ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 2 (Desember, 2. : 359-379 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Rio Sario Tamawiwi,1* Izak Y. Lattu,2 Tony Tampake,3 Gunawan Y. Suprabowo4 Universitas Kristen Satya Wacana *Corresponding Author Email: 752023004@student. Submitted: 03-07-2024 Accepted: 26-11-2024 Published: 23-12-2024 Abstract Soekarno's grave in Blitar is busy with pilgrims from various religions daily. This place has become a space for interfaith meetings. The Blitar government also annually facilitates interfaith prayer activities, which are held four times a year as a symbol of fostering a spirit of tolerance. When pilgrims hold a prayer ritual, a third space is formed for social interaction between the first room and the second room. This article aims to answer the ontological question regarding understanding the encounter between interfaith pilgrims who form the third space at the Soekarno Tomb. This article uses a qualitative descriptive method through literature review, observations, and in-depth interviews in the Soekarno Grave Area. Blitar. The research results concluded that interfaith encounters during the pilgrimage at Soekarno's grave created a thirdspace construction according to Edward Soja's theory, which can be applied at the individual, institutional and community levels. Based on these findings, the main argument is that Soja's thirdspace construction is a framework for thinking to build social glue. The thirdspace construction allows humans to interact socially, which connects different characters and traits. Keywords: SoekarnoAos Grave. Pilgrims. Thirdspace Construction. Interfaith Relation. Abstrak Makam Soekarno di Blitar setiap hari ramai dikunjungi peziarah dari berbagai agama. Tempat ini telah menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Pemerintah Blitar juga setiap tahun memfasilitasi kegiatan doa lintas agama yang dilakukan empat kali setahun sebagai simbol menumbuhkan semangat toleransi. Ketika peziarah mengadakan ritual doa, terbentuk thirdspace sebagai ruang interaksi sosial yang berada di antara ruang pertama dan ruang kedua. Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan ontologis tentang pemahaman perjumpaan peziarah lintas agama yang membentuk thirdspace di Makam Soekarno. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melalui kajian literatur, pengamatan, dan wawancara mendalam di Kawasan Makam Soekarno. Blitar. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perjumpaan lintas agama pada ziarah di Makam Soekarno menciptakan konstruksi thirdspace menurut teori Edward Soja yang dapat diterapkan pada tingkat individu, kelembagaan, dan masyarakat. Berdasarkan temuan tersebut, argumentasi utamanya adalah bahwa konstruksi thirdspace Soja menjadi kerangka berpikir dalam rangka membangun perekat sosial. Konstruksi thirdspace membentuk manusia untuk dapat berinteraksi sosial dengan baik yang menghubungkan berbagai karakter dan sifat yang berbeda-beda. Kata-kata Kunci: Makam Soekarno. Peziarah. Konstruksi Thirdspace. Relasi Lintas Agama @ Copyright: Authors 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Menghadapkan agama dengan konflik dapat menimbulkan keheranan, sebab agama diyakini sebagai pemelihara ketertiban, ketentraman dan kesimbangan dalam masyarakat. Namun kenyataannya, kita menyaksikan begitu banyak konflik antarumat agama sejak tahun 1995 di mana umat beragama dijadikan subjek maupun objek tindak kekerasan. Konflik agama menimbulkan ketegangan atau pertentangan yang muncul antara individu, atau komunitas yang memiliki perbedaan persepsi dan menginterpretasi ajaran agamanya. Faktor lain penyebab terjadinya konflik agama adalah perbedaan pemahaman keyakinan, kepentingan, dan budaya yang mengancam persatuan bangsa, memecah relasi antarumat 3 Konstruksi thirdspace menjadi penting dalam upaya perdamaian, sebab berbagai konflik atas