Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. KAWAN SEHAT: Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi. Pendewasaan Usia Perkawinan dan Lingkungan Bebas Bullying SyifaAoul Alif Mutawakkiliin*. Anisatia Saputri. Tiara Ananda Delisa Putri. Dinda Salmi Nabiya. Nur Alamsyah. Masithah Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia *Coresponding Author: syifaulalif11@gmail. Dikirim: 14-08-2025. Direvisi: 29-10-2025. Diterima: 02-11-2025 Abstrak: Remaja berada dalam fase perkembangan yang rentan terhadap berbagai tantangan kesehatan, termasuk kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi, maraknya pernikahan usia dini, serta tindakan bullying di lingkungan sosial mereka. Hasil observasi menunjukkan hanya 56,60% remaja mengetahui usia ideal menikah bagi perempuan, 50,94% bagi laki-laki, dan perilaku bullying masih sering terjadi. Oleh karena itu. Program KAWAN SEHAT sebagai upaya dalam peningkatan pengetahuan kesehatan reprodusi, pendewasaan usia perkawinan dan mewujudkan lingkungan bebas bullying. Metode pelaksanaan terdiri dari tiga tahap, yaitu sosialisasi dan perencanaan, edukasi, dan evaluasi. Edukasi dilakukan dalam bentuk ceramah interaktif menggunakan media visual . oster, leaflet, dan PowerPoin. yang disampaikan pada 16 Juli 2025. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasil tes menunjukkan ada perbedaan pengetahuan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi . value = 0. , dimana rata-rata pengetahuan pre-test sebesar 83. 14 dan rata-rata pengetahuan post-test 88. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif dan visual efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini, dan pencegahan bullying. Program ini diharapkan menjadi model edukasi yang mampu membentuk perilaku sehat dan bertanggung jawab di kalangan remaja. Kata Kunci: kesehatan reproduksi. pernikahan dini. edukasi kesehatan Abstract: Adolescents are in a developmental phase that is vulnerable to various health challenges, including limited understanding of reproductive health, the prevalence of early marriage, and bullying in their social environment. Observations revealed that only 56. 60% of adolescents knew the ideal age for marriage for women, 50. 94% for men, and bullying behavior still frequently occurred. Therefore, the KAWAN SEHAT Program was implemented as an effort to improve knowledge of reproductive health, promote marriage age maturity, and create a bullying-free environment. The implementation method consisted of three stages: planning, education, and evaluation. Education was delivered in the form of interactive lectures using visual media . osters, leaflets, and PowerPoin. on July 16, 2025. Evaluation was conducted through pre-tests and post-tests. Test results showed a significant difference in knowledge before and after the educational intervention (P value = 0. , with an average pre-test score 14 and an average post-test score of 88. This activity demonstrates that an interactive and visually supported educational approach is effective in increasing studentsAo awareness of the importance of maintaining reproductive health, the dangers of early marriage, and bullying The program is expected to serve as an educational model capable of fostering healthy and responsible behavior among adolescents. Keywords: reproductive health. early marriage. health education @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Mutawakkiliin dkk. KAWAN SEHAT: Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan ReproduksiA PENDAHULUAN Kesehatan Reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, yang tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya (Wardiyah et , 2022. Muharina, 2023. Muharrina et al. , 2. Kesehatan reproduksi juga didefinisikan sebagai suatu kondisi kesejahteraan holistik. Dukungan psikologis yang memadai penting bagi pria maupun wanita agar perkembangan emosional dapat berlangsung lancar. Dalam konteks perempuan, kesehatan reproduksi mencakup kesejahteraan fisik, mental, emosional, serta dimensi spiritual (Winarni, 2. Fase Remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang biasanya dimulai ketika terjadi pubertas. Dalam periode ini, pertumbuhan biologis dan perkembangan psikologis mereka sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan sekitarnya (Suwarsih, 2022. Saputri, 2. Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi di kalangan remaja memiliki peran penting. Kesehatan reproduksi remaja mengacu pada kondisi di mana remaja mampu menjalani kehidupan seksual serta menjalankan fungsi reproduksinya dengan cara yang sehat dan aman. Istilah pernikahan dini merujuk pada ikatan perkawinan di mana usia salah satu atau bahkan kedua pasangan berada di bawah 18 tahun. Oleh karena itu, ketika pria maupun wanita belum mencapai batas usia dewasa tetapi tetap melaksanakan pernikahan, maka hal tersebut digolongkan sebagai pernikahan dini. Di Indonesia sendiri pernikahan dini telah menjadi suatu fenomena nasional budaya yang kemudian berpengaruh besar terhadap pola kehidupan masyarakat di Indonesia. Tentu hal ini bukanlah suatu kebanggaan kerena hal ini mempengaruhi kepadatan penduduk Indonesia (Laeli & Prayogo, 2021. Wargadinata, 2021. Milanda et al. , 2. Isu pernikahan dini merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius, karena masih terdapat sejumlah desa di Indonesia yang menganggap praktik tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu Desa yang masyarakatnya masih melakukan pernikahan dini yaitu Desa Embalut. Kecamatan Tenggarong Seberang. Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur. Disana masih cukup banyak terjadi pernikahan di usia dini. Tindakan bullying juga mencuri perhatian kami dikarenakan masih berkaitan dengan kehidupan remaja. Kasus bullying dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya kondisi keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, lingkungan sekolah, serta Peran keluarga sangat menentukan, sebab relasi yang tidak harmonis, keluarga yang tidak utuh akibat perceraian atau kematian, komunikasi yang tidak efektif, hingga pola asuh yang tidak adil dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak dan memicu perilaku bullying. Selain itu, pertemanan juga menjadi faktor yang kerap mendorong anak maupun remaja untuk melakukan tindakan tersebut (Zakiyah et al. , 2017. Priyanti. Permata & Nasution, 2. Berdasarkan fenomena tersebut, maka kami dari tim Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) kelompok 13 dan tim dosen Fakultas Kesehatan masyarakat. Universitas Mulawarman berinisiatif untuk memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi pada remaja, bahaya pernikahan dini dan dampak Tindakan bullying. Penyuluhan edukasi dilakukan di SMPN 4 Tenggarong Seberang. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Mutawakkiliin dkk. KAWAN SEHAT: Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan ReproduksiA METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Tahapan Kegiatan dalam program ini dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu sosialisasi dan perencanaan, pelaksanaan edukasi, serta evaluasi. Pada tahap sosialisasi, tim melakukan observasi langsung di Desa Embalut. Dusun 1, dengan metode wawancara kepada tokoh masyarakat dan beberapa warga guna menggali informasi mengenai permasalahan kesehatan yang dihadapi remaja setempat. Berdasarkan hasil pengumpulan data, permasalahan utama yang ditemukan adalah rendahnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan bahaya pernikahan usia dini, dengan total 86% orang memiliki pengetahuan yang kurang memadai. Wawancara dengan Karang Taruna juga mengindikasikan masih maraknya perilaku bullying di kalangan remaja yang berpotensi mengganggu Kesehatan mental dan hubungan sosial mereka. Informasi ini kemudian menjadi dasar untuk merancang intervensi yang tepat melalui diskusi bersama Karang Taruna setempat. Berdasarkan hasil diskusi, disepakati bahwa kegiatan penyuluhan akan difokuskan pada jenjang sekolah menengah pertama, dan dipilihlah SMPN 4 Tenggarong Seberang sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Setelah mendapat persetujuan dari pihak sekolah, tim menyusun materi edukatif meliputi tiga tema pokok yang dirancang dalam bentuk media PowerPoint, poster, dan leaflet informatif. Tahap kedua merupakan pelaksanaan kegiatan edukasi yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2025 di ruang TIK SMPN 4 Tenggarong Seberang. Kegiatan diawali dengan pemberian pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta terhadap materi yang akan disampaikan. Edukasi dilakukan dengan metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan diskusi dan sesi tanya jawab, serta didukung oleh media visual seperti presentasi dan poster. Siswa didorong untuk aktif berpartisipasi selama kegiatan agar tercipta suasana pembelajaran yang komunikatif. Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi sejak usia remaja, dampak negatif pernikahan dini dari aspek kesehatan dan sosial, serta cara mencegah dan menghadapi bullying di lingkungan sekolah. Tahap terakhir adalah evaluasi kegiatan yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti penyuluhan. Evaluasi dilakukan dengan memberikan post-test yang menggunakan instrumen yang sama dengan pre-test. Selain itu, seluruh peserta juga menerima leaflet yang berisi rangkuman materi penyuluhan agar dapat dipelajari kembali secara mandiri. Hasil dari pre-test dan post-test kemudian dianalisis untuk menilai efektivitas kegiatan edukasi yang telah IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Program yang dilaksanakan yaitu Program Edukasi Remaja Terkait Pentingnya Menjaga Kesehatan Reproduksi. Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), serta Tindakan bullying untuk siswa siswi di SMPN 4 Tenggarong Seberang. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan pada tanggal 16 Juli 2025 dengan bentuk edukasi yang disampaikan oleh para narasumber dalam upaya meningkatkan kesadaran para siswa siswi melalui ceramah langsung di ruang TIK SMPN 4 Tenggarong Seberang. Penyuluhan ini juga dilengkapi dengan alat bantu media visual seperti, poster, leaflet, dan juga PowerPoint. Media memiliki peranan yang penting dalam proses belajar karena dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit dengan cara yang lebih sederhana. Media visual adalah jenis media yang dapat dilihat (Amanda. , 2. Berikut ini merupakan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Mutawakkiliin dkk. KAWAN SEHAT: Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan ReproduksiA beberapa rangkaian kegiatan dalam proses edukasi di SMPN 4 Tenggarong Seberang. Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan pre-test untuk menilai pemahaman awal . Materi edukasi disajikan menggunakan berbagai media, seperti leaflet, poster, dan presentasi PowerPoint yang membahas tentang pentingnya menjaga sistem reproduksi remaja, dampak negatif dari pernikahan dini, serta berbagai bentuk bullying dan cara untuk mencegahnya. Diadakan sesi diskusi untuk tanya jawab, di mana peserta dapat mengajukan pertanyaan kepada narasumber dan begitupun sebaliknya. Setelah itu dilakukan kembali pengisian post-test sebagai evaluasi untuk mengukur pemahaman setelah pemaparan edukasi. Para narasumber menjelaskan bahwa menjaga kesehatan reproduksi sangat berhubungan dengan kesiapan fisik dan mental remaja, serta menjelaskan bahwa pernikahan dini membawa risiko bagi kesehatan ibu dan anak. Selain itu, peserta diajak untuk menyadari pentingnya menciptakan lingkungan sosial yang aman dan terbebas dari bullying. Bullying adalah tindakan merugikan yang membuat seseorang merasa tidak aman atau terluka dan umumnya terjadi secara berulang (Junalia et al. , 2. Program ini bertujuan untuk mendorong remaja agar dapat mengadopsi perilaku yang sehat dan bertanggung jawab demi masa depan yang lebih baik. Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran siswa siswi mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak usia muda, memahami bahaya pernikahan dini, serta mengenali dan mencegah tindakan bullying sebagai bagian dari usaha menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat. Masa remaja merupakan periode yang ideal untuk menciptakan pola perilaku positif dalam hal menjaga kebersihan, terutama pada bagian reproduksi, yang merupakan harta berharga untuk jangka waktu yang Panjang (Wahyuni et al. , 2. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk membentuk sikap kritis dan bertanggung jawab pada remaja dalam membuat keputusan yang berdampak pada masa depan mereka. Melalui pengalaman pembelajaran langsung yang interaktif, siswa siswi diharapkan mendapatkan pengetahuan yang dapat diterapkan dan menjadi agen perubahan yang positif di lingkungan mereka. Gambar 1. Penyampaian Materi Gambar 2. Pengisian Pre-Test dan Post-Test @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Mutawakkiliin dkk. KAWAN SEHAT: Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan ReproduksiA Gambar 3. Diskusi dan Tanya Jawab Adapun hasil Pre-Test dan Post-Test adalah sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Hasil Skor Pre-Test dan Post-Test Edukasi pada Siswa/i di SMPN 4 Tenggarong Seberang Pre-Test Post-Test Minimum Maximum Mean Standar Deviasi p value Berdasarkan Tabel 1, hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan siswa sebelum diberikan edukasi adalah 83. 14 dengan skor terendah 40 dan tertinggi 100. Sementara itu, setelah diberikan edukasi rata-rata skornya meningkat 86 dengan skor terendah 70 dan tertinggi 100. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value sebesar 0. 027 yang mengindikasikan adanya perbedaan antara rata-rata skor pengetahuan sebelum dan setelah program edukasi KAWAN SEHAT dilaksanakan di SMPN 4 Tenggarong Seberang. Pelaksanaan program KAWAN SEHAT ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang memadukan ceramah tatap muka dengan penggunaan media visual seperti poster. PowerPoint, kemudian diskusi yang melibatkan partisipasi aktif siswa, serta simulasi situasional, terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja terkait isu-isu krusial seperti kesehatan reproduksi pada remaja, bahaya pernikahan usia dini, dan pencegahan perilaku bullying. Hal ini sejalan dengan kegiatan yang dilakukan oleh Utami dkk. , yaitu penggunaan media PowerPoint dan poster serta audio yang disampaikan oleh pemateri memberikan dampak yang efektif. Tampilan visual poster dan PowerPoint dapat meningkatkan ketertarikan anak remaja sebab bahasa yang digunakan sederhana dan berisi gambar yang menarik. Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di SMPN 4 Tenggarong Seberang menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa dalam kategori tinggi sebesar 5,8% dan tidak ada siswa masuk dalam kategori rendah, yang menjadi indikator keberhasilan metode pembelajaran yang diterapkan. Proses penyampaian materi dilakukan dengan melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi dan tanya jawab, yang terbukti mampu memperkuat pemahaman dan mempengaruhi perubahan sikap secara positif. Hasil ini sesuai dengan hasil studi yang dilakukan oleh Aurelya dkk. , yang menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran partisipatif dan media edukatif yang relevan dengan karakteristik siswa mampu memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman serta kesadaran mereka akan isu-isu mengenai Kesehatan reproduksi pada remaja, bahaya pernikahan dini, serta pencegahan tindakan bullying. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Mutawakkiliin dkk. KAWAN SEHAT: Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan ReproduksiA KESIMPULAN Pelaksanaan Program KAWAN SEHAT di SMPN 4 Tenggarong Seberang berhasil meningkatkan pengetahuan siswa terkait pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini, serta upaya pencegahan bullying. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kategori pengetahuan siswa dari pre-test ke post-test, di mana tidak ada lagi siswa yang berada dalam kategori rendah. Penggunaan metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan media visual terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Program ini dapat dijadikan sebagai model intervensi edukatif yang mampu membentuk perilaku remaja yang lebih sehat, kritis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi isu-isu kesehatan sosial yang mereka hadapi. DAFTAR PUSTAKA