Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. Penatalaksanaan Holistik Anak dengan Tinea Corporis dan Obesitas melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga Holistic Management of Children with Tinea Corporis and Obesity Through Family Medicine Approach Siti Noor Fadilah Bulfiah1. Sahab Sibuea2. Susi Kania3 Program Studi Profesi Dokter. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Puskesmas Rawat Inap Panjang. Lampung Korespondensi Penulis : Sitinoorfadilahbulfiah@gmail. ABSTRACT Indonesia is a tropical country with a high potential for skin infections caused by fungi, including dermatophytosis. The prevalence of dermatophytosis in the world is 20-25%, while in Asia it reaches 35. 6%, in Indonesia which shows the highest percentage of 27. Identifying internal, external risk factors, and clinical problems of patients with a family doctor approach and management based on Evidence Based Medicine. This study is a case Primary data was obtained through anamnesis, physical examination, and home Assessment based on holistic diagnosis through in-depth interviews, observations and patient questionnaires. Patient An. M, male, 9 years old, the main complaint was red spots accompanied by itching on the back, stomach, both arms, and both legs since 4 days The patient has a history of bathing in dirty rivers and poor personal hygiene. The patient's diet is uncontrolled in terms of quantity, frequency, and type. The patient eats 5 times a day for heavy meals and some snacks in between. The patient was diagnosed with tinea corporis and obesity. The interventions that have been carried out have increased knowledge and changed some of the patient's and family's behaviors as evidenced by improvements in the patient's clinical symptoms. Keywords : family medicine, obesity, holistic management, tinea corporis. ABSTRAK Indonesia merupakan negara beriklim tropis sangat berpotensi untuk terjadinya penyakit infeksi kulit yang dapat disebabkan oleh jamur diantaranya dermatofitosis. Prevalensi penyakit dermatofitosis di dunia adalah sebesar 20-25%, sedangkan di Asia mencapai 35,6%, di Indonesia yang menunjukkan angka persentase 27,6% yang Mengidentifikasi faktor risiko internal, eksternal, dan masalah klinis pasien dengan pendekatan dokter keluarga serta penatalaksanaan berbasis Evident Based Medicine. Studi ini adalah laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan kunjungan ke rumah. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik secara in-depth interview, observasi dan lembar isian pasien. Pasien An. M, laki-laki, berusia 9 tahun, keluhan utama muncul bercak merah disertai gatal pada punggung, perut, kedua lengan, dan kedua kaki sejak 4 hari lalu. Pasien memiliki riwayat mandi di sungai yang kotor dan kebersihan diri yang kurang. Pola makan pasien tidak terkontrol dari segi jumlah, frekuensi, dan jenisnya. Pasien makan 5 kali sehari untuk makanan berat dan beberapa makanan ringan diantaranya. Pasien didiagnosis tinea corporis dan obesitas. Intervensi yang sudah dilakukan menambah pengetahuan dan mengubah beberapa perilaku pasien dan keluarganya yang dibuktikan dengan perbaikan gejala klinis pasien. Kata Kunci : kedokteran keluarga, obesitas, penatalaksanaan holistik, tinea corporis. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index PENDAHULUAN Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai lesi inflamasi maupun non-inflamasi pada kulit yang tidak berambut . labrous ski. , seperti pada bagian muka, leher, badan, lengan, tungkai, dan gluteal (Asri, 2. Tinea korporis lebih sering ditemukan pada laki-laki pasca pubertas dibandingkan wanita, dapat terjadi pada semua usia, tetapi umumnya mengenai usia 18Ae25 tahun serta 40Ae50 tahun (Arif et al. , 2. Maserasi dan oklusi kulit lipatan menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit sehingga memicu Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung (Noble et al. , 2. Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis dengan suhu dan kelembaban tinggi, yang meningkatkan risiko infeksi kulit akibat fungi, termasuk Prevalensi dermatofitosis di dunia mencapai 20Ae 25%, sedangkan di Asia lebih tinggi, 35,6% (Cholis. Indonesia, insidensi dermatomikosis di berbagai rumah sakit pendidikan dokter bervariasi, mulai dari 2,93% (Semaran. hingga 27,6% (Padan. , dengan tinea korporis sebagai tipe yang paling dominan, diikuti tinea pedis, tinea kruris, dan onikomikosis (Mulyaningsih, 2. Dermatofitosis jamur superfisial yang disebabkan oleh jamur dermatofita, yaitu Trichophyton Microsporum Epidermophyton spp. (Hay, 2. Infeksi ini dapat menyerang kulit . inea korporis, tinea kruris, tinea manus et pedi. , rambut . inea kapiti. , dan kuku . inea unguiu. (Sahoo & Mahajan. Ciri khas infeksi jamur adalah central healing, di mana bagian tengah lesi tampak kurang aktif, sedangkan bagian pinggir lebih aktif (Dorland. Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, status lokalis, dan pemeriksaan penunjang. Secara klinis, penyakit ini ditandai dengan rasa gatal yang lebih terasa saat berkeringat, sehingga pasien sering terutama di area lembab (Jihan, 2. Faktor penting yang berperan dalam penyebaran dermatofita meliputi kebersihan lingkungan yang buruk. Faktor lainnya meliputi adanya sumber penularan di sekitar, obesitas, penyakit sistemik, imunitas rendah, serta personal hygiene yang buruk (Kemenkes RI, 2018. Muliawati et al. Pendekatan faktorfaktor klinis, personal, dan psikososial yang berpengaruh terhadap penyakit ini. Oleh karena itu, edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai tinea korporis sangat penting, termasuk dalam aspek pencegahan, pengobatan, pengawasan, serta pemulihan pasien. Laporan Kasus Pasien An. M, laki-laki usia 9 tahun, datang ke Poli Puskesmas Panjang diantar oleh ibunya pada tanggal 29 Mei 2023 dengan keluhan gatal di beberapa bagian tubuhnya sejak Awalnya, kemerahan pada punggung pasien, berjumlah 3 buah berwarna merah, seukuran jarum pentul, berbatas tegas, dan gatal. Sejak 3 hari yang lalu, bercak merah disertai rasa gatal tersebut semakin menyebar dan meluas hingga ke lengan, perut, dan kedua paha pasien. Berdasarkan keterangan pasien, 2 hari sebelum keluhan bercak tersebut timbul, atau sekitar satu minggu lalu, pasien sempat mandi di sungai yang kotor. Pasien sehingga pasien merasa lebih nyaman untuk tidak mengenakan pakaian dalam kegiatannya sehari-hari atau hanya menggunakan pakaian terbuka. Keluhan nyeri dan panas pada area bercak Keluhan demam sebelum munculnya bercak disangkal. Pola makan pasien sehari-hari yaitu sebanyak 3-5 kali sehari untuk makanan berat dan beberapa selingan di Nafsu makan pasien cukup Pasien mengonsumsi sayur dan hanya sesekali mengonsumsi buah-buahan. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. Gambar 1. Genogram Keluarga An. M 9 tahun (Dibuat oleh Siti Noor Fadilah Bulfiah pada Juni 2. Family Map Gambar 2. Family Map keluarga An. Keterangan: Harmonis Hubungan erat Hubungan sangat erat Pasien Family APGAR Score Tabel 1. Family APGAR Score keluarga An. Adaptation Partnership Growth Affection APGAR Skor Saya merasa puas karena saya dapat meminta pertolongan kepada keluarga saya ketika saya menghadapi permasalahan Saya merasa puas dengan cara keluarga saya membahas berbagai hal dengan saya dan berbagi masalah dengan saya Saya merasa puas karena keluarga saya menerima dan mendukung keinginan-keinginan saya untuk memulai kegiatan atau tujuan baru dalam hidup saya Saya merasa puas dengan cara keluarga saya mengungkapkan kasih sayang dan menanggapi perasaan-perasaan saya, seperti Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. Resolve kemarahan, kesedihan dan cinta Saya merasa puas dengan cara keluarga saya dan saya berbagi waktu bersama Total Total Family Apgar Score 8 . ilai 7-10, fungsi keluarga bai. METODE Studi ini merupakan laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis . utoanamnesis dan alloanamnesis dari keluarga dan pasie. , pemeriksaan fisik, dan kunjungan ke rumah untuk menilai lingkungan fisik. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses, dan HASIL DIGNOSTIK HOLISTIK AWAL Aspek Personal Alasan Kedatangan: bercak merah pada punggung, perut, kedua lengan, dan kedua paha sejak 5 hari lalu yang memberat sejak 2 hari lalu. Kekhawatiran: Rasa gatal pada jumlahnya dan luasnya, sehingga mengganggu aktivitas pasien Persepsi: Tidak penyebab kondisi fisik memburuk tersebut oleh pasien dan keluarga terhadap penyakit pasien yakni menganggap bahwa penyakit ini Sementara, dari pasien sendiri. Harapan: Keluhan berkurang, tidak ada anggota keluarga yang sakit serupa, ibu pasien, dan pasien dapat diobati hingga pasien sembuh agar dapat beraktivitas seperti biasa. Aspek Klinis Tinea corporis (ICPC-2 S74 ICD-10 B35. Obesitas (ICPC-2 T82 ICD-10 E66. Aspek Risiko Internal Kebersihan . engetahuan mengenai kebersihan diri sehingga tidak adanya kebiasaan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan seha. , sering mandi di sungai dengan air kotor dan jarang sekali benar atau sesuai. Kebiasaan makan yang tidak terkontrol, baik dari segi jumlah kurangnya konsumsi sayuran. Aspek Risiko Eksternal Pengetahuan keluarga kurang mengenai penyakit tinea corporis . enyebab, pencegahan, tanda dan gejala, pengobata. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kurang baik. Kurangnya minat keluarga mengenai gizi sehat dan seimbang. Derajat Funsgsional Derajat fungsional satu yaitu masih mampu melakukan pekerjaan seharihari di dalam maupun di luar rumah. INTERVENSI Intervensi yang akan diberikan pada pasien ini adalah edukasi dan konseling kepada pasien dan keluarga mengenai halAehal yang harus dimodifikasi dan harus diketahui untuk mencegah kemungkinan Intervensi yang akan dilakukan terbagi atas patient centered, family focused dan community oriented. Patient Centered Non-Farmakologi Mengedukasi mengenai infeksi jamur, faktor pencegahan, pengendalian agar keluhan tidak berulang, dan rencana tatalaksana. Mengedukasi memperhatikan hygienitas diri, mandi 2 kali sehari, jika sudah mulai berkeringat bisa mengganti bajunya, gunakan baju yang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. menyerap keringat dan baju yang Farmakologi Ketoconazole 2% krim, dioleskan dua kali sehari setelah mandi pada bercak dengan melebihkan sekitar 1 ruas jari . dari bercak Ketoconazole tablet 100 mg, 1 kali Cetirizine tablet 10 mg 1x1 sebelum tidur . ntuk gata. Family Focused Memberikan keluarga mengenai infeksi jamur dan obesitas . enyebab, pencegahan, tanda dan gejala, pengobata. serta peran keluarga dalam terapi penyakit Menjelaskan kepada keluarga pasien untuk mengawasi pasien dalam menjaga pola hidup bersih dan sehat, meningkatkan aktivitas fisik. Edukasi kepada keluarga mengenai gizi sehat dan seimbang guna menjaga berat badan pasien. Memberikan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan di layanan kesehatan. Community Oriented Konseling mengenai penularan dan pencegahan infeksi jamur yang dapat ditularkan dari kebersihan lingkungan rumah ke anggota keluarga dan tetangga di lingkungannya. Memberikan informasi dan penjelasan mengenai tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah, membuka jendela setiap ruangan agak tidak lembab, yang dapat menjadi faktor Mengajak senantiasa melakukan aktivitas fisik seperti