JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1029-1041 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah SISTEM MANAJEMEN PERPUSTAKAAN DALAM MENDUKUNG IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH Rusmini1. Yusria2. Yundri Akhyar3 1,2 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin. Indonesia 3 Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Indonesia Email: rusmini@uinjambi. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 June 2025 Final Revised: 11 July 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 24 September 2025 Keywords: Library Management System School Literacy Movement Education ABSTRACT This research examines the function of library management systems in facilitating digital literacy programs at MTs/MA Al-Kifayah Riau. The study seeks to elucidate the role of planning, implementation, and evaluation processes in the efficacy of digital literacy programs. A qualitative descriptive methodology was utilized, with data gathered via interviews, observations, and documentation involving librarians, educators, students, and school administrators. The results indicate that the library successfully incorporates digital technology into its services, consistent with the school's vision and mission. The planning phase emphasizes the development of programs aligned with the school's work plan (RKM), the enhancement of human resources via training, and the improvement of facilities to facilitate digital services. The implementation employs three methodologies: classroom-based literacy incorporating digital tools into education. school culture-based literacy utilizing digital collections and social media advocacy. and community-based literacy through partnerships with external stakeholders. Evaluation encompasses performance assessments, program outcome analysis, and recommendations for continuous Significant accomplishments encompass 80% digitalization, a substantial digital book repository comprising 2,762 titles, contemporary amenities such as electronic catalogs and multimedia corners, and pioneering Android-based ABSTRAK Penelitian ini mengkaji fungsi sistem manajemen perpustakaan dalam memfasilitasi program literasi digital di MTs/MA Al-Kifayah Riau. Penelitian ini berupaya menjelaskan peran proses perencanaan, implementasi, dan evaluasi dalam keberhasilan program literasi digital. Metodologi deskriptif kualitatif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan pustakawan, pendidik, siswa, dan administrator sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan berhasil menggabungkan teknologi digital ke dalam layanannya, konsisten dengan visi dan misi sekolah. Tahap perencanaan menekankan pada pengembangan program yang selaras dengan rencana kerja sekolah (RKM), peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan, dan peningkatan fasilitas untuk memfasilitasi layanan digital. Implementasi menggunakan tiga metodologi: literasi berbasis kelas yang menggabungkan perangkat digital ke dalam pendidikan. berbasis budaya sekolah yang memanfaatkan koleksi digital dan advokasi media sosial. dan literasi berbasis masyarakat melalui kemitraan dengan pemangku kepentingan eksternal. Evaluasi mencakup penilaian kinerja, analisis hasil program, dan rekomendasi untuk perbaikan berkelanjutan. Pencapaian penting mencakup digitalisasi 80%, repositori buku digital substansial yang terdiri dari 2. 762 judul, fasilitas kontemporer seperti katalog elektronik dan pojok multimedia, dan layanan berbasis Android yang inovatif. Kata kunci: Library Management System. School Literacy Movement. Pendidikan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah PENDAHULUAN Literasi sangat penting untuk membangun generasi yang kritis, kreatif, dan kompetitif di dunia modern. Sebagai pusat sumber belajar, perpustakaan sekolah sangat penting untuk mendukung proses literasi, terutama di era digital yang dipenuhi dengan kemajuan teknologi informasi(Merga, 2. Namun, sistem manajemen yang kurang sesuai dengan tuntutan literasi kontemporer seringkali menghalangi upaya perpustakaan untuk memaksimalkan fungsinya. Meskipun gerakan literasi sekolah