AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN : 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : 10. 35931/am. KRITIK TERHADAP HERMENEUTIKA DALAM TAFSIR AL-QUR'AN: PERSPEKTIF ULAMA TRADISIONAL DAN KONTEMPORER Al Fiqri Ardiansyah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara fiqrial778@gmail. Abstrak Penelitian ini membahas kritik terhadap hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'an dari perspektif ulama tradisional dan kontemporer, dengan tujuan mengeksplorasi potensi pendekatan integratif antara hermeneutika dan ushul tafsir. Ulama tradisional, seperti Al-Suyuti dan Ibn Taymiyyah, menolak hermeneutika karena dianggap bertentangan dengan epistemologi Islam yang berbasis wahyu dan syariat. Sebaliknya, ulama kontemporer, seperti Fazlur Rahman dan Nasr Hamid Abu Zayd, mengadopsi pendekatan yang lebih kontekstual, meskipun tidak terlepas dari kontroversi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis isi dan komparatif terhadap teks-teks primer dan sekunder, seperti kitab tafsir klasik (Tafsir al-Jalalayn. Al-Itqan fi Ulum al-Qur'a. dan karya kontemporer (Islam and Modernity. Al-Nash wa al-Sulta. Temuan penelitian menyoroti pentingnya pendekatan integratif yang menggabungkan fleksibilitas hermeneutika dengan keutuhan prinsip ushul tafsir. Penelitian menunjukkan bahwa integrasi ini berpotensi menghasilkan metodologi tafsir yang lebih relevan dan responsif terhadap tantangan kontemporer tanpa mengorbankan otoritas teks wahyu. Model seperti Tafsir Maqasidi dan pendekatan kontekstual Quraish Shihab menjadi contoh konkrit bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya wacana tafsir Al-Qur'an di era modern. Kata kunci: Hermeneutika. Tafsir Al-Qur'an. Ushul Tafsir. Kritik Epistemologi. Pendekatan Integratif Abstract This study discusses criticism of hermeneutics in Qur'anic exegesis from the perspective of traditional and contemporary scholars, with the aim of exploring the potential of an integrative approach between hermeneutics and ushul tafsir. Traditional scholars, such as Al-Suyuti and Ibn Taymiyyah, reject hermeneutics because it is considered contrary to Islamic epistemology based on revelation and sharia. In contrast, contemporary scholars, such as Fazlur Rahman and Nasr Hamid Abu Zayd, adopt a more contextual approach, although it is not free from controversy. This research uses qualitative methods with content and comparative analysis of primary and secondary texts, such as classical tafsir books (Tafsir al-Jalalayn. AlItqan fi Ulum al-Qur'a. and contemporary works (Islam and Modernity. Al-Nash wa al-Sulta. The research findings highlight the importance of an integrative approach that combines hermeneutical flexibility with the integrity of ushul tafsir principles. The research shows that this integration has the potential to produce tafsir methodologies that are more relevant and responsive to contemporary challenges without compromising the authority of the revealed text. Models such as Tafsir Maqasidi and Quraish Shihab's contextual approach are concrete examples of how this approach can be applied. This research makes an important contribution in enriching the discourse of Qur'anic interpretation in the modern era. Keywords: Hermeneutics. Interpretation of the Qur'an. Ushul Tafsir. Epistemological Criticism. Integrative Approach Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer PENDAHULUAN Hermeneutika, yang merupakan metodologi interpretasi teks dari tradisi Barat, telah memicu perdebatan yang signifikan dalam dunia keilmuan Islam, khususnya dalam konteks tafsir Al-Qur'an. Pendekatan ini menekankan pentingnya konteks baik historis, budaya, maupun ideologis dalam memahami sebuah teks, suatu pandangan yang sering dianggap bertentangan dengan prinsipprinsip interpretasi Islam tradisional. 1 Para ulama tradisional, yang berpegang pada epistemologi klasik Islam, berpendapat bahwa tafsir Al-Qur'an harus sepenuhnya bersandar pada teks-teks fundamental seperti Al-Qur'an dan Hadis untuk menjaga kemurnian teologis. Hermeneutika, yang dipandang sebagai produk paradigma sekuler dan rasionalisme Barat, sering kali menimbulkan keraguan terkait kompatibilitasnya dengan tradisi interpretasi Islam. 2 Perdebatan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas antara menjaga metodologi klasik dan merespons tantangan intelektual Sebaliknya, kalangan ulama kontemporer berupaya mengadaptasi hermeneutika secara lebih bijaksana, mengeksplorasi potensinya dalam memperkaya tafsir Al-Qur'an tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar Islam. Ulama seperti Fazlur Rahman menganjurkan pendekatan yang sensitif terhadap konteks, sementara Nasr Hamid Abu Zayd menggunakan hermeneutika untuk mengkritik tafsir-tafsir tradisional, yang memunculkan dukungan sekaligus kontroversi. Dinamika ini mendorong kebutuhan akan metodologi integratif yang dapat menjembatani perbedaan pendekatan tersebut, mencerminkan perkembangan keilmuan Islam dalam arus pemikiran modern. Penggunaan hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'an menimbulkan permasalahan serius terkait keselarasan metode ini dengan epistemologi Islam. Para ulama tradisional mengkritik hermeneutika sebagai pendekatan yang tidak sejalan dengan prinsip Islam karena bersandar pada rasionalisme Barat yang sekuler, yang dinilai dapat mengurangi sifat ilahiah Al-Qur'an. 6 Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: dapatkah hermeneutika yang berasal dari tradisi sekuler direkonsiliasi dengan dimensi sakral dari keilmuan Islam? Selain itu, ketiadaan kerangka kerja Iis Kholilah. AuHermeneutics of Nationality Fiqh: Study of Bahtsul Masail of Lirboyo Alumni Association,Ay Khazanah Jurnal Studi Islam Dan Humaniora 17, no. https://doi. org/10. 18592/khazanah. Liyakat Takim. AuThe Concept Islamic Reformation,Ay https://doi. org/10. 