JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipiner Vol. No. Agustus 2022, pp. http://journal. id/index. php/jipsi || ISSN 2962-9187 Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Tradisional dan Modern sebagai Upaya Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebe. Abu Kholisha,1,*. Muhammad Chafidz Ali Wafab,2 a STAI Brebes. Indonesia. b International Islamic University Malaysia (IIUM). Malaysia 1abukholish16@gmail. baru123@gmail. *Correspondent Author A R T I C L E I NF O Article history Received: 10 Mei 2022 Revised: 12 Juni 2022 Accepted: 13 Juli 2022 Keywords Islamic Education. Multicultural. Islamic Boarding School. A BS T R A C T The background of this research is 4 . , namely, first, the current flow of globalization requires multicultural education in traditional and modern Islamic boarding schools to be carried out constructively. Second, the multicultural education model of traditional and modern Islamic boarding schools continues to be preserved and maintained in order to respond to the challenges of the times. Third, the pattern of the multicultural education model of traditional and modern Islamic boarding schools needs to be continuously studied and developed in order to find the ideal pattern. Fourth, a multicultural education model for traditional and modern Islamic boarding schools is needed. This field research uses descriptive qualitative data analysis, so the purpose of this study is to describe the integration of the educational model of the Salaf and Khalaf Islamic Boarding Schools in Asy Syamsuriyah Islamic Boarding School Brebes. The results of this study indicate that the implementation of the multicultural education model of traditional and modern Islamic boarding schools in As Syamsuriyah Islamic Boarding School Brebes can be seen in the pattern of integralistic application of school education into the Islamic boarding school education environment consisting of Taswirul Afkar Kindergarten. MTs As Syamsuriyah. MA and SMK As Syamsuriyah. The philosophical basis of the multicultural education model of traditional and modern Islamic boarding schools at As Syamsuriyah Islamic Boarding School Brebes refers to the Qur'an letter Al Hujurat verse 13. The implementation of the multicultural education model of traditional and modern Islamic boarding schools in As Syamsuriyah Islamic Boarding School Brebes is based on three aspects, namely application the use of language in the daily life of students in Islamic boarding schools, the application of multicultural-based philosophical values and the implementation of multicultural-based subject matter. Asy Syamsuriyah Islamic Boarding School also contributes to maintaining the Unitary State of the Republic of Indonesia, it is proven by the contribution of education and teaching that has been given to students and the surrounding community both internally in the formal education of pesantren and externally in the form of discussions and A BS TRA K Latar belakang penelitian ini ada 4 . , yaitu, pertama, arus globalisasi saat ini mengharuskan pendidikan multikultural dipondok pesantren tradisional dan modern dilaksanakan secara konstruktif. Kedua, model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern terus dilestarikan dan dijaga guna menjawab tantangan zaman. Ketiga, pola model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern https://journal. id/index. php/JIPSI husna@gmail. JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 perlu untuk terus dikaji dan dikembangkan guna menemukan pola yang ideal. Keempat, diperlukan sebuah model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisonal dan Penelitian lapangan ini menggunakan analisis data kulitatif deskriptif, sehingga tujuan penelitian ini mendeskripsikan integrasi model pendidikan pondok pesantren salaf dan khalaf di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Hasil penelitian ini meunjukkan bahwa implementasi model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes dapat dilihat dalam pola aplikasi integralistik pendidikan sekolah ke dalam lingkungan pendidikan pesantren yang terdiri dari TK Taswirul Afkar. MTs As Syamsuriyah. MA dan SMK As Syamsuriyah. Landasan filosofis model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes mengacu pada Al QurAoan surat Al Hujurat ayat implementasi model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes didasarkan pada tiga aspek, yaitu aplikasi penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari santri di lingkungan pondok pesantren, penerapan nilai-nilai filosofis berbasis multikultural dan implementasi pemberian materi pelajaran berbasis multikultural. Pondok pesantren asy syamsuriyah juga turut andil dalam menjaga NKRI, itu terbukti dengan kontribusi pendidikan dan pengajaran yang sudah di berikan kepada santri dan masyarakat sekitar baik secara internal dalam pendidikan formal pesantren maupun eksternal dalam bentuk diskusi maupun pelatiahan. Kata Kunci: Pendidikan Islam. Multikultural. Pondok Pesantren. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Salah satu topik yang sering di diskusikan pada era global adalah pendidikan Bahwa pendidikan sebagai ruang transformasi budaya (Mujamil Qomar 2. hendaknya mengedepankan wawasan multikultural (Nasihin dan Puteri Anggita Dewi 2. Dunia pendidikan kita saat ini masih cenderung menampilkan wajah yang monokulturalisme (Choirul Mahfud 2. hal ini bisa dirasakan dan disaksikan dengan adanya sistem penyelenggaraan pendidikan dengan pola pendekatan seragam yang sangat birokratis dan cenderung otoriter. Demikian juga terkait pelaksanaan pengajarannya mulai dari faktor kurikulum (H Nashihin 2. , materi pelajaran hingga metode pengajaran yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar serta peraturan perundangundangan keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat yang berlaku untuk seluruh daerah, demikian juga terkait dengan persyaratan pengangkatan jabatan di sebuah lembaga pendidikan yang perlakuannya sama antara pusat dan daerah. Dalam dunia pendidikan, wawasan multikultural sangatlah urgen (Husna Nashihin 2017. , terutama untuk memupuk semangat rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan tahun 1945 sebagai tonggak sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk (Husna Nashihin 2. , memiliki keragaman bahasa, sosial, budaya, agama, aspirasi politik serta keaneka ragaman (Mustafida 2. strata dalam hal kemampuan ekonomi. Keragaman ini sangatlah rentan dan amat kondusif bagi munculnya konflik sosial dalam dimensi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan multikultural dipersiapkan untuk memahami sejumlah sikap dan keterampilan yang sangat diperlukan dalam kehidupan lingkungan budaya etnik masyarakat, budaya nasional dan budaya antar etnik masyarakat agar keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini menjadi adiluhung (Bedong et al. Dalam konteks kehidupan masyarakat yang majemuk, pendidikan multikultural menjadi salah satu media yang sangat efektif untuk melahirkan generasi Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan keberagaman sebagai bagian yang harus dipersiapkan dan diapresiasikan secara konstruktif. Signifikansi tentang pendidikan multikultural dapat dibuktikan dalam beberapa penelitian sebagai berikut : pertama. Penelitian Ibrahim dan Kasdi yang membahas tentang pluralitas hidup beragama akan menimbulkan suatu konflik (Majid 1. Ini menjadi bukti penting bahwa relevansi pendidikan multikultural dalam penanaman nilai inklusifitas dan persaudaraan sosial yang anti konflik dan anti diskriminatif (Ahmad Muzaki Anam 2. Kedua Penelitian Siti Mahmudah Nurhayati yang membahas tentang pendidikan multikultural di pesantren, upaya membendung radikalisme di Indonesia. riset ini membahas tentang peran pesantren dalam membendung radikalisme (Siti Mahmudah Nurhayati 2. Riset ini penting untuk di bahas karena sikap atau prilaku radikal yang jauh dari toleran, maka akan menimbulkan disintegrasi dan ujungnya akan mengancam keutuhan dan persatuan negara republik Indonesia. Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menanamkan sifat saling menghormati, tulus dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang terdapat di (Ngainun Naim dkk 2. Sejalan dengan itu Agus Salim juga menyatakan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu proses yang memberikan penyadaran dalam keragaman hidup bersama di bidang sosial, ekonomi dan budaya (Husna Nashihin. Yahya, dan Aziz 2. dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, empati, simpati dan solidaritas sosial dalam masyarakat multikultural (Agus Salim 2. Sedangkan pendidikan dengan wawasan multikultural menurut James A Bank adalah konsep, ide atau falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan pendidikan dari individu, kelompok, maupun negara (James A Bank 2001 . Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling urgen di Indonesia karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan pertama yang berdiri, jauh sebelum sekolah atau madrasah (SyafiAoi Noor 2009 . Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia pondok pesantren harus mampu menjawab tantangan arus globalisasi, sehingga model pendidikan Islam yang dijalankan dapat dinamis menyesuaikan kebutuhan zaman. Disamping sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berperan sebagai lembaga dakwah yang selalu aktif dalam melakukan usaha amar maAoruf nahi munkar, pesantren juga sebagai pusat pengembangan masyarakat yang selalu aktif dalam memecahkan problem-problem kehidupan masyarakat sekitarnya. (Noor Ahmad dkk 2. Secara historis, perjalanan pendidikan pondok pesantren diawali dengan model salaf . , artinya pendidikan yang berlangsung lebih menekankan pada aspek tafaqquh fi ad din. Selanjutnya, guna memperkuat eksistensi pendidikan pondok pesantren ditengah masyarakat, maka pendidikan pondok pesantren mengembangkan model pendidikan khalaf . (Husna Nashihin 2. , namun tetap dengan berpedoman pada prinsip al-muhafadhotu Aoala al-qodimi al-sholih wa al-akhdzu bil jadidi al-ashlah, sehingga ciri khas pendidikan pondok pesantren tetap terjaga secara baik. Sebagai lembaga pendidikan non formal, pondok pesantren harus mampu melakukan perubahan format untuk mengakomodir tercapainya tujuan pendalaman ilmu agama Islam sekaligus penguasaan ilmu umum sebagai bekal menghadapi arus globalisasi dan modernisasi (Husna Nashihin 2. Sehingga pendidikan pondok pesantren mempunyai watak utama yaitu sebagai lembaga pendidikan yang memiliki kekhasan tersendiri yang memiliki tradisi keilmuan berbeda dengan tradisi keilmuan yang ada pada lembaga pendidikan Islam lainnya (Afiful Khair 2. Salah satu ciri utama pesantren yang membedakan dengan lembaga pendidikan Islam lainnya adalah adanya pengajaran kitab-kitab klasik atau kitab Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 kuning sebagai kurikulumnya. Kitab kuning dapat dikatakan menempati posisi yang istimewa dalam tubuh kurikulum di pesantren. Karena keberadaannya disamping menjadi unsur utama sekaligus sebagai ciri pembeda dengan lembaga pendidikan Islam lainnya (Zamakhsyari Dhofier 2. Kehidupan di pondok pesantren telah diatur sedemikian rupa sehingga seorang santri yang belajar didalamnya akan merasakan bahwa dirinya berada di antara lingkungan keluarga yang besar. Ia diajarkan tentang tata cara bergaul dan berkreasi sesama temantemanya yang notabene mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, tidak hanya berasal dari satu daerah tetapi dari berbagai daerah yang mempunyai kultur dan budaya masing-masing (Ramli 2. Namun demikian, perbedaan struktur budaya bukanlah kendala yang berarti, hal itu justru menjadi pendorong santri untuk memahami arti sebuah keragaman yang harus di manifestasikan dalam prilaku kehidupan sehari-hari sehingga menjadi sebuah sikap toleran, saling menghormati dan menghargai (Husna Nashihin 2017. antara santri dengan santri lainnya. Salah satu pondok pesantren yang sudah melaksanakan model pendidikan multikultural adalah Pondok Pesantren As-Syamsuriyah Brebes. Pondok pesantren ini awalnya adalah kelanjutan dari sebuah Majlis TaAolim Al qurAoan yang didirikan dan diasuh oleh Kyai Sjamsuri Al Hafidz beserta istrinya pada tahun 1964, setelah beliau wafat, maka dilanjutkan oleh putra beliau yang bernama KH Asmuni yang selalu konsen dan istiqomah dalam mengajarkan Pendidikan Islam kepada masyarakat. Dengan berbagai usaha dan upaya serta atas dorongan dari kyai-kyai sepuh di beberapa wilayah jawa, antara lain KH. Abdullah Faqih Langitan Tuban, maka pada tahun 2001 didirikanlah pondok pesantren yang di beri nama Asy Syamsuriyah. Pondok pesantren ini mempunyai dua tipologi yaitu pesantren tradisional . dan pesantren modern . Jika dilihat dari tipologi pesantren menurut Kementerian Agama, ada tiga tipologi model pondok pesantren yaitu pesantren salafiyah, pesantren khalafiyah, dan pesantren campuran atau kombinasi. (Dirjen Kelembagaan Agama Islam pondok pesantren dan Madrasah Diniyah Depag RI, 2003:2. Maka hemat penulis bahwa Pondok Pesantren As-Syamsuriyah Brebes termasuk tipologi pesantren campuran atau kombinasi. Pendidikan multikultural di pondok pesantren tradisional dan modern yang berada di Pondok Pesantren As-Syamsuriyah Brebes berjalan secara konstruktif atas prakarsa pendiri pondok pesantren asy syamsuriah yaitu KH. Asmuni dan kemudian dilanjutkan oleh penerus beliau yaitu KH. Ahmad At Taftazani. Pd dan KH. Nubhatul Fikri. Th. pesantren harus mampu memahami dan menjembatani perbedaan-perbedaan serta memperhatikan selera masyarakat. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kyai sebagai arsitek kemasyarakatan . ocial enginee. harus memperhatikan selera masyarakat (Zamakhsyari Dhofier 2. Dengan memperhatikan selera masyarakat inilah, pesantren mampu bertahan untuk mengembangkan lembaga-lembaga pesantren (Husna Nashihin 2019. yang disesuaikan dengan kehidupan modern (Husna Nashihin dan Asih Melalui model pendidikan multikultural di pesantren tradisional dan modern di pesantren asy syamsuriyah ini diharapkan mampu mewujudkan format pendidikan multikultural pondok pesantren (Husna Nashihin 2019. ideal yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Model Pendidikan multikultural di pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren As-Syamsuriyah Brebes menjadi sangat penting untuk dibahas sebab model pendidikan multikultural ini sangat diterima di masyarakat sekitar Brebes, terbukti dengan jumlah santri yang mencapai ribuan. Dalam implementasinya, pondok pesantren ini tetap melaksanakan dan memasukan kurikulum pendidikan multikultural. Inilah yang Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. menjadikan sekolah di pesantren ini mempunyai nilai tambah dibanding yang lain. Berdasarkan pemaparan diatas, maka ada beberapa hal yang cukup urgen untuk dijadikan pembahasan pertama, arus globalisasi saat ini mengharuskan pendidikan multikultural dipondok pesantren tradisional dan modern dilaksanakan secara konstruktif. Kedua, model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern terus dilestarikan dan dijaga guna menjawab tantangan zaman. Ketiga, pola model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern perlu untuk terus dikaji dan dikembangkan guna menemukan pola yang ideal. Keempat, diperlukan sebuah model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisonal dan modern. Metode Penelitian lapangan ini menggunakan analisis data kulitatif deskriptif (Sugiyono 2. , sehingga tujuan penelitian ini mendeskripsikan integrasi model pendidikan pondok pesantren salaf dan khalaf di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu pendidikan Islam dalam mengkaji integrasi model pendidikan pondok pesantren salaf dan khalaf di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan Fenomenologi sebagai pendekatan khas penelitian kualitatif. Guna mendapatkan data yang komprehensif, peneliti menggunakan metode observasi partisipan, artinya peneliti ikut menjalani peran sebagai personil di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Selain itu, peneliti juga menggunakan metode wawancara mendalam . ndepth intervie. (Santosa 2. , sehingga data yang didapatkan bisa valid sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Observasi dilakukan terhadap proses pendidikan salaf dan khalaf yang berlangsung di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Selanjutnya, wawancara dilakukan kepada semua personil Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes, yang terdiri dari pengurus, pendidik atau ustadz, serta peserta didik atau santri. Berkaitan dengan dokumen (Mukhtazar 2. , maka peneliti menggunakan metode pengumpulan data dokumentatif. Metode ini dilakukan untuk memperoleh data terkait pendidik, peserta didik, serta dokumen kurikulum di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Hasil dan Pembahasan Landasan Filosofis Pendidikan Multikultural Pondok Pesantren Tradisional dan Modern Di Pondok Pesantren As Syamsuriyah Brebes Filosofi pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes tentunya mengacu pada ayat al QurAoanul Karim, salah satunya dalam surat Al Hujurat ayat 13 berbunyi: AOON EI I ECIEI II E O IO OEIEI O OCE EAO I EIEI I NEE CEI IA ANEE EOI OA Artinya : AuHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu, sesunggunya Allah Maha Mengetahui lagi Maha MengenalAy. Islam telah mengajarkan nilai-nilai pendidikan multikultural diantaranya nilai keadilan, kesetaraan dan keberagaman. Keberagaman dan perbedaan dalam kehidupan manusia adalah sunnatullah. Al-QurAoan telah memberikan beberapa isyarat penting baik secara eksplisit maupun implisit tentang eksistensi keragaman dan perbedaan. Melalui ayat ini bahwa manusia secara fitrah sebagai makhluk sosial, maka hidup bermasyarakat Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 merupakan sebuah keniscayaan dan melalui kehidupan yang kolektif maka didalamnya terjadi banyak perbedaan antara satu dengan lainnya. Ayat tersebut diatas diturunkan untuk mengcounter pemikiran sempit sebagian sahabat yang mendiskriminasikan fenomena warna