telah dicanangkan secara nasional, banyak institusi pendidikan di Indonesia masih melakukannya dengan buruk(Mastur, 2. Untuk memastikan bahwa gerakan ini berjalan dengan baik, perpustakaan memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem manajemen. Sistem manajemen perpustakaan memiliki tanggung jawab strategis untuk mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yang bertujuan untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan pendidikan. Melalui penyediaan sumber daya pendidikan, memfasilitasi kegiatan membaca, dan membangun sinergi antara pustakawan dan pendidik, perpustakaan yang dikelola dengan baik dapat sangat membantu keberhasilan GLS(Safitri & Dafit, 2. Perpustakaan dan pendidik bekerja sama untuk meningkatkan literasi informasi siswa dan mendukung pelaksanaan program literasi yang lebih efektif dengan menyediakan sudut baca, sistem distribusi buku yang efektif, dan berbagai fasilitas literasi. (Mastur, (Purwandari et al, 2. Perpustakaan memainkan peran penting dalam menyediakan sarana yang cukup dan aksesibilitas terhadap bahan bacaan dalam konteks infrastruktur dan akses(Apriani, 2. Sayangnya, banyak perpustakaan sekolah di Indonesia terus menghadapi masalah yang menghambat pelaksanaan GLS. Tantangan ini termasuk sumber daya dan fasilitas yang terbatas (Laksono & Retnaningdyah, 2. Oleh karena itu, solusi yang tepat adalah memasukkan teknologi ke dalam sistem manajemen perpustakaan. Teknologi modern, seperti modul layanan mandiri, antarmuka yang ramah pengguna, dan sistem otomasi dengan fitur pinjaman dan pengembalian buku otomatis, mempercepat pengelolaan perpustakaan dan mempermudah akses siswa dan karyawan ke sumber daya pendidikan (Agustina et al. , 2. Banyak perpustakaan sekolah masih menggunakan metode tradisional, yang tidak relevan dengan masalah era digital, seperti kurangnya penggunaan teknologi dan kurangnya integrasi dengan program literasi berbasis digital(Maulana et al, 2. Masalah ini tidak hanya membatasi siswa untuk mengakses sumber informasi, tetapi juga menghambat upaya sekolah untuk memupuk budaya literasi(Dwi Aryani & Purnomo, 2. Selain itu, sangat sedikit penelitian yang membahas evaluasi sistem manajemen perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi sekolah. Tidak adanya pedoman berbasis data yang dapat digunakan oleh perpustakaan sekolah menimbulkan perbedaan besar antara kebijakan literasi nasional dan bagaimana hal itu diterapkan di lapangan. Namun, ada beberapa masalah yang harus diselesaikan, salah satunya adalah perbedaan dalam keterampilan literasi informasi antara pustakawan dan guru. Untuk memastikan bahwa fungsi perpustakaan GLS dioptimalkan, pelatihan pustakawan sangat penting (Purwandari et al. , 2. Secara teratur, evaluasi sistem manajemen perpustakaan juga diperlukan untuk menemukan dan memperbaiki masalah. Seperti yang dilakukan di Portugal, model evaluasi perpustakaan dapat menjadi kerangka kerja yang berguna untuk meningkatkan layanan perpustakaan agar lebih sesuai dengan tuntutan literasi sekolah (Conde & Mendinhos, 2. Penelitian sebelumnya tentang literasi digital dan perpustakaan. Pada dasarnya sangat membantu dalam pengembangan literasi di sekolah. Namun, banyak penelitian yang Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah membahas fungsi perpustakaan dalam meningkatkan minat baca dan menyediakan sumber belajar (Sartika Dewi, 2022. Rofiq, 2. , tetapi masih ada beberapa ruang untuk diperbaiki, terutama tentang bagaimana manajemen perpustakaan diintegrasikan dengan inisiatif literasi sekolah. Pelaksanaan program literasi baca tulis sudah sampai tahap pembelajaran bahkan kegiatan literasi membaca sudah terintegrasi di setiap pembelajaran (Rafida et al. Analisis kebiasaan membaca untuk kelompok dengan keterbatasan akses dan optimalisasi perpustakaan digital adalah fokus beberapa penelitian, seperti (Fahrianur et al. , (Khazin, 2. Rachmawati . Namun, penelitian ini tidak memberikan analisis menyeluruh tentang bagaimana sistem manajemen perpustakaan dapat membantu literasi digital dalam semua aspek pendidikan formal, dari perencanaan hingga pelaksanaan. Selain itu, penelitian (Fitri, 2. , (Megawati, 2. ) dan Damayanti . membahas bagaimana literasi digital dapat digunakan dalam pembelajaran khusus. Namun, penelitian ini tidak memperhatikan secara khusus bagaimana manajemen perpustakaan sekolah dapat mengelola dan menyusun literasi digital sebagai bagian dari kurikulum yang terstruktur, serta peran yang dimainkan oleh manajemen perpustakaan dalam menjamin keberhasilan implementasi ini. Pendekatan penelitian ini menggabungkan penilaian sistem manajemen perpustakaan dengan pengembangan gerakan literasi berbasis digital. Studi ini tidak hanya memperluas literatur tentang manajemen perpustakaan, tetapi juga memberikan saran praktis tentang cara perpustakaan sekolah dapat membantu mencapai tujuan literasi nasional. Oleh karena itu, penelitian ini dapat menjadi referensi penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan sistem manajemen perpustakaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan literasi digital. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, sistem manajemen perpustakaan yang mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di MTS/MA Al-Kifayah Riau dievaluasi melalui pembahasan Dengan menggunakan teknik purposive sampling, penelitian ini menemukan informasi tentang orang-orang berikut: kepala perpustakaan sebagai pembuat kebijakan, dua staf perpustakaan sebagai pelaksana kegiatan, guru sebagai pengguna layanan, dan siswa sebagai perwakilan pengguna perpustakaan dalam kegiatan literasi sekolah. Jika data dari informan utama tidak mencukupi, metode sampling bola salju akan digunakan untuk menemukan informan tambahan berdasarkan rekomendasi informan sebelumnya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan subjek utama, studi dokumentasi yang mencakup kebijakan perpustakaan, laporan kegiatan literasi, statistik pengguna perpustakaan, dan penelitian literatur terkait. Tiga tahap utama terdiri dari model analisis Miles. Huberman, & Saldaya . , yang digunakan untuk menganalisis data yang Pada tahap pertama, data direduksi dengan merangkum dan mengelompokkan sesuai dengan tema perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi manajemen Pada tahap kedua, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif untuk mempermudah penarikan kesimpulan. Pada tahap ketiga, kesimpulan ditarik berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan dan diverifikasi untuk memastikan kelengkapan dan akurasi data hingga tingkat jenuh telah dicapai. Triangulasi sumber, metode, dan teori memastikan keabsahan data. Triangulasi sumber melibatkan berbagai informan untuk mendapatkan pandangan yang berbeda, sementara triangulasi metode mencakup kombinasi dokumentasi, wawancara, dan penelitian pustaka. Triangulasi teori membandingkan hasil penelitian dengan teori manajemen perpustakaan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah dan literasi. Penelitian ini dilakukan di MTS/MA Al-Kifayah di Riau dan berfokus pada penilaian sistem manajemen perpustakaan yang mendukung GLS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mendalam tentang seberapa efektif manajemen perpustakaan dan bagaimana memaksimalkan perannya dalam meningkatkan budaya literasi sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gerakan literasi sekolah sangat penting untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca, menulis, dan berpikir kritis. Untuk mendukung gerakan ini, perpustakaan MTs/MA Al-Kifayah Riau mengembangkan sistem manajemen yang sesuai dengan visi dan misi madrasah. Analisis Rencana Kerja Madrasah (RKM), peningkatan kapasitas sumber daya, dan penyusunan program tahunan adalah tiga pilar utama proses Gerakan literasi sekolah didukung oleh manajemen perpustakaan Mts/MA AlKifayah Riau. Gambar 1 Sistem Manajemen Perpustakaan di MTs/MA Al-Kifayah Riau Berdasarkan gambar 1 dapat dijabarkan bahwa manajemen perpustakaan telah berhasil dalam mendukung literasi digital melalui beberapa langkah stategis yaitu: Tahap Perencanaan Melalui sistem manajemen perpustakaan yang terencana dan terintegrasi. Perpustakaan MTs/MA Al-Kifayah Riau berperan strategis dalam mendukung gerakan literasi sekolah. Untuk memastikan program literasi berhasil dan berkelanjutan, tahap perencanaan sangat Analisis Rencana Kerja Madrasah (RKM) dimulai dengan proses ini. Ini melibatkan menilai program sebelumnya untuk menemukan masalah dan peluang pengembangan. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Analisis ini melihat perubahan di lingkungan madrasah internal dan eksternal, seperti perkembangan teknologi digital dan sumber daya manusia (SDM). Kepala Sekolah AyKami selalu memulai perencanaan dengan mengevaluasi program sebelumnya dan memastikan rencana baru selaras dengan visi sekolah. Salah satu fokus kami adalah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Ay (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Gerakan literasi berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya. Pustaka mendapatkan pelatihan dan pendidikan lanjutan untuk membantu mengembangkan sumber daya manusia. Mereka memiliki kesempatan untuk mengikuti seminar, workshop, dan memperoleh gelar magister. Kepala Perpustakaan membuat perubahan berikut: "Pustakawan diberi pelatihan dalam pengelolaan SLiMS dan aplikasi digital, serta kesempatan untuk mengikuti seminar literasi. Kami juga mendorong mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. " . Ay (Elmirawati. Wawancara. November 28,2. Sebaliknya, pengembangan sumber daya material termasuk penambahan koleksi buku cetak dan digital serta pengadaan fasilitas seperti komputer dan akses internet gratis. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi dan memberikan pengalaman literasi yang lebih interaktif. Dalam wawancara dengan salah satu siswa. Layanan katalog berbasis android sangat membantu, terutama saat saya mencari buku untuk tugas. Saya tidak perlu datang ke perpustakaan untuk mencari referensi. (Wahyu. Wawancara. November 28,2. Layanan berbasis metode digital adalah inovasi lain yang dilakukan oleh perpustakaan. Perpustakaan telah mengembangkan sistem SLiMS yang memudahkan siswa dan guru mencari informasi dan mengelola peminjaman buku. Selain itu, aplikasi berbasis android perpustakaan memungkinkan akses katalog dari perangkat mobile. Langkah ini memudahkan pengguna mendapatkan data kapan saja dan di mana saja. Kepala sekolah, pustakawan, dan guru bekerja sama untuk membuat Program Tahunan Perpustakaan. Program ini mencakup peningkatan budaya membaca melalui penyediaan koleksi yang baik, pelatihan literasi digital, dan kompetisi resensi buku. Kepala sekolah AyPerpustakaan adalah pusat literasi kami. Dengan program berbasis teknologi, mereka mendukung siswa untuk mengembangkan keterampilan literasi yang relevan dengan era digital. Ay . Ay (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Untuk memastikan bahwa program berjalan dengan baik, evaluasi dilakukan secara Sasaran tahunan untuk keterlibatan siswa dalam aktivitas literasi digital adalah 20%. Kepala Setiap tahun, kami menetapkan tujuan peningkatan keterlibatan siswa. Selain itu, kami mengukur keberhasilan melalui survei kepuasan guru dan siswa terhadap layanan perpustakaan. (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Perpustakaan MTs/MA Al-Kifayah Riau berhasil menjadi pusat literasi yang mendukung pembelajaran abad ke-21 dengan perencanaan yang komprehensif, penguatan sumber daya, dan inovasi layanan digital. Sistem manajemen yang diterapkan tidak hanya meningkatkan akses guru dan siswa tetapi juga menciptakan budaya literasi yang kuat di Dengan memasukkan teknologi digital ke dalam layanan perpustakaan, tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan inovatif. Tahapan Pelaksanaan Perpustakaan MTs/MA Al-Kifayah Riau sangat berperan dalam mendukung program literasi sekolah. Program literasi dirancang dengan tiga pendekatan utama untuk meningkatkan literasi di era digital. Ini adalah literasi berbasis kelas, literasi berbasis budaya sekolah, dan literasi berbasis masyarakat. Ketiga pendekatan ini memungkinkan perpustakaan untuk membantu membangun budaya literasi di lingkungan madrasah dan masyarakat sekitar mereka. Pendekatan berbasis kelas di MTs/MA Al-Kifayah Riau menekankan penggunaan literasi digital dalam pembelajaran. Perpustakaan bekerja sama dengan guru untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya belajar membaca dan memahami teks, tetapi juga belajar menggunakan teknologi informasi dalam proses pembelajaran dan berpikir kritis. Langkah pertama dalam penerapan metode ini adalah memberikan pelatihan kepada guru dan siswa. Guru diberi instruksi tentang cara menggunakan sumber daya digital, seperti e-book, video pembelajaran, dan katalog perpustakaan online. Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologi dalam Seorang guru mengatakan: "Pustakawan yang menerima pelatihan sangat membantu kami memahami cara menggunakan media digital dalam mengajar. Siswa juga terlihat lebih antusias saat pembelajaran berbasis multimedia diterapkan. " (Wirda. Wawancara. November 28,2. Siswa juga diajarkan keterampilan teknologi. Mereka diajarkan cara mencari informasi yang relevan di internet, mengevaluasi sumber daya, dan membuat presentasi berbasis Seorang siswa menceritakan pengalamannya: "Pelatihan ini sangat membantu saya memahami cara mencari informasi untuk tugas sekolah dengan lebih efektif. Sekarang saya tahu cara menggunakan internet untuk belajar, bukan hanya untuk hiburan. "(Putri. Wawancara. November 28,2. Pembelajaran berbasis internet kemudian digunakan oleh guru di kelas. Siswa diarahkan untuk menggunakan perangkat elektronik, seperti komputer dan tablet, untuk mengakses Siswa tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih baik, tetapi proses ini juga mengajarkan mereka untuk berpikir kritis saat menilai informasi yang mereka temukan di Tujuan pendekatan berbasis budaya sekolah adalah untuk menciptakan lingkungan yang sepenuhnya mendukung literasi digital. Dengan memperluas akses ke sumber daya dan mendorong kegiatan literasi, perpustakaan terlibat secara aktif dalam pembentukan budaya ini. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Perpustakaan terus menambah koleksi bahan bacaan digital, seperti e-book dan jurnal elektronik, yang dapat diakses oleh siswa dan guru. Penambahan koleksi digital ini didukung oleh ketersediaan perangkat komputer dan internet gratis di perpustakaan. Kepala Perpustakaan memberikan penjelasan berikut: Setiap tahun, kami terus meningkatkan koleksi digital kami. Selain itu, kami menyediakan fasilitas komputer dan internet gratis agar siswa lebih mudah mengakses sumber informasi. Situs web seperti Facebook dan Instagram digunakan untuk mendorong inisiatif literasi. Perpustakaan menggunakan platform ini untuk menyebarkan informasi tentang berbagai kegiatan, seperti lomba resensi buku, diskusi literasi, dan bulan kunjung perpustakaan. Kepala Perpustakaan membuat perubahan berikut: Kami memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan partisipasi siswa dan guru dalam kegiatan Hal ini juga membantu perpustakaan terlihat lebih modern dan relevan. Elmirawati. Wawancara. November 28,2. Penguatan Infrastruktur Teknologi: Perpustakaan meningkatkan infrastruktur teknologi mereka selain menambah koleksi digital mereka. Perangkat lunak manajemen perpustakaan seperti Sistem Manajemen Perpustakaan Senayan (SLiMS) mempermudah pengelolaan dan pencarian koleksi perpustakaan. Siswa dapat menelusuri katalog buku melalui perangkat mereka dengan sistem ini. Strategi ini melibatkan kerja sama antara perpustakaan dan pihak eksternal seperti masyarakat, pemerintah daerah, dan perpustakaan wilayah. Tujuannya adalah untuk memperluas cakupan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan perpustakaan untuk menyediakan layanan. Salah satu program utama adalah pelatihan SLiMS yang rutin diberikan kepada pengelola perpustakaan untuk meningkatkan keterampilan teknis mereka dalam mengelola perpustakaan digital. Kepala madrasah menyatakan bahwa pelatihan ini sangat penting: Untuk meningkatkan kapasitas layanan kami, kerja sama dengan perpustakaan wilayah sangat Pelatihan rutin juga memastikan bahwa pustakawan selalu siap menghadapi tantangan teknologi terbaru. Ay (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Perpustakaan MTs/MA Al-Kifayah Riau juga sedang bekerja pada pengembangan jaringan perpustakaan berbasis android. Ini akan memberi siswa dan masyarakat akses yang