Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 https://pusdikra-publishing. com/index. php/jkes/home Problematika Guru dalam Melaksanakan Sistem Pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-Qur`An Wonosobo Yeslin Tania Putri1. Nasokah2. Chairani Astina3 1,2,3 Universitas Sains Al-Qur`an Wonosobo. Indonesia Corresponding Author : aribayakemiri7@gmail. ABSTRACT Kata Kunci The implementation of the Merdeka Learning Curriculum is a national policy that requires teachersAo readiness to plan, implement, and evaluate learning in a more flexible and student-centered manner. In the context of Islamic-based elementary schools, the implementation of the Merdeka Curriculum also demands teachersAo ability to integrate QurAoanic values into the learning process without eliminating the institutionAos distinctive characteristics and identity. This study focuses on the issues surrounding the implementation of the Merdeka Learning Curriculum at SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo. The research problems are formulated as follows: how the Merdeka Learning Curriculum is implemented at SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo, . what problematics are faced by teachers in implementing the Merdeka Learning Curriculum, and . what efforts are made by teachers to overcome these problematics. This study employs a qualitative approach with a field research design. The research subjects consist of the school principal and teachers of SD Takhassus AlQurAoan Wonosobo. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity was ensured through source and technique triangulation. The results of the study indicate that the implementation of the Merdeka Learning Curriculum at SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo has been carried out gradually in accordance with national policies by applying student-centered learning, learning flexibility, and character strengthening through the integration of QurAoanic values. However, several problematics remain, including teachersAo limited understanding of the Merdeka Curriculum, difficulties in preparing instructional planning documents, challenges in implementing differentiated learning, administrative workload, and the suboptimal use of formative assessment. To address these problematics, teachers have undertaken various efforts, such as improving professional competence through training and self-directed learning, collaborating in the preparation of instructional documents, simplifying administrative tasks, strengthening formative assessment, and integrating QurAoanic values into the learning process. Overall, the implementation of the Merdeka Learning Curriculum at SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo has not yet been fully optimal, but it has been moving in the right direction with the active role of teachers as the main implementers of the curriculum. Merdeka Learning Curriculum. TeachersAo Problematics. Learning. Elementary School. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 PENDAHULUAN Perkembangan globalisasi yang berlangsung secara cepat menuntut seluruh sektor kehidupan untuk terus beradaptasi dan bertransformasi, termasuk sektor pendidikan. Globalisasi membawa perubahan signifikan dalam pola kehidupan masyarakat yang berdampak pada tuntutan kompetensi sumber daya manusia, sehingga sistem pendidikan dituntut untuk senantiasa menyesuaikan diri agar tetap relevan dengan perkembangan zaman (Tilaar. Perubahan tersebut memengaruhi tatanan kehidupan manusia pada level makro, meso, maupun mikro, termasuk dalam sistem pendidikan formal. Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, baik dalam aspek spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, maupun keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kompetensi peserta didik secara menyeluruh. Sebagai suatu sistem, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kurikulum sebagai komponen utamanya. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan di setiap satuan pendidikan, baik bagi pengelola maupun pendidik. Kurikulum menjadi acuan utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sehingga perubahan dan pengembangan sistem pendidikan harus diiringi dengan pengembangan kurikulum yang adaptif dan kontekstual (Hamalik, 2. Pengembangan kurikulum merupakan proses sistematis yang meliputi perencanaan, penyusunan, implementasi, serta evaluasi kurikulum agar mampu menjawab berbagai permasalahan pendidikan dan tuntutan zaman. Pembaruan kurikulum pada dasarnya dipengaruhi oleh perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat. Perubahan pola hidup dari masyarakat agraris tradisional menuju masyarakat industri dan digital menuntut penguasaan kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif (Trilling & Fadel, 2. Dalam konteks tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi meluncurkan kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar sebagai upaya transformasi sistem pendidikan Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan fleksibilitas Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 kepada satuan pendidikan dan pendidik dalam mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta berorientasi pada penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2. Kurikulum Merdeka Belajar tidak hanya menekankan pada aspek administratif pembelajaran, tetapi juga pada transformasi budaya sekolah menuju pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan bermakna. Guru diposisikan sebagai fasilitator yang berperan penting dalam merancang pembelajaran, menyusun modul ajar, melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. , serta melakukan asesmen yang berorientasi pada perkembangan peserta didik (Aditomo et al. , 2. Namun demikian, implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di lapangan tidak terlepas dari berbagai tantangan dan problematika. Guru dituntut untuk memiliki kesiapan yang komprehensif, baik dari segi kompetensi pedagogik, profesional, maupun kesiapan mental dalam menghadapi perubahan paradigma pembelajaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman guru, kesiapan sekolah, ketersediaan sarana prasarana, serta kesiapan peserta didik menjadi faktor utama yang memengaruhi efektivitas implementasi Kurikulum Merdeka (Sanjaya, 2. Pada jenjang sekolah dasar, penerapan Kurikulum Merdeka membutuhkan adaptasi yang lebih intensif. Kurikulum ini menuntut perubahan pola pikir peserta didik menuju pembelajaran yang lebih mandiri, aktif, dan kolaboratif, yang tidak dapat terjadi secara instan. Selain itu, proses transisi dari kurikulum sebelumnya ke Kurikulum Merdeka juga memunculkan berbagai kendala teknis dan konseptual dalam pelaksanaannya (Mulyasa. Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu wilayah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar di seluruh satuan pendidikan. Takhassus Al-QurAoan Wonosobo termasuk sekolah yang lebih awal mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, sehingga telah memiliki pengalaman yang cukup dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kurikulum Kondisi ini menjadikan SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo sebagai lokasi yang relevan untuk mengkaji secara mendalam problematika guru dalam melaksanakan sistem pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini difokuskan pada problematika guru dalam melaksanakan sistem pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo, serta upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi berbagai kendala yang dihadapi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan implementasi Kurikulum Merdeka di jenjang sekolah dasar. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan . ield researc. dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan desain studi kasus deskriptif. Penelitian lapangan dipilih karena peneliti secara langsung terlibat dalam pengumpulan data di lokasi penelitian untuk memahami fenomena secara kontekstual dan mendalam. Dalam penelitian lapangan, permasalahan penelitian bersifat fleksibel dan berkembang sesuai dengan kondisi empiris di lapangan, sedangkan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan observasi yang dapat disesuaikan dengan situasi penelitian (Sugiyono, 2. Pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini berorientasi pada pengungkapan fenomena sosial secara alamiah. Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari individu serta perilaku yang dapat diamati, dengan pendekatan holistik terhadap latar dan subjek penelitian (Bogdan & Taylor, 1. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memahami makna, persepsi, dan pengalaman guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mendalam. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan secara rinci dan sistematis karakteristik, konteks, serta peristiwa yang terjadi pada suatu kasus tertentu. Studi kasus digunakan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap suatu fenomena dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batas antara fenomena dan konteks tidak tampak secara tegas (Yin, 2. Dalam penelitian ini, kasus yang dikaji adalah problematika guru dalam melaksanakan pembelajaran Kurikulum Merdeka di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo. Penelitian ini dilaksanakan di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo. Lokasi ini dipilih karena sekolah tersebut telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sejak tahap awal, sehingga memiliki pengalaman yang cukup dalam pelaksanaan kurikulum tersebut. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 dengan rentang waktu kurang lebih delapan minggu. Tahapan penelitian meliputi wawancara awal dengan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, observasi lingkungan dan proses pembelajaran, wawancara dengan guru, serta analisis data dan penyusunan laporan penelitian. Subjek penelitian adalah pihak-pihak yang dianggap kompeten dan relevan untuk memberikan informasi sesuai dengan fokus penelitian. Subjek dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta guru kelas di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo. Penentuan Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 subjek dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung subjek dalam perencanaan dan pelaksanaan Kurikulum Merdeka (Creswell, 2. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi, guna memperoleh data yang komprehensif dan mendalam. Wawancara digunakan untuk menggali informasi secara mendalam terkait pengalaman, persepsi, dan problematika yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran Kurikulum Merdeka. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam . n-depth intervie. , yaitu proses pengumpulan data melalui pertanyaan terbuka yang fleksibel dan rinci (Moleong, 2. Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan guru kelas. Observasi dilakukan secara langsung untuk mengamati proses pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler, interaksi guru dan peserta didik, serta penerapan prinsip Kurikulum Merdeka di kelas. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data faktual yang dapat memperkuat hasil wawancara (Sugiyono, 2. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian berupa dokumen tertulis dan visual, seperti modul ajar, perangkat pembelajaran, foto kegiatan, struktur organisasi, serta dokumen pendukung Teknik ini berfungsi sebagai data pendukung yang dapat meningkatkan keakuratan temuan penelitian (Arikunto, 2. Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang digunakan untuk mengumpulkan data sesuai dengan teknik yang diterapkan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrumen utama, sedangkan instrumen pendukung berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi (Moleong, 2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: . pedoman observasi untuk mengamati proses pembelajaran dan implementasi Kurikulum Merdeka. pedoman wawancara mendalam untuk menggali informasi dari subjek penelitian. format dokumentasi untuk mengumpulkan dokumen yang relevan dengan fokus penelitian. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan melalui empat kriteria, yaitu credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Lincoln & Guba, 1. Credibility dilakukan melalui peningkatan ketekunan, triangulasi teknik dan sumber, serta member check. Transferability dilakukan dengan menyajikan data secara deskriptif dan rinci agar temuan penelitian dapat dipahami dalam konteks lain yang relevan. Dependability dilakukan dengan memastikan konsistensi proses penelitian, sedangkan confirmability dilakukan dengan mengaitkan hasil penelitian dengan proses pengumpulan dan analisis data yang telah dilakukan secara sistematis. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 Analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung sejak proses pengumpulan data hingga penelitian selesai. Teknik analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles & Huberman, 2. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan memfokuskan data pada informasi yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif untuk memudahkan pemahaman terhadap temuan penelitian. Penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap dengan memverifikasi data yang diperoleh agar kesimpulan yang dihasilkan bersifat kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo Berdasarkan hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo telah menerapkan Kurikulum Merdeka pada seluruh jenjang kelas, mulai dari kelas I hingga VI. Implementasi kurikulum dilakukan dengan mengacu pada kebijakan pemerintah dan dikembangkan secara kontekstual sesuai dengan karakteristik sekolah dan peserta didik. Pendekatan pembelajaran yang digunakan berorientasi pada pembelajaran mendalam . eep learnin. serta penguatan karakter peserta didik. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka diperkuat melalui berbagai program pendukung, seperti Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAI) dan penguatan profil lulusan. Lingkungan sekolah yang terintegrasi dengan asrama mendukung pembiasaan nilai religius, kedisiplinan, kemandirian, dan aktivitas keagamaan secara berkelanjutan. Nilai-nilai tersebut juga diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran. Sekolah menilai bahwa implementasi Kurikulum Merdeka telah berjalan sesuai dengan target, meskipun masih memerlukan penyesuaian seiring dengan perkembangan kebijakan pendidikan. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dilaksanakan secara fleksibel sebagai kegiatan kokurikuler dengan tema yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik sekolah. Projek tersebut dilaksanakan dua kali dalam satu tahun ajaran dengan alokasi waktu yang terjadwal. Namun demikian, sekolah masih menghadapi beberapa kendala, terutama keterbatasan sarana pembelajaran berbasis digital dan beban administrasi guru. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah mengembangkan strategi kolaboratif melalui forum diskusi guru, komunitas belajar internal. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 serta pelatihan rutin sebagai upaya peningkatan profesionalisme pendidik. Perencanaan implementasi Kurikulum Merdeka di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo diawali dengan penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Penyusunan KOSP dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan kepala sekolah dan guru, dengan mempertimbangkan visi-misi sekolah, karakteristik peserta didik, serta kondisi lingkungan sekolah. Perencanaan pembelajaran mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) yang diturunkan ke dalam Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Guru menyusun modul ajar secara mandiri dengan menyesuaikan konteks pembelajaran dan kebutuhan peserta didik. Dalam proses perencanaan tersebut, sekolah mengintegrasikan nilai-nilai Al-QurAoan dan pendidikan karakter Islami ke dalam mata pelajaran umum, sehingga implementasi Kurikulum Merdeka tetap selaras dengan kekhasan sekolah berbasis Islam. Pelaksanaan pembelajaran di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. Guru berupaya memahami perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa melalui penerapan pembelajaran Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan melibatkan siswa dalam kegiatan bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan Dalam pelaksanaannya, guru menggunakan berbagai metode pembelajaran, seperti diskusi kelompok, tanya jawab, penugasan proyek, dan pembelajaran kontekstual. Media pembelajaran yang digunakan juga beragam, mulai dari buku teks, lembar kerja peserta didik, media visual, hingga pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Variasi metode dan media tersebut bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan menyenangkan. SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. sebagai bagian integral dari Kurikulum Merdeka. Tema projek disesuaikan dengan karakteristik sekolah dan diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam, seperti religiusitas, gotong royong, dan kepedulian Melalui P5, peserta didik tidak hanya memahami nilai Profil Pelajar Pancasila secara konseptual, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sistem asesmen dalam Kurikulum Merdeka di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo dilaksanakan secara berkelanjutan. Guru menerapkan asesmen diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, asesmen formatif untuk memantau perkembangan belajar, serta asesmen sumatif untuk menilai capaian hasil belajar. Asesmen tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup aspek sikap dan keterampilan. Sistem asesmen Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 ini digunakan sebagai dasar pemberian umpan balik dan perbaikan Problematika Guru dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo menghadapi berbagai problematika dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Problematika tersebut meliputi keterbatasan pemahaman konseptual terhadap Kurikulum Merdeka, kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran, tantangan penerapan pembelajaran berdiferensiasi, keterbatasan waktu akibat beban administratif, kendala dalam pelaksanaan asesmen, serta tantangan integrasi nilai Al-QurAoan dalam pembelajaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun guru memiliki komitmen yang tinggi, implementasi Kurikulum Merdeka masih membutuhkan pendampingan, penguatan kompetensi, serta dukungan kelembagaan agar dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Upaya Guru dalam Mengatasi Problematika Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam menghadapi berbagai problematika tersebut, guru di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo melakukan sejumlah upaya adaptif. Guru meningkatkan pemahaman konseptual melalui pelatihan, lokakarya, dan pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar. Selain itu, guru mengembangkan perencanaan pembelajaran secara kolaboratif untuk menyusun modul ajar. TP, dan ATP yang sesuai dengan karakteristik sekolah. Pembelajaran berdiferensiasi diterapkan secara bertahap melalui pemetaan kemampuan awal peserta didik dan penyesuaian strategi Guru juga berupaya menyederhanakan administrasi pembelajaran agar lebih fokus pada kualitas proses belajar. Dalam aspek asesmen, guru mulai memanfaatkan asesmen formatif sebagai alat refleksi dan perbaikan pembelajaran. Integrasi nilai Al-QurAoan tetap menjadi