Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios Sistem Pendukung Keputusan Memilih Facial Foam untuk Kulit Berminyak Pria dengan UTA Darwis William Nainggolan1. Rido Syahputra Silaban2. Cantika Audy Damanik3. Clara Marsella Pakpahan4,*. Poningsih5 1,2,3,5 Sistem Informasi. STIKOM Tunas Bangsa. Pematangsiantar. Indonesia Teknik Informatika. STIKOM Tunas Bangsa. Pematangsiantar. Indonesia Email: 4,*cmarsella0@gmail. com,5poningsih@amiktunasbangsa. Email Penulis Korespondensi: cmarsella0@gmail. AbstrakAPerawatan kulit wajah pada pria, khususnya bagi mereka yang memiliki kulit berminyak, semakin mendapatkan perhatian dalam masyarakat saat ini. Masalah kulit berminyak ini seringkali mengakibatkan berbagai masalah, termasuk jerawat dan peradangan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi penampilan serta kepercayaan diri seseorang. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah penggunaan Facial Foam, namun pemilihan produk yang tepat seringkali menjadi tantangan, terutama di kalangan pria yang kurang familiar dengan produk perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) menggunakan Metode Utility Theory Additive (UTA) untuk merekomendasikan Facial Foam yang sesuai dengan karakteristik kulit berminyak pada pria. Metodologi yang digunakan meliputi pengumpulan data mengenai kriteria, sub-kriteria, dan alternatif melalui observasi dan wawancara dengan pengguna. Lima kriteria utama yang dianalisis adalah Keefektifan Produk. Efek Samping. Harga. Kemasan, dan Ketersediaan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa produk Facial Foam PondAos mendapatkan peringkat tertinggi yaitu 3. 443 sehingga produk ini menjadikannya pilihan yang direkomendasikan untuk pria dengan kulit berminyak. Penelitian ini menunjukkan bahwa Metode UTA terbukti efektif dalam menyederhanakan proses pengambilan keputusan multikriteria terkait pemilihan produk perawatan kulit, memberikan panduan yang jelas bagi konsumen untuk memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Kata Kunci: Kulit Berminyak. Facial Foam. Metode Utility Theory Additive. Sistem Pendukung Keputusan. Pria AbstractAFacial skin care in men, especially for those with oily skin, is gaining more and more attention in today's society. The problem of oily skin often leads to various problems, including acne and inflammation, which in turn can affect one's appearance and self-confidence. One solution to this problem is the use of Facial Foam, but choosing the right product is often a challenge, especially among men who are less familiar with skincare products. This research aims to develop a Decision Support System (DSS) using the Utility Theory Additive (UTA) Method to recommend Facial Foam that suits the characteristics of oily skin in men. The methodology used includes data collection regarding criteria, sub-criteria, and alternatives through observation and interviews with The five main criteria analysed were Product Effectiveness. Side Effects. Price. Packaging, and Availability. The results of the data analysis show that the Pond's Facial Foam product gets the highest rating of 3,443 so that this product makes it a recommended choice for men with oily skin. This research shows that the UTA Method proves to be effective in simplifying the multicriteria decision-making process related to skincare product selection, providing clear guidance for consumers to choose the product that best suits their needs. Keywords: Oily Skin. Facial Foam. Utility Theory Additive Method. Decision Support System. Men PENDAHULUAN Kesehatan kulit wajah menjadi salah satu perhatian penting dalam menjaga penampilan, terutama bagi kaum pria yang semakin peduli terhadap perawatan diri. Pentingnya merawat kulit wajah saat ini semakin ditekankan di kalangan pria (Purba et al. , 2. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran bahwa perawatan kulit bukan lagi sekadar isu estetika, melainkan juga berhubungan erat dengan kesehatan kulit. Salah satu masalah umum yang sering dihadapi Pria adalah memiliki jenis kulit wajah yang cenderung berminyak . Adapun faktor yang memicu kulit berminyak adalah gaya hidup, pola makan, dan lain sebagainya . Kulit berminyak sering kali disebabkan oleh produksi minyak berlebih dari kelenjar sebaceous. Kelebihan produksi minyak dari kelenjar minyak dapat menyebabkan penyumbatan pori-pori, akibatnya, terjadi Penumpukan minyak yang memicu aktivitas bakteri di dalam pori-pori. Sehingga kulit mengalami peradangan yang akan menimbulkan jerawat. Dampak Peradangan ini tidak hanya memengaruhi kondisi fisik kulit, namun juga berdampak pada penampilan keseluruhan, termasuk dalam hal pemilihan pakaian dan aksesori . Meskipun jerawat tidak berdampak fatal, tetapi hal ini dapat membuat depresi dan kecemasan sehingga tingkat dapat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang . Oleh karena itu, melakukan perawatan yang tepat tentunya sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan kulit dan mengontrol produksi minyak berlebih. Salah satu solusi yang efektif adalah dengan menggunakan produk pembersih wajah yang sesuai, seperti facial foam. Facial Foam adalah jenis sabun yang dirancang khusus untuk membersihkan area wajah, terutama kulit berminyak. Produk ini diformulasikan untuk secara efektif mengangkat kotoran, debu, serta minyak yang dapat menumpuk di permukaan kulit wajah . Namun, tidak semua facial foam cocok untuk setiap jenis kulit. Pemilihan facial Foam yang sesuai dengan jenis kulit menjadi faktor utama dalam merawat kesehatan kulit. Meski beragam jenis produk facial Foam tersedia di pasaran, baik di supermarket maupun toko, sayangnya, masih banyak masyarakat, terutama kaum Pria, yang memilih facial foam yang tidak cocok dengan jenis kulit mereka. Akibatnya, kulit dapat mengalami masalah seperti timbulnya jerawat, munculnya flek hitam, wajah kusam, komedo, dan bahkan risiko terkena kanker kulit dapat meningkat . Oleh karena itu, pemilihan facial foam yang sesuai dengan jenis kulit menjadi sangat penting, terutama bagi pria yang sering kali The Author . Copyright A 2024 | Page 31 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios kurang peduli dalam hal perawatan kulit. Di sinilah pentingnya adanya bantuan dalam pengambilan keputusan terkait pemilihan produk yang tepat. Maka dari itu digunakan sistem pendukung keputusan dalam proses pengambilan keputusan terkait pemilihan facial foam pada pria. Sistem pendukung keputusan merupakan sistem informasi yang menyediakan data, pemodelan, serta pengolahan informasi . Sistem Pendukung Keputusan adalah sebuah aplikasi yang dikenal sebagai Decision Support System (DSS), yang mulai dikembangkan pada tahun 1970. DSS, didukung oleh sistem informasi berbasis komputer, dapat membantu individu dalam meningkatkan efisiensi mereka dalam proses pengambilan keputusan . Dengan menerapkan sistem pendukung keputusan, diharapkan dapat memberikan bantuan yang signifikan dalam menentukan keputusan yang tepat . Sistem pendukung keputusan atau decision support system adalah bagian dari sistem informasi yang terkomputerisasi . ermasuk sistem berbasis informas. yang dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan internal dalam suatu perusahaan atau organisasi. Sistem pendukung keputusan juga dapat disebut sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk pengambilan keputusan mengenai masalah semi-terstruktur tertentu . Sistem ini menyediakan fasilitas untuk menghasilkan berbagai alternatif yang dapat digunakan secara interaktif oleh pengguna . Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Skincare Berdasarkan Jenis Kulit Wajah Menggunakan Metode Simple Additive Weighting Sebagai alternatif solusi, penggunaan sistem pendukung keputusan dapat efektif dalam menangani permasalahan yang muncul saat memilih produk Facial Foam . Sistem pendukung keputusan atau decision support system adalah bagian dari sistem informasi yang terkomputerisasi . ermasuk sistem berbasis informas. yang dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan internal dalam suatu perusahaan atau Sistem pendukung keputusan juga dapat disebut sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk pengambilan keputusan mengenai masalah semi-terstruktur tertentu . Dalam melakukan Pengambilan Keputusan tersebut dapat digunakan salah satu metode dalam sistem pendukung keputusan yaitu metode Utility Theory Additive (UTA). Metode Utility Additive (UTA) yang diperkenalkan oleh Jacquet-Lagreze dan Siskos pada tahun 1982, metode ini merupakan suatu pendekatan yang mengevaluasi fungsi utilitas aditif pada serangkaian Metode ini menggunakan informasi yang didasarkan pada peringkat subjektif dari sekelompok alternatif dan evaluasi multikriteria terhadap alternatif tersebut . Kelebihan dari metode UTA terletak pada fungsinya sebagai satu-satunya pendekatan yang dirancang untuk memproyeksikan struktur preferensi dari pengambil keputusan , metode ini juga digunakan untuk mengevaluasi utilitas yang terkait dengan kriteria-kriteria yang telah diidentifikasi. Namun, seiring dengan peningkatan jumlah kriteria yang digunakan, penyelesaiannya akan menjadi lebih rumit dan memakan waktu yang lebih lama . Penerapan sistem pendukung keputusan dengan berbagai metode telah banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya, sebagai contoh pada beberapa penelitian, yaitu Penerapan Metode SMART Dalam Pengambilan Keputusan Penerima Beasiswa Yayasan AMIK Tunas Bangsa . ANALISIS DALAM MENENTUKAN PRODUK BRI SYARIAH TERBAIK BERDASARKAN DANA PIHAK KETIGA MENGGUNAKAN AHP . Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Kenaikan Gaji Karyawan (Kasus PPKS Mariha. , dan Penerapan Metode SMART Dalam Pemilihan Cafe Paling Diminati . Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Skincare Berdasarkan Jenis Kulit Wajah Menggunakan Metode Simple Additive Weighting . , dan . Penerapan sistem pendukung keputusan dengan metode UTA juga telah diterapkan dalam berbagai bidang penelititian diantaranya: Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Kampus Swasta Terbaik Di Aceh Menggunakan Metode UTA . , selanjutnya Application of the UTA (Utility Additiv. Method to Determine the Best Employee . Proportional Participatory Budgeting with Additive Utilitie . Metode Utility Additive Untuk Mengevaluasi Peringkat Subjektif Dalam Pengambilan Keputusan Multikriteria . dan Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Prioritas Desa Penerima Program Desa Siaga pada Dinas Kesehatan Kota Banjar . Ini Semua penelitian ini menunjukkan bahwa metode UTA dapat diaplikasikan secara luas dan efektif dalam berbagai situasi pengambilan keputusan, termasuk dalam pemilihan produk perawatan kulit. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan sistem pendukung keputusan di bidang perawatan kulit, khususnya bagi pria dengan kulit berminyak. METODOLOGI PENELITIAN 1 Tahapan Penelitian Dalam rangkaian langkah penelitian, terdapat beberapa proses yang harus dijalankan untuk melakukan penelitian dalam pemilihan produk facial foam yang terlihat pada uraian Gambar 1 berikut ini: The Author . Copyright A 2024 | Page 32 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios Gambar 1. Tahapan Penelitian Identifikasi Masalah Pada tahap awal, penelitian ini mendalami secara menyeluruh masalah yang terjadi untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan merumuskan solusi yang tepat. Penelitian ini difokuskan pada kesulitan dalam mencari facial foam yang sesuai untuk kulit berminyak pada pria. Studi Literarur Tahap studi literatur merupakan upaya penelitian untuk menghimpun referensi yang relevan dalam mendukung dan menyediakan landasan teori yang diperlukan terkait dengan kasus, metode, dan pendekatan penyelesaian yang telah ditentukan guna mencapai hasil penelitian. Dalam konteks ini, sebanyak 19 jurnal dan 1 buku telah digunakan sebagai sumber referensi Pengumpulan Data Proses pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara langsung kepada Kuesioner tersebut dirancang untuk menggali 6 alternatif data terkait dengan objek penelitian, sekaligus mencakup 5 data kriteria yang menjadi fokus, yaitu keefektifan, efek samping, harga, kemasan, dan ketersediaan Setelah data tersebut terhimpun, kriteria-kriteria tersebut dianalisis dan diurutkan berdasarkan tingkat Proses pengurutan ini menjadi langkah krusial yang membuka pintu menuju tahap selanjutnya, yaitu implementasi metode Utility Additive, di mana penulis dapat menetapkan bobot yang sesuai untuk masingmasing kriteria tersebut Penerapan Metode Langkah berikutnya dalam penelitian ini mencakup menerapkan Metode Utility Additive. Metode Utility Additive menjadi elemen krusial dalam mengevaluasi dan merangkum preferensi pengguna terkait dengan berbagai aspek yang relevan dengan Facial Foam. Dengan menggunakan metode ini, penelitian dapat secara rinci menguraikan preferensi dan kepentingan pengguna, yang nantinya akan menjadi dasar untuk menyusun rekomendasi Facial Foam yang paling sesuai dan optimal untuk setiap individu. Penarikan Kesimpulan Pada tahap akhir penelitian, kesimpulan diambil dengan merujuk pada hasil analisis data yang telah dilakukan serta penerapan metode yang telah dijelaskan sebelumnya. Proses ini mencakup evaluasi terhadap efektivitas Sistem Pendukung Keputusan dalam memberikan rekomendasi untuk Facial Foam khususnya pada kulit berminyak pada 2 Fungsi Utilitas Aditif Dalam pengambilan keputusan multikriteria, alternatif pilihan dikumpulkan dan disebut sebagai himpunan ya. Himpunan ya dievaluasi berdasarkan sejumlah kriteria yci = . ci1, yci2. A , yciyc. dengan ycu banyaknya kriteria yang digunakan sebagai perbandingan antar alternatif. Fungsi utilitas multiatribut yang dinyatakan sebagai ycO. = ycO. ci1, yci2. A , yciyc. Dengan adanya hubungan ycE sebagai hubungan preference dan ya sebagai hubungan indifference, untuk yci. = . , yci2. A , yciycu. ], atau evaluasi multikriteria dari suatu alternatif yca, berlaku persamaan berikut untuk fungsi utilitas ycO pada alternatif yca dan yca: ycO yci yca ycO yci yca ycaycEyca ycO yci yca ycO yci yca The Author . Copyright A 2024 | Page 33 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios Definisi dari relasi ycI = ycE yn ya didefenisikan sebagai urutan yang lemah dari peringkat alternatif pilihan, berdasarkan pandangan subjektif dari seseorang dan nantinya akan dievaluasi. Fungsi utilitas aditif dirumuskan sebagai berikut. = Ocycu yci . = yc1. U ycycu. adalah utilitas marginal dari kinerja ycii pada kriteria i. Pada pengambilan keputusan multikriteria, biasanya kriteria-kriteria yang menjadi perbandingan antar alternatif memiliki satuan yang berbeda-beda, untuk itu perlu menyamakan bobot satuan dengan batas atas dan batas bawah tertentu. Batas yang biasa digunakan adalah interval . Untuk mengatasi hal ini, normalisasi pada fungsi utilitas perlu dilakukan. Normalisasi fungsi utilitas dilakukan dengan menambahkan fungsi kendala (Keeney dan Raiffa . Ocycu cii ) = 1, . ci1*) yc2. ci2*) U ycycu. ciycu*) = 1 Dan yci. cii*) = 0, . dimana i = 1,2. A , ycu, dengan ycii* merupakan nilai kriteria