, pada krisis keuangan global tahun 2008. UKM yang berfokus pada pasar domestik juga relatif tidak terdampak secara signifikan. Ketahanan ini disebabkan oleh fleksibilitas yang dimiliki UKM. Dalam pengelolaannya. UKM tidak menerapkan birokrasi yang kaku karena lebih mengandalkan prinsip kekeluargaan sebagai ciri usaha keluarga, sering kali tidak bergantung pada pembiayaan perbankan, serta memiliki kebebasan untuk berkreasi dan berinovasi dalam menyesuaikan produk maupun layanan dengan tren pasar terkini (Nikmah et al. , 2. UKM saat ini tidak hanya bersaing dengan sesama UKM, tetapi juga menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan besar. Oleh karena itu, untuk dapat bertahan di pasar yang semakin kompetitif. UKM harus mampu menciptakan dan mempertahankan keunggulan bersaing (Muhanguzi & Kyobe. UKM yang berfokus pada pencapaian keunggulan bersaing tidak hanya memperoleh peningkatan kinerja, tetapi juga memperkuat kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam jangka panjang (Breznik, 2. Fokus pada keunggulan bersaing mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi kelemahan pesaing (Ayodele & Stephan, 2. Upaya mempertahankan keunggulan bersaing mencakup langkah-langkah yang dilakukan UKM untuk memahami kelemahan, kekuatan, peluang, dan potensi pertumbuhan pesaing, serta menentukan teknik yang tepat untuk mengungguli mereka (Rodryguez & Albort-Morant, 2. Keunggulan bersaing terhadap kompetitor sangat bergantung pada kemampuan UKM dalam mengadopsi pola pikir proaktif (Racela, 2. Sikap proaktif yang JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. dimaksud merujuk pada kemampuan UKM untuk mengambil tindakan atau inisiatif terlebih dahulu, bukan sekadar merespons setelah muncul masalah atau UKM yang proaktif dapat memperoleh keunggulan bersaing melalui penerapan berbagai strategi yang sesuai. Mereka mampu memanfaatkan ketangkasan dan fleksibilitas yang dimiliki untuk merespons dinamika pasar dan kebutuhan pelanggan dengan cepat, sehingga dapat meningkatkan daya saing secara berkelanjutan. Keunggulan bersaing berperan sebagai landasan strategis untuk mengembangkan pertumbuhan jangka panjang sekaligus menciptakan nilai tambah bagi konsumen. UKM diharapkan mampu meraih keunggulan bersaing melalui pemahaman yang mendalam tentang pasar dan kebutuhan pelanggan, yang dikenal sebagai orientasi pasar. Orientasi pasar merupakan kecenderungan organisasi untuk merespons permintaan pasar secara lebih efektif dibandingkan pesaing, sekaligus memprediksi perubahan pasar guna menciptakan keunggulan bersaing yang berkelanjutan dan meningkatkan profitabilitas (Na et al. , 2. Orientasi ini bertumpu pada kemampuan memperoleh informasi pasar dan merespons masukan yang berasal dari pelanggan maupun pesaing. Semakin tinggi orientasi pasar yang dimiliki, semakin besar kemampuan UKM dalam memenuhi ekspektasi pelanggan dibandingkan pesaing, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan UKM (Vorhies et al. , 1. UKM dengan keunggulan daya saing berkelanjutan cenderung mengalami pertumbuhan yang konsisten dari waktu ke waktu karena memiliki fleksibilitas lebih besar dalam penerapan bauran pemasaran dibandingkan pesaingnya (Kumar et al. , 2. Selain itu. UKM yang memiliki orientasi pasar yang kuat mampu merespons perubahan pasar dengan lebih cepat dan tepat (Hult & Ketchen Jr. , 2. Kemampuan menjalin jejaring juga menjadi faktor penting bagi UKM untuk mempertahankan daya saing jangka panjang (Li & Liu, 2. Kemampuan ini berkontribusi signifikan terhadap daya saing organisasi, terutama pada UKM di negara berkembang seperti Indonesia (Enginolu & Arikan, 2. Kemampuan menjalin jejaring dapat didefinisikan sebagai kapasitas organisasi untuk membangun dan memelihara hubungan yang menguntungkan, baik di lingkungan internal maupun eksternal (Kale et al. , 2. , serta mencakup pemanfaatan interaksi manusia untuk beradaptasi dengan berbagai konteks sosial (Dayan et al. , 2. Baik jejaring formal maupun informal berkontribusi positif terhadap organisasi karena memungkinkan UKM memanfaatkan sumber daya, informasi, dan peluang