Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 Hubungan Sikap Terhadap Seksual Pranikah dengan Tingkat Penilaian Moral Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Eny Suwarni1. Radhiya Bustan2 1, 2 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi dan Pendidikan. Universitas Al-Azhar Indonesia. Jl. Sisingamangaraja. Kompleks Masjid Agung Al Azhar. Kebayoran Baru. Jakarta 12110 Penulis untuk Korespondensi/Email: enysuwarni@uai. Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran hubungan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral mahasiswa. Jenis penelitian ini adalah korelasional, dengan subjek penelitian 50 orang mahasiswa UAI yang diambil secara accidental sampling. Alat ukur penelitian menggunakan model dari Likert, dan data yang diperoleh dianalisis dengan PearsonAos correlation. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral pada mahasiswa dengan nilai r . Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral prakonvensional dengan r Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral konvensional dengan r . Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral pascakonvensional dengan r -. Tetapi hasil perbedaan mean dari variabel sikap terhadap seksual pranikah, pada aspek kognitif sebesar 92. aspek afektif 81. dan aspek konatif 61. Artinya unsur kognitif atau pemikiran lebih dominan ketika mereka diminta untuk bersikap terhadap seksual Tingkat penilaian moral mahasiswa lebih tinggi pada tahap konvensional . dibandingkan dengan tahap prakonvensional . dan pasca konvensional . Artinya mahasiswa dapat menginternalisasi standar dari figur otoritas, mereka peduli dan dapat mempertahankan aturan sosial jika dihadapkan pada penilaian moral terhadap seksual Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah mahasiswa perlu lebih banyak diajak diskusi dan menalar untuk meningkatkan pengetahuan bagaimana bersikap terhadap seksual pranikah, agar mereka dapat menegakkan aturan agama, aturan hukum dan aturan sosial disaat mereka menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pihak universitas maupun orang tua dapat membuat program bersama yang dapat menstimulasi penilaian moral mahasiswa dengan memberikan perhatian yang lebih tentang bagaimana seharusnya mahasiswa menilai sikap terhadap seksual pranikah. Aturan yang diterapkan dikampus, perlu diterapkan juga di saat mereka berada di rumah agar penilaian moral mereka terhadap sikap pada seksual pranikah menjadi lebih baik dan mengurangi perilaku yang mengarah pada seksual pranikah. Selain itu untuk meningkatkan penilaian moral terhadap seksual pranikah pihak universitas dapat bekerjasama dengan insitusi terkait misalnya BKKBN, dengan membuat program edukasi dikampus tentang bahaya penyimpangan perilaku seksual pranikah Kata Kunci - Sikap terhadap seksual pranikah. Tingkat penilaian moral prakonvensional. Konvensional dan pasca konvensional Abstract - This study aimed to obtain the relationship between attitudes toward premarital sexual with moral assessment level students. This type of research is correlational, with research subjects 50 students of UAI taken by accidental sampling. Measuring instrument studies using models of Likert, and the data were analyzed by Pearson's correlation. The results showed no significant correlation between attitudes toward premarital sexual with the level of moral judgments in students the value of r . There is no significant relationship between attitudes Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 toward premarital sexual with the level of pre-conventional moral judgments with r . There is no significant relationship between attitudes toward premarital sexual with conventional levels of moral judgment with r . There is no significant relationship between attitudes toward premarital sexual level moral judgments post-conventional with r -. But the results of the mean difference of the variable attitudes toward premarital sex, on cognitive aspects of 32 affective aspects. and conative aspects 61. That is an element of cognitive or thinking more dominant when they are asked to act against premarital sex. The level of moral judgments of students was higher in conventional stage . compared with prakonvensional stage . and conventional post . This means that students can internalize the standards of authority figures, they care and can maintain social rules when faced with moral judgments against premarital sex. Advice can be given on the results of this study are students need more invited to discuss and make sense to increase the knowledge of how to behave towards sex before marriage, so that they can enforce the rules of religion, rule of law and social rules when they are in a relationship with the opposite sex. The university and parents can create together a program to stimulate the moral assessment of students by providing more attention on how to assess student attitudes toward premarital sexual. Rules are applied campus, need to apply also when they are at home so that their moral assessment of the attitudes on premarital sexual getting better and reduce behaviors that lead to premarital sex. In addition to increasing premarital sexual moral judgments against