yang paling diinginkan dan ycii* Untuk semua i, merupakan nilai kriteria yang paling tidak diinginkan dalam pengambilan keputusan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Model Data Kriteria Penelitian ini menggunakan pendekatan utilitas dengan kriteria yang relevan untuk menilai efektivitas berbagai produk facial foam yang digunakan oleh responden pria, dengan fokus pada kulit berminyak. Ilustrasi yang diambil menggunakan data 6 produk facial foam dari berbagai macam responden laki laki yang berjumlah 41 sampel data responden pria. Responden yang dipilih adalah mayoritas mahasiswa dan sebagian lagi para orang tua. Produk produk Facial Foam yang digunakan dalam penelitian ini dijadikan sebagai alternatif dalam penilaian fungsi utilitas, dimana lima kriteria telah ditentukan untuk mengevaluasi produk. Dalam penelitian ini, lima kriteria yang digunakan yaitu keefektifan produk (C. , efek samping (C. , harga (C. , kemasan (C. , dan ketersediaan (C. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Metode UTA (Utility Additive Metho. , yang bertujuan untuk memberikan rekomendasi produk Facial Foam terbaik untuk pria dengan kulit berminyak. Metode ini memungkinkan kita untuk menggabungkan bobot setiap kriteria dan mengevaluasi masing-masing alternatif berdasarkan preferensi pengguna. Tabel 1 berikut digunakan dalam proses penilaian fungsi utilitas. Tabel 1. Model Data Kriteria Kriteria Keterangan Keefektifan Produk Efek Samping Harga Kemasan Ketersediaan Cost/Benefit Benefit Benefit Benefit Benefit Benefit Bobot Tabel 1, menunjukkan model data kriteria yang digunakan dalam penelitian. Setiap kriteria memiliki bobot yang Bobot tertinggi diberikan pada kriteria keefektifan produk (C. 30, yang menunjukkan bahwa responden menempatkan keefektifan produk sebagai faktor terpenting dalam pemilihan produk facial foam. Ini berarti produk yang dapat memberikan hasil yang signifikan dalam membersihkan kulit berminyak dan mengurangi masalah kulit lebih disukai oleh pengguna. Kriteria kedua yang penting adalah Efek Samping (C. dengan bobot 0. Hal ini menekankan bahwa meskipun keefektifan produk penting, responden juga memperhatikan keamanan produk dan minimnya efek samping penggunaan produk, terutama untuk seseorang yang memiliki kulit sensitif, berminyak atau mudah berjerawat. Kriteria ketiga yaitu pada Harga (C. memiliki bobot yang sama dengan efek samping, yaitu 0. yang menunjukkan bahwa harga merupakan faktor penting dalam keputusan pembelian. Responden mungkin lebih bersedia untuk membayar lebih produk yang terbukti efektif dan aman. Kriteria keempat yaitu Kemasan (C. mendapatkan bobot 0. 15, yang mendefenisikan bahwa presentasi produk melalui desain kemasan dapat menarik perhatian responden, namun tidak menjadi faktor utama dalam menentukan pembelian produk. Kemasan memang mempengaruhi kesan awal tetapi bukan faktor utama dalam menilai kualitas produk. Kriteria terakhir yaitu Ketersediaan (C. mendapatkan bobot 0. menunjukkan pentingnya kemudahan akses produk di pasar. Produk yang tersedia secara luas cenderung lebih disukai, karena memudahkan responden untuk terus menggunakan produk tersebut tanpa kesulitan mendapatkan persediaan. Pada kriteria keempat (C. dan kriteria kelima (C. mengindikasikan bahwa The Author . Copyright A 2024 | Page 34 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios desain kemasan dan kemudahan untuk mendapatkan produk di pasar memang dapat mempengaruhi keputusan pembelian, meskipun tidak sekuat kriteria lainnya. Tabel 2 dibawah ini merupakan tabel yang digunakan untuk tabel alternative, berisikan data yang dimana ada Alternative, dan Keterangan. Tabel 2. Data Alternatif Kode Alternatif Biore Garnier Kahf Nivea PondAos Vaseline Pada tabel 2, menunjukkan bahwa penelitian ini menilai enam alternatif produk facial foam, yaitu Biore (A. Garnier (A. Kahf (A. Nivea (A. PondAos (A. , dan Vaseline (A. Setiap produk akan dinilai berdasarkan kriteria yang ditetapkan di Tabel 1. 