yang tersedia di dalam jaringan tersebut (Borgatti & Halgin, 2. Jejaring menekankan pentingnya hubungan yang kohesif dan hubungan sosial yang erat sebagai sarana memperoleh sumber daya, informasi, serta keahlian yang dapat menunjang kinerja organisasi, termasuk UKM. Kemampuan menjalin jejaring memiliki relevansi yang signifikan terhadap keuntungan yang diperoleh UKM melalui partisipasi dalam jaringan tersebut (Borgatti & Halgin, 2. Menjalin jejaring berarti menganalisis dan mengidentifikasi manfaat melalui evaluasi kombinasi unik dari aset, keterampilan, kapabilitas, dan aset tak berwujud (Adomako & Danso, 2. Peluang bagi UKM muncul ketika mereka mampu memahami layanan yang tidak dimiliki pihak lain. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. mengenali nilai serta potensi yang ditawarkan oleh pengetahuan khusus, dan mengintegrasikannya untuk memanfaatkan peluang tersebut (Barney et al. , 2. Dengan demikian. UKM dapat memperoleh keunggulan bersaing. Untuk fokus pada masa depan. UKM dituntut mengalokasikan sumber daya secara strategis guna memanfaatkan potensi pasar dan memperoleh keunggulan kompetitif, dengan mengoptimalkan kemampuan menjalin jejaring (Chebichii et al. , 2. Strategi lain yang tidak kalah penting bagi UKM dalam meraih keunggulan bersaing adalah kemampuan berinovasi. Inovasi yang dilakukan UKM mencakup penerapan strategi efektuasi, penetrasi ke relung pasar (Nikmah et al. , 2. pengembangan pengetahuan, serta pembentukan kemitraan strategis (Costa et al. , di samping strategi inovasi lainnya. Inovasi berkelanjutan menjadi kebutuhan fundamental organisasi untuk mencapai keunggulan kompetitif, yang dinyatakan sebagai terobosan dalam beradaptasi dengan lingkungan dinamis (Meutia, 2. Saat ini, inovasi mencakup ide, aplikasi, proses, dan mekanisme Mengingat pasar ditandai oleh perubahan cepat pada preferensi pelanggan, teknologi, dan persaingan, pelaku usaha, termasuk UKM, perlu menciptakan keunggulan kompetitif untuk bertahan hidup. Kemampuan organisasi untuk berinovasi secara terus-menerus melalui pembelajaran menjadi kemampuan inti UKM dalam mencapai keunggulan kompetitif (Ireland et al. , 2. UKM yang mampu bertahan hidup dicirikan oleh perilaku strategis yang dinamis, kemampuan berinovasi, pengelolaan hubungan yang tepat dengan pasar dan pemasok, internasionalisasi proses, serta manajemen jaringan bisnis yang efektif untuk menciptakan nilai baru bagi pelanggan (Mizik & Jacobson, 2. Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa orientasi pasar, kemampuan menjalin jejaring, dan inovasi memberikan kontribusi signifikan terhadap keunggulan bersaing UKM. Penelitian ini berfokus untuk mengeksplorasi pengaruh ketiga faktor tersebut pada UKM di Jawa Timur, dengan harapan dapat menemukan kontribusi terbaru yang sesuai dengan dinamika pasar lokal yang lebih cepat dan kompetitif. Penelitian ini menjadi relevan karena Jawa Timur memiliki jumlah pelaku UKM terbesar di Indonesia, serta sektor UKM di wilayah ini menjadi penyumbang utama pendapatan domestik nasional (Nikmah et al. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dalam bentuk Google Form, yang dikirimkan melalui email dan WhatsApp. Penyebaran kuesioner melibatkan beberapa Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). PLUT merupakan program dari Kementerian Koperasi dan UKM yang bertujuan membantu pelaku usaha, khususnya koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah, dalam memperoleh akses pasar. PLUT yang terlibat dalam penelitian ini adalah PLUT Kota Batu. PLUT Kabupaten Malang. PLUT Kabupaten Tulungagung, dan PLUT Kota Mojokerto. Pemilihan PLUT ini bertujuan untuk memperoleh produk UKM yang beragam, mengingat setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri: Kota JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. Batu dengan kondisi geografis pegunungan banyak didominasi UKM pengolahan hasil perkebunan . ayur dan bua. Kabupaten Malang memiliki UKM ekonomi kreatif, seperti batik. Kabupaten Tulungagung unggul pada pengolahan sumber daya alam, seperti marmer dan onix. sedangkan Kabupaten Mojokerto memiliki keunggulan pada kerajinan kulit. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 600, ditujukan kepada pemilik UKM dan didistribusikan dengan bantuan PLUT. Sebanyak 560 kuesioner kembali diterima, dan 552 di antaranya dinyatakan layak untuk dianalisis. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda, yang mencakup pengujian goodness of fit, pengujian hipotesis parsial, serta analisis asumsi klasik, meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas. Sampel sebanyak 552 responden kemudian dibagi proporsinya berdasarkan asal data atau lokasi PLUT. Proporsi responden dari masing-masing PLUT akan dijelaskan pada bagian pembahasan dan hasil penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara orientasi pasar, kemampuan menjalin jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan bersaing UKM. Berdasarkan tujuan tersebut, hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut: H1: Orientasi pasar secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing UKM. H2: Kemampuan jejaring secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing UKM. H3: Inovasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing UKM. Gambar 1. Kerangka Penelitian Gambar 1 di atas menggambarkan model konseptual yang menunjukkan hubungan antara orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan bersaing. Orientasi pasar mencerminkan sejauh mana perusahaan memahami kebutuhan dan preferensi konsumen serta respons terhadap dinamika Kemampuan jejaring menggambarkan kapasitas perusahaan dalam membangun dan memelihara hubungan dengan berbagai pihak eksternal seperti pemasok, pelanggan, dan mitra bisnis untuk memperoleh sumber daya dan informasi strategis. Sementara itu, inovasi berperan sebagai upaya perusahaan dalam menciptakan produk, proses, atau strategi baru yang memberikan nilai Ketiga variabel tersebut diasumsikan memiliki pengaruh positif terhadap keunggulan bersaing, yang didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi superior di pasar melalui penciptaan nilai yang sulit ditiru oleh pesaing. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertama, dilakukan analisis deskriptif yaitu menjelaskan asal responden berdasarkan asal daerah dan masuk pada wilayah PLUT tertentu. Tabel 1. Responden Sesuai Wilayah PLUT Asal PLUT Frekuensi Persentase PLUT Kota Batu 51,3% PLUT Kabupaten Malang 16,1% PLUT Kabupaten Tulungagung 16,5% PLUT Kabupaten Mojokerto 16,1% TOTAL Catatan: bersumber dari olahan hasil penelitian. Pada tabel 1 di atas, terlihat bahwa responden terbanyak berasal dari UKM Kota Batu. Meskipun wilayah Kota Batu tidak luas, terdapat banyak pelaku UKM yang mengolah hasil perkebunan, seperti sayur dan buah, menjadi berbagai macam makanan, khususnya makanan ringan . dan minuman. Selain itu, terdapat UKM yang memproduksi peralatan rumah tangga berbahan kayu, kerajinan tas dari serat plastik, dan produk lainnya. Hal ini didukung oleh kondisi Kota Batu yang terkenal dengan sektor pariwisata, sehingga pasar bagi UKM tersedia lebih UKM di Kabupaten Malang banyak bergerak di bidang kuliner dan fashion, terkenal menghasilkan kripik tempe, kerajinan keramik, batik, serta topeng Malangan. Sementara itu. Kabupaten Tulungagung memiliki variasi produk UKM yang lebih beragam. Terdapat UKM yang mengolah sumber daya alam menjadi barang-barang mewah berbahan batuan alam, seperti marmer dan onix, yang telah menembus pasar internasional, khususnya Eropa. Produk-produk tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan kamar mandi, seperti bathtub, wastafel, dan interior bangunan, serta olahan makanan dari buah mlinjo menjadi emping, kulit kerbau menjadi krupuk rambak, dan aneka jajanan lainnya. UKM di Kabupaten Mojokerto juga banyak berasal dari kota-kota sekitarnya, seperti Sidoarjo, dengan fokus pada pengolahan kulit menjadi tas, sepatu, dan aksesoris lainnya. Tahap berikutnya pada penelitian ini adalah analisis statistik, yang dilakukan menggunakan regresi linear berganda serta uji asumsi klasik, meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas. Pengujian Multikolinearitas Pengujian multikolinearitas