nama agama mengakibatkan kehancuran konstruksi nilai-nilai sosial dalam kehidupan bersama yang dibangun di tengah masyarakat. Untuk itu diperlukan pendekatan dan pemahaman lintas budaya dalam pengembangan masyarakat multikultural. Kota Blitar menurut sejarahnya didirikan sekitar abad ke-15 oleh Gusti Sudomo, anak Adipati Wilatika Tuban sebagai orang kepercayaan Kerajaan Majapahit. Gusti Sudomo mendapat mandat untuk menumpas pasukan Tartar dari Asia Timur yang menguasai Blitar. Makam Soekarno terletak di desa Bendogerit Kecamatan Sananwetan Kabupaten Blitar yang didesain dengan arsitektur khas Jawa berbentuk bangunan joglo. Setiap hari peziarah yang datang di Makam Soekarno adalah peziarah yang berasal dari berbagai agama. Perjumpaan lintas agama di Makam Soekarno menjadi penting sebab perjumpaan ini menjadikan interaksi sosial yang interreligious. Makam Soekarno menjadi ruang dialog tanpa teks, seperti yang disebutkan oleh Izak Lattu, sebagai solusi untuk membangun Lattu memakai contoh bentuk memori kolektif lisan dalam keterlibatan agama Kristen-Muslim di Maluku sangat efektif bila dibandingkan dengan konsep tekstual. Keterlibatan antaragama berdasarkan interaksi dinamika lokal yang dilestarikan bukan Muhamad Hisyam. AuAgama Dan Konflik SosialAy. Masyarakat Dan Budaya, 8 . , 141. Nofry Puttileihalat. AuSesama Beda Agama (Islam-Kriste. Sebelum Dan Sesudah Konflik Sosial Di Kota Masohi,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama 2, no. Lukman Ismail. AuMeretas Jalan Damai: Pandangan Terhadap Penyelesaian Konflik Antaragama,Ay Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 5 . , 84Ae85. Zaenuddin Hudi Prasojo and dan Mustaqim Pabbajah. AoAkomodasi Kultural Dalam Resolusi Konflik Bernuansa Agama di IndonesiaAo. Aqlam, 5 . , 2. Rizky Darmawan. Sindo News. Asal-usul Nama dan Sejarah Blitar. Wilayah yang Sebelumnya Hutan Belantara, https://daerah. com/read/1007203/704/asal-usul-nama-dan-sejarah-blitar-wilayah-yangsebelumnya-hutan-belantara-1674810108diunggah pada 1 Juli 2024 jam 23. 17 WIB Dinas Pariwisata. AoDinas Informasi. Komunikasi Dan Pariwisata Daerah Kota Blitar. Kawasan Wisata Makam Bung KarnoAo, in Dinas Pariwisata Kota Blitar, 2012, pp. 10Ae17. Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Rio Sario Tamawiwi. Izak Y. Lattu. Tony Tampake. Gunawan Y. Suprabowo dalam pertemuan formal namun dalam pertunjukkan ritual, narasi lisan, dan lagu-lagu daerah sesuai konteks dan pada praktik agama lokal. Tulisan mengenai thirdspace pernah dihasilkan oleh Sebastian Tanuwidjaja yang menjelaskan teori thirdspace Edward Soja dalam relasi sosial di Pasar Mayestik. Bagi Tanuwidjaja, thirdspace sebagai cara lain untuk memahami dan bertindak untuk mengubah spasial kritis yang sesuai dengan ruang ruang lingkup baru dan signifikansi. Tanuwidjaja menulis bahwa Soja mensintesiskan teori-teori ini dengan karya pemikir postcolonial dari Gayatri Chakravorty Spivak. Soja menunjukkan kecenderungan ke arah mistisisme monadic pada konsep thirdspace. Thirdspace bagi Soja adalah konsep inklusif secara radikal yang mencakup epistemologi, ontology, dan historisitas dalam gerakan terus menerus di luar dualisme dan menuju an-other. Soja menjelaskan bahwa thirdspace adalah konsep transenden yang terus berkembang untuk memasukkan an-other, sehingga memungkinkan kontestasi dan negosiasi ulang batas dan identitas budaya. Selanjutnya. Ghoustanjiwani Adi Putra dalam penelitiannya, menuliskan kembali pemikiran Lefebvre dalam Production of Space dengan mengamati gejala spasial pada kota modern dan postmodern di mana pada era modern kota akan mengalami perubahan fungsi ruang yang signifikan. Putra menulis bahwa perlu dikaji ulang untuk memahami asal usul terbentuknya ruang yang terinspirasi dari gagasan Edward Soja mengenai konsep ruang yang diproduksi dari berbagai rangkaian aktivitas di dalamnya. 