1093/oso/9780197606575. Irma Riyani and Ecep Ismail. AuQgod Is Beyond Sex/Genderq Muslim Feminist Hermeneutical Method To The QurAoan,Ay 2018, https://doi. org/10. 2991/icqhs-17. Amina Wadud. AuReflections on Islamic Feminist Exegesis of the QurAoAn,Ay Religions 12, no. , https://doi. org/10. 3390/rel12070497. Ines Peta. AuAumad AmnAos Rationalist Approach to the QurAoAn and Sunnah,Ay Religions 13, no. , https://doi. org/10. 3390/rel13030234. Kholilah. AuHermeneutics of Nationality Fiqh: Study of Bahtsul Masail of Lirboyo Alumni Association. Ay Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer integratif untuk mendamaikan perbedaan antara pandangan tradisionalis dan kontemporer semakin memperumit diskursus ini. Solusi untuk permasalahan ini terletak pada pengembangan metodologi yang mengintegrasikan wawasan kritis hermeneutika dengan landasan epistemologi Islam. Dengan memanfaatkan kekuatan kedua paradigma, para sarjana dapat membangun pendekatan yang lebih inklusif untuk tafsir Al-Qur'an, yang mengakui konteks historis dan budaya tanpa mengorbankan integritas teologis. 7 Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan ini dengan membandingkan secara sistematis kritik dari ulama tradisional dan kontemporer, mengidentifikasi area persamaan dan perbedaan, serta menawarkan kerangka kerja integratif. Ulama tradisional seperti al-Suyuti dan Ibn Kathir menekankan pentingnya ilmu-ilmu klasik Islam dan menyatakan bahwa hermeneutika, dengan asal-usulnya yang sekuler, menyimpang dari petunjuk ilahiah Al-Qur'an. Karya-karya seperti Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an menegaskan metodologi tafsir yang berakar pada usl al-fiqh dan prinsip-prinsip epistemologi klasik. Pendekatan ini mengkritik hermeneutika karena dianggap lebih mengutamakan akal manusia dibandingkan wahyu ilahi, yang berpotensi menghasilkan interpretasi yang tidak sesuai dengan teologi Islam. Sebaliknya, ulama kontemporer seperti Fazlur Rahman mengusulkan pendekatan tafsir AlQur'an yang kontekstual, menggunakan hermeneutika untuk menjembatani kesenjangan antara tafsir klasik dan tantangan modern. 8 Teori double movement Rahman, misalnya, mengintegrasikan analisis konteks dengan kesetiaan pada teks, menawarkan model interpretasi yang relevan dengan isu-isu kontemporer. Nasr Hamid Abu Zayd juga menggunakan hermeneutika untuk mengkritik tafsir tradisional, dengan menekankan realitas sosial-politik, meskipun pendekatannya mendapat kritik keras karena dianggap melemahkan kesakralan Al-Qur'an. Literatur menunjukkan bahwa integrasi epistemologi Islam dengan prinsip-prinsip hermeneutika tertentu dapat menghasilkan kerangka kerja tafsir yang seimbang. Pendekatan ini mengakui dimensi kontekstual Al-Qur'an sambil menjaga status ilahiahnya, sejalan dengan seruan untuk pluralisme metodologis dalam keilmuan Islam. 10 Sinergi perspektif ini menawarkan jalan yang menjanjikan untuk menyelesaikan ketegangan antara tradisi dan modernitas dalam tafsir AlQur'an. Waseem A Gul. AuStrategy: Can a Research Methodology Be Proposed From Islamic Sources of Knowledge?,Ay International Business Research 12, no. , https://doi. org/10. 5539/ibr. Riyani and Ismail. AuQgod Is Beyond Sex/Genderq Muslim Feminist Hermeneutical Method To The QurAoan. Ay Wadud. AuReflections on Islamic Feminist Exegesis of the QurAoAn. Ay Saeed Ghazipour. Mehdi Shirazi, and Seyedeh F H Mirsafi. AuThe Necessity of Redefining and Presenting a New Perception on the Comprehensive Interpretation of the Holy Quran,Ay Propysitos Y Representaciones 9, no. SPE2 . , https://doi. org/10. 20511/pyr2021. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer Meski keilmuan Islam memiliki kekayaan yang melimpah, terdapat kesenjangan kritis dalam membandingkan secara eksplisit kritik terhadap hermeneutika oleh ulama tradisional dan Studi yang ada sering kali hanya berfokus pada satu perspektif, sehingga kurang mengeksplorasi interaksi kompleks antara pendekatan-pendekatan tersebut. Misalnya, kritik alSuyuti dan Ibn Kathir menyoroti risiko teologis hermeneutika, tetapi kurang mengeksplorasi kontribusi analitisnya. Sebaliknya, tokoh seperti Fazlur Rahman dan Abu Zayd mengeksplorasi penerapan hermeneutika, tetapi kurang memperhatikan implikasi epistemologisnya. Selain itu, masih sedikit penelitian yang mendalami bagaimana hermeneutika dapat diadaptasi dalam kerangka epistemologi Islam untuk menjawab tantangan kontemporer. Kesenjangan ini khususnya terlihat dalam kurangnya sintesis metodologi yang mengintegrasikan analisis historis, linguistik, dan relevansi kontemporer dengan prinsip-prinsip Islam tradisional. Kekurangan ini menekankan perlunya kajian komprehensif yang dapat mendamaikan pendekatanpendekatan berbeda ini sambil tetap menghormati kesakralan teologi Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan secara kritis perspektif ulama tradisional dan kontemporer terhadap penerapan hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'an. Dengan mengkaji argumen kedua kelompok, penelitian ini berupaya mengidentifikasi area persamaan dan perbedaan, serta menawarkan kerangka kerja integratif yang menyelaraskan hermeneutika dengan epistemologi Islam. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan sistematis dalam membandingkan kritik tradisionalis dan adaptasi kontemporer, yang mengisi kesenjangan dalam literatur yang ada serta berkontribusi pada pengembangan metodologi tafsir yang lebih komprehensif. Ruang lingkup penelitian meliputi kritik mendasar terhadap hermeneutika oleh ulama tradisional, seperti dalam karya Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an, serta metodologi adaptif yang diusulkan oleh tokoh kontemporer seperti Fazlur Rahman dan Abu Zayd. Penelitian ini juga mengeksplorasi potensi integrasi kedua perspektif tersebut dalam pendekatan tafsir Al-Qur'an yang menghormati dimensi sakralnya sekaligus merespons realitas kontekstual dunia modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengandalkan sumber data primer dan sekunder untuk menggali kritik terhadap hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'an. Sumber primer meliputi kitab tafsir klasik seperti Tafsir al-Jalalayn oleh Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin alSuyuti, yang menekankan penguasaan bahasa Arab klasik sebagai dasar interpretasi wahyu. Selain Peta. AuAumad AmnAos Rationalist Approach to the QurAoAn and Sunnah. Ay Muh B N Wajdi et al. AuUnderstanding the Quran Holistically: Interdisciplinary Study of the Language and Linguistics of the Quran,Ay Basa Journal of Language & Literature 3, no. https://doi. org/10. 33474/basa. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer itu. Tafsir al-Mazhari karya Qadi Thanaullah Panipati menjadi referensi penting karena mengintegrasikan sensitivitas sosial tanpa mengabaikan prinsip syariat. Untuk menelaah perspektif modern, digunakan karya seperti Islam and Modernity oleh Fazlur Rahman, yang mengembangkan metode double movement, dan Al-Nash wa al-Sultan oleh Nasr Hamid Abu Zayd, yang menyoroti pentingnya konteks historis dalam interpretasi teks. Data sekunder mencakup literatur terkait epistemologi Islam, artikel jurnal, dan buku seperti Contemporary Issues in Islam and Science oleh Ziauddin Sardar, yang mendiskusikan relevansi Al-Qur'an dalam konteks ilmu pengetahuan Sebagai penelitian kepustakaan . ibrary researc. , proses pengumpulan data diawali dengan identifikasi teks-teks primer dan sekunder. Kitab tafsir klasik, seperti Al-Itqan fi Ulum alQur'an oleh Al-Suyuti, dianalisis untuk menggali kritik tradisional terhadap hermeneutika. Sumber sekunder berupa artikel jurnal dan literatur modern juga dikumpulkan untuk memahami bagaimana metode hermeneutika diterapkan dalam tafsir kontemporer. Selanjutnya, data-data ini dikelompokkan berdasarkan tema, seperti kritik epistemologis dan normatif, untuk memudahkan analisis mendalam. Teks-teks yang relevan kemudian diorganisasikan secara sistematis, misalnya dengan memisahkan pandangan Fazlur Rahman mengenai historisitas teks dari pendekatan kritis Nasr Hamid Abu Zayd. Penelitian ini menggunakan tiga teknik analisis utama. Pertama, metode analisis isi . ontent analysi. diterapkan untuk mengidentifikasi tema dan pola dalam teks. Pandangan Fazlur Rahman tentang double movement dianalisis untuk memahami bagaimana historisitas teks dapat diterapkan dalam tafsir modern. Kedua, analisis komparatif dilakukan untuk membandingkan kritik terhadap hermeneutika antara ulama tradisional dan kontemporer. Sebagai contoh, perbedaan metodologis antara pendekatan Al-Suyuti dalam Al-Itqan dan metode kritis Abu Zayd dikaji untuk menyoroti perbedaan epistemologi. Ketiga, metode hermeneutika filosofis digunakan untuk memahami bagaimana hermeneutika dipahami dan dikritik dalam konteks epistemologi Islam, seperti yang diuraikan Abdullah Saeed dalam Hermeneutika Al-Qur'an. Analisis dalam penelitian ini berfokus pada beberapa parameter utama. Pertama, aspek epistemologi menjadi perhatian utama, dengan membandingkan prinsip-prinsip dasar pengetahuan dalam Islam dengan pendekatan hermeneutika Barat. Hal ini merujuk pada gagasan Jasser Auda dalam Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law, yang menekankan pentingnya tujuan syariat dalam interpretasi teks. Kedua, keseimbangan antara pendekatan kontekstual dan tradisional dianalisis melalui pandangan Quraish Shihab dalam Al-Qur'an dan Metodologi Tafsir, yang mengintegrasikan fleksibilitas modern dengan prinsip klasik. Ketiga, parameter komparasi metodologi digunakan untuk mengidentifikasi peluang rekonsiliasi antara hermeneutika dan ushul tafsir, seperti yang dijelaskan dalam karya Mohammad Arkoun tentang reformasi pemikiran Islam. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer Sebagai penelitian kualitatif, analisis dilakukan melalui pendekatan deskriptif dan Teknik content analysis digunakan untuk mengorganisasi data berdasarkan tema utama, seperti kritik epistemologis dan normatif terhadap hermeneutika. Sebagai contoh, tema kritik tradisional yang diangkat oleh Ibn Taymiyyah dalam Muqaddimah Tafsir dibandingkan dengan pandangan kontemporer seperti yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd. Selanjutnya, temuan ini diinterpretasikan dalam konteks sosial dan budaya untuk memahami bagaimana pandangan ulama terbentuk dan berkembang. Analisis ini dilengkapi dengan metode komparatif untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan dalam pendekatan tafsir tradisional dan modern, serta relevansi pandangan mereka terhadap tantangan kontemporer. Metodologi ini memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk menggali kritik terhadap hermeneutika sekaligus mengeksplorasi potensi integrasinya dengan ushul tafsir. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan temuan yang mendalam, kredibel, dan relevan dengan kebutuhan HASIL DAN PEMBAHASAN Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Analisis Epistemologi Epistemologi hermeneutika sebagai metode tafsir Al-Qur'an dengan membandingkannya dengan usul tafsir Islam. Hermeneutika berakar pada tradisi Barat, digunakan untuk menafsirkan teks klasik dan religius dengan menitikberatkan pada historisitas dan konteks budaya teks. Pendekatan ini menghadirkan tantangan dalam tafsir Al-Qur'an karena, berbeda dengan pendekatan Islam yang berbasis wahyu, hermeneutika menempatkan manusia sebagai otoritas utama dalam interpretasi teks, mengesampingkan dimensi ilahiah. Ulama klasik seperti al-Suyuti menegaskan pentingnya penguasaan ulum al-Qur'an untuk menjaga otentisitas tafsir. Dalam Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an, al-Suyuti menyatakan bahwa seorang