dilakukan untuk menilai ada atau tidaknya hubungan yang sangat kuat antar variabel bebas. Dalam analisis regresi linier, keberadaan hubungan yang sangat kuat antar variabel bebas tidak diperbolehkan, karena dapat mengganggu estimasi koefisien regresi. Pengujian ini menggunakan teknik Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance. Kriteria pengujian menyatakan bahwa apabila nilai VIF kurang dari 10 atau tolerance lebih besar dari 0,1, maka tidak terdapat hubungan yang sangat kuat antar variabel bebas. Dengan demikian, variabel bebas dalam analisis regresi dapat dikatakan tidak mengalami multikolinearitas. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. Berikut ini disajikan hasil pengujian multikolinearitas menggunakan teknik Variance Inflation Factor (VIF): Tabel 2. Uji Multikolinearitas Collinearity Statistic Variabel Bebas Tolerance VIF Orientasi pasar 0,903 1,107 Kemampuan jejaring 0,959 1,042 Inovasi 0,909 1,100 Catatan: bersumber dari olahan hasil penelitian. Hasil yang ditampilkan pada tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas memiliki nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang sangat kuat antar variabel bebas. Oleh karena itu, variabel bebas pada penelitian ini dapat dikatakan tidak mengalami multikolinearitas, sehingga layak digunakan dalam analisis regresi linier berganda. Uji Asumsi Linearitas Asumsi linearitas bertujuan untuk menilai apakah model regresi yang diestimasi bersifat linear atau tidak. Dalam analisis regresi linier, model yang digunakan diharuskan memiliki karakteristik linear. Uji linearitas dilakukan menggunakan teknik Ramsey RESET. Kriteria pengujian menyatakan bahwa jika Fstatistik < F-Tabel, maka model regresi yang diestimasi dapat dikategorikan sebagai Selanjutnya. Tabel berikut menyajikan hasil uji linearitas menggunakan teknik Ramsey RESET. Tabel 3. Uji Asumsi Linearitas R-Squared of Main Model R-Squared of New Model 0,5518 0,5519 Catatan: bersumber dari olahan hasil penelitian. F-statistic 0,086 F-table 3,858 Tabel 3 di atas menunjukkan hasil uji asumsi linearitas untuk model pengaruh orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan bersaing UKM. Hasil uji menghasilkan F-statistik sebesar 0,086 dengan nilai probabilitas 0,771. Karena F-statistik < F-tabel . , dapat disimpulkan bahwa model regresi yang diestimasi bersifat linear. Dengan demikian, asumsi linearitas pada penelitian ini dinyatakan terpenuhi. Uji Asumsi Normalitas Asumsi normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel residual dalam model regresi linier berdistribusi normal. Dalam analisis regresi linier, diharapkan bahwa residual mengikuti distribusi normal. Pengujian asumsi normalitas dilakukan menggunakan teknik uji Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengujian menyatakan bahwa jika nilai probabilitas > taraf signifikansi . u = 5%), maka variabel residual dapat dianggap berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dengan teknik Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut: JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. Tabel 4. Uji Asumsi Normalitas Kolmogorov-Smirnov Probability Probability Value of Monte Statistic Value Carlo Approximation 0,043 0,015 0,239 Catatan: bersumber dari olahan hasil penelitian. Tabel 4 menunjukkan hasil pengujian asumsi normalitas untuk model pengaruh orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan Statistik uji Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,043 dengan nilai probabilitas aproksimasi Monte Carlo sebesar 0,239. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai probabilitas aproksimasi Monte Carlo > taraf signifikansi . u = 5%). Dengan demikian, variabel residual dapat dianggap berdistribusi normal, yang berarti asumsi normalitas terpenuhi. Uji Asumsi Heteroskedastisitas Asumsi heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji homogenitas varians residual yang dihasilkan oleh model regresi. Dalam analisis regresi linier, diharapkan bahwa varians residual bersifat homogen . Pengujian asumsi ini dilakukan menggunakan teknik Breusch-Pagan-Godfrey. Kriteria pengujian menyatakan bahwa jika seluruh variabel independen menghasilkan nilai t-statistik < t-tabel atau nilai probabilitas > tingkat signifikansi . u = 5%), maka residual dinyatakan memiliki varians yang homogen. Berikut adalah hasil pengujian asumsi heteroskedastisitas menggunakan teknik Breusch-PaganGodfrey. Tabel 5. Uji Asumsi Heteroskedastisitas t-statistic Probability Value Variabel Bebas Orientasi pasar -1,772 0,077 Kemampuan jejaring -0,686 0,493 Inovasi 0,144 0,886 Catatan: bersumber dari olahan hasil penelitian. Tabel 5 menunjukkan bahwa pengujian asumsi heteroskedastisitas dari model pengaruh orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan bersaing menghasilkan nilai t-statistik yang lebih kecil dibandingkan t-tabel . atau nilai probabilitas yang lebih kecil dari taraf signifikansi . u = 5%) pada beberapa variabel bebas. Hasil ini menunjukkan bahwa residual tidak memiliki varians yang Dengan demikian, asumsi heteroskedastisitas pada model ini dinyatakan tidak terpenuhi. Pengujian Hipotesis Parsial Pengujian hipotesis parsial . tau uji-. merupakan metode statistik untuk mengevaluasi pengaruh individual dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen dalam suatu model regresi. Ini digunakan untuk melihat apakah masing-masing variabel bebas secara signifikan berpengaruh terhadap variabel JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. Tabel 6. Uji Signifikasi Hipotesis Parsial Koefisien t-statistics Variabel Bebas Variabel Terikat Regresi Constants -2,581 -8,504 Orientasi pasar Keunggulan bersaing 0,741 17,394 Kemampuan jejaring Keunggulan bersaing 0,417 7,242 Inovasi Keunggulan bersaing 0,521 9,189 Catatan: bersumber dari olahan hasil penelitian. p-value 0,000 0,000 0,000 0,000 One Tailed p-value 0,000 0,000 0,000 Berdasarkan hasil yang ditampilkan pada tabel 6, kontribusi orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi terhadap keunggulan bersaing dapat dirumuskan sebagai berikut: ycU = 2,581 0,741ycU1 0,417ycU2 0,521ycU3. Pengaruh orientasi pasar terhadap keunggulan bersaing menunjukkan koefisien sebesar 0,741, dengan t-statistik 17,394 dan nilai probabilitas satu sisi 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa koefisien positif dan t-statistik absolut (. ) > t-tabel . , atau nilai probabilitas satu sisi < taraf signifikansi . u = 5%). Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh positif dan signifikan orientasi pasar terhadap keunggulan bersaing. Dengan kata lain, semakin kuat orientasi pasar, semakin tinggi pula keunggulan bersaing (H1 diterim. Pengaruh kemampuan jejaring terhadap keunggulan bersaing menghasilkan koefisien sebesar 0,417, dengan t-statistik 7,242 dan nilai probabilitas satu sisi 0,000. Koefisien positif ini, dengan t-statistik absolut > t-tabel dan nilai probabilitas < 5%, menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan kemampuan jejaring terhadap keunggulan bersaing. Artinya, semakin kuat kemampuan jejaring, semakin tinggi keunggulan bersaing (H2 diterim. Sementara itu, pengaruh inovasi terhadap keunggulan bersaing tercatat dengan koefisien 0,521, t-statistik 9,189, dan nilai probabilitas satu sisi 0,000. Hasil pengujian menunjukkan koefisien positif dan t-statistik absolut > t-tabel, atau probabilitas < 5%, yang menandakan pengaruh positif dan signifikan inovasi terhadap keunggulan bersaing. Dengan demikian, semakin tinggi inovasi, semakin meningkat keunggulan bersaing (H3 diterim. Orientasi pasar menjadi variabel yang paling dominan dalam memberikan pengaruh terhadap keunggulan bersaing UKM. Sifat UKM yang fleksibel memungkinkan mereka untuk memenuhi keinginan pasar secara cepat dan adaptif. UKM dapat menghadirkan produk-produk custom yang sulit dipenuhi oleh perusahaan besar yang bersifat kaku dan formal (Nikmah et al. , 2. Dengan manajemen yang sederhana dan cenderung bersifat kekeluargaan. UKM mampu mengambil keputusan strategis dengan cepat untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasar (Kumar et al. , 2. Berorientasi pada pasar menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan kelangsungan