perhatian utama melalui pengaitan materi pembelajaran dengan nilai-nilai keislaman secara kontekstual. Upaya-upaya tersebut menunjukkan bahwa guru berperan aktif sebagai agen perubahan dalam implementasi Kurikulum Merdeka dan berkomitmen untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan berkarakter. Pembahasan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo Hasil penelitian menunjukkan bahwa SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar secara menyeluruh pada seluruh jenjang kelas. Sekolah memahami Kurikulum Merdeka sebagai Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 kurikulum yang fleksibel, adaptif, dan kontekstual, yang memberi ruang bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik dan lingkungan belajar. Implementasi tersebut tercermin dalam penggunaan pendekatan pembelajaran mendalam . eep learnin. , penguatan karakter, serta pengembangan kompetensi peserta didik secara holistik. Pemahaman ini sejalan dengan konsep Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran bermakna, penguatan profil pelajar, dan pengembangan potensi peserta didik secara utuh (Aditomo et al. , 2. Sebagai sekolah berbasis asrama dan Al-QurAoan. SD Takhassus Al-QurAoan mengontekstualisasikan Kurikulum Merdeka dengan lingkungan religius melalui program pembiasaan, seperti Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAI) dan integrasi nilai-nilai keislaman dalam seluruh mata pelajaran. Lingkungan asrama mendukung pembentukan karakter religius, disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan pandangan pendidikan holistik yang menekankan pentingnya konsistensi lingkungan belajar dalam pembentukan karakter peserta didik (Lickona, 2. Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dilakukan secara fleksibel dan kontekstual sebagai kegiatan kokurikuler. Proyek dirancang berbasis minat dan kebutuhan peserta didik serta diintegrasikan dengan nilai-nilai Al-QurAoan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip projectbased learning sebagai strategi penguatan kompetensi abad ke-21 dan karakter peserta didik (Trilling & Fadel, 2. Meskipun demikian, penelitian juga menemukan kendala pada aspek sarana pembelajaran digital. Keterbatasan fasilitas teknologi menjadi tantangan dalam optimalisasi pembelajaran berdiferensiasi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pedagogis, tetapi juga oleh dukungan ekosistem pembelajaran yang memadai (Kemendikbudristek, 2. Sebagai respons, sekolah memperkuat kapasitas guru melalui kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG), komunitas belajar, dan pelatihan rutin. Upaya ini mencerminkan peran guru sebagai perancang pembelajaran . esigner of learnin. yang membutuhkan pengembangan profesional berkelanjutan (Mulyasa, 2. Problematika Guru dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar Hasil analisis menunjukkan bahwa problematika guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo merupakan bagian dari dinamika transisi kurikulum. Problematika tersebut meliputi Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 keterbatasan pemahaman konseptual, kesulitan penyusunan perangkat pembelajaran, tantangan penerapan pembelajaran berdiferensiasi, beban administratif, serta pemanfaatan asesmen yang belum optimal. Secara konseptual, guru telah memahami Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang berpusat pada peserta didik. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya terinternalisasi dalam praktik pedagogis sehari-hari. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara regulasi kurikulum dan kesiapan pedagogis guru. Secara teoretis, perubahan kurikulum tanpa disertai perubahan paradigma berpikir guru berpotensi menghasilkan praktik pembelajaran yang bersifat administratif, bukan substantif (Fullan, 2. Dalam aspek perencanaan pembelajaran, kemandirian guru dalam menyusun modul ajar. Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan kompetensi profesional. Perangkat pembelajaran masih dipersepsikan sebagai tuntutan administrasi, bukan sebagai instrumen strategis untuk merancang pengalaman belajar yang Pembelajaran berdiferensiasi juga menjadi tantangan utama. Guru cenderung baru menerapkan diferensiasi pada aspek proses pembelajaran, sementara diferensiasi konten dan produk belum optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa implementasi diferensiasi masih berada pada tahap adaptasi awal, sebagaimana dikemukakan Tomlinson . bahwa diferensiasi merupakan proses bertahap yang memerlukan kesiapan pedagogis dan refleksi Selain itu, meningkatnya beban administratif menimbulkan paradoks dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Alih-alih memerdekakan pembelajaran, guru justru menghadapi keterbatasan waktu untuk refleksi dan Kondisi ini berpotensi mengaburkan esensi Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang berorientasi