the university can collaborate with relevant institutions BKKBN for example, by making the campus educational programs about the dangers of premarital sexual deviant behavior Keywords - Attitudes about premarital sexual. Pre-conventional level of moral judgment. Conventional and post-conventional PENDAHULUAN Latar Belakang erguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang pendidikan yang dapat ditempuh siswa setelah ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Saat Sekolah Menengah Atas mereka dikenal dengan sebutan siswa, ketika di Perguruan Tinggi, sebutan siswa menjadi mahasiswa, artinya siswa yang belajar di jenjang Perguruan Tinggi. Sebagai mahasiswa bagaimana mereka menghadapi situasi yang ada dewasa ini menjadi suatu tantangan tersendiri karena mereka masih dalam usia yang tergolong Para ahli psikologi perkembangan menggolongkan remaja saat berusia 18 sampai dengan 24 tahun. Masa remaja merupakan suatu masa perkembangan individu yang diawali dengan matangnya organ-organ seksual dan telah mampu bereproduksi dan dikenal dengan masa pubertas. Masa perubahan fisik akibat pubertas mengarah pada ketertarikan yang kuat pada seksualitas. Pertumbuhan fisik remaja perempuan lebih awal dibandingkan remaja laki-laki. Tanda utama dari kematangan seksual pada perempuan adalah haid . , dan tanda utama bagi naka laki- laki adalah ejakulasi pertama . atau yang baisa disebut Aumimpi basah pertama kaliAy. Besarnya ketertarikan para remaja terhadap seks bukanlah hal yang mengagetkan lagi. Pada tahap fisik/ragawi, mereka akan mengalami gairah terhadap seks yang disebabkan oleh perubahan hormon. Tidak hanya itu, mereka juga sudah mulai menyadari bahwa suatu saat mereka juga akan menjadi orang tua. Meningkatnya kemampuan kognitif mereka yang didapat melalui pengalaman-pengalaman mempunyai peran penting dalam cara mereka berpikir yang mungkin didominasi dengan perhatian-perhatiannya terhadap diri sendiri, perkiraan-perkiraan mengenai diterima atau tidaknya di lingkungan sekitarnya, pemikiran yang berdasarkan hipotesis dan pembuatan keputusan perihal seks, berkencan/berpacaran, perilaku dan hubungan seksual. Remaja putri biasanya mencemaskan perihal petting dan apa saja yang termasuk dalam seks, keperawanan, rasa sakit pada saat bersetubuh, dan kehamilan. Anak lakilaki justru lebih merasa penasaran pada kegiatan seksual itu sendiri seperti Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 rangsangan dan reaksi seksual. Dapat dilihat sikap antara remaja putra dan putri sangat berbeda, cenderung remaja putri lebih negatif menyikapi seputar seks, sedangkan remaja putra lebih positif dalam Berbagai faktor yang mempengaruhi diantaranya karena kematangan fisik, rasa ingin tahu yang tinggi mengenai masalah seks, meningkatnya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media Informasi serta rangsangan yang menunjukkan aktivitas seksual terdapat pada sejumlah perantara media massa seperti koran dan majalah, pada media massa elektronik seperti situs porno internet, handphone, televisi. DVD/VCD Jika berbicara mengenai perilaku seksual pranikah maka hal ini tidak terlepas dengan mereka yang berpacaran/berkencan. Aktivitas yang dilakukan mahasiswa saat berpacaran tidak hanya mengobrol, memeluk, atau mencium bibir tapi sudah lebih jauh yaitu melakukan petting . eraba payudara dan alat kelami. , dan sexual intercourse . ubungan kelamin, oral sek. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan, merangkul bahkan terkadang terlihat tidak segan-segan untuk mencium pasangannya di depan umum. Hal ini menunjukan betapa mudahnya melakukan hubungan seks pranikah dikalangan remaja khususnya mahasiswa. Tetapi bagaimana dengan perkembangan moral mereka? Penalaran moral mereka apakah juga berperan jika dihubungkan dengan seksual pranikah?, karena seksual pranikah bukanlah suatu tindakan yang dapat dibenarkan baik oleh masyarakat maupun norma yang berlaku. Menurut Kolberg . alam Papalia, 2. cara individu melihat isu moral mencerminkan perkembangan kognitif mereka. Proses berpikir individu yang ditunjukkan dengan respon yang diproleh dari dilemma menggambarkan tiga tingkatan penalaran moral yaitu . Precoventional morality . sia 4-10 tahu. adalah individu berperilaku di bawah kontrol eksternal. Mereka menuruti peraturan untuk menghindari hukuman atau mendapatkan hadiah atau berperilaku karena mementingkan diri sendiri. Conventional morality . etelah usia 10 menginternalisasaikan standar dari figur Mereka peduli tentang menjadi AybaikAy, menyenangkan orang lain dan mempertahankan aturan sosial. Tingkat ini biasanya tercapai setelah usia 10 tahun, banyak orang tidak pernah bergerak naik dari tingkatan ini bahkan di masa dewasa. Post vonventional morality: orang mengenal konflik antara standar moral dan berdasarkan prinsip kebenaran, keadilan dan hukum. Individu biasanya tidak mencapai tingkatan dari penalaran moral ini sampai setidaknya awal masa remaja atau lebih umum di masa dewasa awal, walaupun tidak semua orang mencapai tahap ini. Hasil penelitian Kolberg terhadap anak laki-laki di Amerika semua melalui tahapan tingkat perkembangan moral Namun hasil penelitian terkini menunjukkan penilaian anak tentang membuktikan bahwa