lebih luas ke sumber daya. Dengan menggunakan ponsel mereka, siswa dapat mencari buku, membaca sinopsis, dan mengetahui ketersediaan koleksi dengan aplikasi ini. Salah satu siswa menyatakan keuntungan dari layanan ini: Layanan katalog berbasis android sangat membantu, terutama saat saya mencari buku untuk Saya tidak perlu datang ke perpustakaan untuk mencari referensi. (Wahyu. Wawancara. November 28,2. Perpustakaan membantu gerakan literasi dengan berpartisipasi dalam komunitas. Dalam strategi ini, ada program seperti diskusi tentang literasi, donasi buku, dan kerja sama dengan lembaga masyarakat. Kepala Perpustakaan memberikan penjelasan berikut: Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah "Kami sering bekerja sama dengan komunitas dalam program seperti diskusi buku dan donasi buku. Ini membantu memperluas dampak program literasi kami di luar lingkungan sekolah. " . (Elmirawati. Wawancara. November 28,2. Program literasi di MTs/MA Al-Kifayah Riau menggunakan pendekatan yang luas dan Perpustakaan telah menjadi pusat literasi yang mendukung pembelajaran abad ke-21 dengan fokus pada literasi berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat. Kolaborasi antara pustakawan, guru, siswa, dan masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan literasi digital secara menyeluruh. Perpustakaan membuat pencarian informasi lebih mudah bagi siswa dengan penggunaan teknologi seperti SLiMS dan aplikasi android. Sementara itu, baik guru maupun siswa harus diberi pelatihan untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan sebaik mungkin dalam proses pembelajaran. Kepala sekolah menegaskan betapa pentingnya program ini: Perpustakaan adalah pusat literasi kami. Dengan program berbasis teknologi, mereka mendukung siswa untuk mengembangkan keterampilan literasi yang relevan dengan era digital. Ay (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Kesuksesan program ini menunjukkan bahwa perpustakaan dapat menjadi pilar utama dalam mendukung gerakan literasi di era digital, dengan perencanaan yang baik, dukungan teknologi, dan keterlibatan berbagai pihak. Madrasah tidak hanya memperoleh keuntungan dari hal ini, tetapi juga membantu mereka mencapai tujuan mereka sebagai institusi pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Tahapan Evaluasi Di MTs/MA Al-Kifayah Riau, evaluasi adalah bagian penting dari manajemen program Proses ini memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, memberikan dampak nyata bagi siswa dan pendidik, dan menemukan area mana yang perlu diperbaiki. Evaluasi kinerja, evaluasi hasil, dan rekomendasi perbaikan adalah tiga mekanisme utama yang digunakan untuk melakukan evaluasi. Program dievaluasi untuk mengetahui seberapa efektif pelaksanaannya . ustakawan, guru, dan tim pendukung lainny. Kepala perpustakaan dan kepala madrasah masingmasing bertanggung jawab untuk mengawasi pelaksanaan tugas pustakawan. Di sisi lain, kepala madrasah bertanggung jawab untuk menilai kontribusi guru dalam penerapan literasi digital di kelas. Kepala sekolah menjelaskan selama wawancara: Kami memastikan setiap anggota tim pelaksana bekerja sesuai perannya. Evaluasi ini penting untuk menjaga konsistensi dan efektivitas program. (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Selain itu, pendidik menilai keberhasilan pelatihan guru dan siswa. Mereka menilai seberapa baik guru dapat menggunakan teknologi dalam pembelajaran dan sejauh mana siswa memahami dan menggunakan literasi digital untuk mendukung pembelajaran. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Sasaran program dievaluasi. Peningkatan keterlibatan siswa dalam aktivitas literasi digital adalah salah satu indikator keberhasilan. Kepala perpustakaan menyatakan bahwa salah satu metode evaluasi utama adalah penilaian kepuasan siswa dan guru: Kami melakukan survei untuk mengetahui apakah layanan perpustakaan sudah memenuhi kebutuhan siswa dan guru. Hasilnya membantu kami mengukur keberhasilan program. (Elmirawati. Wawancara. November 28,2. Selain survei, keberhasilan program juga diukur dengan data kuantitatif, seperti jumlah siswa yang menggunakan fasilitas digital