kulit serta kedudukan diantara mereka sehingga menyebabkan adanya prilaku yang diskriminatif terhadap orang lain. ( KHQ Saleh. HAA Dahlan dkk 2. Pondok Pesantren As Syamsuriyah Brebes memiliki kaidah Aual- muhafadhotu Aoala alqodimi al-sholih wa al-akhdzu bil jadidi al-ashlahAy menjadi prinsip utama dalam mengelola pondok pesantren . e Graaf dan van den Bos 2. , sehingga dinamika pengelolaan lembaga yang dilakukan akan mampu menjaga kekhasan pondok pesantren sebagai lembaga asli yang dilahirkan di Indonesia oleh para kyai. Selanjutnya prinsip ini menjadi landasan filosofis yang lain dalam melaksanakan model pendidikan multikultural di pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren As-Syamsuriyah Brebes. Secara historis, prinsip ini secara umum juga menjadi landasan filosofis pengembangan pondok pesantren, baik model tradisional maupun modern yang ada di Indonesia. Prinsip-prinsip pendidikan agama Islam berbasis multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren As Syamsuriyah Brebes juga sangat dipengaruhi oleh cara pandang Kyai Ahmad At Taf tahzani. Pd dan KH. Nubhatul Fikri. Th sebagai penerus dari KH. Asmuni Syamsuri yang merupakan pendiri Pondok Pesantren As-Syamsuriyah Brebes. Prinsip-prinsip pendidikan multikultural yang ada di pesantren ini selalu dikaitkan dengan pengajaran pendidikan agama Islam yang sudah diberikan kepada santri-santrinya seperti belajar hidup dalam perbedaan, saling percaya dan pengertian antara santri yang satu dengan santri lainnya, saling menghargai dan terbuka dalam berfikir serta memberikan apresiasi terhadap santri lainnya. (Wawancara dengan Edi S Alumni pondok pesantren asy syamsuriyah :27 Juni 2. Implementasi model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren As Syamsuriyah Brebes Secara umum, model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern dilakukan dengan pola tersendiri sesuai dengan tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun demikian, ada satu permasalahan yang secara umum menjadi kesulitan bersama semua pondok pesantren ketika akan melakukan penerapan model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern. Pondok pesantren tradisional dan modern dalam hal ini adalah pondok pesantren asy syamsuriyah brebes telah melakukan berbagai cara dalam merealisasikan pendidikan multikultural kepada seluruh santrinya. Pondok pesantren Asy Syamsuriyah telah melakukan berbagai cara untuk merealisasikan pendidikan multikultural dalam mengharmonisasikan para santri. Pendidikan multikultural menurut Choirul Mahfud sangat relevan untuk diterapkan dalam meminimalisir terjadinya konflik di suatu daerah, melalui pendidikan berbasis multikultural ini masyarakat bisa semakin terbuka untuk memahami dan menghargai berbagai keragaman. Pondok pesantren Asy Syamsuriyah telah menerapkan pendidikan multikultural dan secara garis besar dapat di lihat dalam beberapa hal antara lain. (Wawancara dengan KH. Nubhatul Fikri salah satu penerus pondok pesantren asy syamsuriyah, 27 Juni 2. Beragamnya bahasa yang di wajibkan oleh pondok pesantren asy syamsuriyah terhadap santri-santrinya sebagai pengantar bersama dalam komunikasi telah memberikan ruang kepada para santri untuk memiliki kesempatan yang sama dalam berprestasi. Demikian juga dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang memungkinkan setiap individu untuk berkomunikasi dan memahami antara satu dengan yang lainnya tanpa halangan. Karena pondok pesantren asy syamsuriyah mempunyai latar Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. belakang santri dari pelbagai daerah, maka pondok pesantren ini juga menjadikan bahasa khususnya bahasa indonesia untuk di jadikan sebagai alat pemersatu bagi santri-santrinya, demikan agar tidak terjadi miskomunikasi antar santri. Hal ini juga sesuai dengan konsep pendidikan multikultural yang menekankan pada terwujudnya peserta didik atau santri untuk belajar dalam hidup bersama dengan perbedaan masing-masing. (Choirul Mahfud 2. Sehingga pendidikan yang sedang berjalan akan menciptakan sebuah hubungan pertemanan yang saling menghormati dan harmonis. (Azyumardi Azra 2. Nilai pendidikan multikultural akan menumbuh kembangkan nilai-nilai pluralisme dan mengurangi ketegangan akibat dari perbedaan-perbedaan yang terjadi di masyarakat. Hal ini juga sesuai dengan tujuan pendidikan multikultural itu sendiri yaitu meningkatkan kesadaran humanis, pluralis dan demokratis. (James A. Bank 2. Pemanfaatan bahasa khususnya bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi yang dilakukan oleh pondok pesantren asy syamsuriyah brebes merupakan langkah yang sangat tepat, hal ini bertujuan agar pemahaman yang diberikan kepada santri-santri bersifat Begitu juga penggunaan bahasa khususnya bahasa Indonesia di pondok pesantren asy syamsuriyah brebes sebagai wujud implementasi dari asas filosofi bangsa Indonesia yaitu Bheneka Tunggal Eka. Nilai-nilai filosofis berbasis multikultural yang sudah diajarkan pondok pesantren asy syamsuriyah brebes kepada santri-santrinya bersifat universal seperti: Nilai-nilai keikhlasan dalam beramal, kesederhanaan, kemandirian, kebebasan dan persaudaraan. Nilai-nilai seperti ini sudah menjadi doktrin bagi para santri, sehingga ketika mereka bergaul dengan siapa saja yang notabene berasal dari berbagai latarbelakang suku, agama, ras dan antar golongan, meraka akan selalu tetap menghormati dan menjaga kesatuan. (Wawancara dengan Syukron. Pd, salah satu Ustadz Pondok pesantren asy syamsuriyah, 27 Juni 2. Materi-materi pembelajaran dalam bangunan kurikulum pendidikan berbasis multikultural di pondok pesantren asy syamsuriyah menempati posisi yang cukup urgen. Artinya materi pembelajaran menjadi sangat urgen pada pengembangan model pendidikan multikultiral sebagai jembatan atau penerjemah tujuan pendidikan yang bersifat teroritis-normatif (Wahyuni 2. yang menjadi hasil atau output yang konkrit melalui metode-metode pembelajaran berbasis multikultural yang sesuai, peranan ini terasa begitu sentral karena selain ditentukan oleh tujuan, materi yang menentukan, juga metode apa yang akan digunakan, kombinasi sinergis di antara ketiganya adalah kunci kesuksesan pendidikan multikultural di pondok ini. Dalam perencanaan kurikulum pondok pesantren asy syamsuriyah memasukan dimensi multikultural dalam kurikulumnya dengan pendekatan aditif dan pendekatan transformatif, pondok pesantren asy syamsuriyah mengintegrasikan dimensi multikultural dengan tidak mengembangkan kompetensi dasar tetapi dilakukan dengan mengembangkan indikator pencapaian kompetensi dasar. Pengembangan kompetensi multikultural (Yaqin 2. tidak diarahkan pada penambahan atau perubahan kompetensi dasar, cukup pada ranah indikator saja karena sebagaian kompetensi dasar sudah terdapat dimensi multikulturalnya. Pendekatan ini dilakukan untuk mengintegrasikan materi multikultural ke kurikulum dan dapat dipadukan dalam situasi pengajaran yang aktual dalam semua pelajaran. (Wawancara dengan Hilman S. Pd, salah satu Ustadz ponpes asy syamsuriyah, 27 Juni 2. Hal ini sesuai dengan teori yang ditawarkan oleh James A Bank yang menyebutkan bahwa terdapat empat pendekatan dalam mengintegrasikan dimensi multikultural ke dalam kurikulum yaitu: pertama Pendekatan kontribusi (Contribution Approac. , kedua Pendekatan Aditif (Aditif Approac. , ketiga pendekatan transformatif (Transformative Approac. keempat pendekatan aksi sosial (Social Action Approac. Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 (Abdullah Aly 2. Kurikulum model pendidikan multikultural pondok pesantren Asy Syamsuriyah Brebes mengacu kepada karakteristik model kurikulum pendidikan multikultural yang ada pada pondok pesantren modern, yang diadaptasikan dengan kurikulum pendidikan Islam berbasis multikultural yang disponsori oleh Departemen Agama melalui sekolah formal berupa TK Taswirul Afkar, yang selanjutnya diikuti dengan MTs As Syamsuriyah. MA dan SMK As Syamsuriyah Brebes (Wawancara dengan KH. Nubhatul Fikri, salah satu pengasuh pesantren asy syamsuriyah brebes, 27 Juni 2. Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes sebagai kontribusi Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan multikultural bertujuan untuk menciptakan stabilitas dan integrasi nasional serta peningkatan kualitas peradaban masyarakat ke arah yang lebih positif. Maka dari itu latar belakang kehidupan masyarakat harus mendapatkan perhatian yang proporsional, sehingga model pendidikan yang diberikan kepada mereka sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat tersebut. (Maslikha 2. Pendidikan multikultural harus di formulasikan dan di manifestasikan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang harmonis, inklusif dan saling menghargai, oleh karena itu perlunya membangun paradigma dalam pendidikan multikultural dengan semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan ini menjadi penting untuk di jadikan acuan karena adanya pluralitas bangsa yang terdiri dari segi etnik, budaya, wilayah, agama, yang oleh faktor internal maupun eksternal dimungkinkan