bekerja bakti atau senam DIAGNOSTIK HOLISTIK AKHIR Aspek Personal Kekhawatiran: Rasa gatal sudah mulai berkurang dan lesi kulit tidak meluas sehingga kekhawatiran berkurang begitu pun terbantu penyakit yang diderita. Persepsi: Keluhan yang dirasakan pasien adalah infeksi jamur pada kulit yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko seperti kebersihan diri yang kurang, dan status gizi yang overweight. Ibu pasien telah mengetahui hal pencegahan penyakit ini yang kebersihan diri, makanan, dan Harapan sembuh dari keluhan sudah tercapai, tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan mengetahui mengenai penyakit ini dan berharap tidak ada lagi mengalami hal tersebut. Aspek Klinis Tinea corporis (ICPC-2 S74 ICD-10 B35. Obesitas (ICPC-2 T82 ICD-10 E66. Aspek Risiko Internal Anak usia 9 tahun Pasien mengetahui cara menjaga terutama untuk tubuh pasien sendiri dan lingkungannya, seperti mandi dengan air bersih dan segera mengenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Pasien membatasi asupan makannya dan memilah makanan yang baik untuk Aspek Risiko Eksternal Peningkatan . enyebab, pencegahan, tanda dan gejala, pengobatan, dan komplikas. serta risiko obesitas dan hubungan Keluarga mengenai kebersihan diri pada pengetahuan keluarga mengenai pentingnya kebersihan diri serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Peningkatan keluarga mengenai gizi sehat dan Derajat Fungsional Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. Derajat fungsional satu yaitu mampu melakukan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari, pasien mandiri dalam perawatan diri dan beraktivitas di dalam dan luar rumah. PEMBAHASAN Pembinaan kepada pasien An. usia 9 tahun telah dilakukan sebagai salah Pasien datang ke Puskesmas Panjang diantar oleh ibunya dengan keluhan bercak merah disertai rasa gatal pada punggung, perut, kedua lengan, dan kedua kaki sejak 5 hari lalu. Kegiatan ini dilakukan sebanyak empat kali, yang pertama yaitu ketika pasien berobat di Puskesmas Panjang, lalu berkomunikasi menggunakan media whatsapp dan melakukan kunjungan rumah yang dilakukan sebanyak 3 kali kunjungan yaitu identifikasi masalah awal pada kunjungan pertama, intervensi pada kunjungan kedua, dan evaluasi pada kunjungan ketiga. Pada pertemuan pertama dilakukan anamnesis secara holistik dan pemeriksaan fisik, setelah itu dilakukan informed consent kepada pasien dan ibu pasien untuk dilakukannya kegiatan pembinaan keluarga. Secara lisan, ibu pasien menyetujui kegiatan pembinaan keluarga yang akan dilakukan. Pada anamnesis, didapatkan data berupa keluhan pasien, keadaan keluarga, sosial, psikososial, dan ekonomi, serta keadaan kondisi rumah pasien. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan fisik pada pasien yang masih mengalami sakit hari Pasien mengalami keluhan bercak merah disertai rasa gatal pada punggung, perut, kedua lengan, dan kedua kaki sejak enam hari lalu. Dua hari sebelum keluhan muncul, pasien sempat mandi di sungai dengan air kotor. Bercak dirasakan pasien semakin meluas dan mengganggu aktivitas sehari-harinya. Pasien mengaku mudah berkeringat sehingga sering menggunakan pakaian Pasien tidak dapat membatasi makannya sehingga pasien dapat makan makanan berat hingga lima kali sehari . Pasien mengonsumsi sayur. Pada tampak sakit sedang dengan kesadaran kompos mentis dan suhu tubuh pasien 37,1CC dengan tanda-tanda vital lain dalam batas normal, berat badan 54 kg, tinggi badan 133 cm dengan kesan status gizi overweight bersarkan kurva CDC Pemeriksaan fisik dari kepala hingga tumit, didapati lesi dermatologis pada inspeksi thoraks, abdomen, dan ekstremitas, dengan pemeriksaan fiisk lain dalam batas normal. Pada status dermatologis, didapati pada regio thoraks posterior et abdomen et