anak dapat berpikir secara fleksibel mengenai isu yang terjadi lebih dini dari usia yang ditetapkan oleh Kolberg (Papalia, 2. Ketika mahasiswa dihadapkan pada situasi tentang isu seksual, pertanyaannya bagaimana sikap mereka dan bagaimana pula penilaian moral mereka terhadap isu tersebut. Hal ini penting untuk diketahui sebagai usaha preventif pencegahan berbagai kerugian yang dapat ditimbulkan dari munculnya penyakit melalui seksual pranikah. dalam kenyataannya ada mahasiswa sebagai remaja yang berpacaran, tetapi ada lagi yang belum pernah berpacaran atau sudah putus berpacaran. Melalui fenomena ini bagaimana mahasiswa sebagai remaja putra dan putri dalam menyikapi seks pranikah? Bagaimana pemikiran mereka? Apa yang mereka rasakan dan apa kecenderungan mereka terhadap seks pranikah? Apakah ada hubungan antara Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat perkembangan moral mereka? Nampaknya pertanyaan ini hanya dapat dijawab melalui suatu penelitian. Sebagai mahasiswa mereka masih dalam tahap perkembangan remaja dengan karakteristik perilaku menuju masa dewasa. Apakah ada hubungan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat perkembangan moral pada mahasiswa? Identifikasi Masalah Kebudayaan yang semakin modern, dengan sendirinya menuntun masyarakat untuk mengambil bagian di dalamnya. Sikap yang semakin terbuka dalam menerima segala informasi yang ada, menyebabkan masyarakat cenderung mengikuti arus informasi tersebut. Hal ini juga terjadi pada sikap individu terhadap seksual pranikah, yang melibatkan perbedaan jenis kelamin di dalamnya, yaitu pria dan wanita. Seksual pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual. Bentuk-bentuk tingkah laku seks pranikah dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku masturbasi, onani, berpegangan tangan, cium pipi, berpelukan, cium bibir, petting dan berhubungan seksual. Objek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Schulz dkk. (Dalam Azwar, 2. menjelaskan faktor-faktor di luar individu dan di dalam individu mempengaruhi terjadinya seksual Faktor di dalam individu yang cukup menonjol adalah sikap. Sikap atau attitude pertama kali digunakan oleh Herbert Spencer di tahun 1962 yang berarti status mental Sikap dalam penelitian ini dibagi atas tiga komponen yang saling menunjang representasi apa yang di percayai oleh individu pemilik sikap, komponen afeksi merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional, dan komponen konasi merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang (Azwar, 2. Sikap itu sendiri banyak dipengaruhi oleh faktor luar dan dalam diri Dengan demikian faktor sikap dapat dijadikan prediktor yang kuat terhadap munculnya seksual pranikah. Tetapi perlu diketahui juga bagaimana tentang tingkat perkembangan moralnya, mengingat seksual pranikah adalah tindakan yang tidak sesuai dengan norma sosial, norma agama dan aturan yang berlaku. Mahasiswa sebagai generasi muda dan penerus kehidupan berbangsa, perlu dicegah perilaku yang dapat merugikan kehidupannya di waktu yang akan datang. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian sebagai berikut: Apakah ada hubungan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral mahasiswa ? Apakah ada hubungan sikap terhadap perkembangan moral? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang hubungan sikap terhadap seksual pranikah dengan Tingkat penilaian moral pada mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Ruang Lingkup Penelitian ini akan dilakukan dalam bentuk survey dengan mengkaji konsep teori yang di pengambilan data di lapangan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan secara crosectional, pengambilan data pada subjek penelitian yang Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel sikap terhadap seksual pranikah dan penilaian moral dengan subjek penelitiannya adalah mahasiswa. Kontribusi Penelitian Penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi pada : Biro kemahasiswaan Dari informasi yang diperoleh melalui penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk membekali mahasiswa tentang sikap dan penilaian moral terhadap seksual pranikah. Dekan dan Kaprodi yang ada di Universitas Azhar Indonesia Informasi tentang sikap dan penilaian moral terhadap seksual pranikah dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 meningkatkan pencegahan perilaku sikap terhadap seksual pranikah pada mahasiswa TINJAUAN TEORI Definisi Sikap Sikap atau attitude pertama kali digunakan oleh Herbert Spencer di tahun 1962 yang berarti status mental seseorang (Azwar, 2. Definisi pertama suatu sikap adalah bagaimana menerjemahkannya dalam hal positif atau hal negatif, kurang baik atau memperdayakan/menghafalkan seseorang ke arah suatu objek. Definisi ini memandang sikap sebagai perasaan atau suatu reaksi evaluatif ke objek. Definisi kedua menghadirkan pemikiran Allport, yang memandang sikap sebagai kecendrungan bereaksi terhadap suatu objek atau kelas objek yang kurang baik atau baik. Definisi ini sedikit lebih rumit menyertakan dugaan suatu kesiap-siagaan untuk menjawab ke arah suatu objek. Definisi ketiga adalah yang menjadi pandangan sikap sebagai hal yang menyusun dari tiga komponen: . afeksi, dan . Komponen Sikap Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu: komponen kognisi merupakan representasi apa yang di percayai oleh individu pemilik sikap, komponen afeksi merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional, dan komponen konasi merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang (Azwar, 2. Komponen kognisi Komponen pengetahuan, pandangan, dan keyakinan tentang objek. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap. Komponen afeksi Komponen afeksi terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap Perasaan tersebut dapat berupa rasa senang atau tidak senang terhadap objek, komponen ini menunjukkan ke arah sikap yaitu positif dan negatif. Komponen afeksi menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap, secara umum komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap Namun pengertian perasaan perwujudannya bila dikaitkan dengan Komponen konasi Komponen ini merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi, bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek Definisi Penilaian Moral Penilaian moral . oral judgemen. menurut Kolberg (Dalam Papalia dkk. merupakan proses berpikir yang dilakukan individu ketika dihadapkan pada isu dilemma moral. Kohlberg menekankan bahwa penentu kematangan moral adalah cara individu bernalar, bukan Kolberg perkembangan Moral yang masing-masing dibagi ke dalam dua tahap, yaitu : Tingkat: Prakonvensional Pada tahap ini moralitas dikendalikan dari luar. Mereka mematuhi aturan untuk menghindari hukuman atau mendapatkan hadiah, atau mereka bertindak karena kepentingan sendiri. Tahap 1. Orientasi Hukuman dan Kepatuhan. Konsekuensi fisik menentukan apa yang dianggap baik atau buruk. Anak pada tahap ini sulit mempertimbangkan dua sudut pandang dalam sebuah dilemma moral. Akibatnya mereka mengabaikan niat orang dan fokus pada rasa takut pada otoritas dan menghindari hukuman sebagai alasan perilaku moral Tahap 2. Orientasi Relativisme Instrumental apapun yang memenuhi kebutuhan pribadi dianggap sebagai hal yang Anak menyesuaikan dengan aturan untuk mempertimbangkan apa yang orang lain dapat lakukan untuk mereka. Mereka lebih melihat tindakan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia dan membedakan nilai ini dari bentuk tindakan fisik dan konsekuensinya. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 Level 2: Konvensional Pada tahap ini individu tetap menganggap bahwa kesesuaian dengan aturan sosial itu kepentingan diri. Mereka yakin bahwa aktif memelihara sistem sosial saat ini dapat menjamin hubungan positif dan keteraturan Tahap 3. Orientasi Indeks Interpersonal Apapun yang menyenangkan atau membantu orang lain dianggap sebagai hal yang baik. Individu pada tahap 3 ini ingin memelihara kasih sayang dan persetujuan dari teman dan kerabat dengan menjadi orang baik, jujur, setia, hormat, penolong, dan menyenangkan. Mereka mengevaluasi tindakan berdasarkan motif di belakangnya atau apa yang ditampilkan memperhitungkan situasi. Tahap 4. Orientasi AyHukumAy dan AyAturanAy Tahap ini mempertahankan keteraturan sosial dan melaksanakan kewajiban dianggap sebagai hal yang baik. Pada tahap ini individu memperhitungkan yang lebih luas, perspektif hukum masyarakat. Pilihan moral tidak lagi bergantung pada hubungan dekat dengan orang Sebaliknya, peraturan harus ditegakkan dalam cara yang adil untuk semua orang, dan setiap anggota masyarakat memiliki tugas pribadi untuk menegakkan peraturan itu. Individu pada Tahap 4 ini percaya bahwa hukum tidak boleh dilanggar karena sifatnya yang penting dalam menjamin ketertiban masyarakat dan hubungan kerja sama antara Level 3: Pasca konvensional Pada tahap ini individu mengenali konflik antara standar moral dan membuat penilaian mereka sendiri yang berdasarkan prinsip kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Mereka mendefinisikan moralitas menurut prinsipprinsip abstrak dan nilai-nilai yang berlaku bagi semua situasi dan masyarakat. Tahap 5. Orientasi kontrak sosial- legalistik Nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat menentukan hal-hal yang dianggap baik. Individu berpikir dalam konteks rasional, menilai hal keinginan dari mayoritas dan kesejahteraan kelompok sosial. Mereka umumnya melihat nilai tersebut sebagai dukungan terbaik untuk menyelaraskan hukum. Sementara mereka mengenali bahwa ada saatnya kebutuhan manusia dan hukum berkonflik, mereka percaya bahwa baik bagi kelompok sosial dalam jangka panjang jika mereka patuh pada hukum. Tahap 6. Orientasi Prinsip - Prinsip Etik yang Sifatnya Universal apa yang dianggap benar merupakan bagian suara hati yang diperoleh dari prinsip-prinsip Pada tahap ini adalah tahap tertinggi, dimana tindakan benar didefinisikan oleh prinsip-prinsip etika kesadaran yang berlaku untuk semua orang, terlepas dari hukum dan kesepakatan sosial. Individu pada Tahap 6 ini biasanya menyebutkan prinsip-prinsip seperti menghargai nilai dan martabat setiap orang. Teori Kolberg tentang tahap perkembangan moral diukur dengan alat ukur yang ia ciptakan. Namun cara skoringnya dianggap oleh pengguna alat ukur tersebut sulit dilakukan. Oleh karena itu James Rest . menciptakan alat ukur terkait dengan moral judgement yang mudah untuk