akan mengancam keutuhan wilayah NKRI terlebih lagi adanya pengaruh globalisasi dan perkembangan zaman semakin kuat. (Mudzakir Ali 2. Sehingga upaya-upaya konstruktif yang dilakukan sesuai dengan semboyan masyarakat Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika dengan nilai-nilai agama dan pancasila sebagai Secara historis, dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara, masalah kesatuan dan persatuan bangsa telah mengalami pasang surut dimulai dari polemik antara Natsir dengan Sukarno tentang hubungan antara agama dan negara pada masa pra kemerdekaan yang direpresentasikan dengan kubu nasionalis sekuler dengan Islam politik. (Ahmad Suhelmi, 1. Pada masa awal kemerdekaan dan masa orde lama juga terjadi pertarungan ideologis yang berakhir dengan kontak senjata. Sampai pada masa orde baru juga banyak mengalami tekanan dari penguasa dengan paham otoriter militerisme. Banyak persoalan di tanah air yang muncul mulai dari aspek sosial, budaya dan agama disinyalir karena lemahnya peran pendidikan multikulturalisme. Berbagai peristiwa seperti konflik antar ras, suku, agama dan golongan serta perebutan kekuasaan di berbagai daerah adalah bukti bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman masih lemah. era reformasi pun tidak hanya membawa berkah namun ada kecenderungan sikap primordialisme bagi bangsa kita. Oleh karena itu pendidikan multikultural adalah konsep yang tepat untuk menciptakan pemahaman keberagaman dalam masyarakat dan pengembangan konsep negara bangsa yang didasarkan pada keragaman kebudayaan, suku, ras agama menuju kesatuan dan persatuan negara republik Indonesia. Di pesantren asy syamsuriyah, untuk membentuk santri yang memahami pendidikan multikultural sekaligus sebagai kontribusi dalam menjaga NKRI dapat juga terlihat dari aktifitas dan kajian yang sudah menjadi program pondok pesantren ini dalam forum musyawarah atau bahtsul masail, antara lain : . Kajian yang membahas tentang pemahaman santri terhadap keragaman dan perbedaan serta bagaimana menyikapinya. Bahtsul masail tentang fenomena sosial yang muncul terkait dengan keragaman budaya masyarakat yang selanjutnya dikaji dalam perspektif Islam. Secara fakta santri pondok Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 pesantren asy syamsuriyah bisa melakukan interaksi dengan masyarakat umum dan sanggup menghormati perbedaan- perbedaan yang terjadi di masyarakat. Hal ini juga di jelaskan oleh pengasuh pesantren. KH Nubhatul Fikri bahwa bagian dari mengamalkan ajaran agama adalah menghormati kelompok-kelompok lain meskipun berbeda dalam (Wawancara dengan pengasuh pondok pesantren asy syamsuriyah. KH Nubhatul Fikri, 27 Juni 2. Dari penjelasan tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa Pondok pesantren Asy syamsuriyah Brebes telah memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam upayanya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini terbukti dengan apa yang sudah di kerjakan dan di praktekan dalam proses pembelajaran yang diberikan terhadap santrisantrinya terkait dengan pemahaman tentang pendidikan multikulturalisme, yang berwawasan pluralis sekaligus berwawasan multikultural. Pembelajaran seperti ini dapat mencegah dan menanggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme dan desintegrasi bangsa. Peluang dan Tantangan Model Pendidikan Multikultural Pondok Pesantren Tradisional Dan Modern di Pondok Pesantren Asy syamsuriyah Brebes Model pendidikan multikultural yang dikembangkan di Pondok pesaantren Asy Syamsuriyah Brebes sebenarnya secara esensial sebagai manifestasi dan aplikasi ajaran agama Islam yang memadukan tiga unsur pengajaran yaitu unsur ibadah untuk menanamkan iman, unsur tabligh (Kholish. Hidayatullah, dan Nashihin 2. untuk menyebarkan ilmu dan amal, dan unsur sosial untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari. (Imron Arifin 1. Ada peluang dan tantangan yang dihadapi dari penerapan model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes antara lain sebagai berikut. Peluang Tantangan Kebutuhan terhadap kyai atau ulama yang Minat masyarakat yang semakin berilmu agama Islam yang mumpuni dan Menurun terhadap model pendidikan memahami kurikulum pendidikan formal pesantren dan berkurangnya fokus berbasis multikultural sebagai bekal untuk pendidikan di bidang ilmu agama Islam hidup ditengah masyarakat Kebutuhan atas pemuka agama Islam Diperlukannya ijazah dan sertifikat di masyarakat mendesak untuk untuk keahlian bagi lulusan untuk bisa survive mengatasi dekandensi moral yang terjadi ditengah masyarakat karena adanya persaingan kualitas pendidikan formal yang semakin tajam. Dibutuhkannya lembaga pendidikan yang Diperlukannya pendidikan formal yang mengajarkan tentang pendidikan dampak negative arus globalisasi yang multikultural sebagai pemahaman dalam menjadi penyebab disintegrasi dan pemersatu bangsa pecahnya persatuan bangsa. Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 Dibutuhkannya fatwa kyai atau ulama Diperlukannya keterampilan umum, ditengah kondisi masyarakat yang Terutama di bidang teknologi informasi beragam budaya, suku, ras, agama yang era milenial saat ini Berdasarkan tabel diatas, ada empat peluang dan empat tantangan yang dimiliki dalam mengembangkan model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Selanjutnya peluang dan tantangan tersebut menjadi pedoman pengembangan pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes. Simpulan Implementasi model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes dapat dilihat dalam pola aplikasi integralistik pendidikan sekolah ke dalam lingkungan pendidikan pesantren yang terdiri dari TK Taswirul Afkar. MTs As Syamsuriyah. MA dan SMK As Syamsuriyah. Skema ini merupakan trend positif yang diharapkan bisa menepis kelemahan masing-masing model pendidikan multikultural pondok pesantren tersebut. Bagi pendidikan multikultural pondok pesantren, integrasi semacam itu merupakan peluang yang sangat strategis untuk mengembangkan tujuan pendidikan multikultural secara lebih aktual dan kontekstual. Landasan filosofis model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes mengacu pada Al QurAoan surat Al Hujurat ayat 13 yang menjelaskan tentang keberagaman dan tidak berprilaku diskriminatif dalam menilai orang lain. Serta kaidah Aual-muhafadhotu Aoala al-qodimi al-sholih wa alakhdzu bil jadidi al-ashlahAy yang sekaligus menjadi prinsip utama pengembangan pondok Selanjutnya, implementasi model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes didasarkan pada tiga aspek, yaitu aplikasi penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari santri di lingkungan pondok pesantren, penerapan nilai-nilai filosofis berbasis multikultural dan implementasi pemberian materi pelajaran berbasis multikultural. Pondok pesantren asy syamsuriyah juga turut andil dalam menjaga NKRI, itu terbukti dengan kontribusi pendidikan dan pengajaran yang sudah di berikan kepada santri dan masyarakat sekitar baik secara internal dalam pendidikan formal pesantren maupun eksternal dalam bentuk diskusi maupun pelatiahan. Sebagai evaluasi pelaksanaan model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes, maka dilakukan analisis peluang dan tantangan. Peluang yang dimiliki oleh Pondok Pesantren As Syamsuriyah Brebes ada empat, yaitu kebutuhan terhadap kyai atau ulama yang berilmu agama Islam yang mumpuni dan memahami kurikulum pendidikan formal berbasis multikultural sebagai bekal untuk hidup ditengah masyarakat, kebutuhan atas pemuka agama Islam dimasyarakat mendesak untuk mengatasi dekandensi moral yang terjadi dimasyarakat, dibutuhkannya lembaga pendidikan yang masih konsisten untuk mengcounter dampak negative arus globalisasi yang menjadi penyebab disintegrasi dan pecahnya persatuan bangsa, dibutuhkannya fatwa kyai atau ulama ditengah kondisi masyarakat yang beragam budaya, suku, ras, agama yang dinamis. Selain itu, ada empat tantangan yang harus dihadapi oleh Pondok Pesantren As Syamsuriyah Brebes, yaitu minat masyarakat yang semakin menurun terhadap model Abu Kholish (Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren TradisionalA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. pendidikan pesantren dan berkurangnya fokus pendidikan di bidang ilmu agama Islam, diperlukannya ijazah dan sertifikat keahlian bagi lulusan untuk bisa survive ditengah masyarakat karena adanya persaingan kualitas pendidikan formal yang semakin tajam, diperlukannya pendidikan formal sebagai tuntutan dunia pekerjaan dan diperlukannya keterampilan umum, terutama di bidang teknologi informasi era milenial saat ini. Pembahasan ini masih bersifat kasuistik, sehingga hasil pembahasannya hanya bisa diterapkan pada lembaga pendidikan yang menjadi tempat pembahasan. Sebagai rekomendasi pembahasan, diperlukan pembahasan lanjutan mengenai konstruksi model pendidikan multikultural pondok pesantren tradisional dan modern dengan mengambil sampel pembahasan secara lebih luas sehingga hasil pembahasannya bisa digeneralisasikan di pondok pesantren lainnya. Daftar Pustaka