perpustakaan, tingkat peminjaman buku, dan partisipasi siswa dalam kegiatan literasi. Seorang siswa mengatakan saat diwawancarai: "Saya sering menggunakan layanan internet perpustakaan untuk tugas sekolah saya, dan saya pikir ini sangat membantu dalam menyelesaikan tugas saya dengan lebih cepat. " . (Wahyu. Wawancara. November 28,2. Hasil evaluasi sering menunjukkan area yang perlu diperbaiki. Hasilnya akan digunakan oleh tim evaluasi untuk membuat saran untuk perbaikan program. Misalnya, jika ditemukan bahwa inventaris bahan bacaan digital perpustakaan kurang, perpustakaan akan mempertimbangkan untuk menambah inventaris tersebut dalam rencana kerja tahunan Kepala perpustakaan menekankan bahwa perbaikan berkelanjutan sangat penting: "Evaluasi bukan hanya menilai keberhasilan, tetapi juga mencari cara untuk meningkatkan Jika ada kekurangan, kami akan memperbaikinya untuk program berikutnya. " . Elmirawati. Wawancara. November 28,2. Selain itu, saran perbaikan mencakup peningkatan pelatihan untuk pustakawan dan guru agar mereka dapat menggunakan teknologi digital dengan lebih baik. Kepala sekolah Kami terus mendorong kompetensi guru dan pustakawan agar mereka dapat memberikan layanan siswa yang lebih baik. (Asmidaryani. Wawancara. November 28,2. Hasil dari evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh di MTs/MA Al-Kifayah Riau memastikan bahwa program literasi tidak hanya berjalan sesuai rencana tetapi juga memiliki efek positif yang nyata. Madrasah dapat terus meningkatkan program literasi digital mereka dengan menilai kinerja individu dan kelompok, menganalisis hasil pencapaian program, dan memberikan saran untuk perbaikan. Secara teratur, evaluasi membantu perpustakaan menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa dan guru. Ini memastikan bahwa program literasi tetap relevan dan berguna untuk pembelajaran di abad ke-21. Pencapaian Utama Digitalisasi perpustakaan di MTs/MA Al-Kifayah Riau telah menunjukkan hasil yang signifikan, mencapai target 80% sesuai Rencana Kerja Madrasah (RKM). Berbagai elemen layanan perpustakaan, seperti penggunaan katalog elektronik dan Sistem Manajemen Perpustakaan Senayan (SLiMS), telah diintegrasikan dengan sukses dalam program ini. Baik di perpustakaan maupun di perangkat pribadi, sistem ini memudahkan siswa dan pendidik Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah mengakses informasi dengan lebih efektif. Menurut seorang pustakawan. SLiMS menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi siswa untuk menemukan buku dan bahan referensi tanpa kendala teknis. Lebih dari 2. 762 judul dan 6. 373 eksemplar buku digital telah ditambahkan ke koleksi Bahan bacaan islami, literatur akademik, dan referensi populer yang relevan dengan kebutuhan siswa dimasukkan dalam koleksi ini. Sebagaimana ditunjukkan dalam dokumentasi, sebagian besar koleksi ini dapat diakses melalui perangkat komputer yang ada di perpustakaan atau yang dapat ditemukan secara online. Siswa terlihat menggunakan koleksi digital ini secara aktif untuk mendukung pembelajaran dan menyelesaikan tugas Menurut seorang siswa, koleksi buku digital sangat bermanfaat karena memungkinkan akses cepat tanpa bergantung pada buku fisik. Perpustakaan memiliki fasilitas modern untuk mendukung literasi digital, seperti katalog elektronik, internet gratis, dan pojok multimedia. Katalog elektronik memudahkan siswa mencari koleksi secara mandiri, sementara akses internet memungkinkan mereka mencari lebih banyak informasi dan menyelesaikan tugas dengan lebih cepat. Siswa sekarang dapat menggunakan komputer dan proyektor untuk belajar menggunakan teknologi di pojok Observasi menunjukkan bahwa siswa sering menggunakan fasilitas ini, dan kepala perpustakaan menekankan bahwa ketersediaan fasilitas kontemporer mendorong siswa untuk mengunjungi perpustakaan lebih sering. Pengembangan layanan berbasis android, yang memungkinkan siswa mengakses katalog perpustakaan melalui perangkat seluler mereka, adalah salah satu inovasi yang paling Siswa dapat mencari buku, membaca sinopsis, dan memeriksa ketersediaan koleksi kapan saja dan di mana saja dengan aplikasi ini. Siswa menganggap