2 Pembahasan Langkah pertama dalam pembahasan ini adalah Membuat nilai keputusan berisikan alternative. C1 atau dalam kriteria keefektifan produk. C2 = efek samping. C3 = harga. C4 = kemasan. C5 = ketersediaan yang dimana data tersebut sudah didapatkan sebelumnya. Bisa dilihat pada Tabel 3 dibawah ini. Tabel 3. Nilai Keputusan Alternatif Kriteria Penelitian ini selanjutnya menganalisis nilai keputusan untuk setiap produk berdasarkan setiap kriteria, yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3. Langkah pertama adalah menormalisasi data Nilai Keputusan (Tabel . untuk memastikan bahwa semua nilai dalam kriteria yang berbeda dapat dibandingkan secara adil. Proses normalisasi dilakukan dengan cara membagi setiap nilai dalam suatu kolom kriteria dengan nilai tertinggi dalam kolom tersebut. Sebagai contoh: Pada kolom C1, nilai tertinggi adalah 4 . ntuk A1 dan A. Maka, nilai A1 pada C1 dinormalisasi dengan membagi 4/4, yang menghasilkan 1. Nilai A2 pada C1 adalah 3. 85, maka 3. 85/4 = 0. Hal yang sama dilakukan untuk setiap kolom kriteria dan setiap alternatif (A1 sampai A. Hasil dari data yang telah dinormalisasi dapat dilihat pada tabel Tabel 4, yang menunjukkan nilai-nilai yang sudah dinormalisasi untuk setiap alternatif dan Tabel 4. Data yang telah dinormalisasi Berikutnya, setelah data dinormalisasi, langkah berikutnya adalah menghitung jumlah interval dan perbedaan Jumlah interval adalah nilai tetap yang ditetapkan oleh pembuat keputusan, dalam hal ini nilainya ditetapkan berdasarkan preferensi dan pengaruh kriteria terhadap keputusan akhir. Sedangkan perbedaan interval dihitung dengan cara mengurangi nilai terbesar (G ) dengan nilai terkecil (G-) dari masing-masing kriteria, kemudian dibagi dengan jumlah interval yang telah ditetapkan. Perhitungan ini memberikan wawasan tentang seberapa besar perbedaan antar alternatif dalam setiap kriteria, sehingga dapat diperoleh nilai utilitas total untuk setiap alternatif. The Author . Copyright A 2024 | Page 35 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios Tabel 5. Data yang digunakan analisis peringkat Jumlah Interval Perbedaan Interval Untuk menentukan nilai terkecil dan terbesar dapat diambil dari tabel data yang telah dinormalisasi pada Tabel 4. Sebagai contoh: Untuk kriteria C1, nilai terbesar (G ) adalah 1, dan nilai terkecil (G-) adalah 0. Perbedaan nya adalah 1 Ae 0. 922 = 0. Jumlah interval untuk C1 adalah 0. 078 / 0. 30 = 0. Proses yang sama dilakukan untuk setiap kriteria, sehingga didapatkan nilai perbedaan interval untuk semua kriteria. Setelah mendapatkan nilai perbedaan interval, langkah berikutnya adalah mencari nilai alternatif dengan mengalikan perbedaan interval dengan setiap alternatif yang terdapat pada Tabel 4 yang telah dinormalisasi, sesuai dengan kolom kriteria masing-masing. Sebagai contoh, untuk alternatif A1: Kriteria C1: Nilai A1 setelah normalisasi adalah 1. Perbedaan interval C1 adalah 0. Maka, nilai untuk A1 pada C1 = 1. 000 x 0. 260 = 0. Kriteria C2: Nilai A1 setelah dinormalisasi adalah 0. 875, perbedaan interval C2 adalah 0. Maka, nilai untuk A1 pada C2 = 0. 875 x 0. 