antebrachii dextra et sinistra et femoralis dextra et sinistra terdapat makula eritem sampai lentikular sampai nummular, batas sirkumskripta, tersusun diskret, dengan bagian pinggir lesi tampak lebih aktif . entral healin. Berdasarkan pemeriksaan fisik, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami infeksi jamur superfisial . Infeksi jamur superfisial adalah salah satu penyakit kulit yang paling umum, mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Infeksi ini, yang terjadi baik pada orang sehat gangguan kekebalan, disebabkan oleh dermatofita dan jamur non-dermatofita. Pengobatan mengurangi durasi gejala pada pasien dengan infeksi jamur superfisial (Hay. Berdasarkan pemeriksa, bahwa dermatofitosis terjadi di bagian tubuh pasien, maka dapat ditegakkan diagnosis tinea corporis. Tinea korporis adalah superfisial yang ditandai lesi inflamasi maupun non-inflamasi pada kulit yang tidak berambut . labrous ski. (Asri. Lesi dermatologis tinea corporis eritematosa multipel, berbatas tegas, ditutupi oleh skuama halus, dengan tepi lebih tinggi dan merah . entral healin. (Sahoo & Mahajan, 2. Etiologi dari tinea corporis adalah adanya infeksi jamur yang disebabkan oleh tiga grup jamur keratofilik yaitu Trichophyton. Microsporum. Epidermophyton. Infeksi tinea korporis dimulai dengan kolonisasi hifa dan cabang-cabangnya di dalam jaringan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. keratin yang mati. Hifa melepaskan keratinase serta enzim lainnya guna menginvasi lebih dalam stratum korneum dan menimbulkan peradangan, walaupun epidermis, karena adanya mekanisme pertahanan tubuh non-spesifik, seperti PMN, penghambat serum . erum inhibitory facto. (Asri, 2. Bentuk yang klasik dimulai dengan lesi-lesi yang bulat atau lonjong dengan tepi yang aktif. Dengan perkembangan ke arah luar, maka bercak-bercak bisa melebar dan akhirnya dapat memberi gambaran yang polisiklis, arsiner, atau sinsiner. Pada bagian tepi tanda-tanda eritema, adanya papul-papul dan vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang (Arif et al. , 2013. Jihan. Pada pasien ini, tampak lesi dermatologis yang ditandai dengan adanya bercak merah berupa central healing disertai rasa gatal di beberapa bagian tubuh seperti perut, punggung, kedua lengan, dan kedua kaki. Hal ini sesuai dengan teori di mana predileksi tinea korporis banyak ditemukan pada wajah, badan, lengan, dan kaki bagian Gejala subjektif yaitu gatal, terutama jika berkeringat. Gejala objektif yaitu efloresensi, terlihat makula atau hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan daerah bagian tengah lebih tenang . entral healin. (Arif et al. , 2013. Jihan. Infeksi jamur ini kemudian dapat menular melalui kontak langsung dengan orang, hewan, tanah, atau jamur yang Dermatofit . adalah sumber paling umum dari infeksi tinea, tetapi sumber zoofilik . ika mungki. untuk mencegah infeksi ulang pada manusia dan segera diobati (Asri. Terdapat pencetus tinea di antaranya kondisi panas dan lembab dari lingkungan, pakaian ketat, pakaian yang tidak menyerap keringat, keringat berlebihan karena berolahraga, atau karena kegemukan, trauma minor . esekan pada paha orang . etidakseimbangan hormon dalam tubuh terganggu . emakaian antibiotik atau hormon jangka panjan. , serta penyakit atau kondisi tertentu (Safro et al. , 2018. Dorland, 2. Faktor risiko pada An. M adalah personal hygiene yang kurang baik seperti mandi dengan air kotor dan menyerap keringat, lingkungan yang lembab, serta obesitas. Hal ini sejalan dengan penelitian Kanti . yang mengatakan bahwa personal hygiene yang buruk seperti jarang mengganti pakaian dan menggunakan pakaian ketat yang tidak menyerap keringat merupakan salah satu faktor pencetus infeksi jamur pada kulit. Selain itu, menurut penelitian Muliawati et . , terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian infeksi jamur pada kulit. Hal ini karena seseorang yang memiliki indeks massa tubuh yang tinggi sering mengeluarkan keringat. Hal ini terjadi karena pada orang dengan berat berlebih memiliki persentase lemak tubuh yang lebih banyak sehingga produksi panas tubuh lebih banyak dan berkeringat lebih Penatalaksanaan tinea korporis ialah menggunakan obatobatan antifungal. Antifungal tersedia dalam sediaan topikal dan sistemik. Golongan . lotrimazol, mikonazol, oksikonazol, sulkonazol, dan Golongan azol memiliki spektrum yang luas dalam mengobati infeksi tinea korporis. Golongan azol bersifat fungistatik yaitu bekerja dengan sintesis ergosterol membran sel fungal dengan menghambat enzim sitokrom (Djuanda, 2. Golongan antifungal lainnya yaitu . aftitin, benzilamin . yang bersifat Sama dengan golongan azol, golongan alilamin dan benzilamin bekerja dengan menghambat sintesis ergosterol, namun tidak melalui enzim sitokrom P450 suasana yang toksik bagi fungal itu sendiri (Djuanda, 2. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. Pelaksanaan pembinaan keluarga pada pasien An. M dilakukan dengan kunjungan rumah sebanyak tiga kali. Pada kunjungan pertama, 1 Juni 2023, dilakukan untuk meminta izin dengan pasien dan keluarga untuk melakukan anamnesis lebih lanjut untuk menilai aspek personal, aspek klinis, aspek risiko internal, aspek eksternal, psikososial, dan derajat fungsional yang dialami oleh pasien, serta untuk melakukan pengisian family folder. Selain itu, kunjungan pertama ini juga dilakukan untuk memonitoring perkembangan kondisi Pada kunjungan pertama, terlihat kondisi pasien yang sudah membaik, menurut pasien gatal sudah berkurang namun pasien merasa lesi masih meluas. Berdasarkan dengan pasien dan keluarga pada kunjungan pertama, sesuai konsep Mandala of Health, pasien dan keluarga memiliki pengetahuan yang kurang tentang penyakit yang diderita pasien, kebiasaan pasien dan keluarga yang tidak menerapkan perilaku hidup bersih, memperhatikan kebersihan diri sendiri dan lingkungan, serta makanan yang tidak memenuhi konsep gizi seimbang menjadi pokok permasalahan yang kesehatan pasien (Kanti & Rahmanisa. Human biology, pasien merasakan perubahan yang terjadi pada kondisi Keluhan gatal yang timbul dirasakan pasien sangat mengganggu Ibu kekhawatiran akan meluasnya lesi, menularnya kondisi tersebut ke anggota keluarga yang lain. Ibu pasien tidak mengetahui penyebabnya, serta tidak tahu pengobatan yang harus diberikan, dan tidak mengerti untuk menangani kondisi tubuh pasien yang semakin Psychosocial hubungan antar anggota keluarga juga terbilang dekat dan jarang mengalami suatu masalah. Pada Mapping keluarga, fungsi keluarga dikatakan baik, dengan family apgar score memiliki nilai delapan yang artinya fungsi keluarga baik atau tidak terdapat disfungsi pada keluarga. Sehingga hal ini dapat mendukung pasien dalam mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan terdekat. Pada dasarnya seluruh anggota keluarga memberikan dukungan dalam pengobatan untuk kesembuhan pasien. Harapan ibu pasien dan pasien adalah keluhannya dapat berkurang dan tidak ada anggota keluarga yang sakit serupa, ibu pasien pun berharap mengetahui penyakit pasien, dan pasien dapat diobati hingga pasien sembuh agar dapat beraktivitas seperti Personal pasien tidak menjaga kebersihan diri dan Pasien sering mandi dengan air kotor sembari bermain bersama teman-temannya pakaian terbuka yang justru tidak menyerap keringat. Makanan dimakan oleh pasien dan keluarga pasien setiap hari adalah makanan yang diolah sendiri oleh ibu pasien di rumah, namun pasien tidak dapat membatasi frekuensi makannya, baik makanna berat maupun makanan ringan, semua dilahapnya. Physical