pada kualitas proses belajar. Upaya Guru dalam Mengatasi Problematika Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Meskipun menghadapi berbagai problematika, guru di SD Takhassus AlQurAoan Wonosobo menunjukkan sikap adaptif dan reflektif dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Guru secara aktif meningkatkan pemahaman konseptual melalui pelatihan, diskusi kolektif, serta pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar. Upaya ini sejalan dengan konsep continuous professional development sebagai prasyarat keberhasilan implementasi kurikulum (Darling-Hammond et al. , 2. Dalam mengatasi kesulitan perencanaan pembelajaran, guru menerapkan pendekatan kolaboratif melalui forum diskusi internal sekolah. Kolaborasi ini memungkinkan guru saling Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 berbagi praktik baik dan mengurangi beban administratif. Pendekatan ini mencerminkan peran guru sebagai komunitas belajar profesional. Pembelajaran berdiferensiasi diterapkan secara bertahap melalui pemetaan kemampuan awal peserta didik menggunakan asesmen diagnostik Strategi ini menunjukkan sikap realistis guru dalam menerapkan prinsip diferensiasi sesuai konteks kelas. Guru juga mulai menguatkan peran asesmen formatif sebagai alat refleksi pembelajaran. Hasil asesmen dimanfaatkan untuk memberikan umpan balik dan menyesuaikan strategi Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Black dan Wiliam . yang menekankan asesmen formatif sebagai sarana peningkatan kualitas Sebagai sekolah berbasis Al-QurAoan, guru berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam pembelajaran melalui pengaitan materi dengan ayat Al-QurAoan, pembiasaan adab Islami, dan penguatan karakter religius. Integrasi ini memungkinkan Kurikulum Merdeka diterapkan tanpa menghilangkan identitas keislaman sekolah. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo telah berjalan sesuai dengan prinsip dan tujuan Kurikulum Merdeka. Problematika yang dihadapi guru merupakan konsekuensi wajar dari proses transisi kurikulum dan tidak menunjukkan kegagalan implementasi. Sebaliknya, problematika tersebut menandakan adanya proses adaptasi yang masih berlangsung dan memerlukan penguatan berkelanjutan melalui pendampingan pedagogis, pengembangan profesional guru, dan dukungan ekosistem KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo secara umum telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan prinsip dasar Kurikulum Merdeka. Sekolah memahami Kurikulum Merdeka tidak sekadar sebagai perubahan administratif, melainkan sebagai transformasi paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter, kompetensi, dan potensi peserta didik secara holistik. Pemahaman tersebut tercermin dalam penerapan pembelajaran berpusat pada peserta didik, penguatan karakter, pembelajaran berdiferensiasi, serta pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. yang dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai Al-QurAoan. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 4. November 2025 Halaman 152-164 Problematika yang dihadapi guru dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar merupakan konsekuensi wajar dari proses transisi kurikulum. Problematika tersebut meliputi keterbatasan pemahaman konseptual yang belum sepenuhnya terinternalisasi dalam praktik pedagogis, kesulitan dalam penyusunan perangkat pembelajaran, tantangan penerapan pembelajaran berdiferensiasi, beban administratif, serta pemanfaatan asesmen formatif yang belum optimal. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara regulasi kurikulum dan kesiapan pedagogis guru di tingkat implementasi. Meskipun demikian, guru di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo menunjukkan sikap adaptif dan reflektif dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut. Upaya guru dilakukan melalui peningkatan kompetensi profesional secara berkelanjutan, kolaborasi dalam komunitas belajar, penerapan pembelajaran berdiferensiasi secara bertahap, penyederhanaan administrasi pembelajaran, penguatan asesmen formatif sebagai alat refleksi, serta integrasi nilai-nilai Al-QurAoan dalam proses pembelajaran. Upaya-upaya tersebut menegaskan peran guru sebagai agen perubahan dalam implementasi Kurikulum Merdeka, bukan sekadar pelaksana kebijakan. Dapat disimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SD Takhassus Al-QurAoan Wonosobo berada pada tahap adaptasi yang Keberhasilan implementasi kurikulum ini sangat ditentukan oleh keberlanjutan pendampingan pedagogis, penguatan kapasitas guru, serta dukungan ekosistem pembelajaran yang kondusif. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan rujukan bagi satuan pendidikan, khususnya sekolah berbasis keislaman, dalam mengembangkan implementasi Kurikulum Merdeka yang kontekstual, berkelanjutan, dan berorientasi pada pembelajaran yang bermakna. DAFTAR PUSTAKA