digunakan dan diskoring. Alat pengukuran tentang penilaian moral ini sebagai alat alternatif untuk mengatasi kesulitan penggunaan dan skoring dari implementasi konsep tahapan perkembangan moral Kolberg. Skor yang paling banyak digunakan adalah skor P yang merupakan presentasi dari pemikiran prinsip . rincipled thingkin. Kedua teori baik dari Kolberg dan Rest, merupakan teori yang dapat menggambarkan tahapan perkembangan moral dari individu. Sejauh mana tahapan atau tingkatan perkembangan moral dapat dikatehui dari jawaban terhadap alat ukur yang berisi issue dilemma moral. Remaja Definisi Remaja Dibawah ini terdapat tiga definisi yang berkaitan dengan remaja: AyAdolescence is developmental transition between childhood and adulthood entailing major physical, cognitive, and psychososial changesAy (Papalia. Olds & Feldman, 2. AuAdolescence as the period of transition between childhood and adulthood, consisting of biological, physical, cognitive, and social emotion, personal changesAy (Santrock, 2. Kesimpulan yang dapat ditarik dari kedua definisi mengenai remaja di atas adalah Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 seseorang dapat disebut sebagai remaja ketika dia mulai memasuki periode transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Perubahan yang dialami meliputi perubahan fisik, kognitif, dan psikososial. Beberapa ahli membagi masa remaja menjadi dua bagian yaitu early adolescence dan late adolescence. Early adolescence adalah remaja yang berusia 11-19 tahun dan yang sedang mengalami masa pubertas, sedangkan late adolescence adalah remaja yang hampir atau sudah memasuki usia 20 tahun (Santrock, 2. Pada penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah late adolescence atau remaja akhir. Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah late adolescence atau remaja akhir. Remaja yang akan menjadi subjek dalam penelitian ini adalah remaja akhir. Kesimpulan yang dapat ditarik dari berbagai literatur (Papalia et al. 2009 dan Santrock, 2. remaja akhir memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Stabilitas mulai timbul dan meningkat Pada tahap ini remaja mulai menunjukan adanya kestabilan dalam aspek-aspek fisik dan psikis. Citra diri dan pandangan lebih realistis Pada masa sebelumnya yaitu masa remaja awal, remaja sangat sering memandang dirinya lebih tinggi atau lebih rendah dari keadaan sesungguhnya. Tetapi pada masa remaja akhir keadaan semacam itu telah Pada masa ini remaja telah mulai menilai dirinya sebagaimana keluarganya, orang lain seperti yang Menghadapi masalah secara lebih matang Pada masa ini remaja mulai dapat menghadapi masalah lebih matang yang ditunjukan dengan usaha pemecahan masalah yang dihadapi. Perasaan menjadi lebih tenang Dalam menghadapi masalah masa remaja akhir lebih tenang. Kalau pada masa awal kesedihan dalam menghadapi masalah. Hal ini tidak terjadi pada masa remaja akhir, pada masa remaja mulai dapat mengendalikan emosi. Perkembangan kognitif Menurut Piaget, pada masa ini remaja sudah memasuki tahap formal operational. Formal operational adalah tahapan akhir dari perkembangan kognitif, yang ditandai dengan kemampuan untuk memanipulasi informasi, tidak hanya here and now. Tetapi tidak semua remaja mampu mengembangkan kemampuannya untuk berpikir formal operational secara penuh, karena itu beberapa ahli perkembangan meyakini bahwa tahap berpikir formal operational terbagi dalam dua sub periode yaitu: early formal operational dan late Early operational adalah kemampuan remaja untuk meningkatkan kemampuan berpikir secara hipotesis, melahirkan dugaandugaan dengan kemungkinan yang tidak terbatas sehingga terkadang berlebihlebihan yang pada akhirnya memberi kesan bahwa mereka sangat subjektif dan Tahapan ini berlangsung pada usia early adolescence. Sedangkan tahapan late keseimbangan intelektual remaja dengan berpikir secara nalar dan digabungkan Tahapan berlangsung pada usia late adolescence. Pentingnya hubungan dengan kelompok teman sebaya Pada remaja mulai timbul keinginan untuk membentuk hubungan yang lebih intim dengan teman sebaya . baik dengan teman sejenis ataupun lawan jenis. Perilaku Seksual Pranikah Perilaku seks pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis sebelum pernikahan (Sarwono, & Meinaro. Sikap terhadap perilaku seks pranikah adalah perasaan mendukung atau memihak . mendukung/tidak memihak . pada segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis sebelum terikat tali perkawinan yang syah. Bentuk-bentuk tingkah laku seks pranikah dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku masturbasi, onani, berpegangan tangan, cium pipi, berpelukan, cium bibir, petting dan berhubungan seksual. Objek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 Papalia & Olds . mengungkapkan beberapa gradasi aktivitas seksual yang dilakukan oleh remaja yaitu: berciuman, membelai atau mencium sekitar leher, merabaraba payudara atau alat kelamin, hingga melakukan hubungan kelamin. Hubungan antar jenis mengandung banyak variasi, ada suatu peningkatan kedekatan fisik yang sangat jelas, keintiman heteroseksual bertingkat melalui tahap-tahap Touching (Memegang atau memeluk pasangan. Kissing (Berkisar mulai dari ciuman yang singkat