environment, keadaan kurang sehat dan kebersihan kurang terawat, menciptakan lingkungan yang lembab, memperberat terjadinya kondisi kesehatan pasien. Rumah pasien terletak dikawasan padat penduduk dan setiap rumah saling berhimpitan satu sama lain dengan sarana dan prasarana pasien di rumah menunjang semua kebutuhan primer dan sekunder. Pada kunjungan ini juga untuk selanjutnya, ibu pasien dan pasien diberikan pretest mengenai penyakit yang diderita pasien yaitu tinea corporis. Pertanyaan pretest meliputi gejala, pencegahan, penularan serta pengobatan dari tinea corporis dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah lima soal. Tujuan pretest ini dilakukan untuk menilai tingkat pengetahuan ibunya mengenai penyakit tinea corporis dan akan dibandingankan dengan hasil postest setelah intervensi pengetahuan pasien dan keluarganya dapat dinilai. Pada penilaian pretest Ny. dan An. M memperoleh skor 40, skor ini masih tergolong belum baik. Berdasarkan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. pretest ini dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu pasien dan pasien masih belum cukup, khususnya mengenai pengobatan yang harus dilakukan pada Setelah mendapatkan informasi mengenai beberapa permasalahan yang ada dalam pasien, dilakukan kunjungan kedua, tanggal 3 Juni 2023, untuk melakukan intervensi kepada pasien dan Intervensi yang dilakukan berupa penyuluhan atau perbincangan untuk bertukar ilmu dengan media lembar balik dan poster. Media lembar balik dan poster berisi beberapa materi yang dikemas sederhana disertai gambargambar yang diharapkan lebih mudah untuk dilakukan intervensi. Intervensinya pengetahuan keluarga pasien mengenai penyakit tinea corporis, baik penyebab, faktor resiko, cara penularan yang termasuk di dalamnya bagaimana edukasi menjaga hygiene yang baik untuk mengurangi resiko tertularnya tinea, gejala penyakit, penanganan tinea, pengetahuan tentang air bersih dan mengenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah, dan penerapan makanan yang memenuhi konsep gizi seimbang. Pada family focused, digunakan media lembar balik dan poster sebagai media edukasi dengan cara menjelaskan tiap poin dari intervensi yang dilakukan. Edukasi yang diberikan kepada keluarga meliputi penyakit yang diderita pasien, pengobatan, dan pencegahan penyakit yang sedang diderita oleh pasien. Meminta anggota keluarga untuk menjadi pengawas dalam minum obat selama pasien menjalani terapi. Keluarga pasien juga memiliki peran dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara menjaga kebersihan rumah, rutin mencuci tangan terutama di 5 waktu wajib cuci tangan, menerapkan prinip makan gizi seimbang, dan senantiasa mengingatkan pasien untuk berganti pakaian dan mengenakan pakaian tipis yang menyerap keringat. Selanjutnya keluarga pasien juga diberikan tanggung memburuk dan mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan di layanan Kesehatan. Pada community-oriented, edukasi diberikan kepada tetangga yang tinggal di lingkungan rumah pasien mengenai penularan dan pencegahan penyakit tinea corporis yang dapat ditularkan dari kebersihan diri dan lingkungan rumah ke anggota keluarga dan tetangga di Selain itu, juga mengajak warga sekitar untuk turut melakukan aktivitas fisik rutin yang dapat dilakukan bersama guna meningkatkan minat. Hal lingkungan sekitar rumah bersih dan Terdapat beberapa langkah atau perilaku baru. Pertama adalah kesadaran . , dimana orang tersebut menyadari stimulus tersebut. Kemudian dia mulai tertarik . Selanjutnya, menimbangnimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut . Setelah itu, dia akan mencoba melakukan apa yang dikehendaki oleh stimulus . Pada tahap akhir adalah adoption, berperilaku kesadaran dan sikapnya. Ketika intervensi