mufasir harus memahami lughah dan riwayat terkait wahyu untuk menafsirkan Al-Qur'an. Sebaliknya, hermeneutika yang berfokus pada analisis historis dianggap dapat mengaburkan dimensi ilahiah teks. Di sisi lain. Mustansir Mir menyatakan bahwa hermeneutika dapat menjadi alat yang berguna dalam tafsir Al-Qur'an jika diterapkan dalam kerangka epistemologi Islam, yang mengakui asal-usul ilahiah Al-Qur'an. Secara prinsipil, usul tafsir Islam dan hermeneutika Barat memiliki pendekatan yang berbeda terhadap teks suci. Dalam tafsir Islam, sumber utama interpretasi adalah Al-Qur'an dan Mustansir Mir. Hermeneutics and the QurAoan, (Oxford University Press, 1. , hlm. Yasir Qadi. Introduction to the Principles of QurAoanic Exegesis, (Al-Hidaayah Publishing, 1. Jalaluddin al-Suyuti. Al-Itqan Fi Ulum Al-QurAoan. Juz I, h 25. Mustansir Mir. Hermeneutics and the QurAoan, h 32-35. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer Hadis yang harus dipahami dalam kerangka wahyu, didukung oleh kaidah linguistik Arab dan tujuan syari'ah . aqasid syari'a. 17Sebaliknya, hermeneutika Barat lebih menekankan penggunaan akal budi dan pengaruh konteks historis dalam membentuk makna teks. Perbandingan dengan literatur menunjukkan bahwa meskipun usul tafsir Islam cenderung lebih kaku dalam kerangka metodologisnya, pendekatan ini tetap memastikan bahwa interpretasi tidak menyimpang dari nilai-nilai Islam. Kritik terhadap hermeneutika mencakup kekhawatiran bahwa penekanan pada konteks dapat mengikis otoritas wahyu, seperti yang dikemukakan oleh Yasir Qadhi, bahwa metodologi tafsir Islam harus tunduk pada panduan ilahi, bukan rasionalitas Namun. Mir menyoroti bahwa dengan adaptasi yang tepat, hermeneutika dapat menambah kedalaman dalam memahami konteks Al-Qur'an tanpa kehilangan sifat ilahiahnya. Pendekatan hermeneutika modern juga telah digunakan untuk menyoroti isu-isu kontemporer, seperti tafsir feminis yang menantang interpretasi patriarkal, tetapi ini tetap kontroversial di kalangan ulama tradisional 19 Literatur terbaru menunjukkan perlunya dialog antara pendekatan tradisional dan modern untuk menciptakan metodologi tafsir yang lebih relevan secara kontekstual namun tetap menjaga prinsip Islam. 20 Temuan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan epistemologis yang mendalam antara hermeneutika Barat dan usul tafsir Islam, namun juga mengungkapkan potensi integrasi yang dapat menjembatani kesenjangan tersebut. Dengan menyelaraskan prinsip-prinsip hermeneutika yang menekankan kontekstualitas dengan fondasi epistemologi Islam yang berbasis wahyu, interpretasi Al-Qur'an dapat lebih relevan di era modern tanpa mengorbankan nilai-nilai inti Islam. Implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya pendekatan yang lebih fleksibel dalam tafsir Al-Qur'an, terutama untuk menjawab tantangan intelektual dan sosial kontemporer. Contohnya, analisis kontekstual yang ditawarkan oleh hermeneutika dapat membantu memperkaya pemahaman terhadap isu-isu seperti kesetaraan gender atau keadilan sosial dalam kerangka nilai Islam21 Selain itu, adaptasi hermeneutika dalam kerangka epistemologi Islam dapat memberikan landasan yang kuat untuk dialog lintas budaya dan agama. Pendekatan ini memungkinkan Muslim untuk menavigasi diskursus global tanpa kehilangan identitas dan prinsip syariAoah mereka. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka kerja interpretasi yang lebih Jalaluddin al-Suyuti. Al-Itqan Fi Ulum Al-QurAoan. Juz I, h 25. Mustansir Mir. Hermeneutics and the QurAoan, h 32-35. Riyani and Ismail. AuQgod Is Beyond Sex/Genderq Muslim Feminist Hermeneutical Method To The QurAoan. Ay Ahmad Zayyadi and Nurlaela Nurlaela. AuNo Title,Ay Matan Journal of Islam and Muslim Society 2, no. , https://doi. org/10. 20884/1. Riyani and Ismail. AuQgod Is Beyond Sex/Genderq Muslim Feminist Hermeneutical Method To The QurAoan. Ay Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer integratif dan holistik, yang tidak hanya relevan secara akademis tetapi juga aplikatif dalam kehidupan umat Muslim modern. Kritik Ulama Tradisional terhadap Hermeneutika: Perspektif Normatif dan Epistemologis Kritik ulama tradisional terhadap hermeneutika berakar pada dua dimensi utama, yaitu normatif dan epistemologis. Dalam dimensi normatif, hermeneutika dipandang tidak sesuai dengan syariat Islam karena pendekatan ini berasal dari tradisi Barat yang cenderung memisahkan aspek spiritual dari teks suci. Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, dalam Tafsir al-Jalalayn, menekankan pentingnya memahami Al-Qur'an dengan konteks bahasa Arab klasik dan tradisi Islam. Mereka memperingatkan bahwa pendekatan asing seperti hermeneutika tidak menghormati status Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi dan dapat menyebabkan kesalahan tafsir. Dari sisi epistemologis, ulama tradisional seperti Ibn Taymiyyah menyoroti bahwa hermeneutika mengabaikan prinsip dasar ilmu dalam Islam, yakni bahwa pengetahuan berasal dari Allah dan harus didekati dengan metode yang tunduk pada wahyu. Dalam Muqaddimah Tafsir, ia menegaskan bahwa tafsir yang sah harus bersumber dari Al-Qur'an itu sendiri, hadis Nabi, dan perkataan para sahabat. Ia mengkritik metode rasionalis seperti hermeneutika yang menempatkan akal di atas wahyu, yang menurutnya adalah bentuk penyimpangan epistemologis. Kritik normatif yang diajukan oleh ulama tradisional menyoroti perbedaan mendasar antara hermeneutika Barat dan usul tafsir Islam. Dalam tradisi Islam, metode tafsir bertujuan untuk menjaga otoritas wahyu dan memastikan bahwa interpretasi tidak menyimpang dari maqasid Jasser Auda, seorang sarjana kontemporer, juga menegaskan bahwa hermeneutika sering kali gagal menangkap dimensi spiritual teks karena terlalu berfokus pada analisis historis 24 Sebaliknya, hermeneutika dalam konteks Barat menekankan penggunaan rasionalitas dan analisis antropologis, yang dianggap para ulama tradisional dapat merusak otoritas Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi. 25 Literatur kontemporer juga mendukung kekhawatiran ini, menunjukkan bahwa hermeneutika sering kali menghasilkan interpretasi yang subjektif dan mengabaikan konteks teologis teks. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya menutup ruang untuk diskusi. Beberapa sarjana, seperti Khaled Abou El Fadl, menyarankan bahwa hermeneutika dapat menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan untuk memperkaya pemahaman terhadap Al-Qur'an tanpa mengabaikan Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti. Tafsir Al-Jalalayn. Juz I, (Dar al-MaAorifah, 2. Ibn Tayymiyah. Muqaddimah Tafsir, (Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , hlm. Syukur Prihantoro. AuMaqasid Al-SyariAoah Dalam Pandangan Jasser Auda (Sebuah Upaya Rekontruksi Hukum Islam Melalui Pendekatan Siste. ,Ay Jurnal At-Tafkir 10, no. https://doi. org/https://journal. id/index. php/at/article/view/235. Ibn Tayymiyah. Muqaddimah Tafsir, h 78-80. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer tradisi keilmuan Islam. Pendekatan ini menunjukkan bahwa hermeneutika tidak harus dipandang sebagai ancaman, tetapi dapat diadaptasi agar sesuai dengan kerangka epistemologi Islam. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kritik ulama tradisional terhadap hermeneutika berperan penting dalam mempertahankan otoritas wahyu dan nilai-nilai inti Islam. Dalam dimensi normatif, pendekatan ini melindungi Al-Qur'an dari potensi penyimpangan yang disebabkan oleh pengaruh metodologi asing seperti hermeneutika. Sementara itu, kritik epistemologis memberikan landasan untuk mempertahankan pendekatan berbasis wahyu sebagai sumber utama pengetahuan Islam. Implikasi praktis dari temuan ini mencakup kebutuhan untuk memperkuat pendidikan tafsir berbasis usul al-Qur'an, termasuk penguasaan kaidah lughawiyah dan maqasid syariat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa tafsir Al-Qur'an tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi spiritual dan teologisnya. Selain itu, temuan ini juga membuka peluang untuk dialog metodologis antara pendekatan tradisional dan modern. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip hermeneutika ke dalam kerangka epistemologi Islam, interpretasi Al-Qur'an dapat lebih responsif terhadap tantangan kontemporer, seperti isu-isu sosial, gender, dan keadilan. Pendekatan ini, meskipun menantang, dapat menciptakan kerangka kerja tafsir yang lebih holistik dan relevan bagi umat Muslim modern tanpa mengorbankan prinsip-prinsip Islam. Pandangan Ulama Kontemporer terhadap Hermeneutika: Pendekatan Fleksibel atau Kritik Konstruktif Pandangan ulama kontemporer terhadap hermeneutika mencerminkan pendekatan yang lebih fleksibel dibandingkan tradisi tafsir klasik. Fazlur Rahman, melalui metode double movement, menekankan pentingnya memahami latar sosial-historis wahyu Al-Qur'an sebelum menerapkannya dalam konteks modern. Dalam Islam and Modernity, ia menjelaskan bahwa pemahaman teks harus dimulai dengan analisis konteks sejarahnya, kemudian diekstraksi nilai-nilai universalnya untuk relevansi di masa kini. 26 Metode ini memungkinkan tafsir Al-Qur'an untuk tetap berhubungan dengan tantangan kontemporer tanpa mengorbankan otoritas ilahiahnya. Di sisi lain. Nasr Hamid Abu Zayd mengusulkan pendekatan kritis terhadap teks dengan melihat Al-Qur'an sebagai produk budaya yang berkembang. Dalam Al-Nash wa al-Sultan, ia menyoroti perlunya analisis terhadap pengaruh sosial dan budaya yang melingkupi wahyu, namun pendekatan ini memicu kontroversi karena dianggap mengurangi aspek sakral Al-Qur'an. Sementara itu. Daniel Brown dalam Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought memberikan Fazlur Rahman. Islam and Modernity, (University of Chicago Press, 1. , hlm. Nasr Hamid Abu Zayd. Al-Nash Wa Al-Sultan, . l-Markaz al-Thaqafi al-Arabi, 1. , hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer analisis bahwa usaha para sarjana seperti Rahman dan Abu Zayd bertujuan untuk menjembatani tradisi dan modernitas, meskipun sering menghadapi tantangan dari paradigma tafsir tradisional. Pendekatan fleksibel yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman menunjukkan keberhasilan dalam menciptakan kerangka kerja yang memungkinkan Al-Qur'an tetap relevan di era modern. Metode double movement yang menggabungkan analisis historis dengan penerapan kontekstual dinilai efektif untuk menjawab isu-isu kontemporer, seperti hak asasi manusia dan kesetaraan 28 Namun, metode ini juga menghadapi kritik karena dianggap membuka pintu terhadap interpretasi yang terlalu longgar dan berpotensi mengaburkan makna asli teks. Sebaliknya, pendekatan Abu Zayd yang menekankan dimensi budaya dan sosial dalam teks Al-Qur'an menghadapi resistensi yang lebih besar. Pemikirannya dianggap menantang ortodoksi Islam, khususnya terkait status Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi29 Meski demikian, pandangannya membuka ruang diskusi yang signifikan terkait pluralitas interpretasi, yang diabaikan oleh pendekatan tradisional. Analisis Daniel Brown menunjukkan bahwa meskipun kontroversial, gagasan Abu Zayd memberikan kontribusi penting dalam merekonstruksi metodologi tafsir modern. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya fleksibilitas dalam pendekatan tafsir Al-Qur'an yang kontekstual. Metode double movement Rahman memberikan kerangka yang memungkinkan nilai-nilai moral universal Al-Qur'an untuk terus relevan di tengah dinamika sosial-politik modern. Dengan memadukan analisis historis dan penerapan kontemporer, metode ini tidak hanya relevan tetapi juga memperkuat peran Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Muslim. Pendekatan Abu Zayd, meskipun menuai kontroversi, menantang status quo dalam tafsir tradisional dan memperluas wacana tentang bagaimana teks-teks suci dapat dipahami secara Perspektif ini memiliki implikasi praktis yang signifikan, terutama dalam menanggapi tantangan intelektual modern seperti globalisasi, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Implikasi praktis lainnya adalah perlunya dialog lintas pendekatan antara tafsir tradisional dan kontemporer. Kombinasi metode Rahman yang berbasis konteks dengan perhatian Abu Zayd pada dinamika sosial dapat menghasilkan kerangka kerja tafsir yang lebih holistik dan adaptif terhadap perubahan zaman. Hal ini sejalan dengan pandangan Daniel Brown bahwa rekonstruksi tradisi tafsir adalah kunci untuk memastikan bahwa Al-Qur'an tetap relevan tanpa kehilangan otoritas dan keilahiannya. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi pendekatan fleksibel dan kritik konstruktif berpotensi menciptakan metodologi tafsir yang lebih inklusif, relevan, dan tetap setia pada prinsip Ahmad S Ichsan. AuContextualization of Fazlur RahmanAos Thought Towards the Curriculum of Merdeka Belajar in Primary Education,Ay Sicee 1, no. , https://doi. org/10. 24235/sicee. Ali Akbar. AuPhilosophical Hermeneutics and Contemporary Muslim ScholarsAo Approaches to Interpreting Scripture,Ay Philosophy Social Criticism . , https://doi. org/10. 1177/0191453720931912. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer epistemologi Islam. Dialog antara tradisi dan modernitas menjadi kunci untuk menjawab tantangan intelektual umat Muslim di era globalisasi. Hermeneutika dan Kontekstualisasi Tafsir: Potensi dan Tantangan Hermeneutika menawarkan kerangka interpretatif yang memungkinkan Al-Qur'an dipahami secara lebih kontekstual, memperhatikan aspek historis, sosial, dan budaya saat teks tersebut diturunkan. Pendekatan ini menjadi penting dalam menjawab isu-isu kontemporer yang tidak secara eksplisit dibahas dalam teks suci. Sebagai contoh. Jasser Auda dalam Maqasid alShariah as Philosophy of Islamic Law menekankan bahwa pendekatan hermeneutika dapat digunakan untuk memahami tujuan syariat . aqasid al-shari'a. , menjadikannya relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Namun, potensi hermeneutika ini tidak lepas dari tantangan besar, terutama dalam menjaga otentisitas Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi. Banyak ulama tradisional khawatir bahwa hermeneutika dapat memindahkan fokus interpretasi dari dimensi ilahiah kepada perspektif manusiawi, yang dapat mengurangi otoritas teks suci. Kekhawatiran ini juga disoroti dalam Approaches to the Qur'an, di mana Abdul-Kader A. Shareef menekankan perlunya kehati-hatian dalam menerapkan metode hermeneutika agar tidak merusak integritas teks. Potensi hermeneutika dalam kontekstualisasi tafsir terlihat dari keberhasilannya menjembatani nilai-nilai universal Al-Qur'an dengan tantangan modern. Hamka, dalam Tafsir AlAzhar, menunjukkan bagaimana pendekatan kontekstual dapat mengintegrasikan kearifan lokal dengan ajaran Islam untuk menciptakan tafsir yang relevan dengan masyarakat Indonesia. Tafsir ini mengedepankan prinsip moderasi dan aplikasi praktis nilai-nilai Islam di tengah realitas sosial. Namun, kritik terhadap hermeneutika sebagai metode tafsir juga tidak dapat diabaikan. Abdullah Saeed menunjukkan bahwa interpretasi yang terlalu menekankan pada konteks historis dapat berisiko mengubah makna asli wahyu, seperti dalam pembahasan tentang peran gender dalam QS. An-Nisa 4:34. 33 Tantangan ini menjadi semakin nyata ketika hermeneutika diaplikasikan tanpa memperhatikan prinsip-prinsip dasar epistemologi Islam. Azyumardi Azra, dalam kajiannya tentang tafsir modern, menegaskan bahwa pendekatan hermeneutika harus tetap tunduk pada kerangka tradisional agar tidak menyimpang dari esensi wahyu. Jassar Auda. Maqasid Al-Shariah as Philosophy of Islamic Law, 2008, hlm. Hawting & Abdul-Kader A. Shareef. Approaches to the QurAoan, h 120 (Hawting & Shareef. Approaches to the QurAoan. Routledge, 1993, hlm. Anwar Mujahidin. AuThe Implication of Local Wisdom in Tafsir Al-Azhar on Moderate Islamic Thought Hamka,Ay Harakah Jurnal Budaya Islam https://doi. org/10. 18860/eh. Abdus Shomad. AuOtoritas Laki-Laki Dan Perempuan: Studi Penafsiran Kontekstual Abdullah Saeed Terhadap Qs. An-Nisa 4: 34,Ay Jurnal Aliflam Journal of Islamic Studies and Humanities 3, no. https://doi. org/10. 51700/aliflam. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer Temuan ini menunjukkan bahwa hermeneutika memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan zaman modern melalui tafsir yang relevan, tanpa mengabaikan nilai-nilai ilahiah. Pendekatan seperti Tafsir Maqasidi oleh Jasser Auda menawarkan jalan tengah yang memungkinkan hermeneutika beroperasi dalam kerangka maqasid al-shari'ah, menjaga tujuantujuan syariat sambil menghadirkan solusi kontekstual terhadap isu-isu kontemporer. Implikasi praktis dari temuan ini mencakup pengembangan metodologi tafsir yang lebih inklusif dan adaptif. Pendekatan kontekstual seperti yang dilakukan Hamka menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dan nilai-nilai Islam dapat memperkaya tafsir tanpa kehilangan pijakan pada prinsip-prinsip dasar. 