dan cepat kepada ciuman yang lama dan lebih intim . eep kissin. Petting (Menyentuh atau meraba-raba daerah erotis dari pasangan yang biasanya dari meraba-raba alat kelami. Sexual intercourse (Hubungan kelamin atau senggam. Hipotesis Penelitian Ada hubungan antara Sikap Terhadap Seksual Pranikah Dengan Tingkat Penilaian Moral pada Mahasiswa. METODOLOGI PENELITIAN Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang akan digunakan adalah penelitian korelasional yaitu untuk mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya dengan cara mengukur setiap variabel kemudian dilihat korelasinya atau sejauhmana keterkaitan antar variabel dengan bantuan metode statistik. Variabel Penelitian Variabel yang berperan dalam penelitian ini Sikap terhadap seksual pranikah (X) Tingkat Penilaian moral (Y) penelitiannya ditetapkan dengan menggunakan teknik accidental random sampling. Teknik sampling ini adalah suatu cara pengambilan sampel dimana subyek dalam suatu populasi diambil secara random pada mahasiswa yang ada di populasi. Instrumen Pengambilan Data: Alat Ukur Sikap terhadap seksual Pranikah Alat Ukur Penilaian Moral Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, dalam bentuk skala. Alat ukur ini merupakan salah satu jenis alat pengumpulan data yang disampaikan kepada responden atau subyek penelitian melalui sejumlah daftar pernyataan tertulis yang berhubungan dengan variabel Metode ini merupakan self-report mempertahankan anonimitasnya. Alat ukur dalam penelitian ini terdiri dari pernyataan kuesioner isian dan tertutup . ixed alternative questio. , dengan bentuk skala Likert . Pernyataan-pernyataan dalam skala terdiri dari pernyataan yang menyenangkan . Alat tersebut disusun berdasarkan teori yang dipergunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan Arikunto pengembangan skala Likert, peneliti boleh saja memperkecil atau memperluas penskalaan menjadi tiga, empat, lima, enam atau lebih banyak lagi. Pemilihan alternative diserahkan pada keinginan dan kepentingan peneliti yang menciptakan instrument tersebut. Penilaian moral . oral judgemen. Proses berpikir yang dilakukan individu ketika dihadapkan pada issue dilemma moral. Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Apabila suatu alat ukur dapat dipakai dua kali untuk mengukur dua gejala yang sama dan hasil penelitian relative konsisten, maka alat ukur tersebtu dikatakan Reliabilitas menunjuk kepada taraf keterpercayaan atau taraf konsistensi hasil ukur (Azwar, 2. Populasi dan Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Subjek Untuk mengukur reliabilitas yang dihasilkan digunakan teknik Alpha Cronbach, dengan langkah-langkah sebagai berikut: Definisi Operasional Variabel Sikap terhadap Seksual pranikah adalah: Kecenderungan berperilaku seksual pranikah berdasarkan unsur kognitif, afektif dan konatif /psikomotor Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 Membagi item-item yang mempunyai daya beda ke dalam dua belahan berdasarkan kelompok ganjil dan genap Menghitung skor item pada belahan 1 dan 2 berikut skor total item Menghitung varians dari belahan 1, belahan 2 dan total Mencari angka validitas keseluruhan item dengan menggunakan rumus sebagai rxx = = 2 . - S1A S2A ) SAx Keterangan : rxx = Koefisien Korelasi = Koefisien reliabilitas alpha S1A = Varians skor belahan 1 S2A = Varians skor belahan 2 SAx = varians skor total rendah pada suatu kriteria. Pengujian ini menggunakan teknik inter item consisteny, yaitu dengan menghitung korelasi skor item dengan skor total item. Teknik statistik yang digunakan adalah formula korelasi PearsonAos Product Moment. Sedangkan pengujian reliabilitas kuesioner dilihat untuk melakukan seberapa jauh alat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap gejala yang sama. Perhitungan koefisien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik statistik Alpha Cronbach. Metode analis hasil data utama dalam rangka menjawab masalah operasional dari penelitian, dipergunakan uji korelasi PearsonAos Product Moment. Selain itu juga ditambahkan analisa data secara deskriptif, yaitu mean, median, dan modus. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter untuk menafsirkan tinggi rendahnya koefisien reliabilitas alat ukur dan ada tidaknya korelasi antara dua variable atau lebih, menurut Guilford adalah sebagai berikut: Kurang dari 0. 20 : tidak ada korelasi 20 Ae 0. : korelasi rendah 40 Ae 0. : korelasi tinggi 70 Ae 0. : korelasi tinggi sekali : korelasi sempurna Uji Validitas Alat Ukur Validitas alat ukur adalah tingkat sesuatu alat ukur yang mampu mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto,2. Validitas alat ukur dilakukan dengan cara tryout terpakai, dalam arti subjek yang digunakan untuk mencari validitas item akan digunakan sebagai subjek Hasil Analisis Data Deskriptif Pengolahan data penelitian ini diawali dengan statistika deskriptif, yang merupakan metoda untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang suatu atau beberapa kelompok dengan cara menyusun dan merangkum data kelompok/sampel. Adapun hasil pengolahan data terkait rata-rata aspek sikap adalah sebagai berikut: Kognitif Afektif Konatif Analisis Data Dalam penelitian ini akan dipergunakan berbagai uji