625 = 0. Perhitungan ini diulangi untuk semua kriteria hingga semua nilai alternatif dihitung. Setelah perhitungan ini, kita dapat menjumlahkan nilai dari setiap kriteria untuk setiap alternatif untuk mendapatkan nilai Utilitas Total, yang tercantum dalam kolom Nilai Utilitas pada Tabel 6. Setelah semua nilai utilitas dihitung, langkah terakhir adalah menentukan peringkat . dari setiap alternatif berdasarkan nilai utilitas yang diperoleh. Nilai Utilitas yang lebih tinggi menunjukkan bahwa alternatif tersebut lebih disukai berdasarkan kriteria yang digunakan. Tabel 6. Hasil Perangkingan Alternatif Kriteria Nilai Utilitas Rank Berikut adalah hasil peringkat dari alternatif facial foam pada Tabel 6 yaitu A5 (PondAo. berada di peringkat pertama dengan nilai utilitas tertinggi yaitu 3. Ini menunjukkan bahwa produk PondAos dianggap sebagai alternatif terbaik berdasarkan semua kriteria yang dipertimbangkan. A2 (Garnie. berada di peringkat kedua dengan nilai utilitas A6 (Vaselin. berada di peringkat ketiga dengan nilai utilitas 3. A1 (Bior. berada di peringkat keempat dengan nilai 3. A4 (Nive. berada di peringkat kelima dengan nilai 3. 190 dan A3 (Kah. berada di peringkat keenam dengan nilai 3. Peringkat akhir menunjukkan bahwa PondAos (A. merupakan facial foam yang paling disukai berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, diikuti oleh Garnier (A. dan vaseline (A. Biore (A. Nivea (A. dan Kahf (A. berada diperingkat lebih rendah, meskipun produk ini masih memiliki skor utilitas yang cukup baik. Dalam konteks rekomendasi produk facial foam untuk pria dengan kulit berminyak, penelitian ini memberikan panduan yang jelas berdasarkan preferensi konsumen terhadap aspek-aspek penting yang mempengaruhi keputusan pembelian. Selain itu, hasil penelitian ini juga memberikan panduan bagi produsen dalam meningkatkan aspek tertentu dari produk mereka, seperti memperkuat keefektifan produk atau meningkatkan ketersediaan di pasaran. Hasil ini juga menunjukkan bahwa keamanan dan harga tetap menjadi pertimbangan penting, meskipun performa produk tetap menjadi faktor utama dalam preferensi konsumen. 1 Perbandingan dari Hasil Penelitian Sebelumnya. Dalam perbandingan dengan penelitian sebelumnya pada tabel 7, hasil menunjukkan perbedaan signifikan dalam rekomendasi produk facial foam untuk kulit berminyak pada pria. Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluasi multi-kriteria yang mempertimbangkan beberapa aspek produk. Hasil tersebut mengungkapkan prioritas produk berdasarkan nilai Qi, yang mencerminkan performa produk terhadap kriteria yang dipilih. Tabel 7. Hasil Perangkingan Metode Waspas Nama Produk Garnier Prioritas Prioritas 1 The Author . Copyright A 2024 | Page 36 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios Nama Produk Ms Glow Himalaya Biore Emina Ponds Sari Ayu Nivea Jafra Oriflame Prioritas Prioritas 2 Prioritas 3 Prioritas 4 Prioritas 5 Prioritas 6 Prioritas 7 Prioritas 8 Prioritas 9 Prioritas 10 Pada tabel 7 diatas memuat data yang berisi penelitian sebelumnya yang diteliti oleh Anita Uli Purba dan timnya dengan mengunakan metode WASPAS . WASPAS merupakan metode multi-kriteria yang menggabungkan metode Weighted Sum Model (WSM) dan Weighted Product Model (WPM) untuk mengukur kinerja produk secara keseluruhan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Tabel tersebut memuat 10 daftar produk facial foam yang dievaluasi berdasarkan nilai Qi yang merupakan skor atau nilai evaluasi dari setiap produk. Nilai Qi ini memungkinkan untuk memberikan ranking prioritas dari yang paling unggul hingga yang paling rendah berdasarkan dari hasil analisis multi-kriteria. Berikut adalah penjelasan rinci dari tabel: Kolom No: menyatakan urutan nomor produk dalam tabel. Nomor ini mengacu pada urutan produk berdasarkan hasil evaluasi, dimana produk dengan skor Qi tertinggi berada di posisi teratas Nama produk: Menampilkan nama-nama produk kosmetik facial foam yang dievaluasi yaitu Garnier. Ms glow. Himalaya. Biore. Emina. Ponds. Sari ayu. Nivea. Jafra, dan Oriflame Qi: menunjukkan hasil dari evaluasi setiap produk berdasarkan kriteria tertentu. Qi yang lebih tinggi menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki peringkat yang