34 Hal ini relevan dalam menjawab isu-isu seperti keadilan sosial, kesetaraan gender, dan globalisasi, yang membutuhkan solusi berbasis Islam yang aplikatif dan progresif. Namun, penting pula untuk memastikan bahwa metode hermeneutika tidak merusak integritas Al-Qur'an sebagai wahyu. Kritik yang diajukan oleh ulama tradisional dan tokoh seperti Abdullah Saeed menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara inovasi dan penghormatan terhadap teks suci harus selalu dijaga. Hermeneutika, meskipun kontroversial, memiliki potensi besar dalam kontekstualisasi tafsir Al-Qur'an jika diterapkan dengan hati-hati dalam kerangka epistemologi Islam. Pendekatan ini memungkinkan Al-Qur'an untuk tetap relevan sebagai pedoman hidup umat Muslim di era modern, sekaligus mempertahankan sifat transendentalnya sebagai wahyu ilahi. Rekonsiliasi Hermeneutika dan Ushul Tafsir: Pendekatan Integratif Pendekatan integratif antara ushul tafsir dan hermeneutika menawarkan kerangka kerja yang menggabungkan kekuatan dari kedua metodologi ini. Ushul tafsir menyediakan kerangka berbasis wahyu, seperti prinsip ulum al-Qur'an, untuk menjaga otoritas teks suci, sementara hermeneutika memperluas ruang interpretasi dengan memperhatikan dimensi kontekstual dan 35 Integrasi ini memungkinkan tafsir yang lebih relevan dengan tantangan modern tanpa mengorbankan nilai-nilai ilahiah Al-Qur'an. Contohnya adalah Qadi Thanaullah Panipati dalam Tafsir al-Mazhari, mengaplikasikan sensitivitas sosial dalam tafsirnya tanpa menyimpang dari prinsip-prinsip syariat. Metodologi ini sejalan dengan pandangan Quraish Shihab, yang dalam Al-Qur'an dan Metodologi Tafsir menekankan pentingnya fleksibilitas tafsir modern sambil tetap berakar pada tradisi klasik. Dengan menggabungkan metodologi tradisional dan modern, pendekatan integratif ini dapat menghasilkan tafsir yang aplikatif tetapi tetap otentik. Mujahidin. AuThe Implication of Local Wisdom in Tafsir Al-Azhar on Moderate Islamic Thought by Hamka. Ay Ahmad Von Denver. Approaches to the QurAoanic Sciences, (Islamic Foundation, 1983, hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer Pendekatan integratif memiliki keunggulan hermeneutika atau ushul tafsir. Ahmad von Denffer menggarisbawahi bahwa ulum al-Qur'an memberikan fondasi yang kuat dalam memahami teks suci, tetapi sering kali dianggap kurang responsif terhadap isu-isu kontemporer. Di sisi lain, hermeneutika menawarkan fleksibilitas yang memungkinkan interpretasi lebih relevan dengan konteks modern, tetapi berisiko mereduksi dimensi ilahiah teks. Kritik terhadap metode tafsir klasik yang terlalu kaku juga memicu seruan untuk pendekatan yang lebih adaptif. Menurut Rohmatika, tafsir klasik cenderung mengabaikan realitas sosial yang dapat memengaruhi pemahaman teks. 36 Sebaliknya, hermeneutika yang terlalu menekankan pada konteks sering kali dianggap mengabaikan integritas teks wahyu. 37 Pendekatan integratif ini menjembatani kedua kritik tersebut dengan memadukan prinsip ushul tafsir sebagai fondasi dan hermeneutika sebagai alat bantu interpretasi. Pendekatan interdisipliner juga mendukung model integratif ini. Seperti yang dicatat oleh Latif. 38 penggabungan disiplin ilmu, seperti sosiologi dan linguistik, dapat memperkaya analisis Misalnya, penelitian Abdulloh menunjukkan bagaimana pendekatan sosiologis dapat membantu memahami relevansi nilai-nilai Islam dalam konteks sosial modern. Integrasi ini memastikan bahwa tafsir tetap relevan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar Islam. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan integratif antara ushul tafsir dan hermeneutika adalah langkah penting dalam pengembangan metodologi tafsir modern. Dengan menggabungkan kekuatan kedua pendekatan ini, para mufasir dapat menghasilkan tafsir yang tidak hanya relevan secara kontekstual tetapi juga setia pada otoritas dan kesucian wahyu. Implikasi praktis dari pendekatan ini mencakup pengembangan kurikulum pendidikan tafsir yang mengintegrasikan ulum al-Qur'an dengan elemen-elemen hermeneutika modern. Hal ini penting untuk melatih mufasir yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai Islam. Selain itu, pendekatan ini dapat digunakan untuk menjawab isu-isu kontemporer seperti keadilan sosial, kesetaraan gender, dan keberlanjutan lingkungan, yang memerlukan respons berbasis Al-Qur'an yang kontekstual dan aplikatif. Integrasi ini juga membuka peluang dialog antara ulama tradisional dan kontemporer, menciptakan ruang untuk diskusi yang lebih inklusif dalam dunia akademik Islam. Dengan Ratu V Rohmatika. AuPendekatan Interdisipliner Dan Multidisipliner Dalam Studi Islam,Ay AlAdyan Jurnal Studi Lintas Agama 14, no. , https://doi. org/10. 24042/ajsla. Arif R Triasa. AuDinamika Pendekatan Interdisipliner: Hambatan Dan Proyeksi Dalam Penelitian Studi Islam,Ay Iklila 6, no. , https://doi. org/10. 61941/iklila. Abdul Latif. AuSpektrum Historis Tafsir Al-QurAoan Di Indonesia,Ay Tajdid Jurnal Ilmu Ushuluddin 18, no. , https://doi. org/10. 30631/tjd. Y E Gyrdyk. AuAn Analysis on the Relation of QurAoAnic Interpretation (Tafs. - QurAoAn Translation: The Example of Transferring the 184th Verse of Surat Al-Baqara To Turkish,Ay Cumhuriyet Ilahiyat Dergisi 24, no. , https://doi. org/10. 18505/cuid. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer memanfaatkan pendekatan interdisipliner, para mufasir dapat menggali dimensi baru dari Al-Qur'an yang relevan dengan masyarakat global saat ini. Pendekatan ini, seperti yang diusulkan oleh Quraish Shihab, dapat menciptakan metodologi tafsir yang fleksibel tetapi tetap berakar pada tradisi Islam yang autentik. 