statistik, baik dalam menganalisis uji coba alat pengumpulan data, metode analisis hasil data utama. Uji statistik akan menggunakan perangkat lunak komputer SPSS 0 (Yamin & Kurniawan, 2. Sebelum kuesioner digunakan sebagai alat sesungguhnya, maka dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas item. Pengujian validitas bertujuan untuk mengetahui nilai diskriminasi item, yaitu berapa besar nilai antar individu yang memiliki skor tinggi dan skor 1st Qtr Gambar 1. Hasil Pengolahan Data Terkait Rata Ae Rata Aspek Sikap Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa aspek sikap terhadap seksual pranikah yang paling tinggi tercermin dalam komponen kognisi, yang merupakan representasi dari apa yang di percayai oleh mahasiswa terkait pengetahuan, pandangan, dan keyakinan tentang seksual Hal tersebut menggambarkan bahwa Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 perilaku seksual pranikah lebih dominan dibandingkan komponen afeksi yang terkait perasaan dan emosi serta komponen konasi yang terkait kecenderungan dalam bereaksi terhadap perilaku seksual pranikah. Descriptives Statisti Berikutnya juga diperoleh data rata-rata aspek tahapan moral sebagai berikut: Prakonvension Konvensional Postkonvensio 1st Qtr Gambar 2. Data Rata Ae Rata Aspek Tahapan Moral Grafik diatas menggambarkan bahwa level konvensional adalah level yang paling dominan pada penalaran moral mahasiswa UAI. Dimana, pada tahap ini mahasiswa tetap menganggap bahwa kesesuaian dengan aturan sosial itu kepentingan diri. Mereka yakin bahwa aktif memelihara sistem sosial saat ini dapat menjamin hubungan positif dan keteraturan Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Mean Lower Confidenc Bound e Interval for Mean Upper Bound Trimmed Mean Median Variance Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Tabel 1. Hasil Analisis Deskreptif Masing Ae Masing Variabel Kurtosis Descriptives Mean Tabel 1 merupakan hasil analisis deskriptif masing-masing variabel: Statisti Mean Confidenc e Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Std. Error Confidence Interval for Mean Trimmed Mean Median Std. Deviation Std. Error Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 Descriptives Statisti Variance Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Std. Deviation Std. Error signifikan dengan penilaian moral (Y) pada mahasiswa UAI. Tabel 3. Hasil Analisis Hubungan Sikap Seksual Pra Nikah Correlations Sikap Hasil Analisis Korelasi Tabel 2. Hasil Analisis Kolmogrof Smirnov Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Statistic VAR0 VAR0 VAR0 Shapiro-Wilk Sig. Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . Correlation is significant at the 0. 05 level . Correlations Moral Sikap Moral Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Untuk menjawab hipotesis penelitian, maka digunakan uji korelasi PearsonAos Product Moment dengan hasil output SPSS sebagai Dari output tersebut terlihat bahwa nilai Pearson Correlation r = 0. 072, dengan nilai p value . ,618 > 0,. , maka Ho diterima. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian ditolak yang berarti bahwa sikap terhadap seksual pranikah (X) tidak memiliki korelasi secara Output diatas juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan ketiga level perkembangan moral pada mahasiswa UAI yang terdiri dari level pra konvensional, konvensional, dan post konvensional dengan nilai p value > 0,05. Semakin tinggi sikap terhadap seksual pranikah, maka semakin tinggi pula perkembangan moral pra Namun, semakin tinggi sikap terhadap seksual pranikah maka semakin rendah level perkembangan moral post konvensional pada mahasiswa UAI. Pembahasan Penelitian Hasil kecenderungan untuk melakukan seksual pranikah yang terdiri dari aspek kognisi, afeksi dan konasi tidak memiliki korelasi dengan penilaian moral. Walaupun penilaian moral menghadapkan mahasiswa pada isu dilemma terkait seksual pranikah yang bertentangan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 dengan norma sosial maupun agama Islam, namun hal tersebut tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap perilaku seksual pranikah itu sendiri. Semakin tinggi kecenderungan melakukan seksual pranikah, maka semakin rendah penilaian moral pada level pasca konvensional mahasiswa tersebut. Mahasiswa pada masa remaja menganggap hubungan dengan kelompok teman sebaya sangat penting, timbul keinginan untuk membentuk hubungan yang lebih intim baik dengan teman sejenis ataupun lawan jenis. Untuk itu, diperlukan dukungan dari lingkungan agar remaja dapat mencapai level kesadaran diri pribadi. (Papalia et al. 2009 dan Santrock, 2. Sehingga diharapkan memihak/mendukung tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis sebelum terikat tali perkawinan yang syah. Tingginya aspek kognitif dibandingkan dengan aspek afektif dan konatif berarti mahasiswa sebagai remaja adalah perlu membuat keseimbangan keinginannya untuk mencari pengalaman dalam berhubungan dengan lawan jenis, agar tidak terjebak dalam perasaan atau kecenderungan berperilaku terhadap seksual pranikah. Dari data tentang tahap perkembangan moral, tahap prakonvensional lebih tinggi dari pada tahap pasca konvensional, dan konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan pra konvensional maupun pasca Data ini menunjukkan bahwa mahasiswa menganggap bahwa penilaian moral mereka lebih dikendalikan oleh aturan yang berlaku dan menghindari hukuman berdasarkan kepentingan yang mereka miliki. Mereka fokus pada rasa takut pada otoritas dan menghindari hukuman sebagai alasan dari perilaku moral dengan kata lain mereka menyesuaikan antara kepentingan diri sendiri dengan mempertimbangkan apa yang dapat orang lain dapat lakukan untuk mereka. Di sisi lain data pada tahap pasca convensional tergolong paling rendah, mahasiswa menilai masalah moral merupakan masalah kesejahteraan kelompok sosial. Apa yang dianggap benar merupakan prinsip-prinsip yang berlaku secara universal. Tahapan ini merupakan tahapan yang bersifat abstrak yang berlaku bagi semua manusia. Mahasiswa belum banyak menilai bahwa masalah moral merupakan prinsip universal, mereka lebih menilai permasalahan moral sebagai sistem sosial yang berlaku disuatu tempat sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Data pada tahap konvensional lebih tinggi dari tahap yang lain, menunjukkan bahwa mahasiswa ingin menjadi orang yang baik, jujur setia, penolong dan menyenangkan. Mereka memperhitungkan motif dari setiap memperhatikan situasi yang ada. Penilaian moral tidak lagi bergantung pada hubungan dekat dengan orang lain, tetapi lebih pada pentingnya peraturan yang adil ditegakkan pada semua orang. Setiap anggota masyarakat memiliki tugas pribadi untuk menegakkannya. (Kolberg dalam Gerk. Laura E. Jika penilaian moralnya adalah sikap terhadap seksual pranikah, berarti mereka sebagai anggota masyarakat secara pribadi menganggap penting untuk menjalankan aturan moral yang telah ditetapkan. Mempertahankan dan melaksanakan keteraturan sosial dianggap sebagai hal yang baik. Ada perpektif hukum yang berperan dalam menilai seksual pranikah, baik secara hukum agama maupun hukum yang Mereka juga memperhitungkan motif dibalik setiap tindakan terhadap seksual Tingginya tahap perkembangan moral mahasiswa pada tahap konvensional, berarti masalah seksual pranikah tidak mereka memperhitungkan aturan agama, aturan hukum dan aturan sosial. Perbedaan tahap penilaian moral pada mahasiswa sejalan dengan pendapat Kolberg, yang menyatakan bahwa adanya perbedan penilaian moral dengan perilaku karena ada jika situasinya berbeda penilaian moral mereka juga berbeda. Berdasarkan observasi pada mahasiswa sebagain dari mereka sudah menjalin hubungan antar lawan jenis atau yang sering disebut dengan pacaran. Ada yang menunjukkan secara terang-terangan perilaku terhadap pacarnya didepan umum secara mesra, tetapi ada juga yang tidak menunjukkan secara terbuka perilaku yang mengarah pada kecenderungan terhadap seksual pranikah. Sesuai dengan tahap Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2017 perkembangan mereka di remaja akhir mereka sudah tertarik terhadap lawan jenis. Jika data perkembangan moral konvensional yang memperoleh data tertinggi, artinya mahasiswa masih tetap memperhatikan aturan agama, aturan hukum dan aturan sosial dalam menunjukkan sikap terhadap seksual pranikah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan menggunakan Pearson Correlation, diperoleh Hubungan sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkap penilaian moral sebesar 072, berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan penilaian moral pada mahasiswa UAI. Hubungan sikap terhadap seksual pranikah prakonvensional r. 115 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan penilaian moral prakonvensional pada mahasiswa UAI. Hubungan sikap terhadap seksual pranikah konvensional r. 053 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan penilaian moral konvensional mahasiswa UAI Hubungan sikap terhadap seksual pranikah dengan tahap penilaian moral pasca konvensional r. -027 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan penilaian moral pasca konvensional pada mahasiswa UAI Saran Tahap penilaian moral mahasiswa masih banyak pada tahap konvensional. Pada mahasiswa perlu lebih banyak diajak diskusi dan menalar untuk meningkatkan terhadap seksual paranikah, agar mereka dapat menegakkan aturan agama, aturan hukum dan aturan sosial disaat mereka menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bagi universitas, bekerjasama dengan orang tua dapat membuat program pembinaan bersama baik dikampus maupun di rumah tentang sikap terhadap seksual pranikah. Pihak universitas maupun orang tua membuat program yang dapat menstimulasi penilaian moral perhatian yang lebih tentang bagaimana seharusnya mahasiswa menilai sikap terhadap seksual pranikah. Aturan yang diterapkan dikampus, perlu diterapkan juga di saat mereka berada di rumah agar penilaian moral mereka terhadap sikap pada seksual pranikah menjadi lebih baik dan mengurangi perilaku yang mengarah pada seksual pranikah. Sikap mahasiswa terhadap seksual pranikah mencerminkan penilaian moral mereka sebagai remaja yang menuju dewasa. Untuk meningkatkan penilaian moral terhadap seksual pranikah pihak universitas dapat bekerjasama dengan insitusi terkait misalnya BKKBN, dengan membuat program edukasi dikampus tentang bahaya perilaku seksual pranikah DAFTAR PUSTAKA