9 Asep Muhammad Iqbal menulis tentang bagaimana hubungan keagamaan di Kota Waringin Timur dapat terjalin dengan damai sebagai wujud memelihara narasi ruang ketiga di Kota Waringin Timur yang terdiri dari berbagai suku. Jawa. Bugis. Batak. Banjar di mana semuanya diterima sebagai Konstruksi ruang ketiga juga terlihat pada narasi AusahabatAy. Kebiasaan warga masyarakat menyebut sesamanya sebagai teman atau sahabat. Di samping itu, warga masyarakat juga masih ada ikatan darah, persaudaraan dan kekeluargaan. 10 Berbeda dari beragam penelitian mengenai thirdspace sebelumnya, penelitian ini menempatkan fokus ruang ketiga itu pada perjumpaan lintas iman dari para ziarah di Makam Soekarno. Artikel ini menawarkan thirdspace sebagai perekat sosial dari pengalaman perjumpaan para Izak Y. AoRethinking Interreligious Dialogue: Orality. Collective Memory, and ChristianMuslim Engagements in IndonesiaAo, in Global Religion, ed. by Global Religion (Brill Publish, 2. Sebastian Tanuwidjaja dan Sidhi Wiguna Teh. AoPasar Publik MayestikAo. Stupa, 20222, 178. Ghoustanjiwani Adi Putra. AoPawonAo. Arsitektur, 1 . , 69,71. Asep Muhamad Iqbal. AoConstructing Third Space in a Multi Religious Society: Interreligious Relations Kalimantan Tengah. IndonesiaAo. Kalam, . , 357,364 . Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Rio Sario Tamawiwi. Izak Y. Lattu. Tony Tampake. Gunawan Y. Suprabowo desa dipimpin oleh tokoh agama yang menggunakan ritual sesuai dengan agama yang Berbagai kegiatan kebudayaan di mana melibatkan masyarakat berbagai suku, agama dan golongan sebenarnya telah menjadi konstruksi thirdspace yang dapat memperkuat hubungan masyarakat dalam menghalau provokasi politik identitas. Ritual ini menyadarkan pentingnya persaudaraan yang harus saling menjaga hubungan sosial. Tradisi Pela bagi masyarakat di Ambon dapat membentuk konstruksi ruang ketiga sebab pranata ini telah hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial sebagai sebuah perekat hubungan pemeluk agama Kristen dan Islam. Pela memiliki keunggulan kebudayaan yang disebut budaya rukun damai berasaskan kekerabatan dalam konsep kearifan lokal yang muncul digagas oleh kecerdasan leluhur. 32 Asal usul Pela dijelaskan oleh Lattu, bahwa masyarakat Maluku percaya bahwa Nunusaku adalah gunung suci dan mistis di Pulau seram sebagai asal usul mereka. Orang bermigrasi dari Nunusaku menyusul kekacauan komunal yang disebabkan pembunuhan terhadap Puteri Hainuwele yang lahir dari campuran darah Ameta, pemimpin Nunusaku dan air kelapa. Ameta diliputi duka dan memerintahkan rakyatnya meninggalkan Nunusaku. Migrasi Nunusaku menjadi awal tradisi pela antara negeri Latu (Musli. dan Huniteru (Kriste. diawali dengan narasi perjalanan mencari pemukiman baru. Kapata negeri Titawai (Lesnuss. nenek moyang beragama Kristen dan negeri Pelauw (Matasir. nenek moyang Muslim yang adalah saudara Melalui kata-kata Kapata, masyarakat melestarikan memori kolektif dan merefleksikan masa kini untuk memproyeksikan masa depan keterlibatan sosial di Maluku. Lagu-lagu daerah Maluku Kapata dan Kapata modern (Ambo. berfungsi sebagai jembatan komunitas Muslim dan Kristen. Tidak ada Muslim dan Kristen, kami memiliki perasaan yang sama, kami telah berbagi darah. Menurut Lattu, bahwa dialog terjadi tidak hanya dalam pertukaran teologis tetapi juga dalam kehidupan, tindakan dan berbagai pengalaman keagamaan di antara penganut yang Pluralisme agama telah dipraktikkan di Indonesia sejak Kerajaan Hindu dan mengungkapkan bahwa Negara Kertagama telah menggambarkan dan mengklaim keberagaman budaya bagi dialog antaragama di Indonesia. Di Indonesia, dialog kehidupan Husni Mubarok. AoDemokrasi. Politik Identitas. Dan Kohesi Sosial: Peluang Dan Tantangan Strategi Dakwah Untuk Menghalau Provokasi Politik Di IndonesiaAo. Jurnal Bimas Islam, 2 . , 394Ae95. https://w. com/search?q=maksud dan tujuan Pela&oq=maksud dan tujuan Pela&gs _UTF-8 diunggah 20 Mei 2024 pukul 09. Izak Y. Lattu. Rethinking Interreligious Dialogue: Orality. Collective Memory, and ChristianMuslim Engagements in Indonesia (Germany: Ferdinand Schoningh Wilhe, 2. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. dipraktikkan dalam hubungan sehari-hari antara umat Kristen dan Islam. Misalnya dalam interaksi umat Islam dan Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Sudah menjadi kebiasaan di Pulau Jawa, masyarakat berbeda agama berbagi rumah yang sama sebagai satu keluarga. Dalam semangat yang sama, masyarakat Maluku berbagi ruang keagamaan publik dalam pertukaran ritual. Dalam peresmian tempat suci keagamaan seperti syukuran di Jawa, bangunan keagamaan menjadi bangunan antaragama. Keterlibatan agama muncul dalam hubungan sehari-hari. Dalam arena interaksi sehari-hari berkontribusi pada terciptanya landasan bersama, sebagai konstruksi ruang ketiga yang memungkinkan komunikasi terjadi antar latar belakang sosial dan agama yang berbeda. Keterlibatan agama ini berpusat pada aktivitas sehari-hari dalam perjumpaan yang menciptakan kesadaran timbal balik di antara mereka sebagai konstruksi ruang ketiga. Perjumpaan mahasiswa Muslim dan Kristen di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, berhubungan langsung antara mahasiswa dengan simbol-simbol agama yaitu pemakaian jilbab dan kalung salib di ruang belajar. Simbol dan ritual sangat penting dalam konstruksi interaksi sosial, karena simbol dan ritual tersebut melampaui interaksi tatap muka atau fisik. Bagi Clifford Geertz, ritual menciptakan ruang untuk keterlibatan antaragama dengan menggunakan aspek ritualistiknya. Bagi Lattu, transmisi narasi dalam kehidupan masyarakat Maluku adalah bentuk lain dari kelisanan dalam keterlibatan antaragama. Orang tua menceritakan kembali kisah kekerabatan dan hubungan antaragama kepada anak melalui cerita lisan atau lagu daerah. Drama sosial, seperti penyucian tempat-tempat suci di Maluku merupakan peristiwa yang mempersatukan masyarakat dan mempererat tatanan sosial. Narasi privat maupun publik telah membangun dan memperkuat rasa basudara di antara umat Islam dan Kristen di Maluku. Rasa orang basudara muncul ketika mereka membayangkan kesamaan identitas mereka yang dipercaya berasal dari sebuah gunung keramat bernama Nunusaku di Pulau Seram. Pasca konflik Maluku, masyarakat menggunakan imajinasi kekerabatan budaya sebagai narasi bersama masa lalu untuk mempertemukan umat Muslim dan Kristen dalam landasan solidaritas dan identitas kolektif mereka. 35 Izak lattu mengatakan bahwa ritual memainkan peran penting dalam memperkuat kohesi sosial dan mengikat kebersamaan Narasi lisan, simbol, dan tindakan simbolis dalam ritual merebut kembali dan Ibid. Ibid. Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Rio Sario Tamawiwi. Izak Y. Lattu. Tony Tampake. Gunawan Y. Suprabowo menyebarkan memori kolektif. Pengetahuan lokal terkait dengan ingatan akan kehidupan kolektif sebelumnya. Thirdspace dalam Beragam Perspektif Konsep interreligious engagements merupakan salah satu alternatif untuk memahami relasi antaragama dalam komunitas. Dialog yang ditawarkan Lattu lebih mudah ditemukan dalam ruang-ruang perjumpaan sosial, misalnya di pasar, tempat bermain, ruang-ruang publik dan tentu saja di Makam Soekarno sebagai perwujudan ruang ketiga dari teori Soja. Konstruksi ruang ketiga di Toraja. Sulawesi Selatan, melalui perjumpaan lintas agama pada destinasi wisata Patung Yesus di Buntu Burake. Di atas ketinggian terlihat Wisatawan dimanjakan dengan pemandangan indah kota Makale dan bukit sekitarnya yang indah. Patung Yesus beserta undakannya memiliki ketinggian sekitar 45 meter di Buntu Burake diklaim sebagai patung Yesus tertinggi di dunia, sebab patung Yesus di Rio de Janeiro tingginya sekitar 38 meter. 