40 Ekonsiliasi hermeneutika dan ushul tafsir tidak hanya memungkinkan interpretasi yang lebih adaptif tetapi juga memperkuat relevansi Al-Qur'an sebagai pedoman hidup di era Model ini menjadi kerangka kerja yang menjembatani tradisi dan modernitas, memastikan bahwa tafsir Al-Qur'an tetap otentik sekaligus responsif terhadap perubahan zaman. Implikasi Kritik Hermeneutika terhadap Studi Tafsir di Era Modern Kritik terhadap hermeneutika telah memengaruhi studi tafsir modern dengan mendorong pentingnya keseimbangan antara pendekatan modern dan otentisitas tradisi Islam. Dalam pengajaran tafsir, kritik ini menciptakan dorongan untuk mengintegrasikan analisis kontekstual dengan metode klasik berbasis wahyu. Misalnya. Abdullah Saeed dalam Hermeneutika Al-Qur'an menekankan perlunya memahami wahyu dalam konteks sejarahnya, tetapi tetap menghormati nilainilai universal Islam. Selain itu, pendekatan hermeneutika telah mendorong adopsi metodologi interdisipliner dalam studi tafsir. Ziauddin Sardar, dalam Contemporary Issues in Islam and Science, menunjukkan bahwa integrasi ilmu sosial, filsafat, dan sains dalam studi Islam dapat menjawab tantangan modern tanpa mengorbankan prinsip Islam. Metode ini juga membantu mufasir untuk memahami isu-isu kontemporer seperti etika lingkungan, teknologi, dan keadilan sosial dengan perspektif yang lebih Kritik ulama tradisional terhadap hermeneutika menyoroti bahaya potensi reduksi makna ilahiah teks menjadi sekadar analisis historis atau budaya. Perspektif ini ditegaskan dalam karya Mohammad Arkoun Reformasi Pemikiran Islam, yang meskipun menawarkan refleksi kritis terhadap tafsir tradisional, sering dianggap terlalu liberal oleh ulama tradisional. Kritik ini mencerminkan ketegangan antara kebutuhan untuk relevansi modern dan pentingnya menjaga otoritas teks wahyu. Sebaliknya, pendekatan seperti yang dilakukan oleh M. Quraish Shihab menunjukkan bagaimana hermeneutika dapat diterapkan dalam kerangka tradisional. Dalam tafsirnya, ia mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk menjawab isu-isu hak asasi manusia dan pluralisme, yang menjadi tantangan besar umat Islam di era modern. 43 Pendekatan ini menunjukkan bahwa Quraish Shihab. Al-QurAoan Dan Metodologi Tafsir, (Lentera Hati, 1. , hlm. Abdullah Saed. Hermeneutika Al-QurAoan, (Mizan, 2. , hlm. Mohammad Arkoun. Reformasi Pemikiran Islam, (Pustaka Pelajar, 1994, hlm. Rahmatullah Rahmatullah. Hudriansyah Hudriansyah, and Mursalim Mursalim. AuM. Quraish Shihab Dan Pengaruhnya Terhadap Dinamika Studi Tafsir Al-QurAoan Indonesia Kontemporer,Ay Suhuf 14, no. , https://doi. org/10. 22548/shf. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer hermeneutika dapat memperkaya studi tafsir jika diterapkan dengan hati-hati dalam kerangka epistemologi Islam. Dibandingkan dengan metode tradisional yang cenderung tekstual, pendekatan modern ini memungkinkan tafsir lebih aplikatif. Namun, kritik juga muncul dari beberapa kalangan yang khawatir bahwa interpretasi kontekstual dapat mengarah pada distorsi makna asli wahyu. Perdebatan ini menunjukkan bahwa perlu ada upaya untuk memadukan kelebihan kedua pendekatan ini. Temuan ini menunjukkan bahwa kritik terhadap hermeneutika, meskipun sering kali dianggap menghambat inovasi, sebenarnya telah mendorong pengembangan metodologi tafsir yang lebih relevan dan aplikatif. Integrasi pendekatan hermeneutika dengan tradisi ushul tafsir menciptakan peluang besar untuk memahami Al-Qur'an dalam konteks modern tanpa mengorbankan nilai-nilai ilahiah. Implikasi praktis dari kritik ini terlihat dalam pengajaran tafsir di lembaga pendidikan Islam. Misalnya, pendidikan tafsir di pesantren dapat memanfaatkan pendekatan hermeneutika untuk mendorong diskusi kritis dan reflektif, sehingga santri tidak hanya memahami teks secara literal tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 45Hal ini meningkatkan relevansi pendidikan Islam dalam menjawab tantangan globalisasi dan modernitas. Selain itu, pendekatan interdisipliner membuka peluang bagi mufasir untuk menjawab isuisu kontemporer seperti keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, dan etika teknologi. Pendekatan ini memastikan bahwa nilai-nilai Al-Qur'an tetap relevan dan aplikatif di dunia yang terus berubah. Pendekatan seperti ini juga memperkuat posisi Islam sebagai agama yang responsif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan prinsip-prinsip dasarnya. Kritik terhadap hermeneutika tidak hanya menjadi tantangan tetapi juga peluang untuk memperkaya studi tafsir. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan interdisipliner, studi tafsir di era modern dapat menjadi lebih adaptif, relevan, dan aplikatif, sekaligus menjaga integritas dan otoritas wahyu sebagai pedoman hidup umat Islam. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kritik terhadap hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'an, baik dari perspektif ulama tradisional maupun kontemporer, memberikan kontribusi penting dalam memperkaya diskursus metodologi tafsir. Ulama tradisional seperti Al-Suyuti dan Ibn Taymiyyah menolak hermeneutika karena dianggap tidak sesuai dengan epistemologi Islam yang berbasis Enggi R Firmanto. AuKajian Hermeneutik Dalam Dunia Pendidikan Islam,Ay J-Ceki Jurnal Cendekia Ilmiah 1, no. , https://doi. org/10. 56799/jceki. Ilyas Nasyirudin and Abdul H Al-Kattani. AuPendidikan Tafsir Bagi Santri Di Pesantren Tahfidz,Ay Tawazun Jurnal Pendidikan Islam 15, no. , https://doi. org/10. 32832/tawazun. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Al Fiqri Ardiansyah: Kritik Terhadap Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Ulama Tradisional dan Kontemporer wahyu dan prinsip syariat. Sebaliknya, ulama kontemporer seperti Fazlur Rahman dan Nasr Hamid Abu Zayd menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel, termasuk integrasi analisis historis dan sosial, meskipun tidak lepas dari kontroversi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif yang menggabungkan kekuatan ushul tafsir dengan hermeneutika untuk menjawab tantangan zaman modern tanpa mengorbankan otoritas teks wahyu. Model seperti Tafsir Maqasidi oleh Jasser Auda dan metodologi kontekstual Quraish Shihab menawarkan kerangka kerja yang relevan dan tetap setia pada prinsip Islam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan metodologi tafsir yang lebih holistik dan inklusif, serta mendorong dialog produktif antara tradisi dan modernitas. Meskipun menghadapi tantangan dalam implementasi, pendekatan integratif ini memiliki potensi besar untuk menjadikan tafsir Al-Qur'an lebih relevan dan aplikatif bagi umat Islam di era DAFTAR PUSTAKA