hidup UKM. Sebuah UKM dapat dikatakan memiliki keunggulan bersaing apabila mampu merespons kebutuhan pasar secara cepat dan tepat (Rodryguez & Albort-Morant, 2. Meskipun inovasi tidak memberikan pengaruh sebesar orientasi pasar terhadap keunggulan bersaing, peranannya tetap krusial bagi UKM untuk JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. menghadapi persaingan yang semakin ketat. Inovasi merupakan proses learning sepanjang hayat . ifelong learnin. yang melibatkan pemahaman, analisis, dan pengambilan keputusan berdasarkan perilaku konsumen, pemasok, dan pihak lain yang relevan (Ayodele & Stephan, 2025. Costa et al. , 2. Terlebih lagi, mengingat banyak UKM bergerak di bidang fashion, handycraft, dan kuliner, inovasi berkelanjutan menjadi suatu keharusan, sehingga UKM sering disebut sebagai usaha kreatif. Sementara itu, kemampuan jejaring memberikan kontribusi paling rendah terhadap keunggulan bersaing UKM. Hal ini sejalan dengan temuan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa salah satu kelemahan UKM adalah keterbatasan dalam membangun jejaring. Banyak UKM di negara berkembang menghadapi kendala karena jaringan yang terbatas (Nikmah et al. UKM sering kali tidak mengetahui jalur untuk mengembangkan jejaring, merasa minder dibanding perusahaan besar (Jahanshahi et al. , 2. , atau merasa cukup dengan pencapaian saat ini sehingga cenderung bersikap tertutup. Namun, pemerintah saat ini semakin memperhatikan UKM dengan menyediakan berbagai program untuk mendorong UKM naik kelas. Berdasarkan hasil penelitian, orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi secara bersama-sama memberikan kontribusi signifikan terhadap keunggulan bersaing UKM. Memang. UKM menghadapi kesulitan untuk mandiri dan mencari peluang sendiri (Nikmah et al. , 2. , sehingga pemerintah menciptakan program-program yang mendorong UKM berinovasi dan menawarkan produk maupun layanan yang berorientasi pada pasar. Contohnya. Program Prokesra (Program Kredit Sejahtera UMKM), hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Bank UMKM Jatim, dirancang untuk mengatasi kendala permodalan. Selain itu, program uji pasar luar negeri digagas oleh Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur untuk membantu UKM melakukan ekspansi ke pasar global. Dengan demikian, orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi harus bersinergi untuk membangun program-program yang efektif dalam meningkatkan keunggulan bersaing UKM Jawa Timur. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi pasar, kemampuan jejaring, dan inovasi memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing UKM. Di antara ketiganya, orientasi pasar memberikan pengaruh paling dominan terhadap keunggulan bersaing, sehingga menjadi perhatian penting bagi UKM untuk mempertahankan strategi orientasi pasarnya, mengingat dinamika pasar yang bergerak cepat dan selalu berubah. Hal ini menjadi salah satu keunikan UKM yang tidak dimiliki oleh perusahaan besar. Sementara itu, kemampuan jejaring dan inovasi perlu terus ditingkatkan, karena kedua faktor tersebut akan semakin memperkuat daya saing UKM. Keunggulan bersaing bukanlah sesuatu yang mudah dicapai oleh UKM, dan setelah diraih, mempertahankan maupun meningkatkannya menjadi tantangan Oleh karena itu, kesadaran untuk selalu belajar dan bersikap open JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Nikmah et al. minded menjadi prioritas bagi UKM. Selain itu, partisipasi aktif dalam programprogram yang diselenggarakan pemerintah menjadi salah satu upaya untuk mampu bersaing di pasar yang lebih luas serta mempertahankan dan meningkatkan keunggulan bersaing. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas variabel yang mempengaruhi keunggulan bersaing UKM, dengan menyesuaikan kebutuhan UKM di masa depan, misalnya melalui adopsi teknologi. Jika pada penelitian ini hanya menguji hubungan langsung tanpa variabel moderasi atau mediasi, maka penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas mekanisme analisis agar dapat menangkap dinamika hubungan antarvariabel yang lebih kompleks. DAFTAR PUSTAKA