Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Multiplication Skills through Interactive Learning Activities at MIS NW Toya Zulya Muspitasari1. Nurul Wahidah2 1 MIS NW Toya 2 MIS Jamaludin Bagik Nyaka Correspondence: zafrantalya9@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research, multiplication skills, interactive problem-solving, student engagement. MIS NW Toya. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' multiplication skills at MIS NW Toya through interactive learning The study focuses on improving students' understanding and mastery of multiplication concepts by engaging them in hands-on, collaborative, and problem-solving activities. The research was conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection stages. During each cycle, students participated in various interactive activities such as group games, flashcards, and real-life problemsolving tasks designed to make multiplication more engaging and Data were collected through classroom observations, student assessments, and feedback from both students and teachers. The findings indicate that interactive learning activities significantly improved students' multiplication skills by fostering active participation, enhancing problemsolving abilities, and increasing students' confidence in performing multiplication tasks. Students demonstrated improved accuracy and speed in solving multiplication problems, along with a deeper understanding of the concept. This study suggests that using interactive and student-centered learning approaches can effectively improve mathematical skills in primary It is recommended that MIS NW Toya continue to implement and refine these methods to further enhance students' mathematical abilities and engagement in learning. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan matematika di tingkat dasar memegang peranan penting dalam mengembangkan kemampuan dasar siswa dalam berpikir logis dan menyelesaikan masalah. Salah satu topik penting dalam matematika di sekolah dasar adalah perkalian, yang menjadi dasar untuk konsepkonsep matematika yang lebih kompleks. Di MIS NW Toya, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami dan menguasai konsep perkalian. Hal ini berhubungan dengan kurangnya pemahaman mereka tentang dasar-dasar perkalian, yang menghambat kemampuan mereka dalam memecahkan masalah matematika yang lebih sulit (Sutrisno, 2. Ketidakmampuan dalam menguasai perkalian dapat berdampak negatif pada kemampuan siswa untuk mempelajari konsep-konsep matematika lainnya. Sebagian besar siswa di MIS NW Toya merasa kesulitan dalam melakukan perkalian, baik dalam hal menghitung dengan cepat maupun memahami konsep perkalian itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang kurang menarik dan tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk aktif terlibat dalam proses belajar. Menurut penelitian oleh Kurniawan . , metode pembelajaran yang monoton dan hanya mengandalkan hafalan tidak efektif dalam membantu siswa memahami materi matematika dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi dalam cara mengajarkan perkalian agar siswa dapat lebih mudah memahami konsep Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pembelajaran perkalian yang lebih interaktif dan menyenangkan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah pembelajaran berbasis aktivitas interaktif, yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar melalui permainan, diskusi kelompok, dan pemecahan masalah nyata. Dengan melibatkan siswa secara aktif, mereka dapat mengembangkan keterampilan matematika secara lebih efektif. Penelitian oleh Rahmawati . menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan masalah matematika. Meskipun begitu, di beberapa sekolah, termasuk MIS NW Toya, pembelajaran perkalian masih sering dilakukan dengan pendekatan yang konvensional, seperti ceramah dan latihan soal secara berulang. Metode ini terkadang tidak mampu membuat siswa tertarik atau merasa terlibat dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa dan sulitnya mereka untuk menguasai konsep-konsep dasar seperti perkalian (Silalahi et al. Oleh karena itu, dibutuhkan metode yang lebih inovatif untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan efektif. Pendekatan pembelajaran berbasis permainan . ame-based learnin. dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan keterampilan perkalian siswa. Melalui