lebih baik atau lebih unggul berdasarkan analisis yang dilakukan. Produk dengan nilai Qi tertinggi adalah Garnier . , yang beraarti Garnier diprioritaskan sebagai produk yang paling direkomendasikan atau paling sesuai dengan kriteria yang dipertimbangkan. Produk dengan nilai Qi terendah adalah oriflame . , yang berarti produk ini dianggap paling kurang sesuai atau berada di peringkat terakhir berdasarkan analisis yang dilakukan. Prioritas: Kolom ini menyatakan urutan peringkat atau prioritas dari setiap produk berdasarkan nilai Qi yang diperoleh, semakin tinggi nilai Qi, semakin tinggi prioritas produk tersebut. Prioritas 1 adalah Garnier, yang menunjukkan bahwa produk ini adalah yang paling di prioritaskan atau di rekomendasikan. Prioritas 10 adalah oriflame, yang menunjukkan bahwa produk ini memiliki prioritas terendah dalam daftar. Hasil peringkat ini memberikan gambaran yang jelas mengenai produk facial foam yang direkomendasikan bagi konsumen, khusunya pria dengan kulit berminyak. Dengan produk seperti Garnier dan Ms glow yang berada di posisi tertinggi, ini menunjukkan kedua produk tersebut paling memenuhi kriteria yang penting dalam pemilihan Facial Foam. Di sisi lain, produk seperti Jafra dan Oriflame menunjukkan performa yang kurang optimal, yang berarti kurang memenuhi kriteria atau harapan konsumen dalam perawatan kulit berminyak. Dalam konteks pengambil keputusan pembelian atau rekomendasi produk Facial Foam, keseluruhan dari tabel ini memberikan panduan yang jelas berdasarkan peringakat nya. Pemilihan produk yang tepat tidak hanya bergantung pada popularitas merek tetapi juga keefektifan produk terhadap jenis kulit tertentu serta pertimbangan harga dan KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan sistem pendukung keputusan dengan metode Utility Theory Additive (UTA) dapat secara efektif membantu pria dengan kulit berminyak dalam memilih produk facial foam yang tepat yaitu PondAos berada di peringkat pertama dengan nilai utilitas tertinggi yaitu 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa kriteria keefektifan produk menjadi faktor paling penting dalam memilih facial foam, diikuti oleh efek samping, harga, kemasan, dan ketersediaan produk. Dengan menggunakan sistem pendukung keputusan berbasis UTA, penelitian ini dapat memberikan rekomendasi yang terukur dan berbasis data untuk membantu pengguna dalam memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Meskipun penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami preferensi pengguna dan pemilihan produk perawatan kulit, terdapat keterbatasan yang perlu dicatat. Keterbatasan tersebut meliputi jumlah responden yang relatif kecil dan berfokus pada kelompok tertentu . ahasiswa dan orang tu. , yang mungkin tidak mewakili keseluruhan populasi pria. Selain itu, penelitian ini hanya mempertimbangkan lima kriteria dan enam alternatif produk, sehingga dapat mempersempit hasil dan rekomendasi yang diperoleh. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas jumlah responden dengan melibatkan berbagai kelompok usia dan latar belakang, serta menambahkan lebih banyak kriteria dan alternatif produk. Selain itu, penelitian mendatang dapat mempertimbangkan faktor-faktor tambahan seperti preferensi merek, review pengguna, dan aspek psikologis dalam pengambilan keputusan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pilihan produk perawatan kulit pada pria. Dengan perbaikan ini, diharapkan sistem pendukung keputusan dapat semakin efektif dan relevan dalam membantu pengguna menentukan berbagai pilihan produk di pasar. The Author . Copyright A 2024 | Page 37 Bulletin of Information System Research (BIOS) Volume 3. No 1. December 2024 Page: 31-38 ISSN 2963-2455 . edia onlin. https://journal. id/index. php/bios REFERENCES