37 Clifford Geertz dalam Penelitiannya mengenai ritual slametan atau pesta komunal di kalangan masyarakat Jawa di Indonesia menunjukkan pentingnya pertunjukkan dan tindakan kolektif dalam ritual tersebut. Dengan media makanan, slametan mempertemukan manusia dengan makhluk spiritual sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial di masyarakat. Ritual-ritual menciptakan ruang bagi keterlibatan antaragama, ketika pemimpin upacara seluruh peserta berbeda agama mengucapkan AuaminAy. Ucapan kolektif ini menciptakan rasa AukitaAy dalam ritual dan melampaui batas agama. Nancy Tatom Ammerman dalam Studying Lived menawarkan ruang perjumpaan sosial kepada para pembaca studi ilmiah dalam sudut pandang agama yang dihidupi. Dimensi spiritual hadir dalam praktek objek materialis yang merepresentasikan pengalaman Dengan keterlibatan agama sehari-hari yang dihidupi maka pengalaman akan makna simbol-simbol dan ritual yang membangun dan mempertahankan hubungan kepada yang transenden. Ammerman berargumen bahwa objek material keagamaan merupakan pusat identifikasi agama. Praktik keagamaan juga menyangkut tubuh dan ruang material di mana juga berhubungan dengan tradisi ziarah ke tempat suci. Ketika komunitas menghormati totem mereka, maka mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Momen perkumpulan sakral menjadi identitas komunitas. Material Ibid. https://makassar. com/read/2022/12/25/071000978/patung-yesus-buntu-burake-di-tanatoraja-patung-yesus-tertinggi-di-dunia?page=all diunggah pada 18 Mei 2024 pukul 17. 35 WIB Clifford Geertz. Agma Jawa (Ilionis: The Free Press of Glencoe, 1. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. memandu pemikiran keagamaan secara eksplisit seperti sajadah, patung Buddha, atau benda-benda yang dijadikan religius sesuai cara penggunaannya. Teori lived religion dari Nancy Ammerman mengatakan bahwa praktik agama terjadi dalam kehidupan sehari yang disebut sebagai agama yang dihidupi. Teori lived religion Ammerman menyadari bahwa praktik keagamaan yang dihidupi setiap hari berkaitan dengan sensitivitas dalam bahasa privatisasi namun konstruksi ruang ketiga harus dibangun sebagai ruang bersama yang nyaman bukan sebagai tempat mencari perbedaan. 40 Dalam bukunya ini kita diajak untuk memperluas pandangan kita melampau teks-teks dan doktrindoktrin resmi untuk melihat bagaimana gagasan yang sakral muncul juga di tempat-tempat yang tidak resmi. Berarti kita dapat menemukan agama baik di tempat religius maupun di tempat pertemuan sehari-hari. Agama yang dihidupi dapat kita temukan pada komunitas kemanusiaan, menyalurkan bantuan bencana, menampung pengungsi, membantu tunawisma dan sebagainya. Tentu saja agama juga terjadi ketika manusia berkumpul pada Lembaga keagamaan melalui kepemimpinan masyarakat dan Lembaga yang keyakinannya menjadi alasan keterlibatan mereka. Mempelajari agama yang dihayati sebagai praktik berarti bahwa peristiwa-peristiwa, orang-orang dan institusi-institusi memperoleh identitas keagamaan mereka dalam praktik-praktiknya termasuk menganut keyakinan pada identitas Menurut Ammerman agama hanya ada di samping realitas lain dalam kehidupan sehari-hari berarti terdapat kisah yang terjadi sehari-hari di kantor dan rumah sakit menjadi ruang sakral sekaligus sekuler. Agama yang dianut masyarakat terjalin dari bahasa, simbol, serta interaksi yang terjadi di ruang publik dan lembaga birokratis. Agama benar-benar terjadi dalam setiap aktivitas manusia sehari-hari dan ada di mana saja. 42 Dalam beberapa keadaan membawa kepekaan agama mereka dengan cara membentuk hubungan dan perilaku sehari-hari. Agama dihayati juga melampaui dunia privat dari apa yang dilakukan orang di tempat kerja, pasar, rumah sakit dan lingkungan. Diperlukan pencarian agama yang hidup di tempat kerja, pasar, rumah sakit, di jemaat dan rumah tangga. Ammerman Nancy Tatom Ammerman. Studying Lived Religion: Contexts and Practices (USA: NYU Press. Ibid. Ibid. Karman. AoEveryday Religion: Tawaran Metode Penelitian Sosial Bagi Pengembangan Studi IslamAo. Studi Islam, 10 . , 188Ae90. Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Rio Sario Tamawiwi. Izak Y. Lattu. Tony Tampake. Gunawan Y. Suprabowo menegaskan bahwa orang berinteraksi satu sama lain dan dengan dunia dengan cara mencakup bahasa, benda-benda budaya sakral, praktik, dan cerita sakral. Inger Furseth mengatakan bahwa agama dalam bahasa latin ditafsirkan AukembaliAy yang berarti sesuatu diulang-ulang dalam bentuk ritual. Roland Robertson seorang Sosiolog mengatakan agama sebagai Ausupra-empirisAy dan transenden. Seperangkat keyakinan yang mengendalikan dan berusaha mengatur perbedaan antara realitas empiris sebagai pengalaman dan realitis supra-empiris. Perbedaan yang empiris dan supra-empiris menghasilkan makna dimana dalam budaya seluruh keberadaannya diresapi pada kehidupan sehari-hari dipercaya dipenuhi oleh kekuatan yang transenden. Misalnya dalam kegiatan agama Kristen, doa-doa yang diulang-ulang tentunya dipercayai memiliki kekuatan supranatural dan Tuhan bertindak di dalamnya. Praktik keagamaan sebagai pengalaman yang transenden pelakunya merasakan kehadiran yang sakral sudah terbingkai secara sosial. Agama juga mencakup pengalaman akan yang sakral dan institusi membangun simbol dan ritual dalam memelihara hubungan 45 Praktik keagamaan mengharuskan kita untuk memberikan perhatian pada ekologi keagamaan dalam budaya dan pada sistem yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang diwajibkan. Pada setiap budaya, praktik keagamaan yang dijalani dapat terjadi di setiap sudut kehidupan sehari-hari baik diberi label atau tidak. Dadang Kahmat menjelaskan bahwa agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat dunia ini. Agama adalah salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat. Agama dilihat juga bisa dilihat sebagai unsur dari kebudayaan suatu masyarakat disamping unsur-unsur lain. Itu berarti agama dalam pandangan sosiologi merupakan pandangan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Praktik keagamaan diwujudkan secara material, emosional, estetis, moral dan naratif namun memakai pola yang mencakup pengalaman realitas yang lebih. Dimensi spiritual terkadang hanya tersirat dalam kata-kata dalam ritual tanpa memiliki pengalaman Nancy Tatom Ammerman. Everyday Religion: Observing Modern Religious Lives (New york: Oxford University Press, 2. Inger Furseth and Pal Repstad. An Introduction to the Sociology of Religion: Classical Contemporary Perspectives (USA: Ashgate Publishing Company, 2. Ammerman. Everyday Religion, 29 Ibid. Dadang Kahmad. Sosiologi Agama (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. 48 Kasus dimensi keagamaan terjadi pada saat warga Inggris diperhadapkan kematian tragis Putri Diana, belasungkawa, lilin, lagu pujian bukan untuk menjelaskan kematian melainkan warga memasuki ruang dimana mereka terhubung satu dengan yang lain di luar diri mereka. Sosiologi Emile Durkheim menulis tentang bagaimana ritual bersama merupakan tempat ditempanya identitas kelompok. Ketika komunitas menghormati totem mereka, maka mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Momen perkumpulan sakral menjadi identitas komunitas. Material memandu pemikiran keagamaan secara eksplisit seperti sajadah, patung Buddha, atau benda-benda yang dijadikan religius sesuai cara penggunaannya. Nancy Ammerman juga menulis tentang pengalaman pemakaman kuno Crossbones di London Selatan menjadi ruang berbeda. Konversi vigil, kuil, dan taman mengubah crossbones menjadi tempat penyembuhan dimana komunitas Vigil dapat membangun argumen tentang memori Durkheim memahami bahwa agama selalu memiliki ritus keagamaan dan kelompok sosial yang menaruh rasa hormat terwujud menjadi yang sakral. Agama modern bersifat rasional dalam arti mengungkapkan nilai-nilai sakral masyarakat berdasarkan akal budi tetap memiliki ritus dan simbol. Menurut Durkheim fenomena religius dapat dikategorikan menjadi dua yaitu kepercayaan dan ritus. Dengan