dilakukan, keluarga juga turut serta mendampingi pasien. Pada kunjungan ketiga dilakukan evaluasi terhadap intervensi yang sudah dilakukan pada 5 Juni 2023 untuk pasien dan untuk evaluasi hasil intervensi apakah terdapat perubahan terkait perilaku dan klinis dari pasien. Saat dilakukan kunjungan, pasien mengatakan bahwa keluhan sudah tidak lagi dirasakan dan pasien sudah dapat menjalani aktivitasnya dengan baik. Ibu pasien pun sudah tidak merasa khawatir lagi melihat perubahan kondisi pasien yang sudah Sebelum dilakukan evaluasi, pasien bersama keluarga diberikan pasien dan keluarga mengenai penyakit tinea corporis setelah dilakukan intervensi Pada didapatkan skor 80, skor tersebut sudah sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa ibu pasien memperoleh peningkatan pengetahuan tentang penyakit yang di derita saat ini. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 107-117 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Penatalaksanaan Holistik Anak denganA (Siti Noor Fafilah Bulfiah. Sahab Sibuea, dk. Tabel 2. Hasil pretest-postest keluarga An. Nilai Pretest Nilai Posttest Nilai Ic 40 Setelah terdapat peningkatan pengetahuan ibu pasien mengenai tanda dan gejala tinea corporis, kebersihan diri, serta gizi sehat dan seimbang. Hasil evaluasi pasien sudah mengikuti saran yang diberikan saat Faktor pendukung dalam menyelesaikan masalah pasien dan keluarga adalah seluruh anggota keluarga yang mampu berperan dalam keluarga dengan cara menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, ibu pasien mulai memahami penyajian menu gizi sehat dan seimbang untuk keluarga. Pasien pun sudah memahami untuk menghindari mandi di sungai dengan air kotor dan mengenakan pakaian yang sesuai, serta mengurangi porsi makan. Hal membantu pasien dan keluarga dalam menangani kejadian infeksi jamur jika terulang kembali di keluarga pasien. Dalam kunjungan kali ini juga tetap dilakukan motivasi kepada pasien dan Hal ini dilakukan agar pasien menerapkan gaya hidup sehat yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien dan anggota keluarga lainnya Edukasi yang dilakukan kepada pasien dan keluarga merupakan bentuk penilaian pengetahuan yang bertujuan untuk memberikan informasi. Sesuai dengan teori azwar, pengetahuan menjadikan hal yang dapat membentuk sikap seseorang. Sikap adalah bentuk evaluasi terhadap suatu aspek dan mendasari seseorang Harapannya dari penerapan pengetahuan tersebut, akan berpengaruh teradap perubahan sikap dan perilaku yang baik sehingga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. SIMPULAN Didapatkan faktor internal berupa pengetahuan mengenai kebersihan diri kurang dan tidak dapatnya membatasi asupan makanan. Didapatkan faktor eksternal berupa kurangnya pengetahuan corporis, kebersihan diri, kebersihan lingkungan, gizi sehat-seimbang dan kurangnya dukungan keluarga mengenai kebersihan diri pasien. Telah dilakukan intervensi dengan pendekatan keluarga menggunakan media lembar balik dan presentasi poster mengenai penyakit tinea corporis, kebersihan diri, dan lingkungan, dan gizi sehat-seimbang. Setelah dilakukan intervensi dengan peningkatan pengetahuan ibu pasien mengenai tinea corporis, dan secara sederhana pada pasien pun demikian, kebersihan diri dan lingkungan, serta gizi sehat-seimbang. SARAN Pasien beserta keluarga perlu meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyakit tinea corporis serta melakukan pengelolaan dengan baik, agar mencegah perburukan pada pasien atau penularan pada orang sekitarnya. Pelayanan kesehatan tidak hanya fokus terhadap faktor internal namun juga masalah pasien. Pelaksana kesehatan dapat memberikan penyuluhan mengenai hidup bersih dan sehat, terutama pada masyarakat dapat mencegah terjadinya penularan berbagai penyakit. DAFTAR PUSTAKA