layanan ini sangat membantu, menurut observasi, terutama ketika mereka tidak dapat mengunjungi perpustakaan secara langsung. Menurut seorang siswa, layanan berbasis android sangat memudahkan tugasnya karena memungkinkan akses informasi dengan lebih fleksibel. Kepala sekolah juga mengapresiasi inovasi ini, menganggapnya sebagai langkah penting untuk menjaga perpustakaan tetap relevan di era teknologi. Perpustakaan MTs/MA Al-Kifayah Riau telah berhasil menjadi pusat pembelajaran digital yang efektif berkat digitalisasi yang hampir tuntas, koleksi buku digital yang kaya, fasilitas modern, dan layanan berbasis android. Observasi dan dokumentasi mendukung penggunaan aktif layanan oleh siswa dan guru, yang menjadikannya komponen penting dari proses belajar-mengajar. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah melampaui fungsinya sebagai penyedia bahan bacaan dan telah berubah menjadi tempat yang bertanggung jawab untuk mengembangkan literasi yang relevan di era kontemporer. Hasil penelitian didukung penelitian Sardani at al . menunjukkan bahwa perpustakaan wajib memiliki program literasi digital yang dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis. Program ini berhasil mengintegrasikan teknologi digital ke dalam layanan perpustakaan, menjadikannya sebagai pusat literasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang. (Tarigan et al. , 2. menyatakan alaupun Sebagian besar target program literasi tercapai, tetapi masih ada beberapa area di mana program perlu diperbaiki. Misalnya, meskipun jumlah koleksi digital yang tersedia terus meningkat, ketersediaan harus disesuaikan dengan persyaratan kurikulum terbaru. Selain itu, guru dan siswa harus dilatih secara rutin untuk menjaga keterampilan mereka tetap relevan dengan kemajuan teknologi. Selain itu. Anda dapat memperluas kolaborasi dengan pihak eksternal, misalnya melalui kemitraan dengan universitas atau lembaga penelitian untuk meningkatkan sumber daya Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Sistem Manajemen Perpustakaan Dalam Mendukung Implementasi Gerakan Literasi Sekolah KESIMPULAN Program literasi digital di MTs/MA Al-Kifayah Riau didasarkan pada Rencana Kerja Madrasah (RKM). Ini termasuk meninjau program tahun sebelumnya dan menyesuaikannya dengan perubahan lingkungan internal dan eksternal. Peningkatan kapasitas sumber daya menjadi fokus utama untuk mendukung pelaksanaan program ini. Ini mencakup pengembangan pustakawan melalui pelatihan, seminar, dan kesempatan studi lanjut ke jenjang magister, serta penambahan koleksi buku dan peningkatan fasilitas seperti komputer, internet, dan aplikasi pendidikan. Selain itu, layanan perpustakaan harus berbasis Salah satu contohnya adalah Sistem Manajemen Perpustakaan Senayan (SLiMS), yang mempermudah pengelolaan koleksi. Kepala madrasah dan pustakawan berpartisipasi dalam penyusunan program tahunan untuk memastikan bahwa program yang dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi madrasah. Tiga pendekatan utama digunakan untuk menerapkan program literasi digital: literasi berbasis kelas, yang melibatkan penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran. literasi berbasis budaya sekolah, yang memperkuat budaya literasi digital melalui peningkatan koleksi bahan bacaan digital, penyediaan akses internet, dan penggunaan media sosial untuk mendorong kegiatan literasi. dan literasi berbasis masyarakat, yang mencakup kerja sama dengan pemerintah dan perpustakaan wilayah untuk mendorong kegiatan literasi. Proses evaluasi terdiri dari penilaian kinerja individu dan kelompok pelaksana program, penilaian pencapaian sasaran, seperti peningkatan keterlibatan siswa dalam literasi digital, dan penyusunan rekomendasi untuk langkah-langkah perbaikan yang dapat diambil untuk pengembangan program. Salah satu pencapaian utama program ini adalah digitalisasi perpustakaan yang mencapai 80% sesuai koleksi buku digital mencapai lebih dari 2. 762 judul dan 6. 373 eksemplar. fasilitas modern seperti katalog elektronik dan pojok multimedia. dan inovasi layanan berbasis android yang membuat siswa lebih mudah mengakses koleksi perpustakaan. REFERENSI