demikian ritus adalah bentuk tindakan berdasarkan hakikat objek yang terungkap dalam kepercayaan yang sudah didefinisikan. Durkheim menyimpulkan bahwa agama terbentuk ketika yang sakral memiliki relasi pengawasan sehingga terbentuk semacam sistem koherensi yang tidak dimiliki sistem lain maka kepercayaan dan ritus akan membentuk agama. Makam Soekarno menjadi tempat yang disebut thirdspace menyangkut material, emosional, estetis, moral, dan naratif namun memakai pola yang mencakup pengalaman realitas yang penuh damai. Makam Soekarno sebagai sebagai bentuk material yang mengandung nilai kesakralan yang disepakati bersama sebagai bagian penting dari konstruksi sosial. Makam Soekarno menjadi ruang bagi semua manusia untuk dapat mengeluarkan pendapat dan argumennya secara langsung dan bebas sebagai bagian praktik keagamaan yang menciptakan sikap saling menerima dalam konteks sosial sehari-hari. Ammerman. Everyday Religion, 30 Ibid. Emile Durkheim. Suicide: A Study in Sociology, ed. by George Simpson (London and New York. Routledge & Kegan Paul Ltd, 2. Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Rio Sario Tamawiwi. Izak Y. Lattu. Tony Tampake. Gunawan Y. Suprabowo Thirdspace dalam hal ini diperlukan sebagai media untuk menciptakan relasi sosial dalam membangun nilai-nilai sosial yang mampu menerima keberadaan sesama umat manusia. KESIMPULAN Tulisan ini menjabarkan bahwa konstruksi thirdspace sebagai suatu yang dinamis, dibentuk oleh berbagai aspek terkait yaitu ekonomi, politik, dan budaya. Thirdspace di Makam Soekarno sebagai ruang perjumpaan antar umat beragama yang penuh damai ketika melakukan doa bersama pada ruang yang sama, sesuai kerangka berpikir dari Soja dan Lefebvre mengenai konsep ruang yang dialog lintas agama peziarah. Konstruksi ruang ketiga menjadi solusi penting bagi negara Indonesia yang rawan konflik bernuansa Teori keterlibatan agama dalam kehidupan sosial seharusnya membawa suasana perdamaian sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan kasih dan kedamaian. Agama menurut Nancy Ammerman merupakan ajaran dalam keterlibatan sosial yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis menemukan bahwa konstruksi thirdspace para peziarah berlatar belakang dari agama Islam. Kristen, katolik. Buddha. Hindu. Konghucu, dan berbagai aliran kepercayaan lokal di Makam Soekarno merupakan solusi penting dalam mengatasi konflik antaragama. Beberapa kegiatan yang dilakukan baik setiap hari maupun dalam acara khusus yang melibatkan semua agama di Makam Soekarno berfungsi sebagai thirdspace yang membangun perekat sosial. Thirdspace sebagai ruang sosial dalam perkembangannya dilihat sebagai ruang interaksi aktif maupun pasif para peziarah di Makam Soekarno. Makam Soekarno selain sebagai ruang yang dianggap sakral, telah menjadi konstruksi ruang ketiga melalui perjumpaan lintas agama sebagai perekat Konstruksi thirdspace adalah juga merupakan bentuk konsep transenden hingga mencakup Auyang lainAy, memungkinkan kontestasi dan negosiasi ulang batas-batas dan identitas budaya. Praktik dialog lintas iman tercipta di Makam Soekarno yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan sosial. Keberadaan ruang ketiga menjadi ruang bagi kehidupan masyarakat beragama untuk hidup berdampingan yang saling menghormati. Bagi Soja dan Lefebvre thirdspace sebagai cara lain untuk memahami dan bertindak untuk mengubah spasialitas kehidupan manusia. Konstruksi thirdspace terbentuk di makam Soekarno telah memberikan rasa nyaman sehingga interaksi sosial menjadi perekat sosial. Masih banyak tempat yang dikunjungi peziarah di Indonesia yang seharusnya dapat difasilitasi oleh pemerintah sebagai ruang perjumpaan lintas iman. Melihat potensi yang Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. ada, kita memiliki sangat banyak situs-situs kuno dan tempat wisata modern yang seharusnya menjadi konstruksi thirdspace. DAFTAR PUSTAKA