permainan, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Penelitian oleh Desmirasari & Oktavia . menunjukkan bahwa game-based learning dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan membantu mereka memahami konsep-konsep matematika dengan cara yang lebih menyenangkan. Dengan pendekatan ini, siswa dapat mempraktikkan perkalian dalam konteks yang lebih realistis, sambil tetap mempertahankan minat mereka dalam belajar. Selain itu, penggunaan teknologi pendidikan juga dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran perkalian. Penggunaan aplikasi atau platform pembelajaran yang dirancang khusus untuk latihan perkalian dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan Melalui teknologi, siswa dapat berlatih perkalian dengan berbagai metode, seperti teka-teki, kuis, atau simulasi yang membuat mereka lebih tertarik dan terbiasa dengan latihan soal perkalian. Hal ini didukung oleh penelitian oleh Putra & Hidayat . , yang menemukan bahwa teknologi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika. Salah satu tantangan yang sering dihadapi dalam pembelajaran perkalian adalah keberagaman kemampuan siswa. Beberapa siswa mungkin dapat dengan cepat memahami dan menguasai konsep perkalian, sementara yang lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk Oleh karena itu, pendekatan yang lebih individual, seperti pembelajaran yang dipersonalisasi, sangat diperlukan. Dengan pendekatan ini, guru dapat memberikan perhatian lebih kepada siswa yang kesulitan dan memberikan latihan tambahan untuk memastikan bahwa semua siswa dapat menguasai konsep perkalian dengan baik (Sari & Nofriadi, 2. Selain itu, penting bagi guru untuk menggunakan berbagai strategi pengajaran yang menarik dan kreatif agar siswa tidak merasa jenuh dengan pembelajaran yang dilakukan. Penggunaan media pembelajaran, seperti gambar, video, atau alat peraga, dapat membantu siswa memahami konsep perkalian dengan lebih visual dan konkrit. Penelitian oleh Purwanto . menyatakan bahwa media pembelajaran dapat memfasilitasi pemahaman siswa, terutama dalam materi matematika yang abstrak seperti perkalian. Di sisi lain, penting juga untuk memperhatikan pengelolaan kelas dalam pembelajaran Suasana kelas yang kondusif dan penyusunan aktivitas yang melibatkan siswa dalam berbagai kelompok atau tim dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Penelitian oleh Silalahi et al. mengungkapkan bahwa kelas yang dikelola dengan baik dapat memfasilitasi kerja sama antar siswa, serta memungkinkan mereka untuk saling belajar dan mendukung satu sama lain dalam memahami materi yang diajarkan. Keterlibatan orang tua juga sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran perkalian siswa. Orang tua dapat membantu siswa dalam memperkuat pemahaman mereka Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dengan memberikan latihan soal di rumah atau mendiskusikan topik perkalian dengan cara yang menyenangkan. Penelitian oleh Mubarok . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pembelajaran matematika dapat mempercepat penguasaan materi oleh siswa, karena mereka merasa didukung dalam proses belajarnya. Selain itu, evaluasi yang lebih beragam juga diperlukan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap perkalian. Evaluasi yang tidak hanya berbentuk tes tertulis, tetapi juga melalui observasi, presentasi, atau proyek, dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang pemahaman siswa. Penilaian berbasis proyek memungkinkan siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam konteks yang lebih praktis, yang lebih mendekati penerapan nyata konsep perkalian dalam kehidupan sehari-hari (Sutrisno, 2. Pentingnya pengembangan keterampilan matematika dasar seperti perkalian tidak hanya berpengaruh pada hasil belajar siswa di sekolah, tetapi juga pada kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai keterampilan dasar matematika, siswa dapat lebih mudah memahami konsep-konsep matematika yang lebih kompleks di masa depan. Penelitian oleh Hendika & Musyadad . menunjukkan bahwa penguasaan keterampilan dasar seperti perkalian sangat penting untuk membangun fondasi yang kuat bagi pemahaman matematika lanjutan. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pembelajaran berbasis aktivitas interaktif dapat meningkatkan keterampilan perkalian siswa di MIS NW Toya. Dengan menggunakan metode yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam kegiatan yang lebih aplikatif, diharapkan siswa dapat menguasai konsep perkalian dengan lebih baik dan merasa lebih tertarik untuk mempelajari matematika secara keseluruhan. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan keterampilan perkalian siswa di MIS NW Toya melalui penerapan pembelajaran berbasis aktivitas interaktif. PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk merancang dan melaksanakan tindakan perbaikan yang dapat langsung diamati dampaknya terhadap proses Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Siklus ini memungkinkan peneliti untuk melakukan evaluasi dan perbaikan pada setiap tahapnya agar pembelajaran lebih efektif dan tepat sasaran. Dengan metode ini, peneliti dapat menyesuaikan proses pembelajaran berdasarkan hasil observasi yang didapat selama siklus berlangsung (Sutrisno, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang aktivitas-aktivitas interaktif yang dapat meningkatkan keterampilan perkalian siswa. Aktivitas tersebut meliputi permainan matematika, kuis berbasis tim, dan latihan soal yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman Peneliti juga menyiapkan instrumen pengamatan, seperti lembar observasi untuk menilai keterlibatan siswa dan kuis untuk mengukur pemahaman mereka terhadap konsep perkalian. Selain itu, peneliti merencanakan evaluasi formatif di akhir setiap siklus untuk mengukur perkembangan keterampilan perkalian siswa. Dalam tahap ini, peneliti memastikan bahwa materi yang diajarkan relevan dan menarik bagi siswa (Desmirasari & Oktavia, 2. Pada tahap pelaksanaan, peneliti mengimplementasikan pembelajaran berbasis aktivitas yang telah dirancang. Aktivitas dilakukan secara kelompok dan melibatkan siswa dalam menyelesaikan soal perkalian dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk memecahkan teka-teki matematika atau memainkan permainan yang berkaitan dengan perkalian. Siswa juga diajak untuk berdiskusi dan berbagi strategi mereka dalam menyelesaikan soal-soal perkalian. Selama pelaksanaan, peneliti berperan sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa ketika diperlukan. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan melibatkan semua siswa secara maksimal (Kurniawan, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selama tahap observasi, peneliti mencatat interaksi siswa selama pembelajaran berlangsung. Peneliti mengamati sejauh mana siswa terlibat dalam aktivitas, bagaimana mereka bekerja sama dalam kelompok, dan bagaimana mereka menyelesaikan soal perkalian yang diberikan. Data yang diperoleh dari observasi ini akan memberikan gambaran tentang efektivitas metode yang diterapkan. Peneliti juga mengamati bagaimana tingkat kepercayaan diri siswa meningkat dalam menjawab soal perkalian di depan teman-teman mereka. Selain itu, tes formatif juga dilakukan untuk menilai pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Tes ini memberikan data kuantitatif tentang sejauh mana siswa telah menguasai konsep perkalian (Putra & Hidayat, 2. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisis data yang diperoleh dari observasi dan tes formatif untuk mengevaluasi keberhasilan pembelajaran berbasis aktivitas interaktif. Refleksi dilakukan dengan membandingkan hasil pembelajaran pada siklus pertama dan kedua. Peneliti mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari metode yang diterapkan serta menentukan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan untuk siklus berikutnya. Misalnya, jika ditemukan bahwa sebagian besar siswa masih kesulitan dalam menguasai perkalian dengan angka besar, peneliti akan menyesuaikan aktivitas untuk memberikan latihan yang lebih terfokus pada aspek Refleksi ini bertujuan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan perkalian siswa (Silalahi et al. , 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis aktivitas interaktif di MIS NW Toya secara signifikan meningkatkan keterampilan perkalian siswa. Sebelum penerapan metode ini, banyak siswa yang kesulitan memahami konsep perkalian dan cenderung bergantung pada hafalan mekanis tanpa memahami dasar dari perkalian itu sendiri. Namun, setelah aktivitas interaktif diterapkan, siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kecepatan dan akurasi mereka dalam menyelesaikan soal perkalian. Mereka menjadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk belajar, yang membuktikan bahwa pembelajaran yang aktif dan melibatkan siswa dapat mengatasi kesulitan mereka dalam mempelajari perkalian. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian oleh Sutrisno . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis aktivitas dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep matematika. Salah satu temuan utama adalah peningkatan motivasi siswa dalam belajar perkalian. Sebelum penggunaan metode interaktif, siswa cenderung merasa bosan dengan pembelajaran yang berfokus pada hafalan dan latihan soal secara berulang. Namun, setelah mereka terlibat dalam berbagai aktivitas seperti permainan matematika dan tugas berbasis proyek, mereka menunjukkan antusiasme yang lebih besar untuk mengikuti pelajaran. Mereka merasa bahwa pembelajaran ini lebih menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Kurniawan . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis aktivitas mampu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika. Penerapan pembelajaran berbasis aktivitas juga membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka. Dalam kelompok, siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi mereka juga belajar bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan menyelesaikan masalah secara Pembelajaran semacam ini memperkuat keterampilan komunikasi siswa dan kemampuan mereka untuk bekerja dalam tim, yang sangat penting dalam kehidupan sosial Temuan ini mendukung penelitian oleh Silalahi et al. , yang menemukan bahwa kolaborasi dalam pembelajaran berbasis aktivitas meningkatkan keterampilan sosial siswa secara signifikan. Selain itu, pembelajaran berbasis aktivitas interaktif meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam memecahkan soal perkalian. Ketika siswa diajak untuk berdiskusi tentang berbagai strategi penyelesaian soal, mereka belajar untuk menganalisis masalah secara lebih mendalam dan menemukan solusi yang lebih efisien. Pembelajaran yang berbasis pada diskusi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 ini mendorong siswa untuk berpikir secara logis dan menghubungkan konsep perkalian dengan situasi nyata. Penelitian oleh Purwanto . menyatakan bahwa pendekatan yang mengharuskan siswa berpikir kritis dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap konsepkonsep matematika. Salah satu hasil yang menarik dari penelitian ini adalah peningkatan kemampuan berbicara siswa dalam menjelaskan strategi yang mereka gunakan untuk menyelesaikan soal perkalian. Sebelum menerapkan pembelajaran berbasis aktivitas, banyak siswa yang canggung dan tidak percaya diri ketika diminta untuk berbicara di depan kelas. Namun, setelah mereka terlibat dalam aktivitas kelompok dan presentasi, mereka mulai lebih percaya diri dalam berbicara dan menjelaskan cara mereka menyelesaikan masalah. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sari & Nofriadi . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis aktivitas dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berbicara mereka. Namun, meskipun ada banyak keuntungan, beberapa siswa masih kesulitan dalam mengaplikasikan konsep perkalian dengan angka besar. Mereka membutuhkan waktu lebih untuk memahami bagaimana mengalikan angka-angka besar secara efisien. Ini menunjukkan bahwa meskipun pembelajaran berbasis aktivitas dapat meningkatkan keterampilan perkalian secara umum, beberapa siswa mungkin masih memerlukan perhatian lebih dalam menguasai konsep yang lebih kompleks. Temuan ini juga didukung oleh penelitian oleh Desmirasari & Oktavia . , yang menunjukkan bahwa beberapa topik dalam matematika, seperti perkalian besar, memerlukan pendekatan yang lebih mendalam dan latihan berulang untuk dikuasai. Selain itu, meskipun pembelajaran berbasis aktivitas telah meningkatkan keterlibatan siswa, waktu yang terbatas sering kali menjadi kendala. Siswa membutuhkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas berbasis proyek dan berdiskusi dalam kelompok. Terkadang, waktu yang ada dalam kelas tidak cukup untuk mengimplementasikan seluruh rangkaian kegiatan secara optimal. Hal ini menunjukkan perlunya manajemen waktu yang lebih baik dalam merencanakan kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas. Penelitian oleh Mubarok . juga menunjukkan bahwa pengelolaan waktu yang efisien sangat penting dalam pembelajaran berbasis proyek. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran perkalian juga memberikan dampak positif. Dengan aplikasi atau alat pembelajaran berbasis teknologi, siswa dapat berlatih perkalian di luar jam pelajaran dengan cara yang menyenangkan. Mereka dapat menggunakan aplikasi permainan matematika atau kuis online untuk berlatih perkalian secara mandiri. Penelitian oleh Putra & Hidayat . menunjukkan bahwa teknologi pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mempercepat proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Pada saat yang sama, ada juga temuan bahwa pembelajaran berbasis aktivitas dapat memperbaiki kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal perkalian secara mental. Dengan latihan yang lebih banyak dan interaktif, siswa mulai terbiasa dengan perkalian dalam berbagai bentuk, seperti perkalian berulang dan penggunaan perkalian dalam konteks masalah seharihari. Penelitian oleh Hendika & Musyadad . menunjukkan bahwa pembelajaran yang menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematika secara lebih mendalam dan aplikatif. Namun, meskipun pembelajaran berbasis aktivitas interaktif efektif dalam meningkatkan keterampilan perkalian, masih terdapat beberapa tantangan dalam mengimplementasikan metode ini di kelas. Salah satunya adalah keberagaman tingkat kemampuan siswa yang ada. Beberapa siswa lebih cepat memahami materi, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang lebih personal dan bervariasi mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa semua siswa dapat menguasai keterampilan perkalian dengan baik. Penelitian oleh Sutrisno . juga menekankan bahwa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif diperlukan untuk mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa. Penerapan pembelajaran berbasis aktivitas juga memperlihatkan peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan perkalian. Setelah melibatkan mereka dalam diskusi kelompok dan tugas berbasis proyek, siswa mulai dapat menerapkan konsep perkalian dalam konteks yang lebih luas, seperti dalam perhitungan waktu, uang, atau benda-benda yang mereka temui sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang kontekstual dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan relevan terhadap materi yang dipelajari (Silalahi et al. , 2. Secara keseluruhan, penerapan pembelajaran berbasis aktivitas interaktif berhasil meningkatkan keterampilan perkalian siswa di MIS NW Toya. Meskipun ada tantangan dalam hal waktu dan keberagaman kemampuan siswa, metode ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap perkalian dan keterampilan matematika lainnya. Oleh karena itu, metode ini sangat disarankan untuk diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di tingkat dasar (Purwanto, 2. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis aktivitas interaktif di MIS NW Toya berhasil meningkatkan keterampilan perkalian siswa secara signifikan. Sebelum penerapan metode ini, banyak siswa yang kesulitan dalam memahami konsep perkalian dan menerapkannya dalam konteks yang lebih luas. Namun, setelah menerapkan pembelajaran berbasis aktivitas, siswa menunjukkan peningkatan yang jelas dalam kemampuan mereka untuk menyelesaikan soal perkalian dengan lebih cepat dan akurat. Pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok, permainan matematika, serta tugas berbasis proyek memberikan siswa kesempatan untuk memahami konsep perkalian dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka. Penerapan metode ini juga berdampak positif pada peningkatan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir kritis siswa. Melalui aktivitas berbasis kelompok, siswa belajar untuk bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan berpikir secara logis dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, mereka juga merasa lebih percaya diri dalam berbicara di depan kelas dan menjelaskan strategi yang mereka gunakan untuk menyelesaikan soal perkalian. Pembelajaran berbasis aktivitas ini tidak hanya meningkatkan keterampilan matematika, tetapi juga membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, meskipun banyak keuntungan yang diperoleh, tantangan seperti keterbatasan waktu dan keberagaman kemampuan siswa tetap ada. Oleh karena itu, diperlukan manajemen waktu yang lebih baik dan strategi yang lebih fleksibel untuk memastikan bahwa semua siswa dapat menguasai konsep perkalian dengan baik. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis aktivitas interaktif sangat efektif untuk meningkatkan keterampilan perkalian siswa, dan disarankan untuk diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lainnya. REFERENCES